Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diuretik adalah obat yang bekerja pada ginjal untuk


meningkatkan ekskresi air dan natrium klorida. Secara normal,
reabsorbsi garam dan air dikendalikan masing-masing oleh aldosteron
dan vasopresin. Sebagian besar diuretik bekerja dengan menurunkan
reabsorbsi eletrolit oleh tubulus (atas). Ekskresi elektrolit yang
meningkat diikuti oleh peningkatan ekskresi air, yang penting untuk
mempertahankan keseimbangan osmotik.

Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem


yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga
volume cairan ekstrasel menjadi normal. Proses diuresis dimulai
dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler) yang
terletak di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah yang
bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air,
garam dan glukosa. Ultrafiltrat yang diperoleh dari filtrasi dan
mengandung banyak air serta elektrolit ditampung di wadah, yang
mengelilingi setiap glomerulus seperti corong (kapsul Bowman) dan
kemudian disalurkan ke pipa kecil. Di sini terjadi penarikan kembali
secara aktif dari air dan komponen yang sangat penting bagi tubuh,
seperti glukosa dan garam-garam antara lain ion Na+. Zat-zat ini
dikembalikan pada darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli,
sisanya yang tak berguna seperti sampah perombakan metabolisme-
protein (ureum) untuk sebagian besar tidak diserap kembali.
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang
kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan
yang digunakan biasanya disebut hewan laboratorium (hewan coba)
diantaranya yaitu kelinci, mencit, marmut dan kera. Dengan adanya

1
pengujian ini maka akan memudahkan para ilmuwan dan peneliti
khususnya dalam bidang farmasi, untuk menganalisis suatu senyawa
obat yang akan digunakan oleh manusia. Seperti yang dilakukan dalam
percobaan ini dengan menggunakan obat diuretik yaitu furosemid
sehingga dapat diamati efektifitas atau khasiat furosemid tersebut
terhadap hewan coba marmut.

1.2 Tujuan Praktikum

1.2.1 Mengetahui efek/khasiat furosemid pada jaringan hidup beserta


fungsinya

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Diuretik
2.1.1 Definisi
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan

pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama

menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksidan

yang kedua menujjukan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat

terlarut dalam air. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi

cairan edema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian

rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembal imenjadi normal

(Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007).

2.1.2 Klasifikasi
Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu :

1. Inhibitor karbonik anhidrase (asetazolamid).

Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalis reaksi

CO2 +H2O H2CO3.Enzim ini terdapat antara lain dalam sel korteks

renalis, pankreas, mukosa lambung, mata, eritrosit dan SSP, tetapi

tidak terdapat dalam plasma.Inhibitor karbonik anhidrase adalah

obat yang digunakan untuk menurunkan tekananintraokular pada

glaukoma dengan membatasi produksi humor aqueus, bukan

sebagaidiuretik (misalnya, asetazolamid). Obat ini bekerja pada

tubulus proksimal (nefron) denganmencegah reabsorpsi bikarbonat

3
(hidrogen karbonat), natrium, kalium, dan air semua zat ini

meningkatkan produksi urine.Yang termasuk golongan diuretik ini

adalah asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.

2. Loop diuretik (furosemid, asetakrinat, bumetanid)

Termasuk dalam kelompok ini adalah asam etakrinat,

furosemid dan bumetanid. Asam etakrinat termasuk diuretik yang

dapat diberikan secara oral maupun parenteral dengan hasil yang

memuaskan. Furosemid atau asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfomail

antranilat masih tergolong derivat sulfonamid. Diuretik loop

bekerja dengan mencegah reabsorpsi natrium, klorida, dan kalium

pada segmentebal ujung asenden ansa Henle (nefron) melalui

inhibisi pembawa klorida. Obat ini digunakan untuk pengobatan

hipertensi, edema,serta oliguria yang disebabkan oleh gagal ginjal.

Pengobatan bersamaan dengan kalium diperlukan selama

menggunakan obat ini.

3. Tiazid (klorotiazid, hidroklorotiazid, klortalidon)

Senyawa tiazid menunjukkan kurva dosis yang sejajar dan

daya klouretik maksimal yang sebanding. Merupakan Obat diuretik

yang paling banyak digunakan. Diuretik tiazid, seperti

bendroflumetiazid, bekerja pada bagian awal tubulus distal

(nefron). Obat ini menurunkan reabsorpsi natrium dan klorida, yang

meningkatkan ekskresi air, natrium, dan klorida. Selain itu, kalium

hilang dan kalsium ditahan. Obat ini digunakan dalam pengobatan

4
hipertensi, gagal jantung ringan, edema, dan pada diabetes insipidus

nefrogenik.

4. Hemat kalium (amilorid, spironolakton, triamteren)


Diuretik yang mempertahankan kalium menyebabkan diuresis
tanpa kehilangan kalium dalam urine.
5. Osmotik (manitol, urea)
Manitol adalah alkohol gula yang terdapat dalam tumbuh-
tumbuhan dan getahnya. Efek diuresisnya pesat tetapi singkat dan
dapat melintasi glomerulus secara lengkap, praktis tanpa reabsorbsi
pada tubuli, sehingga penyerapan kembali air dapat dirintangi
secara osmotik. Terutama digunakan sebagai infus untuk
menurunkan tekanan intraokuler pada glaucoma.

2.2 Marmut
Marmut (Cavia porcellus) merupakan hewan pentadactyl (memiliki
jari-jari yang bercakar), lengan bawah dapat pronasi dan suprinasi. Hewan
ini tidak berekor dan memiliki glandula mamae untuk menyusui anaknya.
Uterusnya bertipe duplex, merupakan tipe yang paling primitif dimana
bagian kanan dan kiri uterus terpisah oleh adanya vagina pada hewan betina
(Radiopoetro, 1986).
Klasifikasi Cavia porsellus termasuk ke dalam infraclass eutharia
yaitu hewan-hewan yang disebut mamalia berplasenta. Istilah ini
menyesatkan karena plasenta adalah organ yang menyempurnakan
pertukaran fisiologis antara induk dan fetus. Pembuluh-pembuluh darah
eutharia terdapat pada selaput allanthois dan beberapa eutharia tidak
memiliki peredaran darah allanthois. Cavia porsellus termasuk ordo
rodentia, dimana rodentia merupakan salah satu ordo dalam kelas mamalia
yang paling besar (Hildebrand, 1984).
Marmut termasuk hewan herbivora dan mempunyai sebuah caecum
yang besar yang tumbuh sempurna dan berfungsi untuk menyimpan

5
makanan. Marmut (Cavia porcellus) tubuhnya tersusun oleh caput, cervix,
truncus, ekstrimitas posterior dan anterior dan caudal yang tumbuh
rudiment. (Manter et.al, 1959). Caput dan truncus dihubungkan oleh cervix
(leher). Cavia porcellus juga memiliki pinuae (daun telinga), memiliki
denstes invisivus yang terdapat pada tiap belah rahang dan berbentuk pahat,
tidak memiliki dentes canini, jumlah dentes premolars dan dentes molars
ialah variabel (Walters, 1959). Tubuh marmut diisolasi oleh pembungkus
(rambut dan subcutanya yang berlemak), dengan sistem ini maka
metabolismenya tinggi dan akibatnya dibutuhkan banyak makan (Jasin,
1989).

2.3 Metode Kerja


2.3.1 Alat dan Bahan
1. Spuit
2. Hewan coba (Marmut)
3. Furosemid 0,4 cc
4. Aquabidest 0,2 cc
5. Pipa paralon dan penyangga
6. Gelas ukur
2.3.2 Cara Kerja
1. Siapkan semua alat dan bahan
2. Menyuntikkan obat furosemid 0,4 cc pada hewan coba
(marmut) secara intraperitonial
3. Masukkan marmut yang telah disuntik kedalam pipa paralon
dimana salah satu ujung tertutup dan ujung lainnya dibuat
lubang pada sisi yang berlawanan
4. Letakkan pipa paralon dibawah penyangga dan gelas ukur
dibawahnya untuk menampung urin
5. Volume urin yang dikeluarkan ditampung, kemudian
dibandingkan volume urin pada hewan coba yang lain.

6
2.3.3 Hasil Pengamatan
Tabel 2.1. Hasil Pengamatan
Urin Output 1 II III IV
(0,6 kg) (0,7 kg) (0,5 kg) (0,6 kg)
5 menit - - - -
10 menit - - - -
15 menit - - - -
30 menit - 10 cc 10 cc -
45 menit - - - -

Berdasarkan hasil pengamatan pada marmut pertama dengan


berat 0,6 kg dan disuntikkan furosemid 0,2 cc, tidak didapatkan urin
output selama 45 menit pengamatan. Sedangkan pada marmut kedua
(berat 0,7 kg dan disuntikkan furosemid 0,4 cc) dan pada marmut ketiga
(berat 0,5 kg dan disuntikkan furosemid 0,6 cc) sama-sama didapatkan
urin outputnya sebanyak 10 cc pada 30 menit pengamatan. Pada
marmut keempat dengan berat 0,6 kg dan disuntikkan aquabidest 0,2 cc
tidak didapatkan urin output selama 45 menit pengamatan.

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa pada praktikum ini


diuretik yang digunakan adalah furosemid. Furosemid adalah suatu
derivat asam antranilat yang efektif sebagai diuretik. Efek kerjanya
cepat dan dalam waktu yang singkat. Mekanisme kerja furosemid
adalah menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli ginjal.
Furosemid meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, kalium dan
tidak mempengaruhi tekanan darah yang normal. Pada penggunaan
oral, furosemid diabsorpsi sebagian secara cepat dan diekskresikan
bersama urin dan feses (Lukmanto, 2003).

Awal kerja obat terjadi dalam 0,5 - 1 jam setelah pemberian oral,
dengan masa kerja yang relatif pendek 6 - 8 jam. Absorbsi furosemid
dalam saluran cerna cepat, ketersediaan hayatinya 60 - 69 % pada

7
subyek normal, dan 91 - 99 % obat terikat oleh plasma protein. Kadar
darah maksimal dicapai 0,5 - 2 jam setelah pemberian secara oral,
dengan waktu paruh biologis 2 jam (Siswandono,1995). Reasorbsinya
dari usus hanya lebih kurang 50%, t plasmanya 30 - 60 menit.
Ekskresinya melalui kemih secara utuh, pada dosis tinggi juga lewat
empedu (Tjay et.al, 2002).
Efek samping jarang terjadi dan relatif ringan seperti mual,
muntah, diare, rash kulit, pruritus dan kabur penglihatan. Pemakaian
furosemida dengan dosis tinggi atau pemberian dengan jangka waktu
lama dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan elektrolit
(Lukmanto,2003).
Pada praktikum ini jumlah furosemid yang diinjeksikan pada
masing masing marmut berbeda sehingga akan mempengaruhi hasil
urin output pada masing masing marmut tersebut. Semakin tinggi
dosis yang diberikan akan meningkatkan hasil urin output. Hal ini dapat
terjadi karena seperti yang diketahui bahwa furosemid merupakan zat
yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih.

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa


Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin.
Salah satu contoh diuretik seperti yang digunakan pada praktikum adalah
furosemid. Furosemid adalah suatu derivat asam antranilat yang efektif
sebagai diuretik. Pada praktikum ini didapatkan hasil urin output pada
marmut yang diinjeksikan 0,4 dan 0,6 cc furosemid menghasilkan urin
output sebanyak 10 cc pada 30 menit pengamatan. Sedangkan pada
marmut yang diinjeksikan furosemid 0,2 cc dan yang diinjeksikan
aquabidest 0,2 cc tidak didapatkan hasil urin output selama 45 menit
pengamatan. Ini membuktikan bahwa furosemid merupakan zat yang
dapat memperbanyak pengeluaran kemih.

9
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapeutik. 2007. Farmakologi dan Terapi.


Jakarta: FKUI

Hildebrand, M. 1984. Analysis of Vertebrate Structure Second Edition. New


York: Jhon Wiley & Sons

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Avertebrata dan Vertebrata. Surabaya:


Sinar Wijaya

Lukmanto, H. 2003. Informasi Akurat Produk Farmasi di Indonesia. Edisi II.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Manter, H. W. and Miller. 1959. Introduction to Zoology. New York: Harper


and Brothers

Radiopoetro. 1986. Zoologi. Jakarta: Erlangga

Siswandono dan Soekardjo. 1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga


University Press

Tjay, Tan Hoon dan Kirana, Raharja. 2002. Obat-obat Penting, Khasiat,
Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo Kelompok Gremedia

Walter, H. E, Leonard P. Sayles. 1959. Biology of the Vertebrates. New York:


The Macmilan Company

10