Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI KAFEIN


Tanggal Praktikum :

Kelompok 3 (Kelas E)
Nama Kelompok : Rega Anitania (0661 14 142)
Ghina Amalia (0661 14 156)
Dina Restiana (0661 14 165)
Ani Mulyani (0661 14 175)

Dosen Pembimbing : 1. Lusi Agustin,M.Fram,. Apt


2. Sri Mahyuni M.Sc
3. Oktaviana Zunita, M.Farm.,Apt
4. Erni Rustiani, M.Farm., Apt
5.Nhadira Nhestrica, S.Farm, MKM,Apt

Asisten Dosen : 1. Alciee Santika 5. Inna Agustina


2. Bulan Tresna H 6. Luqman Izzud
3. Dinda Kautsarina 7. N. Bunga Tiara
4. Hesti Rismayanti 8. Syahla Fayka

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2017
BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan

Alat

Beaker glass Labu ukur Pipet volum


Bulp Labu Spatel
Kertas semprot Spektrofoto
perkamen Pipet tetes meter

Bahan

Aquadest
Kafein

III.2 Cara Kerja

1. Ditimbang 100 mg kafein, di masukkan dalam labu ukur lalu di ad 100 ml


aquadest, kocok ad homogen. (labu A)
2. Dibuat larutan 100 ppm. Dipipet 10 ml dari labu A ke dalam labu ukur
lalu di ad 100 ml, kocok ad homogeny. (labu B).
3. Dibuat larutan 4 ppm. Dari labu B dipipet 4 ml ke dalam labu ukur, di ad
100 ml aquadest, dikocok ad homogeny.
4. Dibuat larutan 6 ppm. Dari labu B dipipet 6 ml ke dalam labu ukur, di ad
100 ml aquadest, dikocok ad homogeny.
5. Dibuat larutan 8 ppm. Dari labu B dipipet 8 ml ke dalam labu ukur, di ad
100 ml aquadest, dikocok ad homogeny.
6. Dibuat larutan 10 ppm. Dari labu B dipipet 10 ml ke dalam labu ukur, di
ad 100 ml aquadest, dikocok ad homogeny.
7. Dibuat larutan 12 ppm. Dari labu B dipipet 12 ml ke dalam labu ukur, di
ad 100 ml aquadest, dikocok ad homogeny.
8. Diukur serapannya pada setiap ppm pada spektrofotometer, panjang
gelombang 273 nm.
9. Dibuat kurva kalibrasi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Data pengamatan


Tabel 1 : Data absorbansi larutan kafein
Kadar Absorbansi 1 Absorbansi 2 Absorbansi 3
4 ppm 0,095 A 0,100 A 0,0975 A
6 ppm 0,133 A 0,144 A 0,1385 A
8 ppm 0,176 A 0,192 A 0,189 A
10 ppm 0,272 A 0,283 A 0,2775 A
12 ppm 0,274 A 0,284 A 0,279 A

Grafik 1. Kurfa Kalibrasi

Absorbansi
0.35
0.3
0.25
0.2
Absorbansi
0.15
Linear (Absorbansi)
0.1
y = 0.0245x
0.05 R = 0.9439
0
0 5 10 15
IV.2 Perhitungan
Larutan stok 1000 ppm
100
= 1 mg/ml = 1000 /ml = 1000 ppm
100

Pengenceran

100 ppm : 6 ppm :


V1 . N1 = V2 . N2 V1 . N1 = V2 . N2 10 ppm :
V1 . 1000 = 100 . 100 V1 . 100 = 100 . 6 V1 . N1 = V2 . N2
V1 = 10 ml V1 = 6 ml V1 . 100 = 100 . 10
V1 = 10 ml
4 ppm :
8 ppm :
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . N1 = V2 . N2 12 ppm :
V1 . 100 = 100 . 4
V1 . 100 = 100 . 8 V1 . N1 = V2 . N2
V1 = 4 ml
V1 = 10 ml V1 . 100 = 100 .
12
V1 = 12 ml

IV.3 Pembahasan
Pada praktikum pertama ini yaitu mengenai pembuatan kurva kalibrasi
kafein, pertama dibuat larutan stok 100 ppm. Larutan stok 1000 ppm terlalu besar
jumlah pemipetan nya jading harus diencerkan menjadi 100 ppm. Tujuan
pembuatan larutan stok untuk mempermudah pembuatan deret kalibrasi. Deret
kalibrasi larutan kafein dibuat dengan kadar yaitu 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm,
dan 12 ppm. Pada larutan kafein tersebut diukur absorbansinya (duplo) dengan
menggunakan alat spektrofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 273 nm.
Pada sampel kami dengan kadar 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, dan 12 ppm,
didapat hasil rata-rata absorbansi secara berurutan adalah 0,0975 A, 0,1385 A,
0,189 A, 0,2775 A, dan 0,279 A.
Dilihat dari hasil yang kami dapatkan, ternyata nilainya tidak baik terlihat
setelah diinputkan data ke computer (ms.exel) didapat hasil regresi linier yaitu
0,943 A. nilai ini tidak memenuhi memenuhi syarat karena adapun syarat regresi
linier yang baik adalah mendekati 1. Hal ini mungkin karena kurang teliti dalam
pemipetan larutan atau pada saat pengukuran absorbansi dengan
spektrofotometer penggunaan kuvet yang kurang tepat (kurang bersih).
BAB V
KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum, dapat diambil kesimpulan yakni :


Nilai absorbansi yang didapatkan dilihat dari regresi liniernya yaitu 0,943, hal ini tidak
memenuhi syarat (mendekati 1).

DAFTAR PUSTAKA

Basset J et.al. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta
Dy R dan Underwood A. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif edisi VI. Penerbit: Erlangga.
Jakarta
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK
ANALISIS VITAMIN C TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN
Tanggal Praktikum :

Kelompok 3 (Kelas E)
Nama Kelompok : Rega Anitania (0661 14 142)
Ghina Amalia (0661 14 156)
Dina Restiana (0661 14 165)
Ani Mulyani (0661 14 175)

Dosen Pembimbing : 1. Lusi Agustin,M.Fram,. Apt


2. Sri Mahyuni,
3. Okta
4.
5.

Asisten Dosen : 1. Inna Agustina


2. Bulan

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
- Mengetahui cara analisis kandungan vitamin C total dalam urin
- Mengetahui cara penentuan penetapan kadar Vitamin C dalam urin dengan
menggunakan metode Renal
- Mengetahui cara penentuan penetapan kadar Vitamin C dalam urin dengan
menggunakan metode ARE
- Mengetahui cara analisis kandungan vitamin C total dalam urin dengan
menggunakan spektrofotometri.
1.2 Dasar Teori

Vitamin C berhasil diisolasi untuk pertama kalinya pada tahun 1928 dan pada
tahun 1932 ditemukan bahwa vitamin ini merupakan agen yang dapat
mencegah sariawan. Albert Szent-Gyrgyi menerima penghargaan Nobel dalam Fisiologi
atau Kedokteran pada tahun 1937 untuk penemuan ini. Selama ini vitamin C atau asam
askorbat dikenal peranannya dalam menjaga dan memperkuat imunitas terhadap infeksi.
Pada beberapa penelitian lanjutan ternyata vitamin C juga telah terbukti berperan penting
dalam meningkatkan kerja otak. Dua peneliti di Texas Woman's University menemukan
bahwa murid SMTP yang tingkat vitamin C-nya dalam darah lebih tinggi ternyata
menghasilkan tes IQ lebih baik daripada yang jumlah vitamin C-nya lebih rendah.

Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki
peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit.

Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam
askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal
berbagai radikal bebas ekstraselular.Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah
teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Meskipun jeruk dikenal sebagai buah
penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar, karena lemon memiliki
kandungan vitamin C lebih banyak 47&% daripada jeruk.
Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang
menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di
tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar,
pendarahan kecil, dan luka ringan.

Vitamin c juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan
mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan, vitamin c mampu menetralkan radikal
bebas di seluruh tubuh.. Melalui pengaruh pencahar, vitamini ini juga dapat
meningkatkan pembuangan feses atau kotoran.. Vitamin C juga mampu
menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi
Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan
makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin
C berkurang sampai 81%.

Hipoaskorbemia (defisiensi asam askorbat) bisa berakibat keadaan pecah-pecah di


lidah scorbut, baik di mulut maupun perut, kulit kasar, gusi tidak sehat sehingga gigi
mudah goyah dan lepas, perdarahan di bawah kulit (sekitar mata dan gusi), cepat
lelah, otot lemah dan depresi. Di samping itu, asam askorbat juga berkorelasi dengan
masalah kesehatan lain, seperti kolestrol tinggi, sakit jantung, artritis (radang sendi), dan
pilek.
BAB II

METODE KERJA
2.1 Alat dan Bahan
Alat
Alat Labu ukur Spektrovoto
sentrivius Labu meter
Botol coklat semprot Tabung
Bulp Pipet tetes sentrivius
Erlenmayer Pipet volum Vial
Gelas ukur
Bahan
Aquadest
Sampel urin
Vitamin C

2.2 Cara Kerja


A. Pemberian Vitamin C Dengan Pengimpulan Urin
Cuplikan urin harus dukumpulkanselama waktu 6 jam. Probandus dapat
meminum obat dan dikumpulkan cuplikan urin sehari sebelum dianalisis.
Cuplikan urin dapat disimpan selama satu malam pada suhu 4 oC tanpa
penguraian yang berarti.
1. Untuk menjaga aliran urin, subyek meminum 200 ml air , setelah 30 menit
cuplikan ini digunakan sebagai blanko. Dicatat volumenya.
2. Vitamin C diminum dengan 200 ml air dan waktu mulai dicatat. Ini adalah
waktu jam ke 1.
3. Setelah 1 jam, kandung kemih dikosongkan, banyaknya volume urin
diukur dan dicatat serta ditandai. Diambil kurang lebih 15 ml. kemudian
probandus minum 200 ml air kembali.
4. Prosedur yang sama (seperti nomer 3) diulang dengan interval waktu :
2,3,4,5,6 jam.
B. Analisi Cuplikan Vitamin C Total Dalam Urin
1. Ditentukan kadar vitamin C total dalam cuplikan urin pada masing
masing interval waktu yang telah ditentukan (jam ke-1,2,3,4,5,6). Untuk
penetapan kadarnya :
Diambil 1 ml cuplikan urin dan ditambahkan aquadest ad 10 ml
Diakukan pembacaan serapan pada panjang gelombang maksimum
yang telah didapatkan dari praktikum 1.
Jika niali yang terbaca masih terlalu besar (>3) dilakukan pengenceran.
2. Selanjutnya dihitung parameter farmakokinetik vitamin C.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan

Tabel 1 : Data analisis urin vitamin C

Sampel Volume Urin (Vu) Interval Waktu Absobansi


Blanko 37 ml 0 1 jam 0,837A
1 97 ml 1 1,5 jam 0,542A
2 84 ml 1,5 2 jam 0,537A
3 19 ml 2 2,5 jam 0,478 A
4 88 ml 2,5 3 jam 0,421 A
5 94 ml 3 3,5 jam 0,194 A
6 35 ml 3,5 4 jam 0,139 A

Tabel 2 . Metode renal

Tabel 3. Metode ARE


3.2 Perhitungan
y = bx + a
y = 0,0562 X+ 0,103
Cu :
Abs a
Cu = b
00,103
Cu Blanko = = - 18,327
0,0562
(0,5420,103 )x10
Cu Sampel 1 = = 78,113 ppm
0,0562
(0,5370,103)x10
Cu Sampel 2 = = 77,224 ppm
0,0562
(0,4780,103)x10
Cu Sampel 3 = = 66,725 ppm
0,0988
(0,421 0,103)x10
Cu Sampel 4 = = 56,583 ppm
0,0562
(0,1940,103)x10
Cu Sampel 5 = = 16,192ppm
0,0562
(0,139 0,103)x10
Cu Sampel 6 = 0,0562
= 6,405 ppm

IV.3 Pembahasan
Praktikum kedua yaitu mengenai analisis vitamin C total dalam cuplikan
urin yang dimaksudkan untuk mengetahui langkah-langkah analisis obat dan atau
metabolitnya dalam cuplikan urin, melakukan analisi vitamin C dalam urin,
memahami proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolism, dan ekskresi) dari
vitamin C dan mengetahui nilai parameter farmakokinetik vitamin C.
Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna pada keadaan normal
tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorpsi dalam leukosit
dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan eritrosit. Distribusinya luas
keseluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot
dan jaringan lemak diekskresi melalui urin dalam bentuk garamnya. Dan vitamin
memiiki kelarutan yang mudah larut dalam air.
Analisis vitamin C total dalam cuplikan urin ini menggunakan 2 metode
yaitu metode ekkresi ARE dan metode ekskresi RENAL, metode ARE digunakan
untuk mengetahui kadar vitamin C yang terserap didalam tubuh sedangkan
metode RENAL digunakan untuk mengetahui kadar vitamin C yang terbuang dari
dalam tubuh. Dalam sampel urin kelompok kami waktu paruh yang didapatkan
setelah mengolah data ke dalam Ms. Exel yaitu pada metode ARE 43,13 menit ,
sedangkan pada metode RENAL 23,25 menit. Jumlah kumulatif obat yang
diekskresi dalam bentuk urin secara langsung berhubungan dengan jumlah total
obat yang terabsorpsi. Sedangkan dalam kurva yang diperoleh menunjukan hasil
yag linear dengan nilai ARE R2= 0,9126, RENAL R2 = 0,0754 Didalam percobaan
cuplikan urin dikumpulkan secara berkala setelah pemberian produk obat.
BAB IV
KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum analisis vitamin C dalam cuplikan urin, dapat diambil
kesimpulan yakni :
Metode RENAL memperlihatkan waktu paruh vitamin C sebesar 43,13 menit
Metode ARE memperlihatkan waktu paruh vitamin C sebesar 23,25 menit

DAFTAR PUSTAKA

Jan Koolman, Klaus-Henrich Rohm. 2001. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia. Alih
bahasa: dr.Septilia Inawati Wanandi. Hipokrates: Jakarta
Leon Shargel, Andrew B.C Yu 1988. Biofarmaseutika dan Farmakokinetik Terapan edisi
II. Alih Bahasa: Fasich dan Siti Syamsiah. Airlangga Unversity Press: Surabaya
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK
ANALISIS VITAMIN B1 TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN
Tanggal Praktikum : Senin, 3 April 2017

Kelompok 3 (Kelas E)
Nama Kelompok : Rega Anitania (0661 14 142)
Ghina Amalia (0661 14 156)
Dina Restiana (0661 14 165)
Ani Mulyani (0661 14 175)

Dosen Pembimbing : 1. Lusi Agustin,M.Fram,. Apt


2. Sri Mahyuni M.Sc
3. Oktaviana Zunita, M.Farm.,Apt
4. Erni Rustiani, M.Farm., Apt
5.Nhadira Nhestrica, S.Farm, MKM,Apt

Asisten Dosen : 1. Alciee Santika 5. Inna Agustina


2. Bulan Tresna H 6. Luqman Izzud
3. Dinda Kautsarina 7. N. Bunga Tiara
4. Hesti Rismayanti 8. Syahla Fayka

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.3 Tujuan
- Mengetahui cara analisis kandungan vitamin B1 total dalam urin
- Mengetahui cara penentuan penetapan kadar Vitamin B1 dalam urin dengan
menggunakan metode Renal
- Mengetahui cara penentuan penetapan kadar Vitamin B1 dalam urin dengan
menggunakan metode ARE
- Mengetahui cara analisis kandungan vitamin B1 total dalam urin dengan
menggunakan spektrofotometri.
1.4 Dasar Teori

Tiamin, dikenal juga dengan B1 atau aneurin, sangat penting dalam


metabolisme karbohidrat. Peran utama tiamin adalah sebagai bagian dari koenzim
dalam dekarboksilasi oksidatif asam alfa-keto. Gejala defisiensi akan muncul
secara spontan berupa beri-beri pada manusia. Penyakit tersebut ditandai dengan
penimbunan asam piruvat dan asam laktat, terutama dalam darah dan otak serta
kerusakan daru sistem kardiovaskuler, syaraf dan alat pencernaan (Imbang, 2010).

Struktur Kimia Tiamin

Struktur kimia tiamin, merupakan gabungan dari molekul basa pirimidin


dan tiazol yang dirangkai jembatan metilen. Kokarboksilase adalah pirofosfat dari
tiamin yang disintesis oleh tubuh dari kombinasi tiamin dengan ATP (Adenosisn
Trifosfat) (Gambar 1.).

Gambar 1. Struktur kimia tiamin pirofosfat (TPP)


Sifat-sifat Tiamin

Tiamin larut dalam alkohol 70 % dan air, dapat rusak oleh panas, terutama
dengan adanya alkali. Pada kondisi kering, tiamin stabil pada suhu100o C selama
beberapa jam. Kelembaban akan mempercepat kerusakannya. Hal ini
menunjukkan bahwa pada makanan segar, tiamin kurang stabil terhadap panas
jika dibandingkan dengan makanan kering (Imbang, 2010).

Fungsi Tiamin

Tiamin diperlukan dalam metabolisme semua spesies hewan dan tumbuh-


tumbuhan. Pada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi, tiamin dapat dibuat sendiri,
begitu pula halnya pada beberapa tumbuhan tingkat rendah. Pada semua hewan,
tiamin diperoleh dari makanannya, kecuali bila zat tersebut disintesis oleh
mikroorganisme di dalam traktus digestivus (saluran pencernaan) hewan
ruminansia (Imbang, 2010).

Fungsi metabolik tiamin antara lain pada reaksi oksidasi piruvat - Asetil-
KoA, rekasi oksidasi - keto glutarat dan reaksi transketolasi HMP (Heksosa
Monofosfat). Di dalam otak dan hati, segera diubah menjadi TPP (thiamin
pyrohosphat) oleh enzim thiamin difosfotransferase, dimana reaksinya
membutuhkan ATP. Berperan penting sebagai koensim dekarboksilasi senyawa
asam-keto. Beberapa enzim yang menggunakan TPP sbg koensim adalah
pyruvate decarboxylase, pyruvate dehydrogenase, dan transketolase (Imbang,
2010).

Tiamin penting sebagai koensim pyruvate dan -ketoglutarate


dehydrogenase, sehingga jika terjadi defisiensi, maka kapasitas sel dalam
menghasilkan energi menjadi sangat berkurang Juga diperlukan untuk reaksi
fermentasi glukosa menjadi etanol, di dalam yeast (Imbang, 2010).

Sumber Tiamin
Tiamin disintesis oleh bakteri di dalam alat pencernaan hewan ruminansia.
Bakteri mensintesis tiamin dalam caecum kuda, tetapi ternyata tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sumber- sumber tiamin antara lain tumbuhan
biji-bijian, kacang-kacangan, daging, ikan dan susu (Imbang, 2010).

Metabolisme Tiamin

Tiamin dari makanan setelah dicerna, diserap langsung oleh usus dan
masuk ke dalam saluran darah. Penyerapan maksimum terjadi pada konsumsi 2,5
5 mg tiamin per hari. Pada jumlah kecil, tiamin diserap melalui proses yang
memerlukan energi dan bantuan natrium, sedangkan dalam jumlah besar, tiamin
diserap secara difusi pasif. Kelebihan tiamin dfikeluarkan lewat urine. Metabolit
tiamin adalah 2-metil-4-amino-5-pirimidin dan asam 4-metil-tiazol-5-asetat.

Tubuh manusia dewasa mampu menyimpan tiamin sekitar 30 -70 mg, dan
sekitar 80%-nya terdapat sebagai TPP (tiamin pirofosfat). Separuh dari tiamin
yang terdapat dalam tubuh terkonsentrasi di otot. Meskipun tiamin tidak disimpan
di dalam tubuh, level normal di dalam otot jantung, otak, hati, ginjal dan otot lurik
meningkat dua kali lipat setelah terapi tiamin dan segera menurun hingga
setengahnya ketika asupan tiamin berkurang (Imbang, 2010).

Defisiensi Tiamin

Defisiensi tiamin akan menyebabkan gangguan saraf pusat, antara lain


memori berkurang atau hilang, nistagmus, optalmoplegia, dan ataksia. Gangguan
juga terjadi pada saraf tepi, berupa neropati perifer. Gangguan yang lain berupa
kelemahan simetrik (badan sangat lemah), kehilangan fungsi sensorik, motorik
dan reflek kaki. Timbul beri-beri jantung, dengan gejala jantung membesar,
aritma, hipertensi, odema, dan kegagalan jantung (Imbang, 2010).

Normal asupan tiamin untuk orang dewasa adalah antara 1,0 1,5
mg/hari. Jika makanan terlalu banyak mengandung karbohidrat, maka
dibutuhkan lebih banyak tiamin. Tanda-tanda defisiensi tiamin antara lain
menurunnya nafsu makan, depresi mental (Peripheral neurophaty) dan lemah.
Pada defisiensi kronis, maka muncul gejala kelainan neurologist, seperti
kebingungan (mental), dan kehilangan koordinasi mata. Penyakit karena
defisiensi tiamin, yaitu beri-beri. Penyakit ini disebabkan akibat makanan yang
kaya akan karbohidrat tetapi rendah tiamin (Imbang, 2010).

a. Spektrofotometer

Spektrofotometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur


konsentrasi suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut
mengabsorbsi berkas sinar atau cahaya. Spektrofotometri adalah alat yang terdiri
dari spektrofotometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari
spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sementara fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi. Istilah
spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap
oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun
pengukuran panjang absorpsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu
(Underwood, 1988).

Spektrum elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang dengan sifat-sifat


yang berbeda. Kawasan gelombang penting di dalam penelitian biokimia adalah
ultra lembayung (UV, 180-350 nm) dan tampak (VIS, 350-800 nm). Cahaya di
dalam kawasan ini mempunyai energi yang cukup untuk mengeluarkan elektron
valensi didalam molekul tersebut (Harjadi, 1990).

Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau


gugus kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah.
Tiga jenis elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron bebas. Kromofor-
kromofor organik seperto karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil mampu
menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang maksimumnya
dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Auksokrom adalah gugus
fungsional yang mempunyai elektron bebas nseperti hidroksil, metoksi, dan amina.
Terkaitnya gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju
ke panjang gelombang yang lebih besar dan disertai dengan peningkatan intensitas.
Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah
cahaya discattering. Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan
energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi
dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer (Sutopo, 2006).

Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya


monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet
(tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh
larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca
(Sastrohamidjojo, 1992).

Hasil pengukuran yang baik dari suatu parameter kuantitas kimia, dapat
dilihat berdasarkan tingkat presisi dan akurasi yang dihasilkan.Akurasi
menunjukkan kedekatan nilai hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya. Untuk
menentukan tingkat akurasi perlu diketahui nilai sebenarnya dari parameter yang
diukur dan kemudian dapat diketahui seberapa besar tingkat akurasinya. Presisi
menunjukkan tingkat reliabilitas dari data yang diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari
standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran, presisi yang baik akan memberikan
standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah. Jika diinginkan hasil pengukuran
yang valid, maka perlu dilakukan pengulangan, misalnya dalam penentuan nilai
konsentrasi suatu zat dalam larutan larutan dilakukan pengulangan sebanyak n kali.
Ilmu yang mempelajari interaksi radiasi dengan materi sedangkan spektrofotometri
adalahpengukuran kuantitatif dari intensitas radiasi elektromagnetik pada satu atau
lebih panjanggelombang dengan suatu transduser (detektor). Spektrofotometri
adalah analisis kuantitatif yang paling sering digunakan karena mempunyai
sensitivitas yang baik yaitu 10-4 sampai 10-6. Analisis jenis ini juga relatif selektif
dan spesifik, ketepatannya cukup tinggi, relatif sederhana, dan murah ( Mathias,
2005 ).
BAB II
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan Alat
Alat Labu ukur Spektrovoto
sentrivius Labu meter
Botol coklat semprot Tabung
Bulp Pipet tetes sentrivius
Erlenmayer Pipet volum Vial
Gelas ukur
Bahan
Aquadest
Sampel urin
Vitamin B1

III.2 Cara Kerja


A. Pemberian Vitamin B1 Dengan Pengimpulan Urin
Cuplikan urin harus dukumpulkanselama waktu 6 jam. Probandus dapat
meminum obat dan dikumpulkan cuplikan urin sehari sebelum dianalisis.
Cuplikan urin dapat disimpan selama satu malam pada suhu 4 oC tanpa
penguraian yang berarti.
1. Untuk menjaga aliran urin, subyek meminum 200 ml air , setelah 30 menit
cuplikan ini digunakan sebagai blanko. Dicatat volumenya.
2. Vitamin B1 diminum dengan 200 ml air dan waktu mulai dicatat. Ini
adalah waktu jam ke 1.
3. Setelah 1 jam, kandung kemih dikosongkan, banyaknya volume urin
diukur dan dicatat serta ditandai. Diambil kurang lebih 15 ml. kemudian
probandus minum 200 ml air kembali.
4. Prosedur yang sama (seperti nomer 3) diulang dengan interval waktu :
2,3,4,5,6 jam.
B. Analisi Cuplikan Vitamin B1 Total Dalam Urin
1. Ditentukan kadar vitamin B1 total dalam cuplikan urin pada masing
masing interval waktu yang telah ditentukan (jam ke-1,2,3,4,5,6). Untuk
penetapan kadarnya :
Diambil 10 ml cuplikan urin di masukkan pada tabung sentrivius dan
di sentrivius selama 5 menit.
Lalu diambil 1 ml dari bagian bening paling atas dan di masukkan
pada labu uku di ad 50 ml
Diakukan pembacaan serapan pada panjang gelombang maksimum
yang telah didapatkan dari praktikum 1. (245 nm )
Jika niali yang terbaca masih terlalu besar (>3) dilakukan pengenceran.
2. Selanjutnya dihitung parameter farmakokinetik vitamin B1.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Data Pengamatan


Tabel 1 : Data analisis urin vitamin B1
Volume Urin Absobansi Absorbansi x
Sampel Interval Waktu
(Vu) 1 2 Absorbansi
Blanko 49 ml 0 1 jam A A 0.007 A
1 20 ml 1 1,5 jam A A 1,134 A
2 6,1 ml 1,5 2 jam A A 0,874 A
3 21 ml 2 2,5 jam A A 0,714 A
4 29 ml 2,5 3 jam A A 0,662 A
5 36 ml 3 3,5 jam A A 0,395 A
6 99 ml 3,5 4 jam A A 0,295 A

Table 2. Metode ARE

Table 3. Metode Renal


Gravik 2. Metode Renal

4.2 Perhitungan
Diketahui : y = 0,0284x-0,1434
Bila blanko > 0,000
= (y-abs.blanko)-a
b
Abs a
Cu = b
0,007 +0,1434
Cu Blanko = = 6,267 ppm
0,0284
(1,1340,007) +0,1434
Cu Sampel 1 = = 44,732 ppm
0,0284
(0,8740,007) +0,1434
Cu Sampel 2 = = 577 ppm
0,0284
(0,7140,007) +0,1434
Cu Sampel 3 = = 29,944 ppm
0,0284
(0,6620,007) +0,1434
Cu Sampel 4 = = 113 ppm
0,0284
(0,3950,007) +0,1434
Cu Sampel 5 = = 711 ppm
0,0284
(0,2950,007) +0,1434
Cu Sampel 6 = = 190 ppm
0,0284

0,693
t1/2 ARE = = 0,1335 x 60 = 311, 46

0,693
t1/2 Renal = = 0,0737 x 60 = 564,179
IV.3 Pembahasan
Pada praktikum kali ini tentang Analisis Vitamin B1 dalam cuplikan Urin
dengan metode Spektrofotometri bertujuan untuk memahami proses ADME
(absorpsi, distribusi, metabolism, dan ekskresi) vitamin B1, dan mengetahui
parameter farmakokinetik vitamin B1. Sample yang digunakan untuk analisis
adalah urine dari probandus yang telah mengkonsumsi Vitamin B1, dengan
rentang waktu yang berbeda. Hal ini dilakukan agar jumlah obat yang
diekskresikan memiliki kecepatan eliminasi yang tetap. Volume urin yang
diperoleh yaitu 49 ml, 20 ml, 6,1 ml, 21 ml, 29 ml, 36 ml, dan 99 ml, dan urin
yang dihasilkan sangat pekat.Sample urin disentrifugasi selama 5 menit bertujuan
untuk memisahkan pengotor atau partikel sehingga tersuspensi dan mengendap
didasar tabung sentrifus. sentrifugasi yang cepat menghasilkan gaya sentrifugal
yang lebih besar. Sample yang telah disentrifugasi kemudian diukur absorbannya
dengan spektrofotometer satu titik UV-Vis Therm dengan panjang gelombang
maksimum untuk vitamin B1 adalah 245 nm. Hasil dari absorbansi sample adalah
untuk blanko 0,001 A, sample 1 1,134 A, sampel 2 0,874 A, sampel 3 0,714 A,
sampel 4 0,662 A, sampel 5 0,395 A dan sample 6 0,295 A.
Penetapan kecepatan eliminasi urine menggunakan metode kecepatan ekskresi
Renal dan ARE. Perbedaan kedua metode ini adalah untuk metode ARE
digunakan untuk mengetahui konsentrasi setengah obat yang diekskresikan
bersama dengan urine sementara itu Metode renal berfungsi untuk mengetahui
konsentrasi setengah obat yang masih ada dalam tubuh.
Vitamin B1 termasuk golongan vitamin yang larut dalam air, berarti
bahwa vitamin B1 ini tidak dapat disimpan dalam tubuh dalam jumlah banyak dan
akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat bahan makanan dicerna tubuh,
vitamin yang terlepas akan masuk kedalam aliran darah dan beredar keseluruh
bagian tubuh. apabila tidak dibutuhkan vitamin ini akan segera dibuang bersama
urin. Obat vitamin B1 diabsorpsi di usus, didistribusi di darah, dimetabolisme di
hati dan diekskresi di ginjal.
Dari hasil yang didapatkan dengan metode Renal diperoleh persamaan y =
0,0737x + 0,1462 dengan nilai koefisien korelasi r = 0,0754 dan didapatkan waktu
paruh 564 menit. dengan menggunakan metode ARE diperoleh persamaan yaitu y
= - 0,1335x + 1,4488 dengan nilai koefisien korelasi r = 0,9126 dan didapatkan
waktu paruh 311,46 menit.
Dari literarur t1/2 untuk vitamin B1 adalah 154 menit. dari kedua metode tersebut
waktu paruh yang didapatkan melebihi dari literature waktu paruh vitamin B1.
Hal ini mungkin dikarenakan sampel dari probandus yang mengalami dehidrasi
sehingga kelarutan Vitamin B1 berkurang dan konsentrasi urin tinggi dan pekat
karena probandus berpuasa. selain itu kemampuan setiap individu dalam
memetabolisme obat berbeda-beda
BAB IV
KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum analisis vitamin B1 dalam cuplikan urin, dapat diambil
kesimpulan yakni :
Obat vitamin B1 diabsorpsi di usus, didistribusi di darah, dimetabolisme di hati
dan diekskresi di ginjal
Waktu paruh yang dibutuhkan dengan metode kecepatan Ekskresi RENAL adalah
564 menit. Sedangkan dengan metode ARE adalah 311,46 menit
Faktor yang mempengaruhi ekskresi obat adalah kelarutan obat dalam pelarut dan
kondisi setiap individu dalam memetabolisme obat

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM. 2001. Informatorium Obat Nasional Indonsesia. DEPKES RI. Jakarta
Guyton, AC.2007. Biokimia untuk Pertanian. USU. Press Medan
Khomsan, Ali. 2010. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada
Pauling, L. 1971. General Chemistry ed isi4. Gaya Baru, Jakarta.
Akhilender. 2003. Dasar-Dasar Biokimia I. Erlangga, Jakarta.
Deman, John M. 1997. Kimia Makanan. Bandung : Penerbit ITB
Helrich, Kenneth. 1990. Official Methods Of Analysis Of Association Of Official
Analytical Chemist Volume Two. USA : Association Of Official Analytical
Eka. 2007. Metode Analisa Kimia-Spektrofotometri. Gramedia: Jakarta.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia. Jakarta.
Mathias, Ahmad. 2005. Spektrofotometri. Exacta: Solo.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 1992. Spektroskopi Inframerah. Yogyakarta : Liberty
Yogyakarta.
Sutopo. 2006. Kimia Analisa. Exacta: Solo.
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK
ANALISIS VITAMIN B6 TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN
Tanggal Praktikum :

Kelompok 3 (Kelas E)
Nama Kelompok : Rega Anitania (0661 14 142)
Gina Amalia (0661 14 156)
Dina Restiana (0661 14 165)
Ani Mulyani (0661 14 175)

Dosen Pembimbing : 1. Lusi Agustin,M.Fram,. Apt


2. Sri Mahyuni,
3. Okta
4.
5.

Asisten Dosen : 1. Inna Agustina


2. Bulan

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan

- Mengetahui cara analisis kandungan vitamin C total dalam urin


- Mengetahui cara penentuan penetapan kadar Vitamin C dalam urin dengan
menggunakan metode Renal
- Mengetahui cara penentuan penetapan kadar Vitamin C dalam urin dengan
menggunakan metode ARE
- Mengetahui cara analisis kandungan vitamin C total dalam urin dengan
menggunakan spektrofotometri.

1.2 Dasar Teori

Vitamin B6 atau bisa disebut juga pyridoxine adalah nutrisi yang sangat penting bagi
fungsi darah, kulit, dan sistem saraf pusat. Suplemen vitamin B6 berguna untuk
mengatasi:

Defisiensi vitamin B6
Beberapa jenis anemia
Mencegah efek samping obat seperti cycloserine

Kekurangan vitamin B6 dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

Gagal jantung
Pecandu alkohol
Gagal ginjal
Masalah pada sistem pencernaan
Sirosis hati
Hipertiroidisme
Efek samping obat tertentu
Mengonsumsi vitamin B6 yang disertai dengan vitamin B9 dan B12 telah terbukti efektif
untuk menurunkan kadar homocystein, senyawa yang meningkatkan risiko penyakit
jantung.
Makanan-makanan yang mengandung vitamin B6 dan merupakan sumber alami yang
baik di antaranya kentang, daging, ikan, kacang kacangan, hati, pisang, keju, susu, sereal,
telur, bayam, wortel

Tentang Vitamin B6

Golongan Suplemen vitamin

Obat bebas (tapi ada beberapa merek yang memerlukan resep dari
Kategori dokter)

Mengatasi beberapa tipe anemia

Mencegah efek samping pengobatan tertentu

Mengatasi kekurangan vitamin B6


Manfaat

Dikonsumsi Oleh Anak-anak dan dewasa

Nama Lain Pyridoxine

Bentuk Obat Tablet dan kapsul

Peringatan:
Bagi wanita hamil dan menyusui, sesuaikan dengan anjuran dokter.

Harap berhati-hati bagi penderita diabetes, karena vitamin B6 mungkin dapat


memengaruhi kadar gula darah.

Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Vitamin B6
Dosis umum untuk menangani defisiensi vitamin B6 adalah 2.5-10 mg per hari. Dosis
akan disesuaikan dengan tingkap keparahan dan kondisi pasien. Jangan mengonsumsi
lebih dari 10 mg vitamin B6 per hari tanpa pengawasan atau anjuran dari dokter karena
bisa berdampak buruk bagi tubuh.

Mengonsumsi Vitamin B6 dengan Benar


Baca aturan pakai di kemasan dan jika ada yang tidak jelas, segera hubungi
dokter. Jangan mengonsumsi vitamin B6 melebihi dosis yang dianjurkan.
Vitamin B6 dapat dikonsumsi sebelum atau setelah makan, dan usahakan untuk
mengonsumsinya pada waktu yang sama tiap hari agar tidak lupa dan untuk
memaksimalisasi efeknya.

Bagi yang tidak sengaja melewatkan jadwal meminum vitamin B6, disarankan untuk
segera meminumnya begitu teringat. Namun jangan mengganti dosis yang terlewat
dengan menggandakan dosis vitamin B6 yang diminum berikutnya.

Efek Samping dan Bahaya Vitamin B6

Vitamin B6 hampir tidak pernah menyebabkan efek samping, terutama jika


dikonsumsi dalam dosis yang tepat. Salah satu efek samping yang jarang terjadi bisa
diakibatkan oleh penggunaan vitamin B6 dalam dosis tinggi secara jangka panjang,
berupa masalah sistem saraf, seperti kebas, mati rasa, kesemutan, dan gangguan pada
indra peraba.
BAB II
METODE KERJA
2.1 Alat dan Bahan Alat

Alat sentrivius Labu ukur Spektrovoto


Botol coklat Labu meter
Bulp semprot Tabung
Erlenmayer Pipet tetes sentrivius
Gelas ukur Pipet volum Vial
Bahan
Aquadest
Sampel urin
Vitamin B6

2.2 Cara Kerja


A. Pemberian Vitamin B6 Dengan Pengimpulan Urin
Cuplikan urin harus dukumpulkanselama waktu 6 jam. Probandus dapat
meminum obat dan dikumpulkan cuplikan urin sehari sebelum dianalisis.
Cuplikan urin dapat disimpan selama satu malam pada suhu 4 oC tanpa
penguraian yang berarti.
1. Untuk menjaga aliran urin, subyek meminum 200 ml air , setelah 30 menit
cuplikan ini digunakan sebagai blanko. Dicatat volumenya.
2. Vitamin B6 diminum dengan 200 ml air dan waktu mulai dicatat. Ini
adalah waktu jam ke 1.
3. Setelah 1 jam, kandung kemih dikosongkan, banyaknya volume urin
diukur dan dicatat serta ditandai. Diambil kurang lebih 15 ml. kemudian
probandus minum 200 ml air kembali.
4. Prosedur yang sama (seperti nomer 3) diulang dengan interval waktu :
2,3,4,5,6 jam.
B. Analisi Cuplikan Vitamin B6 Total Dalam Urin
3. Ditentukan kadar vitamin B6 total dalam cuplikan urin pada masing
masing interval waktu yang telah ditentukan (jam ke-1,2,3,4,5,6). Untuk
penetapan kadarnya :
Diambil 10 ml cuplikan urin di masukkan pada tabung sentrivius dan
di sentrivius selama 5 menit.
Lalu diambil 1 ml dari bagian bening paling atas dan di masukkan
pada labu uku di ad 50 ml
Diakukan pembacaan serapan pada panjang gelombang maksimum
yang telah didapatkan dari praktikum 1.
Jika niali yang terbaca masih terlalu besar (>3) dilakukan pengenceran.
4. Selanjutnya dihitung parameter farmakokinetik vitamin B6.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan


Tabel 1 : Data analisis urin vitamin B6
Sampel Volume Urin (Vu) Interval Waktu Absobansi
Blanko 30 ml 0 1 jam 0,008 A
1 100 ml 1 1,5 jam 2,378 A
2 74 ml 1,5 2 jam 0,916 A
3 91 ml 2 2,5 jam 0,6935 A
4 108 ml 2,5 3 jam 0,819A
5 110 ml 3 3,5 jam 0,535A
6 110 ml 3,5 4 jam 0,1735A

Tabel 2. Metode Renal


Table 3. Metode ARE

3.2 Perhitungan
y = bx + a
y = 0,0311 x - 0,3222
R2 = 0,9994
Cu :
Abs a
Cu = b
0,008 0,3222
Cu Blanko = = 9,975ppm
0,0331
(2,3780,008)+0,3222
Cu Sampel 1 = = 81,335 ppm
0,0311
(0,9160,008)+0,3222
Cu Sampel 2 = = 37,166 ppm
0,0311
(0,6935 0,008)+0,3222
Cu Sampel 3 = = 930,444 ppm
0,0311
(0,819 0,008)+0,3222
Cu Sampel 4 = = 34,253 ppm
0,0311
(0,535 0,008)+0,3222
Cu Sampel 5 = = 25,655 ppm
0,0311
(0,1735 0,008)+0,3222
Cu Sampel 6 = = 14,735ppm
0,0311

3.3 Pembahasan
Praktikum keempat yaitu analisis vitamin B6 total dalam cuplikan urin,
praktikum ini untuk mengetahui langkah-langkah analisis obat vitamin B6 dalam
cupilikan urin, memahami proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolism, dan
ekskresi) vitamin B6, dan mengetahui parameter farmakokinetik vitamin B6.
Pada percobaan pertama dilakukan pengumpulan urin dengan rentang
waktu yang telah ditentukan frekuensi pengambilan pada cuplikan urin dimana
pengambilan nya harus cukup yaitu 6 x waktu paruh obat, hal ini dilakukan agar
jumlah obat yang diekskresikan memiliki kecepatan eliminasi yang tetap sehingga
data yang diperoleh akan falid. Data volume pengambilan urin yang diperoleh
adalah 30 ml, 110 ml, 74 ml, 91 ml, 108 ml, 110 ml dan 110 ml. kemudian
diambil 10 ml untuk disentrifugasi dengan tujuan agar memisahkan partikel-
partikel sehingga tersuspensi mengendap didasar tabung.
Penetapan kecepatan ekskresi data urin menggunakan model
kompartemen satu terbuka intravena, terdapat 2 cara yaitu metode ekskresi ARE
dan metode ekskresi RENAL. Penggunaan 2 metode ini utnuk membandingkan
waktu paruhnya, didapatkan persamaan liniernya pada metode ARE adalah y = -
0,2909x + 2,8982 dengan koefisien korelasi (R2 ) = 0,9864. Sedangkan pada
metode RENAL adalah y = -7,5613x + 24,726 dengan koefisien korelasi (R2 ) =
0.8195 Dilihat dari nilai korelasi metode ARE yang menunjukkan hasil yang baik
karena mendekati nilai 1. Dari persamaan diatas didapatkan waktu paruh vitamin
B6, pada metode ARE adalah 142,93 menit sedangkan pada metode RENAL
adalah 5,499 menit. Dalam literature waktu paruh vitamin B6 adalah 0,0114 jam
(15-20 hari). Sehingga yang mendekati syarat waktu paruh vitamin B6 adalah
metode ARE yang berarti vitamin B1 cukup untuk diserap tubuh, sedangkan
metode RENAL tidak menunjukkan hasil sesuai literature yang berarti vitamin B6
diekskreikan lebih cepat. Hal itu kemungkinan karena probandus meminum air
sebelum pengambilan urin yang terlalu banyak sehingga justru saat diambil
urinnya vitamin B6 terekskresi.
BAB IV
KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum analisis vitamin B6 dalam cuplikan urin, dapat diambil
kesimpulan yakni :
Pada metode ARE didapat nilai regresi linier y =0,2909x + 2,8982 - dengan
koefisien korelasi (R2 ) = 0,9126. Sedangkan pada metode RENAL adalah y = -
7,5613x + 24,726dengan koefisien korelasi (R2 ) = 0.0754
Waktu paruh yang dibutuhkan dengan metode kecepatan Ekskresi ARE adalah
142,93 menit . Sedangkan dengan metode RENAL adalah 5,499 menit

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM. 2001. Informatorium Obat Nasional Indonsesia. DEPKES RI. Jakarta
Wattinegara, J.R. dkk. 1991. Farmakodinamik dan Terapi Antibiotik. Yogyakarta:
Gadjah MadaUniversity Press. Halaman 66-100
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK
ANALISIS KAFFEIN TOTAL DALAM CUMPLIKAN URIN
Tanggal Praktikum :

Kelompok 3 (Kelas E)
Nama Kelompok : Rega Anitania (0661 14 142)
Gina Amalia (0661 14 156)
Dina Restiana (0661 14 165)
Ani Mulyani (0661 14 175)

Dosen Pembimbing : 1. Lusi Agustin,M.Fram,. Apt


2. Sri Mahyuni,
3. Okta
4.
5.

Asisten Dosen : 1. Inna Agustina


2. Bulan

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2017
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan Alat
Alat Labu ukur Spektrovoto
sentrivius Labu meter
Botol coklat semprot Tabung
Bulp Pipet tetes sentrivius
Erlenmayer Pipet volum Vial
Gelas ukur
Bahan
Aquadest
Sampel urin
Kafein

III.2 Cara Kerja


A. Pemberian Kafein Dengan Pengimpulan Urin
Cuplikan urin harus dukumpulkanselama waktu 6 jam. Probandus dapat
meminum obat dan dikumpulkan cuplikan urin sehari sebelum dianalisis.
Cuplikan urin dapat disimpan selama satu malam pada suhu 4 oC tanpa
penguraian yang berarti.
1. Untuk menjaga aliran urin, subyek meminum 200 ml air , setelah 30 menit
cuplikan ini digunakan sebagai blanko. Dicatat volumenya.
2. Vitamin B6 diminum dengan 200 ml air dan waktu mulai dicatat. Ini
adalah waktu jam ke 1.
3. Setelah 1 jam, kandung kemih dikosongkan, banyaknya volume urin
diukur dan dicatat serta ditandai. Diambil kurang lebih 15 ml. kemudian
probandus minum 200 ml air kembali.
4. Prosedur yang sama (seperti nomer 3) diulang dengan interval waktu :
2,3,4,5,6 jam.
B. Analisi Cuplikan Kafein Total Dalam Urin
1. Ditentukan kadar kafein total dalam cuplikan urin pada masing masing
interval waktu yang telah ditentukan (jam ke-1,2,3,4,5,6). Untuk
penetapan kadarnya :
Diambil 10 ml cuplikan urin di masukkan pada tabung sentrivius dan
di sentrivius selama 5 menit.
Lalu diambil 1 ml dari bagian bening paling atas dan di masukkan
pada labu uku di ad 50 ml
Diakukan pembacaan serapan pada panjang gelombang maksimum
yang telah didapatkan dari praktikum 1.
Jika niali yang terbaca masih terlalu besar (>3) dilakukan pengenceran.
2. Selanjutnya dihitung parameter farmakokinetik kafein.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Data Pengamatan


Tabel 1 : Data analisis urin kafein
Sampel Volume Urin (Vu) Interval Waktu Absobansi
Blanko 120 ml 0 1 jam 0,002 A
1 94 ml 1 1,5 jam 0,542 A
2 100 ml 1,5 2 jam 0,422 A
3 110 ml 2 2,5 jam 0,409 A
4 118 ml 2,5 3 jam 0,387 A
5 110 ml 3 3,5 jam 0,251 A
6 120 ml 3,5 4 jam 0,233 A

Table 2. Metode ARE

Gravik 1. Metode ARE


Table 3. Metode Renal

Gravik 2. Metode Renal


IV.2 Perhitungan
y = bx + a
y = 0,0504 x + 0,0175
R2 = 0,9966
Cu :
Abs a
Cu = b
0,002 0,0175
Cu Blanko = = -0,307 ppm
0,0504
0,542 0,0175
Cu Sampel 1 = = 10,367 ppm
0,0504
0,422 0,0175
Cu Sampel 2 = = 7,986 ppm
0,0504
0,409 0,0175
Cu Sampel 3 = = 7,728 ppm
0,0504
0,387 0,0175
Cu Sampel 4 = = 7,291 ppm
0,0504
0,251 0,0175
Cu Sampel 5 = = 4,593 ppm
0,0504
0,233 0,0175
Cu Sampel 1 = = 4,236 ppm
0,0504

4.3 Pembahasan
Pada praktikum terakhir ini mengenai analisis kafein dlaa cuplikan urin yang secara
garis besar bertujuan untuk mengetahui nilai parameter farmakokinetik kafein (berkaitan
dengan nilai paruh waktu. Kafein merupakan obat perangsang sistem saraf pusat pada
manusia dan dapat mengusir rasa ngantuk secara sementara.
Untuk menentukan suatu nilai parameter farmakokinetik kafein (paruh waktu yakni t
) diperlukan nilai absorbansi urin probandus yang didapat dengan mengukur
menggunakan alat spektrofotometer. Sebelum itu sampel urin yakni blanko, urin 1
sampai 6, setelah itu dilakukan sentrifugasi yang bertujuan untuk memisahkan supernata
dan pelet. Supernata ini memiliki bobot terendah yang berada dilapisan atas dan warna
nya jernih, sedangkan pellet memiliki bobot tinggi shingga berada dilapisan bawah.
Mencari waktu paruh (t ) kafein digunakan 2 metode yaitu metode kecepatan
ekskresi ARE (untuk mengetahui kadar kafein yang terserap tubuh) dan metode
kecepatan ekskresi RENAL (untuk mengetahui kadar kafein yang dibuang dari tubuh).
Nilai absorbansi sampel dari blanko sampai sampel 6 yang didapat setelah mengukur
menggunakan spektrofotometer adalah 0,002 A, 0,542 A, 0,422 A, 0,409 A, 0,387 A,
0,251 A, dan 0,233 A.
Berdasarkan literature yang didapat, waktu paruh (t ) kafein yaitu 3 sampai 7 jam.
Waktu paruh kafein yang kami dapat sesuai metode ARE adalah 0,70 jam sedangkan
metode RENAL adalah 9,3 jam.

BAB V
KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum analisis kafein dalam cuplikan urin, dapat diambil
kesimpulan yakni :
Kecepatan ekskresi pada metode ARE waktu paruh (t ) yang dibutuhkan adalah
0,70 jam. Sedangkan pada metode RENAL waktu paruh yang dibutuhkan adalah
9,3 jam
Pada literature waktu paruh (t ) kafein adalah 3-7 jam, hasil yang kami peroleh
tidak sesuai

DAFTAR PUSTAKA

Bahriah, Evi Spainatul. 2010. Penentuan Kadar Kafein Dalam Teh Menggunakan
Spektrofotometer UV-VIS
Hakim, Lukman. 2007. Farmakokinetik. Bursa Ilmu Universitas Gajah Mada. Yogyakarta