Anda di halaman 1dari 5

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

MATA KULIAH MIKROPALEONTOLOGI

MACAM-MACAM FOSIL MIKRO

OLEH:
ANDI MUHAMMAD YUSRIL
D611 16 009

GOWA
2017
MIKROFOSIL

Mikropaleontologi merupakan cabang paleontologi yang mempelajari


mikrofosil, ilmu ini mempelajari masalah organisme yang hidup pada masa yang
lampau yang berukuran mikroskopis,yang dalam pengamatannya harus
menggunakan Mikroskop atau biasa disebut micro fossils (fosil
mikro). Pembahasan mikropaleontologi ini sesungguhnya sangat heterogen, berasal
baik dari hewan maupun tumbuhan ataupun bagian dari hewan atau tumbuahan.
Pada ilmu Mikropaleontologi ini dikenal adanya Analisis Biostratigrafi. Dimana
biostratigrafi tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dalam penentuan umur
relatif dan lingkungan pengendapan dari suatu Batuan berdasarkan kandungan fosil
yang terkandung dalam batuan tersebut.
Mikrofosil adalah setiap fosil yang untuk mempelajari sifat-sifat dan
strukturnya, paling baik dilakukan di bawah mikroskop (Jones, 1936).

Tipe Mikrofosil

Terdapat dua tipe mikrofosil:


1. Mikrofosil yang secara organisme memang berukuran kecil: Foraminifera,
Dinoflagelata, Ostracoda, dan sebagainya. Biasanya dari organisme bersel
tunggal.
2. Mikrofosil yang berasal atau bagian tubuh dari organisme berukuran besar:
Spora, Pollen, dan stuktur mikro dari suatu organisme.

Jenis Jenis Mikrofosil (Berdasarkan Komposisi Cangkang)

1. Calcareous mikrofosil
Calcareous mikrofosil yaitu Mikrofosil yang komposisi dinding cangkangnya
berasal dari calcium karbonat.

a. Foraminifera
Foraminifera, atau disingkat foram, adalah grup besar Protista
Amoeboid dengan Pseudopodia. cangkang atau kerangka foraminifera
merupakan petunjuk dalam pencarian sumber daya minyak, gas alam dan
mineral. Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang
mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal).
Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun
waktu 540 juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-
kamar yang tersusun sambung-menyambung selama masa pertumbuhannya.
Bahkan ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang
terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera
tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang
terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit)
tergantung dari spesiesnya.
b. Calcareous alga
Calcareous alga adalah Alga yang menyimpan atau mengendapkan
kalsium karbonat di dalam jaringannya Jika alga mati, dia akan meninggalkan
fosil skeleton yang sebenarnya bukanlah skeleton sesungguhnya, tetapi
endapan kalsium karbonat yang terbentuk seperti skeleton. Skeleton-skeleton
inilah yang nantinya akan membentuk sedimen pada tropikal lagoon dan reef
c. Calcareous nannoplankton
Calcareous nannoplankton adalah protista fotosintesis uniseluler,
anggota kelompok Haptophyta. Mereka terdapat berbagai bentuk, tapi
semuanya memiliki kerang yang terdiri dari lempeng kalsium karbonat kecil
yang disebut "coccoliths." Plankton kecil ini banyak ditemukan di lingkungan
laut tropis dan merupakan produsen utama yang penting. Setelah organisme
mati, coccoliths mereka terakumulasi di dasar laut, membentuk merembes
berkapur yang bisa mengeras menjadi kapur dan batu kapur halus lainnya.
Fosil Calcareous nannoplankton telah ditemukan di batugamping dan kapur
sejak Jurassic.
d. Ostracoda
Ostracoda merupakan kelompok Crustacea yang terdapat di air tawar
maupun air asin. Ostracoda berperan dalam keseimbangan ekosistem
sebagai: herbivora dengan memakan ganggang; karnivora dengan memakan
Crustacea kecil dan Annelida; scavenger dengan memakan bangkai dan
detritus.
e. Pteropoda
Pteropoda adalah kelas moluska yang lobus anterior kaki dikembangkan
dalam bentuk luas, tipis, organ-organ winglike, yang mereka berenang di
dekat permukaan laut.
f. Bryozoa
Bryozoa berupa koloni hewan kecil-kecil yang menyerupai lumut
berbulu. Bryozoa sendiri lebih dikenal dengan nama lain Ectropocta, yang
berasal dari kata Ektos yang berarti di luar, dan Proctos yang berarti anus.
Jadi Bryozoa merupakan kelompok hewan yang memiliki anus di bagian luar
lophophore. Saluran pencernaan bryozoa lengkap membentuk huruf U dan
mulut yang di kelilingi oleh lophophore
g. Calpelionellida

2. Phosphatic mikrofosil
Phosphatic mikrofosil yaitu mikrofosil yang komposisi dinding cangkangnya
berasal dari fosfat.

a. Conodonta
Conodontophoridia merupakan filum hewan jenis cacing yang
berukuran mikro dan fosil yang terbentuk berupa gigi, hidup di zaman
paleozoikum khususnya Ordovisium dan Permian dan berkurang
keberadaannya di zaman mesozoikum yang ditemukan campuran fosil pada
batuan mesozoikum.

3. Siliceous mikrofosil
Siliceous mikrofosil yaitu mikrofosil yang komposisi dinding cangkangnya
berasal dari fosfat.
a. Radiolaria
Radiolaria adalah holoplanktonic protozoa dan merupakan bagian dari
zooplankton, mereka adalah non-motil (kecuali saat flagela-bantalan
swarmers reproduksi diproduksi) tapi mengandung apung meningkatkan
struktur, mereka mungkin soliter atau kolonial. Secara formal mereka milik
Phyllum Protista, Subphylum Sarcodina, Kelas Actinopoda, Subclass
radiolaria.
b. Diatom
Diatom adalah suatu kelompok besar dari alga plankton yang
termasuk paling sering ditemui. Kebanyakan diatom adalah bersel tunggal,
walaupun beberapa membentuk rantai atau koloni. Sel diatom dilapisi
dinding sel unik yang terbuat dari silika.
c. Silicoflagelata & Ebridians

4. Organic-walled mikrofosil
Organic-walled mikrofosil yaitu mikrofosil yang hidup pada zaman Kapur
akhir, berdinding organik.
a. Dinoflagelata
Dinoflagellata atau Pyrrophyta yang terdiri dari sekitar 1.100 jenis,
terutama hidup di dalam air laut, walaupun beberapa jenis hidup di air
tawar. Dinoflagellata merupakan ganggang uniseluler yang motil, dengan
ciri utama terdapat celah dan alur di sebelah luar pembungkus yang
melingkupi dinding sel.
b. Chitinozoa
c. Spora & Polen
Polen dan spora berada pada suatu kantong pada bunga yang biasanya
tersusun tetrad (4 butir terkumpul menjadi satu). Pada proses
penyebarannya untuk menyerbuki sel telur dalam hal ini disebut putik pada
tumbuhan berbunga, polen atau spora biasanya akan terlepas sendiri-sendiri.