Anda di halaman 1dari 7

KARBONDIOKSIDA: LIMBAH DAN NUTRIEN*

(* Carbon Dioxide: Waste, Nutrient by C. E. Boyd. PhD in


Global Aquaculture Advocate July/August 2008)

Karbondioksida merupakan nutrien sekaligus limbah dalam budidaya.


Banyak teknisi tambak merasakan bahwa aplikasi bahan organik dapat
meningkatkan karbondioksida dan dapat menurunkan pH serta mengontrol BGA
(blue green algae). Secara umum pengaruh meningkatnya konsentrasi
karbondioksida dalam air adalah menurunkan efisiensi respirasi dan toleransi
hewan akuatik terhadap konsentrasi oksigen rendah.

Karbondioksida merupakan nutrien sekaligus produk limbah dalam


budidaya. Fitoplankton membutuhkan karbondioksida untuk fotosintesa. Semua
organisme melepaskan karbondioksida sebagai hasil respirasi, dan konsentrasi
yang tinggi dari metabolit ini bisa membahayakan hewan akuatik. Konsentrasi
karbondioksida juga merupakan faktor utama dalam mengontrol pH air.

Karbondioksida Atmosfer

Atmosfer merupakan tampungan karbondioksida yang sangat luas. Rata-


rata kandungan karbondioksida dalam atmosfer adalah 315 ppm pada tahun
1950an dan 280 ppm sebelum revolusi industry. Pembaca tak perlu meragukan
hal tersebut karena meningkatnya karbondioksida atmosfer yang diakibatkan oleh
pemanasan global.
Karbondioksida bersifat masam, karena karbondioksida bereaksi dengan air
membentuk asam karbonat. Asam ini terurai menjadi ion hidrogen dan ion
bikarbonat.

Air hujan menjadi jenuh karbondioksida ketika turun dan bersentuhan


dengan udara. Pada konsentrasi karbondioksida atmosfer saat ini, pH air hujan
normalnya 5,6. Karena air hujan bersifat asam, ada daerah-daerah tertentu
dimana terjadi polusi atau atmosfer mengandung sulfur dioksida dan cemaran
lain akibat pembakaran bahan bakar mengakibatkan nilai pH jauh lebih rendah,
yang kadang-kadang menurun hingga dibawah 4.

Karbondiokasida dalam Budidaya

Konsentrasi saturasi karbondioksida dalam air murni sangat rendah (Tabel


1). Sedikit air hujan saja akan memacu dissolusi kapur dan kalsium silikat di tanah
dan bentukan geologis lainnya yang menghasilkan ion bikarbonat dan ion kalsium
yang berturut-turut merupakan sumber alkalinitas dan hardness.
Tabel 1. Kelarutan CO2 (mg/l) pada air murni dengan perbedaan suhu dan salinitas
Salinitas (ppt)
Suhu (C)
0 10 20 30 40
0 1,09 1,03 0,98 0,93 0,88
5 0,89 0,85 0,81 0,77 0,73
10 0,75 0,71 0,68 0,64 0,61
15 0,63 0,60 0,57 0,54 0,52
20 0,54 0,51 0,49 0,47 0,45
25 0,46 0,44 0,42 0,41 0,39
30 0,40 0,39 0,37 0,35 0,34
35 0,35 0,34 0,33 0,31 0,30
Dalam suatu sistem percobaan dengan menempatkan kapur kalsit dalam air
suling dan membiarkannya berada dalam kesetimbangan dengan atmosfer, total
alkalinitasnya akan menjadi sekitar 58 mg/l, namun di perairan bebas dan di
kolam budidaya, konsentrasi total alkalinitas tersebut lebih tinggi. Di daerah yang
tanahnya berkapur, alkalinitas di kolam budidaya bisa lebih dari 150 mg/l dan
bahkan di daerah tandus, nilai pH bisa lebih tinggi lagi. Air laut biasanya
mengandung alkalinitas 142 mg/l.

Konsentrasi karbon anorganik tersedia untuk tumbuhan air jauh lebih besar
pada sistem dimana karbondioksida berada dalam kesetimbangan dengan kalsium
karbonat dan karbonat terlarut dibandingkan pada air murni dimana
kesetimbangan tersebut hanya antara karbondioksida atmosfer dan
karbondioksida terlarut saja. Ketika tumbuhan menyerap karbondioksida pada
sistem alami dan pada kolam budidaya, kekurangan karbondioksida diambil dari
bikarbonat. Untuk mengilustrasikannya, pada suhu 25C dan pH 7, air dengan
total alkalinitas 50 mg/l akan mengandung sekitar 15 mg/l karbon yang tersedia.
Air murni dalam kesetimbangan dengan udara pada suhu 25C mengandung
kurang dari 1 mg/l karbon tersedia.

Pengaplikasian material kapur ke perairan yang alkalinitasnya rendah untuk


meningkatkan pH juga akan meningkatkan alkalinitas dan ketersediaan karbon
anorganik untuk tumbuhan. Dissolusi material kapur dan kaitannya dengan
peningkatan alkalinitas bisa dipercepat dengan pengaplikasian material kapur dan
bahan organik ke kolam secara terus-menerus. Bakteri mendekomposisi bahan
organik untuk meningkatkan jumlah karbondioksida yang tersedia untuk bereaksi
dengan material kapur.

Relevansi Fitoplankton

Pada siang hari, fitoplankton menyerap karbondioksida dari air lebih cepat
yang yang dilepaskan dalam proses pernapasan, sehingga mengakibatkan
penurunan konsentrasi karbondioksida dan peningkatan pH (Gambar 1). Di
perairan yang alkalinitasnya dibawah 50 mg/l, pH bisa meningkat hingga 9,5 atau
lebih sebagai akibat dari laju fotosintesa yang tinggi. Kenaikan pH tsb biasanya tak
sebesar di perairan yang alkalinitasnya 50-200 mg/l karena buffering oleh
alkalinitas menekan perubahan pH. Perairan dengan konsentrasi alkalinitas tinggi
seringkali pHnya tetap tinggi.

Fitoplankton menggunakan karbondioksida (selama karbondioksida


tersedia). Sebagian besar species alga bisa memperoleh karbon dari bikarbonat
ketika pH diatas 8,3. Pengambilan karbon dari bikarbonat oleh tumbuhan
mengakibatkan pelepasan ion karbonat ke air. Karbonat sangat alkalin dan
selanjutnya menyebabkan peningkatan pH. Namun, kalcium bereaksi dengan
karbonat dan membatasi peningkatan pH.

Blue green algae lebih efisien dalam memanfaatkan level karbondioksida


yang rendah dibandingkan dengan jenis alga lain dan mengambil karbon dari
bikarbonate. Oleh karena itu, kelimpahan BGA sering meningkat di perairan yang
kaya nutrien, dimana pH cenderung terus meningkat akibat penyerapan karbon
anorganik untuk fotosintesa.

Banyak studi menunjukkan bahwa BGA sering tergantikan oleh fitoplankton


lain yang lebih menguntungkan ketika karbondioksida dalam kolom air
meningkat. Oleh karena itulah banyak petambak merasa bahwa aplikasi bahan
organik untuk menyediakan karbondioksida tambahan bisa bermanfaat untuk
menurunkan pH dan mengontrol BGA.

Konsentrasi Karbondioksida

Konsentrasi karbondioksida di kolam budidaya biasanya 5-10 mg/l di pagi


hari, namun bisa lebih dari 30 mg/l di kolam yang input pakannya tinggi.
Konsentrasi karbondioksida biasanya tertinggi ketika konsentrasi DO terrendah.
Karbondioksida tak bersifat toksik terhadap ikan dan hewan akuatik lainnya,
namun ikan biasanya menghindari konsentrasi karbondioksida diatas 5 mg/l.
Konsentrasi karbondioksida lebih dari 20 mg/l bisa menyebabkan stress hewan
akuatik jika terekpose berjam-jam. Level karbondioksida lebih dari 60 mg/l bisa
menyebabkan efek bius dan konsentrasi yang lebih tinggi bias menyebabkan
kematian.

Konsentrasi karbondioksida yang tinggi di air mengganggu ekskresi


karbondioksida melalui insang ikan. Hal ini menyebabkan meningginya
konsentrasi karbondioksida dalam plasma darah. Kondisi ini menurunkan
kemampuan haemoglobin untuk mengikat oksigen dan menurunkan penyerapan
oksigen oleh darah di insang, bahkan ketika konsentrasi DO yang tinggi.

Secara umum, pengaruh meningkatnya karbondioksida di air adalah


menurunkan efisiensi respirasi dan toleransi hewan akuatik terhadap konsentrasi
oksigen yang rendah. Oleh sebab itu, hindari konsentrasi karbondioksida yang
tinggi, terutama ketika konsentrasi DO rendah kurang dari 25% saturasi.
Aerasi mekanis membantu meningkatkan oksigen terlarut dan membuang
karbondioksida. Oleh karena itu, kondisi dimana DO rendah dan karbondioksida
meningkat bisa terjadi di pagi hari yang terutama menjadi masalah jika tak ada
aerasi mekanis.

Air Bor

Air yang meresap masuk dan turun ke tanah bisa terkurangi oksigennya dan
karbondioksida akan lewat jenuh pada saat melewati root zone. Air tanah sering
mengandung karbondioksida tinggi dan DO rendah. Jika air sumur digunakan
sebagai sumber air kolam, biasanya tak banyak berpengaruh terhadap species
budidaya.
Untuk keperluan hatchery sebaiknya air tersebut diaerasi untuk
meningkatkan DO dan membuang karbondioksida. Dan biasanya membutuhkan
aerasi yang lebih banyak sehingga air jenuh oksigen terlarut dan menurunkan
karbondioksida. Air tanah dengan konsentrasi karbondioksida tinggi yang
digunakan untuk kolam budidaya biasanya tak berefek negatif terhadap
organisme budidaya.

Pembuangan Karbondioksida

Karbondioksida bisa dibuang dari air dengan treatment kapur, kalsium


oksida atau kalsium hidroksida. Oleh karena itu, kapur dapat diaplikasikan ke
kolam ketika terjadi krisis DO rendah untuk membuang karbondioksida dan
membiarkan ikan untuk menggunakan DO yang ada secara lebih efisien.
Berdasarkan pada hubungan kimia, pembuangan 1 mg/l karbondioksida
membutuhkan sekitar 0,84 mg/l kalsium hidroksida atau 0.64 mg/l kalsium
oksida. Namun, karena kapur tak cepat melarut dan bereaksi sempurna dengan
karbondioksida sehingga secara teoritis dikatakan bahwa dosis tersebut sebaiknya
dilipatkan.