Anda di halaman 1dari 21

Laporan Kasus Pasien Hipertensi dengan Pendekatan Dokter Keluarga di

Puskesmas Sukabumi Selatan

Laporan Disusun Oleh:


Dwiki Widyanugraha
102014194

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA
2017

1|Page
Pendahuluan
Di Indonesia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan oleh
dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer karena angka prevalensinya yang tinggi
dan akibat jangka panjang yang ditimbulkannya. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat memicu
timbulnya penyakit degeneratif, seperti gagal jantung congestive, gagal ginjal, dan penyakit
vaskuler. Hipertensi disebut silent killer karena sifatnya asimptomatik dan telah beberapa
tahun menimbulkan stroke yang fatal atau penyakit jantung. Meskipun tidak dapat diobati,
pencegahan dan penatalaksanaan dapat menurunkan kejadian hipertensi dan penyakit yang
menyertainya.1
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa penderita
hipertensi yang berusia di atas 18 tahun mencapai 25,8 persen dari jumlah keseluruhan penduduk
Indonesia. Dari angka tersebut, penderita hipretensi perempuan lebih banyak 6 persen dibanding
laki-laki. Sedangkan yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan hanya mencapai sekitar 9,4 persen.
Ini artinya masih banyak penderita hipertensi yang tidak terjangkau dan terdiagnosa oleh tenaga
kesehatan dan tidak menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Hal tersebut
menyebabkan hipertensi sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.2
Family Folder merupakan dokumen lengkap suatu keluarga terutama dalam hubungannya
dengan derajat kesehatan. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor utama menurut
Blum, keempat faktor tersebut adalah genetik, pelayanan kesehatan, perilaku manusia, dan
lingkungan. a) Faktor genetik: paling kecil pengaruhnya terhadap kesehtana perorangan atau
masyarakat disbanding ketiga faktor yang lainnya. b) Faktor pelayanan kesehatan: ketersediaan
sarana pelayanan kesehatan, tenagan kesehatan, pelayanan kesehatan yang berkualitas akan
berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. c). Faktor perilaku: di negara berkembang
faktor ini yang paling besar pengaruhnya terhadap gangguan kesehatann atau masalah kesehatan
masyarakat. Perilaku individu / kelompok masyarakat yang kurang sehat juga akan berpengaruh
pada faktor lingkungan yang memudahkan timbulnya suatu penyakit. d). factor lingkungan:
lingkungan yang terkendali akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan menekan
berkembangnya masalah kesehatan.3
Munculnya penyakit yang meresahkan masyarakat sangat erat kaitannya dengan aktivitas
yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Untuk mewujudkan keadaan sehat, banyak upaya
yang harus dilaksanakan, diantaranya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Secara

2|Page
umum pelayanan kesehatan dibagi 2 yaitu pelayanan kesehatan personal atau pelayanan
kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kedokteran keluarga adalah
termasuk dalam pelayanan kedokteran dimana pelayanan dokter keluarga ini memiliki
karakteristik tertentu dengan sasaran utamanya adalah keluarga. Kesehatan merupakan hasil
interaksi berbagai faktor. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempunyai peran
mempengaruhi kesehatan serta berkaitan erat dengan host (pejamu) dan agent (penyebab
penularan).1

Status Pasien

Puskesmas : Keluraan Sukabumi Selatan


Tanggal kunjungan : Selasa, 18 Juli 2017
I. Identitas Pasien :
Nama : Juriah
Umur : 56 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SD (tamat)
Alamat : Jl. Pahlawan IV No. 37 RT 004/ RW 005 Sukabumi
Selatan
Telepon :

II. Keluhan Pasien


Keluhan utama Kontrol
Keluhan tambahan -
Riwayat penyakit sekarang (RPS) -
Riwayat penyakit dahulu (RPD) Tekanan darah pernah mencapai 160/100
mmHg sehingga timbul vertigo karena tidak
teraturnya minum obat hipertensi dan kontrol
tekanan darah menyebabkan pasien merasakan

3|Page
pusing hebat kemudian muntah sehingga
mengalami gangguan keseimbangan.
Riwayat penyakit keluarga (RPK) Orang tua (ibu) dari ibu Juriah juga memiliki
riwayat hipertensi.
Riwayat pengobatan Mengkonsumsi Nifedipin tab sehari 3 kali
minum secara teratur sekarang
Riwayat sosial Sering mengkonsumsi ikan asin, tahu dan
tempe, merokok hanya sesekali jika ingin,
olahraga hanya jalan santai sekeliling komplek,
jarang jajan, dan tidak mengkonsumsi alcohol

Hubungan psikologis dengan Setiap malam pasien menonton televisi bersama


keluarga diruang tengah dan selalu komunikasi mengenai
kegiatan sehari-hari yang telah dilakukan
Aktifitas sosial dan kegiatan Sering melakukan pengajian bersama tetangga
rohani di masjid

III. Riwayat Biologis Keluarga :


Keadaan kesehatan sekarang : Baik karena semua anggota keluarga dalam
keadaan sehat tanpa adanya gejala penyakit atau keluhan kesehatan lainnya.
Tekanan darah pasien 120/80 mmHg.
Kebersihan perorangan : Sedang. Keluarganya memiliki kebiasaan
mandi sehari 2 kali, mencuci rambut secara teratur 2 hari sekali, dan mengganti
pakaian sehabis mandi. Selalu menggosok gigi sebelum tidur dan sesudah
sarapan. Selalu menggunakan alas kaki ketika berjalan di luar rumah. Keadaan
kukunya pun cukup bersih. Sebelum makan selalu cuci tangan.
Penyakit yang sering diderita :-
Penyakit keturunan : Hipertensi
Penyakit kronis/menular :-
Kecacatan anggota keluarga :-

4|Page
Pola makan : Baik karena pasien dan keluarga memiliki
kebiasaan makan sehari 3 kali dan mengkonsumsi sayur dan buah.
Pola istirahat : Baik karena keluarga pasien biasa tidur
jam 10 malam dan bangun jam 4 pagi untuk melaksanakan sholat subuh. Keluarga
Kebiasaan tidur siang kadang-kadang.
Jumlah anggota keluarga : 3 orang

IV. Psikologis Keluarga :


Kebiasaan buruk :-
Pengambilan keputusan : Ibu karena baik kepala keluarga
atau istri selalu mengkonsultasikan masalah yang dihadapi.
Ketergantungan obat :-
Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas karena jaraknya yang
cukup dekat dengan rumah dan biaya yang cukup terjangkau
Pola rekreasi : Cukup karena mereka memiliki
waktu jalan-jalan bersama keluarga satu tahun tiga kali saat lebaran, tahun baru,
17 Agustus.

V. Keadaan Rumah /lingkungan : (gambar terdapat pada lampiran)


Jenis bangunan : Permanen seluruh bangunan sudah terbuat
dari batu bata dan beratapkan genteng pada gambar 1
Lantai rumah : Keramik pada seluruh ruangan
Luas rumah : 6x9 m2
Penerangan baik karena saat masuk kedalam rumah
terdapat banyak lampu disetiap ruangan dan sedikit penerangan dari atap yang
dibuka dan diberi kawat di atas dapur
Kebersihan : Sedang karena rumah selalu dibersihkan
setiap hari tetapi lokasi rumah berada di gang yang cukup sempit dan tersedianya
tempat sampah di beberapa tempat untuk membuang sampah
Ventilasi : Sedang, karena jendela dan ventilasi hanya
terdapat pada pintu depan rumah sehingga pertukaran udara terdapat pada ruang
5|Page
depan. Jendela rumah juga selalu dibuka setiap pagi dari jam 7 pagi hingga 9 pagi
dan di dapur juga terdapat ventilasi serta di bagian atas di buat transparan agar
cahaya matahari bisa masuk.
Dapur : Ada dan cukup luas serta ada wastafel
untuk mencuci piring da juga terdapat tempat sampah agar sampah dapat
terkumpul didalam suatu wadah
Jamban keluarga : Ada dan selalu dibersihkan setiap 3 hari
sekali
Sumber air minum : Air isi ulang atau Aqua gallon dengan
mengunakan dispenser agar air lebih higienis
Sumber pencemaran air : tidak ada
Pemanfaatan pekarangan : tidak ada
Sistem pembuangan air limbah : Ada melalui pipa-pipa yang kemudian akan
disalurkan ke got untuk pembuangan.
Tempat pembuangan sampah : Ada diletakkan pada tong sampah yang
sudah dilapisi kantong plastik kemudian apabila sudah penuh akan diangkut ke
tempat pembuangan sampah umum.
Sanitasi lingkungan : Sedang karena lingkungan sekitar pasien
sudah cukup bersih, tidak terdapat sumber pencemaran air seperti got yang
terbuka, penyediaan air bersih cukup memadai, sistem pembuangan kotoran
melalui jamban keluarga dan ada wastafel untuk mencuci piring dan jarak jamban
keluarga terhadap dapur cukup jauh serta kondisi kamar mandi dalam keadaan
bersih dan terawat.

VI. Spiritual Keluarga :


Ketaatan beribadah : Baik. Selalu manjalankan sholat 5 waktu
dan mengaji.
Keyakinan tentang kesehatan : Baik. Karena apabila sudah mengalami
gejala atau keluhan kesehatan langsung bisa datang ke puskesmas untuk
melakukan pengecekan.

6|Page
VII. Keadaan Sosial Keluarga
Tingkat pendidikan : Sedang
Hubungan antar anggota keluarga : Baik karena mereka masih meluangkan
waktunya di malam hari untuk berkumpul dan menonton televisi bersama.
Hubungan dengan orang lain : Baik. Kenal dengan tetangga sekitar rumah
dan kadang berinteraksi.
Kegiatan organisasi sosial : Baik. karena ikut berpartisipasi dalam
kegiatan masjid seperti pengajian
Keadaan ekonomi : Sedang. Penghasilan kepala keluarga
sebagai supir pribadi cukup untuk membiayai uang semesteran anaknya
dikampus, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

VIII. Kultural Keluarga


Adat yang berpengaruh : Jawa

IX. Daftar Anggota Keluarga


Nama dan Tgl lahir pekerjaan Pendidi Hubungan Status Domisili Keadaan
jenis kan keluarga perkawi serumah/ kesehatan
kelamin terakhir nan tidak penyakit
(bila ada)
1. Saifuloh 11-01- Supir SMA Suami/KK Menikah serumah -
(L) 1971 Pribadi
2. Juriah (P) 20-07- Ibu SD Istri Menikah serumah -
1961 Rumah
Tangga

3. Rivaldi 21-09- Belum Kuliah Anak Belum serumah -


(L) 1998 bekerja Menikah

X. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: CM
Pasien tidak tampak sakit
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit

7|Page
Suhu : tidak diukur
RR : 18 kali/menit
BB: 59 Kg
TB: 155 cm

Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi:

- Hematologi lengkap
- Gula darah
- Profil lemak
- Fungsi ginjal : Urea N, kreatinin, asam urat, albumin urin kuantitatif
- Gangguan elektrolit : Natrium, kalium
- hsCRP
- EKG

XI. Status Gizi


()
= 2 (2 ) = 24,56 Kg/m2

IMT normal : 18,522,9 kg/m2 Status gizi = preobesitas

Berat badan ideal (BROCA) : 40 th: TB(cm) 100 = 155-100= 55 Kg

XII. Diagnosis
Secara biopsikososial
Biologi: Hipertensi Esensial
Psikologi: Gangguan cemas
Sosial: Aktif dalam kegiatan sosial

Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk hipertensi esensial bisa berupa hipertensi renovaskular,
hipertensi pada penyakit ginjal, hipertensi pada penyakit jantung, hipertensi ortostatik, dan
vertigo.4

8|Page
XIII. Anjuran penatalaksanaan penyakit :
1. Health promotion:
Edukasi kepada keluarga pasien mengenai masalah-masalah yang dapat
memunculkan hipertensi, akibat dan cara mengobati serta mencegahnya.
Melakukan penyuluhan kepada keluarga di lingkungan sekitarnya mengenai pola
hidup yang sehat agar terhindari dari hipertensi dan bagaimana cara mengontrol
hipertensi melalui olahraga yang cukup, kurangi makan makanan berlemak,
kurangi konsumsi garam, hindari rokok, dan perbanyak makan makanan yang
mengandung cukup serat
2. Spesific Protection:
Kurangi konsumsi garam dalam makanan.
Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium,
magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.
Hindari konsumsi alkohol.
Lakukan olahraga secara teratur.
Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah. Konsultasikan dan mintalah
ke dokter agar memberikan obat yang tidak meningkatkan tekanan
Menghindari stress dan emosi.
3. Early diagnosis and promp treatment:
Pemberian terapi medikamentosa yaitu nifedipin 3x sehari
Mengukur tekanan darah secara rutin
4. Disability limitation:
Menyarankan pasien untuk meminum obat teratur supaya tidak terjadi komplikasi
Memantau ada atau tidaknya efek samping yang timbul dari obat yang
dikonsumsi
5. Rehabilitation:
Pasien yang menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti
berjalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang. Lakukan selama 30 hingga 45
menit sehari sebanyak 3 kali seminggu.

9|Page
XIV. Prognosis :
Penyakit : dubia ad bonam karena pasien minum obat teratur, melakukan
pengecekan tekanan darah sebulan sekali, dan merubah gaya hidupnya.
Keluarga : dubia ad bonam karena ada hubungan baik antara anggota
keluarga sehingga mendukung kesehatan pasien dan keluarga serta mendorong
timbulnya kesadaran untuk mencegah terjadinya penyakit.
Masyarakat : dubia ad bonam karena adanya hubungan sosial yang baik antar
masyarakat di tempat pasien tinggal yang sangat mendukung kesehatan pasien
dan membantu mengontrol keadaan penyakitnya.

XV. Resume
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada tanggal 18 Juli 2017 ibu Juriah, usia
56 tahun didiagnosis sejak 5 tahun yang lalu mengalami hipertensi esensial dan berdasarkan
tingkatannya berada pada grade II berdasarkan keluhan sakit kepala yang dia rasakan dahulu dan
pemeriksaan fisik yang menunjukkan tekanan darah mencapai 160/100mmHg. Karena tekanan
darahnya yang sangat tinggi menyebabkan pasien mengalami vertigo 1 tahun yang lalu.
Kemudian pasien jadi minum obat teratur dan melakukan pengecekan tekanan darah rutin.
Sehingga didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg pada pemeriksaan fisik secara menetap dalam
3 bulan terakhir. Pasien memiliki pengetahuan yang cukup tentang penyakitnya sehingga mampu
melakukan pola hidup yang baik. Sedangkan keluarga pasien sebagai kelompok resiko tinggi,
dianjurkan untuk berperilaku hidup sehat sedini mungkin dan mengontrol tekanan darah secara
teratur. Pasien memiliki tempat tinggal yang permanen diisi oleh 3 orang dan sangat layak untuk
dihuni. Kebersihan rumah secara umum baik karena selalu dibersihkan. Hubungan antara
keluarga pun baik dimana mereka masih meluangkan waktu untuk sholat magrib bersama setiap
malam. Begitu juga hubungan dengan lingkungan sekitar, Ibu Juriah aktif dalam kegiatan
mengaji di masjid bersama ibu-ibu lain dari riwayat social keluarga diketahui suami pasien telah
merokok selama 25 tahun, 1 hari merokok sebanyak 1 bungkus dahulunya pasien merokok lebih
banyak saat ini. Saat ini kondisi pasien telah membaik setelah berobat ke puskesmas, dan
menjalankan pola hidup sehat.

10 | P a g e
Pembahasan
Hipertensi yang tidak diketahui penyababnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial
atau hipertensi primer. Ia dibedakan dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab- sebab
yang diketahui. Definisi hipertensi tidak berubah sesuai dengan umur: tekanan darah sistolik
(TDS) > 140 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik (TDD) > 90 mmHg. The joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and treatment of High Bloodpressure (JNC
VII) dan WHO/lnternational Society of Hypertension guidelines subcommitee setuju bahwa TDS
& keduanya digunakan untuk klasifikasi hipertensi seperti pada table 1 dibawah ini. Hipertensi
sistolodiastolik didiagnosis bila TDS > 140 mmhg dan TDD > 90 mmHg. Hipertensi sistolik
terisolasi (HST) adalah bila TDS > 140 mmHg dengan TDD < 90 mmHg.4

Tabel I. Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa diatas 18 tahun4


Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Sistolik dan Diastolik (mmHg)
Normal <120 dan <80
Prehipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi Stadium I 140-159 atau 90-99
Hipertensi Stadium II >160 atau >100
Sumber JNC VII 2003 JNC 7 (the Seventh US National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure)
Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis
penting dalam mengatur tekanan darah. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal)
akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan
tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan
bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH,
sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan
tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan
dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang
pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.1

11 | P a g e
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron
merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume
cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara
mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan
cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume
dan tekanan darah. Patogenesis dari hipertensi primer merupakan multifaktorial dan sangat
komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang
adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume sirkulasi darah, kaliber vaskuler,
viskositas darah, curah jantung, elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis
hipertensi primer dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam
diet, tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi.4

Faktor risiko
Obesitas (Kegemukan) merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum
diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya
pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitasobesitas dengan hipertensi lebih
tinggi daripada penderita hipertensi dengan berat badan normal.5
Stress yang diduga melalui aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita
beraktivitas). Peningkatan aktivitas saraf simpatis mengakibatkan meningkatnya tekanan darah
secara intermitten (tidak menentu).4
Faktor keturunan (Genetik) dimana ditemukan riwayat hipertensi didapat pada kedua
orang tua, maka dugaan hipertensi essensial akan sangat besar. Demikian pula dengan kembar
monozigot (satu sel telur) apabila salah satunya adalah penderita hipertensi.1
Jenis kelamin dimana pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi
daripada wanita. Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipengaruhi oleh faktor
psikologis. Pada wanita seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan berat
badan), depresi dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada pria lebih berhubungan dengan
pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran.6
Dengan semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juiga
semakin besar. Melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah yang akan

12 | P a g e
diikuti oleh peningkatan eksresi kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik
(sistem pendarahan) yang normal. Pada hipertensi essensial mekanisme inilah yang terganggu.1
Gaya hidup yang kurang sehat walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan
hipertensi namun kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olahraga dapat
pula mempenegaruhi peningkatan tekanan darah.5

Manifestasi Klinis
Adapun gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi biasanya berupa: pusing,
mudah marah, telinga berdengung, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat di tengkuk, mudah lelah,
mata berkunang-kunang, mimisan (jarang dilaporkan). Peninggian tekanan darah tidak jarang
merupakan satu-satunya tanda pada hipertensi primer.bergantung pada tingginya tekanan darah
yang timbul dapat berbeda-beda. Kadang-kadang hipertensi primer berjalan tanpa gejala, dan
baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal, mata, otak,
dan jantung. Gejala seperti sakit kepala, epistaksis, pusing, dan migrain dapat ditemukan sebagai
gejala klinis hipertensi primer meskipun tidak jarang yang tanpa gejala.7

Penatalaksanaan
1. Pengobatan Non-farmakologis.
Penatalaksanaan dengan mengubah diet :1,6,7
Tujuan Diet
- Menurunkan tekanan darah (diastole) 90 mmHg
- Menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh
- Mencapai dan menjaga BB dengan IMT 18.5 25
Syarat Diet
Menerapkan Diet Garam Rendah, yaitu sebagai berikut:
- Cukup energi, protein, mineral dan vitamin
- Komsumsi karbohidrat kompleks
- Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit
- Jumlah konsumsi natrium disesuaikan dengan berat tidaknya hipetensi
- Hindari bahan makanan yang tinggi natrium
- Konsumsi bahan makanan yang mengandung tinggi kalium, tinggi serat

13 | P a g e
Jenis Diet
- Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na): Diberikan pada pasien dengan edema,
asites, dan atau hipertensi berat. Tidak ditambahkan garam dapur dalam
pengolahan makanannya. Hindari juga bahan makanan yang tinggi kadar
natriumnya.
- Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na): Diberikan pada pasien dengan edema,
asites, dan atau hipertensi tidak terlalu berat. Boleh menggunakan sdt (2 gr)
garam dapur dalam pengolahan makanannya. Hindari juga bahan makanan yang
tinggi kadar natriumnya.
- Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na): Diberikan pada pasien dengan
edema, asites, dan atau hipertensi ringan. Boleh menggunakan 1 sdt (4 gr) garam
dapur dalam pengolahan makanannya.
Bahan Makanan yang dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
Dianjurkan: bahan makanan yang tidak menggunakan garam dapur, soda, atau baking
powder dalam pengolahannya. Bahan makanan segar tanpa diawetkan, daging dan
ikan maksimal 100 gr sehari, dan untuk telur 1 butir sehari.
Dihindari: bahan makanan yang diolah dengan garam dapur, soda, baking powder,
asinan, dan bahan makanan yang diawetkan dengan natrium benzoat, soft drinks,
margarin dan mentega biasa, bumbu yang mengandung garam dapur (kecap, terasi,
tomato ketchup, tauco, dan lain sebagainya)

2. Pengobatan Farmakologi
Pengobatan hipertensi berlandaskan beberapa prinsip:8
1. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mengutamakan pengobatan kausal

2. Pengobatan hipertensi primer ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan


harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komlikasi
3. Upaya menurunkan tekanan darh dicapai dengan menggunakan obat anti hipertensi
selain dengan perubahan gaya hidup
4. Pengobatan hipertensi primer adalah pengobatan jangka panjang dengan
kemungkinan besar untuk seumur hidup

14 | P a g e
5. Pengobatan menggunakan algoritma yang dianjurkan The Joint National Committee
on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (1997).
Pada sebagian besar pasien pengobatan dimulai dengan dosis kecil obat anti hipertensi
yang dipilih, dan jika perlu dosisnya secara perlahan-lahan dinaikan, bergantung pada umur,
kebutuhan, dan hasil pengobatan. Obat anti hipertensi yang dipilih sebaiknya yang mempunyai
efek penurunan tekanan darah selama 24 jam dengan dosis sekali sehari, dan setelah 24 jam efek
penurunan tekanan darahnya masih diatas 50% efek maksimal. Obat antihipertensi kerja panjang
yang mempunyai efek penurunan tekanan darah selama 24 jam lebih disukai daripada obat
jangka pendek disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :4
1. Kepatuhan lebih baik dengan dosis sekali sehari
2. Harga obat dapat lebih murah
3. Pengendalian tekanan darah perlahan-lahan dan persisten
4. Mendapat perlindungan terhadap faktor risiko seperti kematian mendadak, serangan
jantung, dan strok, yang disebabkan oleh peninggian tekanan darah pada saat bangun
setelah tidur malam hari
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmaklogis hipertensi yang dianjurkan oleh JNC 7:5

Diuretika, terutama jenis Thiazide (thiaz) atau Aldosterone Antagonist (Aldo Ant)
Beta Blocker (BB)
Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB)
Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan keamanan dalam pengobatan
hipertensi, tetapi pemilihan obat antihipertensi juga dipengaruhi beberapa faktor yaitu:

Faktor sosial ekonomi


Profil faktor resiko kardiovaskular
Ada tidaknya kerusakan organ target
Ada tidaknya penyakit penyerta
Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang gunakan pasien untuk penyakit
lain

15 | P a g e
Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam
menurunkan resiko kardiovaskular

Komplikasi
Penderita hipertensi dengan tekanan darah yang tinggi akan menjalani hidup dengan
bergantung pada obat-obatan dan kunjungan teratur ke dokter untuk mendapatkan resep ulang
dan check-up. Data WHO melaporkan dari 50% penderita hipertensi yang diketahui hanya 25%
yang mendapat pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik (adequately treated
cases) karena mahalnya biaya yang diperlukan selama proses terapi. Selain itu, penggunaan obat-
obatan hipertensi sering menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan yang merupakan hal
yang harus dihindari oleh penderita hipertensi. Salah satu contoh efek samping yang umum
terjadi adalah meningkatnya kadar gula dan kolesterol, kelelahan serta kehilangan energi. Tidak
sedikit penderita yang harus mengkonsumsi obat lain untuk menghilangkan efek samping dari
pengobatan hipertensinya. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk menghindari efek
samping tersebut adalah dengan menghentikan terapi pengobatan farmakologis. Hal inilah yang
membuat pasien tidak patuh terhadap terapi pengobatan dan beralih mencari terapi yang lain.8
Hal ini bisa menyebabkan tekanan darah menjadi sangat tinggi dan tidak terkontrol
sehingga dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke. akibat pengerasan dan penebalan
arteri (aterosklerosis). Peningkatan tekanan darah juga dapat menyebabkan pembuluh darah
menjali melemah sehingga membentuk tonjolan (aneurisma). Jika pecah aneurisma dapat
mengancam nyawa.Untuk memompa darah dengan melawan tekanan yang lebih tinggi di
pembuluh darah, otot jantung menjadi lebih tebal. Akhirnya, otot yang menebal mungkin
mengalami kesulitan memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tuuh,
menyebabkan gagal jantung.9
Pembuluh darah di ginjal yang melemah dan menyempit pembuluh darah mencegah
organ tersebut dari berfungsi secara normal. Pembuluh darah yang menebal, menyempit atau
robek di mata pula dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Sindrom metabolik adalah
sekumpulan gangguan metabolisme tubuh, termasuk peningkatan lingkar pinggang, trigliserida
tinggi, rendah high-density lipoprotein (HDL) kolesterol, tekanan darah tinggi dan tingkat insulin
yang tinggi. Kondisi ini membuat pasien lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes,
penyakit jantung dan stroke.6

16 | P a g e
Kesimpulan
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan ke rumah pasien, didapatkan bahwa pasien adalah
penderita Hipertensi grade II terkontrol. Pasien sebelumnya kurang memiliki pengetahuan
tentang kesehatan sehingga melakukan pola makan yang salah, kurang olahraga dan berobat
tidak teratur. Pada penderita Hipertensi, untuk melakukan pola hidup yang sehat, agar tekanan
darah tetap stabil yaitu dengan cara mengontrol makanan yang dikonsumsi, istirahat yang cukup
dan teratur minum obat anti hipertensinya dan selalu di kontrol tekanan darahnya dengan datang
ke Puskesmas terdekat. Pada keluarga pasien sebagai kelompok risiko tinggi, untuk berperilaku
hidup sehat dengan cara mengontrol makanan, istirahat cukup dan olahraga teratur.

Daftar Pustaka

1. Muhadi. JNC 8: Evidence-based Guideline penaganan pasien hipertensi dewasa. Cermin


Dunia Kedokteran. 2016; 43(1).h.54-59.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Tahun 2013.
Riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2013 [internet]. 2013 [cited 2017 July 20th].
Available from URL:
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf, July
20th 2017

3. Notoatmojo, S. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2007.h.23
4. Sudoyo AW, Setiati S, Setiyohadi B. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke 6. Jakarta: Interna
Publishing; 2015:h.2286-94
5. Mansjoer A, Suprohalita, Wardhani WL, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran.
Jakarta: Media Aaesculapius FKUI; 2014.635-9
6. Williams H. Hypertension: pathophysiology and diagnosis. Pharmaceutical Journal
[Internet]. Available from URL: http://www.pharmaceutical-journal.com/learning/cpd-
article/hypertension-pathophysiology-and-diagnosis/20067718.cpdarticle, July 20th 2017
7. Kotchen TA. Hypertensive vascular disease. Dalam: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL,
Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J, penyunting. Harrison principles of internal medicine.
Edisi ke-18. New York: McGraw-Hill; 2012

17 | P a g e
8. Mancia G, Fagard R, Narkiewicz K, Redon J, Zanchetti A, Bohm M, dkk. ESH/ESC
Guidelines for the management of arterial hypertension. Journal of hypertension 2013,
31:1281-357.
9. James PA, Oparil S, Carter BL, Cushman WC, Dennison HC, Handler J, dkk. 2017
Evidence based guidelines for the management of high blood pressure in adults; Report
from the panel members appointed to the Eight Joint National Committee (JNC8). JAMA
.2013

18 | P a g e
Lampiran

Gambar 1 Pintu rumah dan lantai, serta ventilasi

Gambar 2 Atap rumah/ plafon dan lampu

19 | P a g e
Gambar 3 Ruang tamu dan TV, sumber air minum(dispenser)

Gambar 4 Ruangan Dapur

20 | P a g e
Gambar 5 Keadaan Kamar Mandi dan Toilet

Gambar 6 Saat melakukan wawancara dan sesudah wawancara

21 | P a g e