Anda di halaman 1dari 22

SKENARIO

Dokter Keluarga

Tn. M. 50 tahun datang ke klinik Sumber Sehat untuk berobat penyakit diabetes
melitus yang sudah 3 tahun dideritanya. Tn. M. datang ke klinik ini atas saran temannya.
Menurut temannya, klinik Sumber Sehat pelayanannya sangat bagus, baik cara
pendekatannya maupun jenis pelayanan yang tersedia karena dokter yang berpraktik di klinik ini
adalah dokter keluarga yang agak berbeda dengan dokter umum biasa.
Masih menurut temannya dokter keluarga ini tidak hanya mengobati pasien di klinik,
tetapi juga dapat memberikan pelayanan kunjungan rumah, penyuluhan kesehatan dan
memberikan binaan kepada keluarga di sekitar klinik tersebut.

1
KATA-KATA SULIT

Dokter keluarga: Dokter yang memberikan pelayanan kepada komunitas baik secara aktif
(dokter mengunjungi rumah) maupun pasif (pasien mengunjungi klinik) dan
didiagnosis secara holistik dan komprehensif

PERTANYAAN

1. Apa keuntungan berobat dengan dokter keluarga?


2. Apa maksud prinsip dan standar pelayanan dokter keluarga dalam pelayanannya?
3. Kapan pelayanan kunjungan rumah diadakan?
4. Jenis pelayanan apa saja yang diberikan dokter keluarga?
5. Pendekatan apa yang diberikan oleh dokter sehingga pasien merasa puas?
6. Pasien mana yang lebih diprioritaskan apabila terdapat pasien klinik atau kunjungan pada
waktu yang sama?
7. Bentuk penyuluhan dan pembinaan apa yang dilakukan dokter kepada masyarakat di
sekitar klinik?
8. Bagaimana kriteria dokter keluarga?
9. Apa perbedaan penyuluhan dan pembinaan?

JAWABAN

1. Pasien lebih terbuka karena lebih percaya dan merasa lebih nyaman, lebih menguasai
aspek sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan dimana pasien berada.
2. Dokter memiliki kewajiban dan pedoman yang harus dilakukan dalam pelayanan yang
diberikan.
3. Tergantung agenda dan kebutuhan.
4. 5 star doctor.
5. Lebih ditekankan pada aspek personal, klinis, resiko internal, resiko external dan
fungsional.
6. Pasien yang datang ke klinik.
7. Tergantung kondisi dan kebutuhan pasien dan lingkungan.
8. Holistik, komprehensif, dan berkesinambungan.
9. Penyuluhan merupakan pemberitahuan informasi sedangkan pembinaan merupakan
pengaplikasian dari informasi tersebut.

2
HIPOTESIS

PELAYANAN DAN
PASIEN, 50 TAHUN, DATANG KE DOKTER PENDEKATAN DOKTER
DIAGNOSIS DIABETES KELUARGA DI KLINIK SANGAT BAGUS
MELITUS. "SUMBER SEHAT" MENGGUNAKAN
MENGGUNAKAN
PRINSIP 5 STAR
DOCTOR , PRINSIP
DOKTER KELUARGA
DAN ASPEK
PELAYANAN.

SOSIAL, BUDAYA, PENYULUHAN DAN


EKONOMI, DAN PEMBINAAN.
LINGKUNGAN.

3
SASARAN BELAJAR

LO. 1 Memahami dan menjelaskan dokter keluarga


LI. 1.1 Definisi.
LI. 1.2 Batasan atau terminologi dokter keluarga.
LI .1.3 Latar belakang kelahiran dokter keluarga.
LI .1.4 Perkembangan dokter keluarga.

LO. 2 Menjelaskan prinsip, standar dan jenis pelayanan dokter keluarga.


LI. 2.1 Prinsip pelayanan dokter keluarga.
LI. 2.2 Standar pelayanan dokter keluarga.
LI. 2.3 Jenis pelayanan dokter keluarga.
LI. 2.4 Pembiayaan pelayanan dokter keluarga.

LO. 3 Menjelaskan kompetensi dan peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan
primer
LI. 3.1 Kompetensi dokter keluarga.
LI. 3.2 Peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan primer.

4
LO. 1 Memahami dan menjelaskan dokter keluarga

LI. 1.1 Definisi.

Dokter keluarga merupakan dokter yang mengabdikan dirinya dalam bidang profesi
dokter maupun kesehatan yang memiliki pengetahuan, ketrampilan melalui
pendidikan khusus di bidang kedokteran keluarga yang mempunyai wewenang untuk
menjalankan praktek dokter keluarga. ( IKK FKUI 1996 )

Dokter keluarga adalah dokter yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan


pelayanan kesehatan personal, menyeluruh terpadu, berkesinambungan dan proaktif
sesuai dengan kebutuhan pasiennya sebagai anggota satu unit keluarga, komunitas
serta lingkungannya serta bila menghadapi masalah kesehatan khusus yang tak
tertanggulangi bertindak sebagai coordinator dalam konsultasi dan atau rujukan pada
dokter ahli yang sesuai. ( AAFP, IDI, Singapura)

Dokter Keluarga adalah dokter praktek umum, hanya dalam prakteknya


menggunakan pendekatan kedokteran keluarga. Pendekatan kedokteran keluarga itu
prinsip ada 4, pelayanan yang bersifat personal (invidual) bukan keluarga, pelayanan
yang bersifat primer artinya hanya melayani sebatas dokter pelayanan primer, lalu
komprehensif artinya DK sebagai Dokter praktek umum melayani 4 ranah pelayanan
yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Lalu yang ke empat adalah
kontinyu, ini yang sering dilupakan para dokter prakter umum padahal hal tersebut
sangat penting, the continuity of care atau kesinambungan pelayanan. Jangan sampai
seseorang itu dilayani oleh banyak dokter, sehingga mengulang pelayanan lagi,
pemeriksaan lagi, obatnya jadi double-double dan seterusnya. ( dr. Sugito
Wonodirekso )

Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan


primer yang komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif, dengan
mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan serta
pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis
kelamin, usia ataupun jenis penyakitnya. Pelayanan dokter keluarga melibatkan
Dokter Keluarga sebagai penyaring di tingkat primer sebagai bagian suatu jaringan
pelayanan kesehatan terpadu yang melibatkan dokter spesialis di tingkat pelayanan
sekunder dan rumah sakit rujukan sebagai tempat pelayanan rawat inap,
diselenggarakan secara komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif dengan
mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungannya serta
pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memilah jenis
kelamin, usia serta faktor-faktor lainnya. (The American Academy of Family
Physician, 1969; Geyman, 1971; McWhinney, 1981).

5
Pengertian dokter keluarga sendiri menurut PDKI (Perhimpunan Dokter Keluarga
Indonesia) adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien di fasilitas/sistem
pelayanan kesehatan primer guna menyelesaikan semua masalah kesehatan yang
dihadapi tanpa memandang jenis penyakit,, usia, dan jenis kelamin yang dapat
dilakukan sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan holistik,
bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan
lainnya, dengan menerapkan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien yang
mengutamakan pencegahan, serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional,
hukum, etika dan moral. Layanan yang diselenggarakannya (wewenang) sebatas
kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar.

Tujuan
Tujuan umum
Tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah sama dengan tujuan pelayanan
kedokteran dana tau pelayanan kesehatan pada umumnya, yakni terwujudnya
keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga
Tujuan khusus
a. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efektif
b. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efisien
Manfaat

a. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia


seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan
b. Akan dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin
kesinambungan pelayanan kesehatan
c. Pengaturan akan lebih baik dan terarah, terutama di tengah-tengah kompleksitas
pelayanan kesehatan saat ini
d. Dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga penanganan
suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai masalah lainnya
e. Akan dapat diperhitungkan berbagai factor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit, termasuk factor social dan psikologis
f. Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang
memberatkan biaya kesehatan

6
LI. 1.2 Batasan atau terminologi dokter keluarga.

Batasan tentang ilmu kedokteran keluarga di antaranya adalah sebagai berikut :

- Ilmu kedokteran keluarga adalah ilmu yang mencakup seluruh spektrum ilmu
kedokteran yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan individu,
keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan, ekonomi
dan sosial budaya. (PB IDI, 1983)
- Ilmu kedokteran keluarga menunjuk pada body of knowledge dari pelayanan dokter
keluarga yang merupakan disiplin baru dari ilmu kedokteran yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan kesehatan khalayak secara lebih responsif dan bertanggung
jawab. (Charmichael, 1973)
- Ilmu kedokteran keluarga adalah salah satu cabang dari ilmu kedokteran yang
ditandai dengan terdapatnya suatu kelompok pengetahuan kedokteran yang bersifat
khusus. (WONCA, Manila; 1979)
- Ilmu kedokteran keluarga adalah body of knowledge tentang fenomena yang dihadapi
serta teknik yang dipergunakan oleh para dokter yang menyelenggarakan perawatan
kesehatan perorangan pada tingkat pertama dan berkelanjutan. (Whinney, 1969)
- Ilmu kedokteran keluarga adalah sebuah pendekatan multidisipliner yang terpadu
menuju perawatan kesehatan yang menyeluruh dari unit keluarga. (Sargent, 1967)

Batasan dokter keluarga :


- Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan
komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran
- Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, bila perlu aktif
mengunjungi penderita atau keluarganya
- Dokter keluarga adlaha dokter yang memiliki tanggung jawab menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang menyeluruh yang dibutuhkan oleh semua anggota yang
terdapat dalam satu keluarga dan dapat merujuk ke dokter ahli yang sesuai.
- Dokter keluarga adalah dokter yang melayani masyarakat sebagai kontak pertama
yang merupakan pintu masuk ke system pelayanan kesehatan.
- Dokter keluarga adlah dokter yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan personal,
tingkat pertama, menyeluruh dan berkesinambungan kepada pasien yang terkait
dengan keluarga, komunitas, serta lingkungannya.

Batasan pelayanan dokter keluaraga :

7
- Pelayanan dokter keluarag adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung
ajawab dokter tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin, organ tubuh
atau jenis penyakit.
- Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang dikembangkan
dari berbagai disiplin ilmu terutama ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, ilmu
kebidanan dan kandungan, ilmu bedah, serta ilmu kedokteran jiwa yang secara
keseluruhan membentuk kesatuan yang terpadu

LI .1.3 Latar belakang kelahiran dokter keluarga.

- Tahun 1972 didirikanlah organisasi internasional dokter keluarga yang dikenal


dengan nama World of National College and Academic Association of General
Practitioners / Family Physicians (WONCA)
- Tahun 1981 didirikannya Kelompok Studi Dokter Keluarga
- Tahun 1988 telah menjadi anggota IDI, tapi pelayanan dokter keluarga di
Indonesia belum resmi mendapat pengakuan baik dari profesi kedokteran ataupun
dari pemerintah
- Tahun 1990 melalui kongres yang kedua di Bogor, nama organisasi dirubah
menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI)
- Indonesia adalah anggota dari WONCA yang diwakili oleh Kolese Dokter
Keluarga Indonesia (KDKI)

PDKI pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok
Studi Dokter Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah
IDI. Anggotanya beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis.
Pada tahun 1986, menjadi anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA).
Pada tahun 1990, setelah Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan
Kongres Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese
Dokter Keluarga Indonesia (KDKI), namun tetap sebagai organisasi dokter
seminat.
Pada tahun 2003, dalam Kogres Nasional di Surabaya, ditasbihkan sebagai
perhimpunan profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter praktik umum, dengan
nama Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun saat itu belum
mempunyai kolegium yang berfungsi.
Dalam Kongres Nasional di Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran
Keluarga (KIKK) dan telah dilaporkan ke IDI dan MKKI.

LI .1.4 Perkembangan dokter keluarga.


8
Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Indonesia telah dimulai
sejak tahun 1981 yakni dengan didirikannya Kelompok Studi Dokter Keluarga. Pada
Tahun 1990 melalui kongres yang kedua di Bogor, nama organisasi dirubah menjadi
Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI). Sekalipun organisasi ini sejak tahun 1988
telah menjadi anggota IDI, tapi pelayanan dokter keluarga di Indonesia belum secara
resmi mendapat pengakuan baik dari profesi kedokteran ataupun dari pemerintah.
Untuk lebih meningkatkan program kerja, terutama pada tingkat internasional, maka
pada tahun 1972 didirikanlah organisasi internasional dokter keluarga yang dikenal
dengan nama World of National College and Academic Association of General
Practitioners / Family Physicians (WONCA). Indonesia adalah anggota dari
WONCA yang diwakili oleh Kolese Dokter Keluarga Indonesia. Untuk Indonesia,
manfaat pelayanan kedokteran keluarga tidak hanya untuk mengendalikan biaya dan
atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, akan tetapi juga dalam rangka turut
mengatasi paling tidak 3 (tiga) masalah pokok pelayanan kesehatan lain yakni:
Pendayagunaan dokter pasca PTT, Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat, dan Menghadapi era globalisasi.

LO. 2 Menjelaskan prinsip, standar dan jenis pelayanan dokter keluarga.

LI. 2.1 Prinsip pelayanan dokter keluarga

Holistik
Komperhensif
Terpadu
Berkesinambungan
First Contact
Mengutamakan pencegahan
Pelayanan yang dapat di audit dan dapat dipertanggungjawabkan
Family oriented
Community oriented
Personal care
Koordinatif
Kolaboratif
Pelayanan yang menjunjung tinggi etika, moral dan hukum
Sadar mutu dan biaya

9
LI. 2.2 Standar pelayanan dokter keluarga.

Standar pelayanan dokter keluarga ;


1. Standar pemeliharaan kesehatan di klinik
o Standar pelayanan paripurna, pelayanan yang disediakan adalah pelayanan medis
strata pertama untuk semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu
termasuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan atau promotif, pencegahan
penyakit dan proteksi khusus atau preventif, pemulihan kesehatan atau kuratif,
pencegahan kecacatan atau disability limitation dan rehabilitasi baik fisik, mental,
maupun sosial setelah sakit dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai
dengan medikolegal etika kedokteran.
1). Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan
kedokteran keluarga yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan
diselenggarakan oleh dokter yang sesuai dengan standar profesi dokter keluarga serta
surat ijin pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat praktik.
2). Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan pemeliharaan
kesehatan dan peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.
3). Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala
kesempatan dalam menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan
keluarganya.
4). Deteksi dini
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala
kesempatan dalam melaksanakan deteksi dini penyakit dan melakukan
penatalaksanaan yang tepat untuk itu.
5). Kuratif medik
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan
kesehatan dan pencegahan kecacatan pada strata pelayanan tingkat pertama, termasuk
kegawatdaruratan medic, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan/ atau dirujuk ke
pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih tinggi.
6). Rehabilitasi dan sosial
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala kesempatan
rehabilitasi pada pasien / atau keluarganya setelah mengalami masalah kesehatan atau
kematian baik dari segi fisik, jiwa maupun sosisal.
7). Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi sosial
pasien dan keluarganya.
8). Etik medikolegal

10
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan medico legal dan
etik kedokteran.

o Standar pelayanan medik, pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan


pelayanan medis yang melaksanakan pelayanan kedokteran secara lege artis.
1) Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta
memperoleh keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis.
2). Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistic; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara
rasional, efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
3). Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa
diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.
4). Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis
pasien berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini
(evidence based).
5). Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik
penatalaksanaan untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan
kepedulian terhadap perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di
saat itu.
6). Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan/ atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau
dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
7). Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan/ atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah
sakit atau dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
8). Tindak lanjut

11
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat
dilaksanakan tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun
ditempat pasien.
9). Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama,
dan demi kepentingan pasien.
10). Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan
rasional, berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini.
11). Pembinaan keluarga
Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila
adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan
keluarga, termasuk konseling keluarga.
o Standar pelayanan menyeluruh, pelayanan disediakan dalam kedokteran keluarga
yang bersifat menyeluruh yaitu peduli bahwa pasien seorang manusia seutuhnya yang
terdiri dari fisik, mental, sosial, dan spiritual, serta berkehidupan di tengah
lingkungan fisik dan sosialnya.
o Standar pelayanan terpadu, pelayanan disediakan dalam kedokteran keluarga yang
bersifat terpadu, selaiun merupakan kemitraan antara dokter dengan pasien saat
proses pelaksanaan medis, juga merupakan kemitraan lintas program dengan berbagai
institusi formal maupun informal.
1). koordinator penatalaksanaan pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan coordinator dalam penatalaksanaan pasien
yang diselenggarakan bersama, baik bersama antar dokter-pasien-keluarga, maupun
bersama antar dokter-pasien-dokter spesialis/rumah sakit.
2). Mitra dokter-pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan keterpaduan kemitraan antara dokter dan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis.
3). Mitra lintas sektoral medik
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia pelayanan kesehatan
dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya.
4). Mitra lintas sektoral alternative dan komplimenter medik
Pelayanan dokter keluarga memperdulikan dan memperhatikan kebutuhan dan
perilaku pasien dan keluarganya sebagai masyarakat yang menggunakan berbagai
pelayanan kesehatan nonformal di sekitarnya.

o Standar pelayanan berkesinambungan, merupakan pelayanan berkesinambungan


yang melaksanakan pelayanan kedokteran secra efektif efisien, proaktif, dan terus
menerus demi kesehatan pasien

12
1). Pelayanan proaktif
Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan layanan secara proaktif.
2). Rekam medik bersinambung
Informasi dalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya dan pada saat datang,
digunakan untuk memastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah sesuai
untuk pasien yang bersangkutan.
3). Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif dan
efisien bagi pasien, menjaga kualitas, sadar mutu dan sadar biaya.
4). Pendampingan
Pada saat-saat dilaksanakan konsultasi dan/ atau rujukan, pelayanan dokter
keluarga menawarkan kemudian melaksanakan pendampingan pasien, demi
kepentingan pasien.

2. Standar perilaku dalam praktek :


o Standar perilaku terhadap pasien, pelayanan dokter keluarga menyediakan
kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan kekhawatiran dan masalah
kesehatannya, serta memberikan kesempatan kepada pasien untuk memperoleh
penjelasan yang dibutuhkan guna dapat memutuskan pemilihan penatalaksanaan yang
akan dilaksanakan.
o Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik, seorang doketr keluarga sebagai
pimpinan manajemen untuk mengelola klinik secara professional.
o Standar perilaku dengan sejawat, menghormati dan menghargai pengetahuan
ketrampilan dan kontribusi kolega lain dalam pelayanan kesehatan dan menjaga
hubungan baik secara professional.
o Standar pengembangan ilmu dan ketrampilan praktek, pelayanan dokter keluarga
selalu berusaha mengikuti kegiatan kegiatan ilmiah guna memelihara dan menmabah
ketrampilan praktek serta meluaskan wawasan pengetahuan kedokteran sepanjang
hayatnya.
o Standar partisipasi dalam kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, dokter
keluarga selalu berusaha berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan peningkatan
kesehatan di sekitarnya dan siap memberikan pendapatnya pada setiap kondisi
kesehatan di daerahnya.

3. Standar pengelolaan praktek, selain dokter keluarga juga terdapat petugas kesehatan
anatara lain perawat, bidan, administrasi klinik serta pegawai lain yang sesuai dengan
latar belakang pendidikan atau pelatihannya.

13
o Standar sumber daya manusia
1). Dokter keluarga
Dokter keluarga yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga adalah dokter
yang bersertifikat dokter keluarga dan patut menjadi panutan masyarakat dalam
hal perilaku kesehatan.
2). Perawat
Perawat yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
3). Bidan
Bidan yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedoktern keluarga.
4). Administrasi klinik
Pegawai administrasi yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga, telah
mengikuti pelatihan untuk menunjang pelayanan pendekatan kedokteran
keluarga.
o Standar manajemen keuangan
1). Pencatatan keuangan
Keuangan dalam praktek dokter keluarga tercatat secara seksama dengan cara
yang umum dan bersifat transparansi.
2). Jenis sistim pembiayaan praktik
Manajemen keuangan pelayanan dokter keluarga dikelola sedemikian rupa
sehingga dapat mengikuti, baik system pembiayaan praupaya maupun sistim
pembiayaan fee-for service.
o Standar manajemen klinik
Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan pada suatu tempat pelayanan yang
disebut klinik dengan manajemen yang professional.
1). Pembagian kerja
Semua personil mengerti dengan jelas pembagian kerjanya masing-masing.
2). Program pelatihan
Untuk personil yang baru mulai bekerja di klinik diadakan pelatihan kerja (job
training) terlebih dahulu.
3). Program kesehatan dan keselamatan kerja (k3)
Seluruh personil yang bekerja di klinik mengikuti prosedur K3 (kesehatan dan
keselamatan kerja) untuk pusat pelayanan kesehatan.
4). Pembahasan administrasi klinik
Pimpinan dan staf klinik secara teratur membahas pelaksanaan administrasi
klinik.

14
4. Standar sarana dan prasarana, pelayanan dokter keluarga memiliki fasilitas pelayanan
kesehatan strata pertama yang lengkap serta beberapa fasilitas tambahan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat sekitarnya.
o Standar fasilitas praktik
1). Fasilitas untuk praktik
Fasilitas pelayanan dokter keluarga sesuai untuk kesehatan dan keamanan
pasien, pegawai dan dokter yang berpraktik.
2). Kerahasiaan dan privasi
Konsultasi dilaksanakan dengan memperhitungkan kerahasiaan dan privasi
pasien.
3). Bangunan dan interior
Bangunan untuk pelayanan dokter keluarga merupakan bangunan permanen
atau semi permanen serta dirancang sesuai dengan kebutuhan pelayanan medis
strata pertama yang aman dan terjangkau oleh berbagai kondisi pasien.
4). Alat komunikasi
5). Papan nama
Tempat pelayanan dokter keluarga memasang papan nama yang telah diatur
oleh organisasi profesi.
o Standar peralatan klinik
1). Peralatan medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan medis yang minimal
harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia
layanan strata pertama.
2). Peralatan penunjang medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan penunjang medis yang
minimal harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai
penyedia pelayanan strata pertama.
3). Peralatan non medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan non medis yang minimal harus
dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia pelayanan
strata pertama.

o Standar proses-proses penunjang praktik


1). Pengolaan rekam medik
Pelayanan dokter keluarga menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi rekam
medik dengan dasar rekam medic berorientasi pada masalah (problem oriented
medical record).
2). Pengolaan rantai dingin

15
Pelayanan dokter keluarga peduli terhadap pengolaan rantai beku (cold chain
management) yang berpengaruh kepada kualitas vaksin atau obat lainnya.
3). Pengolahan infeksi
Pelayanan dokter keluarga memperhatikan universal precaution management
yang mengutamakan pencegahan infeksi pada pelayanannya.
4). Pengelolaan limbah
Pelayanan dokter keluarga memperhatikan sistim pembuangan air kotor dan
limbah, baik limbah medis maupun limbah nonmedis agar ramah lingkungan
dan aman bagi masyarakat sekitar klinik.
5). Pengolaan air bersih
6). Pengolaan obat
Mencegah penggunaan obat yang kadaluwarsa.

LI. 2.3 Jenis pelayanan dokter keluarga.

Adapun beberapa jenis pelayanan dokter keluarga yang sesuai dengan karakteristik
pelayanan mereka adalah: ( Putu, 2010)

Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan


Pemeriksaan dan Pengobatan oleh dokter
Tindakan medis kecil (ringan)
Pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana
Pemeriksaan ibu hamil, nifas, dan ibu menyusui, bayi dan anak balita
Upaya penyembuhan terhadap efek samping kontrasepsi
Pemberian obat pelayanan dasar dan pelayanan obat penyakit kronis atas indikasi
medis, Pemberian surat rujukan ke Rumah Sakit/Dokter Spesialis untuk kasus yang
tidak dapat ditangani Dokter Keluarga

Oleh karena dokter keluarga telah melewati pendidikan lanjutan khusus tersebut, maka
dokter keluarga memiliki tingkat kompetensi yang lebih dibanding dokter umum,
sehingga batas kewenangan yang dimiliki dokter keluarga lebih luas dibandingkan
dengan dokter umum dan dokter keluarga juga memiliki tugas-tugas serta karakteristik
pemberian pelayanan kesehatan tersendiri kepada masyarakat. Hal ini mengindikasikan
bahwa dokter keluarga dapat diterapkan pada sistem kedokteran di Indonesia, karena
akan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal bagi masyarakat

16
LI. 2.4 Pembiayaan pelayanan dokter keluarga.

Penyelenggaraan pembangunan kesehatan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional (SKN).


Tatanan yg menghimpun upaya secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat
kesehatan yg setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti amanat UUD
1945. Kebijakan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan landasan umum bagi negara
dalam mengupayakan penyelenggaraan jaminan sosial secara nasional. Jaminan pelayanan
kesehatan yang merupakan salah satu hak asasi bagi setiap warga menjadi dicantumkan dalam
SJSN sebagai ekspresi komitmen Pemerintah yang harus diwujudkan. Dua unsur pokok yang
saling terkait dalam Sistem Kesehatan Nasional adalah Upaya kesehatan dan Pembiayaan
Kesehatan Masalah yang mendasar pada pembiayaan kesehatan adalah sistem dan sumber
pembiayaan kesehatan bagi setiap anggota masyarakat. Sehingga persoalan pembiayaan
kesehatan di Indonesia masih merupakan topik yang selalu menarik untuk dikaji. Sistem yang
paling mendekati cocok untuk diterapkan tampaknya akan sampai satu kesepahaman yakni
system pembiayaan kesehatan yang berbasiskan sistem asuransi kesehatan.

Hingga kini, sudah banyak berdiri badan penyelenggara (Bapel) pembiayaan kesehatan di
Indonesia baik yang sudah lama maupun yang baru beberapa tahun. Dalam ketentuan UU SJSN,
Terbentuk UU no 40 tahun 2004 tentang SJSN. Pada masa transisi hingga th 2009, empat badan
BHMN diberi hak sebagai badan pengelola jaminan sosial, yakni PT Askes, PT Jamsostek, PT
Asabri dan PT Taspen. Kemudian disusul Putusan MK RI terhadap perkara no 007/PUU-
III/2005 tentang pengujian UU SJSN. Kewajiban Daerah dan prioritas belanjanya untuk
mengembangkan sistem jaminan sosial, bukan hanya semata-mata un tuk memenuhi SPM,
namun merupakan kewajiban konstitusional. Daerah boleh mendirikan BPJS (Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial) dengan memenuhi UU SJSN dan UU Pememerintah Daerah

LO. 3 Menjelaskan kompetensi dan peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan
primer
LI. 3.1 Kompetensi dokter keluarga.

Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada seorang lulusan
fakultas kedokteran pada umumnya. Kompetensi khusus inilah yang perlu dilatihkan melalui
program perlatihan ini. Yang dicantumkan disini hanyalah kompetensi yang harus dimiliki oleh
setiap Dokter Keluarga secara garis besar. Rincian mengenai kompetensi ini, yang dijabarkan
dalam bentuk tujuan pelatihan,

1. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga,


2. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam pelayanan
kedokteran keluarga,

17
3. Menguasai ketrampilan berkomunikasi, menyelenggarakan hubungan profesional dokter-
pasien untuk :
a) Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga dengan
perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga,
b) Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk berkerjasana
menyelesaikan masalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan
keluarga,
c) Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.

4. Memiliki keterampilan manajemen pelayanan kliniks.

a) Dapat memanfaatkan sumber pelayanan primer dengan memperhitungkan potensi


yang dimiliki pengguna jasa pelayanan untuk menyelesaikan masalahnya.
b) Menyelenggarakan pelayan kedokteran keluarga yang bermutu sesuai dengan
standar yang ditetapkan.

5. Memberikan pelayanan kedokteran berdasarkan etika moral dan spritual.


6. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang pengelolaan pelayanan kesehatan
termasuk sistem pembiayaan (Asuransi Kesehatan/JPKM).

Kompetensi dokter keluarga yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Keluarga
yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun 2006 adalah (Danasari, 2008) :
a. Keterampilan komunikasi efektif
b. Keterampilan klinik dasar
c. Keterampilan menerapkan dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan
epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
d. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan, terkoordinir
dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
e. Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi
f. Mawas diri dan pengembangan diri atau belajar sepanjang hayat
g. Etika moral dan profesionalisme dalam praktek

Pada dasarnya kompetensi yang harus dimiliki oleh dokter keluarga selain harus memiliki
kompetensi dokter menurut Konsil Kedokteran Indonesia, juga harus memiliki tambahan
kompetensi untuk dokter keluarga, diantaranya :

A. Area komunikasi efektif


1) Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya

18
Menempatkan diri sebagai mitra keluarga dalam penatalaksaan masalah kesehatan
pasien dan keluarga
Mampu melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien (patient centered
approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien, kekhawatiran dan
harapan pasien mengenai keluhannya tersebut serta memperoleh keterangan untuk
dapat menegakkan diagnosis
Memahami masalah yang sebenarnya terjadi dengan menggali dan menganalisa faktor-
faktor keluarga pasien yang berhubungan dengan masalah kesehatan pasien
Mampu memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai seluruh tujuan,
kepentingan, keuntungan, resiko yang berhubungan dalam hal pemeriksaan,
konsultasi, rujukan pengobatan, tindakan dan sebagainya seingga memungkinkan
pasien untuk dapat memutuskan segala yang akan dilakukan terhadapnya secara puas
dan terinformasi
Mampu menggali, menganalisa dan menganjurkan sumber daya yang ada pada
keluarga dan lingkungan untuk kepentingan pentalaksanaan kesehatan pasien dan
keluarganya
Mampu melakukan konseling perorangan dan konseling kelompok (keluarga maupun
kelompok lain)

2) Berkomunikasi dengan masyarakat


Mampu merencanakan dan menerapkan pendidikan kesehatan yang sesuai bagi pasien,
keluarga dan komunitas yang ada dihadapannya dengan media yang tepat guna

B. Area keteampilan klinis


1) Mampu menganalisa informasi dalam rekam medik dan rekam keluarga utuk
menegakkan diagnostik holistik dan perencanaan komprehensif bagi pasien dan
keluarganya
2) Mampu elaksanakan pendampingan pasien secara profesional demi kepentingan pasien
pada saat dibutuhkan dalam layanan konsultasi dan/atau rujukan
3) Mampu secara trampil melakukan prosedur tunjangan hidup dasar (basic life support) dan
ACLS dimanapun berada

C. Area pengelolaan masalah kesehatan


1) Mampu menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif efisien bagi pasien, menjaga
kualitas, sadar mutu, dan sadar biaya
2) Mampu menyelenggarakan pelyanan yang peduli dan perhatian pada kebutuhan dan
perilaku pasien dan keluarganya sebgai masyarakat
3) Mampu mengidentifikasi, mmberi alas an, menerapkan dan merencanakan strategi
pencegahan primer, sekunder dan tersier bagi seluruh anggota keluarga pasien seta
komunikasi sekitar pasien

19
4) Mampu menempatkan diri untuk berpartisipasi dalam program pendidikan kesehatan bagi
komunitas sesuai dengan kebutuhan
5) Mampu menempatkan diri untuk berpartisipasi dalam pergerakkan masyarakat dalam
penanggulangan bencana dan rehabilitasi komunitas pasca bencana
6) Mampu menyusun system untuk memandang pasien sebagai bagian keluarga pasien dan
memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhhi oleh
situasi dan kondisi kesehatan pasien
7) Mampu mendayagunakan sumber di sekitar kehidupan pasien untuk mengingkatkan
keadaan kesehatan pasien dan keluarganya
8) Mampu memperhatikan latar belakang social, budaya, ekonomi pasien dalam
berkomunikasi dan menawarkan pilihan tindakan

D. Area pengelolaan informasi


1) Mampu mengaplikasikan EBM dan appraisal kritis suatu informasi baru dalam praktik
keseharian
2) Mampu merencakan dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi guna
memberi pelayanan yang memuaskan bagi pasein dan keluarganya

E. Area mawas diri dan pengembangan diri


Mampu menginisiasi dan melaksanakan Program Pendidikan Keprofesian Kedokteran
Berkelanjutan (P2KB) untuk diri dan perkumpulan profesinya

F. Area etika, moral, medikolegal, dan profesionalisme serta keselamatan pasien


1) Mampu menempatkan diri sebagai mitra penyedia pelyanan kesehatan dengan berbagai
sektor pelyanan kesehatan formal di sekitarnya
2) Mampu melakukan program jaga mutu (quality assurance) secara mandiri dan atau
bersama-sama dengan dokter keluarga lainnya
3) Mampu menjadi pimpinan professional pada suau pusat pelayanan kedokteran
kesehatan primer
4) Mampu menganalisa persamaan dan perbedaaan karate individu, keluarga, hingga factor
social budaya yang berpengaruh pada kesehatan pasien dan keluarga

LI. 3.2 Peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan primer.

Dokter keluarga memiliki 5 fungsi yang dimiliki, yaitu (Azrul Azwar, dkk. 2004) :

a. Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)


Yang mempertimbangkan pasien secara holistik sebagai seorang individu dan sebagai
bagian integral (tak terpisahkan) dari keluarga, komunitas, lingkungannya, dan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, komprehensif, kontinu,
dan personal dalam jangka waktu panjang dalam wujud hubungan profesional dokter-

20
pasien yang saling menghargai dan mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif
yang manusiawi namun tetap dapat dapat diaudit dan dipertangungjawabkan

b. Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)


Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif sehingga
memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan dan memelihara
kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju sehat dan mandiri
kepada pasien dan komunitasnya
c. Decision Maker (Pembuat Keputusan)
Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi kedokteran
berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan harapan pasien, nilai
etika, cost effectiveness untuk kepentingan pasien sepenuhnya dan membuat keputusan
klinis yang ilmiah dan empatik
d. Manager
Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam maupun di
luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitasnya
berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang cakap memimpin klinik,
sehat, sejahtera, dan bijaksana
e. Community Leader (Pemimpin Masyarakat)
Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya, menyearahkan
kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan nasihat kepada kelompok
penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama masyarakat dan menjadi panutan
masyarakat

21
Daftar Pustaka

Badan Pembina JPKM-Dirjen Kersehatan Masyarakat Depkes RI., 1999 Kumpulan Materi
Pelatihan Penyelenggaraan JPKM, Jakarta

Depkes, IDI, Fakultas Kedokteran Seri Pendidikan Kedokteran Bersinambung 2001

Azwar A, 1996. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga, Yayasan Penerbit IDI, Cetakan 1.

Danasari, Standar Kompetensi Dokter Keluarga Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia


2008.

Qomariyah, Sekilas Kedokteran Keluarga FK Universitas Yarsi 2011.

22