Anda di halaman 1dari 32

i

SAMPUL

REFERAT

LASIK
(Laser Assisted in Situ Keratomileusis)

Oleh:

Khrisnayu Indraswari 132011101041


Intan Wahyu Prabandari 132011101056

Pembimbing:
dr. Bagas Kumoro, Sp. M

LAB/ KSM ILMU KESEHATAN MATA RSD dr. SOEBANDI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2017

i
i

AMPUL

REFERAT

LASIK
(Laser Assisted in Situ Keratomileusis)

Oleh:

Khrisnayu Indraswari 132011101041


Intan Wahyu Prabandari 132011101056

Pembimbing:
dr. Bagas Kumoro, Sp. M

Disusununtuk MelaksanakanTugasKepaniteraan Klinik Madya


KSM Ilmu Kesehatan Mata
RSD dr. Soebandi Jember

LAB/ KSM ILMU KESEHATAN MATA RSD dr. SOEBANDI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2017

i
ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv
BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................................1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................3
2.1 Kelainan Refraksi ........................................................................3
2.1.1 Miopia .................................................................................3
2.1.2 Hipermetropia .....................................................................4
2.1.3 Astigmatisme ......................................................................5
2.2 Definisi LASIK ............................................................................5
2.3 Cara Kerja LASIK .......................................................................6
2.4 Faktor Resiko yang Mempengaruhi Hasil
LASIK................... .......................................................................7
2.5 Kandidat Pasien LASIK.............................................................. 8
2.5.1 Kandidat Ideal .....................................................................8
2.5.2 Kurang Ideal .......................................................................8
2.5.3 Kandidat non-LASIK..........................................................9
2.6 Prosedur LASIK ..........................................................................9
2.7 Operasi LASIK pada Hipermetropi ...........................................13
2.8 Operasi LASIK pada Miopia .....................................................13
2.9 Komplikasi pada LASIK ...........................................................14
2.10 Keuntungan dan Kerugian LASIK ............................................23
BAB 3. KESIMPULAN ......................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................26

ii
iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Miopia dan cara mengoreksi dengan lensa cekung ..............................3
Gambar 2.2 Hipermetropia (atas) dan cara mengoreksinya dengan lensa
cembung (bawah) ...............................................................................4
Gambar 2.3 Mata astigmatisme................................................................................5
Gambar 2.4 Alat LASIK ..........................................................................................7
Gambar 2.5 Diffuse lamelar keratitis .....................................................................21
Gambar 2.6 Keratitis Infeksi ..................................................................................22
Gambar 2.7 Pertumbuhan epitel ke dalam .............................................................23

iii
iv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Stadium diffuse lamelar keratitis ...........................................................22

iv
1

BAB 1. PENDAHULUAN

Mata merupakan organ vital yang ada pada manusia. mata memiliki fungsi
yang beragam, mata merupakan organ yang berfungsi sebagai pengelihatan kita
untuk berjalan, bekerja, belajar dan sebagainya. Gangguan pada organ mata tentu
akan membuat rasa tidak nyaman pada pasien, karena akan mengganggu aktivitas
sehari hari dari pasien mulai bekerja dan sebagainya. Gangguan pada organ
mata ini bisa mengenai organ refraksi pada mata sehingga tajam pengelihatan
pasien terganggu, infeksi, trauma dan lain sebagainya. Kelainan yang paling
sering dialami oleh masyarakat adalah tajam pegelihatan menurun atau gangguan
pada organ refraksi. Kelainan organ refraksi ini sering mengganggu aktivitas
sehari hari penderitanya.
Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada
retina. Secara umum, terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata
sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada
retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada satu
titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan
kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.
Jenis kelainan refraksi diantaranya miopia, hipermetropia, presbiopi dan
astigmatisma (Ilyas, 2010).
Sekitar 148 juta atau 51% penduduk di Amerika Serikat memakai alat
pengkoreksi gangguan refraksi, dengan penggunaan lensa kontak mencapai 34
juta orang. Angka kejadian rabun jauh meningkat sesuai dengan pertambahan
usia. Jumlah penderita rabun jauh di Amerika Serikat berkisar 3% antara usia 5-7
tahun, 8% antara usia 8-10 tahun, 14% antara usia 11-12 tahun dan 25% antara
usia 12-17 tahun. Pada etnis tertentu, peningkatan angka kejadian juga terjadi
walupun persentase tiap usia berbeda. Etnis Cina memiliki insiden rabun jauh
lebih tinggi pada seluruh usia. Studi nasional Taiwan menemukan prevalensi
sebanyak 12% pada usia 6 tahun dan 84 % pada usia 16-18 tahun. Angka yang
sama juga dijumpai di Singapura dan Jepang.
2

Koreksi terhadap kelainan refraksi dapat dilakukan dengan penggunaan


kacamata, lensa kontak dan pada keadaan tertentu kelainan refraksi dapat diatasi
dengan pembedahan pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi
fotorefraktif, Laser Asissted In situ Interlamelar Keratomilieusis (LASIK). (Ilyas,
2010).
LASIK adalah prosedur yang berkembang dari berbagai variasi teknik
bedah refraktif. Pertama kali diseksi kornea lamelar diperkenalkan oleh Barraquer
pada tahun 1949 dan kemudian dimodifikasi menjadi bagian terintegrasi dalam
automated lamellar keratoplasty (ALK). Sejak tahun 1983 ablasi kornea dengan
laser excimer telah digunakan dalam keratektomi fotorefraktif (Photorefractive
Keratektomy/PRK). Tahun 1990, Pallikaris pertama kali melakukan prosedur
LASIK dengan menggunakan laser excimer. Perkembangan selanjutnya dalam
teknologi laser excimer dan mikrokeratom membuat bedah refraktif lamelar
berkembang dari prosedur yang hanya dilakukan oleh seorang ahli menjadi
tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter mata umum (Habsyiyah et al., 2015).
Bedah LASIK merupakan salah satu pembedahan yang paling banyak
dilakukan di dunia. Diperkirakan hampir satu juta pasien menjalani pembedahan
refraktif kornea tiap tahunnya di Amerika Serikat, dengan 700.000 diantaranya
merupakan bedah LASIK. Lebih dari 90% pasien yang telah menjalani LASIK
mencapai tajam penglihatan 6/6 sampai 6/12 (Solomon et al., 2009).
LASIK adalah salah satu operasi refraksi untuk memperbaiki kelainan
refraksi pada mata seperti miopia, hipermetropia dan astigmatisma. LASIK
merupakan jenis yang paling sering digunakan dan paling terkenal dibandingkan
operasi dengan bantuan laser (laser-assisted) lainnya, seperti PRK (photorefractive
keratectomy) atau yang lebih dikenal dengan Lasek (laser-assisted sub-ephitelial
keratectomy). Jenis ini umumnya tergolong aman dan menghasilkan penanganan
yang lebih efektif untuk jenis kelainan pengelihatan yang lebih besar. Secara
spesifik, LASIK melibatkan fungsi dan kemampuan dari laser untuk merubah
bentuk kornea secara permanen. LASIK telah memperbaiki secara total kelainan
pada mata dan mengurangi ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak
(Reinstein, 2012).
3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelainan Refraksi pada Mata


Secara umum, cara kerja mata persis seperti cara kerja kamera. Pada
kamera, cahaya masuk melewati sistem lensa menuju film atau sensor CCD pada
kamera digital. Pada mata, kornea dan lensa mata berada pada bagian depan mata
(anterior chamber) dan fungsinya sama seperti lensa pada kamera. Retina berada
di bagian belakang mata (posterior chamber) dan fungsinya sama seperti film atau
sensor CCD pada kamera. Pada mata normal, berkas cahaya masuk melewati
kornea dan lensa mata dan langsung difokuskan pada retina untuk menghasilkan
bayangan yang jelas. Pada kelainan refraksi terjadi ketidak seimbangan sistem
penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak
dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak
terletak pada satu titik focus (Ilyas, 2010).

2.1.1 Miopia

Gambar 2.1 Miopia dan cara mengoreksi dengan lensa cekung (Lang, 2006)
4

Miopia adalah perbedaan antara kekuatan refraksi dan panjang aksial pada
mata sehingga berkas cahaya yang melewati kornea dan lensa mata tidak terfokus
pada retina mata, melainkan jatuh di depan retina, sehingga menghasilkan
bayangan yang jelas pada objek yang dekat, namun bayangan menjadi kabur sama
sekali ketika pasien melihat benda yang jauh letaknya (Lang, 2006). Miopia
terjadi jika kornea (terlalu cembung) dan lensa (kecembungan kuat) berkekuatan
lebih atau bola mata terlalu panjang sehingga titik fokus sinar yang dibiaskan akan
terletak di depan retina ( Binder, 2010).

2.1.2 Hipermetropia

Gambar 2.2 Hipermetropia (atas) dan cara mengoreksinya dengan lensa


cembung (bawah) (Lang, 2006)

Hipermetropia adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi


memfokuskan bayangan di belakang retina. Pada penderita hipermetropia, berkas
cahaya yang melewati kornea dan lensa mata terfokus bukan pada retina,
melainkan pada bagian belakang retina, sehingga menghasilkan bayangan yang
kabur pada objek yang dekat, namun bayangan menjadi jelas ketika melihat objek
yang jauh. Hipermetropia terjadi jika kekuatan yang tidak sesuai antara panjang
5

bola mata dan kekuatan pembiasan kornea dan lensa lemah sehingga titik fokus
sinar terletak di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan panjang
sumbu bola mata (hipermetropia aksial), seperti yang terjadi pada kelainan
bawaan tertentu, atau penurunan indeks bias refraktif (hipermetropia refraktif),
seperti afakia (tidak mempunyai lensa) (Ilyas, 2010)

2.1.3 Astigmatisme

Gambar 2.3 Mata astigmatisme (Lang, 2006)

Pada astigmatisme berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan
tajam pada retina akan tetapi pada dua garis api yang saling tegak lurus yang
terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea. Variasi kelengkungan
kornea atau lensa mencegah sinar terfokus pada satu titik. Sebagian bayangan
akan dapat terfokus pada bagian depan retina sedang sebagian lain sinar
difokuskan di belakang retina. Akibatnya penglihatan akan terganggu (Ilyas,
2010). Hal ini membutuhkan koreksi dengan lensa silindris atau lensa toric (Crick
et al., 2003).

2.2 Definisi LASIK


LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomileusis) adalah salah satu operasi
refraksi untuk memperbaiki kelainan refraksi pada mata seperti miopia,
hipermetropia dan astigmatisma. Lasik merupakan jenis yang paling sering
6

digunakan dan paling terkenal dibandingkan operasi dengan bantuan laser (laser-
assisted) lainnya, seperti PRK (photorefractive keratectomy) atau yang lebih
dikenal dengan Lasek (laser-assisted sub-ephitelial keratectomy). Jenis ini
umumnya tergolong aman dan menghasilkan penanganan yang lebih efektif untuk
jenis kelainan penglihatan yang lebih besar. Secara spesifik, LASIK melibatkan
fungsi dan kemampuan dari laser untuk merubah bentuk kornea secara permanen.
LASIK telah memperbaiki secara total kelainan pada mata dan mengurangi
ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak (contact lenses) (Reinstein,
2012).

2.3 Cara Kerja LASIK


Lasik meggunakan laser disebut ultraviolet excimer laser, alat ini
menggunakan panjang gelombang () 193 nm dalam pembedahan lasik sehingga
energi yang di emisikan sebesar: E = hf = hc/ . Dengan frekuensi dan energi
tertentu, laser digunakan untuk memindahkan sejumlah jaringan pada kornea
mata. LASIK merubah secara permanen bentuk dari bagian sentral anterior pada
kornea dengan memanfaatkan laser jenis excimer untuk mengablate (mengikis
suatu bagian dari jaringan hidup dengan penguapan) sebagian kecil dari lapisan
jaringan stroma kornea yang berada di bagian depan mata, tepat dibawah lapisan
jaringan epitelium kornea. Banyaknya jaringan yang dipindahkan tergantung dari
tingkat kerusakan sistem refraksi mata pada miopi, hipermetropi atau astigmatis
(Reinstein, 2012)
7

Gambar 2.4 Alat LASIK (Habsysisyah, 2015)

2.4 Faktor Resiko yang Mempengaruhi Hasil LASIK


Menurut American Academy of Opthamology (2008) faktor resiko yang
mempengaruhi hasil LASIK yaitu :
a. Mata Kering
Seseorang dengan kondisi mata kering yang tidak diobati sebelum operasi,
memberikan hasil yang tidak memuaskan sehingga diobati sebelum operasi
dilakukan. Biasanya mata kering ini pada orang yang sudah tua, wanita yang
sudah menopause, mempunyai penyakit yang berhubungan dengan imunitas,
mengonsumsi obat seperti anti- depresan atau obat penurun tekanan darah.
b. Ukuran pupil besar
Ukuran pupil yang besar ditakutkan munculnya halo pada penglihatan.
Namun hal ini masih diperdebatkan hubungan ukuran pupil dengan gangguan
penglihatan setelah dilakukan LASIK.
c. Keratokonus
Penyakit mata progresif yang ditandai dengan benjolan pada kornea,
sehingga bentuk kornea terlihat seperti kerucut dan bukannya bulat. Saat hal
tersebut terjadi, mata tidak akan dapat memusatkan pandangan pada gambar
dengan baik.
8

d. Kornea yang tipis


Kondisi kornea tipis mungkin bukan kandidat yang baik untuk terapi
dengan LASIK namun dapat dipertimbangkan untuk bentuk operasi refraksi
lainnya.
e. Kehamilan
Dalam kondisi hamil, bukan kandidat yang tepat LASIK, karena hasil dari
pemeriksaan refraksi berfluktuatif.

2.5 Kandidat Pasien LASIK


Meskipun banyak individu dianggap memiliki kriteria yang baik untuk
LASIK, namun terdapat beberapa yang tidak memenuhi kriteria medis umum
yang diterima untuk memastikan prosedur LASIK sukses. Berdasarkan berbagai
kondisi dan keadaan, semua kandidat LASIK akan terpilih ke dalam salah satu
dari tiga kategori besar berikut:

2.5.1 Kandidat Ideal Pasien LASIK


Berikut adalah kandidat ideal pasien LASIK :
a. Sudah berusia di atas 18 tahun dan telah memiliki kacamata atau lensa kontak
yang stabil setidaknya selama dua tahun.
b. Memiliki ketebalan kornea yang cukup. Pasien LASIK harus memiliki kornea
yang cukup tebal sehingga dokter dapat dengan aman membuat flap kornea
yang bersih dengan kedalaman yang sesuai.
c. Pasien memiliki salah satu atau lebih dari tiga kelainan pengelihatan, seperti
miopia (rabun jauh), astigmatism (penglihatan kabur yang disebabkan oleh
kornea berbentuk tidak teratur), hyperopia (rabun jauh), atau kombinasi
keduanya (misalnya, miopia dengan silindris).
d. Tidak menderita penyakit pengelihatan atau yang lainnya, yang dapat
mengurangi efektivitas operasi atau kemampuan pasien untuk sembuh dengan
baik dan cepat.
9

2.5.2 Kandidat Kurang Ideal Pasien LASIK


Berikut adalah kandidat kurang ideal pasien LASIK :
a. Pasien memiliki riwayat mata kering, yang mungkin dapat memburuk setelah
operasi dilakukan.
b. Pasien yang sedang menjalani pengobatan dengan steroid atau imunosupresan,
yang dapat mencegah penyembuhan, atau menderita penyakit yang
melambatkan penyembuhan, seperti gangguan autoimun.
c. Memiliki jaringan parut kornea.
d. Berumur di bawah usia 18.
e. Memiliki pengelihatan yang tidak stabil, biasanya terjadi pada usia muda.
f. Sedang hamil atau menyusui.
g. Memiliki sejarah herpes okular dalam satu tahun sebelum operasi.
h. Kesalahan refraksi terlalu berat untuk pengobatan dengan teknologi saat ini.
i. Meskipun laser disetujui FDA tersedia untuk memperlakukan salah satu dari
tiga jenis utama kesalahan refraksi miopia, hyperopia dan silindris. Indikasi
yang disetujui FDA menetapkan pasien yang tepat untuk penanganan dengan
miopia 1 sampai dengan -12 D, astigmatisme sampai dengan 6D dan hyperopia
hingga 6 D.

2.5.3. Kandidat non-LASIK


Kondisi dan keadaan individu yang tidak cocok untuk mendapatkan
penanganan LASIK yaitu pasien yang memiliki penyakit seperti katarak,
glaukoma maju, penyakit kornea, gangguan penipisan kornea (degenerasi marjinal
keratokonus atau bening), atau beberapa penyakit mata lainnya yang sudah ada
terlebih dahulu dan mempengaruhi atau mengancam penglihatan.

2.6 Prosedur LASIK


a. Pra-operasi
Pemeriksaan pra operasi meliputi penilaian riwayat kesehatan mata dan
pemeriksaan mata yang meliputi :
10

1.Penilaian riwayat kesehatan mata


Riwayat pemakaian kacamata. Hal ini penting untuk menentukan visus
pasien stabil atau berubah. Jika memang tidak stabil, LASIK mungkin
tidak tepat saat ini.
Riwayat penggunaan lensa kontak. Lensa kontak dapat mengubah bentuk
kornea sehingga sebagian besar dokter mata meminta agar lensa kontak
lunak dihentikan paling sedikit 3 hari dan lensa kontak kaku 2 sampai 3
minggu sebelum evaluasi. Jika timbul kekhawatiran tentang perubahan
akibat lensa kontak akibat kornea, pasien diminta untuk berhenti memakai
lensa kontak selama beberapa bulan untuk mengondisikan kornea.
Riwayat penyakit mata atau penyakit sistemik dan riwayat penggunaan
obat-obatan.
Riwayat gangguan mata sebelumnya seperti mata malas, strabismus atau
kebutuhan kacamata khusus untuk mencegah penglihatan ganda.
Riwayat trauma mata
2. Pemeriksaan lengkap pada mata
Penentuan penglihatan sebelum dan sesudah dikoreksi dengan kacamata
atau lensa kontak.
Penentuan besarnya kesalahan penglihatan dalam setiap mata untuk
menetapkan jumlah koreksi bedah yang diperlukan dan mengembangkan
strategi operasi yang tepat.
Penilaian permukaan kornea dengan topografi (kurvatur kornea atau
bentuk), untuk mengkorelasikan bentuk kesalahan dalam fokus
(berkorelasi bentuk kornea untuk astigmatisme refraksi), untuk
menemukan penyimpangan, dan untuk mengetahui penyakit yang dapat
memburuk jika dilakukan pembedahan dengan LASIK.
Pengukuran ukuran pupil dalam cahaya redup dan ruang. Ukuran pupil
merupakan faktor penting dalam pengukuran pengelihatan malam dan
penentuan tindakan koreksi oleh LASIK yang tepat.
Pemeriksaan pada kelopak mata untuk melihat apakah kelopak berbalik ke
dalam (mungkin bergesekan dengan kornea) atau ke luar dan mengarahkan
11

aliran air mata terbuang dari mata yang mengakibatkan mata kering, dan
kondisi lain.
Pemeriksaan kornea untuk menentukan apakah ada kelainan yang dapat
mempengaruhi hasil pembedahan.
Pemeriksaan dari lensa kristal untuk menentukan apakah terdapat
kekaburan (katarak) atau kelainan lainnya yang ada.
Pengukuran ketebalan kornea (dengan pachymetry). Jumlah koreksi
LASIK dapat ditentukan sebagian oleh ketebalan kornea.
Pengukuran tekanan intraokular untuk mendeteksi kondisi glaukoma atau
pre-glaukoma. Glaukoma adalah kehilangan penglihatan yang disebabkan
oleh kerusakan pada saraf optik yang diakibatkan tekanan yang terlalu
tinggi di mata.
Penilaian bagian belakang (segmen posterior) mata: Pemeriksaan
pembesaran fundus digunakan untuk menilai kesehatan dari permukaan ke
dalam mata (retina), dengan pupil terbuka penuh. Juga pemeriksaan retina,
saraf optik, dan pembuluh darah untuk mengetahui sejumlah gangguan
mata dan gangguan sistemik.
b. Operasi
Selama operasi berlangsung, pasien dalam keadaan sadar dan dapat bergerak.
Namun, pasien biasanya diberikan sedatif lemah (seperti Valium) dan tetes mata
anestetik. LASIK dilakukan dalam 3 langkah, yaitu :
1. Pembuatan Sayatan (Flap)
Sebuah ring penahan dan pembentuk kornea dipasang pada mata, menahan
posisi mata agar tidak bergerak. Prosedur ini pada beberapa kasus menyebabkan
perdarahan minor pada pembuluh darah halus pada mata, yang akan sembuh
dengan sendirinya dalam beberapa hari setelah operasi. Setelah mata tertahan pada
posisinya, maka sayatan epitellium akan dibentuk. Proses pembuatan sayatan
menggunakan mikrokeratom, sebuah pisau bedah halus berketebalan beberapa
mikrometer, atau menggunakan femtosecond laser. Setelah sayatan terbentuk,
lapisan sayatan diangkat, meninggalkan lapisan dibawahnya, yaitu stroma, lapisan
tengah dari kornea.
12

2. Laser Remodelling
Langkah kedua ialah menggunakan excimer laser, yang memiliki panjang
gelombang sebesar 195 nm untuk merubah bentuk dari stroma kornea. Laser
menguapkan (vaporized) jaringan stroma yang ingin dibentuk ulang (remodelling)
dengan ketelitian yang amat tinggi tanpa membahayakan jaringan lain
disekitarnya. Tidak ada pemanasan dan pembakaran, maupun pemotongan nyata
yang terjadi pada stroma yang dibentuk ulang, sehingga tidak ada rasa sakit sama
sekali pada saat operasi. Beberapa pasien hanya mengeluhkan rasa tak nyaman.
Lapisan yang diambil saat penguapan jaringan hanya beberapa mikrometer
ketebalannya. Perlakuan penguapan jaringan dalam kornea (stroma) pada LASIK
menghasilkan kecepatan dalam operasi, hasil yang maksimal dan sedikit atau
bahkan tak ada rasa sakit yang dihasilkan.
Laser excimer, terutama laser argon flourida dengan panjang gelombang
193nm, dapat menguapkan jaringan dengan sangat bersih nyaris tanpa merusak sel
sel disekitar atau dibawah potongan. Dengan menggunakan pulsasi multipel dan
ukuran titik (- penembak) yang berubah secara progresif untuk menguapkan lapis
demi lapisan kornea yang tipis, pembentukan ulang kontur retina dengan bantuan
komputer (fotorefraktif keratectomy/PRK) dapat memperbaiki kelainan refraksi
astigmatisme dan miopia sedang dengan tepat dan tampaknya secara
permanen. Saat ini, manufaktur laser excimer menggunakan pelacak posisi mata
yang mengikuti gerakan mata sebanyak 4000 kali perdetik, kemudian
memusatkan gelombang laser dengan akurat pada daerah yang akan di
remodelling. Gelombang laser yang digunakan berkisar antara 1 milijoule (mJ)
selama 10 sampai 20 nanodetik.
3. Reposisi Flap
Setelah laser me-remodelling lapisan jaringan stroma, lapisan epiltelium yang
diangkat perlahan-lahan dikembalikan ke tempatnya semula, yaitu diatas lapisan
stroma yang telah di bentuk ulang, kemudian dicek ulang terdapatnya gelembung
udara, debris (kotoran halus), dan memastikan bahwa lapisan epitellium telah
terpasang secara tepat. Lapisan tersebut akan menempel dengan sendirinya, dan
13

akan menyatu dengan lapisan stroma (sembuh) sampai waktu panyembuhan telah
usai.
c. Perawatan pasca-operasi
Pasien umumnya diberikan tetes mata antibiotik dan anti inflamasi selama
beberapa minggu pasca operasi. Pasien juga disarankan untuk tidur lebih lama dan
lebih sering dan juga diberikan sepasang pelindung mata dari cahaya yang
berlebihan dan pelindung mata dari gosokan ketika tidur dan mengurangi mata
kering.

2.7 Operasi LASIK pada Hipermetropi


LASIK dapat digunakan untuk mengobati hipermetropi derajat rendah
sampai tinggi. LASIK mengoreksi kornea mata yang terlampau rata pada
penderita hipermetropi dengan membuang bagian luar kornea mereka untuk
membentuk salur lingkar. Saat flap LASIK diangkat setelah prosedur operasi usai,
kornea mata menjadi lebih lengkung bentuknya sehingga menggerakkan titik
fokus dari belakang mata menuju retina, sehingga bisa memperbaiki penglihatan
untuk dekat dan juga jauh. Hasil dari LASIK hipermetropi cukup baik dan relatif
stabil dalam 6 bulan post operasi. Stabilitas refraksi terjadi pada l-2 minggu post
operasi dan tetap stabil dalam 6 bulan (Helgesen, 2010).

2.8 Operasi LASIK pada Miopia


Prosedur pengoreksi miopi adalah dengan membuang sebuah lapisan tipis
pada jaringan di bagian tengah kornea. Untuk melakukan hal ini, bagian dari
permukaan luar kornea dipotong dan dilipat agar jaringan lapisan dalam terdedah.
Kemudian sebagian jaringan lapisan dalam yang diperlukan untuk membentuk
kembali kornea dibuang pada jumlah yang tepat dengan menggunakan laser, dan
kemudian jaringan luar ditutup dan ditempatkan semula dalam posisi untuk
menyembuhkan (Steinert et al., 2010). Hal ini membuat bagian tengah kornea
lebih datar / rata hingga memungkinkan titik fokus bergerak lebih dekat ke retina,
sehingga memperbaiki pengliatan seseorang. Jumlah miopia yang dapat dikoreksi
LASIK dibatasi oleh jumlah jaringan kornea yang dapat dihapus dengan cara yang
14

aman. Pada masa ini, orang yang sangat rabun dekat atau korneanya terlalu tipis
sehingga tidak memungkinkan penggunaan prosedur laser sudah memiliki pilihan
lain selain untuk memperbaiki rabun jauhnya (Epstein, 2009).

2.9 Komplikasi pada LASIK


2.9.1. Komplikasi intraoperatif LASIK
Menurut Tse, dkk (2016) komplikasi intraoperatif pada LASIK yaitu :
a. Defek epitel
Defek epitel adalah komplikasi intraoperatif yang sering ditemui, dengan
tingkat komplikasi yang dilaporkan sebesar 0,6% sampai 14%. Microkeratome
dikaitkan dengan frekuensi defek epitel yang lebih tinggi, kemungkinan
sekunder akibat gerakan berosilasi dan gaya geser yang dihasilkan selama
pembuatan flap. Prosedur laser femtosecond telah dicatat mengakibatkan defek
epitel intraoperatif sekitar 1%. Prevalensi ini lebih rendah mengingat
pembedahan laser femtosecond pada flap kornea tidak menghasilkan gaya
geser yang sama seperti pada microkeratome. Selain metode pembentukan flap,
faktor risiko lainnya termasuk faktor usia yang lebih tua, distrofi membran
epitelial atau anterior, hiperopia pra operasi, peningkatan ketebalan kornea,
kornea curam, dan riwayat penggunaan lensa kontak yang lebih lama. Secara
umum, semakin tua pasien semakin tinggi kemungkinan defek epitel
intraoperatif saat menjalani operasi LASIK. Tingkat komplikasi telah
dilaporkan sekitar 4,1% pada pasien berusia di bawah 40 tahun dan 13% untuk
mereka yang berusia lebih dari 40 tahun. Dalam kasus operasi LASIK bilateral,
operasi mata yang kedua juga memiliki kemungkinan lebih besar menderita
defek epitel jika mata pertama mengalami defek epitel intraoperatif.
Penatalaksanaan defek epitel intraoperatif serupa dengan abrasi epitel
sekunder akibat etiologi lainnya. Untuk abrasi >1 sampai 3 mm, pelumas
topikal digunakan bersamaan dengan pertimbangan penggunaan perban lensa
kontak lunak sampai reepitelisasi kornea terjadi. Antibiotik dan steroid topikal
juga diperlukan untuk mengurangi risiko infeksi dan peradangan pascaoperasi,
seperti pada keratitis lamelar yang menyebar. Jika defek epitel tidak diobati
15

dengan tepat, kasus pasca operasi bisa dipersulit oleh sejumlah faktor, seperti
pembengkakan, pertumbuhan epitel ke dalam, edema, dan bahkan perubahan
jangka panjang pada flap LASIK itu sendiri.
Ada banyak tindakan pencegahan yang harus dilakukan dalam upaya
mengurangi risiko defek epitel. Penggunaan obat topikal yang berlebihan,
terutama anestesi sering seperti proparakain, harus dihindari sebelum
pembuatan flap. Penempatan anestesi topikal hanya boleh terjadi segera
sebelum memulai prosedur untuk mengurangi ketidakteraturan dan toksisitas
epitel. Satu penelitian merekomendasikan penggunaan air mata buatan bebas
pengawet setiap 5 menit mulai 30 menit sebelum prosedur LASIK. Sedangkan
untuk semua prosedur, instrumen dan pisau harus diperiksa sebelum
digunakan, diganti antar pasien, dan bahkan mungkin antara mata dalam kasus
bilateral.
b. Perdarahan limbal
Perdarahan pada limbus kornea adalah komplikasi umum yang mungkin
terjadi saat pisau mikrokeratome atau laser femtosecond melewati konjungtiva
atau pembuluh limbal. Flaps diameter besar, hiperopia, atau penggunaan cincin
hisap yang berukuran tidak tepat atau tidak semestinya diposisikan dapat
menjadi predisposisi perdarahan intraoperatif. Hal ini merupakan akibat
meningkatnya kemungkinan transeksi pembuluh kornea perifer. Mata dengan
pannus kornea, seperti dapat ditemukan pada pemakai lensa kontak kronis atau
pasien dengan penyakit permukaan okular, juga lebih mungkin mengalami
pendarahan selama pembuatan flap. Hemostasis dapat dicapai dengan
penerapan tekanan lembut dengan spons atau dengan mendorong lipatan
konjungtiva ke pembuluh darah. Fenilefrin hidroklorida topikal atau lokal 2,5%
dapat ditambahkan untuk menginduksi vasokonstriksi, namun hal ini dapat
menyebabkan pelebaran iris sekunder yang dapat mengganggu penggunaan
laser atau iris. Sisi stroma flap harus dibersihkan dari sel darah merah yang
terlihat sebelum mengembalikan penutup ke posisi aslinya. Perdarahan
perilimbal intraoperatif dikaitkan dengan penyembuhan luka yang tertunda dan
keratitis steril pasca operasi. Beberapa pasien juga mengalami penurunan
16

sensitivitas kontras dan ketajaman silau, walaupun signifikansinya belum


ditentukan secara pasti.
c. Interface debris
Akumulasi partikel yang tidak diinginkan pada LASIK adalah komplikasi
yang dapat terjadi selama pembuatan dan pengangkatan flap kornea. Ukuran
partikel bisa sekecil 5 m. Sumber debris yang paling bermasalah adalah
selama penggunaan mikrokeratome. Mikroskop elektron pemindai mata secara
in vivo dan secara in vitro telah mengungkapkan fragmen logam atau plastik
pada antarmuka flap dari mikrokeratom yang sebelumnya tidak digunakan
yang langsung dikeluarkan dari kemasan steril. Sumber lain dari debris
antarmuka mencakup sel epitel dari kulit, sekresi dari kelopak mata dan bulu
mata, sel darah merah dari gangguan pembuluh darah, partikulat dari sarung
tangan, gorden, dan penyeka, atau bahkan debu dari udara sekitar. Padahal
kebanyakan zat dapat terurai secara alami dan tidak menyebabkan kerusakan
yang menetap pada pasien, logam atau plastik di antarmuka dapat
menyebabkan reaksi inflamasi yang konsisten dengan benda asing kornea dan
pada akhirnya menghasilkan jaringan parut permanen. Keratitis lamelar yang
difus dan pemindahan flap LASIK adalah sekuele pascaoperasi lain yang
mungkin telah diamati dengan retensi interface debris. Menjaga lingkungan
flap bebas dari debris adaalah tantangan, namun langkah-langkah dapat
diambil untuk meminimalkan komplikasi ini. Sebelum operasi, perawatan
pasien harus dilakukan dengan hati-hati dan bersihkan secara menyeluruh di
sekitar kulit, kelopak mata, dan bulu mata. Secara umum, ruang operasi harus
diperiksa, dibersihkan, dan dipastikan udara ruangan dimurnikan, disaring, dan
diedarkan secara horisontal. Beberapa penngamat merasa perlu membersihkan
secara rutin dan mengganti pisau microkeratome untuk mengurangi jumlah
partikel yang memasuki antarmuka. Pembersihan debris-puing terkenal dapat
dilakukan dengan mengangkat flap secara manual dan mengirigasi daerah yang
terkena. Debris logam bisa diekstraksi dengan magnet yang dilewatkan melalui
antarmuka. Secara umum, debris antarmuka adalah sebuah komplikasi
intraoperatif dimana risikonya dapat dikurangi atau dihindari sama sekali.
17

d. Pembentukan flap abnormal


Komplikasi yang ditakuti dan kurang dapat diprediksi selama prosedur
LASIK adalah pembentukan flap yang tidak normal. Flap abnormal dapat
digambarkan sebagai tidak lengkap, pendek, tipis, robek, atau tidak beraturan.
Tingkat komplikasi flap intraoperatif berkisar antara 0,3% sampai 5%. Metode
pembuatan flap dan pengalaman ahli bedah keduanya telah terbukti menjadi
alasan utama perbedaan tingkat komplikasi ini. Dari berbagai jenis flap
abnormal, flap tidak lengkap atau pendek adalah yang paling umum. Flap yang
tidak lengkap mungkin merupakan hasil dari mikrokeratome sebelum
waktunya berhenti, yang mungkin disebabkan oleh penyumbatan jalan atau
kerusakan perangkat. Laser femtosecond juga dapat memiliki penanganan yang
tidak lengkap. Impedimen pada perawatan atau pembuatan flap termasuk bekas
luka kornea, kornea datar, tekanan intraokular rendah, penyumbatan kepala
atau laser microkeratome, dan hilangnya hisap cincin. Hilangnya hisapan
cincin dapat terjadi akibat penekanan kelopak mata, orbit yang kencang,
kemosis konjungtiva, kerusakan epitel, penyumbatan bagian hisap dari bulu
mata, dan posisi awal yang buruk pada cincin hisap. Langkah pertama dalam
manajemen adalah identifikasi awal komplikasi dan menentukan etiologi.
Begitu cacat flap telah terjadi, prosedur harus segera dihentikan. Jika ada
stroma yang cukup untuk ablasi laser dan engsel flap berada di luar sumbu
visual, ablasi laser dapat dilakukan. Untuk flap yang tidak lengkap dengan
engsel flap di luar sumbu visual, tapi dasar stroma kecil, mikrokeratome kedua
atau laser dilewatkan dengan hati-hati. Namun, jika engsel flap berada dalam
sumbu visual, flap harus diganti dan prosedurnya tertunda. Tidak ada
konsensus khusus untuk periode tunggu, namun menunggu 3 bulan sebelum
merancang prosedur telah disarankan. Sehubungan dengan pencegahan,
operator harus memastikan perangkat berfungsi dengan baik dan bersih serta
pemeriksaan okular yang hati-hati untuk mengidentifikasi jalur aman laser
microkeratome atau femtosecond.
18

e. Gangguan Gelembung Gas


Laser femtosecond semakin sering digunakan untuk pembuatan flap pada
operasi LASIK. Proses ini melibatkan fotodisrupsi jaringan stroma kornea
dengan pembentukan gelembung kavitasi di ruang interlamar. Gelembung
kavitasi membelah jaringan sejajar dengan serat lamelar dan membuat bidang
pemisahan untuk flap. Kavitasi gelembung yang kolaps dan gelembung gas,
tersusun dari karbon dioksida dan uap air, terbentuk di dalam antarmuka.
Gelembung ini umumnya tidak bermasalah dan hilang hanya dengan
mengangkat flap. Komplikasi muncul, ketika gelembung gas menyebar di
sepanjang jalur resistensi rendah. Khususnya ketika gas berdifusi ke dalam
subepitelium, ini disebut terobosan gas vertikal. Ketika berdifusi ke stroma
anterior atau posterior, ini disebut lapisan gelembung buram (OBL). Akhirnya,
udara bisa berdifusi ke ruang anterior. Jenis gelembung gas ini mungkin tidak
diatasi dengan pengangkatan flap dan mungkin benar-benar menghalangi
pembuatan flap.
f. Vertical Gas Breakthrough
Vertical gas breakthrough terjadi bila ada penyumbatan yang
menyebabkan peningkatan ketahanan serat lamelar selama pelaksaan laser
femtosecond. Sumbatan ini dapat disebabkan oleh defek pada kolagen kornea,
kelainan pada membran Bowman, atau bahkan kerusakan fisik pada membran
Bowman, karena kadang-kadang dapat terjadi akibat cedera benda asing.
Ketika gas mengalami sumbatan, ia mengalir di jalur yang resistan, membelah
vertikal (bukan horizontal yang dimaksudkan). Hal ini menyebabkan diseksi
yang tidak sempurna dan potensi berair saat flap diangkat. Seider dkk
menjelaskan insiden vertical gas breakthrough sebanyak 0,13%. Jika
gelembung gas meluas di tepi depan flap, operasi sering dibatalkan. Flap
diganti dan dibiarkan sembuh sebelum melakukan koreksi refraktif. Namun,
jika gelembung itu terjadi di balik tepi flap, keputusannya dapat dilakukan
untuk menyelesaikan flap dan menyelesaikan keseluruhan prosedur LASIK.
Sebuah laporan kasus yang diterbitkan pada tahun 2010 menyajikan usaha
yang berhasil dalam pengelolaan intraoperatif terobosan gas vertikal dengan
19

cara recutting menggunakan microkeratome mekanis. Cara untuk menghindari


vertical gas breakthrough adalah pemeriksaan slit-lamp menyeluruh sebelum
prosedur untuk mengidentifikasi area cacat kornea yang mungkin terjadi.
g. Opaque bubble layer (OBL)
OBL terbentuk saat gelembung gas dipindahkan ke anterior atau posterior
ke bidang antarmuka laser, menyebabkan kekeruhan stroma. OBL sering
digambarkan awal atau akhir. OBL awal, juga dikenal sebagai OBL keras,
digambarkan lebih besar, lebih padat, dan timbul dari aplikasi getaran laser
tambahan. OBL lambat, juga dikenal sebagai OBL difus atau lunak,
digambarkan lebih kecil, kurang padat, dan timbul setelah pola raster melewati
bagian reseksi tertentu. Kejadian OBL berkisar antara 48% dan 56% di antara
berbagai studi retrospektif. Kornea tebal, diameter flap yang lebih kecil, dan
histeresis kornea meningkatkan risiko OBL. Ketebalan kornea dan histeresis
kornea juga berkorelasi positif dengan ukuran OBL.
Jika ada gangguan dengan iris atau pupil, operasi harus ditunda sampai
OBL sembuh. Hal ini dapat menunda kasus selama 30 sampai 45 menit.
Penyesuaian berikutnya dapat dilakukan pada pengaturan laser untuk
meminimalkan risiko pembentukan OBL: menggunakan tingkat energi yang
lebih tinggi, menerapkan jarak garis lebih dekat, dan menggunakan teknik
aplanasi yang lebih ringan ke kornea. Penyesuaian ini membuat bidang
pembedahan yang lebih lengkap dan bisa memudahkan dispersi gas.

2.9.2. Komplikasi postoperatif LASIK


Menurut Estopinal dan Mian (2016) komplikasi postoperatif pada LASIK
dibagi menjadi komplikasi postoperatif cepat ( 72 jam) dan komplikasi
postoperatif lambat ( 72 jam).
a. Komplikasi postoperatif cepat
1. Komplikasi Flap Mekanis: Striae dan Perpindahan Flap
Flap LASIK bisa berkerut atau berpindah pasca operasi, paling
sering terjadi pada hari pertama pasca operasi. LASIK flap striae terjadi
ketika flap memiliki lipatan biasanya karena misalignment awal flap,
20

gerakan kecil flap, atau '' tenting '' flap di atas kornea yang ablasi. Striae ini
dapat mengurangi ketajaman penglihatan terbaik yang dikoreksi.
Microstriae, yang sejajar atau garis berpotongan di kornea anterior,
seringkali tidak memiliki konsekuensi visual dan tidak perlu diobati.
Secara visual sering menampilkan pola pewarnaan negatif saat pewarna
fluoresen. Makrostriae adalah lipatan-lipatan tebal post LASIK yang
tampak seperti keriput ''papan ketik dan sering terlihat secara signifikan.
Perpindahan flap mengacu pada pergerakan sebagian flap atau keseluruhan
flap dari lokasi yang diinginkan. Dislokasi dan lipatan awal yang tidak
terkait dengan trauma mayor biasanya terjadi sebelum luka kornea
berulang kembali, biasanya dalam 24 jam pertama setelah operasi.
Kemungkinan terjadi sekunder akibat gaya mekanis dari gerakan kelopak
mata, terutama di keadaan mata kering.
2. Diffuse Lamellar Keratitis (DLK)

Gambar 2.5 Diffuse lamelar keratitis (Estopinal dan Mian, 2016)

DLK adalah sebuah reaksi inflamasi steril yang terdapat pada


antarmuka flap. Penampakannya bergranular yang bergelombang dengan
kerapatan sel inflamasi meningkat sehingga membuatnya menjadi moniker
sindrom'' Sands of Sahara ''. DLK sering didiagnosis dalam beberapa hari
pertama pasca operasi dan biasanya dipentaskan menurut sistem 4-
tierKepadatan sel inflamasi membuatnya menjadi moniker '' Sands of
Sahara ''
21

sindroma. DLK sering didiagnosis dalam beberapa hari pertama pasca


operasi dan biasanya digolongkan berdasarkan stadiumnya.

Tabel 2.1 Stadium diffuse lamelar keratitis (Estopinal dan Mian, 2016)

3. Keratitis Infeksi

Gambar 2.6 Keratitis Infeksi (Estopinal dan Mian, 2016)

Keratitis infeksi adalah komplikasi yang berpotensi tejadi setelah


LASIK. Pasien biasanya mempunyai gejala karakteristik infeksi kornea,
nyeri, penurunan penglihatan, fotofobia, iritasi, kemerahan, dan sekret.
Akan tetapi, beberapa pasien tidak bergejala, setidaknya pada awal
penyakit, sehingga dalam pemeriksaan slitlamp harus hati-hati dalam
mendeteksi dini.
22

4. Keratitis Marginal
Infiltrasi kornea steril telah dilaporkan terjadi setelah LASIK,
mulai dari infiltrat perifer kecil hingga nekrosis agresif keratitis. Infiltrat
ini kemungkinan berhubungan dengan flap perifer, kornea antara flap dan
limbus, atau keduanya. Pasien biasanya mengeluh nyeri, mata kemerahan,
dan fotofobia. Etiologi yang pasti mengenai infiltrat ini masih belum jelas,
dan inseden terjadinya infiltrat belum dilaporkan. Faktor risiko meliputi
atopi, penyakit kelenjar meibomian, dan penyakit rheumatologis. Pasien
biasanya diterapi dengan steroid topikal, walaupun beberapa kasus
membutuhkan steroid oral.
5. Rainbow glare
Rainbow glare (efek silau seperti melihat pelangi) adalah efek
samping laser femtosecond flaps. Pasien yang mengalami fenomena ini
melaporkan garis-garis pelangi saat melihat sumber cahaya putih kecil dan
intens. Hal ini diduga karena hamburan cahaya dari permukaan belakang
flap stromal buatan femtosecond. Insiden fenomena ini berkisar antara
2,32% sampai 19,07%.
b. Komplikasi postoperatif lambat
1. Pertumbuhan epitel ke dalam

Gambar 2.7 Pertumbuhan epitel ke dalam (Estopinal dan Mian, 2016)

Pertumbuhan epitel ke dalam adalah pertumbuhan sel epitel kornea


KE dalam antarmuka flap. Ini terjadi ketika sel epitel ditanamkan di bawah
23

flap atau tumbuh ke antarmuka pasca operasi. Pertumbuhan ke dalam tidak


jarang, dengan perkiraan 15%. Hal ini biasanya terjadi pada 0,5 mm tepi
flap dan tidak mempengaruhi hasil visual pasien. Ketika
pertumbuhanepitel menyebabkan ketidaknyamanan, mengurangi
ketajaman visual, atau bahkan mengancam untuk mengurangi ketajaman
visual, intervensi diperlukan. Contoh keadaan yang perlu penanganan
yaitu pertumbuhan ke dalam atau di dekat pupil, flap mencair, terjadi
astigmatisme, atau ketidakteraturan flap dengan sensasi benda asing.
2. Trauma flap lambat
Flap LASIK rentan terhadap kerusakan, bahkan bertahun-tahun
setelah operasi LASIK, karena antarmuka antara flap dan stroma adalah
daerah yang rapuh. Cedera bisa berkisar dari perpindahan flap ringan atau
striae komplit flap. DLK, ingrowth epithelial, dan silindris tidak beraturan
bisa terjadi akibat trauma flap. Trauma flap bisa juga dikaitkan dengan
cedera okular tambahan.
3. Transient Light Sensitivity Syndrome
Fotosensitivitas berkaitan LASIK, tanpa kelainan fisik atau
topografi, telah digambarkan timbul dalam waktu 2 sampai 6 minggu
pasca operasi. Sindrom sensitivitas cahaya transien ini ditemukan pada
pasien flap LASIK femtosecond laser. Insidensi berkisar antara 1,1%
sampai 1,4% . Gejala biasanya diatasi dalam waktu 1 sampai 2 minggu
dengan terapi steroid topikal. Penggunan energi laser minimum saat
membuat flap LASIK dan pemberian steroid topikal pasca operasi
keduanya telah terbukti mengurangi kejadian ini.

2.10 Keuntungan dan Kerugian LASIK


a. Keuntungan :
Dapat menghilangkan ketergantungan pada pemakaian kacamata atau
lensa kontak bagi penderita kelainan refraksi (miopi, astigmatisma, dan
hipermetropi)
Operasi singkat
24

Rasa sakit minimal


Tidak memerlukan rawat inap
Tidak perlu disuntik, tapi cukup menggunakan anastesi melalui tetes mata
Penyembuhan berjalan relatif cepat dan penglihatan pun cepat membaik
Memiliki tingkat keberhasilan hingga 90%
b. Kerugian :
Biaya operasi mahal, sekitar 15-20 juta untuk satu kali operasi
Pasien tetap sadar selama operasi berlangsung
Dapat terjadi kemungkinan kelebihan atau kekurangan refraksi
Setelah operasi mata mungkin saja terasa berpasir dan sensitif terhadap
cahaya
Dapat terjadi berbagai komplikasi
25

BAB 3 KESIMPULAN

1. Dengan operasi LASIK ini, dapat membantu mengurangi ketergantungan


seseorang pada kaca mata dan lensa kontak.
2. LASIK merupakan jenis operasi laser yang paling umum dilakukan,
umumnya aman dan pengobatan yang efektif dengan menggunakan alat
excimer laser.
26

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, S. 2010. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Uiversitas Indonesia.
2. Richard, A., S.D. Daniel, dan L. Flora . 2008. Is lasik for Me? A Patients
Guide to Refractive Surgery. American Academy of Opthalmology.
3. Ernest,W. K., K. M. Robert, dan M. D. Jonathan. 2006. LASIK A Guide to
Laser Vision Corretion. Second Edition. USA.
4. Lang, G. K. 2006. Opthamology A Pocket Textbook Atlas. 2nd ed. Germany:
University Eye Hospital.
5. Crick, R. P. dan P. T. Khaw. 2003. A Textbook of Clinical Ophthalmology.3rd
edition. Singapura : World Scientific Publishing.
6. Reinstein, D. Z., T. J. Archer, dan M. Gobbe. 2012. The history of LASIK.
Journal of Refractive Surgery. 28(4): 291-98.
7. Binder, P.S., R. L. Lindstrom , dan R. D. Stulting. 2010. Keratoconus and
Corneal Ectasia After LASIK. Journal of Refractive Surgery . 21: 749-753.
8. Reird, T. 2011. Laser Vision Correction: A Tutorial for Medical Students.
http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/tutorials/laser-vision-correction-
tutorial/laser-vision-correction-tutorial.pdf. [ Diakses pada tanggal 3 Mei
2017].
9. Steinert, C. R. F., D. D. Koch, S. S. Lane, dan R. D. Stulting. 2010. LASIK
surgery screening guidelines for patients. The Eye Surgery Education Council.
10. Solomon, K. D., F. Castro, H. P. Sandoval, J. M. Biber, B. Groat, dan K. D.
Neff. 2009. LASIK World Literature Review Quality of Life and Patient
Satisfaction. Ophthalmology. 116:691701.
11. Habsyiyah, A. Shidik, dan T. Rahayu. 2015. Evaluation of Laser in Situ
Keratomileusis Outcomes in Cipto Mangunkusumo Hospital. Department of
Ophthalmology, Faculty of Medicine, University of Indonesia Cipto
Mangunkusumo Hospital, Jakarta.
27

12. Helgesen, A., J. Hjortdal, dan N. Ehlers. 2010. Pupil size and night vision
disturbances after lasik for myopia. Acta Ophthalmologica Scandinavica.
82(4):454-460
13. Epstein, D. 2009. LASIK Outcomes ln Myopia and Hyperopia. Smolin And
Thoft's TheComea. 4th Ed. Lippincott Williams & Wilkins, 1229-1231.
14. Tse, SM, Farley, ND, Tomasko, KR, Amin, SR. 2016. Intraoperative LASIK
Complications. International Ophthalmology Clinics. 54(2) : 47-57.
15. Estopinal, CB dan Mian, S. 2016. LASIK Flap: Postoperative Complications.
International Ophthalmology Clinics. 54(2) : 67-81.
16. Binder, P.S., R. L. Lindstrom, dan R. D. Stulting. 2009. Keratoconus and
Corneal Ectasia After LASIK. Journal of Refractive Surgery. 21:749-753
17. Gulani, A. 2009. Hyperopia LASIK. In: eMedicine Articel. 1-8
18. Matillon, Y. 2010. Correction of Refractive Disorders by Excimer Laser :
Photorefractive Keratectomy and LASIK. The National Agency for
Accreditation and Evaluation in Health (anaes).
19. Wang, M. 2009. Epithelial in growth after Laser In Situ Kerstomileusis. Am I
ophthalmol. 129(6):746-751
20. Turu, L, C. Alexandrescu, D. Stana, dan Tudosescu. 2011. Dry Eye Disease
After LASIK. Journal of Medicine and Life
21. Hammond, S, A.Puri, dan B. Ambati. 2010. Quality of vision and patient
satisfactioner LASIK. Current Opinion in Ophthalmology. 15(4):328-332.
22. Jin, G., dan A.Lyle. 2010. Laser In Situ Keratomileusis for Primary
Hyperopia. In: Cataract Refractive Surgery. 31:776-784.
23. Sugar, A., C.J Rapuano, W.W. Culbertson, dan D.Huang, 2011. Laser In Situ
Keratomielusis for Myopia and Astigmatism : Safety and Efficacy.
Ophthalmology Journal. 109:175
24. Farjo. A. A., A. Suga, S.C. Scallhorn, P. A. Majmudar, dan D.J. Tanzer. 2012.
Femtosecond Laser for LASIK Flap Creation. Ophthalmol. In press corrected
proof.
25. Melk, S.A., dan D.T. 2010. LASIK Complication : Etiology, Management,
and Prevention. Surv of Ophthalmol.