Anda di halaman 1dari 16

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

KEMAMPUAN SOSIALISASI PADA REMAJA


DI PANTI SOSIAL BINA REMAJA YOGYAKARTA
Hasbi1, Asmarani2, Rahayu3

INTISARI

Latar Belakang: Remaja yang tinggal di panti mempunyai berbagai latar belakang yang dapat
mempengaruhi untuk bersosialisasi. Sosialisasi merupakan kemampuan individu untuk
berinteraksi secara baik, sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan individu
berada. Kemampuan bersosialisasi sangat penting karena manusia sepanjang hidup
membutuhkan bantuan, keakraban, serta berinteraksi dengan orang lain. Hasil studi pendahuluan
peneliti antara lain; remaja yang putus sekolah akibat biaya, kenakalan/ tawuran, remaja yang
tinggal dijalanan, ketidak mampuan orang tua dalam mengasuh dan perceraian. Remaja mengaku
pilih-pilih teman untuk berinteraksi dan merasa malu ketika bertemu dengan teman yang
seusianya masih bersekolah.
Tujuan Penelitian: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan sosialisasi
pada remaja di PSBR Yogyakarta.
Metode Penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan
menggunakan rancangan cross sectional. Jumlah populasi pada penelitian sebanyak 35 remaja di
PSBR Yogyakarta. Teknik sampling menggunakan total sampling/ teknik jenuh. Anlisis statistik
yang digunakan adalah uji Chi-square dengan signifikasi sebesar 0,05.
Hasil Penelitian: Mayoritas remaja diasuh dengan pola asuh demokratis sebanyak 21 nilai p-
value=0,028 dengan nilai Odd Rasio 7,667, pengaruh teman sebaya dalam kategori baik
sebanyak 22 nilai p-value=0,019 dengan nilai Odd Rasio 13,125, penerimaan diri dalam kategori
baik sebanyak 27 p-value=0,016 dengan nilai Odd Rasio 12,5 kemampuan komunikasi dalam
kategori baik sebanyak 27 nilai p-value=0,016 dengan nilai Odd Rasio 12,5.
Kesimpulan: Ada hubungan antara pola asuh, teman sebaya, penerimaan diri, dan kemampuan
komunikasi dengan kemampuan sosialisasi pada remaja di PSBR Yogyakarta.

Kata kunci: Sosialisasi dan remaja.

1
Alumni S1 keperawatan Universitas Respati Yogyakarta
2
Dosen S1 Ilmu Keperawatan Universitas Respati Yogyakarta
3
Kepala Promosi Kesehatan RSUD Dr. Sardjito
THE FACTORS RELATED TO TEENAGERS
SOCIALIZATION CAPABILITY IN BINA REMAJA FOSTER
HOME YOGYAKARTA
Hasbi1 Asmarani2, Rahayu3

ABSTRACT

Background: Teenagers who live in foster homes are having various social background that able
to influence them to socialized. Socialization is an individual capability to interact well that
suitable to norms and values acceptable in the area where he/she lives. Socialization capability is
very important for an individualdue to the need of assistance, intimacy, and interact with others
for his/her entire life. According to preliminary study showed these following findings; broken
school teenagers due to cost incapability, misbehavior/brawl, teenagers who lived in the streets,
parents incapability in taking care of their children and divorce. These teenagers confessed that
they were selected their friends to interact and felt embarrassed to meet those who were stillable
to go to school.
Purpose of the Research: This research is purposed to find out factors related to teenagers
socialization capablity in PSBR Yogyakarta.
Research Method: This research was using analytical method with cross sectional design.
Number of population was 35 teenagers in PSBR Yogyakarta. Sampling technique was using total
sampling/exessive technique. Statistical analysis was using Chi-square test with significance
importance of 0,05.
Result of the Research: The teenagers majority were fostered by democratic parenting with
quantity of 21 p-value=0,028 with Odd Ratio value 7,667;the influence of friends of the same age
was in good category with quantity of 22 p-value=0,019 with Odd Ratio value 13,125; self
acceptance in good category with quantity of 27 p-value=0,016 with Odd Ratio value 12,5;
communication capability in good category with quantity of 27 p-value=0,016 with Odd Ratio
12,5.
Conclusion: There was a relation between parenting, friends of the same age, self acceptance,
and communication capablity with teenagers socialization capability in PSBR Yogyakarta.

Keywords: Socialization, teenagers.

A. PENDAHULUAN diatas kasus kekerasan psikis yang dominan

Selama kurun waktu tahun 2009 dilakukan oleh orang tua pada remaja, yang

Komnas Perlindungan Anak telah mencatat dapat mempengaruhi remaja dalam

tindak kekerasan terhadap anak di Sekolah. hubungan sosial dengan lingkungan/orang

Jumlahnya cukup fantastis terhitung lain 1.

mencapai 382 anak baik laki-laki maupun Individu mempunyai potensi untuk

perempuan. Pelaku tindak kekerasan terlibat dalam berbagai tingkat hubungan

terhadap anak paling banyak adalah orang sosial yaitu dari hubungan intim biasa

tua (61,4%). Jenis kekerasan yang terjadi sampai hubungan saling ketergantungan,

meliputi tiga (3) jenis yakni fisik, seksual hubungan sosial berpengaruh untuk

dan psikis dan paling banyak kekerasan yang mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari

dilakukan adalah kekerasan psikis. Dari data dan individu tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan Individu harus mampu
dengan lingkungan sosial. Proses hubungan berkomunikasi dengan baik untuk
tidak akan terjalin disebabkan karena berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam
ketidakmampuan individu masuk dalam kemampuan berkomunikasi perlu terus
proses interaksi sosial karena kurangnya ditingkatkan guna meningkatkan
peran serta individu dan respon lingkungan kemampuan intelektual, kematangan
2
yang negatif . emosional, dan kematangan sosial. Dalam
Kemampuan sosialisasi merupakan kebersamaan inilah seseorang mengenal dan
cara-cara berhubungan yang dilihat apabila membentuk dirinya. Buah pikirannya diuji
individu-individu atau kelompok-kelompok dalam pikiran orang lain melalui
sosial saling bertemu, adapun bentuk umum keterampilannya dalam berkomunikasi,
sosialisasi adalah interaksi sosial, oleh dengan meningkatnya keterampilan
karena itu interaksi sosial merupakan syarat berkomunikasi remaja diharapkan
utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. memahami dan memecahkan berbagai
Interaksi sosial merupakan hubungan- persoalan yang dihadapi khususnya
hubungan sosial yang dinamis yang persoalan-persoalan yang berhubungan
5
menyangkut hubungan antar individu, antar dengan lingkungan sosialnya .
6
kelompok manusia, maupun antar orang Pada remaja perkembangan sosial
perorang dengan kelompok manusia 3. dapat mengalami kemajuan yang progresif
Sosialisasi sangat penting bagi melalui kegiatan yang terarah dari individu
individu karena proses sosialisasi dalam pemahaman atas warisan sosial dan
berlangsung sepanjang hidup yang tidak bisa formasi pola tingkah lakunya yang luwes.
hidup tanpa orang lain, membutuhkan Ditinjau dari sudut perkembangan manusia,
bantuan, keakraban, serta berinteraksi kebutuhan untuk berinteraksi sosial yang
dengan orang lain. Dengan bersosialisasi paling menonjol terjadi pada masa remaja.
7
individu dapat mempererat hubungan baik Pada masa remaja, individu berusaha untuk
antara teman maupun masyarakat sekitar. menarik perhatian orang lain, menghendaki
Apabila individu dapat diterima di adanya popularitas dan kasih sayang dari
lingkungannya diantaranya; akan merasa orang tua dan teman sebaya.
senang dan aman, mampu mengembangkan Apabila seseorang individu kurang
konsep diri menyenangkan karena orang lain bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya
mengakui mereka, memiliki kesempatan maka seseorang individu tersebut sulit untuk
untuk mempelajari berbagai pola perilaku bisa mengenal masyarakat, seseorang
yang diterima secara sosial dan ketrampilan tersebut tidak akan menyatu dengan
yang membantu kesinambungan mereka masyarakat lingkungan sekitar dan individu
4
dalam situasi sosial . tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat.
4
Ada beberapa dampak pada individu
apabila terjadi penolakan untuk mengasuh anak yang kemudian dititipkan ke
bersosialisasi diantaranya; merasa kesepian nenek kakeknya, dan perceraian/broken
karena kebutuhan sosial mereka tidak home. Dalam bergaul remaja mengaku
terpenuhi, merasa tidak bahagia dan tidak kurang mampu untuk menyesuaikan diri
aman, mengembangkan konsep diri yang dengan teman sebaya dan remaja pilih-pilih
tidak menyenangkan, hidup dalam teman untuk berinteraksi. Remaja merasa
ketidakpastian tentang reaksi sosial terhadap malu ketika bertemu dengan teman yang
mereka dan ini akan menyebabkan mereka seusianya masih bersekolah. Saat ditanya
cemas, takut dan sangat peka. tentang pola pengasuhan di panti maupun
7
Faktor yang mempengaruhi dirumah remaja mengatakan ada dengan
perkembangan sosialisasi yang penting pada kekerasan, demokratis maupun permisif.
masa remaja adalah meningkatnya pengaruh Ketika berkomunikasi, responden terlihat
kelompok sebaya, pola perilaku sosial yang tidak memperhatikan pertanyaan dan tidak
lebih matang, pengelompokkan sosial baru mau untuk menjawab pertanyaan yang
dan nilai-nilai baru dalam pemilihan teman diajukan. Alasan penelitian mengambil di
dan pemimpin, dan dalam dukungan sosial PSBR Yogyakarta, karena hasil dari studi
8
(keluarga dan lingkungan). Dalam pendahuluan menemukan masalah mulai
penelitiannya yang berjudul Faktor-faktor dari pola asuh, penerimaan diri, teman
yang mempengaruhi tingkat sosialisasi anak sebaya dan kemampuan komunikasi.
usia sekolah di Panti Asuhan Yatim Putri Berdasarkan uraian latar belakang
Aisyiyah Yogyakarta menunjukan yang di atas, maka peneliti tertarik untuk
mempengaruhi tingkat sosialisasi yaitu; pola melakukan penelitian tentang, faktor-faktor
pengasuhan, pengaruh teman sebaya, yang berhubungan dengan kemampuan
penerimaan diri dan lingkungan. sosialisasi pada remaja di Panti Sosial Bina
Hasil studi pendahuluan yang Remaja Yogyakarta.
dilakukan di Panti Sosial Bina Remaja
Yogyakarta, pada tanggal 07 Januari 2014 B. METODOLOGI PENELITIAN
dengan melakukan wawancara dan observasi Penelitian ini merupakan jenis
didapatkan total remaja yang tinggal di Panti penelitian kuantitatif. Metode penelitiannya
Sosial Bina Remaja Yogyakarta 48 remaja, adalah analitik dengan menggunakan
terdiri dari 31 remaja putra dan 17 remaja rancangan cross sectional dengan tujuan
putri. Selanjutnya hasil dari wawancara penelitian untuk mengetahui faktor-faktor
didapatkan data latar belakang remaja yang yang berhubungan dengan kemampuan
tinggal di Panti, antara lain; remaja yang sosialisasi pada remaja di Panti Sosial Bina
putus sekolah akibat biaya, kenakalan/ Remaja Yogyakarta. Penelitian dilakukan di
tawuran, remaja yang tinggal dijalanan, PSBR Yogyakarta pada tanggal 13 Juni
ketidak mampuan orang tua dalam 2014. Jumlah sampel sebanyak 35 responden
dengan teknik pengambilan sampel total pengumpulan data menggunakan kuesioner
sampling atau teknik jenuh. Alat dengan jumlah soal 69 pernyataan.

C. HASIL PENELITIAN DAN


PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
a) Analisa Univariat
1. Pola asuh pada remaja di PSBR
Yogyakarta
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pola Asuh di PSBR Yogyakarta
No Pola Asuh Frekuensi (n) Persentase (%)
1 Otoriter 0 0
2 Demokratis 21 60
3 Permisif 14 40
Total 35 100,0
Sumber: Data primer, 2014
Tabel 1 di atas menunjukkan mayoritas Yogyakarta adalah pola asuh demokratis
pola asuh pada remaja di PSBR yaitu sebanyak 21 responden (60%).
1) Teman sebaya pada remaja di
PSBR Yogyakarta
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengaruh Teman Sebaya di PSBR Yogyakarta
No Teman Sebaya Frekuensi (n) Persentase (%)
1 Baik 22 62,86
2 Cukup 12 34,28
3 Kurang 1 2,86
Total 35 100,0
Sumber: Data primer, 2014
Tabel 2 di atas menunjukkan mayoritas Yogyakarta adalah dalam kategori baik
pengaruh teman sebaya di PSBR yaitu sebanyak 22 responden (62,86%).
2) Penerimaan diri pada remaja di
PSBR Yogyakarta
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Penerimaan Diri di PSBR Yogyakarta
No Penerimaan Diri Frekuensi (n) Persentase (%)
1 Baik 27 77,14
2 Cukup 8 22,86
3 Kurang 0 0
Total 35 100,0
Sumber: Data primer, 2014
Tabel 3 di atas menunjukkan mayoritas Yogyakarta adalah dalam kategori baik,
penerimaan diri pada remaja di PSBR yaitu sebanyak 27 responden (77,14%).
3) Kemampuan Komunikasi
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kemampuan Komunikasi di PSBR Yogyakarta

No Kemampuan Komunikasi Frekuensi (n) Persentase (%)

1 Baik 27 77,14
2 Cukup 4 11,43
3 Kurang 4 11,43
Total 35 100,0
Sumber: Data primer, 2014
Tabel 4 di atas menunjukkan mayoritas baik, yaitu sebanyak 27 responden
kemampuan komunikasi pada remaja di (77,14%).
PSBR Yogyakarta adalah dalam kategori
4) Kemampuan Sosialisasi
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kemampuan Sosialisasi di PSBR Yogyakarta

No Kemampuan Sosialisasi Frekuensi (n) Persentase (%)

1 Baik 29 82,86
2 Cukup 6 17,14
3 Kurang 0 0
Total 35 100,0
Sumber: Data primer, 2014
Tabel 5 di atas menunjukkan mayoritas adalah dalam kategori baik yaitu
kemampuan sosialisasi remaja di PSBR sebanyak 29 responden (82,86%).
b) Analisa Bivariat
1) Pola Asuh dengan Kemampuan
Sosialisasi
Table 6 Hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada remaja di Panti
Sosial Bina Remaja Yogyakarta.

Kem. Sosialisasi
Pola Asuh Baik Cukup Total (%) p- value OR
(%) (%)
20 1 21 0,028 11,111
Demokratis
(95,2%) (4,8%) (100%)
9 5 14
Permisif + otoriter
(64,3%) (35,7%) (100%)
Sumber: Data primer, 2014

Berdasarkan table 6 di ketahui bahwa sosialisasi dalam kategori baik sebanyak 29


mayoritas orang tua/pengasuh menerapkan responden (82,86%). Hasil analisis dengan
pola asuh demokratis sebanyak 21 uji chi square diperoleh dengan p value
responden (60%) dan mayoritas kemampuan sebesar 0.028. Oleh karena nilai p value
sebesar 0,028 dan kurang dari 0,05 (p<0,05), analisis risk estimate didapatkan nilai OR
dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima 11,111. Nilai OR 11,111 berarti berada di
sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat OR>1 artinya mempertinggi resiko, artinya
hubungan yang bermakna antara pola asuh bahwa pola asuh yang diterapkan
orang tua dengan kemampuan sosialisasi mempertinggi terhadap resiko
pada remaja di PSBR Yogyakarta. Dari ketidakmampuan bersosialisasi.
2) Teman Sebaya dengan Kemampuan
Sosialisasi
Table 7 Hubungan teman sebaya dengan kemampuan sosialisasi pada remaja di Panti Sosial Bina
Remaja Yogyakarta.

Kem. Sosialisasi
Teman Sebaya Baik Cukup Total (%) p- value OR
(%) (%)
21 1 22 0,019 13,125
Baik
(95,5%) (4,5%) (100%)
8 5 13
Cukup + kurang
(61,5%) (38,5%) (100%)
Sumber: Olahan data primer, 2014
Berdasarkan table 7 di ketahui sehingga dapat disimpulkan bahwa
bahwa mayoritas pengaruh teman sebaya terdapat hubungan yang bermakna antara
dalam kategori baik sebanyak 21 teman sebaya dengan kemampuan
responden (60%) dan mayoritas sosialisasi pada remaja di PSBR
kemampuan sosialisasi dalam kategori Yogyakarta. Dari analisis risk estimate
baik sebanyak 29 responden (82,86%). didapatkan nilai OR 13,125. Nilai OR
Hasil analisis dengan uji chi square 13,125 berarti berada di OR>1 artinya
diperoleh dengan p value sebesar 0.019. mempertinggi resiko, artinya bahwa teman
Oleh karena nilai p value sebesar 0,019 sebaya mempertinggi terhadap resiko
dan kurang dari 0,05 (p<0,05), dengan ketidakmampuan sosialisasi.
demikian Ho ditolak dan Ha diterima
3) Penerimaan Diri dengan Kemampuan Sosialisasi
Table 8 Hubungan penerimaan diri dengan kemampuan sosialisasi pada remaja di Panti Sosial
Bina Remaja Yogyakarta.

Kem. Sosialisasi
Penerimaan Diri Baik Cukup Total (%) p- value OR
(%) (%)
25 2 27 0,016 12,500
Baik
(92,6%) (7,4%) (100%)
4 4 8
Cukup
(50%) (50%) (100%)
Sumber: Data primer, 2014
Berdasarkan table 8 di ketahui bahwa bahwa terdapat hubungan yang bermakna
mayoritas penerimaan diri dalam kategori antara penerimaan diri dengan kemampuan
baik sebanyak 27 responden (77,14%) dan sosialisasi pada remaja di PSBR
mayoritas kemampuan sosialisasi dalam Yogyakarta. Dari analisis risk estimate
kategori baik sebanyak 29 responden didapatkan nilai OR 12,500. Nilai
(82,86%). Hasil analisis dengan uji chi OR 12,500 berarti berada di OR>1
square diperoleh dengan p value sebesar artinya mempertinggi resiko, artinya
0.016. Oleh karena nilai p value sebesar bahwa penerimaan diri mempertinggi
0,016 dan kurang dari 0,05 (p<0,05), terhadap resiko ketidakmampuan
dengan demikian Ho ditolak dan Ha sosialisasi.
diterima sehingga dapat disimpulkan
4) Kemampuan Komunikasi dengan Kemampuan Sosialisasi
Table 9 Hubungan kemampuan komunikasi dengan kemampuan sosialisasi pada remaja di Panti
Sosial Bina Remaja Yogyakarta.

Kem. Sosialisasi
Kem. Komuni-kasi Baik Total (%) p- value OR
Cukup (%)
(%)
25 2 27 0,016 12,500
Baik
(92,6%) (7,4%) (100%)
4 4 8
Cukup + kurang
(50%) (50%) (100%)
Sumber: Data primer, 2014

Berdasarkan table 9 di ketahui bahwa bahwa terdapat hubungan yang bermakna


mayoritas kemampuan komunikasi dalam antara kemampuan komunikasi dengan
kategori baik sebanyak 27 responden kemampuan sosialisasi pada remaja di
(77,14%) dan mayoritas kemampuan PSBR Yogyakarta. Dari analisis risk
sosialisasi dalam kategori baik sebanyak estimate didapatkan nilai OR 12,500. Nilai
29 responden (82,86%). Hasil analisis OR 12,500 berarti berada di OR>1 artinya
dengan uji chi square diperoleh dengan p mempertinggi resiko, artinya bahwa
value sebesar 0.016. Oleh karena nilai p kemampuan komuninkasi mempertinggi
value sebesar 0,016 dan kurang dari 0,05 terhadap resiko ketidakmampuan
(p<0,05), dengan demikian Ho ditolak dan sosialisasi.
Ha diterima sehingga dapat disimpulkan
2. Pembahasan mendidik, memberi bimbingan dan

a) Pola Asuh pada Remaja di Panti pengalaman serta memberikan pengawasan.


Sosial Bina Remaja Yogyakarta Berdasarkan hasil analisis karakteristik pola

Pola asuh orangtua adalah cara yang asuh diperoleh hasil bahwa mayoritas pola

dipakai oleh orang tua/pengasuh dalam asuh demokratis sebanyak 21 responden


(60%).
Pola asuh demokratis adalah pola tengah-tengah masyarakat, dengan
asuh dimana orang tua menekankan untuk kemampuan sosialisasi yang baik individu
mengetahui mengapa peraturan dibuat dan akan mudah diterima di lingkungan
memberikan kesempatan pada anak untuk masyarakat maupun kelompok teman
mengemukakan pendapatnya bila sebaya.
menganggap peraturan tersebut tidak adil. Teman sebaya memiliki peranan
Orang tua memberikan kebebasan pada anak penting dalam kehidupan remaja. Remaja
tetapi tetap mengontrol perilaku. Apabila memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai
anak berbuat salah maka hukuman akan dan diterima oleh teman sebaya atau
diberikan sesuai dengan pelanggaran yang kelompok. Sebagai akibat, mereka akan
9
dibuat dan tidak dilakukan hukuman fisik . merasa senang apabila diterima dan
Di dalam pola asuh demokratis sebaliknya akan merasa tertekan dan cemas
anak juga diberikan kebebasan untuk apabila dikeluarkan dan diremahkan oleh
mengemukakan pendapat dan ide. Pola asuh teman-teman sebayanya.
demokratis menjadikan anak mampu Pada masa ini mulai tumbuh dorongan
mengembangkan kontrol terhadap untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman
perilakunya sendiri dengan hal-hal yang yang dapat memahami dan menolongnya.
dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu
mendorong anak untuk mampu berdiri yang dipandang bernilai, pantas dijunjung
sendiri, bertanggung jawab dan yakin dan dipuja. Mengembangkan keterampilan
terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya komunikasi interpersonal dan belajar bergaul
anak dengan pola asuh demokratis dengan teman sebaya atau orang lain, baik
berkembang baik karena orang tua selalu secara individual atau kelompok 12.
merangsang anaknya untuk mampu Menurut teori diatas dapat diartikan
10
berinisiatif . pengaruh teman sebaya yang baik pada
b) Teman Sebaya pada Remaja di Panti kelompok (peer group) berdampak besar
Sosial Bina Remaja Yogyakarta
dengan kemampuan sosialisasi. Karena
Teman sebaya adalah anak-anak atau peranan teman sebaya pengaruhnya cukup
remaja yang memiliki usia atau tingkat besar, dengan demikian alangkah baiknya
kematangan yang kurang lebih sama. jika pengaruh tersebut diarahkan ke hal-hal
Berdasarkan hasil analisis karakteristik yang positif.
pengaruh teman sebaya diperoleh hasil c) Penerimaan Diri pada Remaja di Panti
Sosial Bina Remaja Yogyakarta
bahwa mayoritas pengaruh teman sebaya
masuk dalam kategori baik sebanyak 22 Penerimaan diri adalah kemampuan
responden (62,86%). seseorang untuk mengakui kenyataan diri
Setiap individu sangat membutuhkan secara apa adanya termasuk juga menerima
orang lain demi melangsungkan hidup di semua pengalaman hidup, sejarah hidup,
latar belakang hidup, dan lingkungan seseorang, kepada orang lain dengan
5
pergaulan . Berdasarkan hasil analisis menggunakan bahasa sebagai alat
karakteristik penerimaan diri diperoleh hasil penyalurnya. Manusia sebagai makhluk
bahwa mayoritas penerimaan diri remaja sosial dalam bertingkah laku selalu
masuk dalam kategori baik yaitu sebanyak berhubungan dengan manusia serta
27 responden (77,14%). Karena di panti berinteraksi dengan lingkungannya.
setiap minggunya rutin ada bimbingan Komunikasi merupakan dasar dari
konseling/psikologi dengan LSM, yang seluruh interaksi antar manusia. Komunikasi
dimana dapat meningkatkan penerimaan diri erat kaitannya dengan kehidupan manusia.
remaja di PSBR. Komunikasi pada umumnya diartikan
Penerimaan diri merupakan bagian sebagai hubungan atau kegiatan-kegiatan
dasar dari harga diri. Harga diri merupakan yang berkaitan dengan masalah hubungan,
salah satu bagian dari konsep diri individu atau diartikan pula sebagai saling tukar
dimana konsep diri yaitu semua pikiran, menukar pendapat atau sebagai kontak
keyakinan dan kepercayaan yang membuat antara manusia secara individu maupun
individu mengetahui tentang dirinya dan kelompok 14.
mempengaruhi hubungannya dengan orang e) Kemampuan Sosialisasi pada Remaja
13 di Panti Sosial Bina Remaja
lain. Menjelaskan bahwa individu yang
Yogyakarta
memiliki penerimaan diri yang baik akan
Berdasarkan hasil analisis
merasa dirinya berharga bagi orang lain
karakteristik penerimaan diri diperoleh hasil
sehingga dapat menerima pujian, menikmati
bahwa mayoritas kemampuan sosialisasi
berbagai kegiatan dan peka terhadap orang
remaja masuk dalam kategori baik sebanyak
lain.
29 responden (82,86%). Hal ini bisa
d) Kemampuan Komunikasi pada Remaja
di Panti Sosial Bina Remaja disebabkan remaja yang tinggal di panti
Yogyakarta
mendapatkan dukungan yang berupa
Berdasarkan hasil analisis karakteristik kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pihak
kemampuan komunikasi diperoleh hasil panti maupun LSM.
bahwa mayoritas kemampuan komunikasi Mausia adalah makhluk sosial yang
remaja masuk dalam kategori baik yaitu dalam kehidupannya tidak pernah lepas dari
sebanyak 27 responden (77,14%). Hal ini hubungan sesama manusia atau disebut
bisa disebabkan karena remaja di panti interaksi sosial, interaksi sosial merupakan
selalu ada kegiatan-kegiatan yang bersifat kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak
kerjasama antar individu. adanya komunikasi ataupun interaksi antar
Hakikat komunikasi adalah proses satu sama lain maka tidak mungkin ada
pernyataan antar manusia, dimana yang kehidupan bersama. Interaksi merupakan
dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena
tanpa adanya interaksi sosial, maka kompeten16. Memang bagaimana pun pola
kegiatan-kegiatan antar satu individu dengan pengasuhan orang tua atau pendamping
yang lain tidak dapat disebut interaksi 15. sangat mempengaruhi kemampuan
f) Hubungan Pola Asuh Terhadap sosialisasi remaja. Jika remaja selalu diberi
Kemampuan Sosialisasi pada Remaja
kesempatan untuk mengambil inisiatif dan
di Panti Sosial Bina Remaja
Yogyakarta tanggung jawab atas segala sikap dan
tindakannya, selalu diberikan dukungan dan
Hasil penelitian diketahui bahwa
kebebasan untuk melakukan aturan yang ada
terdapat hubungan yang bermakna antara
tanpa paksaan dan intimidasi remaja akan
pola asuh dengan kemampuan sosialisasi
menjadi sosok yang mudah bersosialisasi 8.
pada remaja di PSBR Yogyakarta. Hal ini
Dalam keluarga dengan pola asuh
dapat diartikan bahwa pola asuh orang tua
demokratis hubungan anak dengan orang tua
mempengaruhi kemampuan remaja dalam
harmonis, mempunyai sifat terbuka dan
bersosialisasi, semakin baik dalam
bersedia mendengarkan pendapat orang lain
mengasuh maka akan semakin baik
sehingga mampu menyesuaikan diri dengan
kemampuan bersosialisasi. Berdasarkan
lingkungannya secara baik dan emosi stabil
analisis risk estimate didapatkan nilai OR
17 10
. Hasil penelitian senada dengan bahwa
11,111. Nilai OR 11,111 berarti berada di
semakin demokratis tipe pola asuh orang tua
OR>1 artinya mempertinggi resiko, artinya
maka perkembangan sosialisai remaja akan
bahwa pola asuh otoriter dan permisif
semakin baik. Analisa statistika diperoleh
mempunyai peluang 11 kali mengalami
nilai significance (p-value) sebesar 0,00
ketidakmampuan bersosialisasi
untuk tipe pola asuh demokratis. Nilai ini
dibandingkan pola asuh demokratis.
lebih kecil dari level of significance ()
Pola asuh orang tua merupakan
sebesar 0,05 yang berarti terdapat hubungan
bentuk interaksi antara orang tua dan
antara pola asuh demokratis dengan
anaknya 9. Hasil penelitian pada table 1
perkembangan sosialisasi remaja. Anak yang
menunjukkan mayoritas pola asuh remaja di
dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana
PSBR Yogyakarta adalah pola asuh
demokratik, perkembangannya lebih luwes
demokratis yaitu sebanyak 21 responden
dan dapat menerima kekuasaan secara
(60%). Dalam pola asuh demokratis terdapat
rasional.
komunikasi yang baik, dimana orang tua
8
Anak yang diasuh secara otoriter,
lebih banyak melibatkan remaja dalam
selalu dipaksa dan dikekang maka akan sulit
dialog verbal dan membiarkan mereka
untuk bersosialisasi. Hasil penelitian sama
mengepresikan pandangan-pandangannya.
yang dilakukan 18 bentuk pola asuh orang tua
Jenis keluarga seperti ini agarnya dapat
otoriter dapat menyebabkan kesulitan bagi
membantu remaja memahami relasi sosial
anak untuk bersosialisasi. Karena dalam
dan hal-hal yang dibutuhkan untuk
mengasuh anak-anaknya orang tua banyak
memahami seorang pribadi yang
memberikan larangan dan berbagai aturan kelompok remaja di PSBR Yogyakarta
yang harus dipatuhi oleh anak, sehingga memiliki dampak yang baik. Hal ini dapat
akhirnya menciptakan perasaan yang cemas, terlihat dari kemampuan sosialisasi yang
takut minder dan rasa kurang menghargai baik, yaitu 60%. Remaja lebih banyak
serta kurang percaya diri pada anak. menghabiskan waktunya bersama dengan
g) Hubungan Pengaruh Teman Sebaya teman sebaya di sekolah maupun di
Terhadap Kemampuan Sosialisasi
lingkungan masyarakat. Keterlibatan remaja
Pada Remaja Di Panti Sosial Bina
Remaja Yogyakarta dalam kelompok teman sebaya ditandai
dengan persahabatan, terutama teman
Hasil penelitian diketahui bahwa
sejenis, hubungan mereka begitu akrab
terdapat hubungan yang bermakna antara
karena melibatkan emosi yang cukup kuat 19.
pengaruh teman sebaya dengan kemampuan
Interaksi sosial anak remaja
sosialisasi pada remaja di PSBR Yogyakarta,
dipengaruhi oleh pergaulannya dengan
hal ini dapat diartikan bahwa teman sebaya
teman sebaya. Secara umum ketika seorang
mempengaruhi kemampuan remaja dalam
anak menikmati atau senang dengan
bersosialisasi. Berdasarkan analisis risk
hubungan sosialnya dengan teman-teman
estimate didapatkan nilai OR 13,125. Nilai
sebayanya, maka anak tersebut termotivasi
OR 13,125 berarti berada di OR>1 artinya
untuk bersikap dan berperilaku sesuai
mempertinggi resiko, artinya bahwa
20
dengan tuntutan kelompoknya. Jika unsur
pengaruh teman sebaya yang kurang
kekerasan dan kenakalan yang diutamakan
mempunyai peluang 13 kali mengalami
kelompok, maka remaja tersebut melakukan
ketidakmampuan sosialisasi dibandingkan
kekerasan dan kenakalan.
dengan remaja yang memiliki pengaruh
Pengaruh kelompok teman sebaya
teman sebaya baik.
pada remaja lebih besar dibandingkan
Data responden menunjukan bahwa
dengan pengaruh keluarga. Hal tersebut
sebanyak 33 responden memiliki usia antara
8
12 dperkuat oleh lebih mudah bagi seorang
16-21 tahun. Tugas perkembangan remaja
remaja mengubah sikap atau perilaku karena
pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk
pengaruh teman sebaya dibandingkan karena
hidup, kebutuhan akan adanya teman yang
paksaan atau didikan pengasuh.
dapat memahami dan menolongnya.
h) Hubungan Penerimaan Diri terhadap
Mengembangkan keterampilan komunikasi
Kemampuan Sosialisasi pada Remaja di
interpersonal dan belajar bergaul dengan Panti Sosial Bina Remaja Yogyakarta
teman sebaya atau orang lain, baik secara
Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat
individual atau kelompok. Hal ini dapat
hubungan yang bermakna antara penerimaan
berdampak pada kuatnya pengaruh
diri dengan kemampuan sosialisasi pada
kelompok teman sebaya dalam sikap,
remaja di PSBR Yogyakarta. Namun,
pembicaraan, minat, penampilan dan 5
penelitian yang dilakukan yang berjudul
perilaku. Pengaruh teman sebaya pada
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan menolak dirinya sendiri apabila memiliki
Kemampuan Bersosialisasi Remaja Putri di kelemahan dan kekurangan. Semakin besar
Panti Asuhan Santa Angela Deli Tua, kemampuan remaja untuk dapat menerima
menunjukkan tidak ada hubungan antara diri sendiri, akan memperbesar kemamupan
penerimaan diri dengan kemampuan remaja itu untuk menerima keberadaan
bersosialisasi remaja putri di Panti Asuhan orang lain, sehingga akan mempermudah
Santa Angela Deli Tua dengan nilai p-value menjalin hubungan dengan orang-orang
adalah 0,306 nilai ini lebih besar dari Level disekelilingnya.
of Significance () (p>0,05). i) Hubungan Kemampuan Komunikasi
terhadap Kemampuan Sosialisasi pada
Pada penelitian ini hasil analisis
Remaja di Panti Sosial Bina Remaja
risk estimate didapatkan nilai OR 12,500. Yogyakarta
Nilai OR 12,500 berarti berada di OR>1
Hasil penelitian diketahui bahwa
artinya mempertinggi resiko, artinya bahwa
terdapat hubungan yang bermakna dengan
penerimaan diri yang kurang/negatif
nilai p value 0,016 antara kemampuan
mempunyai peluang 12,5 kali mengalami
komunikasi dengan kemampuan sosialisasi
ketidakmampuan sosialisasi dibandingkan
pada remaja di PSBR Yogyakarta,
dengan remaja yang memiliki penerimaan
berdasarkan analisis risk estimate didapatkan
diri yang baik. Hal ini dapat diartikan bahwa
nilai OR 12,500. Nilai OR 12,500 berarti
penerimaan diri mempengaruhi kemampuan
berada di OR>1 artinya mempertinggi
remaja dalam bersosialisasi. Hasil penelitian
resiko, artinya bahwa kemampuan
8
ini diperkuat dengan teori bahwa faktor-
komunikasi yang kurang mempunyai
faktor yang mempengaruhi kemampuan
peluang 12,5 kali mengalami
bersosialisasi salah satunya yaitu,
ketidakmampuan sosialisasi dibandingkan
penerimaan diri. Penerimaan diri baik akan
dengan remaja yang memiliki kemampuan
menghasilkan harga diri tinggi yang akan
komunikasi yang baik.
mempengaruhi penyesuaian sosial individu
Komunikasi merupakan kebutuhan
dimana semakin baik penyesuaian sosial
dasar dalam kehidupan manusia. Manusia
maka akan mempengaruhi kemampuan
berhubungan dengan sesamanya karena
bersosialisasi individu tersebut 5.
mereka saling membutuhkan dan dengan
8
Hasil penelitian dengan judul
komunikasi, manusia dapat berkembang dan
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
dapat melangsungkan kehidupan
sosialisasi anak usia sekolah di Panti Asuhan 21
bermasyarakat . Komunikasi yang baik di
Yatim Piatu Aisyiyah, Yogyakarta
lingkungan akan memberikan dampak yang
penerimaan diri berpengaruh positif terhadap
positif bagi perkembangan diri dan sosial.
kemampuan sosialisasi. Remaja yang dapat 22
Hasil penelitian diketahui ada
menerima dirinya sendiri dengan baik akan
hubungan kemampuan sosialisasi dan
menerima diri sendiri apa adanya, tidak
komunikasi, dimana 83,3% orang anak pra
sekolah memiliki kemampuan sosialisasi dan karena keterbatasan peneliti, pengambilan
komunikasi dalam kategori baik. Hal ini data mengunakan kuesioner.
menunjukkan individu yang melakukan
interaksi sosial dituntut untuk memiliki D. PENUTUP
kemampuan komunikasi yang baik. 1. Kesimpulan
Kemampuan komunikasi yang baik a) Mayoritas gambaran pola asuh pada
menjadikan remaja berperilaku yang dapat remaja masuk dalam kategori pola asuh
diterima secara sosial, memainkan peranan demokratis.
di lingkungan sosialnya dan memiliki sikap b) Mayoritas pengaruh teman sebaya pada
yang positif terhadap kelompoknya. remaja masuk dalam kategori baik.
Hubungan antar individu dapat c) Mayoritas penerimaan diri pada remaja
terjalin secara harmonis dengan lingkungan masuk dalam kategori baik.
sosialnya, jika individu tersebut mampu d) Mayoritas kemampuan komunikasi
berkomunikasi verbal dan non-verbal pada remaja masuk dalam kategori
dengan baik. Kemampuan komunikasi baik.
sangat berperngaruh terhadap kemampuan e) Mayoritas kemampuan sosialisasi pada
sosialisasi yang dimana, penerima pesan remaja masuk dalam kategori baik.
dapat memahami apa yang disampaikan oleh f) Terdapat hubungan yang bermakna
pengirim pesan dan ada feedback. antar pola asuh dengan kemampuan
3. Katerbatasan Penelitian sosialisasi pada remaja di Panti Sosial
Penelitian ini mempunyai beberapa Bina Remaja Yogyakarta.
keterbatasan antra lain: g) Terdapat hubungan yang bermakna
a) Pada penelitian ini faktor-faktor yang antara teman sebaya dengan
berhubungan dengan kemampuan kemampuan sosialisasi pada remaja di
sosialisasi yang diteliti hanya 4 yaitu; Panti Sosial Bina Remaja Yogyakarta
pola asuh, teman sebaya, penerimaan diri h) Terdapat hubungan yang bermakna
dan kemampuan komunikasi. Sedangkan antara penerimaan diri dengan
masih banyak faktor lain yang dapat kemampuan sosialisasi pada remaja di
mempengaruhi kemampuan sosialisasi. Panti Sosial Bina Remaja Yogyakarta.
b) Subjektivitas pengisian kuesioner yang i) Terdapat hubungan yang bermakna
tidak dapat dikendalikan oleh peneliti, antara kemampuan komunikasi dengan
dimana responden cenderung memberikan kemampuan sosialisasi pada remaja di
jawaban yang positif Panti Sosial Bina Remaja Yogyakarta.
c) Pengambilan data untuk variable j) Nilai Odd Rasio (OR) antara pola asuh
kemampuan sosialisasi idealnya dengan kemampuan sosialisasi berada
menggunakan metode observasi tetapi di OR>1 artinya bahwa remaja yang di
asuh selain demokratis mempunyai
peluang 11 kali mengalami Diharapkan meningkatkan pelayanan
ketidakmampuan sosialisasi dan pelatihan keterampilan bagi remaja
dibandingkan dengan remaja yang yang masih kurang, baik dalam hal
diasuh dengan demokratis. operasional maupun non operasional
k) Nilai Odd Rasio (OR) antara teman dengan cara berkerjasama dengan
sebaya dengan kemampuan sosialisasi LSM. Serta bimbingan konseling dapat
berada di OR>1 artinya bahwa remaja ditingkatkan supaya remaja di panti
yang pengaruh teman sebaya yang mampu meningkatkan kemampuan
kurang mempunyai peluang 13 kali sosialisasi.
mengalami ketidakmampuan sosialisasi c) Bagi peneliti selanjutnya
dibandingkan dengan remaja yang Diharapkan penelitian ini dapat
memiliki pengaruh baik pada teman dilakukan penelitian lebih lanjut
sebaya. dengan melihat pada keterbatasan
l) Nilai Odd Rasio (OR) antara peneliti, dan meneliti faktor-faktor lain
penerimaan diri dengan kemampuan diantaranya pendidikan orang tua,
sosialisasi berada di OR>1 artinya pendapatan orang tua dan jenis kelamin
bahwa penerimaan diri yang kurang yang dapat mempengaruhi kemampuan
mempunyai peluang 12,5 kali sosialisasi.
mengalami ketidakmampuan sosialisasi
dibandingkan dengan remaja yang DAFTAR PUSTAKA
memiliki penerimaan diri yang baik. 1. Kementrian Pemberdayaan Perempuan
m) Nilai Odd Rasio (OR) antara dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia. 2011. Anak Korban
kemampuan komunikasi dengan Kekerasan (Fisik dan Mental) dan
kemampuan sosialisasi berada di OR>1 Perlakuan Salah (Child Abuse).
http://www.menegpp.go.id/v2/index.ph
artinya bahwa kemampuan komunikasi p/ datadaninformasi/perlindungan-anak
yang kurang mempunyai peluang 12,5 2. Ermawati, dkk. 2009. Asuhan
Keperawatan Klien Dengan Gangguan
kali mengalami ketidakmampuan Jiwa. Jakarta: Trans Info Media.
sosialisasi dibandingkan dengan remaja 3. Badrujaman. 2010. Sosiologi Untuk
Mahasiswa Keperawatan. Trans Info
yang memiliki kemampuan komunikasi Media, Jakarta
yang baik. 4. Hurlock, E.B. 2000. Perkembangan
Anak. Jakarta: Erlangga
2. Saran 5. Saragih, H.N. 2013. Hubungan Antara
Penerimaan Diri Dengan Kemampuan
a) Bagi Institusi UNRIYO
Bersosialisasi Remaja Putri di Panti
Meningkatkan peran dalam pemberian Asuhan Santa Angela Deli Tua.
Fakultas Keperawatan USU. Skripsi
informasi dan pendidikan tentang
6. Djaali. (2007). Psikologi Pendidikan.
kemampuan sosilaisasi melalui Jakarta: Bumi Akasara
7. Hurlock, E.B. 2006. Psikologi
pendidikan kesehatan.
Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
b) Bagi Pengelola PSBR Yogyakarta
8. Romana, Aben B.H,. 2005. Faktor- 15. Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Suatu Pengantar. Jakarta: Raja
Sosialisai Anak Usia Sekolah di Panti Grafindo Persada
Asuhan Yatim Piatu Puteri Aisyiyah 16. Santrock, W John. 2007.
Yogyakarta. Fakultas Kedokteran Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
UGM. Skripsi 17. Listrikawati. 2005. Hubungan Antara
9. Didoek, Conchita. 2012. Faktor-Faktor Anak Pola Asuh Ibu Dengan
yang Mempengaruhi Perkembangan Kematangan Sosial Anak Usia 1-3
Bahasa Pada Anak Usia Prasekolah di tahun di Desa Tirtoadi Sleman
TK Karitas Nandan Ngaglik Sleman Yogyakarta. Fakultas Kedokteran
Yogyakarta. Fakultas Ilmu UGM. Skripsi
Keperawatan Universitas Respati 18. Jannah, Husnatul. 2012. Bentuk Pola
Yogyakarta. Skripsi Asuh Orang Tua Dalam Menanamkan
10. Sartika, Panjaitan Dewi. 2012. Perilaku Moral Pada Anak di
Hubungan Pola Asuh Orang Tua Kecamatan Ampek Angkek.
dengan Perkembangan Sosialisasi http://ejournal.unp.ac.id/index.php/pau
Remaja di SMA Negeri 15 Medan. d/article/viewFile/1623/1397, 10 juli
Fakultas Keperawatan USU. Skripsi 2014
11. Santrock, W John. 2007. 19. Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang
Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga Remaja dan Permasalahannya.
12. Yusuf. 2004. Psikologi Perkembangan Jakarta: Agung Seto
Anak dan Remaja. Bandung: Remaja 20. Kaha, Naomi. 2012. Dukungan Sosial
Rosdakarya Teman Sebaya Dan Hubungan
13. Muslimah, Nurlia. 2010. Hubungan Orangtua-Remaja Sebagai Prediktor
Antara Penerimaan Diri Dengan Identitas Diri Siswa SMA Kristen 1
Kebahagiaan Anak Jalanan. Fakultas Salatiga. Sains Psikologi Universitas
Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Kristen Satya Wacana Salatiga. Tesis
Jakarta. Skripsi 21. Sofia, Poppy Anisa. 2009. Hubungan
14. Widjaja, A.W. 2000. Ilmu Komunikasi. Pola Asuh Otoriter Orangtua Dengan
Jakarta: Bina Aksara Efektifitas Komunikasi Interpersonal.
Fakultas Psikologi UII. Skripsi