Anda di halaman 1dari 112

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembelajaran IPA adalah suatu proses
pengembangan potensi ilmu pengetahuan alam dan
pembangunan karakter setiap perserta didik yang
merupakan hasil dari sinergi antara pendidikan yang
berlangsung di sekolah, keluarga dan masyarakat. Adanya
pembelajaran IPA sangat penting untuk diterapkan pada
instansi pendidikan. Karena pada hakikatnya, IPA
merupakan suatu disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, melalui
pembelajaran IPA diharapkan peserta didik dapat
menganalisis benda-benda hidup atau fenomena alam yang
terjadi disekitar lingkungan peserta didik. Berbicara tentang
pembelajaran IPA maka tentunya terkait erat dengan proses
belajar dan mengajar yang terlingkup dalam dunia
pendidikan. Agar pembelajaran IPA dapat tercapai sesuai
dengan harapan yang ada, pemerintah melakukan berbagai
upaya. Salah satu wujud upaya yang dilakukan oleh
pemerintah yaitu melalui pengembangan kurikulum.
Kurikulum merupakan suatu acuan atau pedoman
penyelenggaran kegiatan pembelajaran pada tujuan tertentu.
Kurikulum terus dikembangkan dan diperbaiki seiring
dengan dinamisasi kehidupan manusia. Sehingga melalui
beberapa perbaikan tersebut diharapkan dapat mencetak
generasi penerus yang memiliki life skill dan hard skill sesuai
dengan kebutuhan era masa kini. Kurikulum yang berlaku
pada saat ini adalah kurikulum 2013 atau disebut juga
dengan K-13. K-13 dikembangkan dengan tema
pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan insan
Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui

1
2

penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang


terintegrasi. Sehingga, untuk mewujudkannya upaya
pemerintah melalui permendikbud tentang Standar Proses
menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan
pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Berdasarkan standar proses
tersebut peserta didik dituntut untuk memiliki keterampilan
proses sains, sehingga nantinya peserta didik diharapkan
dapat manganalisis melalui kegiatan 5M. Kegiatan 5M yang
dimaksud adalah mengamati fenomena alam yang terjadi
disekitar, menanya, mengumpulkan informasi yang terkait,
mengasosiasi, serta mengkomunikasikan hasil analisis.
Kegiatan 5 M merupakan bagian inti dari proses
pembelajaran dalam K-13.
Kenyataan tidak selalu berjalan mulus sesuai
dengan harapan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara
yang dilakukan dengan Ibu Ninik Susilowati, S.Pd salah
satu guru IPA SMPN 1 Cerme, diperoleh bahwa untuk
melatihkan atau mewujudkan keterampilan proses sains
peserta didik sangatlah sulit. Kenyataannya adalah peserta
didik masih sulit untuk mengenali dan menganalisis atau
bahkan meyelesaiakan masalah yang erat kaitannya dengan
kehidupan sehari-hari. Dari situ dapat dilihat bahwa
keterampilan proses sains yang dimiliki oleh peserta didik
sangat minim sehingga kegiatan pembelajaran 5M sulit
direalisasikan. Hal ini tidak sesuai harapan pengembangan
K-13 yang menginginkan peserta didik mampu menganalisis
suatu permasalahan dengan keterampilan proses sains yang
dimilikinya. Kesulitan ini juga ditemukan oleh Darus (2013),
3

menjelaskan bahwa keterampilan proses yang dimiliki siswa


masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari pelatihan
membuat hipotesis yang hampir semua siswa sampel tidak
bisa membuatnya.
Selain itu, ada pula permasalahan lain yaitu belum
adanya LKS yang berisi kegiatan untuk menganalisis
fenomena di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pendidik
sangat berupaya penuh agar siswa memiliki keterampilan
proses sains yang lebih baik. Salah satu wujud upaya yang
bisa dilakukan oleh pendidik yaitu dengan menggunakan
suatu pedekatan atau model pembelajaran yang bersifat
menyenangkan tetapi tidak menyalahi tujuan untuk
melatihkan atau mewujudkan keterampilan proses sains
peserta didik. Kemudian, model pembelajaran tersebut
diintegrasikan dengan materi pelajaran yang relevan dan
sumber/media berupa LKS yang berisi beberapa kegiatan
pelatihan keterampilan proses sains.
Model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah
model PBL (Problem Based Learning) yang menggunakan
submateri pencemaran lingkungan sebagai wujud
permasalahan lingkungan yang dianalisis dalam kegiatan
yang tercakup pada LKS. Materi pencemaran lingkungan
dipelajari oleh jenjang pendidikan tingkat SMP kelas VII KD
3.9 mendiskripsikan pencemaran dan dampaknya bagi
makhluk hidup dan KD 4.12 menyajikan hasil observasi
terhadap interaksi makhluk hidup dengan lingkungan
sekitarnya. Pembelajaran materi pencemaran lingkungan
sangat penting untuk disampaikan, karena materi tersebut
membahas permasalahan lingkungan hidup yang sangat
dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga melalui
materi tersebut diharapkan siswa mampu mengidentifikasi
dan membangun pengetahuannya sendiri baik dari segi
4

faktor, dampak, dan solusi pemecahan masalahnya dengan


menggunakan keterampilan proses yang dimilikinya.
Keterampilan proses sains merupakan keterampilan
yang sangat penting untuk dilatihkan dan dikuasai oleh
setiap orang khususnya siswa SMP (Ibrahim, 2010). Melalui
keterampilan proses sains, peserta didik akan menganalisis
atau menemukan sendiri terkait dengan
informasi/pengetahuan, masalah, dan solusi yang
bersangkutan dengan materi pembelajaran. Kegiatan
tersebut dituangkan dengan dukungan model pembelajaran
yang diterapkan oleh guru dikelas. Model pembelajaran
yang dapat mendukung dan diterapkan oleh guru adalah
model PBL (Problem Based Learning).
Model pembelajaran PBL mengajak siswa untuk
belajar dan bekerja secara berkelompok, serta merangsang
siswa untuk belajar melalui rasa ingin tahu mereka untuk
mencari solusi dari permasalahan dunia nyata
(Permendikbud no.58, 2014). Masalah diberikan kepada
siswa sebelum siswa mempelajari konsep atau materi yang
berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Model
pembelajaran ini layak diterapkan pada pembelajaran materi
pencemaran lingkungan yang nantinya akan dituangkan
dalam sumber atau media pembelajaran dengan pencapaian
kompetensi melatihkan keterampilan proses sains siswa.
Sumber atau media yang digunakan adalah lembar kegiatan
siswa (LKS).
LKS digunakan sebagai sumber/media yang berisi
beberapa kegiatan untuk melibatkan siswa belajar dan
bekerja aktif . Siswa akan melihat masalah yang ada,
merumuskan masalah dan membuat hipotesis yang sesuai
dengan permasalahan, mengumpulkan informasi yang
terkait, mendiskusikan masalah dari beberapa informasi
yang diterimanya, dan memberikan solusi terhadap
5

masalah. Melalui beberapa kegiatan tersebut, keterampilan


proses sains siswa dapat dilatihkan dan hasil peningkatan
keterampilan akan terlihat melalui hasil tulisan yang
dituliskan siswa pada lembar kegiatan yang disediakan.
Berdasarkan jurnal penelitian oleh Rohaeti (2009), LKS layak
dan perlu dikembangkan dan diterapkan dalam
pembelajaran untuk pencapaian suatu kompetensi tertentu.
LKS dengan model pembelajaran PBL pada materi
pencemaran lingkungan diharapkan dapat melatihkan
keterampilan proses sains siswa melalui beberapa kegiatan
yang ada didalamnya. Bertolak dari beberapa uraian
tersebut, maka peneliti akan mengembangkan lembar
kegiatan siswa berorientasi pada salah satu model
pembelajaran dengan judul Pengembangan Lembar
Kegiatan Siswa Berorientasi PBL (Problem Based Learning)
Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat
diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kelayakan secara teoritis pengembangan
lembar kegiatan siswa berorientasi PBL (Problem Based
Learning) untuk melatihkan keterampilan proses sains
siswa berdasarkan pada hasil penilaian validator ?
2. Bagaimana kelayakan secara empiris pengembangan
lembar kegiatan siswa berorientasi PBL (Problem Based
Learning) untuk melatihkan keterampilan proses sains
siswa berdasarkan pada hasil observasi keterlaksanaan
LKS, tes keterampilan proses sains, dan respon siswa?

C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan kelayakan pengembangan lembar
kegiatan siswa berorientasi PBL (Problem Based Learning)
6

untuk melatihkan keterampilan proses sains siswa


secara teoritis yang berdasarkan pada hasil penilaian
validator.
2. Mendeskripsikan kelayakan pengembangan lembar
kegiatan siswa PBL (Problem Based Learning) untuk
melatihkan keterampilan proses sains siswa secara
empiris yang berdasarkan pada hasil observasi
keterlaksanaan LKS, tes keterampilan proses sains, dan
respon siswa.
3. Menghasilkan sebuah produk lembar kegiatan siswa
berorientasi PBL (Problem Based Learning) untuk SMP
kelas VII materi pencemaran lingkungan yang dapat
melatihkan keterampilan proses sains siswa.

D. Spesifikasi produk yang diharapkan


Produk yang diharapkan dari pengembangan
lembar kegiatan siswa adalah media atau sumber belajar
berupa lembar kerja yang diberikan kepada masing-masing
kelompok. Lembar kegiatan siswa digunakan sebagai media
kegiatan siswa yang berisi judul, tujuan, indikator, petunjuk
penggunaan, masalah otentik, alat dan bahan, kajian teori,
langkah kerja/pengamatan, tabel hasil kerja/ pengamatan,
kesimpulan, dan beberapa pertanyaan yang berkaitan
dengan materi belajar. Lembar kegiatan diberikan dengan
menerapkan PBL (Problem Based Learning) dimana siswa
akan dilatihkan beberapa keterampilan, yaitu keterampilan
mengamati, menanya (membuat rumusan masalah),
merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan
(menentukan variabel; menentukan apa yang akan
dilaksanakan berupa langkah kerja), menerapkan konsep
(menggunakan konsep untuk menjelaskan apa yang sedang
terjadi), berkomunikasi (menjelaskan hasil percobaan,
membaca tabel, dan mendiskusikan hasil kegiatan mengenai
7

suatu masalah). Kemudian siswa membuat sebuah produk


sebagai wujud solusi yang diberikan terhadap masalah.
Solusi atau produk yang dihasilkan tersebut akan
disampaikan/dipresentasikan di depan kelas. Melalui
beberapa kegiatan tersebut, diharapkan keterampilan proses
sains yang dimiliki oleh masing-masing siswa dapat
dilatihkan dengan baik serta kompetensi materi
pembelajaran dapat dicapai dengan baik pula.
E. Manfaat Penelitian
1. Mempermudah guru dalam menjelaskan sub materi
pencemaran lingkungan berorientasi PBL (Problem Based
Learning) untuk melatihkan keterampilan proses sains
siswa melalui lembar kegiatan siswa yang
dikembangkan.
2. Mempermudah siswa dalam mempelajari sub materi
pencemaran lingkungan berorientasi PBL (Problem Based
Learning) melalui lembar kegitan siswa yang
dikembangkan.
3. Melatihkan siswa untuk memiliki keterampilan proses
sains siswa melalui lembar kegiatan siswa yang
dikembangkan.

F. Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian pengembangan media
pembelajaran ini yaitu :
1. Lembar kegiatan siswa yang dikembangkan layak secara
teoritis berdasar penilaian validator (dosen dan guru
IPA SMP).
2. Lembar kegiatan siswa yang dikembangkan layak secara
empiris berdasarkan penilaian observasi keterlaksanaan
LKS, tes keterampilan proses sains, dan respon siswa.
3. Lembar kegiatan siswa yang dikembangkan mampu
melatihkan keterampilan proses sains siswa.
8

G. Batasan Penelitian
Penelitian pengembangan lembar kegiatan siswa ini
dibataskan pada :
1. Materi yang digunakan untuk melatihkan keterampilan
proses sians adalah sub materi pencemaran lingkungan.
2. Indikator keterampilan proses sains yang dilatihkan
dibataskan pada keterampilan mengamati, menanya
(membuat rumusan masalah), merumuskan hipotesis,
merencanakan percobaan (menentukan variabel,
menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa langkah
kerja), menerapkan konsep (menggunakan konsep untuk
menjelaskan apa yang sedang terjadi), berkomunikasi
(menjelaskan hasil percobaan, membaca tabel, dan
mendiskusikan hasil kegiatan mengenai suatu masalah).
3. Penelitian ini diuji cobakan secara terbatas pada 20 siswa
SMP Negeri 1 Cerme kelas VII G.
4. Penelitian ini menggunakan metode R&D oleh Sugiyono
(2012) yang dibataskan pada 6 tahapan, yaitu tahap
potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk,
validasi desain, revisi desain, dan ujicoba produk.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)


LKS merupakan suatu bahan ajar cetak berupa
lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-
petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus
dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada
kompetensi dasar yang harus dicapai (Prastowo : 2011).
Lembar kegiatan siswa (LKS) yang sesungguhnya, yaitu
sebagai panduan bagi siswa dalam memahami keterampilan
proses dan konsep-konsep materi yang sedang dan akan
dipelajari (Astuti,2013). Berdasarkan pengertian tersebut,
LKS sengaja disusun dengan fungsi dan tujuan tertentu.
Fungsi dan tujuan LKS dalam buku bahan ajar inovatif oleh
Prastowo adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Fungsi dan Tujuan Lembar Kegiatan Siswa
No Fungsi Tujuan
Sebagai bahan ajar yang
Menyajikan bahan ajar yang
bisa meminimalkan peran
memudahkan peserta didik
1 pendidik, namun lebih
untuk berinteraksi dengan
mengaktifkan peserta
materi yang diberikan
didik.
Menyajikan tugas-tugas
Sebagai bahan ajar yang
yang meningkatkan
mempermudah peserta
2 penguasaan peserta didik
didik untuk memahami
terhadap materi yang
materi yang diberikan
diberikan
Sebagai bahan ajar yang
Melatih kemandirian belajar
3 ringkas dan kaya tugas
peserta didik
untuk berlatih
Memudahkan Memudahkan pendidik
4 pelaksanaan pengajaran dalam memberikan tugas
kepada peserta didik kepada peserta didik

9
10

Selain fungsi dan tujuan tersebut ada lagi maksud


perlu digunakannya LKS dalam pembelajaran, yaitu sebagai
upaya mengurangi paradigma pembelajaran yang berpusat
pada guru. Masih banyak guru yang menerapkan
pembelajaran dengan pendekatan atau model yang berpusat
pada guru. Siswa masih cenderung pasif, sedangkan
tuntutan kurikulum terbaru adalah melibatkan siswa untuk
berperan aktif selama proses pembelajaran. Oleh karena itu,
perlu diterapkan LKS dalam pembelajaran (Astuti,2013).
Sedangkan Menurut Achmadi (Ekapti, 2014) penggunaan
LKS dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1. Mengaktifkan siswa dalam belajar
2. Membantu siswa mengembangkan dan menemukan
konsep berdasarkan pendiskripsian hasil pengamatan
dan data yang diperoleh dalam kegiatan eksperimen.
3. Melatih siswa menemukan konsep melalui pendekatan
keterampilan proses.
4. Membantu siswa dalam memperoleh catatan materi
pelajaran yang dipelajari melalui kegiatan yang
dilakukan di sekolah.
5. Membantu guru menyusun atau merencanakan kegiatan
pembelajaran meliputi pemilihan pendekatan dan
metode, motivasi belajar, pemilihan media dan evaluasi
belajar.
6. Membantu guru menyiapkan secara cepat kegiatan
pembelajaran karena LKS yang telah dibuat dapat
dipergunakan pada ajaran berikutnya. Seperti pada
penelitian Roheti (2009) yang
menggunakan/mengembangkan LKS untuk membantu
guru dalam kegiatan pembelajaran yang mencakup
konsep sains dan kimia.
Menurut Anggaryani, berdasarkan isinya LKS
dibedakan menjadi dua macam, yaitu LKS eksperimen dan
11

LKS non eksperimen (Ekapti, 2014). LKS eksperimen adalah


LKS yang berisikan petunjuk atau pertanyaan yang harus
diselesaikan oleh siswa untuk menemukan konsep yang
disajikan dalam bentuk kegiatan eksperimen di
laboratorium, sedangkan LKS non eksperimen adalah
lembar kegiatan yang berisikan petunjuk atau pertanyaan
yang harus diselesaikan oleh siswa untuk menemukan
konsep yang disajikan dalam bentuk kegiatan di kelas.
Terdapat 4 langkah dalam penyusunan LKS
(Prastowo, 2011), yaitu:
1. Melakukan analisis kurikulum
Langkah analisis kurikulum merupakan langkah
yang dimaksudkan untuk menentukan materi-materi
mana yang memerlukan bahan ajar LKS. Pada
umumnya, dalam menentukan materi, langkah
analisisnya dilakukan dengan cara melihat materi
pokok, pengalaman belajar, serta materi yang akan
diajarkan.
2. Menyusun peta kebutuhan LKS
Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan untuk
mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis serta melihat
sekuensi atau urutan LKS nya. Sekuensi LKS sangat
dibutuhkan dalam menentukan prioritas penulisan.
Langkah ini biasanya diawali dengan analisis kurikulum
dan analisis sumber belajar.
3. Menentukan judul-judul LKS
Judul LKS yang disusun didasarkan pada
kompetensi dasar, materi pokok, atau pengalaman
belajar yang terdapat dalam kurikulum.
4. Penulisan LKS
Terdapat beberapa langkah yang harus
dilakukan dalam penulisan LKS, diataranya yaitu :
a) Merumuskan kompetensi dasar
12

b) Menentukan alat penilaian, penilaian dilakukan


terhadap proses kerja dan hasil kerja peserrta
didik.
c) Menyusun materi,
d) Memperhatikan struktur LKS, struktur LKS terdiri
atas enam komponen yaitu judul, petunjuk belajar,
kompetensi yang akan dicapai, informasi
pendukung, tugas-tugas dan langkah kerja, serta
penilaian.

B. PBL (Problem Based Learning)


PBL (Problem Based Learning) adalah model
pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada
masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun
pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan
keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry, memandirikan
siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends,
dalam Hosnan, 20014: 294) Pembelajaran berbasis masalah
menantang siswa untuk belajar bagaimana belajar, bekerja
secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan
dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk
mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran
yang dimaksud. Masalah diberikan kepada siswa, sebelum
siswa mempelajari konsep atau materi yang berkenaan
dengan masalah yang harus dipecahkan. Berdasarkan
penelitian terdahulu model PBL dapat berpengaruh
terhadap beberapa keterampilan yang dimiliki oleh siswa,
salah satunya keterampilan berfikir kritis siswa
(Isnawati,2014) serta penelitian terdahulu oleh Eka
(Yulianto, 2014) menjelaskan bahwa model PBL dapat
meningkatkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan siswa dengan predikat baik.
13

Peran guru, siswa dan masalah dalam pembelajaran


berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 2.2 Peran Guru dan Siswa dalam PBL
Masalah sebagai
Siswa sebagai
Guru sebagai pelatih awal tantangan
problem solver
dan motivasi
Asking about thinking
(bertanya tentang Peserta Menarik
pemikiran) yang aktif untuk
Memonitor Terlibat dipecahkan
pembelajaran langsung Menyediaka
Probbing (menantang dalam n kebutuhan
siswa untuk berfikir) pembelajar yang ada
Menjaga agar siswa an hubunganny
terlibat Membangu a dengan
Mengatur dinamika n pelajaran
kelompok pembelajar yang
Menjaga an dipelajari
berlangsungnya proses

Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada siswa.


Siswa harus dapat menentukan sendiri apa yang harus
dipelajari, dari mana informasi dapat diperoleh, dan
dibawah bimbingan guru. Tujuan dan hasil dari model
pembelajaran berbasis masalah ini adalah untuk
mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi,
mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas,
melibatkan siswa dalam penyelidikan permasalahan pilihan
sendiri yang memungkinkan mereka menginterpretasikan
dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun
pemahamannya tentang fenomena tersebut.
Langkah- langah dalam menerapkan PBL di kelas
dan perilaku guru dalam setiap fasenya adalah sebagai
berikut :
14

Tabel 2.3 Tahapan- tahapan Model PBL


Fase- fase Kegiatan pembelajaran
Siswa menyimak penjelasan
tentang tujuan pembelajaran dan
Fase 1
logistik yang dibutuhkan
Orientasi siswa kepada
Siswa dimotivasi untuk terlibat
masalah
aktif dalam pemecahan masalah
yang dipilih
Siswa didorong mendefinisikan
Fase 2
dan mengorganisasikan tugas
Mengorganisasikan
belajar yang berhubungan dengan
siswa
masalah tersebut
Siswa didorong untuk
Fase 3
mengumpulkan informasi yang
Membimbing
sesuai, melaksanakan eksperimen
penyelidikan individu
untuk mendapatkan penjelasan
dan kelompok
dan pemecahan masalah
Siswa dibimbing dalam
Fase 4 merencanakan dan menyiapkan
Mengembangkan dan karya yang sesuai seperti laporan,
menyajikan hasil karya model dan berbagai tugas dengan
teman
Fase 5 Hasil belajar siswa di evaluasi
Menganalisa dan terkait materi yang telah
mengevaluasi proses dipelajari/ meminta kelompok
pemecahan masalah presentasi hasil kerja

Berikut merupakan uraian tiap fase model PBL :


1. Fase 1: mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan
tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan
dilakukan. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam
proses ini, yaitu :
a) Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari
sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada
belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah
penting dan bagaimana menjadi siswa yang mandiri.
15

b) Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak


mempunyai jawaban mutlak benar, sebuah
masalah yang rumit atau kompleks berpotensi
memunculkan banyak penyelesaian dan seringkali
bertentangan.
c) Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini),
siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan
mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai
pembimbing yang siap membantu, namun siswa
harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan
temannya, dan
d) Selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan
didorong untuk menyatakan ide-idenya secara
terbuka dan penuh kebebasan. Tidak ada ide yang
akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas.
Semua siswa diberi peluang untuk menyumbang
kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide
mereka.
2. Fase 2 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Disamping mengembangkan keterampilan
memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga
mendorong siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan
suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan
sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat
memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk
kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing
kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang
berbeda. Setelah siswa diorientasikan pada suatu
masalah dan telah membentuk kelompok belajar
selanjutnya guru dan siswa menetapkan subtopik-
subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan
jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini
adalah mengupayakan agar semua siswa aktif terlibat
16

dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan yang dapat


menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan
tersebut.
3. Fase 3 : Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan merupakan inti dari PBL. William
(2014) bahwa PBL involves students working self directed
usually in small groups using problem as the driver to seek
knowledge. In such an approach lectures serve as fasilitators
who attempt to guide students to take responsibility for their
learning. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa
untuk mengumpulkan data dan melaksanakan
eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka
betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan.
Setelah siswa mengumpulkan cukup data dan
memberikan permasalahan tentang fenomena yang
mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan
penjelasan dalam bentuk hipotesis, penyelesaian, dan
pemecahan.
4. Fase 4 : Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil
karya) dan mempamerkannya
Artifak yang disajikan bukan hanya berupa
laporan tertulis. Namun juga dapat berupa suatu video
tape yang menunjukkan situasi masalah dan pemecahan
yang diusulkan, model (perwujudan secara fisik dari
situasi masalah dan pemecahannya), sajian multimedia,
dan lain sebagainya.
5. Fase 5 : Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
Fase ini dimaksudkan untuk membantu siswa
menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri
dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang
mereka gunakan. Selama fase ini, guru meminta siswa
untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang
telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.
17

Berdasarkan uraian dari sintaks-sintaks


pembelajaran dengan menggunakan PBL dapat disimpulkan
bahwa model PBL diterapkan untuk mengajak siswa bekerja
secara aktif dalam menggali informasi/masalah yang terkait
dalam kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya siswa
memiliki inisiatif (memiliki kompetensi keterampilan proses
sains) untuk memecahkan masalah yang telah diperoleh dari
lingkungan sekitar/sumber belajar lainnya, seperti yang
dijelaskan pada Putri (2015) dengan model PBL kompetensi
keterampilan proses sains siswa dapat ditingkatkan dengan
persentasi yang sangat baik yaitu dari 17,2% menjadi 94,4%.
Dalam penerapanya, tentunya PBL tidak memungkinkan
untuk diterapkan pada semua materi IPA. Karena setiap
materi IPA memiliki karakteristik tersendiri yang
mengharuskan guru untuk lebih kreatif dalam membuat
pembelajaran tetap berkesan menyenangkan dan dapat
mencapai kompetensi pembelajaran yang sesuai. Setiap
model/pendekatan pembelajaran memiliki kelemahan dan
kelebihan yang berbeda. Nur (2011) menjelaskan bahwa ada
beberapa kelebihan dari model PBL bebrapa diantaranya
yaitu meningkatkan pengarahan diri, sikap memotivasi diri
sendiri, pemahaman lebih tinggi dan pengembangan
keterampilan lebih baik, keterampilan interpersonal dan
kerja tim yang lebih baik, dan hubungan tutor dan
mahasiswa lebih baik. Adapun dalam permendikbud no.58
tentang PMP IPA kelebihan dan kekurangan model PBL,
yaitu:
Tabel 2.4 Kelebihan dan Kekurangan PBL
No Kelebihan Kekurangan
Siswa merasa enggan
Pemecahan masalah
mencoba ketika siswa
merupakan teknik yang
1 tidak memiliki
cukup bagus untuk lebih
kepercayaan diri untuk
memahami isi pelajaran.
memcahkan masalah yang
18

No Kelebihan Kekurangan
dihadapinya.
Pemecahan masalah dapat
Keberhasilan strategi
menantang kemampuan
pembelajaran melalui
siswa memberikan
2 model PBL membutuhkan
kepuasan untuk
waktu yang cukup lama
menemukan pengetahuan
untuk persiapan.
baru bagi siswa.
Pemecahan masalah dapat Menuntut guru membuat
3 meningkatkan aktivitas perencanaan pembelajaran
pembelajaran siswa. lebih matang.
Pemecahan masalah dapat
membantu siswa
Jumlah siswa dalam kelas
bagaimana mentransfer
4 tidak terlalu banyak,
pengetahuan mereka
idealnya (25-35 siswa).
untuk memahami masalah
dalam kehidupan nyata.
Mengubah kebiasaan siswa
dari belajar dengan
Pemecahan masalah dapat
mendengarkan dan
membantu siswa untuk
menerima informasi dari
mengembangkan
5 guru menjadi belajar
pengetahuan barunya dan
dengan banyak berpikir
bertanggung jawab dalam
memecahkan masalah
pembelajaran.
merupakan kesulitan
tersendiri bagi siswa.

C. Teori Belajar yang Mendukung


Beberapa teori yang melandasi model PBL (Problem
Based Learning) adalah sebagai berikut :
1. Dewey dan Kelas Demokrasi
John Dewey dikenal dengan kelas demokrasi,
menggambarkan suatu pandangan tentang pendidikan
yang mana sekolah seharusnya mencerminkan
masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan
laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan
yang nyata (Ibrahim, 2012).
19

John Dewey juga menganjurkan agar guru


memberikan dorongan kepada siswanya terlibat dalam
projek atau tugas-tugas yang berorientasi masalah dan
guru membantu mereka dalam menyelidiki masalahnya.
2. Piaget, Vygotsky, dan Konstruktivisme
Piaget menjelaskan bahwa anak-anak lahir
membawa potensi rasa ingin tahu bawaan dan secara
terus menerus berusaha memahami dunia sekitarnya
(Nur, 2011). Rasa ingin tahu ini yang memotivasi mereka
untuk terus menggali informasi dan membangun
pemahaman mereka tentang hal-hal yang berkaitan
dengan lingkungan disekitarnya. Oleh karena itu PBL
dikembangkan didasarkan pada teori Piaget ini.
Ide Vygotsky adalah ide konsep tentang zone of
proximal development. Zone of proximal development
diartikan sebagai interaksi sosial dengan teman lain
membantu terbentuknya ide baru dan memperkaya
perkembangan intelektual. Menurut Vygotsky, siswa
memiliki dua tingkat perkembangan, yaitu
perkembangan aktual dan tingkat perkembangan
potensial (Ibrahim, 2012). Tingkat perkembangan aktual
adalah tingkat perkembangan yang dicapai oleh siswa
sebagai hasil dari belajar sendiri. Bila siswa berinteraksi
dengan orang lain yang lebih tahu baik guru maupun
temannya, maka siswa dapat mencapai tingkat
perkembangan yang sedikit diatas kemampuan
aktualnya, yang disebut dengan kemampuan potensial.
Teori Konstruktivis merupakan teori yang
menekankan pada pentingnya mengembangkan
kemampuan siswa membangun sendiri pengetahuan
mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar
mengajar.
20

3. Bruner dan Pembelajaran Penemuan


Teori lain yang mendasari dikembangkannya
PBL adalah teori yang diungkapkan oleh Bruner yang
disebut dengan pembelajaran penemuan. Melalui
kegiatan pembelajaran ini siswa menemukan ide- ide
mereka sendiri dan memperoleh makna oleh mereka
sendiri (Nur, 2011). Konsep lain dari Bruner adalah
Scaffolding. Ibrahim (2012) mendefinisikan scaffolding
sebagai proses seseorang siswa dibantu menuntaskan
masalah tertentu melampaui kapasitas
perkembangannya melalui bantuan dari seorang guru
atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.
Pemebelajaran penemuan menekankan pada
pengalaman- pengalaman aktif dan pembelajaran
berpusat pada siswa. Melalui kegiatan pembelajaran itu
siswa menemukan ide- ide mereka sendiri dan
memperoleh makna oleh mereka sendiri (Nur, 2011).

D. Keterampilan Proses Sains


Sains adalah studi sistematik tentang alam dan
bagaimana alam itu mempengaruhi kehidupan dan
lingkungan kita. Studi dan praktek sains melibatkan tiga
elemen utama, sikap- proses atau metode, dan produk.
Sikap, membuat seseorang memiliki perilaku positif
termasuk mengembangkan rasa ingin tahu, mampu
bekerjasama dengan orang lain, toleran, skeptik,
perseverans, dan masih banyak sikap yang lain. Sikap disini
termasuk juga keterampilan sosial seperti kemauan untuk
bekerjasama, menghargai pendapat orang lain. Proses atau
metode, digunakan untuk mengembangkan, menemukan
pengetahuan, dan menerapkan sains. Di dalam melakukan
proses sains, seseorang membutuhkan keterampilan tertentu
yang disebut keterampilan proses sains. Produk, adalah
21

informasi, ide, fakta, teori, konsep, hukum tentang sains


yang telah direkam dan dicatat sebagai pengetahuan ilmiah.
Keterampilan proses sains sangat penting untuk
dipelajari dan dikuasai oleh setiap orang. Oleh karena itu,
keterampilan proses sains perlu di integrasikan pada
kurikulum pendidikan (Hasan, 2015). Bila seseorang telah
menguasai keterampilan proses, maka orang tersebut telah
menguasai keterampilan yang diperlukan di dalam belajar
tingkat tinggi, yaitu melakukan penelitian dan memecahkan
masalah. Kemampuan pemecahan masalah dan penelitian
merupakan kecakapan hidup (life skills) dan oleh karena itu
merupakan hasil belajar yang paling tinggi yang harus
dipelajari siswa (Ibrahim, 2012).
Pembelajaran IPA lebih menekankan pada
penerapan keterampilan proses. Seperti pada jurnal
penelitian Darus (2013), yang menjelaskan bahwa Scientific
skills are a set of specific skills that assist students ini learning
science, getting them to be more sctively involved, and consciously
expand their capabilities. The skills are similar skills that are
utilized bu scientists in their research. Aspek-aspek pada
pendekatan ilmiah (scientific approach) terintegrasi pada
pendekatan keterampilan proses dan metode ilmiah
(permendikbud no.58 Lampiran III). Keterampilan yang
dilatihkan ini dikenal dengan keterampilan proses IPA.
Pembelajaran sains yang baik adalah bila dilakukan seperti
bagaimana sains itu ditemukan. Sains adalah karya manusia
yang dihasilkan/ditemukan, yaitu lewat metode ilmiah dan
menggunakan keterampilan proses sains. Metode ilmiah
adalah metode untuk mendapatkan pengetahuan lewat dua
jalur, yaitu jalur akal (nalar) dan jalur pengamatan. Menurut
Nur, wujud operasional metode ilmiah adalah penyelidikan
ilmiah (Ibrahim, 2012).
22

Keterampilan proses sains merupakan seperangkat


keterampilan yang digunakan para ilmuwan dalam
melakukan penyelidikan ilmiah. Penyelidikan ilmiah
didefinisikan sebagai usaha sistematik untuk mendapatkan
jawaban atas masalah atau pertanyaan. Dengan demikian
ciri khas metode ilmiah adalah pemecahan masalah melalui
penalaran dan pengamatan. Masalah atau pertanyaan
seringkali muncul dari hasil pengamatan atau penyelidikan
yang dilakukan sebelumnya.
American Association for the Advancement of Science
(1970), mengklasifikasikannya menjadi keterampilan proses
dasar dan keterampilan proses terpadu. Adapun indikator
dari kedua keterampilan proses tersebut dapat dilihat pada
tabel berikut ini :
Tabel 2.5. Indikator Keterampilan Proses Dasar dan Terpadu
Keterampilan Proses Keterampilan Proses
Dasar Terpadu
Pengamatan Pengontrolan variabel
Pengukuran Interprestasi data
Menyimpulkan Perumusan Hipotesis
Meramalkan Pendefinisian variabel
Menggolongkan secara operasional
Mengkomunikasikan Merancang eksperimen

Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui


pengalaman-pengalaman langsung sebagai pengalaman
pembelajaran. Melalui pengalaman langsung seseorang
dapat lebih menghayati proses kegiatan yang sedang
dilakukan. Tabel berikut menyajikan indikator keterampilan
proses sains beserta sub indikatornya.
23

Tabel 2.6 Indikator dan Sub indikator Keterampilan Proses


Sains
Sub Indikator Keterampilan
No Indikator
Proses Sains
- Menggunakan sebanyak
mungkin alat indera
1 Mengamati - Mengumpulkan/
menggunakan fakta yang
relevan
- Mencatat setiap pengamat
secara terpisah
- Mencari perbedaan,
persamaan
Mengelompokkan/
2 - Mengontraskan ciri-ciri
mengklasifikasi
- Membandingkan
- Mencari dasar
pengelompokan atau
penggolongan
- Menghubungkan hasil-hasil
pengamatan
3 Menafsirkan - Menemukan pola dalam
suatu seri pengamatan
- Menyimpulkan
- Menggunakan pola-pola hasil
pengamatan
4 Meramalkan - Mengungkapkan apa yang
mungkin terjadi pada
keadaan sebelum diamati.
- Bertanya apa, mengapa, dan
bagaimana
Mengajukan
- Bertanya untuk meminta
5 pertanyaan
penjelasan
(Menanya)
- Mengajukan pertanyaan yang
berlatar belakang hipotesis.
- Mengetahui bahwa ada lebih
Merumuskan dari satu kemungkinan
6
hipotesis penjelasan dari suatu
kejadian.
24

Sub Indikator Keterampilan


No Indikator
Proses Sains
- Menyadari bahwa suatu
penjelasan perlu diuji
kebenarannya dengan
memperoleh bukti lebih
banyak atau melakukan cara
pemecahan masalah.
- Menentukan alat/ bahan/
sumber yang akan digunakan
- Menentukan variabel/ faktor
penentu
Merencanakan
7 - Menentukan apa yang akan
percobaan
diukur, diamati, dan dicatat
- Menentukan apa yang akan
dilaksanakan berupa langkah
kerja
- Memakai alat/ bahan
- Mengetahui alasan mengapa
Menggunakan
8 menggunakan alat/ bahan
alat/ bahan
- Mengetahui bagaimana
menggunakan alat/ bahan.
- Menggunakan konsep yang
telah dipelajari dalam situasi
baru
Menerapkan
9 - Menggunakan konsep pada
konsep
pengalaman baru untuk
menjelaskan apa yang sedang
terjadi
- Mengubah bentuk penyajian
- Menggambarkan data
empiris hasil percobaan atau
pengamatan dengan grafik
10 Berkomunikasi
atau tabel atau diagram
- Menyusun dan
menyampaikan laporan
secara sistematis
25

Sub Indikator Keterampilan


No Indikator
Proses Sains
- Menjelaskan hasil percobaan
atau penelitian
- Membaca grafik atau tabel
atau diagram
- Mendiskusikan hasil kegiatan
menhenai suatu masalah atau
suatu peristiwa

E. Kajian Materi Pencemaran Lingkungan


Menurut undang-undang pokok pengelolaan
lingkungan hidup No. 4 tahun 1982 dalam buku siswa
kurikulum 2013 menyebutkan bahwa pencemaran
lingkungan merupakan berubahnya tatanan lingkungan oleh
kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas
lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Terjadinya
perubahan lingkungan disebabkan karena dua faktor utama,
yaitu :
1. Faktor alam
Merupakan faktor yang berasal dari alam.
Faktor tersebut dapat menimbulkan kerusakan antara
lain misalnya gunung meletus, gempa bumi, angin
topan, kemarau panjang, banjir, dan kebakaran hutan.
2. Faktor manusia
Kegiatan manusia yang menyebabkan
perubahan lingkungan misalnya membuang limbah
(limbah rumah tangga, industry, pertanian, dan
sebagianya) secara sembarangan, menebang hutan
sembarangan, dan sebagainya.
Berbicara tentang pencemaran, tentunya terkait erat
dengan polutan. Polutan merupakan zat atau bahan yang
26

dapat mengakibatkan pencemaran. Syarat-syarat suatu zat


disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan
kerusakan terhadap makhluk hidup karena jumlahnya
melebihi normal, berada pada waktu yang tidak tepat, dan
di tempat yang tidak tepat. Pencemaran lingkungan dibagi
menjadi 3 macam, yaitu :
1. Pencemaran Udara
Udara merupakan campuran beberapa macam
gas yang perbandingannya tidak tetap, tergantung pada
keadaan suhu udara, tekanan udara, dan lingkungan
sekitarnya. Udara tersusun oleh beberapa gas yang
sebagiannya sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup.
Gas-gas yang terdapat dalam udara, antara lain
Nitrogen, Oksigen, Argon, dan Karbon dioksida.
Peristiwa pencemaran, khususnya pencemaran udara
merupakan suatu pencemaran yang sangat dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Pencemaran udara
diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat
asing didalam udara yang menyebabkan perubahan
susunan (komposisi udara) dari keadaan normalnya
(Wardhana, 2004:27). Udara dikatakan tercemar jika
udara tersebut mengandung unsur-unsur mengotori
udara. Pencemaran udara disebabkan oleh asap
buangan, misalnya CO2 hasil pembakaran, SO, SO2,
CFC, CO, dan asap rokok.
Penyebab pencemaran udara dalam buku
dampak pencemaran lingkungan oleh Wradhana secara
umum dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Faktor internal (secara alamiah), seperti : debu
yang beterbangan akibat tiupan angin, abu (debu)
yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi
berikut gas-gas vulkanik.
27

b) Faktor eksternal (karena ulah manusia), seperti :


hasil pembakaran bahan bakar fossil, debu/ serbuk
dari kegiatan industri, dan pemakaian zat-zat
kimia yang disemprotkan ke udara.
Setiap bahan buangan
penyebab pencemaran udara
tersebut memiliki dampak
sendiri-sendiri bagi manusia
seperti terlihat pada gambar 1.
Akibat yang ditimbulkan oleh
pencemaran udara antara lain,
seperti berikut :
a) Terganggunya kesehatan
Gambar 2.1. Pencemaran udara
manusia, seperti batuk dan Sumber dok : buku siswa
penyakit pernapasan. kemendikbud 2013
b) Rusaknya bangunan karena pelapukan, korosi/
karat pada logam, dan memudarnya warna cat.
c) Terganggunya pertumbuhan tanaman, seperti
menguningnya daun atau kerdilnya tanaman akibat
konsentrasi SO2 yang tinggi atau gas yang bersifat
asam (efek hujan asam).
d) Adanya peristiwa efek rumah kaca (green house effect)
yang dapat menaikkan suhu secara global serta
dapat ,engubah pola iklim bumi dan mencairkan es
di kutub. Hal ini sering disebut pemansan global
(global warming).
2. Pencemaran Air
Air memegang peranan penting didalam
kehidupan manusia
dan juga makhluk hidup lainnya. Manusia
menggunakan air sebagai kebutuhan minum, mandi,
masak, dan mencuci. Selain itu, kebutuhan skala besar
akan air digunakan oleh manusia untuk mengairi
28

persawahan,
ladang, atau
kebutuhan di
sektor
industri,
teknologi,
Gambar 2.2. Pencemaran air
dan lain Sumber dok: buku siswa kemendikbud 2013
sebagainya. Dalam kegiatan sektor industri dan
teknologi air digunakan sebagai air pendingin,
penggerak turbin, utilitas dan sanitasi, dan lain
sebagainya. Kebutuhan akan air di sektor industri dan
teknologi tentunya akan menghasilkan air dengan
kualitas yang sudah tidak lagi layak untuk dikonsumsi
oleh masyarakat umum yang dalam hal ini air tersebut
dinamakan dengan air limbah. Beberapa industri sudah
melakukan proses daur ulang air buangan sebelum
pada akhirnya air dialirkan ke sungai atau aliran air
yang dekat dengan lingkungan masyarakat. Namun,
sebagian industri tidak melakukan daur ulang air
sehingga mengakibatkan pencemaran air yang
merugikan makhluk hidup disekitarnya.
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat,
energi, unsur, atau komponen lainnya ke dalam air
sehingga menyebabkan kualitas air terganggu. Kualitas
air yang terganggu ditandai dengan perubahan bau,
rasa, dan warna. Ditinjau dari asal polutan dan sumber
pencemarannya, pencemaran air dapat dibedakan
antara lain: limbah pertanian, limbah rumah tangga,
dan limbah industri. Gambar dibawah merupakan
gambar pencemaran air.
Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran air
antara lain :
29

a) Terganggunya kehidupan organisme air karena


berkurangnya kandungan oksigen.
b) Terjadinya ledakan populasi ganggang dan
tumbuhan air (eutrofikasi) yang dapat berakibat
kurang oksigen di perairan yang dapat membunuh
biota perairan dan terjadinya pendangkalan dasar
perairan.
c) Menjalarnya wabah penyakit karena air yang kotor
menjadi sumber penyakit, diantaranya muntahber.
3. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana
bahan kimia buatan masuk dan merubah lingkungan
tanah. Kemajuan industri dan teknologi yang
berkembang pesat dapat menyebabkan pencemaran
tidak hanya pada air dan udara, namun dapat juga
pada tanah. Secara garis besar, pencemaran tanah
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
a) Faktor internal, yaitu pencemaran yang disebabkan
oleh peristiwa alam, seperti letusan gunung berapi
yang memuntahkan debu, batu, pasir, dan bahan
vulkanik lainnya yang menutupi dan merusak
daratan sehingga daratan menjadi pencemar.
b) Faktor eksternal, pencemaran daratan karena ulah
dan aktivitas manusia. pencemaran daratan karena
faktor eksternal merupakan masalah yang perlu
mendapatkan perhatian yang seksama dan
sungguh-sungguh agar daratan tetap dapat
memberikan daya dukung alamnya bagi
kehidupan manusia (Wardhana, 2004:99).
Komponen pencemaran daratan yang terdiri
dari limbah organik lebih menguntungkan karena
dengan mudah didegradasi menjadi bahan yang mudah
menyatu kembali dengan alam tanpa menimbulkan
30

pencemaran pada lingkungan. Komposisi bahan


buangan organik dan bahan buangan anorganik
perbandingannya kurang lebih 70% : 30% dengan
rincian yang ditunjukkan oleh tabel berikut ini.
Tabel 2.7 Komposisi Bahan Buangan
Komponen Persentase
Kertas 41%
Limbah bahan makanan 21%
Gelas 12%
Logam (besi) 10%
Plastik 5%
Kayu 5%
Karet dan kulit 5%
Kain (serat tekstil) 2%
Logam lainnya (alumunium) 1%
(Wardhana, 2004:101)
Dampak dari pencemaran tanah adalah dapat
merusak ekosistem karena kandungan logam yang
berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, pencemaran
tanah dapat menimbulkan berbagai macam penyakit,
diantaranya yaitu penyakit pes, penyakit kaki gajah,
malaria, demam berdarah dan lain sebagainya. Cara
mengatasi pencemaran tanah dapat dilakukan dengan
remediasi, bioremediasi, dan daur ulang limbah.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan
untuk mencegah pencemaran lingkungan, yaitu :
1. Menempatkan daerah industry atau pabrik jauh dari
daerah perumahan atau pemukiman penduduk.
2. Pembuangan limbah industry diatur sehingga tidak
mencemari lingkungan atau ekosistem.
3. Pengawasan terhadap penggunaan jenis-jenis
pertisida dan zat kimia lain yang dapat
menimbulkan pencemaran lingkungan.
4. Memperluas gerak penghijauan.
31

5. Tindakan tegas terhadap pelaku pencemaran


lingkungan.
6. Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tetang
arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih
mencintai lingkungan hidupnya.
7. Membuang sampah pada tempatnya.
8. Penggunaan lahan yang ramah lingkungan.

F. Metode Penelitian R&D (Research and Development)


Borg and Gall (1989),educational research and
development is a process used to develop and validate aducational
product atau dapat diartikan bahwa penelitian
pengembangan pendidikan adalah sebuah proses yang
digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi
produk pendidikan. Hasil dari penelitian penegmbangan
tidak hanya pengembangan sebuah produk yang sudah ada
melainkan juga menemukan pengetahuan atau jawaban atas
permasalahan praktis. Metode R&D atau penelitian dan
pengembangan juga didefinisikan sebagai metode penelitian
yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan
menguji keefektifan produk tersebut, Sugiyono (2012).
Selanjutnya, Borg and Gall (1989) menjelaskan empat ciri
utama dalam penelitian dan pengembangan, yaitu:
1. Studying research findings pertinent to the product to be
develop, yang artinya adalah melakukan studi atau
penelitian awal untuk mencari temuan-temuan
penelitian terkait dengan produk yang akan
dikembangkan.
2. Developing the product base on this findings, yang
artinya adalah mengembangkan produk berdasarkan
temuan penelitian tersebut.
3. Field testing it in the setting where it will be used
eventually, yang artinya adalah dilakukannya uji
32

lapangan dalam setting atau situasi senyatanya dimana


produk tersebut nantinya digunakan.
4. Revising it to correct the deficiencies found in the field-
testing stage, yang artinya adalah melakukan revisi
untuk memperbaiki kelamahan-kelamahan yang
ditemukan dalam tahap uji lapangan.
Berdasarkan empat ciri tersebut dapat disimpulkan
bahwa ciri utama metode R&D adalah adanya langkah-
langkah penelitian awal terkait dengan produk yang akan
dikembangkan.
Adapun langkah-langkah penelitian dan
pengembangan menurut Borg and Gall (1989) meliputi 10
kegiatan, yaitu :
1. Studi pendahuluan (penelitian dan pengumpulan data).
Pengukuran kebutuhan, studi literatur, penelitian
dalam skala kecil, dan pertimbangan dari segi nilai.
2. Perencanaan penelitian. Menyusun rencana penelitian,
meliputi kemampuan yang diperlukan dalam
pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak
dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau
langkah-langkah penelitian, kemungkinan pengujian
dalam lingkup terbatas.
3. Pengembangan produk awal, pengembangan bahan
pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrument
evaluasi.
4. Uji coba lapangan awal (terbatas).
5. Revisi hasil uji lapangan terbatas.
6. Uji lapangan lebih luas.
7. Revisi hasil uji lapangan.
8. Uji kelayakan.
9. Revisi hasil uji kelayakan.
10. Diseminasi dan sosialisasi produk akhir.
33

Adapula langkah-langkah penelitian dan


pengembangan yang diusulkan oleh Sugiyono (2012) yang
meliputi 10 tahapan. Berikut ini adalah gambar dan
penjelasan dari setiap tahap.

Potensi Pengump Desain Validasi


dan ulan Data Produk Desain
Masalah

Ujicoba Revisi Ujicoba Revisi


Pemakaian Produk Produk Desain

Revisi Produksi
Produk Massal

Gambar 2.3. langkah-langkah metode R&D

1. Potensi dan Masalah


Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan
akan memiliki nilai tambah. Misalnya dalam bidang
sosial dan pendidikan, kita punya potensi penduduk
usia kerja yang cukup banyak, sehingga melalui model
pendidikan tertentu dapat diberdayakan sebgai tenaga
kerja pertanian atau industri yang berbasis bahan
mentah alam Indonesia. Masalah adalah penyimpangan
antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Masalah
juga dapat dijadikan potensi, apabila kita dapat
medayagunakannya. Misalnya sampah akan dapat
dijadikan potensi, kalau kita dapat merubahnya sebagai
pupuk atau energi atau barang lain yang bermanfaat.
2. Pengumpulan Data
Setelah potensi dan maslaah dapat ditunjukkan secara
faktual dan uptode, maka selanjutnya perlu
dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan
34

sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang


diharapkan dapat mengatasi masalah tersebutu.
3. Desain Produk
Desain produk harus diwujudkan dalam gambar atau
bagan, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan
untuk menilai dan membuatnya. Dalam bidang
teknnik, desain produk harus dilengkapi dengan
penjelasan mengenai bahan-bahan yang digunakan
untuk membuat setiap komponen pada produk
tersebut, ukuran dan toleransinya, alat yang digunakan
untuk mengerjakan, serta prosedur kerja. Dalam
produk yang berupa sistem perlu dijelaskan mekanisme
penggunaan sistem tersebut, cara kerja, kelebihan dan
kekurangannya.
4. Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk
menilai rancangan produk. Validasi produk dapat
dilakukan dengan cara menghadirkan bebrapa pakar
atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk
menilai produk baru yang dirancang tersebut.
5. Revisi Desain
Setelah desain produk, divalidasi melalui pakar dan
para ahli, maka akan dapat diketahui kelemahannya.
Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi
dengan cara memperbaiki desain.
6. Ujicoba Produk
Produk yang sudah diperbaiki melalui para pakar dan
ahli selanjutnya akan diujicobakan secara terbatas
dengan model ekserimen tertentu. Model eksperimen
yang digunakan bergantung pada kebutuhan peneliti.
7. Revisi Produk
Setelah produk diujicobakan secara terbatas, produk
akan direvisi melalui respon siswa mengenai produk
35

yang dikembangkan. Selain itu juga melalui validasi


oleh guru ipa.
8. Ujicoba Pemakaian
Setelah melalui revisi produk, produk akan
diujicobakan kembali pada subjek dengan model
eksperimen tertentu seperti halnya pada ujicoba
produk.
9. Revisi Produk
Setelah diuji cobakan, produk akan direvisi kembali
melalui kekurangan-kekurangan yang masih ada.
10. Produksi Massal
Setelah melalui beberapa tahapan tersebut, produk
akan diproduksi secara massal (dalam jumlah banyak).

G. Hubungan LKS, PBL, dan Keterampilan Proses Sains


Telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya, bahwa
LKS (Lembar Kegiatan Siswa) merupakan suatu bahan ajar
cetak berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi,
ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas
pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang
mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai
(Prastowo : 2011). Berdasarkan uraian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa peranan LKS dalam penelitian ini
adalah sebagai media/ sumber belajar yang berisi beberapa
panduan bagi siswa dalam melakukan kegiatan yang
melatihkan keterampilan proses sains siswa. Keterampilan
proses sains dilatihkan dengan penerapan sebuah model
belajar yaitu model PBL (Problem Based Learning). Telah
diketahui bahwa model PBL merupakan model
pembelajaran yang menyajikan suatu masalah yang ada di
lingkungan sekitar sehingga merangsang siswa untuk
mencari tahu pengetahuan yang terkait dan solusi untuk
masalah tersebut. Melalui beberapa sintaks/ tahapan yang
36

tercakup PBL, keterampilan proses sains dapat dilatihkan


dengan media LKS yang telah disediakan oleh guru.
Keterampilan proses sains merupakan seperangkat
keterampilan yang digunakan para ilmuwan dalam
melakukan penyelidikan ilmiah. Indikator keterampilan
proses sains dapat dilihat dari beberapa kegiatan, yaitu
pengamatan, menyimpulkan, meramalkan, menggolongkan,
mengkomunikasikan, pengontrolan variabel, interprestasi
data, perumusan hipotesis, merancang eksperimen, dan
beberapa lainnya. Beberapa indikator tersebut akan
dituangkan dalam LKS dengan model PBL.
Berikut ini merupakan tabel integrasi 5M, indikator
keterampilan proses sains, PBL (Problem Based Learning), dan
lembar kegiatan siswa yang digunakan oleh peneliti.
Tabel 2.8 Integrasi 5M, Indikator Keterampilan Proses Sains,
Sintaks PBL, dan Kegiatan pada LKS
Keterampilan Sintaks
Kegiatan
No Tahap 5 M Proses Sains yang PBL pada
pada LKS
Dilatihkan LKS
1. Mengamati Keterampilan Orientasi
mengamati, kepada Diberikan
berupa: masalah kegiatan
- Menggunak mengamati
an sebanyak masalah
mungkin otentik
alat indra. pada awal
- mengumpul sebelum
kan fakta melakukan
yang percobaan.
relevan.
2. Menanya Keterampilan Membimbi Diberikan
menanya, ng kegiatan
berupa: penyelidik merumusk
- Bertanya, an an masalah
apa, individu/ dan
mengapa, kelompok membuat
dan hipotesis
37

Keterampilan Sintaks
Kegiatan
No Tahap 5 M Proses Sains yang PBL pada
pada LKS
Dilatihkan LKS
bagaimana yang
(membuat berkaitan
rumusan dengan
masalah) masalah
Keterampilan otentik
merumuskan pada awal
hipotesis LKS.
3. Mengump Merencanakan Membimbi Diberikan
ulkan percobaan, ng kegiatan
Informasi berupa: penyelidik pengambil
- Menentukan an an alat dan
variabel. individu/ bahan
- Menentukan kelompok yang telah
apa yang disediakan
akan guru,
dilaksanaka menentuka
n berupa n variabel
langkah percobaan,
kerja. melakukan
percobaan
pengukura
n pH tanah
pada LKS I
dan
percobaan
dampak
detergen
terhadap
kondisi
ikan pada
LKS II, dan
menuliska
n langkah
kerja
dengan
runtut.
4. Mengasosi Keterampilan Mengemba Diberikan
asi nenerapkan ngkan atau kegiatan
konsep, menyajika untuk
38

Keterampilan Sintaks
Kegiatan
No Tahap 5 M Proses Sains yang PBL pada
pada LKS
Dilatihkan LKS
dengan: n hasil membuat
- Menggunak karya suatu
an konsep karya
yang telah berupa
dipelajari poster
dalam pada LKS
situasi baru. I, dan
tanaman
hidroponik
pada LKS
II.
5. Mengkom Keterampilan Menganali Diberikan
unikasi berkomunikas sis dan kegiatan
i, berupa : mengevalu untuk
- Menjelaska si proses berdiskusi
n hasil pemecahan dengan
percobaan. masalah teman
- Membaca sekelompo
tabel. k untuk
- Mendiskusi menuliska
kan hasil n hasil
kegiatan percobaan
mengenai pada tabel
suatu percobaan,
masalah. menjawab
beberapa
pertanyaan
analisis,
dan
menyimpu
lkan hasil
percobaan.
39

H. Kerangka Berpikir
Tuntutan Kurikulum :
Peserta didik memiliki keterampilan proses sains,
sehingga peserta didik diharapkan dapat menganalisis
fenomena di lingkungan sekitar.

melalui

Sub materi Pencemaran Lingkungan pada KD 3.9


mendiskripsikan pencemaran dan dampaknya bagi
makhluk hidup dan KD 4.12 menyajikan hasil observasi
terhadap interaksi makhluk hidup dengan lingkungan
sekitarnya.

Dapat dilakukan
dengan
Teori Orientasi model pembelajaran Penggunaan suatu
yang mendukung PBL (Problem Based Learning), media pembelajaran
1. Teori Dewey yang mengajak siswa untuk yang dapat melatihkan
2. Teori Piaget, belajar dan bekerja secara keterampilan proses
Vygotsky, dan berkelompok serta sains siswa, yang
Konstruktivism merangsang siswa untuk berupa LKS. LKS
e belajar melalui rasa ingin tahu merupakan suatu
3. Teori Bruner mereka untuk mencari solusi bahan ajar cetak berupa
4. Penelitian Putri dari dunia nyata lembaran kertas yang
Hiranti yang (Permendikbud, no. 58:2014) berisi materi, ringkasan,
menerapkan dan petunjuk-petunjuk
model PBL pelaksanaan tugas
dapat pembelajaran yang
meningkatkan harus dikerjakan oleh
keterampilan peserta didik, yang
berfikir kreatif mengacu pada
siswa SMP kompetensi dasar yang
kelas VIII. harus dicapai
(Prastowo : 2011)
Sehingga

Pengembangan LKS IPA Berorientasi PBL (Problem Based Learning) Untuk


Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP, yang terkait dengan:
1. LKS yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa
dapat belajar untuk memecahkan masalah dilingkungan sekitarnya.
2. LKS yang memberi kesempatan siswa berlatih meningkatkan
keterampilan proses sains
40

Halaman ini sengaja dikosongkan


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelituan
pengembangan. Penelitian ini mengembangkan lembar
kegiatan siswa berorientasi PBL (Problem Based Learning)
untuk melatihkan keterampilan proses sains siswa SMP
pada sub materi pencemaran lingkungan. Pengembangan ini
dilakukan mengacu pada metode R&D (Reseach and
Development).

B. Prosedur Penelitian
Penelitian yang mengacu pada metode R&D (Reseach
and Development) Sugiyono (2012) yang mulanya dicetuskan
oleh Borg dan Gall (1983). Tahapan dibataskan sampai pada
tahap ke-6. 6 tahapan tersebut meliputi: Potensi dan
masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi
desain produk, revisi desain produk, uji coba produk.
Berikut ini merupakan uraian dari 6 tahap tersebut :
1. Tahap Potensi dan Masalah
Potensi dan masalah merupakan 2 hal yang
melatar belakangi adanya suatu penelitian. Potensi dari
penelitian ini yaitu tuntutan K-13 kepada siswa untuk
memiliki keterampilan proses sains yang dibutuhkan
dalam penyelidikan ilmiah dan untuk memperbaiki pola
pikir ilmiah siswa sehingga siswa mampu berfikir
tingkat tinggi dalam menanggapi permasalahan
kehidupan sehari-hari. Sehingga diperlukan suatu
sumber/media yang mampu melatihkan keterampilan
proses sains siswa. Sumber/media tersebut berupa
lembar kegiatan siswa yang berorientasi PBL untuk
melatihkan keterampilan proses sains siswa.
41
42

Pengembangan lembar kegiatan siswa ini diharapkan


memberikan pengaruh terhadap pelatihan keterampilan
proses sains siswa.
Masalah dari penelitian ini yaitu LKS yang
digunakan di sekolah SMPN 1 Cerme bukanlah suatu
LKS yang berisi sutau kegiatan yang mengajak siswa
untuk melakukan penyelidikan ilmiah. Namun LKS
yang digunakan berisi soal-soal pilihan ganda dan
uraian yang disusun oleh tim MGMP Gresik dan
diterapkan secara menyeluruh di semua SMP
Kabupaten Gresik. Selain itu, belum adanya
pengembangan lembar kegiatan siswa yang melatihkan
keterampilan proses sains siswa SMP Negeri 1 Cerme
Gresik. Sedangkan salah satu tuntutan K-13 adalah
siswa mampu mencari dan membangun
pengetahuannya sendiri dengan keterampilan proses
sains yang dimiliki. Oleh karena itu, perlu adanya suatu
kegiatan pembelajaran yang melatihkan keterampilan
proses sains untuk mencapai salah satu tujuan dari
diterapkannya K-13 serta untuk mencari tahu dan
membangun pengetahuan siswa.
2. Tahap Pengumpulan Data
Pada tahap ini, data dikumpulkan untuk
menemukan sebuah solusi yang dapat membantu
memecahkan suatu masalah yang dihadapi serta untuk
mendukung kelayakan LKS yang dikembangkan. Data
tersebut berupa Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan
Indikator yang berkaitan dengan materi, referensi materi
pencemaran lingkungan, alat dan bahan yang cocok
untuk digunakan, dan elemen-elemen lainnya. Berikut
adalah Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan
Indikator materi sistem pencernaan pada manusia :
43

Tabel 3.1. Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan


Indikator Pencemaran Lingkungan
KI KD Indikator
1. Menghargai 1.1 Mengagumi
dan keteraturan
menghayati dan
ajaran kompleksitas
agama yang ciptaan Tuhan
dianutnya. tentang aspek
fisik dan
kimiawi,
kehidupan
dalam
ekosistem, dan
peranan
manusia dalam
lingkungan
serta
mewujudkann
ya dalam
pengamalan
ajaran agama
yang
dianutnya.
2. Menghargai 2.1 Menunjukkan
dan perilaku ilmiah
menghayati (memiliki rasa
perilaku ingin tahu;
jujur, objektif; jujur;
disiplin, teliti; cermat;
tanggungja tekun; hati-
wab, peduli hati;
(toleransi, bertanggung
gotong jawab; terbuka;
royong), kritis; kreatif;
santun, inovatif dan
percaya diri, peduli
dalam lingkungan)
berinteraksi dalam aktivitas
secara sehari-hari.
efektif 2.2 Menghargai
44

KI KD Indikator
dengan kerja individu
lingkungan dan kelompok
sosial dan dalam aktivitas
alam dalam sehari-hari
jangkauan sebagai wujud
pergaulan implementasi
dan melaksanakan
keberadaan percobaan dan
nya melaporkan
hasil
percobaan.
3. Memahami 1. Menjelaskan
pengetahua 3.9 Mendeskripsika definisi
n (faktual, n pencemaran pencemaran
konseptual, dan dampaknya lingkungan.
dan bagi makhluk 2. Menyebutka
prosedural) hidup. n macam-
berdasarkan macam
rasa ingin pencemaran
tahunya yang terjadi
tentang ilmu di
pengetahua lingkungan
n, teknologi, sekitar.
seni, budaya 3. Menjelaskan
terkait definisi
fenomena pencemaran
dan kejadian udara.
tampak 4. Menjelaskan
mata. definisi
pencemaran
tanah.
5. Menjelaskan
definisi
pencemaran
air.
6. Mengidentifi
kasi sumber/
faktor
penyebab
pencemaran
45

KI KD Indikator
udara.
7. Mengidentifi
kasi sumber/
faktor
penyebab
pencemaran
tanah.
8. Mengidentifi
kasi sumber/
faktor
penyebab
pencemaran
air.
9. Menjelaskan
dampak
adanya
pencemaran
udara.
10. Menjelaskan
dampak
adanya
pencemaran
tanah.
11. Menjelaskan
dampak
adanya
pencemaran
air.
12. Menjelaskan
solusi
pencemaran
udara.
13. Menjelaskan
solusi
pencemaran
tanah.
14. Menjelaskan
solusi
pencemaran
air.
4. Mencoba, 4.12 Meyajikan 1. Melakukan
46

KI KD Indikator
mengolah, hasil percobaan
dan menyaji observasi tentang
dalam ranah terhadap Pengukuran
konkret interaksi pH Tanah.
(menggunak makhluk 2. Melakukan
an, hidup percobaan
mengurai, dengan tentang
merangkai, lingkungan Dampak
memodifika sekitarnya. Detergen
si, dan Terhadap
membuat) Kondisi Ikan .
dan ranah 3. Mempresentas
abstrak ikan hasil
(menulis, percobaan.
membaca, 4. Menyajikan
menghitung, produk yang
menggamba telah dibuat.
r, dan
mengarang)
sesuai
dengan
yang
dipelajari di
sekolah dan
sumber lain
yang sama
dalam sudut
pandang/te
ori

3. Tahap Desain Produk


Pada tahap ini, perencanaan produk dilakukan
dengan sebaik mungkin. Tahap desain produk dimulai
dari pengumpulan informasi yang berupa Kompetensi
Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator
pencapaian konsep yang akan dicapai dalam
pembelajaran materi yang bersangkutan. Setelah itu,
pengumpulan informasi terkait dengan komponen dan
47

penyusunan LKS yang baik dan sesuai dengan standar


isi. Setelah informasi yang diperoleh dirasa cukup,
langkah selanjutnya adalah membuat rancangan suatu
kegiatan yang melatihkan keterampilan proses sains
siswa. Keterampilan proses sains yang dilatuhkan
berupa keterampilan mengamati, menanya (membuat
rumusan masalah), merumuskan hipotesis,
merencanakan percobaan (menentukan variabel,
menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa
langkah kerja), menerapkan konsep (menggunakan
konsep untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi),
berkomunikasi (menjelaskan hasil percobaan, membaca
tabel, dan mendiskusikan hasil kegiatan mengenai suatu
masalah).

4. Tahap Validasi Produk


Tahap validasi produk merupakan tahap yang
dilakukan untuk menilai kelayakan produk yang
dihasilkan. Penilaian produk dilakukan oleh 2 dosen
FMIPA Unesa yaitu Dra. Isnawati, M.Si dan Dra.
Martini, M.Pd, serta guru IPA SMP Ninik Susilowati,
S.Pd yang bersangkutan. Penilaian disajikan dalam
instrumen-instrumen yang terdiri dari berbagai kriteria
kesesuaian yang terkait dengan produk. Diantaranya
yaitu kesesuaian kesesuaian isi, kesesuaian penyajian,
kesesuaian bahasa, serta kesesuaian dengan model PBL
yang didalamnya mencakup keterampilan proses sains.
5. Tahap Revisi Produk
Pada tahap ini dilakukan revisi atau perbaikan
produk yang berdasarkan pada kritik dan saran dari
validator, yaitu Dra. Isnawati, M.Si dan Dra. Martini,
M.Pd, serta guru IPA SMP Ninik Susilowati, S.Pd. Revisi
48

atau perbaikan dilakukan untuk menghasilkan produk


yang lebih layak untuk digunakan.
6. Tahap Uji Coba Produk
Tahap uji coba terbatas dilakukan pada 20 orang
siswa kelas VII G SMP Negeri 1 Cerme Gresik. Pada
tahap ini siswa menggunakan media (LKS) yang
dikembangkan dalam pembelajaran materi pencemaran
lingkungan. Media (LKS) ini dikembangkan dengan
tujuan untuk melatihkan keterampilan proses sains
siswa SMP Negeri 1 Cerme Gresik.

C. Desain Uji Coba


Desain uji coba penelitian ini menggunakan One-
Group Pretest-Posttest Design. Desain ini menggunakan pre-
test sebelum dan post-test sesudah diberikan perlakuan.
Sehingga diperoleh 2 data yang dapat dibandingkan, yaitu
data sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan. Desain ini
dapat digambarkan seperti berikut :
O xO
1 2
O1 = nilai pre-test (sebelum diberikan
perlakuan)
x = perlakuan
O2 = nilai post-test (sesudah diberikan
perlakuan)
D. Subjek Uji Coba
Subjek penelitian lembar kegiatan siswa berorientasi
PBL (Problem Based Learning) untuk melatihkan
keterampilan proses sains adalah peserta didik SMP Negeri
1 Cerme Gresik tahun ajaran 2015-2016. Penelitian ini diuji
cobakan secara terbatas kepada peserta didik kelas VII G
yang berjumlah 20 orang siswa.
49

E. Jenis Data
Data penelitian pengembangan lembar kegiatan
siswa berorientasi PBL (Problem Based Learning) untuk
melatihkan keterampilan proses sains siswa merupakan data
deskriptif kuantitatif. Data kuantitatif berupa skor hasil
validasi dari validator, observasi keterlaksanaan LKS,
keterampilan proses sains yang berupa pre-test dan post-test,
serta angket hasil respon siswa mengenai lembar kegiatan
siswa yang dikembangkan.

F. Definisi Operasional
Definisi operasional diperlukan untuk menghindari
adanya kesalah-pahaman atau salah penafsiran terhadap
penelitian yang bersangkutan. Oleh karena itu, definisi
operasional penelitian ini yaitu :
1. Lembar kegiatan siswa merupakan suatu sumber/
media belajar pada materi pencemaran lingkungan.
Lembaran ini berisi tentang panduan pelaksanaan
kegiatan penyelidikan ilmiah yang berkaitan dengan
materi pencemaran lingkungan untuk melatihkan
keterampilan proses sains siswa SMP kelas VII. Kegiatan
dalam LKS tersebut diorientasikan pada model PBL.
2. Keterampilan proses sains merupakan suatu
keterampilan yang harus dimiliki untuk melakukan
penyelidikan ilmiah yang dilatihkan pada kegiatan yang
tercakup dalam lembar kegiatan siswa. Keteranpilan
yang dilatihkan adalah keterampilan mengamati,
menanya (membuat rumusan masalah), merumuskan
hipotesis, merencanakan percobaan (menentukan
variabel, menentukan apa yang akan dilaksanakan
berupa langkah kerja), menerapkan konsep
(menggunakan konsep untuk menjelaskan apa yang
sedang terjadi), berkomunikasi (menjelaskan hasil
50

percobaan, membaca tabel, dan mendiskusikan hasil


kegiatan mengenai suatu masalah).
3. Kelayakan teoritis dari pengembangan LKS berorientasi
PBL (Problem Based Learning) ini didasarkan dari hasil
validasi oleh dosen FMIPA Unesa dan guru IPA SMP
Negeri 1 Cerme Gresik. Namun, sebelum dilakukan
validasi kepada validator dilakukan telaah terlebih
dahulu kepada dosen pembimbing, yaitu ibu Siti Nurul
Hidayati, S. Pd., M. Pd. Penialian oleh dilakukan
berdasarkan pada instrumen validasi yang meliputi
kriteria kesesuaian isi, kesesuaian penyajian, kesesuaian
bahasa, serta kesesuaian dengan model PBL yang
didalamnya mencakup keterampilan proses sains.
4. Kelayakan empiris dari pengembangan LKS berorientasi
PBL ini didasarkan pada 3 aspek, yiatu :
a) Keterlaksanaan LKS
Keterlaksanaan ini dinilai berdasarkan pada
instrumen yang berisi tentang indikator
pelaksanaan model PBL pada LKS. Penilaian ini
dilakukan oleh beberapa pengamat yang tersebar
dalam kegiatan penyelidikan ilmiah. Penilaian
dilakukan ketika pembelajaran dimulai hingga
selesai.
b) Tes keterampilan proses sains
Tes keterampilan tersebut dinilai melalui pre-test
dan post-test yang sesuai dengan indikator
pembelajaran dan indikator ketercapaian
keterampilan proses sains.
c) Angket respon Siswa
Angket respon siswa merupakan angket yang
disebar kepada masing-masing siswa. Angket
tersebut berisi tentang penilaian terhadap LKS
yang dikembangkan oleh peneliti yang meliputi
51

kriteria isi, penyajian, bahasa, dan kesesuaian


dengan model PBL dan keterampilan proses sains.

G. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data merupakan alat atau
perangkat yang disusun dengan tujuan untuk memperoleh
data dalam penelitian. Bentuk instrumen penelitian
pengembangan LKS ini berupa lembar validasi oleh
validator (dosen dan guru IPA SMP) yang menilai
kelayakan media secara teoritis, serta lembar observasi
keterlaksanaan LKS, tes keterampilan proses sains melalui
pre-test post-test dan lembar respon siswa untuk menilai
kelayakan media secara empiris. Sebelum dilakukan
penilaian kelayakan secara teoritis dan empiris, dilakukan
telaah terlebih dahulu oleh dosen pembimbing. Lembar
telaah diberikan kepada dosen pembimbing dengan tujuan
untuk mendapat kritik atau saran terkait isi LKS yang
dikembangkan.
1. Kelayakan Teoritis
a. Lembar validasi
Lembar validasi merupakan lembar
kelayakan teoritis yang digunakan untuk
menjelaskan penilaian validator (dosen dan guru
IPA) terhadap pengembangan LKS berorientasi PBL
untuk melatihkan ketrampilan proses sains siswa.
Lembar penilaian ini meliputi kesesuaian isi,
kesesuaian penyajian, kesesuaian bahasa, serta
kesesuaian dengan model PBL yang didalamnya
mencakup keterampilan proses sains.
2. Kelayakan Empiris
a. Lembar observasi keterlaksanaan LKS
Lembar keterlaksanaan LKS digunakan
untuk menilai keterlaksaan LKS melalui aspek
52

keterlaksanaan model PBL yang didalamnya


mencakup proses pelatihan keterampilan proses
sains siswa selama LKS digunakan saat
pembelajaran.
b. Lembar tes keterampilan proses sains siswa
Lembar penilaian keterampilan proses sains
berisi butir-butir soal yang mencakup indikator
keterampilan proses sains siswa. Penilaian
dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum
diterapkannya LKS yang dikembangkan (pre-test)
dan sesudah diterapkan LKS (post-test). Pre-test
dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan
kemampuan keterampilan proses sains awal siswa
dan kemudian dilakukan post-test untuk
mendiskripsikan peningkatan kemampuan
keterampilan proses sains siswa setelah LKS
diterapkan.
c. Lembar angket respon siswa
Lembar angket respon siswa merupakan
lembar kelayakan empiris yang digunakan untuk
menjelaskan respon siswa terhadap LKS yang
dikembangkan.

H. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah :
1. Metode Validasi
Metode ini digunakan untuk mengetahui
kelayakan berdasarkan kriteria kesesuaian isi,
kesesuaian penyajian, kesesuaian bahasa, serta
kesesuaian dengan model PBL dan keterampilan proses
sains.
53

2. Metode Observasi
Metode observasi digunakan untuk mengamati
terlaksananya tahapan model PBL dalam pembelajaran
menggunakan lembar kegiatan siswa (LKS) yang
dikembangkan peneliti.
3. Metode Tes
Metode tes digunakan untuk memperoleh data
hasil keterampilan proses sains siswa sebelum dan
sesudah pembelajaran dengan menggunakan lembar
kegiatan siswa (LKS) yang dikembangkan.
4. Metode Angket
Metode angket digunakan untuk mengetahui
respon siswa terhadap lembar kegiatan siswa (LKS)
yang digunakan dalam pembelajaran.

I. Teknik Analisis Data


Teknis analisis data yang digunakan dalm penelitian
ini, yaitu :
1. Analisis data hasil validasi LKS
Analisis ini meliputi semua aspek LKS yang
dikembangkan. Data hasil validasi dari validator
kemudian direkapitulasi untuk dianalisis secara
deskriptif kuantitatif dengan menghitung rata-rata skor
masing-masing komponen pada instrumen penilaian
pengembangan LKS. Analisis ini dilakukan dengan
menggunakan perhitungan skala Likert berikut :

Tabel 3.2. Skala Penilaian Validator


Skor Validasi Kriteria Penilaian
1 Kurang Baik
2 Cukup Baik
3 Baik
4 Sangat Baik
(Diadaptasi dari Riduwan, 2012)
54

Rumus yang digunakan dalam perhitungan


untuk memperoleh skor rata-rata adalah:

( )

Hasil dari analisis lembar validasi tersebut akan


digunakan untuk mengetahui kelayakan LKS dengan
menggunakan interpretasi skala sebagai berikut :
Tabel 3.3 Skala Interprestasi Skor Kelayakan Teoritis
Skor rata-rata (%) Kategori
25,00% - 43,75% Tidak Layak
43,76% - 62,50% Kurang Layak
62,51% - 81,25% Layak
81,26% - 100% Sangat Layak
(Modifikasi Riduwan, 2012)
Berdasarkan kriteria tersebut, sumber/media
pembelajaran LKS yang dikembangkan dianggap layak
dan sangat layak apabila penilaian validator pada setiap
kriteria mencapai skor rerata 62,51% yang diadaptasi
dari Riduwan (2012).
2. Analisis hasil observasi keterlaksanaan LKS
Analisis ini dilakukan berdasarkan
keterlaksanaan LKS selama pembelajaran berlangsung.
Data hasil observasi dari observer kemudian
direkapitulasi untuk dianalisis secara deskriptif
kuantitatif dengan merata skor masing-masing
komponen sesuai dengan instrumen penilaian
sumber/media LKS yang dikembangkan.
Analisis observasi keterlaksanaan LKS menilai
terlaksana atau tidaknya tahap model PBL yang
termasuk juga menilai keterampilan proses sains siswa.
Sehingga diperoleh data dari siswa berupa skor dan
kemudian dihitung dengan perhitungan skala Likert
seperti pada tabel:
55

Tabel 3.4 Skala Penilaian Keterlaksanaan LKS


Skor Validasi Kriteria Penilaian
1 Kurang Baik
2 Cukup Baik
3 Baik
4 Sangat Baik
(Diadaptasi dari Riduwan, 2012)

Rumus yang digunakan dalam perhitungan


untuk memperoleh skor rata-rata adalah:
( )

Hasil dari analisis lembar observasi tersebut


digolongkan menjadi sangat baik, baik, cukup baik,
kurang baik, dan tidak baik dengan interpretasi
skala berikut :
Tabel 3.5 Skala Interpretasi Skor Keterlaksanaan LKS
Skor rata-rata Kategori
0% - 20% Tidak Baik
21% - 40% Kurang Baik
41% - 60% Cukup Baik
61% - 80% Baik
81% - 100% Sangat Baik
(Riduwan, 2012)
3. Analisis Tes Keterampilan Proses Sains Siswa
Analisis penilaian keterampilan proses sains
dilakukan berdasarkan pada:
a) Analisis Hasil Pre-Test dan Post-Test
Menentukan perbedaan hasil pre-test dan
post-test dilakukan dengan menggunakan analisis
gain ternormalisasi. Analisis gain ternormalisasi g
dilakukan untuk menentukan seberapa besar
peningkatan keterampilan proses sains siswa
(Hake, 1998). Skor gain ternormalisasi merupakan
perbandingan skor gain aktual dengan skor gain
56

maksimum. Skor gain aktual yaitu skor gain yang


diperoleh siswa, sedangkan skor gain maksimum
yaitu skor gain tertinggi yang mungkin diperoleh
siswa. Hal itu dapat dinyatakan dalam rumus
matematis sebagai berikut :

Keterangan :
<g> : Skor gain ternormalisasi
Si: Skor pre-test
Sf : Skor post-test
Hake (1998) menyatakan bahwa hasil skor
gain ternormalisasi dibagi ke dalam tiga kategori,
sebagai berikut :
Tabel 3.6 Kriteria N-gain ternormalisasi
Rentang N-Gain Kriteria N-Gain
Ternormalisasi Ternormalisasi

<g> <0,30 Rendah


0,70> <g> >0,30 Sedang
<g> >0,70 Tinggi
(Hake, 1998)
Melalui beberapa analisis tersebut, maka
kelayakan hasil belajar keterampilan proses sains
siswa dapat dijelaskan berdasarkan peningkatan
setiap aspek keterampilan yang dilatihkan. LKS
dinyatakan layak apabila hasil peningkatan N-
Gain keterampilan proses sains siswa diperoleh
mencapai nilai rata-rata semua aspek sebesar
dengan kategori sedang.
b) Analisis Ketuntasan Tes Keterampilan Proses Sains
Data yang dipeoleh dari hasil pre-test dan
post-test digunakan untuk menganalisis
57

keterampilan proses sains. Analisis dilakukan


dengan menggunakan rumus :
Nilai KPS =
Tabel 3.7 Kriteria Ketuntasan Keterampilan Proses
Sains
Kriteria Ketuntasan
Angka Huruf
86 - 100 A
71 - 85 B
56 - 70 C
55 D
(Permendikbud No.53, 2015)
Siswa dinyatakan telah tuntas apabila
menunjukkan indikator nilai 60 dari hasil tes.

c) Persentase Ketuntasan Setiap Aspek Keterampilan


Proses Sains
Analisis ketuntasan setiap aspek
keterampilan proses sains siswa dilakukan dengan
menganalisis data hasil pre-test dan post-test. Skor
ketercapaian setiap aspek diperoleh dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
P (%) =
Keterangan :
P : Persentase ketercapaian ketrampilan
proses setiap aspek (%)
F : Jumlah nilai rata-rata aspek
keterampilan proses tertentu
N : Jumlah nilai maksimal aspek
keterampilan proses tertentu
58

4. Analisis angket respon siswa


Analisis respon siswa terhadap sumber/media
pembelajaran LKS yang telah dilakukan dengan
penyebaran angket yang kemudian dianalisis dengan
metode deskriptif kuantitatif. Angket yang telah diisi
dihitung berdasarkan kriteria skala Guttman pada tabel
berikut:
Tabel 3.8 Kriteria Skor Guttman
Jawaban Nilai/ Skor
Ya 1
Tidak 0
(Riduwan, 2012)

Untuk mengetahui respon siswa terhadap


sumber/media LKS, digunakan rumus :

( )

Hasil dari analisis respon siswa tersebut akan


digunakan untuk mengetahui kelayakan LKS dengan
menggunakan interpretasi skala sebagai berikut :
Tabel 3.9 Skala Interpretasi Skor Kelayakan Empiris
Skor rata-rata (%) Kategori
0% - 20% Tidak Layak
21% - 40% Kurang Layak
41% - 60% Cukup Layak
61% - 80% Layak
81% - 100% Sangat Layak
(Riduwan, 2012)

Berdasarkan kriteria tersebut, sumber/media


LKS yang dikembangkan dianggap layak dan sangat
layak apabila respon siswa mencapai skor rerata 61%
yang diadaptasi oleh Riduwan tahun 2012.
J. Matriks Penelitian
Judul : Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa Berorientasi PBL (Problem Based
Learning) Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains.
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
1. Bagaimana Kelayakan teoritis Kelayakan Lembar validasi LKS Dosen dan Data hasil validasi dari
kelayakan dari pengembangan teoritis berorientasi PBL guru IPA. para validator kemudian
secara teoritis LKS berorientasi merupakan (Problem Based direkapitulasi untuk
pengembanga PBL (Problem Based penilaian secara Learning) untuk dianalisis secara deskriptif
n lembar Learning) ini kualitas dan melatihkan kuantitatif dengan
kegiatan siswa didasarkan dari kuantitas keterampilan proses menghitung rata-rata skor
berorientasi hasil validasi oleh terhadap LKS sains berdasarkan masing-masing komponen
PBL (Problem validator yaitu yang kriteria kesesuaian isi, padainstrumen penilaian
Based Learning) dosen FMIPA dikembangkan kesesuaian penyajian, pengembangan LKS.
untuk Universitas Negeri oleh dosen kesesuaian bahasa, Analisis ini dilakukan
melatihkan Surabaya dan guru validator. Dosen serta kesesuaian dengan menggunakan
keterampilan IPA SMP Negeri 1 validator LKS dengan model PBL perhitungan skala Likert
proses sains Cerme Gresik. yaitu Ibu Dra. yang didalamnya berikut :
siswa Isnawati, M.Si, mencakup Tabel 3.2. Skala Penilaian
berdasarkan Ibu Dra. keterampilan proses Validator
pada hasil Martini, M.Si, sains. Skor Kriteria
penilaian ahli dan Ibu Ninik Validasi Penilaian
media, ahli Susilowati, S. Kurang
1
materi, dan Pd. Baik
guru IPA (ahli 2 Cukup

59
60
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
media dan Baik
materi) ? 3 Baik
Sangat
4
Baik

(Diadaptasi dari
Riduwan, 2012)
Rumus yang digunakan
dalam perhitungan untuk
memperoleh skor rata-rata
adalah:
( )

Hasil dari analisis lembar


validasi tersebut akan
digunakan untuk
mengetahui kelayakan LKS
dengan menggunakan
interpretasi skala sebagai
berikut :
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
Tabel 3.3. Skala
Interprestasi Skor
Kelayakan Teoritis
Skor rata-rata
Kategori
(%)
Tidak
25,00% - 43,75%
Layak
Kurang
43,76% - 62,50%
Layak
62,51% - 81,25% Layak
Sangat
81,26% - 100%
Layak
(Modifikasi Riduwan,
2012)
Berdasarkan kriteria
tersebut, sumber/media
LKS yang dikembangkan
dianggap layak dan sangat
layak apabila penilaian
validator pada setiap
kriteria mencapai skor
rerata 62,51% yang
diadaptasi dari Riduwan

61
62
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
(2012).
2. Bagaimana Kelayakan empiris 1. Keterlaksanaan 1. Lembar Siswa 1. Analisis observasi
kelayakan dari pengembangan LKS yang keterlaksanaan LKS keterlaksanaan LKS
secara empiris LKS berorientasi dimaksudkan digunakan untuk menilai terlaksana atau
pengembanga PBM ini didasarkan adalah menilai keterlaksaan tidaknya tahap model
n lembar pada 3 aspek, yaitu terlaksanannya LKS melalui aspek PBL yang termasuk juga
kegiatan siswa : model PBL keterlaksanaan menilai keterampilan
berorientasi 1. Keterlaksanaan yang model PBL yang proses sains siswa.
PBL (Problem LKS diorientasikan didalamnya Sehingga diperoleh data
Based Learning) 2. Tes keterampilan pada LKS. mencakup dari siswa berupa skor
untuk proses sains 2. Keterampilan keterampilan proses dan kemudian dihitung
melatihkan 3. Angket respon proses sains sains yang dilatihkan. dengan perhitungan
keterampilan siswa yang dilatihkan Lembar ini skala Likert seperti pada
proses sains dalam LKS ini digunakan saat LKS tabel:
siswa mencakup digunakan dalam Tabel 3.4. Skala Penilaian
berdasarkan keterampilan pembelajaran. Keterlaksanaan LKS
pada hasil mengamati, 2. Lembar tes Skor Kriteria
observasi menanya keterampilan proses Validasi Penilaian
keterlaksanaan (membuat sains berisi butir- Kurang
1
LKS, tes rumusan butir soal yang Baik
keterampilan masalah), mencakup indikator Cukup
2
proses sains, merumuskan keterampilan proses Baik
dan respon hipotesis, sains siswa. Penialain 3 Baik
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
siswa? merencanakan dilakukan sebanyak Sangat
4
percobaan dua kali, yaitu Baik
(menentukan sebelum LKS (Diadaptasi dari Riduwan,
variabel, digunakan (pre-test) 2012)
menentukan dan sesudah LKS Rumus yang
apa yang akan digunakan (post-test). digunakan dalam
dilaksanakan Pre-test dilakukan perhitungan untuk
berupa langkah dengan tujuan untuk memperoleh skor rata-
kerja), mendiskripsikan rata adalah:
menerapkan kemampuan awal ( )
konsep keterampilan proses
(menggunakan sains siswa dan
konsep untuk kemudian dilakukan Hasil dari analisis
menjelaskan post-test untuk lembar observasi
apa yang mendiskripsikan tersebut digolongkan
sedang terjadi), peningkatan menjadi sangat baik,
berkomunikasi kemampuan baik, cukup baik, kurang
(menjelaskan keterampilan proses baik, dan tidak baik
hasil sains siswa setelah dengan interpretasi skala
percobaan, LKS digunakan. berikut :
membaca tabel, 3. Lembar angket Tabel 3.5. Skala
dan respon siswa Pencapaian Skor
mendiskusikan merupakan lembar Keterlaksanaan LKS
hasil kegiatan kelayakan empiris

63
64
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
mengenai suatu yang digunakan Kategor
Skor rata-rata
masalah). untuk menjelaskan i
Penilaian respon siswa Tidak
0% - 20%
keterampilan terhadap LKS yang Baik
tersebut dinilai dikembangkan. Kurang
21% - 40%
melalui pre-test Baik
dan post-test Cukup
yang sesuai 41% - 60%
Baik
dengan 61% - 80% Baik
indikator Sangat
ketercapaian 81% - 100%
Baik
kegiatan (Riduwan, 2012)
keterampilan 2. Analisis tes keterampilan
proses sains. proses sains
3. Angket respon Analisis penilaian
siswa keterampilan proses
merupakan sains dilakukan
angket yang berdasarkan pada:
disebar kepada a) Analisis Hasil Pre-
masing-masing Test dan Post-Test
siswa. Angket Menentukan
tersebut berisi perbedaan hasil pre-
tentang test dan post-test
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
penialian dilakukan dengan
terhadap LKS menggunakan
yang analisis gain
dikembangkan ternormalisasi.
oleh peneliti Analisis gain
yang meliputi ternormalisasi
kriteria isi, dilakukan untuk
penyajian, menentukan
bahasa, dan seberapa besar
kesesuaian peningkatan
dengan model keterampilan proses
PBL dan sains siswa (Hake,
pelatihan 1998).
keterampilan
proses sains.

Keterangan :
<g> : Skor
gain ternormalisasi
Si : Skor pre-test
Sf : Skor post-test
Hake (1998)
menyatakan bahwa
hasil skor gain

65
66
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
ternormalisasi
dibagi ke dalam tiga
kategori, sebagai
berikut :

Tabel 3.8. Kriteria N-


gain ternormalisasi
Rentang Kriteria N-
N-Gain Gain
Ternorm Ternormalis
alisasi asi
<g>
Rendah
<0,30
0,70>
<g> Sedang
>0,30
<g>
Tinggi
>0,70
(Hake, 1998)
LKS dinyatakan
layak apabila hasil
peningkatan N-Gain
keterampilan proses
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
sains siswa
diperoleh mencapai
nilai rata-rata semua
aspek sebesar
dengan kategori
sedang.
b) Analisis Ketuntasan
Keterampilan Proses
Sains
Data yang
dipeoleh dari hasil
pre-test dan post-test
digunakan untuk
menganalisis
keterampilan proses
sains. Analisis
dilakukan dengan
menggunakan
rumus :
Nilai KPS =

Tabel 3.9. Kriteria

67
68
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
Ketuntasan
Keterampilan Proses
Sains
Kriteria Ketuntasan
Angka Huruf
86 - 100 A
71 85 B
56 - 70 C
55 D
(Permendik
bud No.
53, 2015)
Siswa dinyatakan telah
tuntas apabila
menunjukkan indikator
nilai 60 dari hasil tes.
c) Analisis Ketuntasan
Setiap Aspek
Keterampilan Proses
Sains
Analisis ketuntasan
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
setiap aspek
keterampilan proses
sains siswa
dilakukan dengan
menganalisis data
hasil pre-test dan post-
test. Skor
ketercapaian setiap
aspek diperoleh dari
jumlah siswa yang
menunjukkan aspek
keterampilan proses
tertentu dibagi
jumlah seluruh siswa
dikalikan 100%
dengan rumus
sebagai berikut:
P (%) =

Keterangan :
P : Persentase
ketercapaian
ketrampilan

69
70
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
proses setiap
aspek (%)
F : Jumlah nilai
rata-rata
aspek
keterampilan
proses
tertentu
N : Jumlah nilai
maksimal
aspek
keterampilan
proses
tertentu
3. Analisis angket respon
siswa
Analisis respon
siswa terhadap LKS
dilakukan dengan
penyebaran angket
yang kemudian
dianalisis dengan
metode deskriptif
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
kuantitatif. Angket
yang telah diisi
dihitung berdasarkan
kriteria skala Guttman
pada tabel berikut:

Tabel 3.10. Kriteria Skor


Guttman
Nilai/
Jawaban
Skor
Ya 1
Tidak 0
(Riduwan, 2012)
Untuk mengetahui
respon siswa terhadap
sumber/media LKS,
digunakan rumus :
( )

Hasil dari analisis


respon siswa tersebut
akan digunakan untuk
mengetahui kelayakan

71
72
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
LKS dengan
menggunakan
interpretasi skala
sebagai berikut :
Tabel 3.11. Skala
Interpretasi Skor
Kelayakan Empiris
Skor rata-
Kategori
rata (%)
Tidak
0% - 20%
Layak
Kurang
21% - 40%
Layak
Cukup
41% - 60%
Layak
61% - 80% Layak
Sangat
81% - 100%
Layak
(Riduwan, 2012)
Berdasarkan
kriteria tersebut,
sumber/media LKS
yang dikembangkan
Rumusan Definisi Instrumen Sumber
No Variabel Penelitian Analisis Data
Masalah Operasional Pengumpulan Data Data
dianggap layak dan
sangat layak apabila
respon siswa mencapai
skor rerata 61% yang
diadaptasi oleh
Riduwan tahun 2012.

73
74
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
Penilitian ini merupakan jenis penelitian
pengembangan yang menghasilkan LKS berorientasi PBL
(Problem Based Learning) yang melatihkan keterampilan
proses sains siswa SMP. Penelitian pengembangan ini
dilakukan di SMPN 1 Cerme Gresik pada bulan Juni 2016
dengan mengacu pada metode R&D dalam Sugiyono (2012)
yang meliputi tahap potensi dan masalah, pengumpulan
informasi, desain produk, validasi desain produk, revisi
desain produk, uji coba produk sehingga diperoleh LKS yang
layak untuk digunakan dalam pembelajaran.
Kelayakan LKS dinilai berdasarkan kelayakan secara
teoritis dan empiris, sehingga dapat diperoleh beberapa data
hasil penelitian. Kelayakan teoritis LKS dinilai dari hasil
validasi oleh validator, sedangkan kelayakan empiris
meliputi keterlaksanaan tahapan PBL (Problem Based
Learning), tes keterampilan proses sains, dan angket respon
siswa. Telaah LKS dilakukan oleh dosen pembimbing dengan
tujuan untuk perbaikan LKS sesuai dengan kritik dan saran
yang diterima. Berikut ini merupakan tabel hasil telaah LKS
oleh dosen pembimbing.

75
76

Tabel 4.1 Hasil Telaah LKS oleh Dosen Pembimbing


Kritik dan Saran Hasil Revisi

Gambar pada LKS masih Gambar pada LKS sudah


belum mencantumkan dicantumkan sumber dan
sumber dan keterangan keterangan gambar

Kata waktu pertumbuhan Kata waktu pertumbuhan


kurang tepat. diganti dengan lama
pertumbuhan.
77

jenis tanah pada tabel bahan jenis tanah pada tabel bahan
kurang spesifik, gambar sudah dibuat spesifik, gambar
rancangan percobaan belum rancangan percobaan sudah
dibuat nyata dari percobaan dibuat nyata dari percobaan
asli. asli.

Indikator pada tabel hasil Indikator pada tabel hasil


percobaan dihilangkan salah percobaan dihilangkan salah
satu, gambar rancangan satu, dan gambar rancangan
percobaan belum dibuat asli. percobaan belum dibuat asli,
serta ditambahkan ketrangan
pengisian pada samping tabel.
78

Gambar belum dibuat asli. Gambar sudah dibuat asli.

Setelah memperoleh beberapa kritik dan saran dari


dosen pembimbing, LKS diperbaiki sesuai dengan saran dan
komentar yang diterima. Tahap selanjutnya sesudah
perbaikan LKS adalah validasi kepada validator. Berikut ini
merupakan uraian rinci hasil pengembangan LKS
berorientasi PBL untuk melatihkan keterampilan proses sains
siswa SMP berdasrkan kelayakan teoritis dan empiris.
1. Kelayakan Teoritis Pengembangan LKS Berorientasi
PBL Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains
Siswa SMP
a) Hasil Validasi
Validasi LKS dilakukan oleh 2 dosen FMIPA Unesa
dan 1 guru IPA SMPN 1 Cerme Gresik. Validasi LKS
didasarkan pada aspek kesesuaian isi, kesesuaian
penyajian, kesesuaian bahasa, serta kesesuaian
dengan model PBL yang melatihkan keterampilan
proses sains. Berikut merupakan rekapitulasi hasil
validasi oleh validator.
79

Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Validasi oleh Validator


Nilai Kelayakan
Skor dari
(%) dan Kriteria
Validator Sko
N Kelayakan
Aspek Penilaian r
o Sub
rera Kompo
1 2 3 Kompo
ta nen
nen
A. Kesesuaian Isi
1. Kesesuaian judul 100%
LKS dengan materi 4 4 4 4 (Sangat
yang digunakan. Layak)
2. Mencantumkan
100%
tujuan
4 4 4 4 (Sangat
digunakannya LKS
Layak)
pada pembelajaran.
3. Mencantumkan 100%
indikator pada LKS. 4 4 4 4 (Sangat
Layak)
94,4%
4. Mencantumkan 100%
(Sangat
petunjuk 4 4 4 4 (Sangat
Layak)
penggunaan LKS. Layak)
5. Kesesuaian materi
83,3%
yang diajarkan
3 4 3 3,33 (Sangat
dengan tujuan
Layak)
pembelajaran.
6. LKS memfasilitasi
siswa untuk 83,3%
melatihkan 3 3 4 3,33 (Sangat
keterampilan proses Layak)
sains.
B. Kesesuaian Penyajian
7. Penyajian LKS
menarik,
menyenangkan dan
91,7%
tidak membosankan
3 4 4 3,67 (Sangat 91,7%
sehingga dapat
Layak) (Sangat
meningkatkan
Layak)
motivasi siswa
untuk berkegiatan.
8. Penyajian susunan 91,7%
3 4 4 3,67
LKS sudah baik. (Sangat
80

Nilai Kelayakan
Skor dari
(%) dan Kriteria
Validator Sko
N Kelayakan
Aspek Penilaian r
o Sub
rera Kompo
1 2 3 Kompo
ta nen
nen
Layak)
9. Ukuran font cukup,
91,7%
sehungga tidak
3 4 4 3,67 (Sangat
menyulitkan untuk
Layak)
membaca.
C. Kesesuaian Bahasa
10 Bahasa yang
. digunakan jelas,
100%
mudah dipahami,
4 4 4 4 (Sangat
dan tidak
Layak)
menimbulkan
95,8%
makna ganda.
(Sangat
11 Menggunakan tata
Layak)
. bahasa Indonesia
91,7%
yang baik dan
3 4 4 3,67 (Sangat
sesuia dengan ejaan
Layak)
yang
disempurnakan.
D. Kesesuaian dengan Model PBL dan Keterampilan Proses Sains
Tahap Orientasi pada Masalah
12 Mengorientasikan
. siswa pada masalah
melalui artikel yang 83,3%
berkaitan dengan 4 3 3 3,33 (Sangat
materi. Layak)
(Keterampilan
88,1%
Mengamati)
(Sangat
Tahap Mengorganisasikan Siswa
Layak)
13 Menyiapkan dan 100
. membagi siswa ke %
dalam kelompok (San
4 4 4 4
belajar yang gat
beranggotakan 4-5 Laya
orang. k)
Tahap Membimbing Penyelidikan Individu dan
81

Nilai Kelayakan
Skor dari
(%) dan Kriteria
Validator Sko
N Kelayakan
Aspek Penilaian r
o Sub
rera Kompo
1 2 3 Kompo
ta nen
nen
Kelompok
14 Membimbing siswa
. jika menemui
masalah ketika
83,3%
membuat rumusan
3 3 4 3,33 (Sangat
masalah.
Layak)
Keterampilan
Menanya (membuat
rumusan masalah)
15 Membimbing siswa
. jika menemui
83,3%
masalah ketika
4 3 3 3,33 (Sangat
membuat hipotesis.
Layak)
Keterampilan
merumuskan hipotesis
16 Memberi
. kesempatan kepada
siswa untuk
melakukan
percobaan,
menentukan
variabel, dan
menuliskan langkah 83,3%
percobaan dengan 3 3 4 3,33 (Sangat
benar. Layak)
Keterampilan
merencanakan
percobaan
(menentukan variabel,
menentukan apa yang
akan dilaksanakan
berupa langkah kerja)
Tahap Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
17 Memberi 91,7%
. kesempatan kepada 4 3 4 3,67 (Sangat
siswa untuk Layak)
82

Nilai Kelayakan
Skor dari
(%) dan Kriteria
Validator Sko
N Kelayakan
Aspek Penilaian r
o Sub
rera Kompo
1 2 3 Kompo
ta nen
nen
membuat suatu
karya atau
rancangan ide
terhadap solusi
yang diusulkan.
Tahap Menganalisa dan
Mengevaluasi Proses Pemecahan
Masalah
18 Memberikan
. kesempatan kepada
siswa untuk
mendiskuskusikan
jawaban pada
pertanyaan analisis
dan membuat
kesimpulan yang
sesuai dengan
rumusan masalah
yang telah 91,7%
dituliskan serta 4 3 4 3,67 (Sangat
mempresentasikan Layak)
hasil percobaan
yang telah
dilakukan.
Keterampilan
berkomunikasi
(menjelaskan hasil
percobaan, membaca
tabel, dan
mendiskusikan hasil
kegiatan mengenai
suatu masalah)
Persentase Keseluruhan Kelayakan 92,5%
Teoritis Hasil Validasi (Sangat Layak)
83

Persentase rata-rata keseluruhan kelayakan


teoritis berdasarkan hasil validasi diperoleh sebesar
92,5% dengan kriteria sangat layak. Perolehan persentase
rata-rata tersebut dirincikan dari perolehan persentase
kesesuaian isi sebesar 94,4%, kesesuaian penyajian
sebesar 91,7%, kesesuaian bahasa sebesar 95,8%, dan
kesesuaian dengan model PBL sebesar 88,1%. Penilaian
aspek kesesuaian isi dinilai dari 6 pernyataan yang
dikembangkan oleh peniliti. Penilaian aspek kesesuaian
penyajian dinilai dari 3 pernyataan, aspek kesesuaian
bahasa dinilai dari 2 pernyataan, dan aspek kesesuaian
model PBL dinilai dari 7 pernyataan yang dituliskan
pada lembar penilaian validator.
LKS dinilai layak secara teoritis jika rata-rata
persentase penilaian validasi secara keseluruhan
mencapai 62,51 % (Riduwan, 2012), sehingga LKS
berorientasi PBL untuk meatihkan keterampilan proses
sains ini dapat dinyatakan layak secara teoritis
berdasarkan penilaaian oleh validator (2 dosen FMIPA
Unesa dan 1 guru IPA SMP).

2. Kelayakan Empiris Pengembangan LKS Berorientasi


PBL Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains
Siswa SMP.
a) Keterlaksanaan Tahapan PBL (Problem Based
Learning)
Pengamatan keterlaksanaan tahapan PBL
merupakan hasil penilaian terlaksananya 5 tahapan
PBL yang tercakup dalam LKS. 5 tahapan tersebut
adalah orientasi kepada masalah, mengorganisasikan
siswa, membimbing penyelidikan individu dan
kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil
karya, serta menganalisa dan mengevaluasi proses
84

pemecahan masalah. Penilaian keterlaksanaan ini


dilakukan ketika LKS digunakan saat pembelajaran,
yaitu pada pertemuan ke-1 LKS tentang Mengukur
pH Tanah dan pertemuan ke-2 LKS tentang
Dampak Detergen Terhadap Kondisi Ikan. Berikut
ini merupakan tabel hasil pengamatan
keterlaksanaan tahapan PBL pada uji terbatas
kelayakan empiris LKS.
Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Pengamatan
Keterlaksanaan Tahapan PBL
Persentase dan Kriteria
Keterlaksanaan
No. Aspek Pengamatan
Pertemuan Pertemuan
ke-1 ke-2
Tahap Orientasi pada Masalah
Siswa mengamati
melalui kegiatan
membaca artikel 92,5% 93,8%
1. tentang permasalahan (sangat (sangat
lingkungan. baik) baik)
Keterampilan
Mengamati
Tahap Mengorganisasikan Siswa
Siswa disiapkan oleh
93,8% 93,8%
guru dan dibagi
2. (sangat (sangat
dalam kelompok
baik) baik)
belajar.
Tahap Membimbing Penyelidikan Individu dan Kelompok
Membimbing siswa
jika menemui masalah
ketika membuat 100% 100%
3. rumusan masalah. (sangat (sangat
Keterampilan Menanya baik) baik)
(membuat rumusan
masalah)
Membimbing siswa
88,8% 88,8%
jika menemui masalah
4. (sangat (sangat
ketika membuat
baik) baik)
hipotesis.
85

Persentase dan Kriteria


Keterlaksanaan
No. Aspek Pengamatan
Pertemuan Pertemuan
ke-1 ke-2
Keterampilan
merumuskan hipotesis
Memberi kesempatan
kepada siswa untuk
melakukan percobaan,
menentukan variabel
percobaan, dan
menuliskan langkah
91,3%
percobaan dengan 77,5%
5. (sangat
benar. (baik)
baik)
Keterampilan
merencanakan percobaan
(menentukan variabel,
menentukan apa yang
akan dilaksanakan
berupa langkah kerja)
Tahap Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
Memberi kesempatan
kepada siswa untuk
81,3% 82,5%
membuat suatu karya
6. (sangat (sangat
atau rancangan ide
baik) baik)
terhadap solusi yang
diusulkan.
Tahap Menganalisa dan Mengevaluasi Proses Pemecahan
Masalah
Memberikan
kesempatan kepada
siswa untuk
mendiskuskusikan
jawaban pada
pertanyaan analisis 91,3% 93,8%
7. dan membuat (sangat (sangat
kesimpulan yang baik) baik)
sesuai dengan
rumusan masalah
yang telah dituliskan
serta
mempresentasikan
86

Persentase dan Kriteria


Keterlaksanaan
No. Aspek Pengamatan
Pertemuan Pertemuan
ke-1 ke-2
hasil percobaan yang
telah dilakukan.
Keterampilan
berkomunikasi
(menjelaskan hasil
percobaan, membaca
tabel, dan
mendiskusikan hasil
kegiatan mengenai suatu
masalah)
89,31% 92%
Rata-rata Keseluruhan (sangat (sangat
baik) baik)
Penilaian keterlaksanaan tahapan PBL
dilakukan oleh 4 orang pengamat. 1 orang pengamat
mengamati keterlaksanaan LKS setiap anggota
kelompok dalam 1 kelompok yang diamati. 1
kelompok terdiri dari 5 anggota. Pengamat 1
mengamati keterlaksanaan setiap anggota kelompok
1, dengan nama pengamat Kamila Munisa. Pengamat
2 mengamati keterlaksanaan setiap anggota
kelompok 2, dengan nama pengamat Fatkhiyatur
Rohmah. Pengamat 3 mengamati keterlaksanaan
setiap anggota kelompok 3, dengan nama pengamat
Kirana Widya H. Serta pengamat 4 mengamati
keterlaksanaan setiap anggota kelompok 4, dengan
nama pengamat Anggraeni Widya P.
Rata-rata keseluruhan keterlaksanaan LKS
pada pertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2 diperoleh
berturut-turut sebesar 89,31% dan 92% dengan
kriteria sangat baik. Perolehan persentase tersebut
menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi, selisih
87

peningkatan dari pertemuan ke-1 dan ke-2 yaitu


2,71%. Perolehan persentase terendah pada
pertemuan ke-1 yaitu 77,5% ditunjukkan pada aspek
pengamatan ke-5 memberi kesempatan kepada
siswa untuk melakukan percobaan, menentukan
variabel percobaan, dan menuliskan langkah
percobaan dengan benar. Perolehan persentase
tertinggi pada pertemuan ke-1 yaitu pada aspek ke-3
dengan perolehan persentase 100%, aspek
pengamatan membimbing siswa jika menemui
masalah ketika membuat rumusan masalah.
Perolehan persentase terendah pada pertemuan ke-2
yaitu, 82,5% ditunjukkan pada aspek pengamatan ke-
6 memberi kesempatan kepada siswa untuk
membuat suatu karya atau rancangan ide terhadap
solusi yang diusulkan. Perolehan persentase
tertinggi pada pertemuan ke-2 sama halnya pada
pertemuan ke-1, yaitu pada aspek ke-3 dengan
perolehan persentase 100%, aspek pengamatan
membimbing siswa jika menemui masalah ketika
membuat rumusan masalah.
b) Tes Keterampilan Proses Sains
Tes keterampilan proses sains dilakukan melalui 3
analisis, yaitu:
(1) Analisis pre-test dan post-test melalui uji gain
Keterampilan proses sains siswa dinilai
melalui tes, yang dilakukan sebelum dan
sesudah diterapkan LKS. Tes sebelum diterapkan
LKS (pre-test) dilakukan dengan tujuan untuk
mengukur kemampuan keterampilan proses
sains awal yang dimiliki siswa. Tes (post-test)
dilakukan dengan tujuan untuk mengukur hasil
kemampuan keterampilan proses sains sesudah
88

diterapkan LKS. Soal pre-test dan post-test terdiri


dari 6 soal uraian yang disesuaikan dengan
indikator keterampilan proses sains dan
indikator ketercapaian materi pencemaran
lingkungan. Tabel rekapitulasi hasil pre-test dan
post-test keterampilan proses sains siswa SMPN 1
Cerme kelas VII G ditunjukkan pada tabel 4.5.
LKS berorientasi PBL dinyatakan layak
jika memenuhi kriteria kelayakan dengan
menggunkan uji gain ternormalisasi dengan skor
pencapaian 0,50 dengan kriteria sedang
(Hake,1998). Data pada tabel 4.5 menunjukkan
persebaran nilai n-gain dari hasil pre-test post-test
masing-masing siswa. 7 siswa memperoleh nilai
n-gain dengan kriteria tinggi, 12 siswa
memperoleh nilai n-gain dengan kriteria sedang,
dan 1 siswa memperoleh nilai n-gain dengan
kriteria rendah.
Nilai n-gain terendah yaitu 0.27 yang
diperoleh siswa dengan nomor urut 2. Nilai n-
gain tertinggi yaitu 0.93 yang diperoleh siswa
dengan nomor urut 6. Rata-rata perolehan n-gain
secara keseluruhan adalah sebesar 0.59 dengan
kategori sedang, sehingga LKS dapat dinyatakan
layak secara empiris berdasarkan analisis skor n-
gain.
(2) Analisis Ketuntasan Tes
Ketuntasan tes keterampilan proses sains
dilihat dari skor akhir hasil tes pre-test dan post-
test yang dipredikatkan dan disesuaikan dengan
tabel ketuntasan keterampilan proses sains pada
permendikbud no.53. Siswa dinyatakan tuntas
jika perolehan nilai tes 60 dengan predikat nilai
89

C, kriteria ketuntasan cukup. Tabel rekapitulasi


hasil ketuntasan tes keterampilan proses sains
ditunjukkan pada tabel 4.4.
Data pada tabel 4.4 menunjukkan 12
siswa tuntas (T) tes dan 8 siswa tidak tuntas (TT)
pada post-test yang melatihkan keterampilan
proses sains. Adapun beberapa predikat yang
dicapai oleh siswa yang tuntas, yaitu 4 siswa
memperoleh predikat A, 6 siswa memperoleh
predikat B, dan 2 siswa memperoleh predikat C
dengan nilai 63,64 dan 68,18. Predikat C yang
dicapai oleh siswa yang tidak tuntas dengan
nomer urut 4; 5; 8; 19 dan perolehan nilai
berturut-turut adalah sebesar 59,09; 59,09; 59,09;
59,09. Predikat D dicapai oleh siswa dengan
nomor urut berturut-turut adalah 2; 9; 10; 18 dan
nilai perolehan berturut-turut adalah 50,00; 54,55;
54,55; 54,55.
Tabel 4.4 Tabel hasil uji gain dan ketuntasan pre-test
post-test
No
Pre Ketu
mor Pre- Post- N-
No. dik ntasa Kriteria
Uru test test gain
at n
t
1. 1 31,82 86,36 A T 0.80 Tinggi
2. 2 31,82 50,00 D TT 0.27 Rendah
3. 3 50,00 95,45 A T 0.91 Tinggi
4. 4 36,36 59,09 C TT 0.36 Sedang
5. 5 22,73 59,09 C TT 0.47 Sedang
6. 6 31,82 95,45 A T 0.93 Tinggi
7. 7 36,36 77,27 B T 0.64 Sedang
8. 8 36,36 59,09 C TT 0.36 Sedang
9. 9 22,73 54,55 D TT 0.41 Sedang
10. 10 22,73 54,55 D TT 0.41 Sedang
11. 11 22,73 63,64 C T 0.53 Sedang
12. 12 31,82 81,82 B T 0.73 Tinggi
90

No
Pre Ketu
mor Pre- Post- N-
No. dik ntasa Kriteria
Uru test test gain
at n
t
13. 13 31,82 81,82 B T 0.73 Tinggi
14. 14 31,82 72,73 B T 0.60 Sedang
15. 15 50,00 95,45 A T 0.91 Tinggi
16. 16 9,09 81,82 B T 0.80 Tinggi
17. 17 22,73 68,18 C T 0.59 Sedang
18. 18 22,73 54,55 D TT 0.41 Sedang
19. 19 36,36 59,09 C TT 0.36 Sedang
20. 20 18,18 72,73 B T 0.67 Sedang
Rata-rata N-gain Keseluruhan 0.59 Sedang
(3) Persentase Ketuntasan Setiap Aspek
Keterampilan Proses Sains
Analisis persentase ketuntasan setiap
aspek keterampilan proses sains dihitung dari tes
pre-test dan post-test. Setiap soal pre-test dan post-
test dikembangkan dan disesuaiakan pada
indikator pencapaian kompetensi pada KI 3 dan
aspek keterampilan proses sains yang dilatihkan.
Berikut ini merupakan tabel persentase
ketuntasan setiap aspek keterampilan proses
sains pre-test dan post-test.
Tabel 4.5 Persentase Ketuntasan Setiap Aspek Keterampilan
Proses Sains
Persentase
Indikator Soal (Aspek
No. Ketuntasan (%)
Keterampilan Proses Sains)
Post-test
1. Mengidentifikasi sumber
pencemaran air. (Keterampilan 100%
Mengamati)
2. Mengidentifikasi dampak
pencemaran air. (Keterampilan
67,5%
Mengajukan pertanyaan/
Membuat Rumusan Masalah)
3. Mengidentifikasi sumber
60%
pencemaran tanah. (Merumuskan
91

Persentase
Indikator Soal (Aspek
No. Ketuntasan (%)
Keterampilan Proses Sains)
Post-test
Hipotesis)
4. Mengidentifikasi sumber
pencemaran tanah. (Keterampilan
76,25%
Merencanakan Percobaan /menentukan
variabel percobaan)
5. Menjelaskan solusi pencemaran
udara. (Keterampilan Menerapkan 73,33%
Konsep)
6. Mengidentifikasi dampak
57,50%
pencemaran air. (Berkomunikasi)
Rata-rata Keseluruhan 72,43%
Persentase terendah ketuntasan setiap
aspek keterampilan proses sains ditunjukkan
pada indikator soal (aspek keterampilan proses
sains) ke-6, yaitu mengidentifikasi dampak
pencemaran air (berkomunikasi) dengan
perolehan persentase 57,50%. Persentase tertinggi
ketuntasan setiap aspek keterampilan proses
sains ditunjukkan pada indikator soal (aspek
keterampilan proses sains) ke-1 yaitu
mengidentifikasi sumber pencemaran air
(keterampilan mengamati) dengan perolehan
persentase sebesar 100%. Perolehan persentase
67,5%; 60%; 76,25%; 73,33% ditunjukkan pada
indikator soal (aspek keterampilan proses sains)
berturut-turut yaitu mengidentifikasi dampak
pencemaran air (keterampilan mengajukan
pertanyaan/membuat rumusan masalah);
mengidentifikasi sumber pencemaran tanah
(merumuskan hipotesis); mengidentifikasi sumber
pencemaran tanah (keterampilan merencanakan
percobaan /menentukan variabel percobaan);
92

menjelaskan solusi pencemaran udara


(keterampilan menerapkan konsep).
c) Angket Respon Siswa
Kelayakan empiris yang terakhir untuk
menilai kelayakan LKS berorientasi PBL adalah
angket respon siswa. Angket respon siswa terdiri
dari 15 butir pernyataan yang diberikan kepada
siswa setelah diterapkan LKS. Penyataan yang
diberikan berdasarkan pada kesesuaian isi,
kesesuaian penyajian, keseuaian bahasa, dan
kesesuaian dengan model PBL dan keterampilan
proses sains. Angket respon diisi oleh 20 subjek uji
coba dengan skala penialaian ya dan tidak, ya
jika siswa setuju dengan pernyataan dan tidak jika
siswa tidak setuju dengan pernyataan pada lembar
angket. Berikut ini tabel rekapitulasi hasil respon
siswa terhadap LKS.
Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Angket Respon Siswa
Terhadap LKS
Jumla Perse
h ntase Nilai
No. Pernyataan Jawa Jawa Kelayakan
ban ban dan Kriteria
Ya Ya
A. Kesesuaian Isi
Indikator, dan tujuan
1. pembelajaran sudah ditulis 20 100%
dengan jelas.
100%
Petunjuk LKS sudah ditulis
2. 20 100% (Sangat
dengan jelas.
Layak)
Anda merasa antusias
3. melakukan seluruh kegiatan 20 100%
di LKS.
B. Kesesuaian Penyajian
Desain penyajian LKS bagus 100%
4. 20 100%
dan menarik. (Sangat
93

Jumla Perse
h ntase Nilai
No. Pernyataan Jawa Jawa Kelayakan
ban ban dan Kriteria
Ya Ya
Gambar yang ditampilkan Layak)
5. 20 100%
pada LKS sesuai dengan topik.
Gambar dan tulisan pada LKS
6. 20 100%
disusun rapi.
C. Kesesuaian Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam
7. 19 95%
LKS mudah dimengerti. 92,5%
Bahasa yang digunakan pada (Sangat
8. LKS tidak menimbulkan 18 90% Layak)
makna ganda.
D. Kesesuaian dengan Model PBL dan Keterampilan Proses Sains
Tahap Orientasi pada Masalah
Artikel yang tertulis pada LKS
merupakan suatu artikel yang
9. terkait dengan permasalahan 20 100%
di lingkungan sekitar.
(Keterampilan Mengamati)
Tahap Mengorganisasikan Siswa
Anda merasa antusias
bekerjasama dalam
10. 20 100%
melakukan suatu kegiatan
melalui LKS.
Tahap Membimbing Penyediaan Individu dan Kelompok
100%
Anda merasa antusias telah
(Sangat
mengenal dan mampu
Layak)
11. membuat rumusan masalah. 20 100%
Keterampilan Menanya
(membuat rumusan masalah)
Anda merasa antusias telah
mengenal dan mampu
12. membuat hipotesis. 20 100%
Keterampilan merumuskan
hipotesis
Anda merasa antusias dengan
percobaan yang anda lakukan,
13. 20 100%
mampu mengenal variabel
percobaan dan membuatnya,
94

Jumla Perse
h ntase Nilai
No. Pernyataan Jawa Jawa Kelayakan
ban ban dan Kriteria
Ya Ya
serta membuat langkah kerja
dengan baik dan benar.
Keterampilan merencanakan
percobaan (menentukan variabel,
menentukan apa yang akan
dilaksanakan berupa langkah
kerja)
Tahap Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
Memberi kesempatan kepada
siswa untuk membuat suatu
14. karya atau rancangan ide 20 100%
terhadap solusi yang
diusulkan.
Tahap Menganalisa dan Mengevaluasi Proses Pemecahan
Masalah
Anda merasa antusias dan
lebih percaya diri dengan
mempresentasikan hasil
percobaan yang telah anda
lakukan.
15. 20 100%
Keterampilan berkomunikasi
(menjelaskan hasil percobaan,
membaca tabel, dan
mendiskusikan hasil kegiatan
mengenai suatu masalah)
98,13%
Rata-rata Keseluruhan (Sangat
Layak)
Berdasarkan data tabel diatas diperoleh rata-
rata keseluruhan sebesar 98,13% dengan kriteria
sangat layak, sehingga dapat dinyatakan pula bahwa
LKS layak digunakan dalam pembelajaran yang
mampu melatihkan keterampilan proses sains siswa.
Perolehan nilai rata-rata tersebut didasarkan pada
perolehan nilai dari 4 pokok kriteria, yaitu kriteria
95

kesesuaian isi, kesesuaian penyajian, kesesuaian


bahasa, dan kesesuaian dengan model PBL dan
keterampilan yang dilatihkan. Perolehan persentase
pada kriteria kesesuaian isi, kesesuaian penyajian,
dan kesesuaian dengan model PBL adalah sebesar
100% dengan kriteria sangat layak dan jumlah
jawaban ya sebanyak 20. Perolehan persentase
92,5% dengan kriteria sangat layak adalah pada
kriteria kesesuaian bahasa. Kriteria kesesuaian
bahasa terdiri dari 2 aspek yaitu aspek bahasa yang
digunakan dalam LKS mudah dimengerti dengan
perolehan jawaban ya sebanyak 19 dan bahasa
yang digunakan pada LKS tidak menimbulkan
makna ganda dengan perolehan jawaban ya
sebanyak 18.

B. PEMBAHASAN
Penelitian ini menghasilkan sebuah produk LKS
yang berorientasi PBL untuk melatihkan keterampilan proses
sains siswa SMP. Untuk menguju kelayakan produk ini
dilakukan penelitian yang menghasilkan data kelayakan
teoritis dan empiris. Kelayakan teoritis pengembangan LKS
ini didasarkan pada penilaian validator dosen dan guru IPA
SMP, dan kelayakan empiris pengembangan LKS ini
didasarkan pada penilaian keterlaksanaan LKS, tes
keterampilan proses sains, dan angket respon siswa.
1. Kelayakan Teoritis Pengembangan LKS Berorientasi
PBL Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains
Siswa SMP.
Penilaian dari seorang ahli diperlukan untuk
mengetahui tingkat validitas dari suatu produk, Nieveen
(1999). Oleh karena itu untuk mengetahui tingkat
validitasnya dilakukan penilaian oleh 3 validator, yaitu 2
96

dosen FMIPA Unesa dan 1 guru IPA SMPN 1 Cerme.


Berdasarkan data pada tabel 4.2 yaitu tabel tentang
rekapitulasi hasil validasi oleh validator menunjukkan
bahwa LKS yang dikembangkan layak digunakan dalam
pembelajaran. LKS yang dikembangkan memenuhi
aspek/ kriteria pengembangan media berdasarkan
kesesuain isi, penyajian, dan bahasa. LKS dinyatakan
layak secara teoritis jika rata-rata persentase keseluruhan
62,51%, (Riduwan,2012).
Aspek penilaian kesesuaian isi LKS secara
keseluruhan diperoleh persentase kalayakan sebesar
94,4% dengan kriteria sangat layak. Isi dalam LKS sudah
mencakup indikator, tujuan, dan petunjuk penggunaan
yang sesuai sehingga dapat memudahkan siswa untuk
menggunakan LKS. Selain itu materi dalam LKS sudah
sesuai dengan indikator pembelajaran. Misalnya, siswa
dapat mengidentifikasi sumber pencemaran tanah
melalui LKS 1 tentang pengukuran pH tanah. LKS juga
dapat melatihkan keterampilan proses sains siswa,
misalnya siswa dapat membuat rumusan masalah,
membuat hipotesis, menentukan variabel dalam
percobaan dampak detergen terhadap kondisi ikan.
LKS dampak detergen terhadap kondisi ikan
merupakan LKS 2 yang disesuaikan dengan indikator
pembelajaran yaitu menjelaskan dampak pencemaran air.
Melalui LKS tersebut juga, siswa dapat mengetahui
secara langsung bagaimana kondisi makhluk hidup jika
terkena dampak dari adanya pencemaran air. Begitu juga
dengan aspek kesesuaian penyajian, bahasa, dan
kesesuaian model PBL diperoleh persentase kelayakan
berturut-turut sebesar 91,7%, 95,8%, dan 88,1% dengan
kriteria sangat layak. Kriteria tersebut dicapai dengan
bukti bahwa didalam LKS tersebut sudah disajikan
97

desain yang menarik dan gambar yang mendukung


dengan permasalahan nyata dari peristiwa pencemaran,
misalnya gambar tumpahan minyak pada artikel. Bahasa
yang mudah dimengerti oleh siswa dan setiap tahapan
PBL yang dimunculkan sebagai kegiatan yang harus
dilakukan oleh siswa. Pengembangan aspek-aspek
penilaian tersebut disesuaikan dengan langkah-langkah
penyusunan LKS dalam Prastowo (2011), yaitu
merumuskan kd, menentukan alat penialain, menyusun
materi, memperhatikan struktur LKS, struktur LKS
terdiri atas enam komponen yaitu judul; petunjuk belajar;
kompetensi yang akan dicapai; informasi pendukung,
tugas-tugas dan langkah kerja, serta penilaian. Secara
keseluruhan, rata-rata persentase keseluruhan aspek
kelayakan LKS diperoleh sebesar 92,5% dengan kriteria
sangat layak, sehingga dapat disimpulkan bahwa LKS
berorientasi PBL ini dapat dinyatakan layak secara
teoritis.

2. Kelayakan Empiris Pengembangan LKS Berorientasi


PBL Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains
Siswa SMP.
Kelayakan empiris pengembangan LKS didasarkan pada
3 penilaian, yaitu :
a. Keterlaksanaan LKS
Keterlaksanaan LKS dilakukan dengan
metode observasi, yaitu mengamati terlaksananya
tahapan model PBL dalam pembelajaran
menggunakan LKS yang dikembangkan. Tahapan
model PBL yang dimaksud adalah orientasi kepada
masalah, mengorganisasikan siswa, membimbing
penyelidikan individu dan kelompok,
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta
98

menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan


masalah. Observasi keterlaksanaan LKS ini dilakukan
pada pertemuan 1 dengan menerapkan LKS tentang
Pengukuran pH Tanah dan pertemuan 2 dengan
menerapkan LKS tentang Dampak Detergen
Terhadap Kondisi Ikan dalam pembelajaran.
Berdasarkan tabel 4.3 persentase keseluruhan
keterlaksanaan model PBL pada pertemuan 1
diperoleh sebesar 89,31% dengan kriteria sangat baik
dan persentase keseluruhan pada pertemuan 2
diperoleh sebesar 92% dengan kriteria sangat baik.
Hasil tersebut membuktikan adanya peningkatan
dalam pelaksanaan tahapan PBL selama kegiatan
pembelajaran menggunakan LKS. Seperti yang
dijelaskan oleh Darus (2013), yang menjelaskan
bahwa Scientific skills are a set of specific skills that
assist students in learning science, getting them to be more
actively involved, and consciously expand their
capabilities, keterampilan proses sains membuat
siswa lebih aktif dan melibatkan dirinya dalam suatu
pembelajaran.
Tahap membimbing penyelidikan individu
dan kelompok pada aspek membimbing siswa jika
menemui masalah ketika membuat rumusan
masalah diperoleh persentase 100% pertemuan 1
dan 2. Data tersebut membuktikan bahwa siswa
antusias untuk mempelajari dan membuat rumusan
masalah dengan sendirinya. Misalnya, sisiwa dapat
membuat rumusan masalah pada LKS 1 tentang
pengukuran pH tanah yaitu Bagaimana pengaruh
jenis tanah terhadap nilai pH ?. Hal ini
membuktikan bahwa model PBL mendorong siswa
untuk mencari tahu solusi dari masalah mereka,
99

sehingga siswa terus termotivasi/ antusias untuk


membuat rumusan masalah agar dapat melakukan
penyelidikan lebih lanjut (Nur,2011).
Aspek yang ketiga pada tahap yang sama
yaitu aspek memberi kesempatan kepada siswa
untuk melakukan percobaan, menentukan variabel
percobaan dan langkah percobaan diperoleh
persentase 78% pada pertemuan 1 dan 92% pada
pertemuan 2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada
peningkatan aktifitas siswa yang lebih tinggi
dibandingkan dengan aspek yang lain. Peningkatan
tersebut dikarenakan mulanya pada pertemuan 1
siswa kesulitan dalam menentukan variabel
percobaan dan menuliskan langkah percobaan
sehingga menurunkan antusias siswa untuk
melakukan percobaan dan pada saat itu juga hampir
setiap siswa bertanya apa itu variabel percobaan?.
Setelah ada sedikit pengarahan dari guru dan
petunjuk di LKS, siswa mengerti apa itu variabel
yang dimaksudkan dalam perocbaan. Namun pada
pertemuan selanjutnya persentase perolehan lebih
tinggi dikarenakan siswa sudah bisa menentukan
variabel percobaan dan menuliskan langkah
percobaan tanpa bantuan dari guru lagi. Misalnya
siswa dapat menentukan variabel manipulasi jenis
air pada LKS 2 dari rumusan masalah Bagaimana
pengaruh jenis air terhadap kondisi ikan?. Selain itu
adanya motivasi yang tinggi dapat mendorong siswa
untuk bekerja sama dalam tim menjadi lebih baik
pula, hal ini sesuai dengan teori John Dewey (kelas
demokrasi) yaitu pembelajaran seharusnya
dilakukan dengan kelompok (masyarakat) besar
100

sehingga dapat membangun pengetahuan siswa


untuk pemecahan suatu masalah.
Observasi keterlaksanaan LKS pada
pertemuan ke-I dan ke-II dinilai kurang sesuai
dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP)
yang direncanakan. Hal tersebut dikarenakan
pelaksanaan pengambilan data kurang tepat pada
waktunya, misalnya tidak pada saat setelah
pelaksanaan ujian kenaikan kelas (UKK).
Ketidaksesuaian tersebut terletak pada alokasi waktu
yang tercantum pada RPP dengan pelaksanaan
pembelajaran secara nyata. Total lokasi waktu
pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
LKS yang tercantum pada RPP adalah selama 75
menit, sedangkan pembelajaran secara nyata
terlaksana selama 55 menit. Oleh karena itu,
pelaksanaan pembelajaran berpengaruh terhadap
keterlaksanaan LKS. Kurangnya pengelolaan waktu
mempengaruhi aktivitas siswa yang harusnya
berjalan dengan tertib menjadi kurang tertib dan
terkendali.
b. Tes Keterampilan Proses Sains
Analisis keterampilan proses sains dilakukan
dengan metode tes yang dilakukan sebelum dan
sesudah diterapkan LKS. Keterampilan proses sains
yang dilatihkan dalam penelitian ini yaitu
mengamati, membuat rumusan masalah,
merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan,
menerapkan konsep, dan berkomunikasi. Analisis
keterampilan proses sains dilakukan melalui 3
analisis yaitu uji gain, ketuntasan setiap aspek
keterampilan proses, dan ketuntasan tes
keterampilan proses sains.
101

Analisis yang dilakukan pertama yaitu uji


gain, uji gain ternormalisasi <g> dilakukan untuk
menentukan seberapa besar peningkatan
keterampilan proses sains siswa (Hake, 1998). Hasil
uji gain penelitian ini ditunjukkan pada tabel 4.4. 12
siswa memperoleh nilai gain dengan kategori
sedang, 7 siswa memperoleh gain dengan kategori
tinggi, dan 1 siswa memperoleh nilai gain dengan
kategori rendah. Rekapitulasi hasil penilaian sebelum
dan sesudah diterapkan LKS ditunjukkan pada tabel
4.4. Tinggi rendahnya nilai gain yang diperoleh
dipengaruhi oleh motivasi/ antusias siswa saat
mengerjakan tes keterampilan proses sains. Ada pula
faktor lain yang mempengaruhi rendahnya nilai gain
pada siswa dengan nomor urut 2, yaitu ada 1 dari 6
soal pre-test atau post-test yang sengaja tidak dijawab
oleh siswa tersebut. Sedangkan siswa dengan
perolehan nilai gain tinggi dicapai oleh siswa dengan
nomor urut 1, 3, 6, 12, 13, 15, dan 16. Siswa dengan
nomor urut tersebut sangat termotivasi selama
pembelajaran dengan menerapkan LKS, sehingga
nilai post-test yang diperoleh tinggi. Semua soal
terjawab dengan benar, meskipun ada beberapa yang
kurang tepat. Misalnya pada soal membuat hipotesis,
jawaban yang ditulis siswa sudah benar apakah
tingginya tingkat polusi berpengaruh terhadap
kesehatan manusia? namun pernyataan yang
dituliskan kurang tepat sesuai dengan kunci
bagaimana pengaruh kualitas udara terhadap
kesehatan manusia disuatu wilayah tertentu?. Hal
ini sesuai dengan teori Piaget yang mengemukakan
bahwa rasa ingin tahu dimiliki oleh setiap anak
semenjak lahir, sehingga rasa ingin tahu tersebut
102

mendorong/memotivasi seseorang untuk terus


menggali informasi dan membangun pemahaman
mereka tentang hal-hal yang berkaitan dengan
lingkungan disekitarnya (Ibrahim,2010).
Analisis yang dilakukan selanjutnya yaitu
ketuntasan tes keterampilan proses sains masing-
masing siswa. Siswa dinyatakan tuntas jika skor
akhir yang diperoleh siswa adalah sebesar 60
(Permendikbud no.53), baik nilai pre-test maupun
post-test. Tabel 4.5 menunjukkan rekapitulasi
ketuntasana hasil pre-test dan post-test keterampilan
proses sains siswa. Berdasarkan tebel tersebut,
diperoleh bahwa adanya peningkatan yang cukup
baik dari hasil pre-test dengan hasil post-test. 20 orang
siswa dinyatakan tidak tuntas pada saat pre-test.
Namun pada saat post-test 12 orang siswa dinyatakan
tuntas dan 8 orang siswa dinyatakan tidak tuntas.
Faktor yang mempengaruhi ketuntasannya yaitu
kurangnya motivasi mengerjakan lembar tes yang
diberikan, sehingga ada siswa yang secara sengaja
tidak mengisi jawaban pertanyaan pada lembar tes
dan ada beberapa siswa yang mengisi jawaban
namun jawaban yang dituliskan kurang sesuai
dengan kunci jawaban. Nilai siswa yang tidak tuntas
pada post-test masih memiliki kenaikan dari skor
yang diperoleh saat pre-test.
Analisis terakhir yang dilakukan yakni
menghitung persentase ketuntasan setiap aspek
keterampilan proses sains dari 6 soal pada post-test.
Persentase ketuntasan setiap aspek keterampilan
proses sains pada post-test ditunjukkan pada tabel
4.6. Perolehan aspek mengamati pada post-test
memiliki tingkat persentase yang paling tinggi
103

diantara aspek lainnya, yaitu 100%. Data tersebut


menunjukkan bahwa setelah diterapkan LKS, siswa
telah memiliki keterampilan mengamati yang baik.
Butir soal dengan aspek menanya (membuat
rumusan masalah), merumuskan hipotesis,
menentukan variabel percobaan dan berkomunikasi
kebanyakan tidak diisi oleh siswa. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kebanyakan siswa masih belum
memiliki 3 aspek keterampilan proses sains tersebut.
Setelah diterapkan LKS, perolehan persentase
ketuntasan aspek menanya (membuat rumusan
masalah), merumuskan hipotesis, menentukan
variabel percobaan dan berkomunikasi cukup tinggi.
Persentase peningkatan yang diperoleh berturut-
turut adalah 67,5%, 60%, 76,25%, dan 57,50%. Data
tersebut membuktikan bahwa LKS yang diterapkan
berpengaruh terhadap keterampilan proses sains
siswa setelah diterapkan saat pembelajaran. Hal ini
sesuai dengan fungsi lembar kegiatan siswa (LKS)
yang sesungguhnya, yaitu sebagai panduan bagi
siswa dalam memahami keterampilan proses dan
konsep-konsep materi yang sedang dan akan
dipelajari (Astuti,2013).
Secara keseluruhan berdasarkan uji gain,
ketuntasan setiap aspek keterampilan proses sains,
dan tes keterampilan proses sains LKS berorientasi
PBL (Problem Based Learning) untuk melatihkan
keterampilan proses sains siswa ini dinyatakan layak
secara empiris. Nilai rata-rata n-gain secara
keseluruhan sebesar 0.59 dengan kategori sedang,
nilai rata-rata ketuntasan post-test sebesar 72,43%,
dan 12 dari 20 siswa dinyatakan tuntas saat post-test
dengan skor kecapaian >60.
104

c. Respon Siswa
Respon siswa diperoleh dari hasil analisis
angket terkait dengan LKS yang dikembangkan.
Angket diisi oleh siswa kelas VII sebanyak 20 orang
setelah kegiatan pembelajaran pada pertemuan 2
berakhir. Berdasarkan analisis hasil respon siswa
pada tabel 4.7, dapat diketahui bahwa secara
keseluruhan siswa memberikan respon yang positif
terhadap LKS yang dikembangkan dengan
mendapatkan persentase sebesar 98,13% dengan
kriteria sangat layak. Terdapat 15 pernyataan yang
tertulis pada angket respon, 13 pernyataan
diantaranya diperoleh jawaban ya dengan
persentase 100% kriteria sangat layak dan 2
diantaranya diperoleh 95% dan 90% kriteria sangat
layak.
Aspek yang diperoleh kurang dari 100%
yaitu 2 pernyataan dari aspek kesesuaian bahasa.
Pernyataan tersebut adalah bahasa yang digunakan
pada LKS mudah dimengerti dan bahasa yang
digunakan pada LKS tidak menimbulkan makna
ganda. Hal tersebut dikarenakan pada mulanya
siswa masih kurang memahami isi LKS yang
melatihkan keterampilan proses sains. Siswa masih
perlu banyak bimbingan saat pertama kali
menggunakan LKS, setelah pada pertemuan kedua
siswa tidak banyak memerlukan pembimbingan lagi
saat sebelum melakukan percobaan hingga
percobaan selesai. Oleh karena itu saat menggunakan
LKS perlu adanya pembimbingan oleh guru, sesuai
dengan tahapan PBL yang diterapkan dalam LKS ini
yaitu membimbing penyelidikan individu dan
kelompok. Seperti yang dijelaskan oleh William
105

(2014) bahwa PBL involves students working self


directed usually in small groups using problem as the
driver to seek knowledge. In such an approach lectures
serve as fasilitators who attempt to guide students to take
responsibility for their learning.
Secara keseluruhan LKS berorientasi PBL
(Problem Based Learning) untuk melatihkan
keterampilan proses sains siswa SMP ini dapat
dinyatakan layak secara empiris berdasarkan angket
respon siswa dengan perolehan persentase sebesar
98,13%, kriteria sangat layak. Namun, pelaksanaan
angket respon ini dibutuhkan waktu yang relatif
lama, dikarenakan bahasa yang digunakan pada
angket respon kurang komunikatif. Misalnya pada
pernyataan indikator dan tujuan pembelajaran
sudah ditulis dengan jelas. Hampir semua siswa
bertanya apa maksud dari pernyataan tersebut,
sehingga peneliti perlu memberikan penjelasan
selama pengisian angket, mulai dari pengisian pada
aspek pernyataan yang pertama hingga terakhir.
106

Halaman ini sengaja dikosongkan


BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Simpulan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
terhadap penelitian pengembangan LKS berorientasi PBL
(Problem Based Learning) untuk melatihkan keterampilan
proses sains siswa SMP, adalah :
1. Lembar kegiatan siswa berorientasi PBL (Problem based
Learning) untuk melatihkan keterampilan proses sains
siswa SMP dinyatakan layak secara teoritis dengan
persentase kelayakan sebesar 92,5% dan kriteria sangat
layak.
2. Lembar kegiatan siswa berorientasi PBL untuk
melatihkan keterampilan proses sains siswa SMP
dinyatakan layak secara empiris berdasarkan :
a) Data keterlaksanaan tahapan PBL dengan rata-rata
persentase kelayakan sebesar 89,31% pada
pertemuan ke-1 dengan kriteria sangat baik dan
92%pada pertemuan ke-2 dengan kriteria sangat
baik.
b) Data tes keterampilan proses sains melalui uji gain
dengan nilai rata-rata n-gain secara keseluruhan
sebesar 0.59 kategori sedang, nilai rata-rata
ketuntasan setiap aspek keterampilan proses sains
berdasarkan post-test sebesar 72,43%, dan 12 dari 20
siswa dinyatakan tuntas post-test dengan nilai
kecapaian 60.
c) Data angket respon siswa dengan persentase
kelayakan sebesar 98,13% dengan kriteria sangat
layak.

107
108

B. Saran
Saran yang diajukan oleh peneliti berdasarkan
penelitian yang telah dilaksanakan yaitu lembar kegiatan
siswa berorientasi PBL (Problem Based Learning) ini dapat
digunakan sebagai bahan ajar di sekolah khususnya untuk
kelas 7 pada materi pencemaran lingkungan dengan tujuan
untuk mengukur keterampilan proses sains siswa.
DAFTAR PUSTAKA

Ali Hasan. 2015. A case study on preservice science teachers


laboratory usage self efficacy and scientific process skills,
Journal Social and Behavioral Sciences 174 (2015).
(Online). Volume 1158 1165
(http://www.sciencedirect.com/science/journals/all,
Diakses 24 Mei 2016)

Astuti, Y dan Setiawan B. 2013. Pengembangan LKS berbasis


Pendekatan Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Kooperatif
pada Materi Kalor, (Online), JPII 2 (1) (20130 88-92,
(http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpii, diakses
1 Desember 2015).
Biggs Alton, Ralph M, Feather Jr. Peter Rillero, dan Dinah Zike.
2005. Glencoe Sciense. Washington,D.C : National
Geographic Education.

Darus Faridah Binti dan Saat Rohaidah Mohd. 2013. How do


Primary School Students Acquire the Skill of Making
Hypothesis. The Malaysian Online Journal of Educational
Science,(Online). Volume 2 Issue 2
(http://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1086198.pdf, diakses
24 Mei 2016).

Ekapti, Rahmi Faradisya. 2014. Pengembangan Lembar Kegiatan


Siswa IPA Tema Parfum Kulit Jeruk Berorientasi Pendekatan
SETS Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Pada Siswa
SMP Kelas VII. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs
Universitas Negeri Surabaya.
Hosnan M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam
Pembelajaran Abad 21. Bandung : GI.

Ibrahim, Muslimin. 2012. Dasar- Dasar Proses Belajar Mengajar.


Surabaya: University press.

109
110

Isnawati. 2014. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran


Problem based Learning Terhadap Keterampilan Berpikir
Kritis dan hasil Belajar Siswa SMPN 6 Banjarmasin.
Prosiding Semnas Pensa VI Peran Literasi Sains,
Universitas Negeri Surabaya.

Lampiran I peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan no. 58


tahun 2014

Lampiran III peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan no.


58 tahun 2014

Lestari, Rizka. 2015. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)


Berorientasi Learning Cycle 5E Untuk Melatihkan
Keterampilan Proses Sains Pada Materi Fotosintesis Kelas VII.
Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs Universitas
Negeri Surabaya.

Made, I.C., Pradnyana, P.B., Marhaeni, A.A.I.N. 2013. Pengaruh


Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Motivasi Belajar
dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD. e-
Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
. Volume 3, (Online) (http://pasca.undiksha.ac.id/e-
journal/index.php/jurnal_pendas/article/viewFile/528/
320), diakses tanggal 9 Januari 2016.

Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT.


REMAJA ROSDAKARYA.

Munawarah, Isniatun. 2013. Urgensi Penelitian Pengembangan,


(Online),
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PENELITIAN
%20PENGEMBANGAN.pdf, diakses 26 November 2015).

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no.104 Tahun


2014
111

Prastowo, Andi. 2015. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar


Inovatif. Jogjakarta : Diva Press.

Putri, Hiranti. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based


Instruction Pada Materi Pencemaran Air Untuk
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP Kelas
VII. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs Universitas
Negeri Surabaya.
Rachma, Miftachul. 2015. Implementasi Model Problem Bsaed
Learning (PBL) Untuk Melatihkan Keterampilan Berfikir
Kreatif Siswa Pada Materi Pencemaran Lingkungan Di Kelas
VII. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs Universitas
Negeri Surabaya.

Riduwan. 2012. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian.


Bandung: Alfabeta.

Rohaeti, Eli, Endang Widjajanti LFX, dan Regina Tutik


Padmanningrum. 2009. Pengembangan Lembar Kerja Siswa
(LKS) Mata Pelajaran Sains Kimia Untuk SMP, Jurnal Inovasi
Pendidikan. (Online). Jilid 10 Nomor 1
(http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/jip/article
/viewFile/479/230%20%5B18, diakses 1 Desember 2015).

Sugiyono. 2012. Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.


Bandung : Alfabeta Bandung.

Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Tim. 2013. Panduan Penulisan Skripsi. Surabaya: FMIPA


Universitas Negeri Surabaya.

Wahono, Ade Suryanda, Ucu Cahyana, Idun Kristina, Arifatun


Anifah, dan Budi Suryatin. 2013. Ilmu Pengetahuan Alam.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
112

Wardhana, Wisnu Arya. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan.


Yogyakarta : ANDI.

Williams, Jonathan M. 2014. Is Student Knowledge of Anatomy


Affected by a Problem Based learning Approach? A
Review. Journal of Education and Thinking Studies ,Vol 2 No.
4; October 2014.
(Online).(http:/dx.doi.org/10.11114/jets.v2i4.509), diakses
tanggal 24 Mei 2016.

Yulianto, Achmad, Erman, dan Herlina Fitri Hidayati. 2014.


Penerapan Pendekatan Saintifik Untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains Siswa SMP Pada Materi Sistem
Ekskresi Manusia. Prosiding semnas Pensa VI Peran
Literasi Sanis, Universitas Negeri Surabaya.