Anda di halaman 1dari 13

Nama : Fatmawati imran

Nim : 152042013

Jurusan : Hukum Ekonomi Syariah

Fakultas : Syariah

Mata kuliah : Hukum Adat

A. Unsur-unsur hukum adat

Berikut ini adalah unsur-unsur hukum adat:

Adanya tingkah laku yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat. Tingkah laku
tersebut teratur dan sistematis serta memiliki nilai sacral
Terdapat keputusan kepala adat.
Adanya sanksi hukum
Tidak tertulis.
Ditaati oleh masyarakat.

Menurut soerodjo wignjodipore, S.H. hukum adat memiliki dua unsure, yakni: unsure
kenyataan dan unsure psikologis

Unsur kenyataan, bahwa adat itu dalam keadaan yang sama selalu di indahkan oleh
rakyat.
Unsur psikologis, bahwa terdapat keyakinan pada rakyat bahwa adat dimaksud memiliki
kekuatan hukum,
B. Bidang-bidang hukum adat

Hukum Adat meliputi:

1. Hukum Negara
2. Hukum Tata Usaha Negara,
3. Hukum Pidana (Supomo: Hukum Adat delik),
4. Hukum Perdata,
5. Hukum Antar Bangsa Adat.

Sistem hukum Adat sesungguhnya tidak mengenal pembagian hukum dalam dua
golongan: hukum privat/sipil dan hukum publik. Pembangian yang demikian ini adalah
diintrodusir oleh para sarjana hukum Barat (Belanda) yang memiliki sistematik hukum yang
melandaskan pada pengolongan yang demikian itu.
C. Landasa filosofi dan yuridis hukum adat
1. Dasar filosofi

Adapun yang dimaksud dasar filosofis dari Hukum Adat adalah sebenarnya nilai-nilai
dan sifat Hukum Adat itu sangat identik dan bahkan sudah terkandung dalam butir-butir
Pancasila. Sebagai contoh, religio magis, gotong royong, musyawarah mufakat dan keadilan.
Dengan demikian Pancasila merupakan kristalisasi dari Hukum Adat.

Dasar Berlakunya Hukum Adat ditinjau dari segi Filosofi Hukum Adat yang hidup,
tumbuh dan berkembang di indonesia sesuai dengan perkembangan jaman yang berfiat luwes,
fleksibel sesuai dengan nilai-nilai Pancasila seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD
1945. UUD 1945 hanya menciptakan pokok-pokok pikiran yang meliputi suasana kebatinan
dari UUD RI. Pokok pokok pikiran tersebut menjiwai cita-cita hukum meliputi hukum negara
baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dalam pembukaan UUD 1945 pokok pokok
pikiran yang menjiwai perwujudan cicta-cita hukum dasar negara adalah Pancasila.
Penegasan Pancasila sebagai sumbertertib hukum sangat berarti bagi hukum adat karena
Hukum Adat berakar pada kebudayaan rakyat sehingga dapat menjelmakan perasaan
hukum yang nyata dan hidup dikalangan rakyat dan mencerminkan kepribadian masyarakat
dan bangsa Indonesia (Wignjodipoero, l983:14). Dengan demikian hukum adat secara filosofis
merupakan hukum yang berlaku sesuai Pancasila sebagai pandangan hidup atau falsafah hidup
bangsa Indonesia.

2. Dasar yuridis

Dasar Berlakunya Hukum Adat Ditinjau Secara Yuridis dalam Berbagai Peraturan
Perundang-undangan Mempelajari segi Yuridis dasar berlakunya Hukum Adat berarti
mempelajari dasar hukum berlakunya Hukum Adat di Indonesia. Berdasarkan fakta sejarah
dapat dibagi dalam dua periode yaitu pada jaman Kolonial (penjajahan Belanda dan Jepang)
dan jaman Indonesia Merdeka.

a) Jaman Kolonial (Penjajahan Belanda dan Jepang)


Pada waktu itu istilah untuk menyebut Hukum Adat dengan berbagai macam
yaitu: (1) UU agama, (2)l Lembaga-lembaga golongan bumi putra dan (3) Kebiasaan golongan
bumi putra sepanjang tidak bertentangan dengan asas-asas yang diakui umum tentang
kepatutan dan keadilan (4), (5) dan seterusnya tidak begitu penting bagi hukum adapt (6). Jika
hukum adat tidak mengatur tentang suatu perkara yang diajukan ke pengadilan maka
hakim memberikan keadilan kepada golongan bumi putra mengambil asas-asas umum
dari hukum perdata Eropa.

b) Jaman Kemerdekaan Indonesia


1) Ketentuan UUD NRI 1945

Dalam pasal 18 b ayat (2) Undang Undang Dasar NRI 1945 Negara mengakui dan
menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai den gan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang
diatur dalam UU. Beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan nasional yang
memperkuat berlakunya hukum adat di Indonesia pada saat ini antara lain :

Ketetapan MPRS nomor II/ MPRS/ l960


UU Drt nomor 1 tahun 1951
UU nomor 5 tahun 1960
UU Nomor 41 tahun l999
PP nomor 21 tahun 1971
UU Nomor 4 Tahun 2004
UU no 1 tahun l974
UU nomor 16 tahun 1985
PP nomor 24 tahun 1997
UU NO.31 TAHUN 2004 Tentang Perikanan
UU No.22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi
D. Landasan sosiologis hukum adat

Hukum yang berlaku di suatu negara merupakan suatu sistem artinya bahwa hukum itu
merupakan tatanan, merupakan satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian-bagian atau
unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dengan kata lain bahwa sistem hukum
adalah suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama
lainnya dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan. Keseluruhan tata hukum nasional yang
berlaku di Indonesia dapat disebut sebagai sistem hukum nasional. Sistem hukum berkembang
sesuai dengan perkembangan hukum. Selain itu sistem hukum mempunyai sifat yang
berkesinambungan, kontinyuitas dan lengkap.

Dalam sistem hukum nasional wujud/ bentuk hukum yang ada dapat dibedakan
menjadi hukum tertulis ((hukum yang tertuang dalan perundang-undangan) dan hukum yang
tidak tertulis (hukum adat, hukum kebiasaan).

Hukum yang berlaku di suatu negara dapat dibedakan menjadi hukum yang benar-benar
berlaku sebagai the living law (hukum yang hidup) ada hukum yang diberlakukan tetapi tidak
berlaku sebagai the living law. Sebagai contoh Hukum yang berlaku dengan cara
diberlakukan adalah hukum tertulis yaitu dengan cara diundangkan dalam lembaran negara.
Hukum tertulis dibuat ada yang berlaku sebagai the living law tetapi juga ada yang tidak
berlaku sebagai the living law karena tidak ditaati/ dilaksanakan oleh rakyat.

Hukum tertulis yang diberlakukan dengan cara diundangkan dalam lembaran negara
kemudian dilaksanakan dan ditaati oleh rakyat dapat dikatakan sebagai hukum yang hidup (the
living law.)

Hukum adat sebagai hukum yang tidak tertulis tidak memerlukan prosedur/ upaya seperti
hukum tertulis, tetapi dapat berlaku dalam arti dilaksanakan oleh masyarakat dengan sukarela
karena memang itu miliknya. Hukum adat dikatakan sebagai the living law karena Hukum adat
berlaku di masyarakat, dilaksanakan dan ditaati oleh rakyat tanpa harus melalui prosedur
pengundangan dalam lembaran negara. Berbagai istilah untuk menyebut hukum yang tidak
tertulis sebagai the living law yaitu ( People law, Indegenous law, unwritten law, common
law, customary law dan sebagainya).
E. Sendi-sendi hukum adat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Sendi merupakan dasar, azas, atau
pedoman, dan fundamen. Maka, secara harfiyah dapat di pahami bahwa maksud dari Sendi-Sendi
Hukum Adat adalah pedoman dasar karakteristik system hukum adat di Indonesia.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mejemuk, terdiri dari sekitar 742 bahasa
daerah dan sekitar 1.128 suku dan etnis, sudah barang tentu mempunyai kebiasaan dan adat yang
berbeda pula. Namun kemajemukan masyarakat Indonesia tersebut tidak mempengaruhi sendi
dasar dari hukum adat setiap daerah. Itulah sebabnya masyarakat di luar Indonesia sangat tertarik
untuk meneliti bangsa Indonesia yang meski begitu banyak suku, namun system gotong-royong
dan kerja sama selalu menjadi pilar utama masyarakat Indonesia.
F. Persekutuan hukum adat

Persekutuan hukum (rechtsgemeenschap) adalah perikatan atau perkumpulan antar


manusia yang mempunyai anggota-anggota yang merasa dirinya terikat satu-sama lainnya dalam
satu kesatuan yang penuh solidaritas, dimana dalam anggota-anggota tertentu berkuasa untuk
bertindak atas nama mewakili kesatuan itu dalam mencapai kepetingan atau tujuan bersama.

Beberapa contoh persekutuan hukum adalah :

Famili di Minangkabau :

Tata susunan yang tetap yang disebut rumah Jurai

Pengurus sendiri yaitu yang diketuai oleh Penghulu Andiko, sedangkan Jurai dikepalai oleh
seorang Tungganai atau Mamak kepala waris.

Harta pusaka sendiri

Terbentuknya Persekutuan Hukum ada tiga asas atau macam, yaitu :

1. Persekutuan Hukum Genealogis

Pada persekutuan hukum (masyarakat hukum) genealogis dasar pengikat utama anggota
kelompok adalah persamaan dalam keturunan, artinya anggota-anggota kelompok itu terikat
karena merasa berasal dari nenek moyang yang sama.

a) Masyarakat yang patrilineal

Pada masyarakat yang patrilineal ini susunan masyarakatnya ditarik menurut garis
keturunan dari bapak (garis laki-laki), sedangkan garis patrilineal ibu disingkirkan. yang
termasuk kedalam masyarakat patrilineal ini misalnya marga genealogis orang batak yang
mudah dikenal dari nama-nama marga(satu turunan) mereka seperti, Sinaga, Simatupang,
Situmorang, Pandiangan,Nainggolan, Pane, Aritonang, Siregar dan sebagainya. Masyarakat
yangpatrilineal ini terdapat juga di Nusa Tenggara (Timor), Maluku dan Irian.

b) Masyarakat yang matrilineal

Pada masyarakat yang matrilineal, dimana susunan masyarakat ditarik menurut garis
keturunan Ibu (garis perempuan), sedangkan garis keturunan bapak disingkirkan. Yang termasuk
kedalam masyarakat matrilineal ini adalah masyarakat Minangkabau. Masyarakat matrilineal ini
tidak mudah dikenalkarena mereka jarang sekali menggunakan nama-nama keturunan sukunya
secara umum. Suku dalam masyarakat Minangkabau sama dengan margadalam masyarakat
Batak.

c) Masyarakat yang bilateral atau parental

Pada masyarakat yang bilateral/parental, susunan masyarakatnya ditarik dariketurunan


orang tuanya yaitu Bapak dan Ibu bersama- sama sekaligus. Jadi hubungan kekerabatan antara
pihak bapak dan ibu berjalan seimbang atausejajar, masing-masing anggota kelompok masuk
kedalam klen Bapak dan klen Ibu, seperti terdapat di Mollo (Timor) dan banyak lagi di
Melanesia. Tetapikebanyakan sifatnya terbatas dalam beberapa generasisaja seperti
dikalanganmasyarakat Aceh, Melayu, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.

2. Persekutuan Hukum Teritorialis

Dasar dari pada ikatan-ikatan anggota persekutuan hukum territorials (wilayah) ialah
hubungan bersama terhadap suatu daerah yang sama atau tertentu, contoh dari pada masyarakat
territorials ini dalah didesa Jawa, Sunda,Madura dan Bali. Adapun persekutuan masyarakat
territorials dapat dibagi menjadi tiga pusat yang masing-masing menjadi pusatnya dibagi bentuk-
bentuk tetap dan bentuk peralihan, yaitu:

a) Persekutuan desa (masyarakat dusun)

Yang dinamakan dengan persekutuan desa adalah apabila suatu tempat kediaman
bersama mengikat suatu persekutuan manusia diatas daerahnya sendiri, mungkin bersama-sama
dengan beberapa dusun yang tak bebas dan yang terletak disebelah pedalaman sedikit, sehingga
segala kepentingan rumah tangga seluruh wilayahnya diselenggarakan oleh suatu badan tata
urusan pusat yang merupakan satu-satunya badan tata urusan yang berwibawa diseluruh
wilayahya. Contoh dari persekutuan desa kita jumpai di Jawa, Madura dan Bali.

b) Persekutuan daerah (masyarakat wilayah)

Persekutuan Daerah adalah suatu daerah tertentu yang terdiri dari beberapa desa dan
masing-masing desa mempunyai tata-susunan dan pemerintahan sendiri yang dikepalai oleh
pejabat-pejabat yang memegang kedudukan sejenis, sehingga masing-masing desa dalam batas
kemandirian (otonomi) tertentu mengurus kepantingan rumah tangganya sendiri. (misal : Kuria
di Angkola dan Mandailing yang mempunyai hutan-hutan di daerahnya; Marga di Sumatera
Selatan dengan dusun-dusun di daerahnya).

c) Perserikatan Desa (persekutuan beberapa desa),

Yang dikatakan perserikatan desa ialah apabila persekutuan-persekutuan desa, masing-


masing lengkap dengan pemerintahan dan daerahsendiri dan terletak berdekatan dan
mengadakan perjanjian untuk memeliharakepentingan bersama atau suatu hubungan yang
berdasarkan tradisi dandengan mengadakan suatu pemerintahan yang bersifat kerja sama antara
pemerintah tersebut. Sedangkan kepada desa-desa yang tergabung (bersama) itu tidak diberikan
hak wilayah sendiri (contohnya, Batak bagian tengah).

3. Persekutuan Hukum Genealogis Territorials

Yaitu gabungan antara persekutuan geneologis dan territorial, misalnya di Sumba, Seram.
Buru, Minangkabau dan Renjang. Setiap persekutuan hukum dipimpin oleh kepala persektuan,
oleh karena itu kepala persekutuan mempunyai tugas antara lain :

1. Tindakan-tindakan mengenai tanah, seperti mengatur penggunaan tanah, menjual, gadai,


perjanjian-perjanjian mengenai tanah, agar sesuai dengan hukum adat.
2. Penyelenggaraan hukum yaitu pengawasan dan pembinaan hukum.
3. Sebagai hakim perdamaian desa.
4. Memelihara keseimbangan lahir dan batin
5. Campur tangan dalam bidang perkawinan
6. Menjalankan tugasnya pemerintahannya secara demokrasi dan kekeluargaan
7. dan lain-lain

Ada lima jenis bentuk persekutuan Hukum Genealogis Territorials menurutSoepoemo.

1. Suatu daerah atau kampong yang dipakai sebagai tempat kediaman oleh hanya satu
bagian golongan (clanded). Tidak ada golongan lain yang tinggal didalam daerah itu.
Daerah atau kampong-kampong yang berdekatan juga dipakai sebagai tempat tinggal
oleh hanya satu bagian clan.

2. Di Tapanuli terdapat tata susunan rakyat sebagai berikut. Bagian-bagian calan (marga)
masing-masing mempunyai daerah tersendiri, akan tetapi didalam daerah tertentu dari
suatu marga, didalam huta-huta yang didirikan oleh suatu marga itu, ada juga terdapat
satu atau beberapa marga lain yang masukmenjadi anggota badan persekutuan huta
didaerah itu, yang mendirikan huta-huta didaerah tersebut, disebut marga asal, marga
raja, atau marga tanah, yaitu marga-marga yang menguasai tanah-tanah didaerah itu,
sedang marga-marga yang kemudian masuk didaerah itu disebut marga rakyat.
Kedudukan suatu marga rakyat didalam suatu huta adalah kurang daripada kedudukan
marga raja. Antar marga rakyat dan marga asal ada hubungan perkawinanya yang erat.

3. Jenis ketiga dari suatu persekutuan masyarakat hukum adat genealogis territorial ialah
yang kita dapati di Sumba Tengah dan Sumba Timur. Disitu terdapat suatu clan yang
mula-mula mendiami suatu daerah yang tertentu dan berkuasa didaerah itu, akan tetapi
kekuasaan itu kemudian berpindah kepada clan lain, yang masuk kedaerah tersebut
dan merebut kekuasaan pemerintah dari clan yang asli itu. Kedua clan itu kemudian
berdamai dan bersama-samamerupakan kesatuan badan persekutuan daerah kekuasaan
pemerintah dipegang oleh clan yang datang kemudian, sedangkan clan yang asli
tetapmenguasai tanah-tanah didaerah itu sebagai wali tanah.

4. Jenis keempat dari suatu persekutuan masyarakat hukum adat genealogis territorial ialah
ini kita dapati dibeberapa nagari Minangkabau dan dibeberapa marga di Bengkulu. Disitu
tidak ada golongan yang menumpang atau menguasai tanah, melainkan segala golongan
suku yang bertempat didaerah nagari yang berkedudukan sama (setingkat) dan bersama-
sama merupakan suatu badan persekutuan territorial (nagari) sedang daerah nagari itu
terbagi dalam daerah-daerah golongan (daerah suku) dimana tiap-tiap golongan
mempunyai daerah sendiri-sendiri.

5. Jenis kelima dari suatu persekutuan masyarakat hukum adat genealogis territorial ialah
terdapat dinagari-nagari lain di Minangkabau dan pada dusundidaerah Rejang
(Bengkulen), dimana dalam satu nagari atau dusun berdiambeberpa bagian clan, yang
satu sama lain tidak bertalian family. Seluruhdaerah-daerah nagari atau dusun menjadi
daerah bersama (yang tidak dibagi-bagi) dan segala bagian clan pada badan persekutuan
nagari (dusun) itu.

G. Ciri-ciri masyarakat hukum adat

Cirri-ciri masyarakat hukum adat:

Adanya kesatuan kelompok manusia


Terdapat pemerintahan yang berwenang
Peraturan bersifat memaksa
Mempunyai wilayah sebagai wilayah kekuasaan
Rasa solidaritas yang tinggi
Harta kekayaan kelompok untuk kesejahteraan anggota
Pada setiap warga masyarakat tidak terdapat pemikiran tentang pembubaran
masyarakatnya.
Keberadaannya sebagai suatu yang bersifat meta yuridis.

H. Hukum tanah adat

HUKUM TANAH ADAT


Joeni Arianto Kurniawan Makna Tanah dalam Hukum Adat Dalam pandangan adat
masyarakat kita, tanah mempunyai makna yang sangat penting. Yakni antara lain:
Sebagai tempat Tinggal dan mempertahankan
Sebagai tempat tinggal dan mempertahankan kehidupan
Alat pengikat masyarakat dalam suatu persekutuan
Sebagai modal (aset produksi) utama dalam suatu persekutuan
Hak Ulayat
Disebut juga sbg: Hak purba (Djojodigoeno), Hak pertuanan (Soepomo)
Yaitu hak yg dimiliki oleh suatu persekutuan hukum adat ( sehingga sifatnya merupakan
hak bersama) untuk menguasai seluruh tanah beserta segala isinya dalam lingkungan
wilayah persekutuan tersebut.
Merupakan hak atas tanah yang tertinggi dalam hukum adat.
I. hukum utang piutang adat

Contohnya seperti orang tua kita sangat membutuhkan uang untuk menikahkan anaknya,
dan orang tua kita hanya memiliki sabidang sawah yang belum panen, terus sawah ini digadeikan
kepada orang yang meminjamkan uang sebesar Rp.5.000.000, pengembaian uang tersebut
selama lima tahun, jikan selama lima tahun juga belum dikembalikan uang yang dipinjamkan
seharga Rp. 5.000.000 tersebut, tidak bisa kembali sawah yang digadaikan sebelum uang itu
dikembalikan kepada orang yang meminjamkan uang.

Disini kita bisa liat bahwa bukan nilainya yang didapat, tapi nilai yang kita dapat saat kita
perlu uang itu.

J. hukum perorangan adat

Ruang lingkup hukum perorangan adat, yaitu

antara lain:

Hukum perorangan pada PRINSIP nya mengatur hak dan kewajiban dari subyek hukum.

Subyektum Yuris

Subyek hukum dalam hukum Adat ; manusia dan badan hukum (badan hukum yang ada
antara lain, desa, suku nagari, wakaf, yayasan, dll)

Manusia Sebagai Subyektum Yuris

Wenang hukum (kecakapan berhak) = semua orang baik pria maupun wanita dalam
hukum adat diakui mempunyai wenang hukum (kecakapan berhak) yang sama.

Cakap hukum atau cakap untuk melakukan perbuatan hukum (kecakapan bertindak)=
orang-orang baik pria maupun wanita yang sudah dewasa.

Badan Hukum sbg Subyektum Yuris

- Persekutuan (desa, nagari, famili, marga, dll)

1. Wakaf

2. Yayasan

3. Koperasi

K. hukum keluarga
Hukum keluarga berasal dari terjemahan kata familierecht (belanda) atau law of familie
(inggris). Istilah keluarga dalam arti sempit adalah orang seisi rumah, anak istri, sedangkan
dalam arti luas keluarga berarti sanak saudara atau anggota kerabat dekat. Dan adapun hukum
kekeluargaan menurut hukum perdata adalah aturan yang mengatur mengenai keluarga,yang
mana di dalam keluarga tersebut banyak mengatur masalah perkawinan, hubungan dan hak
serta kewajiban suami istri dalam sebuah rumah tangga, keturunan, perwalian, pengampuan.
Dan Adapun sumber hukum dalam hukum keluarga tersebut ada dua macam, yaitu
sumber hukum tertulis dan tidak tertulis. Sedangkan Ruang lingkup dalam hukum keluarga itu
meliputi: perkawinan, perceraian, harta benda dalam perkawinan, kekuasaan orang tua,
pengampuan, dan perwalian. Namun di dalam bagian hukum keluarga hanya difokuskan pada
kajian perkawinan, perceraian, dan harta benda dalam perkawinan.
L. hukum perkawinan adat

Perkawinan dlm Hukum Adat Meliputi kepentingan dunia lahir dan dunia gaib.
PERKAWINAN dan Sifat Genealogis
Perkawinan dlm sistem PATRILINEAL, Perkawinan dlm sistem MATRILINEL, dan
Perkawinan dalam sistem PARENTAL.
Perkawinan Patrilineal ; Perkawinan dg pembayaran JUJUR sebagai tanda diputuskannya
hubungan si isteri dengan persekutuannya. Setelah perkawinan, si isteri masuk sepenuhnya ke
Setelah perkawinan, si isteri masuk sepenuhnya ke dalam keluarga / persekutuan si suami Sistem
pembayaran jujur: Secara kontan, Dibayar dikemudian hari, tidak dibayar.

Perkawinan Matrilineal ; Merupakan kebalikan perkawinan jujur, Dilakukan dlm rangka


mempertahankan keturunan pihak isteri. Pihak pria tdk membayar jujur kpd pihak
perempuan, bahkan utk daerah Minagkabau proses pelamaran dilakukan oleh pihak
perempuan kpd pihak laki-laki.
Perkawinan Parental ; Si suami masuk ke dalam keluarga isterinya, dan sebaliknya.
Sehingga akibat adanya perkawinan, baik suami maupun isteri mjd mempunyai dua
kekeluargaan. isteri menjadi mempunyai dua kekeluargaan. Dikenal pemberian hadiah
perkawinan dr pihak laki- laki kpd pihak perempuan, tetapi bukan berfungsi sebagai jujur
melainkan lebih kepada sumbangan biaya perkawinan dari pihak laki-laki.
SISTEM PERKAWINAN
Ada tiga macam:
Sistem Endogami
Sistem Eksogami
Sistem Eleutherogami
M. hukum kewarisan adat

Hukum waris adat memuat tiga unsur pokok, y a i t u :


1. M e n g e n a i s u b y e k h u k u m w a r i s , y a i t u siapa yang menjadi pewaris dan
siapa yang menjadi ahli waris.

2. Mengenai kapan suatu warisan itu dialihkan dan bagaimana cara yang dilakukan
dalam pengalihan harta waris t e r s e b u t . S e r t a b a g a i m a n a b a g i a n m a s i n g -
masing ahli waris.

3. Mengenai obyek hukum waris itu sendiri, yaitu tentang harta apa saja yang
dinamakan harta warisan, serta apakah harta-harta tersebut semua dapat diwariskan.

Di dalam masyarakat adat Indonesia, secara teoritis sistem kekerabatan dapat dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu:

1. Sistem Patrilineal,

2. Sistem Matrilineal, dan

3. Sistem Parental atau bilateral.

Sistem Patrilineal adalah sistem kekerabatan yang menarik garis dari Pihak Bapak, maksudnya
dalam hal ini setiap orang hanya menarik garis keturunan dari Bapaknya saja. Hal ini
mengakibatkan kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya daripada wanita dalam hal
mewaris. Sistem ini dianut oleh suku-suku seperti, Batak, Gayo, Nias, Lampung, Seram,
NTT dan lain-lain.

Sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan yang ditarik dari garis Pihak Ibu. Sehingga dalam
hal kewarisan kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya dari pada garis Bapak.
Sistem kekerabatan ini dianut oleh masyarakat Minangkabau, Enggano dan Timor.

Sistem parental/bilateral adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari kedua
belah pihak Bapak dan Ibu, sehingga kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan
dalam hal mewaris adalah seimbang dan sama. Masyarakat yang menganut sistem ini
misalnya Sumatera Timur, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan dan lain-lain.
N. pengertian adat delik

Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia:

Hukum adalah Peraturan yang dibuat oleh suatu kekuasaan atau adat yang dianggap berlaku
oleh dan untuk orang banyak.

Adat adalah aturan (perbuatan) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala.

Delik adalah peristiwa (perbuatan) yang dapat dihukum (karena melanggar undang-undang).

Menurut Van Vollen Hoven ;Delik adalah perbuatan yg tidak diperbolehkan dalam masyarakat.

Menurut Ter Haar :Delik adalah sesuatu yang mengakibatkan kegoncangan dalam neraca
keseimbangan masyarakat.

Soerojo Wignjodipoero berpendapat; Delik adalah suatu tindakan yang melanggar perasaan
keadilan & kepatutan yang hidup dalam masyarakat, sehingga menyebabkan terganggunya
ketentraman serta keseimbangan masyarakat guna memulihkan kembali, maka terjadi reaksi-
reaksi adat.

O. sifat dan macam adat delik

Pembetulan hukum yang dilanggar sehingga dapat memulihkan kembali keseimbangan


yang semula ada itu, dapat berupa sebuah tindakan saja tetapi kadang-kadang mengingat sifatnya
pelanggaran perlu diambil beberapa tindakan.
Contoh-contoh :
a. Yang pembetulan keseimbangannya hanya berwujud satu tindakan saja. Hutang uang dan
pada waktunya tidak membayar kembali. Tindakan koreksinya adalah harus membayar kembali
pinjaman saja.
b. Yang pembatulan keseimbangannya diperlukan beberapa tindakan. Melarikan gadis pada
suku Dayak di Kalimantan. Perbuatan ini mencemarkan kesucian masyarakat yang bersangkutan,
serta melanggar kehormatan keluarga gadis tersebut.
Untuk memulihkan keseimbangan hukum diperlukan dua macam upaya, yaitu
pembayaran denda kepada keluarga yang terkena serta penyerahan seekor binatang korban
kepada kepala persekutuan untuk membuat jamuan adat agar supaya masyarakat menjadi bersih
dan suci kembali.
P. proses penyelesaian perselisihan menurut hukum adat

membawa kain putih, sebagai simbol kedamaian dan kesucian


membawa biaya( ganti rugi / biaya pengobatan ) bila pesakitan mengeluarkan darah
membawa bu lukat ( nasi ketan ) yang besar hidangnya sesuai dengan kesalahan
membawa kambing untuk acara khanduri ( menurut tingkat kesalahan )
peusijuek kepada pihak bersengketa
memberikan kata-kata nasehat
bermaaf-maafan/ berjabat tangan pihak sengketa
membuat surat penyelesaian/ perdamaian adat
doa
Q. hubungan adat, delik dan KUHP

Delik adat merupakan pelanggaran pidana maupun perdata adat yang jenis-jenisnya dapat
dikerucutkan ke dalam dua bagian. Yakni delik adat yang berat dan pelanggaran yang merusak
tatanan masayarakat. Dalam penyelesaian delik adat, diutamakan unsur perdamaian melalui
hakim perdamaian desa selaku pengendali delik adat. Jika tidak tercapai perdamaian, maka
kepala adat dapat memberikan sanksi sesuai latar belakang serta akibat pelanggaran tersebut.

Hukum adat lahir berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lain dan hanya
berlaku untuk masyarakat yang ada dalam daerah tersebut, hukum adat tidak bersifat statis,
namun selalu mengalami perubahan. Hukum adat terjadi apabila adanya pelanggaran delik adat
dan terganggunya keseimbangan masyarakat.

R. Hukum adat menurut perundang-undangan

Peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yang memuat hukum adat di


dalamnya dapat disebutkan yaitu:
UUD 1945
Konstitusi RIS
UUD sementara 1950
UU Nomor 1 darurat 1951
Dekrit Presiden tanggal 5 juli 1959 dan kembali berlakunya UUD 1945
Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960 Lampiran A paragraf 402
UU Nomor 5 Tahun 1960 beserta peraturan pelaksanaannya
UU Nomor 2 Tahun 1960
UU Nomor 19 Tahun 1964
UU Nomor 5 tahun 1967 beserta peraturan pelaksananannya
UU Nomor 14 tahun 1970
UU Nomor 1 Tahun 1974
UU Nomor 11 Tahun 1974
UU Nomor 5 Tahun 1979