Anda di halaman 1dari 18

PERHITUNGAN BIAYA UNTUK PRODUK

SAMPINGAN
Disusun oleh :

KELOMPOK 1

NURBAITI (150420036)

NURIN HILYATI (150420037)

RISKA NAVIRA (150420042)

SAFIRA (150420043)

SYAHRONI HAITAMI (150420044)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

1
2016-2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena


berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Perhitungan
Biaya Untuk Produk Sampingan. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas
akuntansi biaya

kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat saya harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi teman teman dan


bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Lhokseumame, 8 Desember 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................i


DAFTAR ISI ....................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah.............................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Produk Sampingan ................................................................2


2.2 Karakteristik Produk Sampingan .......................................................3
2.3 Metode untuk Menghitung Produk Sampinga ....................................4

BAB III PENUTUP

3.1Kesimpulan...........................................................................................10

3.2 Kasus.....................................................................................................10

Daftar pustaka .............................................................................................12

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan produksi merupakan kegiatan pokok suatu perusahaan


manufaktur. Kegiatan produsi bertujuan untuk menghasilkan suatu produk yang
dibutuhkan oleh konsumen sehingga memberi kontribusi berupa pendapatan atas
penjualan produk hasil produksi tersebut bagi perusahaan. Dalam kegiatan
produksi akan terjadi tahap pengolahan dalam proses hingga bahan baku dapat
didefinisikan secara spesifik kepada produk akhir atau disebut titik pisah (split of
point).

Istilah produk sampingan digunakan untuk suatu produk yang bernilai


total relatif kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang bernilai
lebih besar. Produk yang nilainya lebih besar disebut dengan produk utama.Untuk
menghitung harga pokok masing-masing produk yang dhasilkan diperlukan
metode untuk memisahkan harga pokok masing-masing produk

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian dari Produk Sampingan?
b. Bagaimanakah karakteristik produk sampingan ?
c. Metode apa saja yang digunakan dalam menghitung Biaya Produk
Sampingan ?

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Produk Sampingan

Istilah produk sampingan (by-product) umumnya digunakan untuk


mendefinisikan suatu produk dengan nilai total yang relatif kecil dan dihasilkan
secara simultan atau bersamaan dengan produk lain yang nilai totalnya lebih besar
produk dengan nilai total yang lebih besar tersebut biasanya disebut produk utama
(main product). Produk utama biasanya diproduksi dalam jumlah yang lebih besar
dibandingkan dengan produk sampingn. Biasanya, produsen hanya memiliki
sedikit kendali atas jumlah produk sampingan yang dihasilkan. Sebaliknya,
diperkenalkan metode teknik yang lebih maju, seperti yang digunakan di industri
perminyakan, telah memungkinkan pengendalian yang lebih besar atas jumlah
residu dan produk sampingan lainnya. Misalnya saja, suatu perusahaan yang
menyewa truk untuk mengangkut bahan tertentu menemukan bahwa bahan
buangan tersebut dapat digunakan sebagai pupuk. Produk sampingan ini sekarang
menjadi sumber pendapatan untuk seluruh industri.

Produk sampingan juga merupakan output dari proses produksi gabungan


yg mempunyai nilai penjualan rendah dibandingkan nilai penjualan output yg lain.
Produk sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama
operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses
pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat
pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relative kecil
dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk. Pembedaan produk utama dan
produk sampingan terletak pada nilai jualnya. Jika nilai jual salah satu produk
relative lebih kecil dari yang lainnya maka dikategorikan sebagai produk
sampingan sedangkan apabila produk-produk yang dihasilkan relative sama maka
dikategorikan sebagai produk bersama.

5
Produk sampingan ada yang dapat dijual tanpa mengalami pengolahan
lebih lanjut. Tetapi ada juga produk-produk sampingan harus diolah lebih dulu
sebelum dapat dijual.

Produk-produk sampingan yang dapat dijual tanpa mengalami pengolahan


lebih lanjut dapat dibukukan:

a. Sebagai pendapatan-pendapatan lain.


b. Sebagai tambahan pendapatan penjualan.
c. Sebagai pengurangan harga-pokok penjualan.
d. Sebagai pengurangan harga-pokok produksi.

2.2 Karakteristik Produk Sampingan

Asal mula dari produk sampingan bervariasi. Produk sampingan yamg


dihasilkan dari pembersihan produk utama, seperti gas dan tar yang dihasilkan
dari produk arang, biasanya memiliki nilai sisa dalam beberapa kasus, produk
sampingan adalah sisa atau sampah, seperti serbuk gergaji ditempat penggergajian
kayu. Dalam kasus lain, produk sampingan timbal dari proses persiapan bahan
baku sebelum digunakan dalam proses produksi produk utama. Pemisahan biji
kapas dari kapas, buah apel dari biji apel, dan kulit dari biji coklat merupakan
contoh dari produk sampingan semacam ini.

Produk sampingan dapat diklafikasikan menjadi dua kelompok menurut


kondisi dapat dipasarkannya produk tersebut pada titik pisah batas: (1) yang dijual
dalam bentuk asalnya tanpa di proses lebih lanjut, dan (2) yang membutuhkan
proses lebih lanjut agar dapat dijual.

Ada juga karakteristik produk sampingan, antara lain:


a. Produk dari hasil pembersihan produk utama
b. Produk sisa atau sampah
c. Dihasilkan dari proses pemilihan bahan baku

6
2.3 Metode untuk Menghitung Biaya Produk Sampingan

Metode yang dapat di terima untuk menghitung biaya produk sampingan


terdiri dari 2 kategori,yang pertama yaitu biaya produksi gabungan tidak di
alokasikan kepada produk sampingan.dan ada dua metode pendapatan yang di
hasilkan dari penjualan produk sampingan di perlakuannya terhadap pendapatan
kotor dari produk sampingan di sebut dengan Metode 1.Alternatifnya,biaya
produk sampingan setelah titik pisah batas di lawankan dengan pendapatan dari
produk tersebut.variasi ini di bedakan berdasarkan perlakuannya terhadap
pendapatan bersih dari produk sampingan dan di sebut metode 2.

Dalam metode 1, pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan di


tampilkan dalam laporan laba rugi sebagai salah satu,yaitu:

a. Pendapatan lain-lain
b. Tambahan pendapatan penjualan
c. Pengurang hanya pokok penjualan dari produk utama
d. Pengurang biaya produksi produk utama
Dalam metode 2 pendapatan bersih dari produk sampingan(pendapatan
dari penjualan produk sampingan di kurangi dengan biaya administratif dan
pemasaran untuk memasarkan produk sampingan kemudian di kurangi lagi
dengan biaya pemrosesan lebih lanjut setelah titik pisah laba)

2.3.1 Metode1: Pengakuan Pendapatan Kotor

Dengan metode pendapatan kotor (gross revenue method),biaya


persediaan final dari produk utama di hitung terlalu tinggi(overstated) karna
menanggung biaya yang seharusnya di bebankan ke produk utama sampingan.

A. Metode 1a: Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pendapatan


Lain-lain. Metode ini di ilustrasikan dalam laporan laba rugi berikut,
dengan asumsi bahwa pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan
adalah sebesar $1.500:

7
Penjualan (produk utama, 10.000 @$2) $ 20.000
Harga pokok penjualan:
Persediaan awal(1.000 unit @$1,50) $ 1.500
Total biaya produksi (11.000 unit @$1,50) 16.500
Tersedia untuk di jual $18.000
Persediaan akhir (2.000 unit @$1,50) 3.000
15.00
Laba kotor $ 5.000
Beban Pemasaran dan administrasi 2.000
Laba operasi $ 3.000
Laba sebelum pajak $ 4.500
Pendpatan lain-lain:pendapatan penjualan produk sampingan 1.500

B. Metode 1b: Pendapatan Produk Sampingan sebagai Tambahan


Pendapatan Penjualan.
Untuk metode ini laporan laba rugi di atas akan menampilkan $1.500 dari
pendapatan penjualan produk sampingan sebagai tambahan penjualan atas produk
utama.Akibatnya, total pendapatan penjualan berubah menjadi sebesar
$21.500.selain itu,laba kotor serta laba operasi akan meningkat sesuai
penambahan pendapatan tersebut.semua angka yang lain tidak berubah,selain
bahwa tida k ada item pendapatan produk sampingaan yang di cantumkan setelah
Laba operasi.

C. Metode 1c: Pendapatan Produk sampingan sebagai Pengurang Harga


Pokok Penjualan.

Dalam metode ini,$1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan di


kurangkan dari $15.000 harga pokok penjualan produk utama,sehingga laba kotor
dan laba operasi akan meningkat sebesar $1.500 di bandingkan dengan yang di
tampilkan dalam laporan laba rugi di atas.sebelum pajak besarnya tetap $4.500.

8
D. Metode 1d : Pendapatan Produk Sampingan Mengurangi Biaya
Produksi.

Dalam metode ini, $1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan


dikurangkan dari $16.500 total biaya produksi, sehingga biaya produksi bersih
yang ditampilkan dalam laporan laba rugi yang diilustrasikan beriut menjadi
$15.000. Biaya produksi yang sudah direvisi ini mengakibatkan rata-rata biaya per
unit produk utama menjadi sebesar $1,3625. Biaya yang dibebankan ke
persediaan akhir produk utama menjadi sebesar $2.725 dan bukannya $3.000.

Dengan cara yang serupa, biaya persediaan awal yang berkurang($1,35 per
unit seperti yang diilustrasikan dalam laporan laba rugi berikut), karena
pendapatan dari penjualan produk sampingan di periode sebelumnya dikreditkan
ke biaya produksi produk utama di periode yang sama. Sebaliknya dari ketiga
metode yang dijelaskan sebelumnya di atas, tidak ada satu pun yang memengaruhi
biaya per unit yang dilaporkan untuk produk utama. Ini merupakan perbedaan
penting dalam perhitungan biaya produk, meskipun pada umumnya dampak dari
metode ini dalam nilai dolar relative kecil. Laporan laba rugi akan terlihat sebagai
berikut:

Penjualan (produk utama , 10.000 unit @$2) $20.000


Harga pokok penjualan:
Persediaan awal (1.000 unit @1,35) $1.350
Total biaya produksi $16.500
Pendapatan dari penjualan produk sampingan 1.500
Biaya produksi bersih 15.000
Tersedia untuk dijual
(12.000 unit @ $1,3625 biaya rata-rata) $16.350
Persediaan akhir (2.000 unit @ $1,3625) 2.725 13.625

9
Laba kotor $6.375
Beban pemasaran dan administrasi 20.000
LabaOperasi $ 4.375

Pendapatan yang di terima dari penjualan produk sampingan di debit ke kas


atau piutang usaha.dalam ketiga metode sebelumnya pendapatan dari penjualan
produk sampingan yang di kreditkan:sedangkan dalam metode yang ke empat
yang di kredit adalah biaya produksi dari produk utama. Hal ini biasanya
dilakukan dengan cara mengkredit akun Barang dalam proses.

Pembenaran konseptual atas praktik mengurangkan penjualan produk


sampingan dari biaya produksi utama adalah bahwa produk utama merupakan alas
an pokok dilakukannya prosesproduksi, sementaraproduk sampingan sifatnya
incidental. Selain itu, pendekatan semacam ini akan lebih cepat dan lebih efektif
secara biaya. Namun ternyata, hal tersebut menyebabakan berkurangnya kegunaan
dari infomasi yang dihasilkan oleh sistem pelaporan. Produk sampingan bias saja
diabaikan bila pendapatan atau biayanya diserap oleh produk utama. Diperlukan
suatu pendekatan lain yang menyediakan dan menyoroti informasi yang relevan,
yang mengarahkan perhatian manajerial kepada produk sampingan, sehingga
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengendalian, serta
mengidentifikasi dan menghargai kinerja yang baik. Tujuan-tujuan tesebut akan
dapat dipenuhi dengan lebih baik apabila pendapatan dan biaya yang berhubungan
dengan setiap produk sampingan diakui dan dilaporkan secara terpisah.
Pendekatan semacam itu menggunakan metode 2, yang melaporkannya di laporan
laba rugi sebagai pendapatan lain-lain.

2.3.2 Metode2: PengakuanPendapatanBersih

Metode pendapatan bersih (net revenue method) mengakui adana


kebutuhan untuk membebankan biaya yang dapat ditelusuri ke produk sampingan.
Akan tetapi, metode ini tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya produksi
gabungan ke produk sampingan. Biaya yang terjadi setelah titik pisah batas guna

10
memproses mauapun memasarkan produk sampingan dicatat dalam akun yang
terpisah dari produk utama. Angka produk sampingan ditampilkan di laporan laba
rugi dengan menggunakan salah satu tampilan yang dijelaskan dalam metode 1.

Ayat jurnal dalam metode 2 melibatkan pembebanan biaya yang terjadi


setelah titik pisah batas ke pendaptan produk sampingan. Beberapa perusahaan
memiliki satu akun yang berjudul Prouk Sampigan. Semua biaya yang terjadi
setalah titik pisah batas didebit kea kun ini, sementara pendapatan yang diperoleh
dikreditkan kea kun tersebut. Saldo dari akun ini ditampilkan di laporan laba rugi,
dengan mengikuti salah satu cara yang dijelaskan dalam metode 1. Akumulasi
biaya produksi yang dapat dibebankan ke persediaan produk sampingan yang
belum terjual dilaporkan di neraca.

2.3.3 Metode3: MetodeBiayaPenggantian

Metode biaya penggantian (replacement cost method) biasanya digunakan


oleh peusahaan yang produk sampingannya digunakan oleh perusahaan itu
sendiri. Adanya produk sampingan menghilangkan kebutuhan untuk membeli
bahan baku yang serupa dari pemasok. Biaya produksi dari produk utama
dikreditkan, dan debitnya diposting ke departemen yang menggunakan produk
sampingan tersebut. Jumlah yang diposting oleh ayat jurnal tersebut merupakan
biaya pembelian atau biaya penggantiannya.

Perhitungan biaya produk sampingan yang digunakan dalam perusahaan


adalah salah satu contoh dari harga transfer dalam perusahaan, yang didiskusikan
di Bab 25. Di bab tersebut dibahas berbagai alternative terhadap penggunaan
biaya atau harga pasar. Misalnya, harga transfer yang ditetapkan berdasarkan
biaya untuk memproduksi produk sampingan tersebut, berdasarkan harga hasil
negosiasi, atau berdasarkan harga arbiter mungkin saja digunakan. Apa pun harga
yang dipakai, biaya produksi produk utama yang menghasilkan produk sampingan
dikredit, dan debitnya diposting ke departemen yang menggunakan produk
sampingan tersebut.

11
2.3.4 Metode 4: Metode Harga Pasar (Pembatalan Biaya)

Metode harga pasar (market value method), atau metode pembatalan


biaya, pada dasarnya hampir serupa dengan teknik yang diilustrasikan dalam
metode 1(d). Tetapi, metode ini mengurangi biaya produksi dari produk utama,
bukan dengan pendapatan actual yang diterima, melainkan dengan estimasi nilai
produk sampingan pada saat dijual. Akun produk sampingan dibebankan dengan
nilai estimasi ini, dan biaya produksi dari produk utama dikredit. Tambahan
baiaya bahan baku, tenaga kerja, atau overhead pabrik yang terjadi setelah titik
pisah batas dibebankan ke produk sampingan. Saldo dari akun ini dapat
ditampilkan dilaporan laba rugi dengan salah satu cara yang telah dijelaskan di
metode 1. Biaya produksi yang dapat dibebankan ke persediaan produk
sampingan yang belum terjual dilaporkan di neraca.

Metode harga pasar (pembatalan biaya) dalam menghitung biaya produk


utama dan produk sampingan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Produk Utama Produk Sampingan

Bahan baku $ 50.000

Tenaga kerja 70.000

Overhead pabrik 40.000

Total biaya produksi (40.000 unit) $160.000

Harga pasar (5.000 unit@$1,80) $ 9.000

Estimasi laba kotor terdiri atas:

Asumsi laba operasi (20% dari harga jual) $ 1.800

Beban pemasaran dan administrasi (5% dari harga jual) 450 2.250

$ 6.750

Estimasi biaya produksi setelah titik pisah batas

12
Bahan baku $ 1.000

Tenaga kerja 1.200

Overhead pabrik 300 2.500

Estimasi nilai produk sampingan di titik pisah batas

yang akan dikreditkan ke produk utama 4.250 $ 4.250

Biaya bersih dari produk utama $155.750

Ditambah baiaya produksi aktual setelah titik pisah-batas $ 2.300

Total $ 6.550

Total jumlah unit 40.000 5.000

Biaya per unit $ 3.89 $ 1,31

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa nilai estimasi dari produk sampingan


pada titik pisah batas dihitung dengan cara mengestimasikan laba kotor dan biaya
produksi setelah titik pisah batas dari produk sampingan, lalu mengurangkannya
dari harga pasar finalnya. Alternative lain, jika produk sampingan memiliki nilai
pasar pada titik pisah batas, maka akun produk sampingan dibebankan dengan
nilai pasar tersebut dikurangi dengan estimasi laba kotor. Lawannya dikreditkan
ke biaya produksi produk utama.

Metode 4 didasarkan pada gagasan bahwa biaya produk sampingan


berkaitan dengan nilai jualnya. Adalah mungkin untuk menggunakan gabungan
total harga pasar dari produk utama dan produk sampingan pada titik pisah batas
sebagai dasar untuk mengalokasikan sebagian biaya ke produk sampingan.
Lawannya dikredit ke biaya produksi dari produk utama. Dalam pendekatan ini,
perlakuan terhadap produk sampingan serupa dengan produk gabungan.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Produk sampingan merupakan output dari proses produksi gabungan yg


mempunyai nilai penjualan rendah dibandingkan nilai penjualan output yg lain.
Produk sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama
operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses
pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat
pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relative kecil
dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.

3.2 Kasus

3.2.1 Kasus 1

P8-2. Jelaskan bagaimana pendapatan dari penjualan produk sampingan dapat


disajikan dalam laporan laba rugi.

Penyelesaian:

Pendapatan dari penjualan produk sampingan dapat terdaftar sebagai pendapatan


lain, pendapatan penjualan tambahan, pengurang biaya pokok penjualan dari
produk utama, atau sebagai pengurang biaya produksi produk utama.

3.2.2 Kasus 2

P8-3. Apakah dimasukkannya pendapatan dari produk sampingan dalam laporan


laba rugi memengaruhi biaya per unit dari produk utama

Penyelesaian:

ya, ketika pendapatan produk sampingan dikurangi dari total biaya produksi
produk utama, biaya unit produk utama berkurang; akibatnya, biaya dari
persediaan akhir berubah juga

14
3.2.3 Kasus 3

L8-2 Perhitungan Biaya Produk Sampingan-Metode Harga Pasar (Pembatalan


Biaya).

Logam company memproduksi satu produk utama dan dua produk


sampingan, A dan B. Untuk bulan April, data berikut ini tersedia:

Produk Produk Sampingan

Utama A B Total

Penjualan $75.000 $ 6.000 $ 3.500 $84.500

Biaya produksi setelah titik pisah batas $11.500 $ 1.100 $ 900 $13.500

Beban pemasaran dan administrasi $ 6.000 $ 750 $ 550 $ 7.300

Biaya produksi sebelum titik pisah batas $37.500

Laba yang diperbolehkan untuk Produk A dan B masing-masing adalah sebesar


15% dan 12%.

Diminta:

1. Hitung biaya produksi sebelum titik pisah batas untuk produk sampingan A
dan B menggunakan metode harga pasar (pembatalan biaya).
2. Buat laporan laba rugi yang merinci penjualan dan biaya untuk setiap produk.

15
Penyelesaian:

1. Produk sampingan
A B

Penjualan $ 6.000 $ 3.500


Biaya produksi setelah titik pisah $ 1.100 $ 900
Beban pemasaran dan adm $ 750 $ 550
Laba yang diperbolehkan untuk produk

(A=15%, B=12%) $ 900 $ 420

$ 2.750 $ 1.870

Biaya produksi sebelum titik pisah $ 3.250 $ 1.630

2. LOGAM COMPANY

Laporan laba rugi

Untuk bulan April

Produk Produk Sampingan

Utama A B Total

Penjualan $75.000 $ 6.000 $ 3.500 $84.500

HPP:

Biaya produksi sebelum titik pisah batas $32.620 $ 3.250 $1.630 $37.500

Biaya produksi setelah titik pisah batas 11.500 1.100 900 13.500

Total $44.120 $4.35 $2.530 $51.000

16
Laba kotor $30.880 $1.650 $ 970 $33.500

Beban pemasaran dan adm 6.000 750 550 7.300

Laba bersih $24.880 $900 $420 26.200

17
DAFTAR PUSTAKA

Civitas Akademika Unila. 2012. Format Penulisan Karya Ilmiah


Universitas Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung

Mulyadi. 2009. Akuntansi Biaya. Jakarta: UPP AMP YKPN

Carter, William. K. 2009. Akuntansi Biaya. Jakarta:Selemba Empat

https://www.scribd.com/doc/102078483/

18