Anda di halaman 1dari 14

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nekrosis pulpa adalah kematian pulpa yang dapat diakibatkan oleh pulpitis
irreversibel yang tidak dirawat atau terjadi trauma yang dapat mengganggu suplai
darah ke pulpa. Jaringan pulpa tertutup oleh email dan dentin yang kaku sehingga
tidak memiliki sirkulasi darah kolateral. Bila terjadi peningkatan jaringan dalam
ruang pulpa menyebabkan kolapsnya pembuluh darah sehingga akhirnya terjadi
nekrosis likuifaksi. Jika eksudat yang dihasilkan selama pulpitis irreversibel
didrainase melalui kavitas karies atau daerah pulpa yang terbuka, proses nekrosis
akan tertunda dan jaringan pulpa di daerah akar tetap vital dalam jangka waktu
yang lama. Jika terjadi hal sebaliknya, mengakibatkan proses nekrosis pulpa yang
cepat dan total (Grossman, 1995).
Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan
mengangkat jaringan pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran
akar, kemudian diisi padat oleh bahan pengisi saluran akar agar tidak terjadi
kelainan lebih lanjut atau infeksi ulang. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
gigi selama mungkin di dalam rahang, sehingga fungsi dan bentuk lengkung gigi
tetap baik (Aya, 2005;58).
Perawatan saluran akar meliputi tiga tahapan yaitu preparasi biomekanis
saluran akar, disenfeksi (sterilisasi) dan obsturasi (pengisian saluran akar).
Perawatan saluran akar dibagi dalam perawatan saluran akar vital, perawatan
saluran akar devital dan perawatan saluran akar non vital (Luthfi, 2002;317).
Perbedaan utama adalah perawatan sebelum dilakukan pengambilan
jaringan pulpa. Pada perawatan saluran akar vital pengambilan jaringan pulpa
dilakukan setelah gigi di anastesi, sedangkan perawatan saluran akar devital
dilakukan pada penderita yang menolak di anastesi, penderita yang alergi terhadap
anastetikum ataupenderita yang menolak di anastesi ulang. Dalam hal ini
dilakukan devitalisasi dengan devitalizing pastes. Perawatan saluran akar non
vital, dengan melakukan pengeluaran pulpa pada gigi dalam keadaan nekrosis
pulpa dan gangren pulpa. Bila gigi dalam keaadan nekrosis pulpa pengambilan

1
pulpa seluruhnya dilakukan pada kunjungan pertama. Gangren pulpa,
pengambilan jaringan pulpa sebagian sampai 1/3 saluran akar dilakukan pada
kunjungan pertama kemudian diberi obat creosote atau ChKM dan di tutup
dengan tumpatan sementara. (Hartono, 2000; 254).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah yang dimaksud gigi non vital dan bagaimana tanda-tandanya ?

1.2.2 Apa saja tahapan pemeriksaan untuk menentukan vitalitas gigi ?

1.2.3 Apa saja rencana perawatan pada gigi non vital ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui apa pengertian gigi non vital dan tanda-tandanya

1.3.2 Untuk mengetahui tahapan pemeriksaan vitalitas gigi

1.3.3 Untuk mengetahui macam rencana perawatan pada gigi non vital

2
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Gigi Nonvital

Gigi non vital merupakan kondisi dimana terjadi kematian pada jaringan
pulpa akibat proses inflamasi lanjutan dari pulpitis akut/kronis atau terhentinya
sirkulasi darah akibat trauma.

Gejala dan tanda dari gigi non vital adalah :

1. Diskolorisasi gigi, merupakan indikasi pertama terjadinya kematian


jaringan pulpa.
2. Riwayat dari pasien, seperti oral hygiene, pulpitis yang tidak diterapi, serta
riwayat trauma. Pada gigi yang mengalami trauma, tidak terdapat respon
terhadap tes pulpa. Hal ini menyerupai tanda pada nekrosis pulpa.
3. Gejala pada gigi biasanya asimtomatik. Tidak terdapat nyeri pada nekrosis
total. Pada nekrosis sebagian dapat simptomatik atau ditemui nyeri.

2.2 Tahap pemeriksaan

2.2.1 Pemeriksaan Subjektif (anamnesis)

A. Keluhan utama

Keluhan utama pada umumnya merupakan informasi pertama yang dapat


diperoleh. Keluhan ini berupa gejala atau masalah yang dirasakan pasien dalam
bahasanya sendiri yang berkaitan dengan kondisi yang membuatnya cepat-cepat
datang mencari perawatan. Keluhan utama hendaknya dicatat dengan bahasa apa
adanya menurut pasien

B. Riwayat perjalanan penyakit

Pada umumnya nyeri dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh


penyakit pulpa dan periradikuler yang parah dapat mempengaruhi kondisi fisik

3
pasien. Anamnesa yang diajukan adalah mengenai lokasi, asal nyeri, karakter dan
keparahan nyeri yang dialami. Kemudian pertanyaan lanjutan mengenai
spontanitas dan durasi nyeri, serta stimulus yang merangsang atau meredakan
nyeri. Keparahan rasa nyeri dan obat-obatan yang diminum pasien untuk
meredakan nyeri dan keefektifannya juga perlu diketahui

C. Riwayat Kesehatan Umum

Riwayat kesehatan umum pasien meliputi penyakit sistemik yang diderita,


pernah diderita, pengobatan yang pernah dilakukan dan sedang dilakukan, alergi,
kehamilan. Bila menderita penyakit sistemik yang dapat mengalami komplikasi
selama perawatan gigi harus konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

D. Riwayat Dental

Riwayat dental merupakan ringkasan dari penyakit dental yang pernah dan
sedang diderita. Informasi ini menyediakan informasi yang sangat berharga
mengenai sikap pasien terhadap kesehatan gigi, pemeliharaan, serta perawatannya.
Infromasi demikian tidak hanya berperan penting dalam penegakan diagnosis,
melainkan berperan pula pada rencana perawatan. Kuesionernya hendaknya
berisikan pertanyaan mengenai gejala dan tanda, baik kini maupun di masa lalu.
Pengambilan riwayat dental ini merupakan langkah teramat penting dalam
menentukan diagnosis yang spesifik.

2.2.2 Pemeriksaan Obyektif

A. Pemeriksaan Ekstraoral
Pada pemeriksaan ekstraoral dilihat apakah ada pembengkakan atau
perubahan warna. Seperti pembengkakan di rahang bawah daerah submandibular
atau mandibular. Di rahang atas pembengkakan sampai di bawah mata akibat
infeksi gigi kaninus. Selain itu perhatikan juga apakah ada pembengkakan
kelenjar limfe.

B. Pemeriksaan Intraoral

4
Pemeriksaan intra oral dilakukan dalam mulut pasien untuk mengetahui
kondisi rongga mulut pasien. Beberapa pemeriksaan yang dilakukan di dalam
rongga mulut pasien diantaranya:
a. Jaringan lunak
Melakukan pemeriksaan visual dan pada rongga mulut
Pemeriksaan umum terhadap bibir, mukosa oral, pipi, lidah, palatum, dan
otot otot.
Pemeriksaan perubahan warna, inflamasi, ulserasi, dan pembentukan sinus
tract pada mukosa alveolar dan attached gingiva.
b. Gigi geligi
Pemeriksaan visual untuk melihat diskolorisasi, fraktur, abrasi, erosi,
karies, restorasi yg besar dll baik menggunakan instrumen maupun noninstrumen.
Tes Perkusi
Perkusi dilakukan dengan cara memberi pukulan cepat tetapi tidak keras
dengan menggunakan ujung jari, kemudian intensitas pukulan ditingkatkan.
Selain menggunakan ujung jari pemeriksaan ini juga sering dilakukan
dengan menggunakan ujung instrumen. Cara lain untuk memastikan ada
tidaknya kelainan yaitu dengan mengubah arah pukulannya yaitu mula-mula
dari permukaan vertikal-oklusal ke permukaan bukal atau lingual mahkota.
Gigi yang dipukul bukan hanya satu tetapi gigi dengan jenis yang sama pada
regio sebelahnya. Ketika melakukan tes perkusi dokter juga harus
memperhatikan gerakan pasien saat merasa sakit.
Tes Tekan
Tes tekan dilakukan pada bagian insisal/oklusal gigi dengan cara menekan
menggunakan jari atau ujung hand instrument. Gigi yang ditekan bukan
hanya satu tetapi gigi dengan jenis yang sama pada regio sebelahnya. Tes
tekan digunakan untuk memeriksa ada atau tidaknya kelainan pada jaringan
periodontal.
Tes Palpasi
Tes palpasi dilakukan dengan cara memberi tekanan ringan pada mukosa
yang sejajar dengan apeks gigi. Pemeriksaan ini digunakan untuk

5
menentukan ada atau tidaknya inflamasi yang mencapai periapikal serta
untuk menentukan lokasi insisi atau drainage.
Tes Kegoyangan Gigi
Tes ini dilakukan dengan menggerakkan gigi ke arah lateral dalam soketnya
dengan menggunakan jari atau pinset. Jumlah gerakan menunjukkan kondisi
periodonsium, makin besar gerakannya, makin jelek status periodontalnya.
Tes Vitalitas
Tes vitalitas terdiri dari empat pemeriksaan, yaitu tes termal, tes kavitas, tes
jarum miller dan tes elektris.
a) Tes termal, merupakan tes kevitalan gigi yang meliputi aplikasi panas
dan dingin pada gigi untuk menentukan sensitivitas terhadap perubahan
termal.
- Tes dingin, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
bahan, yaitu etil klorida, salju karbon dioksida (es
kering) dan refrigerant (-50oC). Apabila pasien merespon ketika
diberi stimulus dingindengan keluhan nyeri tajam yang singkat maka
menandakan bahwa gigi tersebut vital. Apabila tidak ada respon atau
pasien tidak merasakan apa-apa maka gigi tersebut nonvital atau
nekrosis pulpa. Respon dapat berupa respon positif palsu apabila
aplikasi tes dingin terkena gigi sebelahnya tau mengenai gingiva
Respon negatif palsu dapat terjadi karena tes dingin diaplikasikan
pada gigi yang mengalami penyempitan (metamorfosis kalsium).
- Tes panas, pemeriksaan ini jarang digunakan karena dapat
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah apabila stimulus yang
diberikan terlalu berlebih. Tes panas dilakukan
dengan menggunakan berbagai bahan yaitu gutta perca
panas, compound panas, alat touch and heat dan instrumen yang
dapat menghantarkan panas dengan baik. Rasa nyeri yang tajam dan
singkat ketika diberi stimulus gutta perca menandakan gigi vital,
sebaliknya respon negatif atau tidak merasakan apa-apa menandakan
gigi sudah non vital.

6
b) Tes kavitas, bertujuan untuk mengetahui vitalitas gigi dengan cara
melubangi gigi. Alat yang digunakan bur tajam dengan cara melubangi
atap pulpa hingga timbul rasa sakit. Jika tidak merasakan rasa sakit
dilanjutkan dengan tes jarum miller. Hasil vital jika terasa sakit dan
tidak vital jika tidak ada sakit.
c) Tes jarum miller, diindikasikan pada gigi yang terdapat perforasi akibat
karies atau tes kavitas. Tes jarum miller dilakukan dengan cara
memasukkan jarum miller hingga kesaluran akar. Apabila tidak
dirasakan nyeri maka hasil adalah negatif yang menandakan bahwa gigi
sudah nonvital, sebaliknya apabila terasa nyeri menandakan gigi masih
vital.
d) Tes elektris, merupakan tes yang dilakukan untuk mengetes vitalitas
gigi dengan listrik, untuk stimulasi saraf ke tubuh.
Alatnya menggunakan Electronic pulp tester (EPT). Tes ini dilakukan
sebanyak tiga kali supaya memperoleh hasil yang valid. Tes ini tidak
boleh dilakukan pada orang yang menderita gagal jantung dan orang
yang menggunakan alat pemacu jantung. Gigi dikatakan vital apabila
terasa kesemutan, geli, atau hangat dan gigi dikatakan non vital jika
sebaliknya. Tes elektris tidak dapat dilakukan pada gigi restorasi,
karena stimulasi listrik tidak dapat melewati akrilik, keramik, atau
logam. Tes elektris ini terkadang juga tidak akurat karena beberapa
faktor antara lain, kesalahan isolasi, kontak dengan jaringan lunak atau
restorasi., akar gigi yang belum immature, gigi yang trauma dan baterai
habis.
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah radiografi. Radiografi
adalah salah satu alat klinis paling penting untuk menunjang diagnosis. Alat ini
memungkinkan pemeriksaan visual struktur mulut yang tidak mungkin dapat
dilihat dengan mata telanjang. Pemeriksaan radiografik yaitu foto bitewing,
periapikal dan panoramik diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa

7
dalam mempertimbangkan jenis perawatan yang harus diberikan antara lain
memberi evaluasi masalah :
- Perluasan karies dan kedekatannya dengan pulpa.
- Keadaan restorasi yang ada.
- Ukuran dari keadaan ruang pulpa : Dentin sekunder, kalsifikasi, dan
resorpsi interna
- Akar : bentuk, resorpsi internal.
- Apeks : kelainan periapeks seperti abses, kista, dan granuloma.
- Tulang: melihat adanya rarefaction pada daerah periapikal atau bifurkasi,
kehilangan lamina dura, dan keadaan membran periodontal.

2.3 Diagnosa

Langkah-langkah yang harus diikuti dalam mendiagnosa :

1. Memastikan keluhan utama


2. Mendapatkan informasi riwayat medikal dan dental pasien yang lengkap
3. Melaksanakan pemeriksaan subjektif,objektif dan radiografik (hanya
pemeriksaan yang diperlukan saja)
4. Menganalisa data data yang diperoleh
5. Menegakkan diagnosa yang tepat dan rencana perawatan.

2.4 Rencana perawatan

Perawatan pada pulpa non vital meliputi :

1. Pulpektomi non vital

2. Apeksifikasi

3. Endo bedah

2.4.1 Pulpektomi non vital

8
Pulpektomi non vital atau endodontik intrakanal merupakan perawatan
saluran akar dengan melakukan pengeluaran jaringan pulpa pada gigi yang sudah
mati atau nekrosis.
A. Indikasi dan kontraindikasi
Indikasi :
- Mahkota gigi masih dapat direstorasi dan berguna untuk keperluan
prostetik (untuk pilar restorasi jembatan).
- Gigi tidak goyang dan periodontal normal.Foto rontgen menunjukkan
resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apical, tidak ada granuloma pada
gigi sulung.
- Kondisi pasien baik serta ingin giginya dipertahankan dan bersedia untuk
memelihara kesehatan gigi dan mulutnya.Keadaan ekonomi pasien
memungkinkan.
Kontra indikasi:
- Gigi tidak dapat direstorasi lagi.
- Resorpsi akar lebih dari sepertiga apical.
- Kondisi pasien buruk, mengidap penyakit kronis, seperti Diabetes Melitus,
TBC, dan lain-lainTerdapat belokan ujung dengan granuloma (kista) yang
sukar dibersihkan ataui sukar dilakukan tindak bedah endodonti.
B. Prosedur perawatan

Langkah-langkah perawatan pulpektomi non vital :

Kunjungan pertama :

Foto rontgen (diagnosa)


Isolasi gigi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi bakteri dan
saliva
Menghilangkan karies menggunakan ekskavator atau bur
Membuat access opening dengan bur bulat, buang atap dan tanduk pulpa,
kemudian membuat convenient form dengan fissure bur

9
Pencarian orifice dan jalan masuk ke saluran akar menggunakan jarum
miller
Pembersihan mekanis menggunakan jarum ekstirpasi
Irigasi dengan aquadest steril dan sodium hipoklorit
Mengukur panjang kerja (DWP) menggunakan jarum miller atau file
nomor kecil yang diberi stopper
Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomer kecil dengan
gerakan ringan dan lembut sesuai dengan panjang kerja dan teknik
preparasi yang digunakan.
Macam-macam teknik preparasi :
1. Teknik konvensional
2. Teknik step back
3. Teknik balance force
4. Teknik crowndown presureless
Melakukan desinfeksi saluran akar dengan obat sterilisasi saluran akar,
terdapat dua golongan obat sterilisasi saluran akar yaitu golongan
antiseptik (non spesifik) dan golongan antibiotik yang cara penempatannya
berbeda. Untuk golongan antisptik dapat menggunakan paper point namun
tidak boleh sampai apeks atau menggunakan cotton pellet dalam kamar
pulpa, sedangkan golongan antibiotik harus langsung bersentuhan dengan
dinding saluran akar.
Tumpatan sementara
Kunjungan kedua :
Isolasi gigi dengan rubber dam.
Buang tumpatan sementara.
Melanjutkan preparasi dan melakukan trial guttap sesuai dengan panjang
kerja dan no file terakhir.
Foto trial guttap
Melakukan pengisian saluran akar dengan guttap dan pasta
Macam teknik pengisian :
1. Teknik single cone

10
2. Teknik kondensasi lateral
3. Teknik kondensasi vertikal
4. Teknik retrogade
Foto post pengisian
Restorasi tetap

2.4.2 Bedah Endodontik

Bedah endodontik adalah prosedur bedah yang dilakukan pada akar gigi
dan jaringan periapikal, yang perawatan endodontiknya mengalami kegagalan.
Pada saat ini, bedah endodontik telah menjadi perawatan pilihan, 2 karena
merupakan suatu pilihan untuk menghindari terjadinya kehilangan gigi terutama
gigi anterior, dengan adanya lesi pada pulpa ataupun pada jaringan periapikalnya.

Indikasi endo-bedah adalah kerusakan yang luas jaringan periapikal,


tulang atau membran periodontal yang mengenai 1/3 atau lebih apeks akar gigi,
pada apeks akar gigi terdapat kista, instrumen saluran akar patah pada 1/3 akar
atau saluran tersumbat batu pulpa dan lain-lain, perforasi pada 1/3 saluran akar,
pada gigi yang muda apeksnya belum tertutup sempurna dan pengisian saluran
akar sukar mendapatkan hasil yang baik karena saluran akar berbentuk terompet,
bahan pengisi saluran akar menjadi iritan karena patah dan masuk ke jaringan
periapikal, saluran akar telah dirawat dan diisi dengan baik tetapi masih terdapat
periodontitis apikalis, saluran akar yang sangat melengkung dengan daerah
rerefraksi, resorbsi internal dan eksternal pada akar gigi. Overfilling pada
pengisian saluran akar, fraktur 1/3 apikal dengan kematian pulpa, tidak didapatkan
perbenihan negatif pada perawatan endodontik, adanya kelainan pada daerah
periapikal gigi yang telah memakai mahkota dowel, mahkota dan jembatan.

Kontra indikasi adalah bila pemotongan ujung akar dan kuretase


mengakibatkan dukungan tulang alveolar menjadi sangat berkurang, gigi dengan
sulkus periodontal yang dalam dan kegoyangan gigi yang berat, terdapat
periodontal abses, pada daerah yang sukar dicapai karena pandangan kurang luas,
oklusi traumatik yang tidak dapat diperbaiki, prosedur endo-bedah yang berulang

11
kali dilakukan, adanya penyakit sistemik yang merupakan kontra indikasi untuk
dilakukan pembedahan

2.4.3 Apeksifikasi

Apeksifikasi adalah suatu perawatan endodontik yang bertujuan untuk


merangsang perkembangan lebih lanjut atau meneruskan proses pembentukan
apeks gigi yang belum tumbuh sempurna tetapi sudsh mengalami kematian pulpa
dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeks gigi tersebut. Apeksifikasi ini
merupakan suatu perawatan pendahuluan pada endodontik dengan menggunakan
kalsium hidroksid sebagai bahan pengisian saluran akar yang bersifat sementara
pada gigi non vital dengan apeks gigi yang terbuka atau belum menutup
sempurna. Setelah dilakukan apeksifikasi diharapkan terjadinya penutupan saluran
akar pada bagian apikal. Dengan diperolehnya keadaan tersebut selanjutnya dapat
dicapai pengisian saluran akar yang sempurna dengan bahan pengisian salurna
akar yang tetap (guttapercha).

Indikasi apeksifikasi yaitu pada gigi non vital yang apeksnya masih
terbuka dan pada gigi yang dapat direstorasi. Sedangkan kontraindikasinya yaitu
pada semua fraktur vertikal dan sebagian besar fraktur horisontal, replacement
resorption (ankilosis) dan pada gigi dengan akar yang sangat pendek.

12
BAB 3. KESIMPULAN

Gigi non vital merupakan kondisi dimana terjadi kematian pada jaringan
pulpa akibat proses inflamasi lanjutan dari pulpitis akut/kronis atau terhentinya
sirkulasi darah akibat trauma. Tanda-tanda gigi non vital yaitu terjadi diskolorisasi
serta tidak terdapat respon nyeri pada rangsangan. Untuk menentukan diagnosa
dan rencana perawatan pada gigi non vital, dilakukan pemeriksaan subyektif
(anamnesa), pemeriksaan obyektif meliputi pemeriksaan ekstraoral dan intraoral
(tes perkusi, tes tekan, tes palpasi, tes kegoyangan, tes vitalitas) serta pemeriksaan
penunjang (radiografi). Rencana perawatan pada gigi non vital adalah pulpektomi
nonvital, apeksifikasi dan bedah endodontik. Perawatan saluran akar adalah
perawatan yang dilakukan dengan mengangkat jaringan pulpa yang telah
terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian diisi padat oleh bahan
pengisi saluran akar agar tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau infeksi ulang.
Bedah endodontik adalah prosedur bedah yang dilakukan pada akar gigi dan
jaringan periapikal, yang perawatan endodontiknya mengalami kegagalan.
Apeksifikasi adalah suatu perawatan endodontik yang bertujuan untuk
merangsang perkembangan lebih lanjut atau meneruskan proses pembentukan
apeks gigi yang belum tumbuh sempurna tetapi sudsh mengalami kematian pulpa
dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeks gigi tersebut.

13
DAFTAR PUSTAKA

Atlas of apicoentomy: Root Canal Treatment. 2002. Available from:


drdorfmann.com

Aya, A. 2005. Perawatan Saluran Akar. Dalam Jurnal Jilid III. Edisi XI. Jakarta:
Pusat Penerbitan Endodontik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia. Vol.17,No.2:50-58
Dym H. 2001. The Impacted Canine, in Atlas of Minor oral Surgery. Toronto:
WB Saunders Co.

Grosman, L. I., Seymour, O., Carlos, E., D., R., 1995, Ilmu Endodontik dalam
Praktek, edisi kesebelas, EGC, Jakarta.

Hartono. 2000 Penggunaan Kalsium Hidroksida, Jurnal Kedokteran Universitas


Indonesia. Jakarta Vol.6,No.4:254

H.D. Rodd, P.J. Waterhouse, A. B. Fuks, S.A. Fayle & M.A. Moffat.2006. Pulp
therapy for primary molars.International Journal of Paediatric Dentistry.

Luthfi. 2002, Kalsium Hidroksida Dalam Jurnal Jilid III. Edisi XI. Jakarta: Pusat
Penerbitan Endodontik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Vol. 2,No.2:128-317
Tarigan, R., 2002, Perawatan Pulpa Gigi (endodontic), EGC, Jakarta.
Walton, R.E., Torabinejad, M., 2008, Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsia, EGC,
Jakarta.

14