Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

PESTISIDA PERTANIAN

ACARA V
PENGUJIAN DAYA RACUN FUNGISIDA DENGAN
TEKNIK PERKECAMBAHAN SPORA

Disusun oleh;
Nama/NIM : Danu Widantoko/13950
Golongan : C5.1
Asisten : 1.
2.
3.

SUB LABORATORIUM TOKSIKOLOGI PESTISIDA


DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
I. TUJUAN
Mengetahui pengaruh fungisida terhadap perkecambahan spora jamur

II. TINJAUAN PUSTAKA


Penyakit Bercak daun Cercospora spp. dan karat (Puccinia arachidis) adalah
penyakit yang dominan pada pertanaman kacang tanah lahan kering maupun lahan sawah.
Bercak daun Cercospora spp. dan karat (Puccinia arachidis) merupakan penyakit yang
dominan pada pertanaman kacang tanah lahan kering maupun lahan sawah. Di Kabupaten
Banjarnegara, penyemprotan fungisida Bitertanol 300 g/l pada umur 7, 9 dan 11 minggu
cukup efektif menekan serangan penyakit bercak daun dan karat, sehingga dapat mengha-
silkan jumlah daun saat panen lebih besar dibanding perlakuan tanpa penyemprotan
fungisida. Pengendalian penyakit daun selain menekan kehilangan hasil polong 8,57,4%,
juga dapat menekan kerontokkan daun, sehingga hasil biomassa untuk pakan ternak semakin
banyak ( Campbell at al. 2007 ).

Penyakit karat daun kacang tanah disebabkan Puccinia arachidis yang masuk dalam
kelas Basidiomycetes. Parasit ini adalah bertipe fakultatif dengan mekanisme nekrotopik.
Daun kacang yang terkena Cercospora arachidicola ditandai dengan adanya bintik-bintik
kecil berwarna oranye kecoklatan pada permukaan daun bagian bawah. Apabila serangan
lebih parah, pada permukaan daun bagian bawah akan mengering dan daunnya tidak gugur
dan masih berada pada tangkainya. Tipe gejala pada daun kacang tanah ini termasuk tipe
gejala nekrosis. Gejala penyakit karat pada daun kacang tanah diawali dengan timbulnya
bercak kecil merah kecoklatan padadaun. Jika serangan berat daun akan berguguran,
akibatnya produksi kacang menurun. Serangan terutama terjadi pada cuaca lembab (Tjahjadi,
1999).

Penyakit bercak daun pada kacang tanah gejala serangan terlihat mula-mula pada
permukaan bawah dari daun terlihat bercak berwarna coklat kehitaman. Pada masing-masing
daun terdapat beberapa bercak yang semakin lama makin melebar. Serangan yang berat
mengakibatkan daun berwarna hitam bahkan dapat menular ketangkai daun dan batang.
Tanaman yang terserang berat akan merontokkan daun sebelum waktunya dan tanaman mati.
Penyakit ini dapat dikendalikan dengan rotasi tanaman, tanam serempak dan varietas yang
toleran (Sastrahidayat. 1989)
Penyakit bercak daun tersebar luas di tiap tempat kacang tanah ditanam. Dari kegiatan
pemuliaan untuk mendapatkan kacang tanah tahan penyakit bercak daun yang telah dilakukan
selama beberapa tahun, diketahui bahwa sifat tahan berasosiasi dengan daya hasil rendah dan
umur dalam (Norden et al., 1982). Oleh karena itu dalam pemuliaan untuk memperoleh
genotipe berdaya hasil tinggi, genotipe yang tahan terhadap penyakit bercak daun selalu akan
tereleminir. Akibatnya semua kultivar kacang tanah yang dibudidayakan secara luas rentan
terhadap kedua jenis patogen bercak daun (Porter et al., 1982).

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan kultur teknis yakni dengan
mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi. Selain
itu, dapat juga dilaukan dengan pengendalian kimiawi dengan aplikasi fungisida. Diantara
fungisida yang telah terbukti cukup efektif adalah zineb, oksiklorida tembaga, fermat dan
dithane serta pemakaian triadimefon atau golongan dithiokarbamat. Menurut Semangun
(2004), fungisida tembaga dan mankozeb (Dithane M-45) memberikan hasil yang baik untuk
pengendalian penyakit karat kacang tanah. Selain itu bubur Bordeaux juga dapat digunakan
untuk mengendalikan penyakit ini. Bitertanol (Baycor), triadimefon (Bayleton) dan benomil
(Benlate) juga efektif untuk pengendalian karat kacang tanah. Pengendalian penyakit ini
terkadang menggunakan pestisida yang juga dapat mengendalikan bercak daun misalnya
Daconil yang dicampur Agral.
III. METODOLOGI
Praktikum pestisida pertanian acara V dengan judul Pengujian Daya Racun
Fungisida Dengan Teknik Perkecambahan Spora dilakukan pada hari Jumat, 31
Maret dan 7 April 2017 di Sub Laboratorium Toksikologi Pestisida, Departemen
Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM. Alat yang dibutuhkan
dalam praktikum ini antara lain cawan petri berdiameter 15 cm, gelas piala volume
100 ml, neraca analitik, gelas ukur volume 100 ml, gelas benda 2 pak dan gelas
penutup, batang gelas berukuran 15 cm dan mikroskop cahaya untuk pengamatan.
Bahan yang diperlukan antara lain dua jenis fungsida dengan bahan aktif berbeda,
jamur patogen, spora jamur, akuades, air steril, kertas saring dan Gom Arab 1%.
Sebelum percobaan dilakukan, terlebih dahulu dipersiapkan Gom Aram 1.
gelas preparat dicelupkan ke dalam Gom Arab 1% kemudian dimasukkan ke dalam
oven selama 30 menit pada suhu 50C. Dimasukkan 3 gelas preparat ke dalam
masing-masing konsentrasi pestisida (0,05 %, 0,1 %, 0,2 % dan 0,4 %). Setelah itu
gelas benda kembali dioven selama 30 menit pada suhu 50C. Spora jamur Puccinia
arachidis kemudian diambil dan disuspensikan ke dalam air steril. 50 ml suspensi
spora diteteskan pada tiap kaca preparat lalu diratakan. Kaca preparat diletakkan
dalam cawan petri berdiameter 15 cm yang beralaskan kertas saring dan tusuk sate
untuk menjaga kelembaban lingkungan perkecambahan spora. Pada tanggal 8 April
2016 pukul 07.00 diteteskan lactophenol cotton blue untuk menghentikan
perkecambahan spora jamur. Pengamatan dilakukan pada 14 April 2016. dihitung
berapa spora yang berkecambah dan berapa persentase penghambatan spora yang
terjadi. Persentase penghambatan dihitung dengan rumus :
% spb kontrol % spb konsentrasi
% Penghambatan= x 100 %
% spb kontrol
Keterangan:
% spb kontrol : persentase spora yang berkecambah pada perlakuan kontrol
% spb konsentrasi : persentase spora yang berkecambah pada perlakuan
konsentrasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. persentase penghambatan perkecambahan spora oleh fungisida yang diujikan

Fungisida Konsentrasi Spora berkecambah Penghambatan


(%) Perkecambahan (%)
Kontrol 0 48,25 0
Daconil 0,1 0,00 100,00
0,2 0,00 100,00
0,4 0,00 100,00

Dithane 0,1 0,00 100,00


0,2 0,00 100,00
0,4 0,47 99,03
Kocide
0,1 0,89 98,15
0,2 0,18 99,64
0,4 0,00 100,00
Antracol
0,1 0,20 99,59
0,2 0,30 99,38
0,4 1,56 96,77

V.

Pestisida yang digunakan dalam praktikum ini adalah fungtisida Dithane,


Daconil, Kocide, dan Antracol. Dithane merupakan salah satu fungisida kontak yang
banyak digunakan untuk mengendalikan jamur yang muncul di permukaan. Fungisida
ini tidak beracun bagi tanaman bila konsentrasi yang digunakan tidak berlebihan
kecuali untuk tanaman yang mempunyai daya kepekaan tinggi. Dithane mengandung
bahan aktif mankozeb yang berspektrum luas dan dapat menghambat enzim-enzim
patogen pada tanaman (Sari et al., 2014). Kocide 77WP merupakan produk fungisida
baru dari Cap Kapal Terbang yang berbahan aktif tembaga hidroksida (Cu(OH)2)
yang terbukti efektif mengendalikan serangan jamur dan bakteri pada tanaman.
Antrachol merupakan fungisida kontak berbentuk tepung berwarna krem yang dapat
di suspensikan untuk mengendalikan penyakit jamur. Memiliki bahan aktif propinep
70 %. Pestisida Daconil adalah pestisida golongan fungisida yang menggunakan
bahan aktif klorotalonil 75 % dengan formulasi 75 WP. Sesuai golongannya, sasaran
pestisida ini adalah golongan jamur. Dan untuk membasmi jamur tersebut, teknik
yang digunakan adalah dengan menyemprotkan pestisida.
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :

Daconil
140.00
120.00 y = 200x + 40
R = 0.4667
Penghambatan (%)

100.00
80.00
60.00 Daconil
40.00 Linear (Daconil)
20.00
0.00
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
Konsentrasi (%)

Grafik 1. Pengaruh pestisida Daconil

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa analisis regresinya berbeda nyata
sebesar R2=0,4667, hal ini berarti bahwa pemberian pestisida Daconil sangat
mempengaruhi perkecambahan spora Puccinia arachidis. Pengaruh pemberian
pestisida Daconil ini sangat signifikan yaitu mecapai 100 %. Itu berarti pestisida
Daconil sangat efektif digunakan untu menghambat pertumbuhan spora Puccinia
arachidis. Daconil 75 WP termasuk ke dalam jenis pestisida golongan fungisida yaitu
pestisida untuk membunuh jamur atau cendawan. Jenis bahan aktif yang terkandung
dalam Daconil 75 WP adalah Klorotalonil 75%.
Dithane
140.00
120.00 y = 197.51x + 40.194
R = 0.458

Penghambatan (%)
100.00
80.00
60.00 Dithane
40.00 Linear (Dithane)

20.00
0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50
Konsentrasi (%)

Grafik 2. Pengaruh pestisda Dithane

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa analisis regresinya sebesar R2=0,458,
hal ini berarti bahwa pemberian pestisida Dithane sangat mempengaruhi
perkecambahan spora Puccinia arachidis. Pengaruh pemberian pestisida Dithane ini
juga sangat signifikan yaitu mecapai 100 %. Itu berarti pestisida Dithane sangat
efektif digunakan untu menghambat pertumbuhan spora Puccinia arachidis. Dhitane
M-45 80 WP termasuk ke dalam jenis pestisida golongan fungisida yaitu pestisida
untuk membunuh jamur atau cendawan. Jenis bahan aktif yang terkandung dalam
antracol adalah Mankozeb 80 %. Cara aplikasi Dithane M-45 80 WP adalah
penyemprotan volume tinggi dimulai 5 minggu setelah tanam apabila terlihat gejala
serangan atau bila kelembaban tinggi dan suhu rata-rata harian diatas 27 derajat
Celcius dan diulangi setiap 1 2 minggu sesuai tingkat serangan.
Antracol
140.00
120.00 y = 191.87x + 40.358
R = 0.4417

Penghambatan (%)
100.00
80.00
60.00 Antracol
40.00 Linear (Antracol)
20.00
0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50
Konsentrasi (%)

Grafik 3. Pengaruh pemberian Antracol

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa analisis regresinya sebesar


R2=0,4417, hal ini berarti bahwa pemberian pestisida Antrachol sangat mempengaruhi
perkecambahan spora Puccinia arachidis. Pengaruh pemberian pestisida Antracol ini
juga sangat signifikan yaitu hampir mecapai 100 %. Itu berarti pestisida Antrachol
sangat efektif digunakan untu menghambat pertumbuhan spora Puccinia arachidis.
Antracol 70 WP termasuk ke dalam jenis pestisida golongan fungisida yaitu pestisida
untuk membunuh jamur atau cendawan. Jenis bahan aktif yang terkandung dalam
antracol adalah Propenib 70,5 %. Cara aplikasi Antracol 70 WP adalah penyemprotan
yaitu dengan volume air 750-1000 l/ha. Mengaplikasikan pada gejala yang timbul,
dengan interval 5-7 hari atau tergantung level kerusakan. Antracol dapat dipergunakan
hanya satu kali bila level infeksinya masih rendah, medium atau dalam tahap
vegetatif, namun bila sudah sampai tahap infeksi parah/ generatif, Antracol lebih baik
dicampur dengan Pitora dengan takaran konsentrasi Antracol 2 g/l + Pitora 0.7 g/l.
Kocide
140.00
120.00 y = 201.48x + 39.188
R = 0.4805
100.00
Axis Title
80.00
60.00 Kocide
40.00 Linear (Kocide)
20.00
0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50
Axis Title

Grafik 4. Pengaruh pemberian pestisida kocide

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa analisis regresinya sebesar


R2=0,4805, hal ini berarti bahwa pemberian pestisida Kocide sangat mempengaruhi
perkecambahan spora Puccinia arachidis. Pengaruh pemberian pestisida Kocide ini
juga sangat signifikan yaitu hampir mecapai 100 %. Itu berarti pestisida Antrachol
sangat efektif digunakan untu menghambat pertumbuhan spora Puccinia arachidis.
V. KESIMPULAN

Pengaruh pemberian Fungisida yang bekerja secara kontak dapat


menghentikan atau menghambat perkecambahan spora. Dalam percobaan ini
perlakuan seluruh pestisida baik Dithane 80 WP, Kocide 77 WP, Daconil 75 WP, dan
Antracol 70 WP efektif dalam mengendalikan karat kacang tanah dengan cara
menghambat perkecambahan sporanya.
DAFTAR PUSTAKA

Semangun, H. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.

Tukidjo, M., 1984. Pengantar Ilmu Penyakit tumbuhan Bagian dari Perlindungan Tanaman.
Yogyakarta : Gajah Mada University press.
Semangun, Haryono. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta. 754 hal.
Gomez, K. A. and A. A. Gomez. 1995. Prosedur Statistika untuk Penelitian Pertanian. Edisi
II. E. Sjamsudin dan J.S. Baharsjah ( penerjemah ). Penerbit Universitas Indonesia.
Jakarta.698 hal.
Tjahjadi, N. 1999. Hama dan Penyakit Tanaman Semusim. Kanisius. Yogyakarta.

Sastrahidayat. 1989. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Usaha Nasional. Surabaya.


LAMPIRAN

Tabel 1. Pengujian Daya Racun Fungisisda Dengan Teknik Perkecambahan Spora

Spora
Perlakuan Konsentrasi total spora %kecambah % penghambatan
berkecambah
Kontrol 0 69 143 48,25 0
Daconil 0,1 0 502 0,00 100,00
0,2 0 434 0,00 100,00
0,4 0 297 0,00 100,00
Dithane 0,1 0 165 0,00 100,00
0,2 0 198 0,00 100,00
0,4 1 214 0,47 99,03
Kocide 0,1 2 224 0,89 98,15
0,2 1 571 0,18 99,64
0,4 0 288 0,00 100,00
Antracol 0,1 1 502 0,20 99,59
0,2 1 335 0,30 99,38
0,4 12 771 1,56 96,77
Gambar 5. Pengamatan Spora Perlakuan Kontrol Sudut Pandang 1

Gambar 6. Pengamatan Spora Perlakuan Kontrol Sudut Pandang 2

Gambar 7. Pengamatan Spora Perlakuan Kontrol Sudut Pandang 3