Anda di halaman 1dari 7

PAPPER GANGGUAN SISTEM PERSEPSI SENSORI

TULI (KEHILANGAN PENDENGARAN)

Dosen pengampu : Ns. Noor Yunida Triana., S.Kep

Disusun oleh :

1. Slamet Uji Kurniawan 8. Upi Bodrowati


2. Sri Hastuti Widiawati 9. Wamiasih
3. Sri Ratna Ningsih 10. Wulandrari Putri Marta
4. Sulistyorini 11. Yogi Indriantoro
5. Tita Nurjanah 12. Yuni Azhar Andarin
6. Tiva Nurfalah 13. Zuhara Intan Maulida
7. Untung Mutaqin

PROGRAM STUDY S1 KEPERAWATAN/3B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

HARAPAN BANGSA PURWOKERTO

2013

A. DEFINISI
Tuli ialah keadaan dimana orang tidak dapat mendengar sama sekali (total
deafness), suatu bentuk yang ekstrim dari kekurangan pendengaran. Istilah yang
sekarang lebih sering digunakan ialah kekurangan pendengaran (hearing-loss)
(Louis,1993).
Kekurangan pendengaran ialah keadaan dimana orang kurang dapat mendengar
dan mengerti perkataan yang didengarnya.Pendengaran normal ialah keadaan dimana
orang tidak hanya dapat mendengar, tetapi juga dapat mengerti apa yang didengarnya.
(Anderson,1874)

B. KLASIFIKASI
Tuli dalam kedokteran dibagi atas 3 jenis:
1. Tuli/Gangguan Dengar Konduktif yaitu gangguan dengar yang disebabkan
kelainan di telinga bagian luar dan/atau telinga bagian tengah, sedangkan saraf
pendengarannya masih baik, dapat terjadi pada orang dengan infeksi telinga
tengah, infeksi telinga luar atau adanya serumen di liang telinga.
2. Tuli/Gangguan Dengar Saraf atau Sensorineural yaitu gangguan dengar akibat
kerusakan saraf pendengaran, meskipun tidak ada gangguan di telinga bagian luar
atau tengah.
3. Tuli/Gangguan Dengar Campuran yaitu gangguan yang merupakan campuran
kedua jenis gangguan dengar di atas, selain mengalami kelainan di telinga bagian
luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf pendengaran.

C. ETIOLOGI
Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh Suatu masalah mekanis di
dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran
suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif) yaitu :
1. Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf Pendengaran di
otak (penurunan fungsi pendengaran sensorineural).
2. Penurunan fungsi pendengaran sensorineural dikelompokkan menjadi :
a. Penurunan fungsi pendengaran sensorik (jika kelainannya terletak pada
telinga dalam.
b. Penurunan fungsi pendengaraan neural (jika kelainannnya terletak pada saraf
pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak).
3. Penurunan fungsi pendengaran sensorik bisa merupakan penyakit keturunan
Tetapi mungkin juga disebabkan oleh :
a. Trauma akustik (suara yang sangat keras)
b. Infeksi virus pada telinga dalam
c. Obat-obatan tertentu
d. Penyakit meniere.
4. Penurunan fungsi pendengaran neural bisa disebabkan oleh :
a. Tumor oatak yang juga menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf
disekitarnya dan batang otak
b. Infeksi
c. Berbagai penyakit otak dan saraf (misalnya stroke)
d. Dan beberapa penyakit keturunan (misalnya penyakit Refsum).
5. Pada anak-anak,kerusakan saraf pendengaran bisa terjadi akibat :
a. Gondongan
b. Campak jerman (rubella)
c. Meningitis
d. Infeksi telinga dalam.
e. Kerusakan jalur saraf pendengaran di otak bisa terjadi akibat penyakit
demielinasi (penyakit yang menyebabkan kerusakan pda selubung saraf).

D. GEJALA KEHILANGAN PENDENGARAN


1. Deterlorisasi wicara
Individu yang bicara dengan bagian akhir kata tidak jelas atau
dihilangkan, atau mengeluarkan kata-kata bernada datar, mungkin karena tidak
mendengar dengan baik, Telinga memandu suara, baik kekerasan maupun
ucapannya.
2. Keletihan
Bila Individu merasa mudah lelah ketika mendengarkan percakapan atau
pidato, keletihan bisa disebabkan oleh usaha keras untuk mendengarkan. Pada
keadaan ini, Individu tersebut menjadl mudah tersinggung.
3. Acuh
Individu yang tak bisa mendengar perkataan orang lain mudah
mengalami depresi dan ketidaktertarikan terhadap kehidupan secara umum.
Menarik dlri dari sosial Karena tak mampu rnendengar apa yang terjadi di
sekitarnya menyebabkan individu dengan gangguan pendengaran menarlk diri
dari situasi yang dapat memalukannya.
4. Rasa tak nyaman
Kehilangan rasa percaya diri dan takut berbuat salah menclptakan suatu
perasaan tak aman pada kebanyakan orang dengan gangguan pendengaran. Tak
ada seorang pun yang menginglnkan untuk mengatakan atau melakukan hal yang
salah yang cenderung membuatnya nampak bodoh. Tak mampu membuat
keputusan-prokrastinal.Kehilangan kepercayaan diri membuat seseorang dengan
gangguan pendengaran sangat kesulitan untuk membuat keputusan.
5. Kecurigaan
Individu dengan kerusakan pendengaran, yang sering hanya mendengar
sebagian dari yang dikatakan, bisa merasa curiga bahwa orang lain membicarakan
dirinya atau bagian percakapan yang berhubungan dengannya sengaja diucapkan
dengan lirih sehingga la tak dapat mendengarkan
6. Kebanggan semu
Individu dengan kerusakan pendengaran berusaha menyembunyikan
kehilangan pendengarannya. Konsekwensinya, ia sering berpura-pura mendengar
padahal sebenarnya tidak.Kesepian dan ketidak bahagiaan Meskipun setiap orang
selalu menginginkan ketenangan, namun kesunyian yang dipaksakan dapat
membosankan bahkan kadang menakutkan. Individu dengan kehilangan
pendengaran sering merasa(terasing).
7. Kecenderungan untuk mendominasi pembicaraan
Banyak Individu dengan kerusakan pendengaran cenderung
mendominasi percakapan, mengetahui bahwa selama pembicaraan terpusat
padanya sehingga ia dapat mengontrol maka la tidak akan melakuKan kesalahan
yang memalukan. (Seizin Maico Hearing Instruments.)

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Audiometri
Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat,
yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan
suara dengan ketinggian dan volume tertentu.Ambang pendengaran untuk
serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada
sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.
a. Audiometri ambang bicara
Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus
diucapkan supaya bisa dimengerti. Kepada penderita diperdengarkan kata-
kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada
volume tertentu.Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita
dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.
b. Timpanometri
Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur
impedansi (tahanan terhadap tekanan) pada telinga tengah. Timpanometri
digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif.
Prosedur ini tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan
biasanya digunakan pada anak-anak.Timpanometer terdiri dari sebuah
mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan
suara dan dipasang di saluran telinga.Dengan alat ini bisa diketahui berapa
banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapa banyak suara yang
dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga
2. Respon Auditoris Batang otak

Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat


rangsangan pada saraf pendengaran. Respon auditoris batang otak juga dapat
digunakan untuk memantau fungsi otak tertentu pada penderita koma atau
penderita yang menjalani pembedahan otak.
3. Elektrokokleografi
Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf
pendengaran. Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari
penurunan fungsi pendengaran sensorineural.Elektrokokleografi dan respon
auditoris batang otak bisa digunakan untuk menilai pendengaran pada penderita
yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon bawah sadar terhadap suara.
Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk
memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Otoskopik
Menggunakan alat otoskop untuk memeriksa meatus akustikus eksternus
dan membrane timpani dengan cara inspeksi :
Hasil:
a. serumen berwarna kuning, konsistensi kental
b. dinding liang telinga berwarna merah muda
2. Tes ketajaman pendengaran
a. Tes penyaringan sederhana
Hasil :
a) klien tidak mendengar secara jelas angka-angka yang disebutkan
b) klien tidak mendengar secara jelas detak jarum jam pada jarak 1-2 inchi
b. Uji ritme
Hasil :
Klien tidak mendengarkan adnya getaran garpu tala dan tidak jelas
mendengar adnya bunyi dan saat bunyi menghilang.

G. PENATALAKSANAAN
1. Membersihkan liang telinga dengan penghisap atau kapas dengan hati-hati.
Penilaian terhadap secret,oedema dinding kanalis dan membrane timpani bila
memungkinkan.
2. Terapi antibiotika local, topical dan sistemik
3. Terapi analgetik

H. PENGOBATAN
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada
penyebabnya. Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya
cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan
cairan dan kotoran tersebut.Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat
bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea.
1. Alat bantu
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan
dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga
komunikasi bisa berjalan dengan lancar. Alat bantu dengar terdiri dari:

a. Sebuah mikrofon untuk menangkap suara


b. Sebuah amplifiar untuk meningkatkan volume suara
c. Sebuah speaker untuk menghantarkan suara yang volumenya telah dinaikan.
2. Pencangkokan koklea
Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli
berat yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu
dengar.
Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari
4 bagian:
a. Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar
b. Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara
yang tertangkap oleh mikrofon
c. Sebuah transmitter dan stimulator atau penerima yang berfungsi menerima
sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik
d. Elektroda berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator