Anda di halaman 1dari 18

Makalah Disfagia

Sistem Gastrointestinal

Kelompok

1. Awal Nur H
2. Bagus Panuntun
3. Berliana Yanantika
4. Dewi Kurnia Sari

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

STIKes Harapan Bangsa Purwokerto

Tahun Ajaran 2011/20112


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Disfagia berasal dari bahasa Yunani yang berarti gangguan makan.


Disfagia biasanya merujuk kepada gangguan dalam makan sebagai
gangguan dari proses menelan. Disfagia dapat mejadi ancaman yang
serius terhadap kesehatan seseorang karena adanya resiko pneumonia
aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, dan sumbatan
jalan napas. Beberapa penyebab telah di telah ditujukan terhadap disfagia
pada populasi dengan kondisi neurologis dan nonneurologis.

Gangguan yang menyebabkan disfagia dapat mempengaruhi fase


oral, faringeal, atau esofageal dari fase menelan. Anamnesa yang lengkap
dan pemeriksaan fisik yang seksama adalah penting dalam diagnosis dan
pengobatan dari disfagia. Pemeriksaan fisik di tempat tidur harus
menyertakan pemeriksaan leher, mulut, orofaring, dan laring.
Pemeriksaan neurologis juga harus dilakukan. Beberapa pemeriksaan
menelan juga telah diajukan, namun pemeriksaan menelan dengan
videofluoroscopic diterima sebagai pemeriksaan stdanart untuk
mendeteksi dan menilai kelainan menelan. Metode ini bukan saja mampu
memperkirakan resiko aspirasi dan komplikasi respirasi namun juga
membantu dalam menentukan strategi diet dan komplikasi.

Pemeriksaan endoskopi serat optik mungkin diperlukan. Gangguan


menelan oral dan faringeal biasanya mampu untuk rehabilitasi, termasuk
modifikasi diet dan pelatihan tehnik dan manuver menelan. Pembedahan
jarang diindikasikan untuk pasien dengan gangguan menelan. Pada pasien
dengan gangguan yang parah, memintas rongga mulut dan faring
didalam keseluruhannya dan memberikan nutrisi enteral mungkin
diperlukan. Piliha yang tersedia antara lain percutaneous endoscopic
gastrostomy dan kateterisasi oroesophageal intermiten

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian

Disfagia berasal dari bahasa Yunani yang berarti gangguan makan.


Disfagia biasanya merujuk kepada gangguan dalam makan sebagai
gangguan dari proses menelan. Disfagia dapat mejadi ancaman yang
serius terhadap kesehatan seseorang karena adanya resiko pneumonia
aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, dan sumbatan
jalan napas. Beberapa penyebab telah di telah ditujukan terhadap disfagia
pada populasi dengan kondisi neurologis dan nonneurologis.

Gangguan yang menyebabkan disfagia dapat mempengaruhi fase


oral, faringeal, atau esofageal dari fase menelan. Anamnesa yang lengkap
dan pemeriksaan fisik yang seksama adalah penting dalam diagnosis dan
pengobatan dari disfagia. Pemeriksaan fisik di tempat tidur harus
menyertakan pemeriksaan leher, mulut, orofaring, dan laring.
Pemeriksaan neurologis juga harus dilakukan. Beberapa pemeriksaan
menelan juga telah diajukan, namun pemeriksaan menelan dengan
videofluoroscopic diterima sebagai pemeriksaan stdanart untuk
mendeteksi dan menilai kelainan menelan. Metode ini bukan saja mampu
memperkirakan resiko aspirasi dan komplikasi respirasi namun juga
membantu dalam menentukan strategi diet dan komplikasi.
Pemeriksaan endoskopi serat optik mungkin diperlukan. Gangguan
menelan oral dan faringeal biasanya mampu untuk rehabilitasi, termasuk
modifikasi diet dan pelatihan tehnik dan manuver menelan. Pembedahan
jarang diindikasikan untuk pasien dengan gangguan menelan. Pada pasien
dengan gangguan yang parah, memintas rongga mulut dan faring
didalam keseluruhannya dan memberikan nutrisi enteral mungkin
diperlukan. Piliha yang tersedia antara lain percutaneous endoscopic
gastrostomy dan kateterisasi oroesophageal intermiten

2. Epidemiolog

Disfagia telah dilaporkan dalam beberapa jenis gangguan, dan


dapat digolongkan sebagai neurologis dan non neurologis. meskipun
disfagia mencakupbanyak variabel, juga sangat berpengaruh terhadap
hasil pengobatan.

Gangguan menelan neurologis ditemui lebih sering pada unit


rehabilitasi medis daripada spesialisasi kedokteran lainnya. Stroke adalah
penyebab utama dari disfagia neurologis. Sekitar 51-73% pasien dengan
stroke mengalami disfagia, yang merupakan faktor resiko bermakna
berkembangnya pneumonia; hal ini dapat juga menunda pemulihan
fungsional pasien.

Pneumonia terjadi pada sekitar 34% dari seluruh kematian terkait


stroke dan merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak pada bulan
pertama setelah mengalami stroke, meskipun tidak seluruh kasus
pneumonia berkaitan dengan aspirasi makanan. Oleh karenanya, deteksi
dini dan pengobatan disfagia pada pasien yang telah mengalami strokes
adalah sangat penting.

3. FISIOLOGI MENELAN
Selama proses menelan, otot-otot diaktifkan secara berurutan dan
secara teratur dipicu dengan dorongan kortikal atau input sensoris perifer.
Begitu proses menelan dimulai, jalur aktivasi otot beruntun tidak berubah
dari otot-otot perioral menuju kebawah. Jaringan saraf, yang bertanggung
jawab untuk menelan otomatis ini, disebut dengan pola generator pusat.
Batang otak, termasuk nucleus tractus solitarius dan nucleus ambiguus
dengan formatio retikularis berhubungan dengan kumpulan motoneuron
kranial, diduga sebagai pola generator pusat.

Tiga Fase Menelan

Deglutition adalah tindakan menelan, dimana bolus makanan atau


cairan dialirkan dari mulut menuju faring dan esofagus ke dalam lambung.
Deglutition normal adalah suatu proses halus terkoordinasi yang
melibatkan suatu rangkaian rumit kontraksi neuromuskuler valunter dan
involunter dan dan dibagi menjadi bagian yang berbeda: (1) oral, (2)
faringeal, dan (3) esophageal. Masing-masing fase memiliki fungsi yang
spesifik, dan, jika tahapan ini terganggu oleh kondisi patologis, gejala
spesifik dapat terjadi.

Fase Oral

Fase persiapan oral merujuk kepada pemrosesan bolus sehingga


dimungkinkan untuk ditelan, dan fase propulsif oral berarti pendorongan
makanan dari rongga mulut ke dalam orofaring. Prosesnya dimulai dengan
kontraksi lidah dan otot-otot rangka mastikasi. Otot bekerja dengan cara
yang berkoordinasi untuk mencampur bolus makanan dengan saliva dan
dan mendorong bolus makanan dari rongga mulut di bagian anterior ke
dalam orofaring, dimana reflek menelan involunter dimulai.

Cerebellum mengendalikan output untuk nuklei motoris nervus


kranialis V (trigeminal), VII (facial), dan XII (hypoglossal).
Dengan menelan suatu cairan, keseluruhan urutannya akan selesai
dalam 1 detik. Untuk menelan makanan padat, suatu penundaaan selama
5-10 detik mungkin terjadi ketika bolus berkumpul di orofaring.

Fase Faringeal

Fase faringeal adalah sangat penting karena, tanpa mekanisme


perlindungan faringeal yang utuh, aspirasi paling sering terjadi pada fase
ini. Fase inimelibatkan rentetan yang cepat dari beberapa kejadian yang
saling tumpang tindih. Palatum mole terangkat. Tulang hyoid dan laring
bergerak keatas dan kedepan. Pita suara bergerak ke tengah, dan
epiglottis melipat ke belakang untuk menutupi jalan napas. Lidah
mendorong kebelakang dan kebawah menuju faring untuk meluncurkan
bolus kebawah. lidah dubantu oleh dinding faringeal, yang melakukan
gerakan untuk mendorong makanan kebawah.

Sphincter esophageal atas relaksasi selama fase faringeal untuk


menelan dan dan membuka oleh karena pergerakan os hyoid dan laring
kedepan. Sphincter akan menutup setelah makanan lewat, dan struktur
faringeal akan kembali ke posisi awal.

Fase faringeal pada proses menelan adalah involunter dan


kesemuanya adalah reflek, jadi tidak ada aktivitas faringeal yang ter jadi
sampai reflek menelan dipicu. Reflek ini melibatkan traktus sensoris dan
motoris dari nervus kranialis IX (glossofaringeal) dan X (vagus).

Fase Esophageal

Pada fase esophageal, bolus didorong kebawah oleh gerakan


peristaltik. Sphincter esophageal bawah relaksasi pada saat mulai
menelan, relaksasi ini terjadi sampai bolus makanan mecapai lambung.
Tidak seperti shincter esophageal bagian atas, sphincter bagian bawah
membuka bukan karena pengaruh otot-otot ekstrinsik.
Medulla mengendalikan reflek menelan involunter ini, meskipun
menelan volunter mungkin dimulai oleh korteks serebri.

Suatu interval selama 8-20 detik mungkin diperlukan untuk


kontraksi dalam menodorong bolus ke dalam lambung.

4. PATOFISIOLOGI

Gangguan pada proses menelan dapat digolongkan tergantung dari


fase menelan yang dipengaruhinya.

Fase Oral

Gagguan pada fase Oral mempengaruhi persiapan dalam mulut dan


fase pendorongan oral biasanya disebabkan oleh gangguan pengendalian
lidah. Pasien mungkin memiliki kesulitan dalam mengunyah makanan
padat dan permulaan menelan. Ketika meminum cairan, psien mungki
kesulitan dalam menampung cairan dalam rongga mulut sebelum
menelan. Sebagai akibatnya, cairan tumpah terlalu cepat kadalam faring
yang belum siap, seringkali menyebabkan aspirasi.

Logemann's Manual for the Videofluorographic Study of Swallowing


mencantumkan tanda dan gejala gangguan menelan fase oral sebagai
berikut:

1. Tidak mampu menampung makanna di


bagian depan mulut karena tidak rapatnya
pengatupan bibir

2. Tidak dapat mengumpulkan bolus atau


residu di bagian dasar mulut karena
berkurangnya pergerakan atau koordinasi
lidah
3. Tidak dapat menampung bolus karena
berkurangnya pembentukan oleh lidah dan
koordinasinya

4. Tidak mampu mengatupkan gigi


untukmengurangi pergerakan madibula

5. Bahan makanan jatuh ke sulcus anterior


atau terkumpul pada sulcus anterior karena
berkurangnya tonus otot bibir.

6. Posisi penampungan abnormal atau


material jatuh ke dasar mulut karena
dorongan lidah atau pengurangan
pengendalian lidah

7. Penundaan onset oral untuk menelan oleh


karena apraxia menelan atau berkurangnya
sensibilitas mulut

8. Pencarian gerakan atau ketidakmampuan


unutkmengatur gerakan lidah karena
apraxia untuk menelan

9. Lidah bergerak kedepan untuk mulai


menelan karena lidah kaku.

10. Sisa-sisa makanan pada lidah karena


berkurangnya gerakan dan kekuatan lidah

11. Gangguan kontraksi (peristalsis) lidah


karena diskoordinasi lidah

12. Kontak lidah-palatum yang tidaksempurna


karena berkurangnya pengangkatan lidah
13. Tidak mampu meremas material karena
berkurangnya pergerakan lidah keatas

14. Melekatnya makanan pada palatum durum


karena berkurangnya elevasi dan kekuatan
lidah

15. Bergulirnya lidah berulang pada Parkinson


disease

16. Bolus tak terkendali atau mengalirnya


cairan secara prematur atau melekat pada
faring karena berkurangnya kontrol lidah
atau penutupan linguavelar

17. Piecemeal deglutition

18. Waktu transit oral tertunda

Fase Faringeal

Jika pembersihan faringeal terganggu cukup parah, pasienmungkin


tidak akan mampu menelan makanan dan minuman yang cukup untuk
mempertahankan hidup. Pada orang tanpa dysphasia, sejumlah kecil
makanan biasanya tertahan pada valleculae atau sinus pyriform setelah
menelan. Dalam kasus kelemahan atau kurangnya koordinasi dari otot-
otot faringeal, atau pembukaan yang buruk dari sphincter esofageal atas,
pasien mungkin menahan sejumlah besar makanan pada faring dan
mengalami aspirasi aliran berlebih setelah menelan.

Logemann's Manual for the Videofluorographic Study of Swallowing


mencantumkan tanda dan gejala gangguan menelan fase faringeal
sebagai berikut:

Penundaan menelan faringeal


Penetrasi Nasal pada saat menelan karena berkurangnya penutupan
velofaringeal

Pseudoepiglottis (setelah total laryngectomy) lipata mukosa pada dasar


lidah

Osteofit Cervical

Perlengketan pada dinding faringeal setelah menelan karena


pengurangan kontraksi bilateral faringeal

Sisa makanan pada Vallecular karena berkurangnya pergerakan posterior


dari dasar lidah

Perlengketan pada depresi di dinding faring karena jaringan parut atau


lipatan faringeal

Sisa makanan pada puncak jalan napas Karena berkurangnya elevasi


laring

penetrasi dan aspirasi laringeal karena berkurangnya penutupan jalan


napas

Aspirasi pada saat menelan karena berkurangnya penutupan laring

Stasis atau residu pada sinus pyriformis karena berkurangnya tekanan


laringeal anterior

Fase Esophageal

Gangguan fungsi esophageal dapat menyebabkan retensi makanan


dan minuman didalam esofagus setelah menelan. Retensi ini dapat
disebabka oleh obstruksi mekanis, gangguan motilitas, atau gangguan
pembukaan Sphincter esophageal bawah.
Logemann's Manual for the Videofluorographic Study of Swallowing
mencantumkan tanda dan gejala gangguan menelan pada fase
esophageal sebgai berikut:

1. Aliran balik Esophageal-ke-faringeal karena


kelainan esophageal

2. Tracheoesophageal fistula

3. Zenker diverticulum

4. Reflux

Aspirasi

Aspirasi adalah masuknya makanan atu cairan melalui pita suara.


Seseorang yang mengalami aspirasi beresiko tinggi terkena pneumonia.
Beberapa faktormempengaruhi efek dari aspirasi : banyaknya, kedalaman,
keadaan fisik benda yang teraspirasi, dan mekanisme pembersihan paru.
Mekanisme pembersihanpasu antara lain kerja silia dan reflek batuk.
Aspirasi normalnya memicu refleks batuk yang kuat. Jika ada gangguan
sensosris, aspirasi dapat terjadi tanpa gejala.

ETIOLOGI

Anamnesa yang lengkap membantu dokter dalam menentukan


bermacamp enyebab dari disfagia. Penyebab yang sering dari disfagia
adalah sebagai berikut:

1. Stroke atau cedera otak traumatik (TBI)

2. Motor neuron disease (amyotrophic lateral


sclerosis [ALS])

3. Parkinson disease dan penyakit degeneratif


lainnya (apraxia)
4. Poliomyelitis

5. Multiple sclerosis

6. Myasthenia gravis

7. Myopathy (dermatomyositis, myotonic


dystrophy)

8. Laryngectomy

9. Faringectomy, esophagectomy rekonstruksi


dengan penarikan gastric

10. Pembedahan kepala dan leher

11. Collar Cervical, spondilosis cervical

12. Ventilator-dependent patient

13. Pasien tua

14. Cerebral palsy

15. esophageal-faringeal backflow,


tracheoesophageal [T-E] fistula, Zenker
diverticulum, reflux

TANDA DAN GEJALA

Disfagia Oral atau faringeal

o Batuk atau tersedak saat menelan

o Kesulitasn pada saat mulai menelan

o Makanan lengket di kerongkongan


o Sialorrhea

o Penurunan berat badan

o Perubahan pola makan

o Pneumonia berulang

o Perubahan suara (wet voice)

o Regusgitasi Nasal

Disfagia Esophageal

o Sensasi makanan tersangkut di tenggorokan atau dada

o Regurgitasi Oral atau faringeal

o Perubahan pola makan

o Pneumonia rekuren

PEMERIKSAAN FISIK

Pada Pemeriksaan fisik, periksa mekanisme motoris oral dan laryngeal.


Pemeriksaan nervus V dan VII-XII penting dalam menentukan bukti fisik
dari disfagia orofaringeal.

Pengamatan langsung penutupan bibir, rahang, mengunyah, pergerakan


dan kekuatan lidah, elevasi palatal dan laryngeal, salivasi, dan
sensitifitas oral.
Periksa kesadaran dan status kognitif pasien karena dapat
mempengaruhi keamanan menelan dan kemampuan kompensasinya.

Dysphonia dan dysarthria adalah tanda disfungsi motoris struktur-


struktur yang terlibat pada menelan.

Periksa mukosa dan gigi geligi mulut

Periksa reflek muntah.

Periksa fungsi pernapasan

Tahap terakhir adalah pengamatan langsung aktivitas menelan. Setelah


menelan, amati pasien selama 1 menit atau lebih jika ada batuk

tertunda

DIAGNOSIS BANDING
PENATALAKSANAAN

Terdapat pengobatan yang berbeda untuk berbagai jenis dysphagia. Pertama


dokter dan speech-language pathologists yang menguji dan menangani gangguan
menelan menggunakan berbagai pengujian yang memungkinkan untuk melihat
bergagai fungsi menelan. salah satu pengujian disebut dengan, laryngoscopy serat
optik, yang memungkinkan dokter untuk melihat kedalam tenggorokan. Pemeriksaan
lain, termasuk video fluoroscopy, yang mengambil video rekaman pasien dalam
menelan dan ultrasound, yang menghasikan gambaran organ dalam tubuh, dapat
secara bebas nyeri memperlihakab tahapan-tahapan dalam menelan.

Setelah penyebab disfagia ditemukan, pembedahan atau obat-obatan dapat


diberikan. Jika dengan mengobati penyebab dysphagia tidak membantu, dokter
mungkin akan mengirim pasien kepada ahli patologi hologist yang terlatih dalam
mengatasi dan mengobati masalah gangguan menelan.

Pengobatan dapat melibatkan latihan otot ntuk memperkuat otot-otot facial


atau untuk meninkatkan koordinasi. Untuk lainnya, pengobatan dapat melibatkan
pelatihan menelan dengan cara khusus. Sebagai contoh, beberapa orang harus
makan denan posisi kepala menengok ke salah satu sisi atau melihat lurus ke
depan. Meniapkan makanan sedemikian rupa atau menghindari makanan tertentu
dapat menolong orang lain. Sebagai contoh, mereka yang tidak dapat menelan
minuman mungkin memerlukan pengental khusus untukminumannya. Orang lain
mungkin garus menghindari makanan atau minuman yang panan ataupun dingin.

Untuk beberapa orang, namun demikian, mengkonsumsi makanan dan minuman


lewat mulut sudah tidak mungkin lagi. Mereka harus menggunakan metode lain
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Biasanya ini memerlukan suatu system
pemberian makanan, seperti suatu selang makanan (NGT), yang memotong bagian
menelan yang tidak mampu bekerja normal

Berbagai pengobatan telah diajukan unutk pengobatan disfagia


orofaringeal pada dewasa. Pendekatan langsung dan tidak langsung
disfagia telah digambarkan. Pendekatan langsung biasnya melibatkan
makanan, pendekatan tidak langsung biasanya tanpa bolus makanan.
Modifikasi diet

Merupakan komponen kunci dalam program pengobatan umum


disfagia. Suatu diet makanan yang berupa bubur direkomendasikan
pada pasien dengan kesulitan pada fase oral, atau bagi mereka yang
memiliki retensi faringeal untuk mengunyah makanan padat.

Jka fungsi menelan sudah membaik, diet dapat diubah menjadi


makanan lunak atau semi-padat sampai konsistensi normal.

Suplai Nutrisi

Efek disfagia pada status gizi pasien adalah buruk. Disfagia dapat
menyebabkan malnutrisi

Banyak produk komersial yang tersedia untuk memberikan bantuan


nutrisi. Bahan-bahan pengental, minuman yang diperkuat, bubur instan
yang diperkuat, suplemen cair oral. Jika asupan nutrisi oral tidak
adekuat, pikirkan pemberian parenteral.

Hidrasi

Disfagia dapat menyebabkan dehidrasi. Pemeriksaan berkala keadaan


hidrasi pasien sangat penting dan cairan intravena diberikan jika
terapat dehidrasi

Pembedahan

o Pembedahan gastrostomy

Pemasangan secara operasi suatu selang gastrostomy


memerlukan laparotomy dengan anestesi umum ataupun lokal.

o Cricofaringeal myotomy
Cricofaringeal myotomy (CPM) adalah prosedur yang dilakukan
unutk mengurangi tekanan pada sphicter faringoesophageal
(PES) dengan mengincisi komponen otot utama dari PES.

Injeksi botulinum toxin kedalam PES telah diperkenalkan sebagai


ganti dari CPM.

DAFTAR RUJUKAN

1. Paik N.J., Dysphagia, available from URL :


http://www.emedicine.com/pmr/topic194.ht
m

2. Spieker M.R., Evaluating Dysphagia,


available from URL :
http://www.aafp.org/afp/20000615/contents
.html
3. Dysphagia, available from URL : http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/dysph.asp.htm