Anda di halaman 1dari 14

RESUME HASIL BELAJAR

(DIAGNOSIS LESI ORAL VARIASI NORMAL )

Disusun oleh:

INDA YULIA WIDIYANTINA

(G1G009029)

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

JURUSAN KEDOKTERAN GIGI

PURWOKERTO
2016

DIAGNOSIS LESI ORAL VARIASI NORMAL

A. Epitel Rongga Mulut


1. Epitel
Di dalam epitel terdiri dari beberapa lapisan dari dalam ke luar
a. Stratum basal, bentuknya komboideal da nada intinya, disini terdapat
melanosyt, cell langerhans dan cell merkel.
b. Stratum spinosum, bentuknya ellips dan disebut juga prickle cell
c. Stratum granulosum, bentuknya pipih dan besar
d. Stratum corneum, merupakan susunan dari sel yang pipih disebut dengan
squame
2. Rate pegs
3. Lamina propia
a. Serabut : serabut kolagen, serabut elastic, serabut retikuler
b. Saraf
c. Papilla layer : serabut kolagen halus, bagian atas melekat pada
membrane basalis, bagian dalam melekat pada reticular layer
d. Reticular layer, terdiri dari mastikatori mukosa, lining mukosa, spesialis
mukosa.
B. Lesi Oral Variasi Normal

1. Fordyce Granule
a. Etiologi dan Patogenesis
Etiologi dari fordyce granule adalah developmental origin, dan
bukan merupakan suatu penyakit, namun gangguan developmental.
Fordyce granule merupakan suatu kondisi dimana terdapat kelenjar
sebasea ektopik (jaringan normal pada lokasi yang abnormal) pada
mukosa rongga mulut. Fordyce granule timbul dari kelenjar sebasea yang
secara embrionik terperangkap selama penggabungan prosesus maksilaris
dan mandibula. Nama lain dari Fordyce granule adalah Fordyce
condition, Fordyce spot, Fordyce disease dan juga bisa disebut
seboglandulia buccalis. Granula-granula ini terdiri atas kelenjar sebasea
yang diameternya 1-2 mm.
b. Gambaran Klinis
Berupa papula yang sedikit menimbul, berwaran putih, putih krem,
atau kuning, berbatas jelas. Biasanya terjadi dalam jumlah banyak,
membentuk kelompok-kelompok, plak atau bercak. Kelompok yang
melebar akan terasa kasar saat palpasi, kadang juga ditemukan yang
berdiri sendiri (Langlais dan Miller, 2000).

Gambar 1.1 Fordyce granule Gambar 1.1 Fordyce granule

c. Diagnosis
Fordyce granule dapat didiagnosis dari gambaran klinis dan
riwayatnya, biasanya biopsi tidak diperlukan.
d. Perawatan
Tidak ada perawatan yang diindikasikan karena kondisi ini adalah
variasi normal.
2. Leukodema
a. Etiologi dan Patogenesis
Leukoedema adalah perubahan mukosa yang umum, yang dapat
dikatakan lebih mewakili variasi kondisi normal daripada perubahan
patologis sejati. Insidensi leukodema cenderung meningkat dengan
bertambahnya usia. Kondisi ini jauh lebih sering terjadi pada orang kulit
hitam dibandingkan kulit putih, yaitu dilaporkan terjadi 50% pada anak-
anak kulit hitam dan 92 % pada orang dewasa kulit hitam.

b. Gambaran Klinis
Leukoedema tampak sebagai diskolorasi (perubahan warna)
mukosa menjadi tampak keputihan, diffuse, dan filmy (seperti lapisan
film), dengan banyak lipatan-lipatan permukaan yang diakibatkan
mengkerutnya mukosa. Lesi tidak dapat dikelupas, dan menghilang atau
memudar saat mukosa diregangkan. Leukoedema paling sering terjadi di
mukosa bukal (pipi bagian dalam) secara bilateral (kanan dan kiri), dan
kadang-kadang dapat ditemui pada mukosa labial (jaringan lunak bibir),
palatum (langit-langit) lunak, dan dasar mulut. Histopatologi dari
leukoedema terjadi ketebalan epitel yaitu epitel parakeratotik dan
akantotik edema intraseluler pd sel spinosa (Langlais dan Miller, 2000).

Gambar 2.1 . Leukoedema terjadi di mukosa bukal (pipi bagian dalam)

c. Diagnosis
Leukoedema dapat didiagnosis dari gambaran klinis, riwayatnya,
dan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis memperlihatkan
penebalan epitel, dengan edema intraseluler yang signifikan pada stratum
spinosum. Permukaan epitel dapat menunjukkan penebalan lapisan
parakeratin.
Gambar 2.1 Oral Epithelium Mikroskopik

Gambar 2.2 Oral Epithelium Mikroskopik

d. Diagnosa banding
Leukoplakia, candidiasis, lichen planus, white sponge nevus, hereditary
benigna intraepithelial dyskeratosis.
e. Perawatan
Tidak ada perawatan yang diindikasikan karena kondisi ini adalah
variasi normal.
3. White Sponge Nevus
a. Etiologi dan Patogenesis
White Sponge Nevus merupakan kondisi jinak yang diwariskan secara
autosomal dominan, walaupun tampilannya bervariasi. Ini terjadi karena
mutasi titik di dalam gen yang mengkode protein keratin 4 dan 13
(Lewis dan Jordan, 2015).
b. Gambaran Klinis
Kondisi ini asimtomatik dan bercirikan lesi putih bilateral dengan
permukaan yang berlubang, melipat atau keriput yang dalam pada
beberapa bagian mukosa, tidak sakit dan tersebar luas. Lebih sering
mengenai mukosa bukal tetapi kadang-kadang mengenai lidah dasar
mulut atau daerah mukosa lain : faring, esofagus, hidung, genital dan
anus. Histopatologis dari White Sponge Nevus adalah Epitel terlihat
menebal, hiperparakeratosis dan akantosis serta spongiosis dan terjadi
degenerasi hidrofil pada sel spinosa 9 mulai lapisan parabasal hingga
permukaan (Lewis dan Jordan, 2015).

Gambar 3.1 White Sponge Nevus Gambar 3.2 White Sponge


Nevus

c. Diagnosis
Diagnosis ditentukan berdasar presentasi klinis dan riwayat kasus,
khususnya jika melibatkan anggota keluarga. Biopsi menunjukan
hiperkeratosis dengan keratinosit edematus yang menunjukan kondensasi
perinuklear keratin. Tidak ada displasia epitel.
d. Diagnosa banding
Pachyonichia congenita, Lichen planus tipe hiperkeratotik,
dipertimbangkan cheek biting, traumatik atau friksional keratosis.
e. Perawatan
Tidak ada perawatan yang dianjurkan karena kondisi ini jinak dan tidak
ada berpotensi ganas.
4. Linea Alba
a. Etiologi dan Patogenesis
Linea alba adalah suatu perubahan yang sering terjadi pada mukosa
bukal yang berhubungan dengan adanya penekanan, iritasi friksional
akibat gesekan, atau trauma pada bagian muka gigi karena kebiasaan
menghisap (sucking trauma).
b. Gambaran Klinis
Linea alba terletak pada mukosa bukal setinggi dengan bidang
oklusi gigi yang di dekatnya. Linea alba nampak sebagai garis
bergelombang putih, menimbul dengan panjang yang bervariasi dan
terletak pada garis oklusi dimukosa pipi. Secara umum kelainan
bertanduk tanpa gejala ini lebarnya 1 sampai 2 mm dan memanjang dari
mukosa pipi daerah molar kedua sampai ke kaninus. Lesi tersebut
biasanya dijumpai bilateral dan tidak bisa dihapu. Perubahan-perubahan
epitel yang menebal itu terdiri atas jaringan hiperkeratotik yang
merupakan suatu respon terhadap gesekan pada gigi-gigi.

Gambar 4.1 Linea Alba

c. Diagnosis
Diagnosis ditentukan berdasar presentasi klinis dan riwayat kasus.
d. Perawatan
Tidak diperlukan perawatan.
5. Geographic Tongue
a. Etiologi dan Patogenesis
Geographic Tongue merupakan suatu kelainan pada permukaan
lidah berupa daerah kemerahan, tidak berpapila dengan penipisan epitel
dorsal lidah, biasanya dikelilingi zona sempit dari papila yang
beregenerasi, berwarna lebih putih dari daerah yang dikelilinginya
dengan lokasi dan bentuk yang bervariasi. Etiologi geographic tongue
tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan berhubungan dengan
stress emosional, defisiensi nutrisi, herediter, dan hormonal (Langlais).
Kondisi geographic Tongue pada mukosa secara histopatologis
menyerupai psoriasis, namun telah terbukti tidak ada hubungan antara
keduanya (Langlais dan Miller, 2000).
b. Gambaran Klinis
Gambaran yang khas dari kondisi ini adalah daerah eritematosa non
papila yang tidak teratur yang dikelilingi oleh tepi pucat dengan tepi
berbatas jelas pada permukaan dorsal dan tepi lateral lidah. Daerah
tersebut muncul dan hilang dengan relatif cepat selama beberapa hari.
Kadang lesi seperti ini ditemukan pada permukaan mukosa lainnya.
Kondisi ini relatif umumdan dapat mengenai semua kelompok usia,
termasuk anak-anak. Pasien sering kali tidak menyadari kehadiran
geographic tongue, meskipun beberapa orang mengeluh tidak nyaman
saat makan terutama makanan pedas atau panas (Langlais dan Miller,
2000).

Gambar 5.1 Geographic tongue Gambar 5.2 Geographic tongue


c. Diagnosis
Geographic tongue dapat didiagnosis dari gambaran klinis dan
riwayatnya. Biopsi jarang diindikasikan tetapi harus dilakukan apabila
diagnosis tidak meyakinkan.
d. Diagnosis Banding
Candidiasis dan leukoplakia.
e. Perawatan
Ketika geographic tongue yang timbul tanpa disertai gejala, maka
tidak dibutuhkan perawatan yang lebih lanjut, tetapi ketika ditemukan
adanya geographic tongue disertai rasa tidak nyaman dan timbulnya
sensasi perih di lidah, maka perlu dihindari faktor-faktor iritannya seperti
mengonsumsi makanan pedas, minuman berkarbonasi, alkohol, dan
rokok.
Pengobatan awal dapat diberikan vitamin, obat kumur, anti-
anxietas, dan anti-inflamasi, jika diperlukan maka pemberian obat anti-
inflamasi non-steroid (NSAIDs) dan topikal kotikosteroid atau
kortikosteroid sistemik bisa menjadi pilihan. Pada beberapa kasus obat
analgesik mungkin perlu diberikan. Kombinasi obat seperti nystatin-
triamcinolone acetonide, clotrimazole-betamethasone dipropionate, dan
bethamethasone valerate 0,1%, diberikan setiap selesai makan dan
sebelum tidur di daerah yang terdapat geographic tongue.
6. Fissure Tongue
a. Etiologi dan Patogenesis
Fissured tongue disebut juga lingua fissurata, lingua plicata,
scrotal tongue dan grooved tongue. Fissured tongue merupakan
malformasi klinis berupa alur-alur atau lekukan-lekukan pada permukaan
dorsal lidah. Bagian lidah yang berfisur tidak memperlihatkan adanya
papila-papila yang normal. Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas,
diduga kuat merupakan kelainan yang diturunkan, biasanya terjadi pada
orang yang terkena sindrom down dan kombinasi dengan geographic
Tongue.
Kondisi ini biasanya asimtomatis, kecuali bila sisa-sisa makanan
terkumpul di dalam fisur, dapat menyebabkan iritasi fokal, sensitif
terhadap makanan pedas, dan menimbulkan halitosis yang terkadang
diikuti dengan rasa agak perih atau tidak nyaman seperti agak nyeri.
Prevalensi terjadinya fissured tongue adalah sama untuk laki-laki dan
perempuan. Fissured tongue bertambah parah seiring pertambahan usia,
begitu juga jumlah, lebar, dan kedalaman fisur.
b. Gambaran Klinis
Asimptomatik, berupa satu fisura garis tengah, fisura ganda, atau
fisura multipel pada permukaan dorsal dari 2/3 anterior lidah.

Gambar 6.1 Fissured tongue Gambar 6.2 Fissured tongue

c. Diagnosis
Fissured tongue dapat didiagnosis dari gambaran klinis dan
riwayatnya.
d. Perawatan
Untuk Lingual hygine diinstruksikan kepada pasien untuk menyikat
dengan sikat bulu halus dan berkumur, jika celahnya dalam, maka akan
memicu adanya candida glossitis sebaiknya diberi antifungal sebagai
penatalaksanaan.
7. Makula Melanotik
a. Etiologi dan Patogenesis
Makula melanotik adalah pigmentasi fokal di dalam mulut
disebabkan akumulasi melanin dalam epitel dan jaringan ikat superfisial.
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi beberapa makula terlihat berupa
bintik-bintik intraoral dan yang lain merupakan proses reaktif terhadap
sinar matahari, radang, atau trauma.
b. Gambaran Klinis
Makula melanotik nampak sebagai makula cokelat yang pipih
dengan batas jelas, biasanya berukuran 0,5 cm. Bagian yang paling sering
terkena adalah bibir, mukosa bukal, dan gingiva. Lesinya asimtomatik
tetapi dapat menyebabkan problem estetik.

Gambar 7.1 Makula Melanotik di bibir Gambar 7.2 Makula Melanotik

c. Diagnosis
Melihat sifat klinis yang relatif karakteristik, namun biopsi
sebaiknya dilakukan untuk memperoleh diagnosis yang pasti.
d. Perawatan
Tidak ada perawatan yang diperlukan. Kebanyakan makula
berukuran kecil dan dieksisi pada saat biopsi diagnosis. Pada kasus lesi
multipel akan sangat membantu membuat catatan fotografik untuk
melihat jika ada perubahan penampilan. Perubahan penampilan perlu
secepatnya dibiopsi.
8. Nevus Biru
a. Etilogi dan Patogenesis
Nevus biru berasal dari sel-sel nevus berbentuk gelondong yang
terletak dalam di jaringan ikat, sel-sel ini turunan dari sel-sel puncak
saraf yang tak berhasil pindah dari daerah tersebut.
b. Gambaran Klinis
Makula biru, kecil, berbatas jelas, diameternya kurang dari 0,5 cm,
meskipun warna biru pada nevus seringkali memudar dengan
bertambahnya usia. Palatum adalah lokasi yang paling umum.

Gambar 8.1 Nevus Biru di Palatum Gambar 8.2 Nevus Biru di Palatum

c. Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan presentasi klinis dan riwayat kasus,
tetapi diperlukan biopsi untuk menentukan diagnosis banding keganasan.
d. Perawatan
Karena seringkali tidak mungkin membedakan nevi dapatan
dengan lesi berpigmen termasuk melanoma, semua nevi harus dibiopsi
untuk menegakan diagnosis. Kebanyakan lesi kecil oleh karena itu dapat
dibiopsi eksisional.
9. Pigmentasi Fisiologi
a. Etiologi dan Patogenesis
Variasi derajat pigmentasi jaringan lunak mulut terlihat relatif
sering. Peningkatan produksi dan deposisi melanin sering kali merupakan
proses fisiologis, terutama pada individu berkulit gelap.
b. Gambaran Klinis
Gingiva merupakan daerah yang sering terkena walaupun memang
semua bagian mukosa mulut bisa terkena juga. Pigmentasi dapat
bervariasi dari coklat sampai hitam dan simetris atau asimetris.
Gambar 9.1 Pigmentasi Fisiologis Gambar 9.2 Pigmentasi Fisiologis

c. Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan presentasi klinis dan riwayat kasus,
tetapi diperlukan biopsi untuk menentukan diagnosis banding keganasan
apabila pasien melaporkan ada perubahan penampilan.
d. Perawatan
Tidak ada perawatan yang diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA

DeLong, L., Burkhart, N, W., 2013, General And Oral Pathology for The Dental
Hygienist Second Edition, Wolters Kluwer Health | Lippincott Williams &
Wilkins : Philadelphia.

Greenberg MS., Glick M., 2003, Burkets Oral Medicine: Diagnosis and
Treatment. 10th Ed, BC Decker Inc., Hamilton.

Langlais RP., Miller CS, 2000, Atlas Berwarna: Kelainan Rongga Mulut yang
Lazim, Hipokrates, Jakarta.

Lewis Michael A.O,. Jordan Richard C.K, 2015, Penyakit Mulut Diagnosis dan
Terapi Edisi 2, Kedokteran EGC, Jakarta.

Pindborg, J. J., 2009, Atlas Penyakit Mukosa Mulut, Karisma Publishing Group,
Jakarta.