Anda di halaman 1dari 7

Peran Etika dalam Praktik Keperawatan Profesional

Paparan Masalah
Keperawatan merupakan bentuk pelayanan profesional kepada klien yang
diberikan secara manusiawi, komprehensif dan individiualistik,
berkesinambungan sejak klien membutuhkan pelayanan sampai klien mampu
melakukan kegiatan sehari-hari secara produktif untuk diri sendiri dan orang lain
(Kusnanto, 2004). Keperawatan diberikan untuk meningkatkan, mencegah
masalah kesehatan, dan merawat orang dengan masalah kesehatan, mempunyai
kecacatan dan orang yang menghadapi kematian. Peran utama dari keperawatan
juga meliputi advokasi, kegiatan promotif untuk mejaga lingkungan yang aman,
penelitian, ikut serta dalam menyusun kebijakan kesehatan, manajemen sistem
kesehatan dan pasien yang membutuhkan perawatan dan pendidikan (Priharjo,
2008). Dalam melakukan praktik keperawatan profesional perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan, advokator, konselor, coordinator, kolaborator,
konsultan. Etika profesi digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan praktik
keperawatan (Notoatmojo, 2010).
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti akhlak, adat kebiasaan,
watak, perasaan, sikap, yang baik, yang layak (Hanafiah & Amir, 2008). Etika
berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik
terhadap diri sendiri maupun masyarakat. Etika dalam perkembangannya sangat
mempengaruhi kehidupan manusia dengan lingkungannya (Notoatmojo, 2010).
Etika merupakan orientasi tentang bagaimana seseorang harusnya berindak.
Hal ini berarti etika akan membantu individu untuk mengambil sikap dan tindakan
yang tepat.Etika memberi keputusan tentang tindakan yang diharapkan benar tepat
atau bermoral. Etika profesi sebagai pedoman menumbuhkan tanggung jawab atau
kewajiban bagi anggota profesi tentang hak hak yang diharapkan oleh orang lain
(Suhaemi, 2004). Dengan demikian perawat dapat terhindar dari masalah etik
yang sering terjadi dalam pelaksanaan parktek keperawatan (Koenig, 2007).
Perawat berada di berbagai situasi sehari-hari yang mengharuskan mereka
untuk membuat keputusan-keputusan profesional dan bertindak sesuai keputusan
tersebut. Keputusan tersebut biasanya dibuat dalam hubungannya dengan orang
lain (klien, keluarga, dan profesi kesehatan lain). Ketika keputusan etik dibuat,
setiap orang yang terlibat harus menghormati dan menghargai sudut pandang
orang. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari terkadang perawat harus
dihadapkan pada kondisi yang memerlukan keputusan yang berada pada pada titik
pertemuan keputusan yang saling ketergantungan dengan profesi kesehatan lain
ataupun keputusan yang murni berdiri sendiri (Efendi & Makhfudli, 2009).
Terkadang perawat berada pada posisi sedang menjalankan tanggung jawab dan
kewajiban yang harus dijalankan sedangkan bertentangan dengan pasien,
pimpinan, teman sejawat, dan diri sendiri. Dilema etik dapat mencakup beberapa
masalah, mulai dari apakah tindakan rekan kerja kita yang kurang tepat perlu
dilaporkan kepada atasan sampai advokasi dari hak pasien yang seharusnya
diterima pasien menjadi terhalang karena manajemen rumah sakit yang kurang
tepat. Sebagai perawat yang mengutamakan etika profesi dalam melaksanakan
tugas hendaknya mampu menyeimbangkan isu-isu dan konflik yang potensial
muncul dan mengetahui tanggung jawab secara hukum (Helm, 2005).
Dalam pengambilan keputusan etis ada prinsip yang menadi bahan
pertimbangannya antara lain prinsip beneficience, justice, non-maleficienci,
autonomy, fidelity dan veracity (Kusnanto, 2004). Keputusan etik akan menjadi
sulit jika terdapat pertentangan diantara prinsip-prinsip di atas dalam satu kondisi
yang bersamaan (Helm, 2005). Prinsip prinsip etika dapat disimpulkan dalam 3
makna yang terkadung di dalamnya yaitu memberikan dasar untuk kode etik
keperawatan yang bertujuan untuk melindungi hak asasi manusia, bertanggung
jawabdan praktik keperawatan profesional. Dilema etik dapat terjadi setiap saat
ketika perawat harus memutuskan suatu tindakan antara nilai-nilai dan aturan
yang dianut.
Sebagai contoh kasus dilema etis yang sering terjadi adalah ketika perawat
harus memutuskan untuk melakukan tindakan atau tidak, pada kondisi pasien
yang membutuhkan pertolongan medis. Seorang pasien berusia 50 tahun masuk
ke unit gawat darurat (UGD) tempat kita bertugas. Ia terlihat lemas mengeluh
pusing dan nyeri kepala, pasien melaporkan baru saja mengalami kecelakaan
kendaraan bermotor, diaphoresis dan terlihat lebam pada bagian kepala frontalis.
Hasil pengkajian dokter dan tes awal lainnya tidak menyimpulkan adanya cedera
kepala berat ataupun cedera kepala sedang. Perawat menjelaskan pasien mendapat
obat untuk meredakan nyeri dan dilakukan observasi lebih lanjut. Setelah 20
menit observasi pasien mengatakan kepada perawat bahwa nyeri kepalanya dan
pusingnya telah hilang. Pasien memaksa untukmeninggalkan rumah sakit karena
sudah merasa sehat kembali dan harus menghadiri acara keluarga keesokan
harinya. Perawat mengkomunikasikan kondisi tersebut kepada dokter, yang
kemudian menyampaikan saran untuk meyakinkan pasien untuk tetap dirawat dan
diobservasi dahulu kondisinya demi kemamanan dan kesejahteraannya.
Bagaimana hendaknya perawat menginterpretasi dan melaksanakan saran tersebut
dengan tetap menghormati hak otonomi pasien apakah meyakinkan berarti
membujuk dengan paksa?. Bahkan jika pasien bersedia menandatangani
perjanjian yang menyatakan penolakan terhadap tindakan medis, apakah
membiarkannya pergi merupakan tindakan yag benar atau salah.

Pembahasan
Dalam melaksanakan praktik keperawatan profesional perawat diharapkan
dapat menjadi problem solver yaitu penyelesai masalah kesehatan pasien yang
diambil dengan metode pemecahan masalah. Ketika perawat mengambil pilihan
dan tindakan sampai mengambil keputusan perawat harus mempertimbangkan dan
idealnya memenuh tiga kriteria antara lain harus merupakan praktik klinis terbaik,
secara hokum harus berada dalam lingkup kebijakan, prosedur dan tindakan serta
secara moral harus merupakan hal yang tepat untuk dilakukan. Tetapi etika,hukum
dan pratik tidak dapat selalu bisa diterapkan berbarengan. Tindakan tertentu
kadang dianggap ambigu oleh sebagian orang ditinjau dari aspek moral atau
hokum. Masing-masing situasi menunjukkan adanya potensi dilema etik bagi
perawat (Burkhardt & Nathaniel, 2013).
Pada contoh kasus di atas mendapat perawatan dan tindakan perawatan
merupakan hak pasien yang harus dipenuhi oleh petugas kesehatan. Begitu juga
keputusan untuk memilih dan memutuskan pengobatannya sendiri. Dalam kondisi
seperti ini peran perawat sebagai pemebri asuhan keperawatan yang profesional
harus mampu dijalankan. Perawat hendaknya mampu memberikan pertimbangan
dan penjelasan mengenai kondisi kesehatan yang dihadapi oleh pasien untuk
perkembangan kesehatannya kearah yang lebih baik. Perawat hendaknya
melindungi hak pasien yang telah diatur dalam kode etik keperawatan. Hak
tersebut meliputi hak untuk mendapatkan perawatan, hak untuk memilih dan
memutuskan perawatan atau pengobatan untuk dirinya sendiri. Tetapi perawat
sendiri juga tidak mengabaikan kode etik dan undang-undang yang membatasi
kewenangan tindakan yang boleh dilakukan oleh perawat.
Prinsip etika yang menjadi pertimbangan pertama dalam hal pemberian
asuhan keperawatan adalah autonomy. Prinsip ini berarti semua pasien dan
keluarga pasien memiliki hak untuk menentukan pilihan terhadap tipe perawatan
yang mereka inginkan yang termasuk didalamnya prosedur, perawatan dan
penolakan pada beberapa tindakan medis (Hunt, 2015). Dalam contoh kasus di
atas perawat menerapkan dan menghormati prinsip autonomy pasien ketika ia
memberikan kesempatan pasien untuk mengambil tanggung jawab terhadap
perawatannya sendiri. Seperti dalam jurnal keperawatan yang berjudul Ethics
and Pain Management in Hospitalized Patients hal yang hendaknya dapat
dilakukan perawat dalam kondisi ini yaitu memberikan penjelasan kepada pasien
mengenai kondisi penyakitnya, efek samping dari obat yang dia terima dan proses
perawatan yang dia terima, sehingga walaupun pasien bebas untuk menentukan
keputusannya mengenai proses kesehatan yang akan dia jalani, semua itu menjadi
jelas dan tidak merugikan pasien itu sendiri (Bernhofer, 2012).
Prinsip kedua adalah nonmaleficien yang memiliki makna tidak melukai
atau tidak membayakan orang lain. Dalam hal ini perspektif perawat yaitu tidak
membahayakan kondisi dari pada pasien yang dirawat (Byrd & Winkelstein,
2014). Dalam kasus terlihat bahwa ada upaya perawat untuk menyampaikan saran
yang diberikan kepada pasien mengenai proses observasi yang dilakukan oleh
petugas kesehatan untuk emmantau perkembangan kondisi kesehatan pasien pasca
kecelakaan. Hal ini dilakukan perawat agar jika terjadi hal hal yang tidak
diinginkan atau kondisi pasien memburuk, pasien dapat segera mendapat
pertolongan yang tepat.
Beneficience adalah prinsip etis yang perlu diperhatikan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Beneficience bisa diartikan
sebagai tindakan untuk pencegahan kekerasan atau tindakan buruk, menjaga dan
mempertahankan hak orang lain dan mempromosikan tindakan yang baik. Dalam
kehidupan sehari-hari beneficience dapat dipraktikkan dengan menolong orang
lain (Kennedy, 2004). Prinsip ini menuntut perawat untuk melakukan tindakan
yang menguntungkan pasiennya atas dasar kebaikan, namun dalam kenyataan
sehari-hari, prinsip ini sering membuat risiko bagi profesi perawat itu sendiri.
Seperti halnya pada kasus di atas, perawat melakukan perawatan sesuai dengan
prosedur yang ada dengan memberikan obat sesuai dengan peresepan dokter dan
pemberian penjelasan mengenai kondisi kesehatan daripada perawat. Tetapi
kondisi dari prinsip ini bersebrangan dengan prinsip autonomy dari pasien,
dimana perawat bemaksud memberikan informasi perawatan yang harus diterima
pasien sedangkan pasien memutuskan untuk pulang lebih cepat. Hal ini memang
sering terjadi dalam praktik keperawatan sehari- hari sehingga sebuah informed
consent diperlukan sebagai tanda bukti tindakan yang diterima ataupun tidak oleh
pasien (Miller & Colloca, 2011).
Prinsip selanjutnya adalah justice yang artinya perawat dituntut untuk
memberikan perawatan sesui dengan kebutuhan pasien. Perawatan yang diberikan
sesuai dengan standar praktik keperawatan secara profesional dan sesuai dengan
aturan yang berlaku (Byrd & Winkelstein, 2014). Dilihat dari ilustrasi kasus di
atas, prinsip justice dapat terlihat dari perawatan yang diberikan kepada pasien
sesuai dengan hak yang perawatan yang diterima pasien, tanpa mebedakan atau
melihat suku, agama maupun ras pasien. Begitu pasien datang perawat langsung
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan kondisi pasien.
Selanjutnya veracity atau kejujuran. Kebenaran menjadi suatu hal yang harus
disampikan perawat kepada pasiennya. Terkait dengan informasi yang
disampaikan kepada pasien harus akurat, komprehensif dan obyektif, sehingga
pasien mengerti dan paham mengenai keadaan dirinya. Karena kebenaran
merupakan dasar dalam mebentuk hubungan saling percaya (Fjetland & Sreide,
2010). Dengan mengidentifikasi keterlibatan prinsip-prinsip di atas, diharapkan
perawat dapat mempertimbangkan dan memilah prinsip yang boleh dan
bertentangan dalam pengambilan keputusan . Adanya prinsip tersebut menjadi
acuan perawat dan pasien terhadap keputusan yang diambil. Mana yang baik
untuk dilakukan, apakah berisiko, bagaimana konsekuensi. Dengan kata lain etik,
prinsip etik adalah landasan bagi perawat untuk memutuskan suatu tindakan.
Tahap selanjutnya yaitu mengidentifikasi dan menganalisa prinsip-prinsip etik
yang terlibat, langkah dalam pengambilan keputusan etik selanjutnya adalah
mengikutsertakan pasien, keluarga, ataupun profesi lain yang terkait dalam
pengambilan keputusan etik. Masalah etik adalah masalah yang membuat perawat
berada pada persimpangan yang menuntut dia untuk mengambil suatu keputusan.
Keputusan etik bersifat situasional, namun tidak dapat serta merta diputuskan
sendiri oleh perawat. Keterlibatan pasien dan keluarga merupakan salah satu
bentuk penghormatan terhadap hak pasien. Penghormatan tersebut terkait dengan
hak pasien untuk mengetahui dan memutuskan sendiri atau autonomi. Dengan
melibatkan pihak lain, diharapkan keputusan etis yang diambil adalah keputusan
terbaik yang menguntungkan pasien. Langkah selanjutnya dalam pengambilan
keputusan etik adalah menganalisa konsekuensi dari pilhan tindakan yang ada.
Baik buruknya, ditinjau dari beberapa prinsip tadi. Bagaimana konsekuensi dari
suatu tindakan jika dilakukan, dan bagaimana jika tidak dilakukan. Kemudian
langkah terakhir adalah mengambil keputusan dengan mempertimbangkan
keinginan pasien. Kembali lagi pada prinsip etikpertama yaitu autonomy.
Keinginan pasien adalah suatu hal yang harus dipahami dan dihormati.
Bagaimanapun juga keputusan tersebut adalah berhubungan dengan kehidupan
pasien.
Dalam proses pengambilan keputusan etis dikenal beberapa teori yang dapat
menjadi pembenaran terhadap suatu putusan etik, yaitu teori teologi dan
deontology. Teleogi berasal dari kata telos yang artinya tujuan, dalam hal ini
keputusan etik didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai. Bagaimana dampak
jika dilakukan tindakan, apakah berdampak baik. Suatu tindakan dinilai baik
apabila tindakan tersebut bertujuan baik pula. Teori kedua adalah teori
deontology, yaitu suatu konsep yang menitikbertakan pada moral dan kewajiban.
Deontologi berbicara mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Menurut Kant
dalam (Masruroh & Joko, 2012) suatu tindakan dianggap baik apabila dilakukan
berdasarkan kewajiban, terlepas dari tujuan dari tindakan tersebut. Tentu saja jika
tindakan yang dilakukan perawat ditinjau dari teori ini maka kedua-duanya
memiliki alasan untuk membenarkan ataupun menyalahkan tindakan tersebut.
Pertama jika dipandang dari etika teleologis, tindakan perawat seharusnya tetap
meyakinkan dan membujuk pasien untuk tetap tinggal di rumah sakit untuk
observasi kondisinya, didasarkan pada tujuan dilakukannya tindakan adalah
merupakan kebaikan. Dimana tujuan dilakukan tindakan adalah didasarkan pada
nilai moral demi kebaikan dan kemanusiaan untuk menyelamatkan nyawa pasien,
menghormati hak otonomi pasien, menerapkan prinsip beneficience dan
nonmaleficien.
Ditinjau dari etika deontologi tindakan perawat seharusnya menejelaskan
kepada pasien tentang kondisi yang dialami saat ini dengan melibatkan dokter
yang merawatnya sehingga pasien mampu memutuskan kepuusan yang terbaik.
Begitu pula jika dilihat dari prinsip etik justice bahwa setiap tindakan harus
dilakukan berdasarkan standar dan peraturan hokum yang berlaku. Dalam setiap
keputusannya perawat tidak pernah terlepas dari risiko yang mengancam dirinya.
Setiap pilihan tindakan risiko yang ditanggung baik bagi pasien maupun bagi
perawat itu sendiri. Setiap keputusan tindakan yang diambil harus berdasarkan
persetujuan antara pihak pemberi layanan dan pihak yang diberi layanan.
Keputusan yang diambil yang diambil adalah merupakan keputusan bersama,
tugas perawat adalah memberikan penjelasan dan informasi sejelas mungkin dan
harus bersifat obyektif. Kesepakatan atas suatu tindakan yang didahului oleh
adanya pemebrian informasi oleh pasien atau keluarga disebut dengan inform
consent. Inform consent mejadi suatu bukti bagi pasien dan perawat itu sendiri,
dimana inform consent bertujuan melindungi hak pasien dalam autonomy (Settle,
2013).

Kesimpulan
Perawat sebagai profesi yang profesional diharapkan selalu mengutamakan
etika dalam memberikan asuhan keperawatan. Etika sebagai dasar perawat untuk
mengambil sikap dan tindakan, dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip etik
profesi. Sebagai tenaga profesional, perawat sering berada pada posisi yang sulit
untuk memutuskan dikarenakan alternative pilihan keputusan yang sama-sama
memiliki nilai positif dan negatif. Terkadang pada saat berhadapan dengan
kondisi dilemma etis dan dituntut untuk mengambil keputusan membawa dampak
emosional bagi perawat itu sendiri. Setiap keputusan etis yang diambil hendaknya
perawat berdasarkan pertimbangan kondisi pasien dan keluarga.

Saran
Dalam setiap pengambilan keputusan perawat hendaknya mengesampingkan
kepentingan diri sendiri, memperhatikan prinsip-prinsip etis dan selalu menjaga
etika profesi saat memberikan asuhan keperawatan, karena pasien dan keluarga
akan menilai baik buruknya pelayanan profesi perawat berdasarkan pertimbangan
etika dari perawat itu sendiri. Banyak ditemui sekarang perawat yang melakukan
kewajiban pelayanan ke pasien tetapi melupakan prinsip-prinsip etika pelayanan
ke pasien, karena merasa pasien harus mengikuti semua perintah perawat yang
bertugas tanpa memperhatikan hak pasien.
Daftar Pustaka

Bernhofer, E. (2012). Ethics: ethics and pain management in hospitalized patients.


Online journal of issues in nursing, 17(1), 11-11.
Burkhardt, Margaret A, & Nathaniel, Alvita. (2013). Ethics and issues in
contemporary nursing: Cengage Learning.
Byrd, Gary D, & Winkelstein, Peter. (2014). A comparative analysis of moral
principles and behavioral norms in eight ethical codes relevant to health
sciences librarianship, medical informatics, and the health professions.
Journal of the Medical Library Association: JMLA, 102(4), 247.
Efendi, F., & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan
Praktik dalam Keperawatan Jakarta Salemba Medika
Fjetland, Kirsten J, & Sreide, Gunn Elisabeth. (2010). Ethical dilemmas: a
resource in public health nurses everyday work? Scandinavian journal of
caring sciences, 24(1), 75-83.
Hanafiah, J., M., & Amir, A. (2008). Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan (Vol.
1). Jakarta EGC.
Helm, A. (2005). Malpraktik Keperawatan: Menghindari Masalah Hukum (I ed.).
Jakarta EGC.
Hunt, D., D. (2015). The Nurse professional: Leveraging Your education for
Transition Into Practice. New York: Spinger Publishing Company.
Kennedy, Wendy. (2004). Beneficence and autonomy in nursing. A moral
dilemma. British journal of perioperative nursing: the journal of the
National Association of Theatre Nurses, 14(11), 500-506.
Koenig, K. (2007). Praktik Keperawatan Profesional: Konsep dan Perspektif (4
ed.). Jakarta EGC.
Kusnanto. (2004). Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional (Vol.
1). Jakarta: EGC.
Masruroh, H., & Joko, P. (2012). Etika Keperawatan (I ed.). Yogyakarta: Gosyen
Publishing.
Miller, Franklin G, & Colloca, Luana. (2011). The placebo phenomenon and
medical ethics: Rethinking the relationship between informed consent and
riskbenefit assessment. Theoretical medicine and bioethics, 32(4), 229-
243.
Notoatmojo, S. . (2010). Etika dan Hukum Kesehatan (Vol. 1). Jakarta Rineka
Cipta.
Priharjo, R. (2008). Konsep & Perspektif Praktik keperawatan Profesional (Vol.
1). Jakarta EGC.
Settle, Peggy Doyle. (2013). Nurse Activism in the newborn intensive care unit:
Actions in response to an ethical dilemma. Nursing ethics,
0969733012475254.
Suhaemi, M., E. (2004). Etika Keperawatan (Vol. 1). Jakarta: EGC.
Peran Etika dalam Praktik Keperawatan Profesional
(Essay)

Dosen Pengampu: Ns. Setyoadi, M.Kep., Sp.Kep.Kom.


Mata Kuliah Etika dan Hukum Keperawatan

Oleh:
Made Bayu Oka Widiarta
NIM. 166070300111038

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


PEMINATAN KEPERAWATAN JIWA
FAKULTAS KEDOTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2016