Anda di halaman 1dari 13

A.

Pengertian
Limbah, adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestik(rumah tangga), yang lebih dikenal sebagai sampah, yang
kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan
karena tidak memiliki nilai ekonomis
Limbah industri, bersumber dari kegiatan industri baik karena proses secara
lansung maupun proses secara tidak langsung
Pencemar adalah suatu penambahan yang mengubah kondisi lingkungan (udara,
air, tanah) atau makanan sehingga berdampak negatif terhadap makhluk hidup.
Pencemar dapat berupa zat padat, cair, gas atau bentuk emisi energi yang tidak
diinginkan (misalnya panas).
Sebagian besar pencemar adalah zat padat, cair atau gas yang merupakan hasil
sampingan atau limbah yang terbentuk ketika suatu sumber daya alam diekstraksi,
diproses menjadi produk, kemudian digunakan
Berdasar pada karakteristiknya, limbah industri ini dibagi menjadi empat macam,
diantaranya adalah:
1. Limbah Cair
2. Limbah Padat
3. Limbah Gas
4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

B. Pengelolaan Limbah
Peraturan perundang-undangan Indonesia, seperti Undang-undang Nomor 18
tahun 1999 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
18/1999 jo PP 85/1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3) juga menegaskan prinsip yang sama. (bagan -1)
Prinsip Hirarki Pengelolaan Limbah (6-M)
1. Langkah pertama yang adalah mencegah timbulnya limbah pada sumbernya
(waste avoidance/waste prevention) sehingga tidak dihasilkan limbah (zero
waste).
Upaya pencegahan ini dapat dilakukan melalui:
a. Penerapan prinsip produksi bersih (clean production) yaitu melalui
penerapan teknologi bersih, pengolahan bahan, substitusi bahan,
pengaturan operasi kegiatan, memodifikasi proses produksi,
mempromosikan penggunaan bahan-bahan yang tidak berbahaya dan
beracun atau lebih sedikit kadar bahaya dan racunnya,
b. Menerapkan teknik konservasi, dan menggunakan kembali bahan dari
pada mengolahnya sebagai limbah sehingga dapat mencegah terbentuknya
limbah dan zat pencemar
2. Langkah yang kedua, apabila pencegahan tidak dapat dilakukan, adalah
dengan berupaya melakukan minimisasi atau pengurangan limbah (waste
minimization/reduction). Upaya minimisasi limbah ini juga dapat dilakukan
dengan cara menerapkan produksi bersih. Penggunaan teknologi yang terbaik
yang tersedia (best available technology/BAT) dapat membantu mengurangi
konsumsi energi dan sumber daya alam secara signifikan yang pada akhirnya
dapat mengurangi timbulnya limbah
3. Langkah yang ketiga adalah pemanfaatan dengan cara penggunaan kembali
(reuse). Reuse adalah penggunaan kembali limbah dengan tujuan yang sama
tanpa melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara
termal. Contoh sederhana dari konsep reuse ini adalah menggunakan sisi
kertas yang masih kosong dari kertas bekas untuk menulis atau untuk
membuat amplop.
4. Langkah keempat adalah pemanfaatan dengan cara recycle, yaitu mendaur
ulang komponen-komponen yang bermanfaat melalui proses tambahan secara
kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang
sama ataupun produk yang berbeda. Contoh sederhana dari konsep recycle ini
adalah mengolah kertas bekas yang sudah tidak dipakai lagi untuk dijadikan
kertas hasil daur ulang (recycled paper) dengan suatu proses tertentu.
5. Langkah yang kelima adalah pemanfaatan limbah dengan cara recovery, yaitu
perolehan kembali komponen-komponen yang bermanfaat dengan proses
kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal. Contoh dari konsep recovery ini
adalah penggunaan limbah sekam padi (rice husk) sebagai substitusi bahan
bakar.
6. Langkah yang keenam adalah pengolahan (processing) limbah dengan metode
yang memenuhi persyaratan lingkungan dan keselamatan manusia. Contoh
pengolahan yang umum adalah pembakaran limbah (insinerasi) dan
penimbunan (landfilling).

C. Limbah cair Industri


Limbah cair ini juga dikenal sebagai entitas pencemar air adalah limbah yang
mempuyai bentuk cair. Biasanya limbah industri cair ini akan dibuang langsung ke
saluran air seperti selokan, sungai bahkan lautan. Contoh limbah cair dari industri ini
antara lain adalah sisa pewarna pakaian cair, sisa pengawet cair, limbah tempe,
limbah tahu, kandungan besi pada air, kebocoran minyak di laut, serta sisa- sisa
bahan kimia lainnya.
Pengolahan limbah bertujuan untuk menetralkan air dari bahan-bahan tersuspensi
dan terapung, menguraikan bahan organic biodegradable, meminimalkan bakteri
patogen, serta memerhatikan estetika dan lingkungan. Pengolahan air limbah dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Secara Alami: Pengolahan air limbah secara alamiah dapat dilakukan dengan
pembuatan kolam stabilisasi. Dalam kolam stabilisasi, air limbah diolah secara
alamiah untuk menetralisasi zat-zat pencemar sebelum air limbah dialirkan ke sungai.
Kolam stabilisasi yang umum digunakan adalah kolam anaerobik, kolam fakultatif
(pengolahan air limbah yang tercemar bahan organik pekat), dan kolam maturasi
(pemusnahan mikroorganisme patogen). Karena biaya yang dibutuhkan murah, cara
ini direkomendasikan untuk daerah tropis dan sedang berkembang.
b. Secara Buatan
Pengolahan air limbah dengan buantan alat dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL). Pengolahan ini dilakukan melalui tiga tahapan:
1) Primary treatment merupakan pengolahan pertama yang bertujuan untuk
memisahkan zat padat dan zat cair dengan menggunakan filter (saringan) dan bak
sedimentasi. Beberapa alat yang digunakan adalah saringan pasir lambat, saringan
pasir cepat, saringan multimedia, percoal filter, mikrostaining, dan vacum filter.
2) Secondary treatment merupakan pengolahan kedua, bertujuan untuk
mengkoagulasikan, menghilangkan koloid, dan menstabilisasikan zat organik dalam
limbah. Pengolahan limbah rumah tangga bertujuan untuk mengurangi kandungan
bahan organik, nutrisi nitrogen, dan fosfor. Penguraian bahan organik ini dilakukan
oleh makhluk hidup secara aerobik (menggunakan oksigen) dan anaerobik (tanpa
oksigen). Secara aerobik, penguraian bahan organik dilakukan mikroorganisme
dengan bantuan oksigen sebagai electon acceptor dalam air limbah. Selain itu,
aktivitas aerobik ini dilakukan dengan bantuan lumpur aktif (activated sludge) yang
banyak mengandung bakteri pengurai. Hasil akhir aktivitas aerobik sempurna adalah
CO2, uap air, dan excess sludge. Secara anaerobik, penguraian bahan organik
dilakukan tanpa menggunakan oksigen. Hasil akhir aktivitas anaerobik adalah biogas,
uap air, dan excess sludge.
3) Tertiary treatment merupakan lanjutan dari pengolahan kedua, yaitu
penghilangan nutrisi atau unsur hara, khususnya nitrat dan posfat, serta penambahan
klor untuk memusnahkan mikroorganisme patogen.

Sistem Pengolahan Limbah Cair


Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan
pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba
patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang
terdapat di alam. Bila dilihat dari tingkat perlakuan pengolahan air limbah maka
sistem pengolahan limbah cair dikalisifikasikan menjadi:
1. Primary Treatment System
a. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan
tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang
berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage,
serta oil separation.
b. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Proses yang terjadi menghilangkan partikel-partikel padat organik dan organik
melalui proses fisika, yakni neutralization, chemical addition and coagulation,
flotation, sedimentation, dan filtration . Sehingga partikel padat akan mengendap
(disebut sludge) sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di atas /
permukaan (disebut grease). Dengan adanya pengendapan ini, maka akan mengurangi
kebutuhan oksigen pada proses pengolahan biologis berikutnya dan pengendapan
yang terjadi adalah pengendapan secara grafitasi.
c. Aeration
Proses lumpur aktif dengan aerasi oksigen murni. Pengolahan ini termasuk
pengolahan biologi, karena menggunakan bantuan mikroorganisme pada proses
pengolahannya. Cara Kerja alat ini yaitu: Air limbah setelah dilakukan penyaringan
dan equalisasi dimasukkan kedalam bak pengendap awal untuk menurunkan
suspended solid. Air limpasan dari bak pengendap awal dialirkan ke kolam aerasi
melalui satu pipa dan dihembus dengan udara sehingga mikroorganisme bekerja
menguraikan bahan organik yang ada di air limbah. Dari bak aerasi air limbah
dialirkan ke bak pengendap akhir, lumpur diendapkan, sebagian lumpur dikembalikan
ke kolam aerasi.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Zat-zat pencemar pada umumnya berada pada jenis padatan suspensi, padatan
terlarut dalam kolidal. Padatan ini tidak mengalami pengendapan secara alami
walaupun dalam jangka waktu relative lama . Oleh karena itu diperlukan bahan kimia
yang direaksikan agar terjadi pengikatan senyawa pencemar baik dalam bentuk
gumpalan atau pengapungan. Pengolahan limbah dengan tingkatan kedua atau
menggunakan bahan kimia bertujuan mengendapkan bahan, mematikan bakteri
pathogen mengikat dengan cara oksidasi atau reduksi menetralkan kosentrasi
kelarutan asam dan desinfektasia.
a. Pengendapan dengan bahan kimia contoh umum yang dipergunakan koagulan
utama yang dipakai adalah kapur (lime), alum (tawas) feery chloride, ferry sulfat,
b. Netralisasi pada pengolahan limbah cair. Sebagian besar limbah cair dari
industri mengandung bahan bahan yang bersifat asam (Acidic) ataupun Basa
(alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang kebadan air maupun sebelum
limbah masuk pada proses pengolahan, baik pengolahan secara biologic maupun
secara kimiawi, proses netralisasi tersebut bisa dilakukan sebelum atau sesudah
proses equalisasi. Contoh asam: Sulfuric acid ( H2SO4 ), Hydrochloric acid ( HCl ),
Carbon dioxide ( CCG2 ), Sulfur dioxide, dan Nitric acid dan basa: Caustic soda
(NaOH) Ammonia, Soda Ash (Na2CO3) Limestone (CaCO3)
c. Oksdasi dan Reduksi. Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen dalam
hal transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah
kehilangan oksigen.

Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut
reaksi redoks. Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain.
Pada contoh reaksi diatas, besi(III)oksida merupakan oksidator. Reduktor atau zat
pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan
reduktor adalah karbon monooksida. Jadi dapat disimpulkan: oksidator adalah yang
memberi oksigen kepada zat lain, reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat
lain
d. Chlorinasi dan Penghilang Chlor. Adanya bakteri phatogen dapat dihancurkan
dengan chlorinasi. Dalam air limbah yang telah dichlorinasi masih terdapat sisa-sisa
clhor yang membahayakan manusia maupun biota dalam air, karena mempunyai sifat
racun .Sisa- sisa chlor yang masih tertinggal perlu diambil dengan metode
menggunakan karbon aktif atau sodium sulfat . Umumnya sisa chlor diambil pada
akhir proses pengolahan limbah setelah selesai pengendapan dan suasananya dalam
keadaan netral. Pengunaan karbon aktif lebih murah dan gampang cara
pengoperasiannya .
3. Tertiari Treatment .
Metode pengolahan dengan menghilangkan senyawa pencemar melalui
aktivitas biological yang dilakukan pada peralatan unit proses biologi . Metode ini
dipakai terutama untuk menghilangkan bahan organic biodegaradable dalam limbah
cair. Senyawa-senyawa organic tersebut dikonversikan menjadi gas dan air yang
kemudian dilepaskan di atmosfir. Zat- zat organic dengan rantai korban panjang
diubah menjadi rantai ikatan karbon sederhana dan air yang berbentuk gas. Untuk
menghilangkan senyawa nitrogen dalam air dipakai proses aerasi dengan
menggunakan metode biologi . Unit proses dipakai pada proses biologi yaitu : kolam
aerobic, aerasi, lumpur aktif, kolan oksidasi, dan saringan biologi dan kolam
anaerobic (jenis bahan pencemar dan peralatan yang dipergunakan untuk
menghilangkan bahan pencemar).

D. Limbah Pada Industri


Limbah padatindustri, adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur,
atau bubur yang berhasil dari suatu proses pengolahan (Daryanto, 1995). Dalam
konsep lingkungan didefinisikan limbah padat dibagi menurut jenisnya, yaitu :
1. Municipal, yaitu limbah perkotaan dihasilkan oleh perumahan dan
perkantoran, biasa disebut sebagai sampah (trash), berupa: kertas, sampah taman,
gelas, logam, plastik, sisa makanan, serta bahan lain seperti karet, kulit, dan tekstil
2. Non-municipal , yaitu limbah yang berasal kegiatan industri, pertanian,
pertambangan, dengan jumlah yang jauh lebih besar dari pada sampah perkotaan
Berdasarkan sifat limbah padat terbagi atas ;
1. Sampah organi dapat diurai (degradable) Sampah organik merupakan
sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti
sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah
tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan
sebagainya.
2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable) Berdasarkan kemampuan
diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:
a. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh
proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan,
sampah pertanian dan perkebunan.
b. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses
biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
o Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki
nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.
o Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah
atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.
Pengolahan Limbah Padat Industri
Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi dua cara
yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah padat
dengan pengolahan
Limbah padat tanpa pengolahan limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia
yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA
(Tempat Pembuangan Akhir).
Pemusnahan/pengolahan limbah padat dapat dikelompokkan dalam tiga
metode utama, yaitu :
a. Pengolahan limbah agar lebih memudahkan dalam pengelolaannya, atau agar
mengurangidampak negatif bila diolah lebih lanjut, seperti:
- penghalusan (shredding)
- pemadatan timbunan
- solidifikasi/pengkapsulan
b. Pengolahan limbah agar dihasilkan sebuah produk yang bermanfaat, seperti :
- pengomposan (dihasilkan humus)
- insinerasi/pembakaran (dihasilkan enersi panas)
- metanisasi (dihasilkan gasbio)
c. Pembuangan limbah ke suatu tempat guna menghindari kontak dengan manusia,
seperti lahan-urug (landfill)
Pemanfaat Limbah Padat:
1. Insinerasi adalah teknologi pengolahan limbah padat yang melibatkan
pembakaran bahan organik, bertemperatur tinggi lainnya didefinisikan sebagai
pengolahan termal. Insinerasi material limbah padat mengubah limbah padat menjadi
abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Gas yang dihasilkan harus
dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer. Panas yang dihasilkan bisa
dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik.
2. Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah.
Di dalam lahan landfill, limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam
tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi
dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan
membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Jika landfill tidak didesain
dengan baik, leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di
dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang
rendah. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap
awal proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya)
sebagai biogas.
3. Pengoposan
Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian
secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik
sebagai sumber energi. Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami
penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun
proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat.
Tahapan Pengomposan yaitu:
1. Pemilahan limbah padat industri
Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari limbah padat
anorganik (barang lapak dan barang berbahaya).
Pengecil Ukuran
2. Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga
sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos
3. Penyusunan Tumpukan
4. Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan
udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian
tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi
partikel kecil-kecil.
5. Penyiraman
6. Pematangan
7. Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai
dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat
dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal proses
8. Pengemasan dan Penyimpanan
Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan mentah
dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap,
yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan
senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba
mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula
akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas
50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada
kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi.
Pada saat ini terjadi dekmposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif.
Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan
bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas.
E. Pengolahan Limbah Beta Lactam
Prinsip utama pengolahan limbah beta lactam adalah pemecahan cincin beta
lactam. Beberapa cara pemecahan cincin beta lactam yaitu:
1. Hidrolisa dengan menaikkan pH sampai 10-12 (bisa dengan NaOH)
2. Hidrolisa dengan penambahan asam
3. Hidrolisa dengan penambahan mercuri chliride
Proses pengolahan limbah beta lactam yaitu Hidrolisa dari tangki hidrolisa
dialirkan ke tengki netralisasi untuk menetralisasi basa sesudah hidrolisa dengan
NaOH dengan penambahan HCl sehingga pH 6-9. Selanjutnya proses pengendapan
untuk mengadsorbsi zat organik dan cincin beta lactam yang mungkin masih ada pada
limbah serta untuj menghilangkan jika terdapat logam berat pada unit pengolahan
beta lactam dilengkapi dengan bak filtrasi hasil olahan tersebut kemudian dapat
diukur dengan HPLC