Anda di halaman 1dari 3

BAB II

Manajemen Bencana Sanitasi dan Higiene Lingkungan

A. Kerusakan Setelah Bencana

Banjir di Garut 21 September 2016 lalu merupakan musibah banjir


badang yang tak pernah terjadi sebelumnya. Ketinggian mencapai 2 meter
dengan arus deras menghancurkan fasilitas rumah warga hingga meratakan
beberapa rumah pemukiman. Data terakhir 27 korban jiwa dan 22 masih
hilang dalam pencarian. Kondisi Garut setelah banjir sangat
memperihatinkan. Banjir bandang datang menghantam 7 Kecamatan di
Kabupaten Garut. Saat ini menyisakan sedih di hati warga. Malam itu, Selasa
jelang tengah malam sekitar pukul 22:30 23.00 luapan Sungai Cimanuk
menerjang deras daerah aliran sungai. Ribuan warga histeris ketakutan
melihat terjangan banjir yang begitu dahsyat. Banjir tak hanya menggenang,
arusnya deras, menerjang apapun yang dilewatinya.

Bahkan fenomena pasca terjangan menyisakan kerusakan hampir


seperti tsunami, arus yang menerjang merusak rumah-rumah dan fasilitas
umum. Ratuasan rumah rusak tak bisa dihuni, sebagian lainnya harus
direnovasi. Tempat-tempat ibadah rusak dan peralatan hilang diseret banjir
bandang. Menurut laporan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut 11 sekolah
dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah
Menengah Atas yang terdampak dan harus direnovasi. kondisi Garut pasca
banjir genangan lumpur ada dimana-mana, masyarakat banyak yang harus
mengungsi karena rumahnya rusak dan rata, sebagian harus berjuang menata
kembali keadaan rumah yang nyaris kehilangan barang-barang berharga
mereka.
Gambar 2.1 Kerusakan akibat banjir bandang Garut

Sejumlah pengungsi korban banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa


Barat, mulai terserang penyakit. Gangguan kesehatan yang paling banyak
terjadi yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), saluran pencernaan, dan
penyakit kulit. Sekarang ini hari-hari tumbuhnya penyakit, pascabanjir inilah
yang bahaya, ujar Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, Sabtu, 24 September
2016. Karena itu pemerintah mendirikan 24 posko kesehatan yang disebar di
sejumlah lokasi bencana untuk mencegah timbulnya wabah penyakit. Pos
kesehatan itu diisi tenaga medis dari para relawan seperti dari Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran, Ikatan Dokter Indonesia, dan Persatuan
Perawat. Kami juga menggratiskan korban banjir untuk berobat di semua
puskesmas, klinik, dan rumah sakit yang ada di Garut, ujar Helmi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Tenni Sewara Rifai


kebutuhan yang paling mendesak saat ini yakni sarung tangan lateks. Sarung
tangan itu sangat dibutuhkan dalam kegiatan pencarian korban yang masih
hilang dan kegiatan medis lainnya. Persediaan di kami dan BPBD juga
kosong, ujarnya. Untuk kebutuhan obat-obatan, Tenni mengaku masih dapat
ditanggulangi dengan persediaan yang ada. Kebutuhan obat juga
mendapatkan suplai dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Selain itu,
Dinas Kesehatan menerjunkan tenaga medis di enam titik daerah rawan
bencana.

Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Sohibul Iman, mengklaim akan


mengerahkan kadernya untuk membantu penanganan bencana banjir bandang
di Garut. Bantuan yang fokus menjadi perhatian yakni penanganan obyek
vital seperti rumah sakit dan kajian kerusakan lingkungan. Kami akan
mendorong kader yang ada di parlemen untuk secepatnya membuat program
pascabencana berikut alokasi dananya, salah satunya di komisi IX DPR RI,
ujarnya.