Anda di halaman 1dari 17

Perkembangan Pertanian di Indonesia

Jikalau dahulu Indonesia sempat mendapat julukan sebagai zambrut katulistiwa,


sebutan tersebut memang pantas disandang negeri ini sampai saat ini. Ditinjau dari
garis
pantainya negeri ini mempunyai garis pantai terluas di dunia. Dari jumlah pulau,
Indonesia
juga memiliki pulau terbanyak di dunia dengan berbagai keunikan yang yang tertanam
di setiap
pulaunya, mulai dari ribuan ragam etnis, ras, maupun budaya. Dari segi letak
geografis,
indonesia berada di jantung alur perdagangan dunia yang sebenarnya sangat membantu
negeri
ini untuk bisa menjadi pemeran utama dalam arus perdagangan dunia.
Akan tetapi semua anugerah yang secara khusus diberikan untuk Indonesia seolah
disiasiakan begitu saja. Lihat saja sektor pertanian negeri ini yang menjadi
tumpuan kehidupan
ratusan juta jiwa yang seolah berjalan di tempat. Dalam kurun waktu yang cukup lama
setelah
negeri ini memperoleh kemerdekaan, sektor pertanian sempat menjadi peran utama
penggerak
perekonomian negara, akan tetapi kembali melesu setelah terjadinya krisis
multisektor yang
terjadi pada tahun 1997/1998. Pada tahun pasca reformasi tindakan yang diambil
pemerintah
hanya berfokus pada pengembalian kejayaan sektor industri yang sempat mengalami
pemerosotan saat krisis berlangsung. Padahal jikalau dicermati dengan seksama, pada
saat
krisis moneter sedanga melanda negeri ini satu-satunya sektor yang tetap menunjukan
pertumbuhan positif yaitu hanya sektor pertania meskipun terbilang tipis yakni
hanya 0,4%.
Hal tersebut disebabkan oleh ketidaktergantungan sektor pertanian terhadap barang
impor yang
pada waktu itu terlampau tinggi sehingga banyak sektor seperti industri yang tidak
mampu
membeli bahan baku sehingga tidak sedikit beberapa industri yang tidak bisa
bertahan.
Selanjutnya jika berkaca pertanian sebelum terjadinya krisis multidimensi tersebut
yaitu pada masa orde baru, sektor pertanian seolah mencapai puncak kejayaannya.
Pembngunan pertanian di masa Orde Baru telah membawa beberapa hasil. Pertama,
adalah
peningkatan produksi, khususnya di sektor pangan yang berpuncak pada tahun 1984.
Ketersediaan bahan pangan, khususnya beras, dengan harga yang relatif murah,
memberikan
kontribusi terhdadap proses industrialisasi dan urbanisasi yang membutuhkan pangan
murah.
Kedua, sektor pertanian telah meningkatkan pendapatan devisa disatu pihak dan
penghematan
devisa di lain pihak sehingga memperbaiki posisi neraca pembayaran Indonesia.
Ketiga, pada
tingkat tertentu sektor pertanian telah mampu menyediakan bahan-bahan baku industri
sehingga melahirkan agroindustri. Keempat, penciptaan lapangan kerja dan
peningkatan
pendapatan lapisan bawah penduduk ikut membantu mengangkat penduduk dan kehidupan
di
bawah garis kemiskinan. Kelima, pendapatan yang meningkatdari lapisan menengah ke
atas
telah menciptakan potensi modal yang berasal dari tabungan pedesaan. (Sri Harjadi,
2012).
Akan tetapi kejayaan sektor pertanian pada saat itu yang tidak dibarengi dengan
kebijakan yang tepat justru menimbulkan sejumlah paradoks. Pertama, dengan
tingginya
produk berbagai produk pertanian ternyata mengakibatkan rendahnya harga jual untuk
beberapa produk pertanian tersebut. Kedua, Tingginya produktivitas juga tidak
diimbangi
dengan tingginya pendapatan petani, akan tetapi antara produktivitas dengan
pendapatan petani
justru menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik. Ketiga, perkembangan
perekonomian
yang lebih maju sebagai akibat positif dari adanya indutrialisasi justru mengurangi
porsi
sumbangan dalam pembentukan PDB nasional, ditambah lagi merosotnya peranan relatif
angkatan kerja sektor pertanian dalam lapangan kerja keseluruhan.
Memasuki era baru sektor pertanian nampaknya masih belum menunjukkan
perkembangan yang berarti. Hal ini terbukti dengan masih rendahya kesejahteraan
para petani
kecil yang merupakan pemeran utama dalam sektor ini. Tingginya tingkat kemiskinan
dikalangan petani seolah menjadikan sektor ini semakin dilema. Tidak hanya itu,
tingginya
tingkat impor yang dilakukan pemerintah maupun pihak swasta juga semakin
memperkeruh
keadaan. Sebut saja permasalahan kedelai yang tidak kunjung menunjukkan titik
terang.
Kedelai yang merupakan salah satu makanan pokok bagi sebagian penduduk Indonesia
sehingga bukan hal yang mengejutkan jikalau permintaan kedelai dalam negeri setiap
tahunnya
cenderung mengalami kenaikan khususnya untuk produk turunannya seperi tahu dan
tempe
yang memang menjadi santapan wajib bagi sebagian masyarakat terutama masyarakat
menengah kebawah. Berdasarkan sebuah survei tentang sosial ekonomi nasional pada
tahun
2013, menunjukkan bahwa tingkat konsumsi rata-rata utnuk kedelai cenderung konstan
yaitu
sebesar 0,052 kg per kapita. Akan tetapi untuk konsumsi rata-rata produk olahan
kedelai seperti
tahu dan tempe justru mengalami kenaikan sepanjang tahun 2009 sampai dengan tahun
2013
yakni untuk produk tahu mengalami kenaikan sebesar 0,09 persen sedangakan untuk
produk
tempe mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen.
Akan tetapi tingginya tingkat konsumsi yang tinggi akan produk kedelai tidak
dibarengi
dengan tingkat produksi kedelai dalam negeri yang justru setiap tahunnya cenderung
masih
rendah dan sangat rentan terjadi penurunan. Hal tersebut diakibatkan impor kedelai
yang
meledak-ledak ditambah lagi harga kedelai impor yang lebih rendah dibandingkan
dengan
kedelai lokal, dan juga kenampakan dari kedelai impor dinilai lebih manis
dibanding dengan
kenampakan rupa kedelai lokal. Hal ini justru menciutkan nyali para petani dalam
negeri untuk
berkecipung dalam berusaha tani kedelai. Dan tidak jarang petani kedelai dalam
negeri yang
justru berbalik haluan dengan berusaha tani komoditas lain seperti padi ataupun
jagungakibat
suramnya usaha tani kedelai dalam negeri.

Tantangan Sektor Pertanian di Indonesia


Memasuki era baru tahun 2000-an sektor pertanian memang sudah lebih baik jika
dibandingkan saat terjadinya krisis moneter 1997/1998, meskipun perkembangan yang
terjadi
di sektor ini masih pada taraf yang rendah. Masalah-masalah yang timbul di sektor
pertanian
juga tidak kunjung mereda, melainkan semakin komplek. Sebut saja masalah lahan
pertanian
yang semakin tahun semakin terkikis, entah itu beralih fungsi menjadi areal
perumahan atau
bahkan menjadi arel industri. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat
Statistik tahun
2006, hampir sebagian besar lahan pertanian khususnya lahan sawah dari tahun 1980
sampai
dengan tahun 2005 mengalami penurunan luasan lahan yang cukup berarti.

Lahan sawah di Indonesia (tidak termasuk di Maluku dan Papua), pada tahun 1980
tercatat seluas 7,7 juta ha yang terdiri dari sawah irigasi (57,9%), sawah tadah
hujan (37,0%)
dan sawah pasang surut/ lainnya (lebak) sekitar 5%. Pada tahun 1990 lahan sawah
tersebut
bertambah luas menjadi 8,3 juta ha. Peningkatan yang significan terjadi pada sawah
lebak dan
pasang surut dari semula pada tahun 1980 sebesar 5,1% pada tahun 1990 meningkat
menjadi
19 % dan sawah irigasi meningkat 3,9%. Pada tahun 2000 lahan sawah menjadi
7.528.870 ha,
dengan demikian selama periode waktu 1990 2000 (10 tahun) lahan sawah berkurang
781,849 ha atau menyusut 78.184 ha per tahun. Penyusutan terjadi terutama pada
sawah rawa/
lebak dan sawah tadah hujan. Dalam periode 5 tahun selanjutnya (tahun 2000 2005),
menurut
catatan BPS, terjadi perluasan areal sawah dari 7,5 juta ha menjadi 7,8 juta ha
atau bertambah
0,3 juta ha. Pertambahan luasan tersebut dimungkinkan belum memperhitungkan adanya
konversi lahan (terutama di sekitar Pantai utara Pulau Jawa) sebagai dampak
pesatnya
pembangunan akhir-akhir ini. Meningkatnya kebutuhan lahan untuk kegiatan
pembangunan di
luar sektor pertanian, konversi lahan pertanian termasuk lahan sawah semakin sulit
dihindari,
dengan demikian sebenarnya justru luasan lahan sawah terutama di Pulau Jawa dan
Bali dan
sekitar kota-kota besar lainya cenderung semakin berkurang. Penyusutan terjadi,
justru pada
lahan sawah yang telah beririgasi dan mempunyai produktivitas yang tinggi.
Di Pulau Jawa pada periode tahun 1980-an sampai tahun 1995-an cenderung
menunjukan adanya peningkatan luasan lahan sawah, terutama pada sawah irigasi. Pada
tahun
1980 tercatat luas area sawah di Pulau Jawa seluas 3,48 juta ha dan pada tahun 1995
seluas
3,55 juta ha atau mengalami peningkatan sebesar 66.432 ha atau bertambah 4.428 ha
per tahun
(0,12% per tahun). Namun selama 10 tahun terakhir (1995 s/d 2005) tercatat lahan
sawah
menyusut dari 3.556.376 ha, menjadi 3.235.533 ha, yaitu berkurang sebesar 320.843
ha
(9,02%). Hal ini diduga sebagai akibat kebutuhan lahan untuk pembangunan di sektor
non
pertanian. Pada tahun 2005 sebagian besar lahan sawah di Pulau Jawa berupa sawah
irigasi
(76,2%) sebagian besar (45,5%) sudah beririgasi teknis, dan sawah tadah hujan
(23,6%). Sawah
pasang surut cenderung terus menurun, diindikasikan digunakan sebagai tambak
(tambak
udang dan bandeng), karena dirasa secara ekonomi lebih menguntungkan. Sawah lebak/
sawah
rawa juga cenderung semakin menyusut, diindikasikan setelah didrainase menjadi
sawah tadah
hujan atau sawah irigasi, tetapi kemungkinan sebagian dikonversi ke penggunaan non
pertanian
(permukiman, industri).
Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di Indonesia

Tabel 3 memperlihatkan luas konversi lahan sawah selama 2000-2002 yang diperoleh
dari hasil monitoring pada pelaksanaan Sensus Pertanian tahun 2003. Tampak bahwa
luas
konversi lahan sawah nasional selama periode tersebut rata-rata sebesar 187,72 ribu
hektar per
tahun atau 2,42 persen luas sawah yang tersedia. Konversi lahan sawah tersebut
ternyata jauh
lebih tinggi di luar Jawa dibanding di pulau Jawa. Rata-rata luas konversi lahan
sawah di luar
Jawa sebesar 132,01 ribu. hektar per tahun atau 2,98 persen luas sawah yang
tersedia,
sedangkan di pulau Jawa sebesar 55,72 ribu per tahun atau 1,68 persen. Beberapa
provinsi di
luar Jawa yang memiliki konversi lahan sawah tergolong tinggi yakni di atas 30 ribu
hektar per
tahun adalah provinsi : Sumut, Sumbar, Riau, Sumsel, Kalbar, dan Kaltim. Selama
tahun 2000-
2002 luas konver-si lahan sawah yang ditujukan untuk pembangunan kegiatan
nonpertanian
seperti kawasan perumahan, industri, perkantoran, jalan, dan sarana publik lainnya
rata-rata
sebesar 110,16 ribu hektar per tahun atau 58,68 persen dari total luas sawah yang
dikonversi.
Konversi lahan sawah yang ditujukan untuk penggunaan kegiatan nonpertanian tersebut
sangat
dominan di pulau Jawa yang memiliki pangsa luas konversi lahan sebesar 78,25
persen.
Sedangkan di luar Jawa konversi la-han sawah yang ditujukan untuk kegiatan non
pertanian
dan kegiatan pertanian bukan sawah relatif berimbang yaitu 50,42 persen dan 49,58
persen.
Yang termasuk kegiatan pertanian bukan sawah di antaranya adalah kolam, tambak,
tanaman
perkebunan dan lain-lain. Secara nasional, konversi lahan sawah ke penggunaan
nonpertanian
terutama dialokasikan untuk pembangunan perumahan, dengan pangsa sebesar 48,96
persen
(Tabel 4). Posisi kedua ditempati oleh alokasi lahan untuk kegiatan lainnya (jalan
dan saran
publik lainnya) yang memiliki pangsa sebesar 28,29 persen. Konversi lahan sawah
untuk
pembangunan perumahan terutama sangat besar di pulau Jawa yaitu seluas 32,68 ribu
hektar
per tahun atau 74,96 persen, sedangkan di luar Jawa seluas 21,25 ribu hektar per
tahun atau
sebesar 31,92 persen. Sebaliknya, konversi lahan yang ditujukan untuk kegiatan
lainnya jauh
lebih besar di luar Jawa yang mencapai 29,01 ribu hektar per tahun atau 43,59
persen,
sedangkan di Jawa hanya seluas 2,15 ribu hektar per tahun atau 4,93 persen.Uraian
di atas
menjelaskan bahwa sumber permasalahan konversi lahan sawah di pulau Jawa berbeda
dengan
di luar Jawa. Konversi lahan sawah di pulau Jawa terutama didorong oleh kebutuhan
lahan
untuk pembangunan perumahan yang dapat dirangsang oleh pertambahan jumlah penduduk
yang tinggi. Sedangkan di luar Jawa, konversi lahan sawah tersebut terutama
disebabkan oleh
kebutuhan lahan untuk pembangunan sarana transportasi dan sarana publik lainnya
dalam
rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, di samping kebutuhan lahan untuk pembangunan
perumahan.
Selain masalah lahan pertanian yang semakin menyempit permasalahan untuk sumber
daya pertanian juga masih belum bisa teratasi, yaitu ketenagakerjaan. Sektor
pertanian yang
selama ini menyerap tenaga kerja paling banyak dibanding dengan sektor-sektor
lainnya,
secara perlahan tapi pasti minat tenaga kerja untuk berkecipung di sektor ini
semakin merosot
setiap tahunnya. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik
Nasional,
tingkat angkatan kerja penduduk berusia 15 tahun keatas yang merupakan pekerja
bebar di
sektor pertanian semenjak Februari tahun 2010 sampai Februari 2013 terus mengalami
penurunan. Sedangkan untuk pekerja bebas di non pertanian justru mengalami
kenaikan.
Grafik Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Status Pekerjaan Utama, 2004 - 2013

Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Status Pekerjaan Utama, 2004 - 2013


45000000
40000000
35000000
30000000
25000000
20000000
15000000
10000000
5000000
0
Februari November Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari
Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari
2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Berusaha Sendiri

Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap/Buruh Tidak Dibayar

Berusaha Dibantu Buruh Tetap/Buruh Dibayar

Buruh/Karyawan/Pegawai

Pekerja Bebas di Pertanian

Pekerja Bebas di Non Pertanian

Pekerja Keluarga/Tak Dibayar

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013

2012

2013
Jika ditinjau dari kuantitas atau jumlah angkatan kerja yang mundur dai sektor
pertanian, memang masih belum parah. Akan tetapi jika hal ini terus-menerus
dibiarkan tanpa
adanya sebuah tindakan tegas, maka bukan hal yang mustahil sektor pertanian tidak
ada tenaga
kerja penggeraknya. Merosotnya minat tenaga kerja dalam sektor ini sebenarnya
diakibatkat
oleh beberapa permasalahan mendasar. Pertama, tingkat pendapatan petani yang tidak
selamnya berbanding terbalik dengan tingkat produktivitas usaha tani yang
digelutinya. Kedua,
munculnya rasa gensi yang kian menjamuri khususnya para anak muda jaman sekarang.
Mereka beranggapan bahwa bekerja menjadi pegawai atau karyawan lebih berkelas jika
dindingkan harus mencangkul atau menggerakkan traktor di sawah. Jikalau pun mereka
memiliki keinginan untuk bekerja di sektor pertanian biasanya mentok di perusahaan
perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit. Ketiga, rendahnya tingkat upah yang
diberikan
kepada sebagian besar buruh tani.
Berkaca pada data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Nasional, Rata-rata
upah nominal yang diberikan sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 terus
mengalami
peningkatan. Sedangkan untuk upah riil yang diberikan sepanjang tahun 2009 sampai
dengan
tahun 3013 justru mengalami penurunan. Upah nominal adalah angka aktual dari upah
yang
kita terima, sementara upah riil adalah nilai upah itu dibandingkan dengan harga-
harga barang
yang ada. Dengan demikian, meskipun upah nominal mengalami kenaikan belum tentu
bisa
lebih mensejahterakan petani. Apalagi jikalau upah riilnya mengalami penurunan bisa
jadi
tingkat kesejahteraan buruh tani berbanding lurus dengan naik-turunnya upah riil
yang
diberikan.
Grafik Rata-rata Upah Nominal dan Riil Buruh Tani di Indonesia (Rupiah), 2008 -
2013

Rata-rata Upah Nominal dan Riil Buruh Tani di


Indonesia (Rupiah), 2008 - 2013
50000
40000
30000
20000
10000
0
2013

2012

Buruh Tani (Harian) Nominal

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013.

2011

2010

2009

Buruh Tani (Harian) Riil


Tabel. Rata-rata Upah Nominal dan Riil Buruh Tani di Indonesia (Rupiah), 2008
2013.

Tahun

Buruh Tani (Harian)


Nominal

Riil

2013

41895

27502

2012

40302

28374

2011

39153

28872

2010

38041

29669

2009

36827

30473

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013.

Jika sumber daya lahan dan tenaga kerja kian menunjukkan penurunan, hal tersebut
berbeda dengan yang dialami sumber daya modal. Berdasarkan data yang dikeluarkan
Badan
Pusat Statistik Nasional menunjukkan bahwa semenjak dari bulan Agustus 2012 sampai
dengan bulan April tahun 2013 terjadi peningkatan jumlah debit kredit yang
diberikan untuk
sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan. Meskipun pada dasarnya kenaikan yang
terjadi
masih terbilan kecil, akan tetapi hal tersebut seolah menunjukkan titik terang dari
suramnya
pinjaman kredit bagi sektor pertanian oleh lembaga keuangan khususnya perbankan.
Grafik Perkembangan Debit Kredit Sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan (Miliar
Rupiah)

Perkembangan Debit Kredit Sektor Pertanian, Perburuan, dan


Kehutanan (Miliar Rupiah)
Rp60.000,0
Rp50.000,0
Rp40.000,0
Rp30.000,0
Rp20.000,0
Rp10.000,0
Rp-

Sumber: Bank Indonesia, 2013 (telah diolah)


Grafik Porsi Penerimaan Debit Kredit Berdasarkan Lapangannya
Jasa kemasyarakan, sosial budaya,
badan internasional dan badan ekstra
Kegiatan yang belum jelas tidak teridentifikasi;
hiburan dan perorangan lainnya;
internasional lainnya; Rp344,8
batasannya; Rp28.357,4
Rp2,1
Rp27.699,1
jasa
perorangan
yang
melayani
jasa kesehatan dan kegiatan sosial;
rumah tangga; Rp1.416,2
Rp3.803,6
perikanan; Rp3.279,3
Pertanian,
jasa pendidikan; Rp2.071,0
perburuan, dan
administrasi pemerintahan,
kehutan;
pertahanan dan jaminan sosial wajib;
Rp47.959,1
Rp301,4
real estate, usaha persewaan
pertambangandan
Perantara keuangan; Rp12.720,5
dan jasa perusahaan;
penggalian;
Rp24.809,9
Transportasi, pergudangan dan
Rp51.183,1
komunikasi; Rp22.878,9
penyediaan akomodasi dan
penyediaan makan minum;
Rp14.562,5
industri pengolahan; Rp58.550,5
listrik, gas, dan air; Rp1.689,1
konstruksi; Rp34.197,1
perdagangan besar dan eceran;
Rp280.070,8

Sumber: Bank Indonesia, 2013.(telah diolah)


Namun demikian, jikalau dibandingkan dengan porsi yang diterima oleh sektor-sektor
lainnya, porsi yang diterima sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan masihlah
terbilang
cukup besar. Akan tetapi dari porsi yang terima tadi masih harus dipecah lagi untuk
mendapatkan porsi yang sebenarnya untuk sektor pertanian. Dengan demikian sudh
terlihat
jelas bahwa kredit pinjaman yang ditujukan pada sektor pertanian masih sangatlah
rendah. Hal
tersebut justru berdampak pada produksi sebagian besar usaha tani dalam negeri yang
cenderung sangat sulit menunjukkan peningkatan. Hal ini pula yang menghambat
perkembangan sektor pertanian tersebut.
Sementara hal yang menyebabkan rendahnya tingkat pinjaman yang diberika untuk
sektor pertanian yaitu ketidak percayaan lembaga keunagan perbankan untuk
memberikan
pinjaman. Hal tersebut disebabkan oleh sektor pertanian dalam negeri sendiri yang
konotasinya
masih didominasi oleh pertanian rakyat yang terbilang sangat rentan untuk mengalami
gagal
panen. Ditambah lagi dengan cuaca yang tidak menentu, yang justru menambah
kekhawatiran
lembaga keuangan perbankan untuk meminjamkan sejumlah dana untuk diusahakan di
sektor
pertanian. Selain itu beluam adanya asuransi pertanian yang berjalan di dalam
negeri. Hal ini
juga akan menyebabkan petani semakin terpuruk terutama saat terjadi bencana alam
yang tidak
bisa diprediksi kedatangannya. Selain itu tidak adanya asuansi pertanian juga
membuat
lembaga keuangan perbankan yang semakin enggan untuk meminjamkan dana bagi para
petani.
Selain masalah-masalah diatas, sektor pertanian dalam negeri juga mendapat
tantangan
dari sisi sosial masyarakatnya. Hampir sebagian besar para petani yang berkecipung
di sektor
ini, merupakan orang-orang yang bermodalkan minim, baik itu dari segi dana, ataupun
tingkat
pengetahuan yang dimiliki. Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki petani
menyebabkan
mereka susah untuk menerapkan teknologi-teknologi pertanian sesuai perkembangan
jaman.
Hal ini berdamak pada rendahnya tingkat produksi yang dihasilkan dan juga rendahnya
posisi
tawar petani yang kerap kali membuat para petani harus merasakan pahitnya kerugian.
Berdasrkan salah satu penelitian yang dilakukan di daerah Kecmatan Denpasar Utara,
Kota Denasar, menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang berprofesi sebagai petani
hanya
menuntaskan pendidikan tingkat sekolah dasar. Dan bahkan beberapa diantaranya tidak
tamat
SD. Sementara itu, petani yang telah mengenyam pendidikan SMP dan SMA hanya sekitar
25,00 persen dan 26,19 persen dari total petani sampel. Ditambah lagi untuk petani
yang
merupakan sarjana hanya meliuti sebagian kecil dari total 100 orang petani sampel
yaitu hanya
2,38 persen atau hanya 2 orang petani yang mengenyam perguruan tinggi.
Tabel
Tingkat Pendidikan Petani di Kecamatan Denpasar Utara Kota
Denpasar Tahun 2011
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Formal
(Orang)
(%)
Tidak tamat SD
4
4,76
Tamat SD
35
41,67
SMP
21
25,00
SMA
22
26,19
Sarjana (S1)
2
2,38
Jumlah
84
100