Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN

1
2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hubungan Tegangan Regangan


Setiap material tentunya memiliki suatu bentuk hubungan antara tegangan dan
regangan yang dimiliki material tersebut. Hubungan antara tegangan dan regangan
ini menggambarkan kekakuan suatu material. Parameter yang menghubungkan
antara tegangan dan regangan ini disebut modulus elastisitas. Modulus elastisitas
yang memiliki istilah lain yaitu Modulus Young adalah perbandingan antara tegangan
dan regangan aksial (satu dimensi) dalam deformasi yang elastis. Modulus elastisitas
menggambarkan kekakuan suatu material yang berarti bahwa apabila suatu material
memiliki nilai modulus elastisitas yang besar, maka semakin kecil perubahan bentuk
yang terjadi apabila diberi tegangan tertentu.
Konsep modulus elastisitas ini menggambarkan bahwa setiap material akan
mengalami pertubahan bentuk yang ditandai dengan pertambahan atau pengurangan
panjang apabila mengalami tegangan tertentu. Besarnya perubahan panjang yang
dimiliki oleh setiap material berbeda-beda tergantung dari besaran elastisitas material
tersebut. Sebagai contoh atas perbedaan perubahan panjang ini dapat kita temukan
saat kita menarik atau memberi tegangan tarik terhadap karet dan batang baja.
Tentunya pada saat menarik material karet lebih mudah dan mengalami perubahan
panjang yang jauh lebih besar dibandingkan dengan material batang baja.
Tegangan adalah besaran yang menyatakan perbandingan antara suatu besaran
gaya terhadap luas penampang yang tegak lurus terhadap gaya tersebut, berikut
adalah persamaan matematis untuk tegangan :

...(2.1)

dimana :
= Tegangan (N/m2)
F = Gaya (N)
A = Luas Penampang (m2)

Secara umum sifat tegangan memiliki dua buah kondisi, pertama adalah
kondisi dimana suatu material mengalami pertambahan panjang akibat tegangan tarik

3
dan mengalami perpendekan panjang akibat tegangan kompresional (tekan). Berikut
adalah sebuah ilustrasi untuk lebih menjelaskan kedua sifat tegangan tersebut :

Tegangan Tarik = Luas Penampang

Tegangan Kompresional

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.1 Tegangan Tarik dan Tegangan Kompresional


Sumber : http://andhikasnmc.blogspot.com/2011/11/fisika-elastisitas.html

Dalam aplikasinya terdapat beberapa jenis tegangan yang dapat ditemukan,


jenis-jenis tegangan tersebut adalah :
1. Tegangan Normal
Tegangan normal adalah tegangan yang terjadi pada suatu benda akibat adanya
gaya normal atau gaya yang diberikan searah penampang benda.

2. Tegangan Geser
Tegangan geser adalah tegangan yang terjadi pada suatu benda akibat adanya
gaya geser atau gaya yang diberikan tegak lurus dengan penampang benda.

3. Tegangan Momen
Tegangan momen adalah tegangan yang terjadi pada suatu benda akibat gaya
yang mengakibatkan benda melekuk atau melengkung.

4. Tegangan Puntir
Tegangan puntir adalah tegangan yang terjadi pada suatu benda akibat gaya
putar yang mengakibatkan benda menjadi terpuntir.

Regangan adalah besaran yang menyatakan suatu perbandingan antara


perubahan panjang terhadap panjang awal dari suatu material, berikut adalah
persamaan matematis untuk regangan :

...(2.2)

dimana :
5

= Regangan (m/m)
L = Perubahan Panjang (m)
L0 = Panjang Awal (m)

Hubungan antara tegangan dan regangan yang dinyatakan dalam modulus


elastisitas secara matematis dapat dilihat pada persamaan berikut :

...(2.3)

dimana :
E = Modulus Elastisitas (N/m2)
= Tegangan (N/m2)
= Regangan (m/m)

Dalam hubungan antara tegangan dan regangan, selain modulus elastisitas


terdapat parameter lain yang sangat penting yaitu angka poisson (poisson ratio).
Angka poisson adalah angka perbandingan antara regangan horizontal (lateral strain)
dan regangan vertikal (axial strain) yang disebabkan oleh beban sejajar sumbu dan
regangan aksial (Yoder, E.J. and Witczak, M.W., 1975). Berikut adalah persamaan
matematis dan ilustrasi gambar untuk angka poisson :

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.2 Ilustrasi Angka Poisson


Sumber : http://www.diracdelta.co.uk/science/source/p/o/poissons%20ratio/source.html#.Vbjr-LOqqko

Persamaan matematis untuk angka poisson :


...(2.4)

dimana :
= Angka Poisson (non-dimensional)
h = Regangan Horizontal (m/m)
v = Regangan Vertikal (m/m)

Dengan adanya angka poisson, modulus elastisitas dapat dibagi menjadi tiga
macam, mereka adalah Modulus Young, Modulus Geser, dan Modulus Bulk. Berikut
adalah penjelasan lebih lanjut untuk ketiga jenis modulus elastisitas tersebut :
1. Modulus Young
Modulus young adalah modulus elastisitas secara umum dimana penggunaan
regangan hanya pada satu dimensi saja yaitu regangan panjang.

Regangan

Tegangan

Tegangan
Modulus Young
Regangan

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.3 Modulus Young


Sumber : http://neonnerenn.blogspot.com/2010_01_01_archive.html

2. Modulus Geser
Modulus geser adalah modulus elastisitas dengan regangan berupa regangan
geser yang menunjukkan pergerakan benda yang saling bergesekkan. Berikut adalah
persamaan matematis untuk modulus geser :

...(2.5)

dimana :
G = Modulus Geser (N/m2)
E = Modulus Young (N/m2)
= Angka Poisson (non-dimensional)
7

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.4 Modulus Geser


Sumber : http://www.spaceflight.esa.int/impress/text/education/Mechanical%20Properties/MoreModuli.html

3. Modulus Bulk
Modulus bulk adalah modulus elastisitas dengan regangan berupa regangan
volume. Berikut adalah persamaan matematis untuk modulus geser :

...(2.6)

dimana :
K = Modulus Bulk (N/m2)
E = Modulus Young (N/m2)
= Angka Poisson (non-dimensional)

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.5 Modulus Bulk


Sumber : http://www.spaceflight.esa.int/impress/text/education/Mechanical%20Properties/MoreModuli.html

Untuk beberapa material, berikut adalah contoh nilai modulus young, modulus
geser dan modulus bulk yang dimiliki beberapa material tersebut :
Tabel TINJAUAN PUSTAKA.1 Daftar Nilai Modulus Elastisitas Untuk Beberapa
Material
Modulus Young Modulus Geser Modulus Bulk
Material
kPa
Besi 100 x 106 40 x 106 90 x 106
Baja 200 x 106 80 x 106 140 x 106
Kuningan 90 x 106 35 x 106 75 x 106
Aluminium 70 x 106 25 x 106 70 x 106
Beton 20 x 106 - -
Marmer 50 x 106 - 70 x 106
Granit 45 x 106 - 45 x 106
Nylon 5 x 106 - -
Tulang 15 x 106 80 x 106 -
Air - - 1 x 106
Sumber: : https://www.academia.edu/7008985/modulus_elastisitas_tegangan_regangan_dan_rasio_poisson (oleh:
Kurnia Utami)

Hubungan tegangan dan regangan secara garis kurva dalam grafik pada
umumnya memiliki dua kondisi garis, yaitu garis linear dan non-linear. Berikut
adalah contoh gambar grafik untuk keadaan yang dimaksud :

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.6 Grafik Hubungan Tegangan dan Regangan


Sumber : https://maesanamaku.wordpress.com/2012/09/10/berkenalan-dengan-tegangan-regangan-modulus-
elastisitas-daktalitas-material-part-1/ (oleh: Maesa Sukardi)

Pada Gambar 2.6 dapat kita lihat garis linear adalah garis yang dimulai dari
keadaan awal hingga titik leleh, sedangkan bagian garis non-linear dimulai dari titik
9

leleh hingga titik putus. Pada Gambar 2.6 juga dapat dilihat adanya bagian daerah
elastis dan bagian daerah inelastis. Pengertian dari adanya kedua jenis daerah
tersebut adalah dimana daerah elastis berarti benda akan kembali ke bentuk atau
kondisi semula apabila benda tersebut hanya mengalami tegangan dan regangan di
daerah elastis, sedangkan apabila benda telah mengalami tegangan dan regangan
yang berada di dalam daerah inelastis maka benda tidak akan kembali lagi ke bentuk
atau kondisi semula.
Selain kondisi elastis dan inelastis terdapat juga kondisi necking. Kondisi
necking ini adalah kondisi yang hanya timbul apabila benda mengalami tegangan
tarik, berikut adalah ilustrasi untuk kondisi necking tersebut :

Necking

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.7 Kondisi Necking Akibat Tegangan Tarik


Sumber : http://revisionworld.com/a2-level-level-revision/physics/force-motion/solid-materials/steel

Dengan adanya kondisi linear dan non-linear tersebut, perlu diketahui bahwa
konsep modulus elastisitas hanya berlaku pada bagian linear dan tidak berlaku pada
bagian non-linear. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa nilai modulus elastisitas
hanya menggambarkan kekakuan suatu benda sebelum melewati batas titik leleh dari
benda tersebut.

2.2 Pengujian Triaxial Test


Pengujian triaxial test adalah salah satu pengujian yang banyak dilakukan
untuk mengetahui parameter-parameter tanah. Tujuan dari pengujian triaxial test ini
adalah untuk mendapatkan parameter-parameter kekuatan tanah (shear strength)
seperti kohesi (c) dan sudut geser (). Selain parameter kohesi dan sudut geser,
melalui pengujian triaxial test ini juga dapat memperoleh nilai parameter kekakuan
tanah (soil stiffness) melalui grafik hubungan antara tegangan dan regangan.
Pada dasarnya pengujian triaxial test dilakukan dengan cara memberi tegangan
keliling (lateral pressure) secara konstan kepada sampel tanah dan dilakukan
pembebanan berupa pemberian tegangan aksial (axial stress) secara perlahan dengan
dibaca atau dicatat nilai tegangan aksial yang timbul pada setiap nilai deformasi
tertentu. Umumnya pengujian ini dilakukan dengan memberi tiga variasi nilai
tegangan keliling yang meningkat dua kali dari sebelumnya, seperti apabila dimulai
dengan tegangan keliling 20 kPa maka dilanjutkan dengan tegangan keliling sebesar
40 kPa dan 80 kPa. Untuk lebih jelas mengenai alat yang digunakan dalam pengujian
triaxial test ini, berikut adalah contoh gambar untuk alat tersebut :

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.8 Peralatan Pengujian Triaxial Test


Sumber : http://www.cm.nitech.ac.jp/jiban/english/research.html

Sampel yang digunakan pada pengujian triaxial test merupakan jenis sampel
yang tidak terganggu (undisturbed sample), hal ini dikarenakan untuk mengetahui
kondisi tanah asli maka tanah sampel yang diuji harus terjamin kesesuaiannya
dengan keadaan asli yang ada di lapangan. Pengambilan sampel yang akan dilakukan
pengujian triaxial test ini dilakukan dengan selongsong yang dimasukkan ke dalam
tanah dan diambil tanah tersebut. Adapun pada umumnya pengambilan sampel ini
juga dibarengi dengan dilakukannya proses pengambilan data borelog yang
merupakan salah satu pengujian untuk mengetahui karekteristik tanah secara
continue disetiap lapisannya hingga kedalaman tertentu. Sampel yang digunakan
berbentuk silinder dan pada umumnya ukuran sampel tersebut berdiameter 38 mm
dan tinggi 76 mm.
Proses pengujian triaxial test terbagi menjadi tiga kondisi. Pembagian ini
berdasarkan pada kondisi konsolidasi dan keadaan aliran air pada sampel selama
11

pengujian berlangsung. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut untuk ketiga kondisi
pengujian triaxial test tersebut :

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.9 Tampak Potongan Alat Triaxial Test


Sumber : http://www.gdsinstruments.com/__assets__/pagepdf/000037/part%201%20of%203_.pdf

1. Unconsolidated Undrained Triaxial Test


Secara singkat, pengujian jenis ini berarti bahwa sampel tidak dilakukan
konsolidasi telebih dahulu dan pada saat pembebanan kondisi air tidak dibiarkan
mengalir. Pengujian triaxial test jenis unconsolidated undrained ini merupakan
pengujian yang menggunakan waktu sangat singkat karena setelah sampel terpasang
dalam rangkaian alat, pembebanan dapat langsung dijalankan dengan kondisi selang
drainase tertutup. Kelemahan dari pengujian jenis ini adalah tidak diketahuinya nilai
pore pressure yang dialami oleh sampel sehingga hasil yang diperoleh hanya berupa
data kondisi total stress.

2. Consolidated Undrained Triaxial Test


Tidak seperti pengujian unconsolidated undrained sebelumnya, pada pengujian
consolidated undrained ini melakukan proses konsolidasi terlebih dahulu dengan
cara diberi cell pressure dan back pressure tertentu hingga sampel tanah tersaturasi
secara penuh (fully saturated) dalam jangka waktu tertentu. Setelah proses saturasi
selesai, dilanjutkan proses konsolidasi dengan memberikan beban yang tidak lebih
besar dari 0,5% dari perkiraan beban saat failure. Dengan kondisi selang drainase
yang tertutup, pertahankan nilai back pressure dalam keadaan konstan dan
meningkatkan nilai chamber pressure hingga selisih dari kedua pressure ini sesuai
dengan effective consolidation pressure. Proses konsolidasi ini dilakukan dalam
waktu yang disesuaikan dengan jenis tanah dan dilanjutkan ke proses selanjutnya
setelah terkonsolidasi 100%.
Setelah sampel melalui proses saturasi dan konsolidasi, diakhiri dengan proses
pembebanan yang dilakukan dengan kondisi selang drainase tertutup. Pengujian
triaxial jenis consolidated undrained ini merupakan pengujian yang menggunakan
waktu yang tidak singkat tetapi masih dapat dikatakan tidak lama karena adanya
pengujian lain yang memakan waktu sangat lama yaitu pengujian consolidated
drained test. Karena nilai pore pressure yang dapat diukur, menjadikan pengujian
jenis ini pengujian yang sangat dianjurkan karena hasil pengujian berupa kondisi
effective stress dari tanah dengan waktu yang tidak lama.

3. Consolidated Drained Triaxial Test


Pengujian jenis consolidated drained ini merupakan pengujian yang
memberikan hasil sangat baik karena hasil yang berupa kondisi effective stress dari
tanah dan kondisi drained yang berarti air didalam sampel tanah diizinkan mengalir.
Perbedaan pengujian jenis ini dibandingkan dari pengujian consolidated undrained
adalah pada saat pembebanan dimana pada pengujian ini selang drainase dibiarkan
terbuka sehingga air dapat mengalir keluar. Akan tetapi dibalik tersedianya hasil
yang sangat baik, pengujian jenis ini menggunakan waktu yang sangat lama karena
pengujian triaxial test ini dilakukan pada tanah yang berbutir halus. Oleh karena nilai
permeabilitas dari tanah berbutir halus yang sangat kecil, menyebabkan proses
drainase air dari dalam sampel tanah membutuhkan waktu yang lama. Dengan
penggunaan waktu yang sangat lama ini menyebabkan pengujian jenis ini
membutuhkan biaya yang tidak murah.
Dalam penggunaanya, pertimbangan yang bijak harus dimiliki oleh seorang
engineer dalam menentukan jenis triaxial test mana yang perlu dilakukan. Beberapa
hal yang menjadi bahan pertimbangan untuk pemilihan jenis triaxial test tersebut
adalah ketersediaan biaya dan kebutuhan parameter-parameter tertentu guna
menciptakan hasil desain yang baik dan efisien. Secara singkat, penjelasan mengenai
jenis-jenis triaxial test dapat dilihat dari ilustrasi gambar berikut :
13

Tipe Pengujian Triaxial Tegangan Deviatoric


( = q)

Apakah Katup Drainase Terbuka? Apakah Katup Drainase Terbuka?


Ya Tidak Ya Tidak

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.10 Jenis-jenis Pengujian Triaxial Test


Sumber : http://www.slideshare.net/reskiaprilia/mekanika-tanah-triaxial-shear-test

Pada penelitian ini, jenis pengujian yang digunakan adalah jenis consolidated
undrained triaxial test dengan data mentah berupa data bacaan deformation, load
dial, dan pore pressure. Pada umumnya pengujian triaxial test ini dilakukan terhadap
tiga buah sampel untuk menghasilkan satu data. Ketiga sampel tersebut dibedakan
hanya pada besaran nilai tegangan keliling (3) yang diberikan. Adapun besaran
tegangan keliling yang diberikan tidak sembarangan melainkan terdapat suatu kaidah
atau aturan tertentu guna menghasilkan data yang bersifat representatif. Aturan
tersebut adalah nilai tegangan keliling berikutnya merupakan dua kali dari nilai
tegangan keliling sebelumnya, sebagai contoh apabila tegangan keliling nomor satu
(3-1) adalah 50 kPa, maka nilai untuk tegangan keliling nomor dua ( 3-2) adalah 100
kPa, dan nilai tegangan keliling nomor tiga (3-3) adalah 200 kPa. Berikut adalah
contoh grafik hasil pengujian triaxial test yang merupakan grafik hubungan antara
tegangan dan regangan :
Gambar TINJAUAN PUSTAKA.11 Contoh Grafik Hasil Pengujian Triaxial Test
Dari Gambar 2.11, dapat dilihat bahwa terdapat tiga buah kurva yang
menandakan tiga nilai tegangan keliling yang berbeda-beda seperti telah dijelaskan
sebelumnya. Sebelum grafik hasil tersebut dapat dibuat, perlu dilakukan beberapa
tahap perhitungan terhadap data mentah yang telah diperoleh yaitu deformation, load
dial, dan pore pressure. Berikut adalah tahap-tahap perhitungan yang dilakukan guna
menghasilkan grafik hubungan antara deviatoric stress dan axial strain :
Data awal sebelum pembebanan (loading) dijalankan :
Initial Sample Diameter (D0) Initial Sample Area (A0);
Initial Sample Heght (H0);
Cell Pressure (CP);
Back Pressure (BP);
Load Ring Calibration (Rc);
Deformation Gauge Calibration (Dc);
Pore Pressure (u).

1. Mencari nilai excess pore pressure (u):

...(2.7)

2. Mencari nilai axial strain (a):


15

...(2.8)

3. Mencari nilai corrected area (Ac):

...(2.9)

4. Mencari nilai deviatoric stress (q):

...(2.10)

Proses perhitungan dari persamaan-persamaan yang ada diatas dilakukan


menggunakan sistem tabel. Berikut adalah salah satu contoh tabel perhitungan hasil
uji triaxial test :
Tabel TINJAUAN PUSTAKA.2 Contoh Tabel Hasil Pengujian Triaxial Test
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]
Excess
Pore Strain,
Pore Corrected Deviatoric
Deformation Load Dial Pressure,
u
Pressure,
u
a Area, Ac Stress, q = q'

Applied Read Read [3] - BP [1].Dc/Ho Ao/(1-a) [2].Rc/[6]


div div kPa kPa % cm2 kPa
0 0,0 190,0 0,0 0,000 11,341 0,00
40 35,0 199,0 9,0 0,526 11,401 35,61
80 62,0 210,0 20,0 1,053 11,462 62,75
120 80,0 215,0 25,0 1,579 11,523 80,53
160 93,0 219,0 29,0 2,105 11,585 93,12
200 101,0 222,0 32,0 2,632 11,648 100,59
240 106,0 225,0 35,0 3,158 11,711 105,00
280 109,0 227,0 37,0 3,684 11,775 107,38
300 111,0 229,0 39,0 3,947 11,807 109,05
360 113,0 230,0 40,0 4,737 11,905 110,10
400 114,0 231,0 41,0 5,263 11,971 110,46
440 115,0 232,0 42,0 5,789 12,038 110,81
480 115,0 232,0 42,0 6,316 12,106 110,20
520 115,0 231,0 41,0 6,842 12,174 109,58
560
600
2.3 Modulus Elastisitas Tanah
Pada tanah, penggunaan modulus elastisitas memiliki pemahaman yang
berbeda dengan kekuatan dari tanah tersebut dimana modulus elastisitas
mnggambarkan kekakuan dari tanah. Berikut adalah pendekatan pemahaman
modulus elastisitas tanah yang diperoleh dari buku An Introduction to The
Mechanics of Soils and Foundations yang ditulis oleh John Atkinson pada tahun
1993: Kekakuan dan kekuatan tanah adalah dua hal yang cukup berbeda, dimana
yang satu menyatakan deformasi yang timbul dengan tegangan tertentu dan disisi
lain adalah maksimum tegangan yang mampu ditopang. Seperti contoh bahwa
material besi itu kuat dan kaku, material margarin itu lembek dan lemah, material
papan itu kaku dan lemah, dan material karet itu lembek dan kuat.
Tegangan Efektif,

Ultimate Stress = Strength

Yield

Gradient = Stiffness

Regangan,

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.12 Grafik Hubungan Tegangan Regangan (Stress


Strain)
Sumber : An Introduction to The Mechanics of Soils and Foundations, John Atkinson 1993
17

Tegangan Efektif,

Tangent

Secant
Regangan,

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.13 Secant Modulus dan Tangent Modulus


Sumber : An Introduction to The Mechanics of Soils and Foundations, John Atkinson 1993
Pada gambar 2.13, dapat dilihat adanya dua jenis modulus elastisitas yaitu
secant modulus dan tangent modulus. Jenis yang digunakan sebagai modulus
elastisitas tanah adalah bagian secant modulus.
Penggunaan nilai modulus elastisitas tanah untuk desain struktur tanah
menggunakan nilai E50, dimana E50 ini adalah nilai modulus elastisitas tanah pada
tegangan (stress) 50 % dari tegangan maksimum atau dalam kata lain memiliki faktor
keamanan yaitu dua (2). Berikut adalah keberadaan nilai E50 dalam grafik hubungan
tegangan dan regangan :
Tegangan Deviatoric, q

E50

50

50 Regangan,

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.14 Modulus Elastisitas E50


Sumber : Soil Stifness for Jakarta Silty and Clayey Soils, Gouw, T.L. dan Hiasinta 2008

Berdasarkan Gambar 2.14, nilai modulus elastisitas E50 dapat disajikan dalam
bentuk persamaan matematis seperti berikut :

...(2.11)

Oleh karena jenis tanah bervariasi berdasarkan ukuran butiran tanah seperti
gravel, sand, silt, dan clay, berbeda pula nilai modulus elastisitas E50 untuk beberapa
19

ukuran butiran tanah tersebut. Berikut adalah kisaran nilai modulus elastisitas E 50
tanah :
Tabel TINJAUAN PUSTAKA.3 Daftar Nilai Modulus Elastisitas E50 Untuk Tanah
Berbutir Kasar (MPa)
USCS Description Loose Medium Dense
GW, SW Gravels / Sand, well-graded 30 80 80 160 160 320
SP Sand, uniform 10 30 30 50 50 80
GM, SM Gravel / Sand, silty 7 12 12 20 20 30
Sumber : Obrzud & Truty 2012, compiled from Kezdi 1974 and Prat et al. 1995
Tabel TINJAUAN PUSTAKA.4 Daftar Nilai Modulus Elastisitas E50 Untuk Tanah
Berbutir Halus (MPa)
Very Soft Stiff to
USCS Description Medium Hard
to Soft Very Stiff
ML Silt with slight plasticity 2,5 8 10 15 15 40 40 80
ML, CL Silt with low plasticity 1,5 6 6 10 10 30 30 60
Clay with low-medium
CL 0,5 5 58 8 30 30 70
plasticity
CH Clay with high plasticity 0,35 4 47 7 20 2 32
OL Organic Silt - 0,5 5 - -
OH Organic Clay - 0,5 4 - -
Sumber : Obrzud & Truty 2012, compiled from Kezdi 1974 and Prat et al. 1995
Seperti diketahui sebelumnya bahwa setiap data pengujian consolidated
undrained triaxial test menggunakan tiga buah sample yang dibedakan berdasarkan
besaran nilai tegangan keliling yang diberikan. Dengan adanya tiga buah sampel ini
mengartikan akan terdapat tiga buah kurva yang masing-masing kurva memiliki nilai
modulus elastisitas E50, sehingga akan terdapat tiga nilai modulus elastisitas E 50
untuk satu data. Dalam aplikasinya, hanya dibutuhkan satu buah nilai modulus
elastisitas E50 untuk satu data yang berarti harus ada nilai modulus elastisitas E50 yang
mampu merepresentasikan ketiga nilai yang ada. Modulus elastisitas E 50 tersebut
adalah E50ref, yang dimana ref mengartikan reference / referensi terhadap tekanan 1
atm (100 kPa). Berikut adalah sebuah ilustrasi grafik yang digunakan untuk mencari
nilai modulus elastisitas E50ref dari tiga buah nilai E50 :
E50ref

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.15 Contoh Grafik Untuk Mencari Nilai E50ref


Untuk memperoleh nilai E50ref seperti pada gambar 2.15 khususnya pada
kondisi undrained dapat menggunakan persamaan garis regresi yaitu y = 129,7x 0,976.
Dengan memasukkan nilai x = 100 ke dalam persamaan tersebut, akan diperoleh nilai
y = 11.613 kPa yang dimana nilai y ini adalah nilai E50ref.

2.4 Hardening-Soil Model


Hardening-Soil model adalah konsep modelling lanjutan dari model tanah
hiperbolik yang diformulasikan dalam konsep hardening plasticity. Perbedaan yang
utama dari model ini dibandingkan dengan model Mohr-Coulomb adalah pada
pendekatan nilai modulus elastisitas (stiffness). Pada model ini, tanah digambarkan
lebih akurat dengan menggunakan tiga jenis nilai modulus elastisitas, mereka adalah
triaxial loading stiffness E50, triaxial unloading stiffness Eur, dan oedometer loading
stiffness Eoed. Adapun penggunaan model ini memiliki kekuatan dan kelemahan,
berikut adalah kekuatan dan kelemahan dari penggunaan hardening-soil model
berdasarkan tulisan yang dibuat oleh M. Auleda i Catala, 2005 :
Kekuatan :
Definisi yang lebih akurat daripada model Mohr-Coulomb;
Mempertimbangkan sifat dilatansi dari tanah;
21

Permukaan dapat memperluas karena tegangan plastis..


Kelemahan :
Biaya komputasi yang lebih tinggi;
Tidak memasukkan efek viskositas;
Tidak memasukkan proses pelunakan (softening).

2.5 Metode Hiperbolik


Metode Hiperbolik adalah salah satu metode analisa hubungan antara tegangan
dan regangan dengan menggunakan metode perhitungan elemen hingga sebagai
dasarnya. Metode hiperbolik pada awalnya ditemukan oleh Robert L. Kondner pada
tahun 1963 dan dikembangkan oleh James M. Duncan dan Chin-Yung Chang melalui
jurnal yang berjudul Nonlinear Analysis of Stress and Strain in Soils pada tahun
1970.
Rafal F. Obrzud melalui tulisannya yang berjudul On The Use of The
Hardening Soil Small Strain Model in Geotechnical Practice menyatakan bahwa
perhitungan nilai kekakuan tanah (stiffness) dengan menggunakan model hiperbolik
mampu memberikan pendekatan terhadap nilai perpindahan yang lebih akurat dan
dapat dipercaya khususnya pada aplikasi dinamik seperti penggalian dengan
menggunakan dinding penahan tanah atau penggalian terowongan.
Untuk lebih jelas kapan harus menggunakan metode hiperbolik, berikut adalah
sebuah gambar yang dapat menjelaskan hal ini:

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.16 Permodelan Untuk Aplikasi Geoteknik Tertentu


Sumber : On the use of the Hardening Small Strain model in geotechnical practice,
Rafal G. Obrzud 2010
Metode hiperbolik ada sebagai respon terhadap sifat nonlinear dari garis kurva
hubungan antara tegangan dan regangan. Berikut adalah persamaan hiperbolik yang
ditemukan oleh Robert L. Kondner :

...(2.12)

dimana :
(1 3) = Deviatoric Stress, (kPa)
= Axial Strain (m/m)
a dan b = Konstanta yang diperoleh dari data triaxial test

Persamaan tersebut juga dapat dilakukan sedikit perubahan menjadi :

...(2.13)

Perubahan dari persamaan (2.12) ke persamaan (2.13) dilakukan dengan tujuan


memperlihatkan adanya bentuk persamaan garis lurus dengan kemiringan tertentu
pada persamaan (2.13). Untuk lebih jelas dapat dilihat melalui dua buah ilustrasi
berikut :
23

Tegangan Deviatoric, q

Asymptote = qult = 1/b

Ei = 1/a

Regangan Aksial,

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.17 Kurva Hiperbolik Antara Tegangan Regangan


Sumber : Nonlinear Analyses of Stress and Strain in Soils, Duncan & Chang 1970
Regangan Aksial/Tegangan Deviatoric, /q

b
1

Regangan Aksial,

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.18 Transformasi Kurva Hiperbolik Antara


Tegangan Regangan
Sumber : Nonlinear Analyses of Stress and Strain in Soils, Duncan & Chang 1970

Dengan membuat grafik hubungan antara tegangan dan regangan dengan


sedikit modifikasi menjadi seperti pada Gambar 2.18, menjadikan proses pencarian
nilai konstanta a dan b menjadi sangat mudah. pada Gambar 2.17, dapat dilihat
adanya garis asymptote (1 3)ult yang sedikit lebih besar dari compressive strength
atau bacaan deviatoric stress maksimum dari kurva hasil uji triaxial test. Hubungan
antara garis asymptote (1 3)ult dengan compressive strength ini dapat dijelaskan
melalui persamaan berikut :
25

...(2.14)

dimana :
(1 3)f = Compressive Strength, (kPa)
(1 3)ult = Nilai Asymptote Tegangan, (kPa)
Rf = Failure Ratio

Selain adanya asymptote pada Gambar 2.17, terdapat dua parameter yang dapat
diformulasikan. Kedua parameter tersebut adalah initial tangent modulus dan
ultimate deviatoric stress. Berikut adalah persamaan untuk dua parameter tersebut :
Initial Tangent Modulus

...(2.15)

Ultimate Deviatoric Stress

...(2.16)

Dengan menghubungkan parameter a dan b dengan initial tangent modulus dan


ultimate deviatoric stress pada Gambar 2.17 dengan persamaan (2.13), persamaan
hiperbolik dapat ditulis kembali menjadi :

...(2.17)

Kurva hubungan tegangan dan regangan dari hasil metode hiperbolik dan
metode grafik atau metode menggunakan data hasil pengujian triaxial test
selanjutnya disajikan menjadi satu grafik sehingga dapat terlihat seperti berikut :
Tegangan Deviatoric, q

(1 3)ult

(1 3)f
Hyperbola

1
Ei
Actual

Regangan Aksial,

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.19 Grafik Kurva Metode Hiperbolik dan Metode


Grafik
Sumber : Determination of Parameters for a Hyperbolic Model of Soils from The Eastern Province of
Saudi Arabia, N. Al-Shayea et al. 2001
27

Selain Gambar 2.19, grafik kurva hubungan antara metode hiperbolik dan
metode grafik dapat juga dilihat melalui gambar berikut :

Hyperbolic Curve

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.20 Contoh Grafik Kurva Metode Hiperbolik dan


Metode Grafik

Untuk interpretasi nilai konstanta a dan b seperti pada Gambar 2.20, berikut
adalah contoh proses penentuan nilai kedua konstanta tersebut berdasarkan data
pengujian triaxial test :
/q = a + b.

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.21 Contoh Grafik Untuk Interpretasi Nilai


Konstanta a dan b

Melalui Gambar 2.21, dengan menggunakan pendekatan regresi linear akan


diperoleh persamaan /q = a + b. yang selanjutnya dapat ditentukan nilai variabel a
dan b tersebut.

Untuk melakukan perhitungan nilai modulus elastisitas tanah E50 dengan


menggunakan metode hiperbolik, dapat dilakukan penggunaan persamaan-persamaan
yang telah dibahas sebelumnya. Seperti telah disebutkan sebelumnya pada
persamaan (2.11) yaitu E50 = 50 / 50, dibutuhkan nilai untuk dua parameter yaitu 50
dan 50. Untuk nilai 50 dapat ditentukan dengan cara membagi dua nilai ultimate
deviatoric stress dan nilai 50 dapat ditentukan dengan merubah sedikit persamaan
(2.12) seperti persamaan berikut :

...(2.18)
29

...(2.19)

Melalui persamaan (2.18) dan (2.19), untuk menemukan nilai modulus


elastisitas E50 metode hiperbolik dapat digunakan persamaan :

...(2.20)

Untuk mempernudah penulisan persamaan (2.20), dilakukan substitusi


(1 3) = q, sehingga persamaan tersebut menjadi :

...(2.21)

Sama seperti metode grafik sebelumnya, dalam metode hiperbolik juga


terdapat modulus elastisitas E50ref dengan menghubungkan ketiga hasil E50 kedalam
sebuah grafik dan dicari nilai E50 untuk reference 1 atm (100 kPa).
Variasi hubungan antara Ei dan 3 dapat dijelaskan melalui persamaan berikut
yang diciptakan oleh Janbu :

...(2.22)

dimana :
Ei = Initial Tangent Modulus (kPa)
Pa = Atmospheric Pressure (100kPa)
3 = Confining Pressure (kPa)
K = Modulus Number
n = Modulus Exponent

Dari persamaan 2.22, persamaan tersebut dilakukan sedikit perubahan guna


memberikan normalisasi terhadap nilai Ei yang dapat dibuat grafik seperti berikut :
...(2.22)

Log (Ei/Pa)

Gambar TINJAUAN PUSTAKA.22 Hubungan


1 antara Initial Tangent Modulus dan
Confining Pressure Log (3/Pa)
Sumber : Strength, Stress-Strain, and Bulk Modulus Parameters for Finite Element Analyses of Stresses and
Movements in Soil Masses, Duncan et al 1980

2.6 Garis Regresi


Analisa regresi adalah metodologi statistik yang memanfaatkan hubungan
antara dua atau lebih variabel kuantitatif sehingga sebuah respon atau bentuk
keluaran dapat diprediksi dari variabel lainnya (Applied Linear Statistical Models,
2005). Garis regresi dalam penelitian ini diperlukan dalam membuat suatu garis yang
menggambarkan hubungan antara parameter-parameter tertentu yang selanjutnya
dilakukan analisa terhadap hubungan yang ada. Pada penelitian ini terdapat dua
macam analisa regresi yang akan digunakan dalam melakukan pendekatan garis
regresi. Berikut adalah kedua macam analisa regresi tersebut beserta proses dan
rumusan yang digunakan :
31

1. Regresi Linear Sederhana


Dalam melakukan proses pembuatan garis regresi tentu saja tidak lepas dari
proses penyusunan dan perhitungan melalui tabel. Berikut adalah tabel dan
persamaan yang digunakan dalam melakukan perhitungan garis regresi linear
sederhana:
Tabel TINJAUAN PUSTAKA.5 Contoh Tabel Perhitungan Regresi Linear
Sederhana

i Xi Yi Xi - Yi - (Xi - )(Yi - ) (Xi - )2 (Yi - )2

... ... ... ... ... ... ... ...


Total, = ... ... ... ... ... ... ...
Mean = ... ...

Persamaaan umum :

...(2.23)

Persamaan variabel a dan b :

...(2.24)

...(2.25)

2. Regresi Nonlinear Berpangkat (Power)


Berikut adalah tabel dan persamaan yang digunakan dalam membuat garis
regresi nonlinear berpangkat (power) :
Tabel TINJAUAN PUSTAKA.6 Contoh Tabel Perhitungan Regresi Nonlinear
Berpangkat (Power)
i Yi Xi Zi (ln Yi) Wi (ln Xi) Wi. Zi Wi2
... ... ... ... ... ... ...
Total, = ... ... ... ...
Mean = ... ...

Persamaan umum :
...(2.26)

...(2.27)

...(2.28)

Persamaan variabel a0, a1, a, dan b :

...(2.29)

...(2.30)

...(2.31)

...(2.32)
33
35