Anda di halaman 1dari 8

PUSAT DAKWAH ISLAM BANDUNG

1. Pengertian
Pusat Dakwah Islam merupakan pendekatan istilah dari kata Islamic Centredalam bahasa Ingris
atau al-Markaz al-Islamidalam bahasa Arab. Nama yang bernilai sejarah karena pada saat
mendirikannya merupakan islamic centre pertama di Indonesia, adanya rasa nasionalisme waktu itu,
serta pencarian istilah indonesia yang melibatkan elemen masyarakat.
Pusat Dakwah Islam atau Islamic Centre mempunyai pengertian masjid yang diperluas atau
masjid plus yaitu tempat masyarakat muslim melaksanakan ibadah dan taklim, pemberdayaan umat,
serta pengembangan budaya Islam.
Pengertian tersebut dapat dijabarkan sebagai :
Tempat ummat Islam untuk melaksanakan ibadah dan mengamalkan nilai-nilai Islam yang
universal,
Tempat penggemblengan SDM yang berkualitas Imtak dan Iptek-nya, serta berdaya cipta dan
berdaya pembaharuan,
Tempat para ulama dan intelektual muslim untuk mengkaji dan mengembangkan nilai-nilai Islam
dalam segala sendi kehidupan, serta
Tempat masyarakat muslim berinteraksi dan berapresiasi dalam berkarya dan meningkatkan
kualitas hidup.

2. Sejarah Berdirinya PUSDAI


Tahun 1951, Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat berkeinginan mempunyai Masjid Raya atau
Islamic Centre yang representatif, yang berlokasi di Ibukota Provinsi yaitu di Kota Bandung, keinginan
itu akhirnya dimasukkan dalam Rencana Umum Tata Ruang Kota Kotamadya Bandung.
Tahun 1977/1978, untuk menyambut Abad XV Hijriyah (Tahun 1400 H), para ulama dan umat
Islam Jawa Barat menginginkan adanya suatu karya yang dapat menjadi tonggak Kebangkitan
Kembali Umat Islam, idenya mengerucut untuk mendirikan Islamic Centre. Gagasan pendirian
Islamic Centre tersebut diterima dengan baik oleh Gubernur Jabar, Mayjen H. Aang Kunaefi (1975-
1985).
Tanggal 19 Oktober 1979, di Kantor Bappeda Jabar sejumlah ulama, dai, pakar, cendekiawan
serta pejabat dan Angkatan 45 mengadakan diskusi dipimpin Ketua MUI Jabar serta dihadiri Gubernur
Jawa Barat dan Kakandepag Jabar, pada intinya mereka semua mendukung rencana pendirian Islamic
Centre di Jawa Barat dan supaya pembangunannya segera dimulai.
Tanggal 29 Oktober 1979, terbit Instruksi Bersama MENAG dan MENDAGRI No. 9 dan 30/1979
yang menetapkan perlunya umat Islam menyambut abad XV Hijriyah dengan meningkatkan kegiatan
dakwah dalam rangka menyongsong kebangkitan kembali (umat) Islam. Adanya instruksi bersama
tersebut semakin memperkuat gagasan pendirian Islamic Centre di Jawa Barat.
Tanggal 11 September 1980, di Kampus Uswatun Khasanah, Nagrek, Kabupaten Bandung
(puncak dari serangkaian diskusi), diadakan Musyawarah Ulama dan Pemuka Agama Islam se-Jawa
Barat, dan hasilnya bersepakat untuk merealisir pembangunan Islamic Centre.

3. Masa Pembangunan
Tahun 1982, dengan stock No. 593.82/SK.133-Pem/82, Gubernur Jawa Barat menetapkan bahwa
Pusat Pengembangan dan Pengkajian Islam (Islamic Centre) Jawa Barat dibangun sebagai satu
kesatuan dengan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Museum Perjuangan Rakyat Jawa Barat
dan Lapangan Upacara Pemda Jabar. SK Gubernur ini terbit setelah melewati penggodokan gagasan
pendirian Islamic centre selama hampir 5 tahun.
Tahun 1982-1992 (sekitar 10 tahun), Pemda Jabar melaksanakan pembebasan lahan dan
pemindahan penduduk (relokasi) serta membuat perencanaan pembangunan Islamic Centre.
Tahun 1992, berdasarkan izin Pemda Kotamadya Bandung No. 583/637/II/DTK/92 pelaksanaan
pembangunan Islamic Centre di atas lahan 4,5 Ha di mulai.
Tahun 1992-1997 (5 tahun anggaran), pembangunan Islamic Centre dilaksanakan dengan
menelan biaya mulai dari perencanaan, pembebasan dan pembangunannya sebesar Rp. 49 milyar yang
bersumber dari APBD Jawa Barat.
Tanggal 2 Desember 1997, menjelang Bulan Suci Ramadhan, Pusat Dakwah Islam Jawa Barat
(untuk mengindonesiakan penamaan Islamic Centre) disingkat PUSDAI diresmikan oleh Gubernur
Jawa Barat HR. Nuriana.

4. Lembaga Pengelola
Tahun 1997-1998, pengelolaan PUSDAI dibawah langsung oleh Sekretariat Daerah Provinsi
Jawa Barat.
Tahun 1998, Gubernur Jawa Barat menerbitkan SK Nomor 45 Tahun 1998, tentang pembentukan
Badan Penyelenggara Yayasan Darma Bakti Jawa Barat untuk mengelola PUSDAI dan Monumen
Perjuangan Jawa Barat, dengan Ketua Yayasan Drs. Dani Setiawan selaku Sekda Jabar, adapun
Penyelenggara PUSDAI dilaksanakan oleh Drs. KH. Miftah Faridl sebagai direktur dibantu oleh wakil
direktur dan 7 kepala bidang.
Tahun 2004, berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, Gubernur Jawa
Barat menerbitkan SK Nomor 466.4/Kep.394-Yansos/2004 tentang Pengangkatan Pembina,
Pengawas, Pengurus, dan Pelaksana Yayasan Darma Bakti, dengan Pembina Ir. H. Setia Hidayat
selaku Sekda Jabar untuk mengelola PUSDAI dan Masjid At-Taawun.
Yayasan Darma Bakti diketuai oleh Drs. H. Dedem Ruchlia sedangkan Ketua Pelaksana PUSDAI
Dr. KH. Miftah Faridl.
Berdasarkan Akta Notaris Didin Saepudin, S.H. Nomor 4 tanggal 12 Oktober 2005 Nama
Yayasan Darma Bakti diubah menjadi Yayasan Darma Asri
Pada Tahun 2007 Drs. H. Zainal Abidin, M.Ag. diangkat sebagai Ketua Pelaksana PUSDAI
menggantikan Dr. KH. Miftah Faridl.
Tahun 2010-2011, dengan adanya penertiban seluruh aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat,
Pengelolaan PUSDAI dan Masjid At-Taawun tidak lagi oleh yayasan atau lembaga sejenis, tetapi
menjadi semacam UPTD, termasuk pengelolaan LPTQ Jawa Barat. Untuk itu Pemerintah Provinsi
Jawa Barat Membentuk Satuan Tugas Penanganan PUSDAI, Bale Asri dan At-Taawun, dengan Ketua
H. Aip Rivai, SH. MSi. Selaku Asisten Kesejahteraan Rakyat, Wakil Ketua H. Riadi, SKM. MPH.
Selaku Kepala Biro Pelayanan Sosial Dasar.
28 November 2011, dikeluarkan Peraturan Gubernur No. 62 Tahun 2011 Tentang Badan
Pengelola Islamic Centre Jawa Barat, dengan aset yang dikelola meliputi PUSDAI, Masjid At-
Taawun dan Graha Agung Nurul Quran (sekretariat LPTQ Jawa Barat).
Tahun 2013, untuk menyempurnakan sistem pengelolaan PUSDAI dan lembaga-lembaga lainnya
di bawah Badan Pengelola Islamic Centre (BPIC) Jawa Barat, pemerintah menerbitkan kembali
Peraturan Gubernur No. 53 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Gubernur Nomor 62 Tahun 2011
tentang Badan Pengelola Islamic Centre Jawa Barat.

5. Arsitektur
Konsep Gaya Bangunan : mengacu model bangunan Islam Timur Tengah dengan pola-pola
geometris dan lengkung, sedangkan atapnya mengacu model atap tropis (khususnya Jawa Barat)
dengan bentuk limasan.
Konsep Siteplan : filosofi permukiman tatar Sunda/Parahyangan dengan pola menyebar, berteras
dan bertrap yang dilingkungi oleh pekarangan.
Konsep Elemen Estetika : filosofi alam dan budaya Jawa Barat (khusunya Sunda) dipadu dengan
ayat-ayat suci, yang ditampilkan pada unsur-unsur kayu, logam (tembaga), batu (granite), serta
warna(kaca patri) dan cahaya (kaca etsa).
Arsitek : Slamet Wira Sondjaya
Komplek PUSDAI berdiri diatas lahan seluas 45.000 m2 terdiri dari :
bangunan (1 lantai dan 2 lantai) luas 13.832 m2
plaza luas 3.375 m2
pedestrian/parkir motor luas 4.760 m2
parkir mobil luas 2.698 m2
taman luas 5.255 m2
jalan aspal luas 8.558 m2

6. Visi & Misi


Visi
Visi adalah menjadi Pusat pelayanan ibadah, pemberdayaan umat dan pengembangan budaya
Islam terbaik dalam rangka mendukung terwujudnya masyarakat Jawa Barat yang maju dan sejahtera
untuk semua.

Misi
Memfasilitasi secara optimal kegiatan ibadah yang termaktub dalam Rukun Islam.
Mencerdaskan dan memberdayakan umat.
Menggali pengetahuan Islam dan membantu memecahkan permasalahan umat.
Memberikan layanan informasi kepada umat dan membuat jejaring dakwah.
Mengembangkan kebudayaan Islam.
Meningkatkan kualitas hidup umat.

7. Fasilitas
a. Masjid
Bangunan Utama Masjid (2 lantai) berkapasitas 4.600 orang, sedangkan area shalat di selasar dan
ruang luar dapat menampung 12.250 orang
b. Gedung Bale Asri
Gedung Serba Guna (Bale Asri) berkapasitas 1200 orang, sementara pada lobby dapat
menampung 800 orang
c. Ruang Seminar
Ruang Seminar Besar berkapasitas 100 orang
Ruang Seminar Kecil (2 buah) @ berkapasitas 50 orang
d. Ruang Multi Media berkapasitas 60 orang
e. Ruang VIP (2 buah)
f. Tempat Wudlu Pria dan Wanita
g. Ruang Pameran Mushaf Sundawi dan Perpustakaan
h. Ruang Perkantoran
i. Ruang penunjang (kantin, galeri, dll)