Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Umum Endapan Batubara

2.1.1 Pengertian Batubara


Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya
adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik,
utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.
Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga
adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks
yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur memberikan rumus
formula empiris seperti : C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk
antrasit.
Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode
Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama
yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari
setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu
pembentukan, yang disebut sebagai maturitas organik. Proses awalnya gambut
berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau brown coal (batu bara coklat)
Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan
batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari
hitam pekat sampai kecoklat-coklatan.
Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan
tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah
maturitas organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara sub-
bitumen. Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara
menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk bitumen atau
antrasit. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin
tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.

2.2 Ganesa Endapan Batubara

2.2.1 Proses Pembentukan Batubara


Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan
membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari
sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun
dan mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika,
kimia, maupun geologi. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan
bakar fosil. Secara ringkas ada 2 tahap proses pembatubaraan yang terjadi, yakni:

a. Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman


terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses
perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat
menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik
serta membentuk gambut.
b. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi
bituminus dan akhirnya antrasit.
Secara lebih rinci, proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan
(decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam
suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan
seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
b. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan
terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya
terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
c. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan
mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air
(H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (C02),
karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4).
d. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya
tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan
patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya
intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi high
grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang
terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
e. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa
pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi
terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada
saat ini.

2.2.2 Tahap Pembentukan Batubara

Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia
(penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan).

1. Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan


yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem
pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0,5 10 meter.
Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan H, N, O, dan C dalam bentuk
senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya oleh bakteri
anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992).

2. Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi,


kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang
menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari
gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992). Pada tahap ini prosentase karbon
akan meningkat, sedangkan prosentase hidrogen dan oksigen akan berkurang
(Fischer, 1927, op cit Susilawati 1992). Proses ini akan menghasilkan batubara
dalam berbagai tingkat kematangan material organiknya mulai dari lignit, sub
bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit, hingga meta antrasit.

Gambar 1 proses pembatubaraan

Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan


tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N,
S, P. Hal ini dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan
yang telah mengalami coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama
dengan cara manusia membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat
dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang
pendek, sedang batubara terbentuk oleh proses alam, selama jangka waktu ratusan
hingga ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak
parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas
parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara yang terbentuk.

2.2.3 Teori Pembentukan Batubara


a. Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara.
Terbentuknya ditempat di mana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan
demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses
transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses
coalification. Jenis batubara yang berbentuk dengan cara ini mempunyai
penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relatif
kecil. Batubara yang terbentuk ini di Indonesia didapatkan di lapangan batubara
Muara Enim (Sumatra Selatan).
B. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di
tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang. Dengan
demikian tumbuhan yang telah mati diangkut oleh media air dan berakumulasi disuatu
tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara
yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas, tetapi dteijumpai
dibeberapa tempat, kualitas kurang baik karena banyak pengangkutan dari tempat asal
tanaman ke tempat sedimentasi. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia
didapatkan di lapangan batubara delat Mahakam purba, Kalimantan Timur.

2.3 Bentuk Endapan Batubara

Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah


proses coalification akan menentukan bentuk lapisan batubara. Mengetahui bentuk
lapisan batubara sangat menentukan dalam menghitung cadangan dan
merencanakan cara penambangannya.

Dikenal beberapa bentuk lapisan batubara yaitu :

Bentuk Horse Back


Bentuk Pinch
Bentuk Clay Vein
Bentuk Burried Hill
Bentuk Fault
Bentuk Fold

Bentuk Horse Back

Bentuk ini dicirikan oleh lapisan batubara dan lapisan batuan sedimen
yang menutupinya melengkung ke arah atas, akibat adanya gaya kompresi.
Tingkat perlengkungan sangat ditentukan oleh besaran gaya kompresi. Makin kuat
gaya kompresi yang berpengaruh, makin besar tingkat perlengkungannya. Ke arah
lateral lapisan batubara mungkin akan sama tebalnya atau menjadi tipis.
Kenampakan ini dapat terlihat langsung pada singkapan lapisan batubara yang
tampak/dijumpai di lapangan (dalam skala kecil), atau dapat diketahui dari hasil
rekontruksi beberapa lubang pemboran eksplorasi pada saat dilakukan coring
secara sistematis. Akibat dari perlengkungan ini lapisan batubara terlihat terpecah-
pecah akibatnya batubara menjadi kurang kompak.

Pengaruh air hujan, yang selanjutnya menjadi air tanah, akan mengakibatkan
sebagian dari butiran batuan sedimen yang terletak di atasnya, bersama air tanah
akan masuk di antara rekahan lapisan batubara. Kejadian ini akan megakibatkan
apabila batubara tersebut ditambang, batubara mengalami pengotoran
(kontaminasi) dalam bentuk butiran-butiran batuan sedimen sebagai kontaminan
anorganik, sehingga batubara menjadi tidak bersih. Keberadaan pengotor ini tidak
diinginkan, apabila batubara tersebut akan dipergunakan sebagai bahan bakar.

Gambar 2 Perlapisan Batubara Berbentuk Horse Back

Bentuk Pinch

Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di bagian tengah. Pada
umumnya bagian bawah (dasar) dari lapisan batubara merupakan batuan yang
plastis misalnya batulempung sedang di atas lapisan batubara secara setempat
ditutupi oleh batupasir yang secara lateral merupakan pengisian suatu alur.
Sangat dimungkinkan, bentuk pinch ini bukan merupakan penampakan tunggal,
melainkan merupakan penampakan yang berulang-ulang. Ukuran bentuk pinch
bervariasi dari beberapa meter sampai puluhan meter. Dalam proses penambangan
batubara, batupasir yang mengisi pada alur-alur tersebut tidak terhindarkan ikut
tergali, sehingga keberadaan fragmen-fragmen batupasir tersebut juga dianggap
sebagai pengotor anorganik. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan apabila
batubara tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Gambar 3 Perlapisan Batubara Berbentuk Pinch

Bentuk Clay Vein

Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian lapisan batubara terdapat
urat lempung ataupun pasir. Bentuk ini terjadi apabila pada satu seri lapisan
batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang merupakan
rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun pasir. Apabila batubaranya
ditambang, bentukan Clay Vein ini dipastikan ikut tertambang dan merupakan
pengotor anorganik (mineral matter) yang tidak diharapkan. Pengotor ini harus
dihilangkan apabila batubara tersebut akan dikonsumsi sebagai bahan bakar.

Gambar 3 Perlapisan Batubara Berbentuk clay vein

Bentuk Burried Hill

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara semula terbentuk


suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti terintrusi. Sangat
dimungkinkan lapisan batubara pada bagian yang terintrusi menjadi menipis
atau hampir hilang sama sekali. Bentukan intrusi mempunyai ukuran dari
beberapa meter sampai puluhan meter. Data hasil pemboran inti pada saat
eksplorasi akan banyak membantu dalam menentukan dimensi bentukan tersebut.
Apabila bentukan intrusi tersebut merupakan batuan beku, pada saat proses
penambangan dapat dihindarkan, tetapi apabila bentukan tersebut merupakan
tubuh batupasir, dalam proses penambangan sangat dimungkinkan ikut tergali.
Oleh sebab itu ketelitian dalam perencanaan penambangan sangat diperlukan, agar
fragmen-fragmen intrusi tersebut dalam batubara yang dihasilkan dari kegiatan
penambangan dapat dikurangi sehingga keberadaan pengotor anorganik tersebut
jumlahnya dapat diperkecil.

Gambar 5 Perlapisan Batubara Berbentuk Burried Hill

Bentuk Fault (Patahan)

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami


beberapa seri patahan. Apabila hal ini terjadi, akan mempersulit dalam melakukan
perhitungan cadangan batubara. Hal ini disebabkan telah terjadi pergeseran
perlapisan batubara ke arah vertikal. Dalam melaksanakan eksplorasi batubara di
daerah yang memperlihatkan banyak gejala patahan, diperlukan tingkat ketelitian
yang tinggi, tidak dibenarkan hanya berpedoman pada hasil pemetaan geologi
permukaan saja. Oleh sebab itu, di samping kegiatan pemboran inti, akan lebih
baik bila ditunjang oleh data hasil penelitian geofisika.
Gambar 6. Perlapisan Batubara Berbentuk Fault

Dengan demikian rekonstruksi perjalanan lapisan batubara dapat diikuti dengan


bantuan hasil interpretasi dari data geofisika. Apabila patahan-patahan secara seri
didapatkan, keadaan batubara pada daerah patahan akan ikut hancur. Akibatnya
keberadaan kontaminan anorganik pada batubara tidak terhindarkan. Makin
banyak patahan yang terjadi pada satu seri sedimentasi endapan batubara, makin
banyak kontaminan anorganik yang terikut pada batubara pada saat ditambang.

Bentuk Fold (Perlipatan)

Bentuk ini terjadi apabila di daerah endapan batubara, mengalami proses


tektonik hingga terbentuk perlipatan. Perlipatan tersebut dimungkinkan masih
dalam bentuk sederhana, misalnya bentuk antiklin atau bentuk sinklin, atau sudah
merupakan kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Lapisan batubara bentuk fold,
memberi petunjuk awal pada kita bahwa batubara yang terdapat di daerah tersebut
telah mengalami proses coalification relatif lebih sempurna, akibatnya batubara
yang diperoleh kualitasnya relatif lebih baik. Sering sekali terjadi, lapisan
batubara bentuk fold berasosiasi dengan lapisan batubara berbentuk fault. Dalam
melakukan eksplorasi batubara di daerah yang banyak perlipatan dan patahan,
kegiatan pemboran inti perlu mendapat prioritas utama agar ahli geologi mampu
membuat rekonstruksi struktur dalam usaha menghitung jumlah cadangan
batubara.
2.4 Metode Estimasi Batubara

2.4.1 Perhitungan Cadangan Dengan Metode Penampang


Pada prinsipnya, perhitungan cadangan dengan menggunakan metoda
penampang ini adalah mengkuantifikasikan cadangan pada suatu areal dengan
membuat penampang-penampang yang representatif dan dapat mewakili model
endapan pada daerah tersebut. Pada masing-masing penampang akan diperoleh
(diketahui) luas batubara dan luas overburden. Volume batubara & overburden
dapat diketahui dengan mengalikan luas terhadap jarak pengaruh penampang
tersebut. Perhitungan volume tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan 1
(satu) penampang, atau 2 (dua) penampang, atau 3 (tiga) penampang, atau juga
dengan rangkaian banyak penampang:
Dengan menggunakan 1 (satu) penampang
Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa 1 penampang
mempunyai daerah pengaruh hanya terhadap penampang yang dihitung
saja
Volume = (A x d1) + (A x d2)
dimana : A = luas overburden
d1 = jarak pengaruh penampang ke arah 1
d2 = jarak pengaruh penampang ke arah 2
Volume yang dihitung merupakan volume pada areal pengaruh
penampang tersebut. Jika penampang tunggal tersebut merupakan
penampang korelasi lubang bor, maka akan merefleksikan suatu bentuk
poligon dengan jarak pengaruh penampang sesuai dengan daerah pengaruh
titik bor (poligon) tersebut.
Dengan menggunakan 2 (dua) penampang
Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa volume dihitung pada
areal di antara 2 penampang tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah
variasi (perbedaan) dimensi antara kedua penampang tersebut. Jika tidak
terlalu berbeda (Gambar 4a), maka dapat digunakan rumus mean area &
rumus kerucut terpancung, tetapi jika perbedaannya terlalu besar (Gambar
4b) maka digunakan rumus obelisk.
Dengan menggunakan 3 (tiga) penampang
Metoda 3 (tiga) penampang ini digunakan jika diketahui adanya
variasi (kontras) pada areal di antara 2 (dua) penampang, maka perlu
ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan .Untuk
menghitungnya digunakan rumus prismoida:

2.4.2 Metode USGS 1984


Data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan,
maka metode yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian
adalah metode Circular(USGS)
Penghitungan sumber daya batubara menurut USGS dapat dihitung dengan rumus
Tonnase batubara = A x B x C, dimana:
A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci, feet, cm atau meter
B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton.
C = area batubara dalam acre atau hektar
Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan
sumber daya batubara. Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-
beda, maka perhitungan dilakukan secara terpisah.
1. Kemiringan 00 100
Perhitungan Tonase dilakukan langsung dengan menggunakan rumus Tonnase =
ketebalan batubara x berat jenis batubara x area batubara
2. Kemiringan 100 300
Untuk kemiringan 100 300, tonase batubara harus dibagi dengan
nilai cosinus kemiringan lapisan batubara.
3. Kemiringan > 300
Untuk kemiringan > 300, tonase batubara dikali dengan nilai cosinus kemiringan
lapisan batubara.

2.4.3 Metode Mean Area


Metode ini memerlukan data primer berupa: data titik bor, data kualitas
batubara,overallslope, lebar mineflor, striping ratio, geogicall loose, mining
recovery, processing recovery. Sedangkan data sekunder berupa : peta topografi
skala 1 : 4000, peta geologi daerah penelitian skala 1 : 100000, geologi lokal.
Metode mean area ini terdiri dari beberapa langkah yang harus dilakukan,
meliputi: pembuatan penampang log bor, penentuan kedudukan batubara,
pembuatan iso struktur top dan bottom batubara, pembuatan cropline, pembuatan
peta kualitas batubara (kalori, sulfur dan ash), perhitungan cadangan yang
meliputi : pembuatan sayatan, pembuatan penampang, perhitungan tonase serta
striping ratio. Pembuatan garis sayatan dan penampang sayatan menggunakan
bantuan software autocad land development dimana jarak tiap penampang 20 m.
Perhitungan volume batubara danoverburden menggunakan metode mean area,
yaitu dengan mencari volume dari batubara, yang diperoleh dari rata-rata (mean)
luas area dikalikan dengan jarak penampang, selanjutnya didapatkan tonase dari
batubara dengan mengkalikan volume dengan berat jenis batubara, faktor geologi,
mining recovery, dan processeding recovery. Sehingga diperoleh nilai dari
Striping ratio yaitu perbandingan antara volume overburden dengan cadangan
batubara.

2.4.4 Metode Cross Section

Masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari perhitungan.


Hasil perhitungan secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding
untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih dengan menggunakan
komputer.

2.4.5 Metode Krigging

Kriging yaitu suatu teknik perhitungan untuk estimasi atau simulasi dari
suatu variabel terregional (regionalized variable) yang memakai pendekatan
bahwa data yang dianalisis dianggap sebagai suatu realisasi dari suatu variabel
acak (random variable), dan keseluruhan variable acak dalam daerah yang
dianalisis tersebut akan membentuk suatu fungsi acak dengan menggunakan
model struktural variogram atau kovariogram (Dr. Ir. Rukmana Nugraha Adhi,
1998).
Kriging adalah penaksiran geostatistik linier tak bias yang paling bagus untuk
mengestimasi kadar blok karena menghasilkan varians estimasi minimum BLUE
(Best Linier Unbiased Estimator). (Dr. Ir. Totok Darijanto, 2003). Kriging diambil
dari nama seorang pakar geostatistik dari Afrika Selatan yaitu D.G Krige yang
telah banyak memikirkan hal tersebut sejak tahun 50an.
Secara sederhana, kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat
mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. Bobot yang diperoleh dari
persamaan kriging tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto
yang digunakan dalam penaksiran. Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi
conto di sekitar blok serta model variogramnya.
Perhitungan dengan metoda kriging ini kadang-kadang terlalu kompleks
untuk suatu komoditi tertentu. Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada
penentuan cadangan-cadangan yang mineable dengan kadar-kadar di atas cut off
grade.
Secara sederhana, kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat
mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. Bobot yang diperoleh dari
persamaan kriging tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto
yang digunakan dalam penaksiran. Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi
conto di sekitar blok serta model variogramnya.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian
umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan
organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses
pembatubaraan.

Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia
(penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan),yaitu:

1. Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan


yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan
sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0,5
10 meter.
2. Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi,
kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang
menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari
gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992).

Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah


proses coalification akan menentukan bentuk lapisan batubara. Mengetahui bentuk
lapisan batubara sangat menentukan dalam menghitung cadangan dan
merencanakan cara penambangannya.

Dikenal beberapa bentuk lapisan batubara yaitu :

Bentuk Horse Back


Bentuk Pinch
Bentuk Clay Vein
Bentuk Burried Hill
Bentuk Fault
Bentuk Fold
3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan penulis terlebih lagi
kepada masyarakat luas dan semoga bapak bias membimbing kami lebih dalam
kegiatan perkuliahan.