Anda di halaman 1dari 12

CEKUNGAN KUTAI

Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah Stratigrafi Indonesia

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim

Disusun Oleh : Kelompok 4 :


- Abdul Hakim 1015109
- Aji Suwandi 1014116
- Ardi Ramadan 1014114
- Danis Surya Muhammad 1014012

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINERAL INDONESIA
BANDUNG 2017
1. Pendahuluan
Cekungan kutai merupakan cekungan tersier tertua yang dan terdalam di Indonesia bagian
barat. Cekungan kutai terdapat di timur kalimantan. Luasnya mencapai 165.000 km2 dan
kedalamannya 12.000-14.000 meter. Cekungan Kutai berada di Kabupaten Kutai Kertanegara,
Provinsi Kalimantan Timur, secara geografis daerah tersebut terletak antara ( 0o - 6 o) LU, ( 0o -
9 o) LS dan 116o30 - 116o45. Cekungan Kutai di batasi oleh Mangkalihat High di bagian
utara,di sebelah selatan oleh Adang-Paternosfer fault, Kuching High di barat dan terbuka pada
bagian timur yaitu Selat Makasar.

Gambar 1. Posisi Geografi Cekungan Kutai. Upper kutai Basin (biru),


Lower kutai basin (kuning)

Secara regional di daerah Kalimantan, litologi penyusun Zona Cekungan Mahakam dan Kutai
yang tersingkap sekarang antara lain didominasi oleh Endapan Kuarter dan batuan-batuan
Sedimen berumur Paleosen (Tersier Awal) hingga Plistosen atau Kuarter Awal (W. Hamilton,
1978; Halien, 1969 dan Pupiluli, 1973 dalam Rienno Ismail, 2008).
2. Kerangka Tektonik
Proses tektonik yang berkaitan dengan sejarah pembentukan Cekungan Kutai adalah rifting
Selat Makassar sepanjang Eosen Tengah sampai Oligosen Awal (Asikin,).
Katili (1984) berpendapat bahwa Cekungan Kutai adalah sebuah aulakogen, yaitu cekungan
yang terbentuk akibat system rekahan segitiga (Triple junction rifting), yang berkaitan dengan
rifting Selat Makassar pada awal Tersier. Pendapat ini didukung pula oleh Van De Weerd dan
Armin (1992) yang menjelaskan bahwa Cekungan Kutai terbentuk pada Kala Eosen Tengah
sebagai cekungan ekstensional.
Menurut Asikin (Petroleum Geology of Indonesia Basin,1985), evolusi tektonik Kutai Basin
terdiri dari beberapa tahap, yakni :
a) Pecahnya Benua Australia dari Antartika pada jaman Jura hingga Kapur Awal, yang
ditandai dengan pergerakan lempeng Indo-Australia ke arah utara. Pada masa ini,
Kalimantan (cekungan kutai) masih berada pada lempeng Aurasia, terpisah dengan
Gonddwana oleh laut Thethyan.
b) Rifting laut Cina Selatan pada jaman Kapur Akhir yang diikuti spreading pada jaman
Eosen Tengah. Pada masa ini, Kalimantan tertelak di sebelah pualu Hainan, terpisah dari
daratan cina dan bergerak ke arah selatan sekaligus membentuk cekungan laut cina
salatan tua. Batas timur kalimantan terjadi patahan ekstensional, menyebabkan seri
patahan berarah timurlaut. Rifting ini diduga berpengaruh dengan pembentukan awal
Sundaland.
Gambar 2. Crosssection tektonik lempeng pada Kutai basin.
Pada Oligosen Miosen, Middle Eosen resen.

c) subduksi lempeng samudra Indo-Australia ke lempeng benua Sundaland dan


menghasilkan komplek subduksi Meratus pada Kapur Akhir hingga Paleosen Awal. Pada
masa ini, Kutai Ridge, yang terletak di barat danau Kutai terbentuk sebagai kemenerusan
zona subduksi Meratus. Upper Kutai Basin yang terletak pada Kutai Ridge terbentuk
sebagai cekungan muka busur (fore-arc basin) dan busur magamatik. Akibat pemodelan
ini, sekarang lower kutai basin berlaku sebagai cekungan laut (oceanic) yang tanpa
pengendapan yang berarti pada periode ini. Akhir periode ini, bagian dari Gondwana
yaitu blok Kangean-Pasternoster bertumbukan dengan subduksi Meratus. Pertemuannya
mengakibatkan aktifitas magmatik berhenti
d) Subduksi Lupar selama Peleosen Akhir hingga Eosen Tengah, sebagai hasil kemenerusan
proses rifting Laut Cina Selatan yang terus melebar. Pada masa ini kemungkian Upper
Kutai Basin merupakan busur magmatik (magmatic arc), dan lower kutai basin
merupakan sedimen belakang busur (back arc), ditandai dengan pengendapan formasi
Mangkupa dan formasi Marah/Beriun. Bagian barat cekungan terbentuk pada puncak
kerak transisonal, yang terdiri dari potongan akresi dan busur magmatik, dimana lower
kutai basin berada pada dasar kerak benua, yang merupakan bagian dari tumbukan
fragmen benua Kangean-Peternoster.
e) Tumbukan India dengan Asia pada Eosen Tengah yang di picu oleh rotasi Kalimantan.
Kejadian ini adalah hasil pengaturan ulang lempeng mayor Asia. Pergerakan muncul
searah patahan strike-slip, menyebabkan putaran Kalimantan berlawanan arah jarum jam
dengan dasar laut Sulawasi dan pembukaan dan spreading pada Laut Cina Selatan.
Pergerakan strike-slip En-echelon berasosiasi dengan pemindahan sebagian besar
fragmen selatan Asia searah patahan Red River di Indo China menuju zona Lupar di
Kalimantan, yang menyebabkan cekungan trans tension (wrench) di Laut Cina Selatan
(Cekungan Natuna) dan di Kalimantan Barat-Tengah
f) Rifting Selat Makasar yang dimulai Eosen Tengah hingga Olegosen Awal. Tekanan
berarah selatan menyebabkan ekstrusi fragmen benua selama kolisi India dengan Asia,
menyebabkan rifting tensional pada Selat Makasar sejajar dengan patahan strike-slip
paralel, dimana pengaktifan kembali struktur lama (Patahan Adang, Patahan
Mangkalihat, Baram Barat, dll). Pada periode ini cekungan Kutai adalah cekungan rift

(rift basin). Pengangkatan dan deformasi subsequen trantensional pada robekan besar
paralel di basement benua hasil rifting. Rezim robekan (shear) terbentuk akibat gaya
tekan untuk formasi cekungan, dimana butir pecahan lempeng mempengaruhi arah
cekungan (Cekungan Melawi, Ketungau, dan Kutai). Rifting dan pemisahan Sulawesi
selatan dari Kalimantan menjadikan posisi tektonik calon selat Makasar sebagai
cekungan belakang busur.
Gambar 3. Crosssection tektonik lempeng pada Kutai basin.
Pada Paleocene Eocene Tengah

g) Rifting kedua dan pembukaan laut cina sealtan pada Oligosen akhir hingga Miosen
Akhir, diikuti oleh kolisi Palawan-Reed Bank (Miosen Awal) yang mengakhiri
pemekaran/spreading (akhir Miosen Awal), menghentikan rotasi Kalimantan (Miosen
Tengah), menimbulkan subduksi Mersing (Miosen Awal) dan pengangkatan Tinggian
Kuching (Miosen Tengah). Tahap kedua dari pemekaran Laut Cina Selatan menciptakan
cekungan dengan patahan dominan berarah barat-timur. Pemekaran merupakan sebagian
hasil dari pemisahan sepanjang Red River dan pathan transform Vietnam.
h) Tumbukan fragmen benua Banggai-Sula ke Sulawesi dan pengangkatan Meratus pada
Miosen Awal. Pergerakan searaha zona lemah menyebabkan teraktivkannya kembali
sesar wrench sinistral. Kolisi tersebut dapat dihubungan dengan sumber kompresi
tektonik yang menyebabkan pengangkatan Meratus Suture, menerus ke barat datas
sedimen tersier pada Cekungan Barito.

Tektonik Plio-plisto di wilayah cekungan Kutai selat makasar yang dibatasi patahan Adang
di selatan dan Patahan Mangkalihat di utara, terlihat sebagai hasil kontrol pergerakan wrench
berarah baratlaut-tenggara pada basement akibat patahan strik-slip, yang kebanyakan
mengaktifkan kembai patahan pra-tersier. Rezim tektonik di cekungan dapat diklasifikasikan
sebagai tektonik transtension dan transpression antara dua patahan stike-slip utama.

3. Proses Sedimentasi

Berikut proses sedimentasi yang terjadi pada cekungan Kutai, dimana proses sedimentasi
pada cekungan Kutai dimulai dari Masa Paleogen, Neogen, hingga Kuarter, berikut
penjelesannya, Courtney dkk (1991) :

Endapan Paleogen
Cekungan Kutai memiliki batuan dasar yang tersusun atas asosiasi batuan
mafik dan sedimen dengan tingkat metamorfisme yang berbeda.
Batuan sedimen Tersier tertua pada stratigrafi Cekungan Kutai adalah Formasi
Boh, yang terdiri dari batu serpih, lanau, dan batupasir sangat halus. Batuan-batuan
tersebut mengandung foraminifera planktonik yang berumur Eosen Tengah. Pada
beberapa lokasi, formasi ini berasosiasi dengan batuan volkaniklastik (daerah
Mangkalihat) dan aliran Lava (ketebalan 1.400 meter). Ketebalan total dari Formasi
Boh diperkirakan sekitar 300 meter, tanpa lapisan lava. Distribusi dari perlapisan
batupasir pada formasi ini tidak diketahui.
Pada batas Eosen Tengah-Akhir, fase regresi ditunjukan oleh terjadinya
pembajian lapisan sedimen klastik yang diikuti oleh endapan laut berumur Eosen
Akhir hingga Oligosen Awal. Lapisan sedimen klastik ini diberi nama Keham Halo
Beds, suksesi lapisan batuserpih batulumpur dikenal sebagai Atan Beds. Di Sungai
Muru (Cekungan Kutai bagian selatan) dan Sungai Atan (bagian barat Kutai Tengah),
endapan ini onlap terhadap batuan dasar dan secara tidak selaras menutupi Formasi Boh.
Keham Halo Beds terdiri dari batupasir dan konglomerat dengan ketebalan antara
1.400-2.000 meter. Batupasir pada lapisan ini merupakan suatu batupasir sangat halus
dengan ketebalan 400-600 meter.
Atan Beds terdiri dari batuserpih dan batulumpur dan terkadang bersifat
karbonatan. Ketebalan dari lapisan ini sangat sulit ditentukan karena kuat nya deformasi
pada lapisan tersebut. Pengendapan dari Atan Beds diakhiri oleh fase regresi yang
diindikasikan oleh kehadiran klastik kasar (Marah Beds).

Oligosen Akhir-Miosen Tengah


Pengendapan sedimen pada Oligosen Akhir-Miosen Tengah terdiri dari sikuen
tunggal dan beberapa terdiri dari dua siklus transgresi dan regresi yang terpisahkan oleh
Klinjau Beds. Marah Beds secara tidak selaras menutupi endapan yang lebih tua.
Ketidakselarasan ini diakibatkan oleh fase tektonik yang secara intensif mempengaruhi
struktur batuan di daerah dan membentuk keadaan Cekungan Kutai saat ini.
Pengendapan dimulai pada Oligosen Akhir yang ditandai dengan pengendapan
klastik dari Marah Beds yang berubah secara berangsur menjadi serpih dan batulumpur
dari Formasi Pamaluan, yang diikuti oleh pengendapan batuan karbonat dari Formasi
Bebulu dan pada akhir pengendapannya diendapkan serpih napal dan batulanau dari
Formasi Pulau Balang yang berumur Miosen Awal-Tengah.

Miosen Tengah-Miosen Akhir


Pengendapan sedimen pada Miosen Tengah-Miosen Akhir, pada umumnya
tersusun sangat kompleks dan masih membingungkan. Dalam stratigrafi regional,
kelompok batuan ini dinamai Grup Balikpapan (Marks dkk., 1982). Bagian bawah dari
kelompok batuan ini tersusun atas batuan klastik Formasi Mentawir dan dapat
dibedakan dari bagian atasnya yang tersusun atas serpih-karbonat Formasi Mentawir.
Batupasir Formasi Mentawir memiliki ciri litologi masif, berbutir halus-sedang,
berlapis dengan serpih, lanau, dan batubara. Ketebalan unit batuan ini kurang lebih 450
meter, Secara selaras Grup Balikpapan ini ditutupi oleh Formasi Klandasan, yang
tersusun atas serpih, napal dan karbonat. Ke arah barat, Formasi Klandasan semakin
intensif tererosi. Batupasir basal dengan ketebalan 1000 meter berubah secara
berangsur menjadi lanau dan serpih. Formasi Klandasan dengan interval karbonat
dikenal dengan Formasi Meruat, yang berangsur ke arah basinward menjadi napal.
Formasi Sepinggan menutupi Formasi Klandasan secara selaras. Formasi
Sepinggan disusun oleh sikuen serpih-batulumpur dengan ketebalan kurang lebih 1.000
meter. Di bagian barat laut dari Cekungan Kutai, unit sikuen pengendapan ini menyatu
menjadi sikuen serpih-napal (Birah-1) yang membentuk unit batuan Bongas Beds. Di
daerah Runtu-Agar dan Sangatta, interkalasi batupasir sangat halus dan batubara
mencirikan endapan delta bagian distal dari bagian timur kompleks delta prograding
yang menyatu dengan klastik anggota Grup Balikpapan. Sikuen ini dikenal dengan
Formasi Sangatta (batubaraan) dengan ketebalan mencapai 2.200 meter.
Pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir, proses sedimentasi ditutup oleh
regresi pada Miosen Akhir, yang diindikasikan oleh pembajian klastik yang
membentuk bagian dari Formasi Kampung Baru.

Pliosen dan Kuarter


Formasi Kampung Baru dapat dikenali dengan baik pada area tepi pantai di
daerah tenggara dari Cekungan Kutai (daerah Balikpapan), yang secara tidak selaras
menutupi Formasi Balikpapan. Formasi ini tersusun atas batupasir, batulanau dan serpih
yang kaya akan batubara. Klastik yang ebih kasar umumnya lebih banyak terdapat
pada bagian bawah dari formasi ini dengan ketebalan 30-120 meter. Batupasir ini
membaji ke arah timur menjadi unit serpih seluruhnya. Unit klastik pada bagian atas
lapisan ini merupakan sebuah bukti transgresi pada pliosen awal. Ke arah basinward unit
ini bergradasi menjadi fasies karbonat (Batugamping Sepinggan).
4. Stratigrafi

Berikut merupakan urutan stratigrafi dari batuan pada Cekungan kutai, dari tua ke muda :
a. Basement
Hanya diketahui dari batas cekungan, terdiri dari bataan mafik dan batuan
sedimen yang menunjukkan variasi metamorfisma. Dari data pemboran, terdapat
basement vulkanik berusia sekitar Kapur.

b. Boh beds
Merupakan endapan tertua, terdiri dari shale, silt, dan batupasir halus.
Singkapan in hanya ditemui pada upper Mahakam dan sungai Boh dan lokasinya
dekat dengan semenanjung Mangkalihat dan juga merupakan bata utara cekungan.
Secara lokal kadang ditemui konglomerat basaltik dan vulkanoklastik.

c. Formasi Keham Halo


Berusia Eosen Tengah hingga Eosen Akhir. Terdiri dari batupasir dan
konglomerat. Formasi ini mempunyai ketebalan 1400 2000 m. horizon tufaan juga
terlihat pada formasi ini. Formasi Keham Halo berpotensi menjadi reservoir karena
penyebarannya meluas hingga batas cekungan.

d. Formasi Atan
Berusia Oligosen Awal hingga Oligosen Akhir. Mengandung shale dan
mudstone, kadang gampingan. Ketebalan diperkirakan 200-400m. Terdapat
interkalasi batugamping di upper sungai Mahakam, interkalasi batupasir halus juga
terdapat dalam formasi Atan. Pengendapan formasi Atan terputus karena fase
regresif, ditandai dengan klastik kasar berusia Oligosen Akhir (Formasi Marah)

e. Formasi Marah
Dimana Formasi Marah diendapkan secara tidak selaras menutup formasi yang
lebih tua, akibat proses tektonik yang menyebabkan terjadinya struktur tersebut.
Terdiri dari batupasir, konglomerat dan vulkaniklastik. Kadang muncul perselingan
shale dan batubara. Endapan ini berasal dari arah barat, kemunculan endapan ini
tidak diketahui di bagian timur, tapi diyakini endapan ini mencapai daerah sungai
Mahakam saat ini.

f. Formasi Pamaluan
Secara selaras diendapkan di atas formasi Atan. Didominasi sikuen shale-
siltstone dan mencapai ketebalan hingga 1000m. Terdapat fosil yang berusia N3
sampai N5.
Formasi Pamaluan. Terdiri dari batugamping yang mencapai ketebalan 100-
200m. Umurnya sekitar N6 N7. batugamping yang ada kebanyakan berasal dari
reefal buildup.

g. Formasi Pulaubalang
Formasi Pulaubalang. Mengandung batugamping Bebulu, unit mudstone-shale
yang berselingan dengan batugamping dan batupasir. Mencapai ketebalan 1500m.
Umur formasi berdasar fosil sekitar N8 N9.

h. Formasi Mentawir.
Terdiri dari batupasir masiv, berbutir halus hingga sedang, berselingan dengan
lapisan shale, silt dan batubara. Tebalnya 540m di Balikpapan dan menipis kearah
laut.

i. Formasi Klandasan.
Berada di barat formasi Mentawir, terdiri dari batupasir basal yang bertahap
berubah menjadi silt dan akhirnya hilang.

j. Formasi Kampung Baru.


Berusia Miosen Tengah hingga Miosen Akhir. Terdiri dari batupasir, silt, dan
shle dan kaya akan batubara. Kalstik kasar dimonan terdapt di dasar formasi. Data
sumur menunjukkan bagian tengah formasi terdapat fasies delta plein delta front
dan prodelta.
k. Formasi Sepingan.
Merupakan fasies karbonat. Berisi batugamping yang menjemari dengan
formasi kampung baru.

Gambar 4. Kolom stratigrafi Kutai basin


Tektonik Cekungan Kutai

5. Literatur

https://www.scribd.com/doc/240232690/Stratigrafi-Cekungan-Kutai-PAPER
https://www.scribd.com/document/262934273/Cekungan-Kutai-Kalimantan-Timur