Anda di halaman 1dari 17

KONSEP DASAR

MANAJEMEN ORGANISASI SEKOLAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok


pada Mata Kuliah Manajemen Organisasi Sekolah

Disusun Oleh :
KELOMPOK I

No. Nama NIM


1. Hayatul Khairul Rahmat 15220011
2. Ayuni Nurazizah 15220021
3. Dwi Ristanto 15220091

Dosen Pengampu :

Failasufah, S.Ag., M.Pd.I.

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis haturkan ke hadirat Allah SWT karena
berkat rahmat dan nikmat -Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat waktu. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi Tugas
Kelompok pada Mata Kuliah Manajemen Organisasi Sekolah yang diampu oleh
Ibuk Failasufah, S.Ag., M.Pd.I.
Makalah yang penulis buat ini berjudul Konsep Dasar Manajemen
Organisasi Sekolah dibuat berdasarkan hasil penyusunan data-data yang
diperoleh dari berbagai buku referensi yang berkaitan dengan Mata Kuliah
Manajemen Organisasi Sekolah, serta berbagai informasi dari berbagai literatur dan
sumber lainnya yang berhubungan dengan Mata Kuliah Manajemen Organisasi
Sekolah. Dalam pembuatan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ibuk Failasufah, S.Ag., M.Pd.I. selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Manajemen
Organisasi Sekolah dimana beliau telah memberikan bimbingan dan arahan serta
masukan dalam penulisan makalah ini. Selain itu, kami selaku penulis tidak lupa
mengucapkan kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan bekerja sama dalam
penyelesaian makalah ini, sehingga pembaca dapat membaca makalah ini.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi penulis dan seluruh pembaca. Penulis menyadari
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan makalah ini menuju lebih baik.

Yogyakarta, September 2017


Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2

BAB II : PEMBAHASAN 3
A. Pengertian Manajemen Organisasi Sekolah 3
B. Tujuan Manajemen Organisasi Sekolah 8
C. Implikasi Fungsi Pokok Manajemen dalam Manajemen
Organisasi Sekolah 9
D. Fungsi Manajemen Organisasi Sekolah dalam Konteks
Keilmuan Bimbingan dan Konseling 11

BAB III : PENUTUP 13


A. Kesimpulan 13
B. Kritik dan Saran 13

DAFTAR PUSTAKA 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan manusia dalam masyarakat saat ini yang semakin semrawut
(chaos) merupakan akibat dari problem yang ada di negara Indonesia.
Problematika ini telah mengantarkan masyarakat kepada berbagai krisis dalam
kehidupan, terutama dalam dunia pendidikan di tanah air. Dalam hal ini
dituntutlah suatu reformasi akan pendidikan di tanah air Indonesia ini.
Diketahui melalui pendidikan akan tercapai tujuan pembangunan. Tujuan
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal inilah yang menjadi
faktor penentu keberhasilan suatu bangsa. Pendidikan akan memberikan
kontribusi yang besar untuk kemajuan suatu bangsa karena dipahami bahwa
masyarakat yang cerdas akan memberikan nuansa kehidupan yang cerdas pula
dan secara progresif akan membentuk suatu kemandirian.
Era reformasi sekarang, mayoritas mengetahui bahwa sekolah merupakan
sarana penyelenggara pendidikan itu sendiri. Sekolah adalah suatu organisasi
kerja yang terdiri dari stake holders untuk mencapai tujuan yang diinginkan
yaitu pemerataan pendidikan dan menciptakan generasi penerus bangsa yang
cerdas yang berwawasan nasionalis dan berkebangsaan sehingga cinta kepada
negaranya sendiri.
Dalam sekolah tentunya untuk mendukung tujuan yang diinginkan perlu
suatu organisasi sehingga tujuan itu bisa direalisasikan. Untuk merealisasikan
haruslah butuh suatu pengaturan yang bagus dan mumpuni yang disebut
manajemen. Suatu organisasi apabila telah termanagemen dengan baik maka
tujuan yang diinginkan juga tercapai. Sama halnya dengan sekolah jika semua
stake holders telah bekerjasama dan berkolaborasi maka tujuan sekolah akan
dengan gampangnya dicapai.
Dalam organisasi sekolah ini penting manajemen yang baik untuk
mendukung realisasi tujuan dan menekankan otonomi dan partisipasi
masyarakat dalam mengembangkan pendidikan dan pengajaran khususnya. Jika
diimplementasikan dalam konteks keilmuan bimbingan dan konseling tentu

1
juga butuh managemen yang bagus sehingga layanan bimbingan dan konseling
bisa berjalan sesuai dengan yang dicita-citakan dan telah menjadi tujuan sejak
awal.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian dari manajemen organisasi sekolah?
2. Apa saja yang menjadi tujuan dari manajemen organisasi sekolah?
3. Bagaimana implikasi fungsi pokok manajemen dalam manajemen
organisasi sekolah?
4. Bagaimana fungsi manajemen organisasi sekolah dalam konteks keilmuan
bimbingan dan konseling?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk menjelaskan pengertian dari manajemen organisasi sekolah.
2. Untuk menjelaskan tujuan dari manajemen organisasi sekolah.
3. Untuk menjelaskan implikasi fungsi pokok manajemen dalam manajemen
organisasi sekolah.
4. Untuk menjelaskan fungsi manajemen organisasi sekolah dalam konteks
keilmuan bimbingan dan konseling.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Manajemen Organisasi Sekolah


Secara leksikal, manajemen organisasi sekolah berasal dari tiga kata, yaitu
manajemen, organisasi, dan sekolah. Berikut ini adalah penjelasan dari tiga kata
tersebut.
1. Pengertian Manajemen
Manajemen ditinjau dari sudut etimologis berasal dari kata manage
yang artinya mengemudikan, memerintah, memimpin, atau dapat juga
diartikan sebagai pengurusan. Secara sederhana, manajemen dapat diartikan
suatu pengurusan atau pengaturan atau memimpin atau membimbing
terhadap orang-orang (pihak lain) dalam rangka usaha untuk mencapai suatu
tujuan tertentu1.
Banyak ahli yang memberikan pandangan dan pendapat yang berbeda-
beda tentang batasan manajemen itu. Hal ini terjadi karena memberikan arti
yang sifatnya umum kepada kebanyakan orang merupakan suatu yang tidak
mudah. Melihat ini, ada tiga fokus untuk mengartikan istilah manajemen itu
sendiri yaitu sebagai berikut.
a. Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang menekankan
perhatian kepada keterampilan atau kemampuan manajerial yang
diklasifikasikan menjadi keterampilan teknikal, manusiawi, dan
konseptual.
b. Manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang
sistematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen.
c. Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style)
seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain dalam
mencapai tujuan2.

1
Abdulsyani, Manajemen Organisasi, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hlm. 1.
2
Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 85.

3
Berikut ini merupakan defenisi manajemen dari beberapa para ahli.
a. Hersey dan Blanchard (1988) menjelaskan manajemen merupakan suatu
proses bagaimana pencapaian sasaran organisasi melalui kepemimpinan.
b. Stoner (1992) mengartikan manajemen adalah suatu proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
c. Sudjana (2000) memandang manajemen adalah rangkaian berbagai
kegiatan wajar yang dilakukan seseorang berdasarkan norma-norma
yang telah ditetapkan dan dalam pelaksanaannya memiliki hubungan
dan saling keterkaitan dengan lainnya.
d. Robbins dan Coultar (1996) mendefenisikan manajemen sebagai suatu
proses untuk membuat aktivitas terselesaikan secara efisien dan efektif
dan melalui orang lain.
e. Donnelly, Gibson, dan Ivancevich (1971) mendefenisikan manajamen
yaitu management is the process by which individual and group effort
is coordinated toward group goals. Defenisi tersebut melihat bahwa
manajamen adalah suatu proses dimana usaha individu dan kelompok
dikoordinasikan untuk mencapai tujuan bersama.
f. George R. Terry (1966) mendefenisikan manajemen yaitu suatu proses
yang jelas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilaksanakan
untuk menentukan serta melaksanakan sasaran atau tujuan yang telah
ditentukan dengan menggunakan sumber daya dan sumber lainnya 3.
g. Terry and Franklin (2003) menjelaskan manajemen adalah suatu proses
yang terdiri dari aktivitas perencanaan, pengaturan, penggerakan, dan
pengendalian yang dilakukan untuk menentukan dan memenuhi sasaran
hasil yang diwujudkan dengan penggunaan manusia dan sumber daya
lainnya4.

3
Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm.
86-87.
4
Jejen Musfah, Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan Praktik, (Jakarta: Kencana,
2015), hlm. 2.

4
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu
proses yang kontinu yang bermuatan kemampuan dan keterampilan khusus
yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan
baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain
dalam mengkoordinasikan dan menggunakan segala sumber untuk
mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif, dan efisien.

2. Pengertian Organisasi
Secara harfiah, organisasi berasal dari kata organum yang artinya adalah
alat, bagian, anggota ataupun badan5. Sementara berikut ini adalah beberapa
pengertian organisasi menurut beberapa para ahli.
a. James D. Mooney menyatakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap
perikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
b. Chester I. Bernard menyebutkan bahwa pengertian organisasi adalah
suatu sistem dari aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih.
c. Ernest Dale dan L. C. Michelon menjelaskan bahwa organisasi adalah
suatu sistem komunikasi dan juga bisa didefenisikan sebagai koordinasi.
d. Fayol dan Drucker menyebutkan organisasi adalah pengelompokan
orang-orang ke dalam aktivitas kerja sama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
e. Siagian menyebutkan organisasi adalah setiap bentuk-bentuk
persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama secara formal
terikat dalam rangka pencapai suatu tujuan yang telah ditentukan, dalam
ikatan mana terdapat seorang atau beberapa orang yang disebut atasan
dan seorang atau sekelompok orang yang sebut bawahan.
f. Prajoedi menjelaskan bahwa organisasi adalah struktur tata pembagian
kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang
pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama
mencapai tujuan tertentu.

5
Abdulsyani, Manajemen Organisasi, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hlm. 19.

5
g. Schein mengatakan bahwa organisasi adalah koordinasi yang rasional
dari aktivitas sejumlah orang dalam mencapai sejumlah tujuan yang
jelas melalui pembagian kerja dan fungsi dan melalui hirarki kekuasaan
dan tanggung jawab6.
Dengan demikian yang dikatakan organisasi adalah suatu sistem yang
terdiri dari kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang jelas dan
kesamaan tujuan melalui pembagian tugas yang jelas pula.

3. Pengertian Sekolah
Sekolah adalah organisasi kerja sebagai wadah kerjasama sekelompok
orang untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, sekolah adalah suatu bentuk
ikatan kerja sama sekelompok orang, yang bermaksud mencapai tujuan
yang telah disepakati bersama. Sekolah merupakan perwujudan dari relasi
antar personal yang didasari oleh berbagai motif, yang menjadi intensif ke
satu arah atau kurang intensif ke arah yang lain. Kesamaan motif dalam
membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan masing-masing akan
mendorong terbentuknya kelompok yang disebut sekolah7.

4. Pengertian Manajemen Organisasi


Secara sederhana, manajemen organisasi dapat diartikan sebagai jalinan
hubungan antara dua pengertian dari manajemen dan organisasi.
Manajemen diartikan sebagai kepengurusan. Kepengurusan yang dilakukan
oleh orang (manajer) untuk mencapai tujuan tertentu dengan
mempergunakan kegiatan sekelompok orang lain. Sedangkan organisasi
adalah sekumpulan orang-orang yang melakukan tugas-tugas yang berbeda
yang dikoordinir untuk mencapai tujuan tertentu.
Dari dua pengertian ini, dapat dilihat manajemen organisasi adalah suatu
kepengurusan atau seni memimpin yang dari seorang manajer yang

6
Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm.
140-142.
7
Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan,
(Jakarta: Haji Masagung, 1989), hlm. 25.

6
ditujukan kepada sekumpulan orang-orang yang terkoordinir dalam suatu
organisasi untuk mencapai tujuan tertentu8.

5. Pengertian Manajemen Organisasi Sekolah


Dalam dunia pendidikan, istilah manajemen organisasi sekolah
merupakan suatu istilah yang menjadi variasi dari istilah manajemen
berbasis sekolah. Ditemukan dalam beberapa literatur disebutkan bahwa
variasi itu diantaranya Self-Managing School, Site-Based Management,
Collaborative School Management, Organizate-Based School Management
atau Community-Based School Management9. Jika diartikan variasi tersebut
semuanya mengarah kepada manajemen organisasi sekolah. Dalam hal ini,
dapat diartikan bahwa pengertian manajemen organisasi sekolah sama
dengan manajemen berbasis sekolah.
Secara leksikal, manajemen berbasis sekolah berasal dari tiga kata, yaitu
manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan
sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata
dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk
belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Berdasarkan makna leksikal tersebut, maka yang dikatakan manajemen
berbasis sekolah adalah penggunaan sumber daya yang berasaskan kepada
sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran10.
Dari asal usul peristilahan, manajemen berbasis sekolah adalah
terjemahan langsung dari School-Based Manajement (SBM). Istilah ini
mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an sebagai
alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atau sekolah.
Reformasi ini perlu dilakukan karena kinerja sekolah selama puluhan tahun
tidak dapat menunjukkan peningkatan yang berarti dalam memenuhi
tuntutan perubahan lingkungan sekolah.

8
Abdulsyani, Manajemen Organisasi, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hlm. 25.
9
Umaedi, dkk., Manajemen Berbasis Sekolah, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2014),
hlm. 4.3.
10
Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model, dan Aplikasi, (Jakarta: Grasindo, 2003),
hlm. 1

7
Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah
sebagai hasil dari desentralisasi pendidikan. Manajemen berbasis sekolah
ini pada prinsipnya bertumpu pada sekolah dan masyarakat serta jauh dari
birokrasi yang bersifat sentralistik. Beberapa defenisi lain yang perlu
diperhatikan yaitu School-Based Management is a strategy to improve
education by transfering significant decision-making authority from state
and district office to individual school. Diketahui bahwa manajemen
berbasis sekolah adalah suatu strategi untuk memperbaiki pendidikan
dengan memindahkan kewenangan pengambilan keputusan yang penting
dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah kepada pihak pengelola
sekolah.
Dengan demikian, dirumuskan manajemen berbasis sekolah adalah
model pengelolaan sekolah dengan memberikan kewenangan yang lebih
besar pada tingkat sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri secara
langsung 11 . Dengan demikian, pengertian manajemen organisasi sekolah
sama halnya dengan pengertian tersebut.

B. Tujuan Manajemen Organisasi Sekolah


Diketahui manajemen organisasi sekolah yang menjadi salah satu variasi
dari manajemen berbasis sekolah merupakan salah satu upaya yang dilakukan
pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan
ilmu dan teknologi, yang dinyatakan dalam GBHN. Manajemen organisasi ini
ditandai dengan adanya otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat untuk
meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan 12 . Peningkatan
efisiensi antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya
partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu dapat
diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas
pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepada
sekolah, dan berlakunya sistem insentif dan disintensif. Peningkatan

11
Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model, dan Aplikasi, (Jakarta: Grasindo, 2003),
hlm. 11
12
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 25.

8
pemerataan pendidikan diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat
yang memungkinkan berkonsentrasi pada kelompok tertentu sehingga
menumbuhkan rasa kepemilikan yang tinggi kepada sekolah.
Dalam literatur lain disebutkan bahwa ada empat aspek yang menjadi tujuan
dari manajemen organisasi sekolah ini yang merupakan hasil kajian dari
pelaksanaannya di negara-negara lain maupun yang tersirat dari kebijakan
pemerintah dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun
2003 yaitu sebagai berikut.
1. Manajemen organisasi sekolah bertujuan mencapai mutu (quality) dan
relevansi pendidikan yang setinggi-tingginya, dengan tolok ukur penilaian
pada hasil (output dan outcome) bukan metodologi atau proses.
2. Manajemen organisasi sekolah bertujuan menjamin keadilan bagi setiap
anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu di sekolah.
3. Manajemen organisasi sekolah bertujuan untuk meningkatkan efektivitas
dan efisiensi.
4. Manajemen organisasi sekolah bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas
sekolah dan komitmen semua stake holders13.

C. Implikasi Fungsi Pokok Manajemen dalam Manajemen Organisasi


Sekolah
Dalam kerangka manajemen organisasi sekolah dipahami pentingnya
perhatian penuh sekolah dalam mengatur pendidikan dan pengajaran,
merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi, mempertanggungjawabkan,
mengatur, serta memimpin sumber daya insani serta barang-barang untuk
membantu pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang sekolah
inginkan.
Untuk itu, perlu memahami fungsi pokok manajemen yaitu perencanaan,
pelaksanaan, dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat hal ini merupakan
suatu kesinambungan.

13
Umaedi, dkk., Manajemen Berbasis Sekolah, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2014),
hlm. 4.8-4.10.

9
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan
keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu mendatang.
Dalam perencanaan ini terhadap program pendidikan setidaknya ada dua
fungsi utama yaitu untuk menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan
yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi dengan
mempertimbangkan sumber daya yang tersedia dan menggunakan sumber
daya yang terbatas seefisien dan efektif mungkin untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan14.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian yaitu proses mengatur, mengalokasikan, dan
mendistribusikan pekerjaan, wewenang, dan sumber daya dalam organisasi
untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam prakteknya, untuk mencapai
tujuan yang diinginkan setiap stake holders harus memahami tugas masing-
masing untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari suatu sekolah15.
3. Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan merupakan suatu kegiatan untuk merealisasikan rencana
menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan
efisien. Dalam pelaksanaannya, suatu sekolah harus menetapkan kekuatan
yang dimilikinya secara mantap dan meyakinkan sehingga proses
pendidikan yang diinginkan bisa terealisasikan.
4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan merupakan rangkaian untuk mengamati secara sistematis
dan berkesinambungan dan merupakan kunci keberhasilan dalam
keseluruhan proses manajemen yang perlu dilihat secara komprehensif,
terpadu dan tidak terbatas pada hal tertentu saja.

14
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 20-21.
15
Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm.
95.

10
Pelaksanaan manajemen sekolah yang efektif dan efisien jika dilaksanakan
keempat fungsi pokok manajemen tersebut secara terpadu dan terintegrasi
dalam bidang-bidang kegiatan pendidikan terutama organisasi sekolah.

D. Fungsi Manajemen Organisasi Sekolah dalam Konteks Keilmuan


Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan makna manajemen organisasi sekolah, ada beberapa aspek
yang menjadi ciri khas dari manajemen organisasi sekolah, yaitu:
1. Melibatkan semua kelompok stakeholders dalam penyusunan program
sekolah dan pengambilan keputusan.
2. Pengambilan keputusan secara kolektif.
3. Partisipasi atau kerjasama antar stakeholders dalam penyusunan dan
penyelenggaraan program.
Manajemen organisasi sekolah meniscayakan kerjasama, partisipasi, dan
keterbukaan dalam penyelenggaraan program pendidikan dan pembelajaran.
Ketiga aspek ini bisa diimplementasikan dalam pelayanan bimbingan dan
konseling. Artinya dalam penyusunan dan penyelenggaraan program pelayanan
bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah juga mansyaratkan adanya
kerjasama, partisipasi, dan keterbukaan.
Penyusunan program bimbingan dan konseling dan pelaksanaannya tidak
mungkin bisa dilakukan sendiri oleh kepala sekolah atau oleh petugas
bimbingan sekolah dan madrasah. Penyusunan program bimbingan dan
konseling dan pelaksanaannya akan melibatkan berbagai pihak yang terkait di
sekolah atau madrasah. Berbagai pihak yang terkait itulah yang dalam
manajemen organisasi sekolah disebut dengan stakeholders. Ini artinya
penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah atau madrasah dan
pelaksanaannya memerlukan kerjasama dan partisipasi stakeholders sekolah
yang diantaranya adalah kepala sekolah dan wakil-wakilnya, guru, siswa,
konselor, wakil pemerintah, dan wakil organisasi pendidikan.
Penyusunan program bimbingan dan konseling juga meniscayakan adanya
keterbukaan. Keniscayaan ini relevan dengan asas layanan bimbingan dan
konseling itu sendiri yang salah satunya adalah keterbukaan. Penyusunan

11
program bimbingan dan konseling di sekolah dan di madrasah serta
pelaksanaannya yang melibatkan stakeholders di sekolah dan madrasah,
diharapkan dapat mencapai peningkatan mutu pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah dan madrasah yang bersangkutan16.

16
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah: Berbasis Integrasi, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2009), hlm. 286-287.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manajemen organisasi sekolah adalah adalah suatu strategi untuk
memperbaiki pendidikan dengan memindahkan kewenangan pengambilan
keputusan yang penting dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah kepada
pihak pengelola sekolah dengan model pengelolaan sekolah dengan
memberikan kewenangan yang lebih besar pada organisasi sekolah untuk
mengelola sekolahnya sendiri secara langsung dalam rangka mencapai tujuan
yang diinginkan. Manajemen organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan
efisiensi, efektivitas, mutu, dan akuntabilitas seluruh stake holders di sekolah.
Dalam konteks keilmuan bimbingan dan konseling, manajemen organisasi
sekolah diperlukan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling yang
pelaksanaannya akan melibatkan berbagai pihak yang terkait di sekolah atau
madrasah yang disebut stake holders diantaranya adalah kepala sekolah dan
wakil-wakilnya, guru, siswa, konselor, wakil pemerintah, dan wakil organisasi
pendidikan.

B. Kritik dan Saran


Bagi seorang konselor harus memahami bahwa dalam penyusunan program
layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan sendiri tetapi harus
melibatkan stake holders lainnya karena tujuan bimbingan dan konseling akan
selaras dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah.

13
DAFTAR PUSTAKA

Abdulsyani, Manajemen Organisasi, Jakarta: Bina Aksara, 1987.

Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta,


2010.

Mulyasa, Enco, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi,


Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Musfah, Jejen, Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan Praktik, Jakarta:


Kencana, 2015.

Nawawi, Hadari, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas sebagai Lembaga


Pendidikan, Jakarta: Haji Masagung, 1989

Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model, dan Aplikasi, Jakarta:


Grasindo, 2003.

Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah: Berbasis Integrasi,


Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Umaedi, dkk., Manajemen Berbasis Sekolah, Tangerang Selatan: Universitas


Terbuka, 2014.

14