Anda di halaman 1dari 9

Volume 28, 2013

MUDRA
Volume 28, Jurnal
NomorSeni Budaya
2, Juli 2013
p 143 - 151
ISSN 0854-3461

Transisi Seni Tradisi Toraja sebagai Pengabdian


Kepada Leluhur

KARTA

Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Negeri Makassar, Indonesia
E-mail : kartajayadi@gmail.com

Meskipun Aluk To dolo sebagai agama asli orang Toraja secara berangsur-angsur ditinggalkan oleh orang-
orang Toraja, namun beberapa ritual yang berkaitan dengan bentuk-bentuk pengabdian kepada leluhur
tetap mereka laksanakan hingga saat ini. Hal ini terlihat dari pelaksanaan upacara tradisional yang selalu
dikaitkan dengan pengabdian kepada nenek moyang. Beberapa seni tradisi yang dilaksanakan tersebut ada
yang bersifat sakral, ada pula yang profan. Jenis kesenian tersebut meliputi seni pertunjukan, seni musik
dan seni rupa. Secara umum, keberadaan seni tradisi ini menjadi bagian penting dari rasa syukur pada
Tuhan, bahkan merupakan bagian dari upacara kematian.

The Transition of Toraja Traditional Art as Devotion to the Ancertors

Although Aluk To dolo as indigenous religion of the Toraja are gradually abandoned by the Toraja people,
but some of the rituals associated with other forms of devotion n to their ancestors still carried to this day.
This is evident from the implementation of a traditional ceremony that is always associated with devotion
to the ancestors. Some performed the traditional art there that are sacred, some profane. Type of art includes
performing arts, music and visual arts. In general, the presence of traditional art is an important part of
gratitude to God, even a part of the funeral ceremony.

Keywords: Aluk to dolo, traditional art, Torajan culture, magic performance, and ritual

Kesenian dalam kehidupan tradisi budaya Toraja (bangsawan tinggi); (2) Tana Bassi (bangsawan
memegang peranan yang sangat penting. Hal ini menengah); (3) Tana Karurung (rakyat biasa); dan
disebabkan karena segala ritual dan penyembahan (4) Tana Kua-kua (hamba sahaya).
kepada leluhur dilaksanakan dengan suatu
tatanan upacara yang melibatkan semua aspek Keseluruhan pertunjukan seni tradisi Toraja
kesenian seperti: gerak, rupa, musik, sastra serta merupakan bentuk pengabdian kepada leluhur, yang
melibatkan semua kalangan strata sosial yang terbagi ke dalam dua kelompok besar yaitu Rambu
ada dalam masyarakat Toraja. Hal ini disebabkan Tuka (upacara suka cita) dan Rambu Solo (upacara
karena pelaksanaan berbagai seni tradisi tersebut duka cita). Pelaksanaan pertunjukan seni tradisi ini
selalu terkait dengan status dan stratifikasi sosial dipusatkan pada Tongkonan (rumah adat Toraja,
seseorang / keluarga dalam masyarakat Toraja. yang hanya dapat dimiliki oleh kaum bangsawan).
Menurut Tangdilintin (1974: 75) mengungkapkan Demikian pula dengan pelaksana berbagai upacara
bahwa dalam Aluk To Dolo (kepercayaan asli tersebut hanya oleh kaum bangsawan. Sedangkan
suku Toraja), ada empat tingkatan kelas manusia masyarakat yang bukan bangsawan hanya bertindak
dalam masyarakat Toraja yaitu (1) Tana Bulaan sebagai pekerja, dan hal tersebut merupakan bagian

143
Karta (Transisi Seni Tradisi Toraja...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

dari tugas dan tanggung jawabnya sesuai status ditentukan berdasarkan keturunan, dan tetap tidak
sosialnya. berubah selama hidup bahkan sampai meninggal
dunia kasta tertinggi tetap diperlakukan istimewa
Bentuk dan pertunjukan seni tradisi Toraja tersebut oleh masyarakat. Menurut Haviland (1988: 143)
sangat variatif yang dilaksanakan secara besar- masyarakat berstratifikasi adalah struktur kelas
besaran dengan melibatkan seluruh kalangan dalam dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya
masyarakat Toraja. Karena itu sebagai warisan tidak mendapat bagian yang sama dalam hal:
budaya leluhur bangsa Indonesia, perlu kiranya sumber pokok yang mendukung kehidupan atau
kalangan internal pemilik budaya tersebut atau dari pengaruh / prestise sosial. Masyarakat yang
pun pihak luar mengetahui bahkan memotret, berstratifikasi adalah masyarakat yang penduduknya
minimal sebagai bentuk dokumentasi berharga terbagi dalam dua kelompok atau lebih, dan
bagi kelangsungan pengetahuan dan keberadaan kedudukan kelompok yang satu lebih tinggi atau
seni budaya Toraja, agar keberadaannya mampu lebih rendah dibandingkan dengan yang lain.
memberi inspirasi bagi kehidupan masa depan
yang lebih baik dan humanis berlandaskan kearifan Aluk To Dolo sebagai Sumber Seni Tradisi
lokal. Kesenian dalam tradisi budaya Toraja sangat khas
karena terkait dengan kepercayaan asli suku Toraja
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk yaitu Aluk to Dolo yang merupakan sumber dan
mengetahui konsep Aluk To Dolo sebagai dasar tempat berpijaknya seluruh kebudayaan Toraja. Aluk
pelaksanaan upacara pertunjukan seni tradisi, to Dolo sebagai agama asli suku Toraja merupakan
mendokumentasikan ragam seni budaya Toraja suatu kepercayaan yang berisi ritual-ritual untuk
serta mengklasifikasi dan memaparkan seni sakral memuja Tuhan (Puang Matua) melalui upacara
dan seni tradisi profan beserta ritualnya sebagai ritual dengan mengorbankan babi dan kerbau sebagai
pengabdian leluhur. persembahan. Aluk to Dolo saat ini, memang tidak
lagi dianut secara kuat dan mayoritas oleh suku
KAJIAN PUSTAKA Toraja, bahkan menjadi kelompok minoritas. Akan
tetapi hampir seluruh peninggalannya terutama yang
Struktur Masyarakat Toraja berkaitan dengan upacara besar (rambu tuka dan
Konsep struktur dan fungsi memandang masyarakat rambu solo) masih dilaksanakan, namun dengan
sebagai suatu sistem dari struktur-struktur sosial. menganggapnya sebagai adat dan kebudayaan Toraja
Struktur dalam hal ini adalah pola-pola nyata yang tidak terkait dengan penyembahan kepada
hubungan atau interaksi antara berbagai komponen leluhur. Pelaksanaan berbagai upacara ritual inilah
masyarakat pola-pola yang secara relatif bertahan yang memainkan beberapa bagian dan memiliki
lama karena interaksi-interaksi tersebut terjadi peran yang sangat menentukan dalam kehidupan
dalam cara yang kurang-lebih terorganisasi. Pada sosial komunitas masyarakat Toraja. Terkait
tingkatan paling umum adalah masyarakat secara dengan hukum-hukum refresif yang terus-menerus
keseluruhan, yang dapat dilihat sebagai struktur menjadi penting, Doyle Paul Johnson (1994: 185)
tunggal yang menaunginya. Pada tingkatan di mengatakan bahwa dalam suatu masyarakat organik,
bawahnya adalah suatu rangkaian struktur-struktur melainkan juga kesadaran kolektif menyumbang
yang lebih mengkhusus yang saling berkaitan untuk pada solidaritas sosial, memperkuat ikatan yang
membentuk masyarakat, ibarat pilar-pilar sebuah muncul dari saling ketergantungan fungsional yang
bangunan atau, mengikuti istilah Durkheim, seperti semakin bertambah.
organ-organ dari organisme yang hidup (Saifuddin,
2005: 156). Dengan demikian, ritual sebagai salah satu bentuk
pelaksanaan hukum / seperangkat aturan yang
Aluk To Dolo merupakan agama / kepercayaan mengikat secara politik memiliki peran integratif
yang membedakan manusia Toraja dalam bentuk dan sebagai bagian dari mekanisme sosial yang
strata berdasarkan mitos Aluk To Dolo. Pada suku memulihkan keseimbangan dan solidaritas
Toraja, nampaknya stratifikasi sosial merupakan kelompok. Nilai-nilai solidaritas kelompok dan
kasta sejati, dimana bentuk keanggotaannya kegotong-royongan dalam melaksanakan berbagai

144
Volume 28, 2013 MUDRA Jurnal Seni Budaya

upacara ritual Toraja nampaknya masih sangat memperoleh kebahagiaan. Religi, merupakan cara
dijunjung tinggi oleh masyarakat Toraja. Hal penyelesaian suasana kehidupan manusia yang
ini terlihat dalam setiap pelaksanaan upacara tidak pasti. Kekuatan pengaruh kepercayaan / religi
pemakaman (rambu solo) selalu dihadiri oleh telah membuat masyarakat Toraja berada dalam
segenap anggota keluarga, warga desa, serta orang ambivalensi, dimana pengakuan keyakinan yang
dari desa sekitarnya, bahkan kerabat lainnya yang telah beralih dari kepercayaan asli Aluk To Dolo ke
berada di luar Tana Toraja menjadi kewajiban agama wahyu tidak banyak merubah perilaku dan
untuk menghadirinya. pelaksanaan upacara yang sesungguhnya sakral
bagi kepercayaan Aluk To Dolo namun dengan
Menghadiri upacara pemakaman merupakan merasionalisasikan aktivitas upacara dan ritual
suatu kewajiban dan kebanggaan tersendiri bagi dengan menganggapnya semata-mata sebagai nilai-
orang Toraja, khususnya bagi anggota keluarga nilai seni orang Toraja yang patut dilestarikan yang
pelaksana upacara. Karena itu, kini pelaksanaan bersifat profan. Secara sosial kemasyarakatan hal
upacara pemakaman telah dijadwalkan jauh hari ini juga terkait erat dengan upaya mempertahankan
sebelumnya untuk mengakomodasi kesempatan citra kebangsawanan dalam masyarakat yang hingga
masing-masing anggota keluarga, sekaligus saat ini masih sangat dihormati.
mempersiapkan berbagai keperluan yang memadai
untuk disumbangkan pada upacara tersebut. Hal BENTUK DAN RITUAL PERTUNJUKAN
ini mencerminkan sebuah bentuk pengabdian pada SENI TRADISI TORAJA
adat dan tradisi Toraja, yang dahulunya merupakan
kegiatan upacara yang sakral. Dengan demikian Klasifikasi Seni Budaya Toraja
pelaksanaan upacara ritual tersebut sangat kental Kesenian Toraja hanya dipentaskan pada upacara
dengan nilai solidaritas yang kuat dan tidak lagi tradisi. Secara umum dapat dibedakan dalam dua
memiliki nilai-nilai ritual sebagai bentuk pengabdian klasifikasi, yaitu rambu tuka (upacara suka cita)
pada Puang Matua (Tuhan), Deata-Deata (Dewa- dan rambu solo (upacara duka cita). Melengkapi
dewa) maupun kepada To Membali Puang (leluhur). peralatan pelaksanaan kedua jenis upacara
Perbedaan mendasar dari unsur-unsur fungsi dan pertunjukan seni tersebut, dibuatlah berbagai
makna pada upacara ritual suku Toraja Aluk to Dolo karya seni yang keselurahannya memiliki makna
dengan yang dilaksanakan oleh masyarakat Toraja masing-masing seperti untuk upacara rambu tuka
masa kini, terletak pada sistem keyakinan yang antara lain: pertunjukan tari; musik; hiasan pada
berbeda, sehingga makna yang terkandung dalam lokasi upacara, dan lain-lain. Sedangkan untuk
setiap unsur upacara mengalami penyesuaian. upacara rambu soloperlengkapan yang bernilai
seni diantaranya: tau-tau (patung) sebagai simbol
Kepercayaan sebagai suatu kebudayaan, sebenarnya orang yang meninggal, Lakkian (panggung utama)
telah mengalami pengayaan dan enkulturasi dalam pada lokasi pemakaman, Lantang (pondok) yang
kebudayaan tersebut. Interaksi yang sangat penting mengelilingi lokasi upacara lengkap dengan aneka
dalam suatu kepercayaan adalah yang bersifat sakral, ragam hias yang dipasang sepanjang pondok yang
dalam hal ini terdapat dua macam interaksi, yaitu berjajar, dan lain-lainnya.
(1) interaksi yang mengacu kepada aktivitas yang
dipercayai dapat menyertakan, mencakupi, atau Kesenian Toraja disebut gau patendengan / pa
sejalan dengan kemauan dan hasrat adikodrati; dan (2) maruasan, yang terdiri dari seni tari disebut gellu-
interaksi yang mengacu kepada kepercayaan bahwa gellu; seni suara, disebut pakayoyoan; seni musik
perbuatan tersebut dapat mempengaruhi adikodrati instrumental seruling, disebut passuling-suling;
untuk memenuhi keinginan pelakunya (Spiro, 1977: seni dekorasi disebut pabelo-belo; seni sastra,
97-98). Dengan demikian, kepercayaan bukan disebut kada-kada to minaa; seni ukir, disebut
tumbuh bersemi dari akal, tetapi dari ketidakpastian passura; seni pahat disebut papa; seni anyam,
kehidupan alamiah dan ketakutan terhadap disebut panganan-anan; seni tempa, disebut
masa yang akan datang, kepercayaan berfungsi patampa; seni tenun, disebut pangnganan. Dan
memberikan rasa percaya diri dan harapan kepada seni patung untuk ritual pemakaman disebut tau-tau.
individu dalam perhatiannya yang amat kuat untuk Dari segi jenis dan bentuk kesenian tersebut nampak

145
Karta (Transisi Seni Tradisi Toraja...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

bahwa kesenian Toraja cukup lengkap dan spesifik,


yang keseluruhannya dipertunjukkan dalam upacara
ritual sebagai pengabdian kepada leluhur.

Sedangkan beberapa bentuk seni kerajinan untuk


keperluan praktis sehari-hari, misalnya seni ukir,
seni pahat, seni anyam, seni tempa, seni tenun dapat
dibuat setiap saat, berdasarkan kebutuhan karena Pabarre allo Pa Tedong
tidak ada ketentuan atau aluk(agama / kepercayaan) (kehidupan) (kesejahteraan)
yang mengaturnya. Sedangkan khusus seni pahat /
patung yang menghasilkan tau-tau tidak dapat dibuat
secara bebas, dan harus dibuat oleh orang tertentu
yang disebut Pande Tau-tau sebagai kelengkapan
upacara kematian dari golongan bangsawan tinggi.

Ragam Seni Budaya Toraja


1. Kerajinan untuk keperluan rumah tangga Pa Manuk Londong Pa Susuk
Seni ukir, seni pahat, dan seni tenun merupakan (kepemimpinan) (gotong royong)
hasil kerajinan rakyat yang tidak terkait langsung
pada pelaksanaan upacara, sehingga dapat dibuat Gambar 1. Motif Garonto Passura dan Maknanya
kapan saja sepanjang bentuk dan motifnya sesuai (Sumber: Repro, Garuda Magazine, Vol. 8 No. 4-1988).
dengan tradisi Aluk to Dolo. Karena itu, kepandaian
mengukir, memahat dan menenun tumbuh diberbagai Warna-warna yang dipakai pada ukiran Toraja hanya
pelosok daerah. Kepandaian ini diperoleh secara terdiri dari empat macam yaitu warna merah, kuning,
turun temurun dari generasi ke generasi. Desa-desa hitam dan putih. Dalam Majalah Indonesia, Toraja
yang terkenal dengan orang pandai ukirnya terdapat South Sulawesi disebutkan bahwa warna merah
di Batan, Tonga, dan Randan Batu. Pada umumnya secara kualitas diasosiasikan sebagai kehidupan,
orang pandai ukir dan pahat merupakan orang biasa, warna kuning sebagai karunia Tuhan, warna hitam
sehingga rumah / tongkonan dan lumbungnya tidak sebagai kematian, dan warna putih sebagai kesucian.
boleh dihiasi dengan ukiran. Warna-warna tersebut diperoleh dengan ramuan
tradisional yang disebut litak. Litak adalah tanah liat
Menurut Tangdilintin, pada mulanya masyarakat khusus yang keras, dicampur dengan air seperlunya
Toraja hanya mengenal empat macam motif ukiran sampai dapat menghasilkan warna merah, kuning,
yang merupakan ukiran pokok disebut garonto dan putih. Sedangkan warna hitam diperoleh dari
passura. Keempat motif ukiran tersebut yaitu batang pisang muda yang dibakar sampai terbentuk
Pabarre Allo; Patedong; Pamanuk Londong dan arang. Arang inilah yang kemudian digoreskan
Pasussuk. Motif ini mengandung makna yang erat sehingga warna hitam dapat diperoleh.
kaitannya dengan falsafah kehidupan orang Toraja
yaitu: kehidupan; kesejahteraan; kepemimpinan Bentuk seni kerajinan lainnya yang dapat dibuat
dan gotong royong. tanpa harus berdasarkan aturan-aturan tertentu
adalah tenun. Hasil tenunan Toraja dibuat oleh
Dari empat motif dasar Toraja tersebut, kemudian kaum wanita, yang pada umumnya dapat dijumpai
menghasilkan ratusan motif-motif hias lainnya, di daerah Sadan dan sekitarnya. Motif-motif
yang memiliki makna masing-masing. Motif-motif tenunannya pada umumnya menggambarkan
tersebut pada umumnya dipajang pada dinding obyek-obyek yang dikenal dalam masyarakat
tongkonan dan alang sesuai dengan status pemilik seperti tongkonan (rumah adat), alang (lumbung),
tongkonan tersebut. Adapun motif garonto passura tedong (kerbau), bai (babi), manuk (ayam). Selain
tersebut dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: itu digambarkan pula motif-motif geometris seperti
pasulan (anyaman), pa salabbi, swastika, sulur-
sulur, dan lain-lain. Hasil tenunan ini dibuat untuk
berbagai keperluan antara lain untuk kain sarung,

146
Volume 28, 2013 MUDRA Jurnal Seni Budaya

pakaian, taplak meja, selendang, dan lain-lain yang bentuk perahu dimana nenek moyang orang Toraja
ditenun dalam warna-warna merah, kuning, biru pertama kali datang ke Toraja dari Indo Cina dengan
muda, hitam dan putih. perahu.

Gambar 3. Tongkonan dan Alang (Sumber: http://nino-


Gambar 2. Wanita Toraja sedang menenun ninerante.blogspot.com/2012/04/kesenian-kesenian-
(Sumber: Repro, Garuda Magazine, Vol. 8 No.4-1988). toraja.html).

Selain itu, seni sastra juga banyak terdapat di Tana Dalam melaksanakan berbagai upacara adat,
Toraja, yang disebut kada-kada. Seni sastra Toraja, tongkonan dan alang dijadikan sebagai pusat
pada dasarnya merupakan bentuk persembahan pelaksanaan dan pengendalian berbagai
dan pemujaan yang didasarkan pada kepercayaan ritual. Tongkonan dan alang dianggap sebagai
Aluk Tallu Otona (tiga dasar kepercayaan) yaitu mikrokosmos alam raya yang memiliki nilai sakral
Puang Matua, Deata-deata dan To Membali Puang. yang harus dijunjung tinggi oleh masyarakat. Hal
Persembahan tersebut berupa doa-doa yang ini disebabkan karena posisinya yang dianggap
berhubungan dengan harapan dan kegembiraan sebagai pusat lintang timur dan barat, serta bujur
serta doa-doa yang berisi kesedihan dan kematian. utara dan selatan. Dengan kata lain tongkonan
Kada-kada tersebut lebih banyak dilakukan oleh To adalah merupakan pusat kosmos bagi keberadaan
minaa sehingga kadang-kadang disebut kada-kada manusia, tempat bertumpunya persilangan empat
to minaa, dimana ada yang diperuntukkan untuk penjuru angin dan wadah bagi azas-azas kehidupan
upacara rambu solo, dan ada juga buat upacara manusia. Selain itu, tongkonan adalah simbol dari
rambu tuka. mikrokosmos, dimana merupakan tempat upacara
dipusatkan, yang disesuaikan dengan sifat dan
2. Arsitektur tradisional jenis upacara yang dilaksanakan. Bila mengadakan
Arsitektur tradisional Toraja yang sangat menonjol upacara rambu tuka, maka penyelenggaraannya di
adalah rumah adat yang terdiri dari banua sura pusatkan di sebelah timur tongkonan. Sebaliknya
(tongkonan) dan alang sura (lumbung). Keduanya bilamana upacara rambu solo yang diadakan, maka
merupakan satu kesatuan, dan hanya boleh dimiliki diselenggarakan di sebelah barat tongkonan.
oleh kaum bangsawan Toraja. Dalam penataannya,
posisi tongkonan dan lumbung saling berhadapan, Sedangkan untuk penyembahan kepada Puang
tongkonan menghadap ke utara, Alang menghadap Matua, yang bersemayam di utara sebagai ulunna
ke selatan. lino, maka upacaranya dipusatkan di sebelah utara
tongkonan. Sedangkan di dalam kale banua (badan
Bentuk tongkonan dan alang sangat unik dan tongkonan), bila ada sesajian yang dihidangkan,
khas, menyerupai bentuk dasar perahu pada bagian maka upacaranya mengikuti arah timur atau barat.
atap yang terbuat dari bahan kayu dan bambu. Misalnya untuk upacara rambu tuka sesajiannya
Berdasarkan mitos dan legenda yang beredar dalam dihidangkan di bagian timur dalam tongkonan,
masyarakat Toraja, bentuk tersebut terilhami oleh sedangkan untuk upacara rambu solo, sesajiannya
dihidangkan di bagian barat dalam tongkonan.

147
Karta (Transisi Seni Tradisi Toraja...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

3. Seni pertunjukan tradisional pria. Tarian dan musik Toraja, selain diperuntukkan
a)Tarian sebagai wadah menjalin hubungan kekerabatan dan
Tarian Toraja pada dasarnya terbagi ke dalam harmoni kehidupan sosial dalam masyarakat, juga
dua jenis yaitu tarian untuk upacara rambu tuka merupakan bentuk persembahan kepada leluhur
dan tarian untuk rambu solo. Pentas seni untuk melalui berbagai ritual yang dilaksanakan.
upacara rambu tuka, juga dibedakan atas dua
jenis yaitu tarian yang bersifat sukacita, misalnya 4. Tau-tau (patung arwah)
dalam menghadapi perkawinan, keberhasilan panen Dalam kamus Bahasa Toraja-Indonesia dijelaskan
atau syukuran lainnya seperti: tari pagellu, tari pa bahwa tau-tau, berasal dari kata tau yang berarti
bonebala, tari pa lambuk pare, dan lain-lain. Tarian orang atau manusia. Jadi tau-tau dapat diartikan
ini hanya dibawakan oleh kaum wanita. Sedangkan orang-orangan; atau semacam patung yang dibuat
tarian untuk upacara rambu tuka lainnya, untuk orang mati (Tammu, 1972: 625). Dengan
bersifatnya sakral yaitu sebagai tarian persembahan demikian, kata tau-tau dalam istilah Toraja
dan pemujaan kepada leluhur. Yang termasuk dalam menunjukkan suatu jenis ciptaan yang merupakan
jenis tarian ini antara lain: tari pangnganda, tari sejenis patung, dibuat khusus untuk orang mati
bondesan. Kedua tarian ini hanya dibawakan oleh sebagai bagian penting dari perlengkapan upacara
kaum pria, sedangkan tari pa burake yang juga pemakaman yang dirapai. Orang dari status
termasuk dalam tari sakral rambu tuka dibawakan tana bulaan (bangsawan tinggi) yang mempunyai
oleh kaum wanita. Sedangkan tarian untuk upacara kemampuan ekonomi yang kuat, diupacarakan
rambu solo diantaranya tari pa randing dan ma dengan upacara pemakaman tertinggi dipappitung
badong. bongi yaitu dirapai dengan upacara rapasan yaitu
jenazah disimpan sampai kering hingga tersisa
tulang-belulang kemudian dimakamkan di tempat
makam keluarga.

Sedangkan Nooy-Palm (1979: 261) mengemukakan


pengertian tau-tau yaitu The word tau-tau means
little person, or, also, like a person. Spoken
rapidly the words sound like tatau. The tau-tau
is the image of the deceased, dressed in clothing,
complete with accessories and jewellery. The effigy
is more than a memorial statue as we know it, for it is
thought to have a soul, the soul of the deceased.
Gambar 4. Salah satu Tarian Toraja (Sumber: http://nino-
ninerante.blogspot.com/2012/04/ kesenian-kesenian-
toraja.html) Kedua pengertian tau-tau yang dipaparkan di atas,
semakin memperjelas makna dan pengertian tau-
b) Musik tau sebagai orang-orangan atau seperti sosok orang,
Pentas seni lainnya sebagai kelengkapan upacara sebagai bayangan dari orang yang meninggal dunia
rambu tuka atau untuk upacara rambu solo adalah yang diberi pakaian, lengkap dengan asesoris atau
seni musik. Seni musik untuk upacara rambu tuka sekedar gambaran sosok dari orang yang meninggal
diantaranya: ma geso-geso, semacam musik biola yang dianggap masih mempunyai jiwa. Bagi orang
yang dibawakan oleh pria, ma oni-oni terbuat dari Toraja, patung hanya dibuat dalam bentuk yang
batang padi, dibawakan oleh pria, ma gandang yaitu menyerupai sosok manusia. Sosok manusia tersebut
memukul gendang dibawakan oleh pria, ma tulali dibuat sebagai perlambangan bagi seseorang yang
dan ma suling alat musik tiup dibawakan oleh pria, telah meninggal dunia dari kaum bangsawan yang
ma karombi alat musik tiup yang dapat dibawakan disebut tau-tau. Tau-tau merupakan salah satu
oleh pria atau wanita. Sedangkan seni musik untuk bentuk patung arwah yang ada di Indonesia,
upacara rambu solo diantaranya: ma suling dan sebagaimana juga ditemui pada suku Dayak, Batak,
marakka, dibawakan oleh pria dan wanita, ma dondi Irian, Sumba, dan Nias.
dibawakan oleh wanita, memanna dibawakan oleh

148
Volume 28, 2013 MUDRA Jurnal Seni Budaya

Menurut But Muchtar (1983: 16) patung sebagai (aluk pitung sabu pitu ratu pitu pulo pitu). Dalam
ungkapan seni berbentuk tiga dimensi mula- aluk tersebut, salah salah satu peraturan yang
mula diciptakan oleh masyarakat primitif ribuan diturunkan adalah upacara pemakaman atau upacara
tahun yang silam di berbagai penjuru dunia. Bagi rambu solo. Salah satu unsur dalam upacara
masyarakat tersebut, patung mempunyai fungsi pemakaman ini adalah kewajiban pembuatan tau-tau
sosial, yaitu diperuntukkan dalam upacara yang bagi kaum bangsawan yang upacara pemakamannya
amat bermakna bagi seluruh kehidupan masyarakat dirapai. Peraturan yang dibawa oleh leluhur inilah
lingkungannya. Patung merupakan visualisasi dari yang menjadi landasan utama kewajiban membuat
kepercayaan terhadap roh nenek moyang, sebagai tau-tau. Menurut Tato Dena bahwa tau-tau sudah
simbol tata nilai serta inspirasi kehidupan, seperti ada sejak adanya Alukta (Aluk to Dolo) di Tana
dalam menghadapi malapetaka yang disebabkan Toraja. Rambu Langi dan Arring adalah dua orang
oleh alam, mereka berpaling pada nenek moyang penguasa adat Toraja yang pertama kali dibuatkan
yang telah dipatungkan. Mereka juga percaya pada tau-tau pada waktu meninggal dunia (wawancara
kekuatan gaib yang dipersonifikasi dalam bentuk dengan Tato Dena di di Mendetek Makale pada 2
patung binatang seperti kepala kerbau, biawak atau Oktober 2005).
burung guna menghalau gangguan. Dalam sejarah,
patung tidak saja dikenal sebagai media sakral,
tetapi fungsinya dapat juga dipergunakan sebagai
media peringatan, untuk mengenang seseorang atau
sesuatu peristiwa. Selama berabad-abad, fungsi
patung tersebut masih tetap dipertahankan, seperti
patung ngugu pada suku Dayak, patung penji reti
pada suku Sumba, patung kowar pada suku Irian,
patung adu zatua dan adu nuwu pada suku Nias
dan patung tau-tau pada suku Toraja, dan masih
banyak lagi suku-suku lain di berbagai tempat yang
memiliki patung arwah atau patung nenek moyang
yang sangat mereka dihormati.

Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Gambar 5. Tau-tau di makam Rante (Sumber: Foto
Yudoseputro (1986: 5) bahwa peninggalan- Karta, 2005).
peninggalan patung pra-sejarah di Indonesia terdapat
di beberapa daerah sejak zaman Neolithikum. Karya
patung ini berupa patung-patung nenek moyang Kisah-kisah ini diperolehnya secara turun temurun
dan patung penolak bala yang dibuat dari batu, kayu dari generasi ke generasi. Karena itu, salah satu
dan bahan lainnya. Gaya patung disesuaikan dengan kelebihan seorang to minaa yaitu memiliki ingatan
bahan yang dipakai dan pengaruh dari perkembangan yang sangat kuat karena tidak ada budaya tulis yang
seni ornamen. Patung-patung batu dengan ukuran ditinggalkan oleh nenek moyang Toraja (wawancara
besar dari zaman megalitik dari daerah Jawa Barat dengan Tato Dena di di Mendetek Makale pada 2
tampak statis, frontal dan monumental, sebaliknya Oktober 2005).
patung dari Sumatera Selatan (Pasemah) lebih
dinamis dan piktural. Patung-patung megalitik masih Sebagai salah satu bentuk pengabdian pada nenek
dapat dikenal kembali di daerah Nias, sebagai karya moyang, keberadaan tau-tau diyakini pada awalnya
seni tradisional, juga terdapat di Toraja, Dayak, dan memiliki bentuk yang sangat sederhana karena
sebagainya. menekankan pada bentuk perlambangan semata.
Menjelang abad XVI, pande tau-tau (pembuat tau-
Sejarah keberadaan tau-tau di Tana Toraja tau) mulai membuat tau-tau yang telah menyerupai
diungkapkan oleh F.K Sarungallo (dalam Abdoellah, figur manusia dalam bentuk yang tidak realis dan
1992: 41) bahwa leluhur orang Toraja turun dari tidak proporsional. Orang yang dibuatkan tau-tau
kayangan dan membawa peraturan atau Aluk 7777 pada waktu meninggalnya hanya dari kalangan
bangsawan, karena hanya dari kalangan merekalah

149
Karta (Transisi Seni Tradisi Toraja...) MUDRA Jurnal Seni Budaya

yang dianggap berjasa dan pemberani dalam tersebut pada umumnya merupakan suatu bentuk
kehidupan sosial masyarakat. pertunjukan kesenian yang khas.

Kedua pengertian tau-tau yang dipaparkan di atas, Pada dasarnya seni tradisi Toraja, terdiri dari
semakin memperjelas makna dan pengertian tau- dua klasifikasi yaitu Rambu Tuka dan Rambu
tau sebagai orang-orangan atau seperti sosok orang, Solo. Rambu Tuka merupakan upacara suka cita
sebagai bayangan dari orang yang meninggal sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan
dunia yang diberi pakaian, lengkap dengan asesoris hasil bumi dan berbagai hajatan. Pada upacara
atau sekedar gambaran sosok dari orang yang tersebut dipentaskan berbagai jenis kesenian Toraja
meninggal yang dianggap masih mempunyai jiwa. diantaranya tarian, musik, syair-syair dan seni
Sedangkan sejarah keberadaan tau-tau sebagai salah pertunjukan lainnya, yang pada umumnya bersifat
satu bentuk patung arwah yang ada di Indonesia, profan. Sedangkan Rambu Solo merupakan upacara
sebagaimana juga ditemui pada suku Dayak, Batak, duka cita yang dilaksanakan sebagai penghormatan
Irian, Sumba, dan Nias, bukan merupakan perkara kepada seseorang dari kaum bangsawan Toraja yang
yang mudah. Hal ini disebabkan karena suku Toraja meninggal dunia melalui prosesi pemakamannya.
tidak meninggalkan budaya tulis sebagaimana suku Keseluruhan prosesi pelaksana-an dan peralatan
Bugis, Makassar atau Mandar yang juga mendiami pada upacara ini bersifat sakral.
daratan Sulawesi Selatan, yang memiliki aksara
tersendiri yang disebut lontara. Dalam lontara ini Keberadaan seni tradisi Toraja yang berlandaskan
berbagai informasi mengenai segala hal yang pada Aluk To Dolo tidak hanya sebagai bentuk
berkaitan dengan kebudayaan masa lalu dapat ekspresi seni orang Toraja, tetapi juga merupakan
diperoleh. Sedangkan pada suku Toraja, sejarah media ritual persembahan dan pengabdian kepada
kebudayaan masa lalu hanya dapat diperoleh melalui leluhur. Itulah sebabnya semua pentas dan
cerita dari mulut ke mulut secara turun temurun. pelaksanaan seni tradisi Toraja selalu dilaksanakan
dan dihadiri oleh orang Toraja secara besar-
Menurut Durkheim dalam Morris (2003: 140) besaran.
mengemukakan bahwa seluruh keyakinan keagamaan
yang dikenal, baik yang sederhana maupun yang Seiring dengan semakin ditinggalkannya
kompleks, memiliki suatu karakteristik umum, ia kepercayaan Aluk To Dolo oleh orang Toraja secara
mengandaikan suatu klasifikasi segala sesuatu, baik berangsur-angsur dari waktu ke waktu, tidak berarti
real atau ideal, dimana orang menjadikannya dua bahwa seni tradisi yang bersumber dari kepercayaan
kelas yang pada umumnya ditunjukkan oleh dua term tersebut serta merta juga ditinggalkan. Bahkan
yang berbeda yang diterjemahkan dengan cukup hingga kini orang Toraja masih melaksanakan
baik dengan istilah profan dan sakral. Aspek profan seluruh upacara tradisi yang diamanatkan oleh
inilah yang berkembang dan mendominasi berbagai Aluk To Dolo meski dalam kondisi sudah tidak lagi
bentuk dan makna upacara ritual, khususnya dalam memeluk ajaran tersebut. Strategi yang mereka
pelaksanaan upacara pemakaman hingga saat ini di lakukan adalah dengan menganggap bahwa seluruh
Tana Toraja. ritual sakral tersebut tidak lagi sebagai bentuk
penyembahan kepada leluhur, tetapi semata-mata
KESIMPULAN hanya sebagai nilai seni yang bersifat profan.
Pada sisi inilah potensi dan prospek seni tradisi
Toraja adalah salah satu suku yang mendiami Toraja memiliki kemampuan bertahan dengan
daerah Sulawesi Selatan selain suku Bugis, suku segala perubahannya. Hal lain yang turut memberi
Makassar dan sebagian kecil suku Mandar. Dari kontribusi terhadap keberadaan seni tradisi Toraja
semua suku yang ada di Sulawesi Selatan, hanya adalah upaya dari kaum bangsawan Toraja yang
suku Toraja yang memiliki agama / kepercayaan gigih mempertahankan status sosialnya melalui
asli yaitu Aluk To Dolo. Aluk To Dolo inilah yang kepemilikan dan pelaksanaan seni tradisi tersebut.
merupakan landasan utama dari segala aktivitas
sosial kemasyarakatan dan ritual penyembahan
kepada leluhur orang Toraja. Ritual penyembahan

150
Volume 28, 2013 MUDRA Jurnal Seni Budaya

Persantunan: Saifuddin, Achmad Fedyani. (2005), Antropologi


Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Amri Marzali dan Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai
Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin (Antropolog Paradigma, Edisi pertama, Kencana, Jakarta.
Universitas Indonesia), Prof. Dr. Paulus Tandilinting
(Sosiolog Universitas Indonesia dan Cendekiawan Spiro, Melford E. (1977), Religion: Problems of
Toraja) sebagai reader, bapak Tato Dena (pemeluk Definition and Axplanation dalam Michael Bunton
Aluk To Dolo) yang telah memberikan data, (penyunting), Antropological Approaches to the
informasi dan petunjuk dan bimbingan yang terkait Study of Religion, Tavistock Publications, London.
dengan tulisan ini.
Tammu-veen. (1972), Kamus Toraja-Indonesia,
DAFTAR RUJUKAN Yayasan Perguruan Kristen Toraja, Toraja.

Abdoellah MS. (1992), Proses Pembuatan Tau-tau Tangdilintin, L.T. (1974), Toraja dan
di Tana Toraja, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Kebudayaannya, Lembaga Sejarah & Antropologi
Seni IKIP Ujung Pandang. Ujung Pandang, Ujung Pandang.

Haviland, A. William. (1988), Antropologi, Edisi Yudoseputro, Wiyoso. (1986), Sejarah Seni Rupa
keempat Jilid 2, Jakarta, Erlangga. Indonesia, Bahan Kuliah PPs Seni Rupa dan
Desain ITB, Bandung.
Mochtar, But. (1983), Seni Rupa Pra-Sejarah, Bahan
Kuliah PPs Seni Rupa dan Desain ITB, Bandung. Nara Sumber:
Tato Dena (71 th.), Pemeluk Aluk To Dolo,
Morris, Brian. (2003), Antropologi Agama, Kritik wawancara tanggal 2 Oktober 2005 di rumahnya
Teori-teori Agama Kontemporer, AK Group, Desa Mendetek, Makale.
Yogyakarta.

Nooy-Palm, Hetty. (1979), The Sadan Toraja, a Chattam, Ar. (70 th.), Penari Wayang Topeng, Pelatih
Study of Their Social lifeand Religion, Organization, Tari, Koreografer dan Ketua Sanggar Swastika,
Symbols and Beliefs, The Hague-Martinus Nijhoff. wawancara tanggal 5 Mei 2012 di rumahnya Jl.
Gading 14 a Malang.
Paul Johnson, Doyle. (1994), Teori Sosiologi Klasik
dan Modern, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

151