Anda di halaman 1dari 9

Fungsi Gelombang dan Persamaan Schrodinger

Hugh D. Young Roger A. Freedman


3 Syaban 1433 Hijriyah/ 22 Juni 2012 M

Pengedit dan Penerjemah


Mochamad Nur Qomarudin
Yayasan Masjidillah Indonesia, alfiyahibnumalik@gmail.com

Pendahuluan sadasdasd

Muqoddimah

Pengantar Sebuah partikel seperti elektron tidak dapat dinyatakan sebagai sebuah
titik tetapi kita menggunakan fungsi gelombang untuk menyatakan kedudukan sebuah
partikel. Fungsi gelombang untuk partikel memiliki kemiripan dengan fungsi gelom-
bang transversal pada tali.
Simbol yang telah umum digunakan untuk menyatakan fungsi gelombang sebuah
partikel adalah atau . Umumnya, adalah fungsi koordinat ruang dan waktu,
sedangkan adalah fungsi koordinat ruang saja. Fungsi gelombang (x, y, z, t) dari
sebuah partikel memuat semua informasi yang dapat diketahui tentang partikel terse-
but. Perhatian Fungsi gelombang untuk partikel bukanlah gelombang mekanik yang

membutuhkan media untuk merambat. Funugsi gelombang mendeskripsikan partikel


tetapi kita tidak dapat mendefinisikan fungsi tersebut sebagai media rambat tertentu.
Kita hanya mampu menjelaskan bagaimana fungsi tersebut terkait dengan hasil penga-
matan.

1 Makna Fungsi Gelombang


Fungsi gelombang menjelaskan distribusi atau penyebaran sebuah partikel di dalam
ruang, sebagaimana fungsi gelombang untuk gelombang elektromagnetik menjelaskan
distribusi medan listrik dan medan magnet. Menurut konsep tentang pola interferensi
dan difraksi, intensitas radiasi I pada setiap titik di dalam pola interferensi/difraksi
adalah berbanding lurus terhadap kuadrat magnitud medan listrik, E 2 . Dan menurut
konsep interferensi dan difraksi foton, intensitas pada setiap titik adalah berbanding
lurus terhadap jumlah foton yang jatuh di sekitar titik tersebut atau, alternatif yang

1
lain, terhadap probabilitias sebuah foton akan jatuh di sekitar titik tersebut. Dengan
demikian, kuadrat magnitud medan listrik di setiap titik adalah berbanding lurus
terhadap probabilitias teramatinya foton di sekitar titik tersebut.
Dengan cara yang sama, kuadrat fungsi gelombang dari satu partikel di setiap
titik menginformasikan kepada kita tentang probabilitas teramatinya partikel di seki-
tar titik tersebut. Tepatnya, lebih baik kita sebut kuadrat dari nilai mutlak dari fungsi
gelombang, ||2 . Hal ini sangat penting karena dapat berupa fungsi kompleks yang
memiliki bagian real dan imajiner (Bagian imajiner dari fungsi adalah fungsi real dika-

likan dengan bilangan imajiner i = 2 1.)
Untuk partikel yang bergerak dalam tiga dimensi, nilai |(x, y, z, t)|2 dV adalah
probabilitas partikel akan ditemukan pada waktu t di dalam volume dV di sekitar
titik (x, y, z). Partikel sangat mungkin ditemukan di daerah dimana nilai ||2 besar.
Tafsiran ini pertama kali dibuat oleh fisikawan German Max Born dan menyatakan
bahwa fungsi gelombang perlu dinormalisasi. Yaitu, integral dari ||2 dV di seluruh
ruang harus tepat sama dengan 1. Dengan kalimat lain, probabilitas bahwa partikel
berada di suatu tempat di alam semesta mencapai 1 atau 100%.

Mengartikan ||2 Ingat bahwa notasi |(x, y, z, t)|2 bukanlah probabilitas. Tetapi,
|(x, y, z, t)|2 dV adalah probabilitas partikel akan ditemukan di dalam volume dV di
sekitar titik (x, y, z) pada waktu t. Apabila volume diperkecil, maka kemungkinan par-
tikel akan ditemukan di dalam volume tersebut, semakin kecil, sehingga probabilitasnya
berkurang. Istilah yang lebih tepat untuk |(x, y, z, t)|2 adalah fungsi distribusi prob-
abilitas, karena fungsi ini menjelaskan bagaimana probabilitas ditemukannya partikel
di beberapa lokasi terdistribusi di seluruh ruang.

2 Keadaan Stasioner
Pada umumnya, nilai |(x, y, z, t)|2 di titik tertentu berubah terhadap waktu. Seba-
gaimana sebuah elektron di dalam tabung televisi bergerak dari katoda menuju layar,
tempat kemungkinan ditemukannya elektron berubah terhadap waktu. Tetapi apabila
partikel berada dalam keadaan energi tertentu, seperti elektron di dalam atom yang
berada pada tingkat energi tertentu, nilai ||2 di setiap titik tidak lagi bergantung
pada waktu. Karena distribusi probabilitas partikel dalam keadaan demikian, tidak
berubah terhadap waktu, keadaan dengan energi yang tertenut disebut keadaan sta-
sioner. Keadaan seperti ini sangat pengting untuk mekanika quantum. Contohnya,
untuk setiap energi tertentu, keadaan stasioner di dalam sebuah atom hidrogen, memi-
liki sebuah fungsi gelombang khusus.
Mengapa ||2 tidak bergantung pada waktu jika partikel berada dalam keadaan
energi tertentu? Mengapa keadaan demikian disebut stasioner? Untuk menjawab

2
pertanyaan ini, kita perlu menyimak hasil analisis mekanika kuantum berikut: Untuk
partikel di dalam keadaan energi tertentu E, fungsi gelombang yang bergantung pada
waktu (x, y, z, t) dapat dituliskan sebagai perkalian dari fungsi yang tidak bergantung
pada waktu (x, y, z) dan fungsi eksponensial waktu:

(x, y, z, t) = (x, y, z)eiEt/~ (1)

Fungsi eksponensial di dalam Persamaan (1) mewakili formula Euler, yang meny-
atakan bahwa untuk setiap sudut ,

ei = cos + i sin dan ei = cos i sin (2)

Artinya, Persamaan (1) menunjukkanbahwa fungsi gelombang untuk keadaan sta-


sioner adalah fungsi kompleks.
Sekarang, mari kita bahas fungsi distribusi probabilitas ||2 di Persamaan (1).
Perhatikan, ||2 adalah perkalian dari dan sekawan kompleksnya . Untuk men-
dapatkan sekawan kompleks dari sebuah bilangan kompleks, cukup gantikan i dengan
i. Misalnya, sekawan kompleks dari c = a + ib, yang mana a dan b adalah Real, ialah
c = a ib, sehingga |c|2 = c .c = (a + ib)(a ib) = a2 + b2 (ingat bahwa i2 = 1).
Sekawan kompleks dari Persamaan (1) adalah

(x, y, z, t) = (x, y, z)e+iEt/~ (3)

Dengan demikian

|(x, y, z, t)|2 = (x, y, z, t)(x, y, z, t)


= (x, y, z)(x, y, z)e+iEt/~ eiEt/~
= (x, y, z)(x, y, z)e0 = |(x, y, z)|2 (4)

Karena |(x, y, z)|2 tidak bergantung pada waktu, Persamaan (4) menunjukkan
bahwa demikian juga dengan fungsi distribusi probabilitas |(x, y, z, t)|2 . Hal ini men-
jelaskan mengapa keadaan stasioner mewakili keadaan dengan energi yang tertentu.

3 Persamaan Schrodinger
Kita telah mengetahui betapa pentingnya keadaan stasioner dalam menjelaskan sistem
mekanika kuantum. Menurut Persamaan (4), untuk menjelaskan keadaan stasioner
kita perlu mengetahui fungsi gelombang spasialnya (x, y, z) dan energinya E. Untuk
mencari nilainya, kita gunakan teknik yang dikembangkan di tahun 1926 oleh fisikawan

3
Austria Erwin Schrodinger dan dikenal dengan persamaan Schrodinger. Persamaan
Schrodinger berperan penting dalam mekanika kuantum sebagaimana hukum Newton
di dalam mekanika dan persamaan Maxwell dalam elektromagnet. Pemahaman kita
tentang semua sistem mekanika kuantum termasuk atom, molekul, inti atom, dan
elektron di dalam zat padat adalah berdasarkan pada solusi persamaan ini untuk sistem
tersebut.

Kita tidak dapat menurunkan persamaan Schrodinger dari prinsip-prinsip lain;


dia merupakan prinsip baru dari dirinya sendiri. Tetapi kita dapat menunjukkan
bagaimana dia terkait dengan de Broglie dengan relasi yang masuk akal.
Bentuk paling sederhana dari persamaan Schrodinger adalah untuk sebuah partikel
bermassa m yang bergerak hanya dalam satu dimensi, sejajar terhadap sumbu x, se-
hingga fungsi gelombang spasialnya hanyalah fungsi terhadap x. Kita asumsikan
bahwa partikel ini bergerak di bawah pengaruh gaya konservatif yang hanya memiliki
komponen x, sehingga terdapat energi potensial U (x). Persamaan Schrodinger untuk
partikel ini dengan energi tertentu adalah

~2 d2 (x)
+ U (x)(x) = E(x) (5)
2m dx2
Persamaan (5) adalah persamaan Schrodinger satu dimensi yang mana E adalah
konstanta. Bagaimana kita tahu bahwa persamaan ini benar? Karena dia bekerja.
Prediksi yang dibuat dengan berlandaskan pada persamaan ini bersesuaian dengan
hasil eksperimen.

4 Persamaan Gelombang untuk Partikel Bebas


Sebagai contoh, mari pelajari partikel bebas yang tidak dipengaruhi gaya sama sekali.
Apabila tidak ada gaya, U (x) tidak bergantung pada x; agar lebih mudah kita pilih
U (x) = 0. Jika partikel bebas ini bergerak dalam arah +x dengan magnitud momen-
tum sebesar p, maka energi kinetiknya (dan juga energi totalnya) adalah E = p2 /2m.
Partikel yang demikian ini adalah dalam keadaan energi tertentu (keadaan stasioner).
Dari persamaan de Broglie, partikel ini memiliki panjang gelombang tertentu yaitu
= h/p dan frekuensi yang tertentu pula f = E/h. Dengan mengambil konsep
gelombang berjalan mekanik sebagai ibarat, kita dapat menuliskan fungsi gelombang
untuk partikel ini dengan

(x, t) = A cos(kx t) + B sin(kx t) (6)

yang mana A dan B adalah konstanta. Sebagaimana gelombang mekanik, kita


tetapkan k = 2/ dan frekuensi sudut = 2f untuk Persamaan (6). Keduanya

4
terkait dengan momentum dan energi dengan hubungan

2 2 h p 2 E
k= = = dan = 2f = hf = (7)
h ~ h ~
Fungsi gelombang di Persamaan (6) tidak nampak mewakili partikel dalam keadaan
stasioner sebagaimana dalam Persamaan (1). Kita dapat mengubahnya menjadi ben-
tuk berikut, jika kita nyatakan B = iA, sehingga

(x, t) = A cos(kx t) + iA sin(kx t)


= A[cos(kx t) + i sin(kx t)]
= Aei(kxt) = Aeikx eit (8)

Dalam Persamaan (8) kita sekali lagi menggunakan kaidah Euler, yang menyatakan
bahwa untuk setiap sudut ,

ei = cos + i sin dan ei = cos i sin (9)

Dengan membandingkan Persamaan (8) dan Persamaan (1), kita lihat bahwa fungsi
gelombang kita sebenarnya mewakili keadaan stasioner dengan energi E = ~ dan
fungsi gelombang spasial (x) = Aeikx . Gambar 4 menampilkan bagian real dan
imajiner dari fungsi ini.

Gambar 1: Fungsi gelombang spasial (x) = Aeikx untuk partikel bebas dengan mo-
mentum tertentu p = ~k merupakan fungsi kompleks; dia memiliki bagian real dan
bagian imajiner.

Jika kita subtitusikan (x) = Aeikx ke ruas kiri persamaan Schrodinger, Persamaan
(5), kita dapatkan

5
~2 d2 (Aeikx ) ikx ~2 2 ikx ~2 k 2 ikx
+ (0)(Ae ) = (ik) Ae = Ae
2m dx2 2m 2m
p2
= (x) (10)
2m

(Turunan ke dua dari eax , yang mana A adalah konstanta, ialah a2 eax .) Ruas kanan
Persamaan (5) adalah E(x). Sehingga,

p2 p2
(x) = E(x) yang mana E = (11)
2m 2m
Bersasarkan Persamaan (11), kita simpulkan bahwa fungsi gelombang sebuah par-
tikel bebas di Persamaan (8) memenuhi persamaan Schrodinger.
Apabila k di Persamaan (8) bernilai positif, artinya fungsi gelombang mewakili satu
partikel bebas yang bergerak dalam arah x positif. Jika k negatif, maka momentum dan
arah geraknya dalam arah x negatif. (Dengan nilai k negatif, panjang gelombangnya
adalah = 2/|k|.)
Untuk satu partikel bebas (U (x) = 0), tidak ada batas bagi nilai p dan demikian
pula dengan nilai energi E = p2 /2m. Jika U (x) tidak konstan, maka solusi persamaan
Schrodinger hanya mungkin didapat dengan nilai-nilai E tertentu. Nilai-nilai tersebut
mewakili tingkat energi yang diijinkan di dalam sistem. Penemuan ini sangat penting.
Sebelum persamaan Schrodinger ditemukan, tidak ada cara untuk memprediksi tingkat
energi selain model Bohr, yang mana tingkat keberhasilannya sangat terbatas.
Terdapat juga versi persamaan Schrodinger yang melibatkan kebergantungan ter-
hadap waktu. Konsekuensinya, perlu dikaji tentang keadaan yang tidak stasioner
dan juga fungsi distribusi probabilitas |(x, y, z, t)|2 yang bergantung pada waktu.
Tetapi, kita tidak membutuhkan versi tersebut untuk menghitung fungsi gelombang
dan tingkat energi dalam keadaan stasioner. Apabila kita membutuhkan fungsi gelom-
bang yang bergantung waktu untuk keadaan stasioner dengan tingkat energi E, kita
cukup gunakan Persamaan (5). Persamaan Schrodinger yang bergantung waktu san-
gat berguna untuk mempelajari transisi antarkeadaan secara detil. Untuk kajian lebih
lanjut Anda dapat mempelajari mekanika kuantum dari fenomena yang bergantung
waktu seperti emisi dan penyerapan foton dan masa hidup dari keadaan.

CONTOH SOAL PERSAMAAN SCHRODINGER


Diberikan fungsi gelombang (x) = A1 eikx + A2 eikx yang mana k positif. Apakah
ini merupakan fungsi gelombang keadaan stasioner yang tepat untuk partikel bebas?
Berapa energinya?

SOLUSI
IDENTIFIKASI: FUngsi gelombang keadaan stasioner yang tepat untuk partikel bebas

6
harus memenuhi persamaan Schrodiinger, Persamaan (5), dengan U (x) = 0.
CARA: Untuk menguji fungsi (x) yang diberikan, cukup kita subtitusikan dia ke
ruas kiri persamaan Schrodinger. Apabila hasilnya adalah berupa konstanta dikalikan
(x), maka fungsi gelombang tersebut benar-benar adalah solusinya dan konstantanya
merupakan tingkat energinya E.
KERJAKAN: Subtitusilah (x) = A1 eikx + A2 eikx dan U (x) = 0 ke Persamaan
(5), lalu kita dapatkan

~2 d2 (x) ~2 d2 (A1 eikx + A2 eikx )


=
2m dx2 2m dx2
2
~
= [(ik)2 A1 eikx + (ik)2 A2 eikx ]
2m
~2 k 2 ~2 k 2
= (A1 eikx + A2 eikx ) = (x)
2m 2m

Kita telah buktikan bahwa ruas kiri persamaan Schrodinger sama dengan sebuah
konstanta dikali (x), artinya (x) adalah benar-benar fungsi gelombang keadaan
stasioner untuk suatu partikel bebas. Konstanta yang dimaksud tidak lain adalah
energi total partikel E = ~2 k 2 /2m.
EVALUASI: Perhatikan bahwa (x) adalah superposisi dari dua fungsi gelombang
yang berbeda: satu untuk partikel dengan magnitud momentum p = ~k yang bergerak
dalam arah x positif dan satu yang lain untuk partikel dengan magnitud momentum
yang sama namun bergerak dalam arah x negatif. Meskipun fungsi gelombang gabun-
gan mewakili keadaan stasioner dengan energi tertentu, keadaan ini tidak memiliki
momentum yang tertentu. Fungsi gelombang yang demikian ini mewakili gelombang
berdiri.

5 Paket Gelombang
Fungsi gelombang untuk partikel bebas yang dinyatakan oleh Persamaan (8) memiliki
momentum yang tertentu p dalam arah sumbu x. Untuk kondisi demikian, tidak ada
ketidakpastian momentum: px = 0. Prinsip ketidakpastian Heisenberg, menyatakan
bahwa xpx ~. Jika px adalah nol, maka x harus tak hingga. Konsekuensi
yang harus diterima untuk mengetahui momentum partikel secara akurat adalah kita
tidak tahu dimana partikel tersebut berada. Kita dapat membuktikan ini dengan
menghitung fungsi distribusi probabilitas berikut |(x, t)|2 :

|(x, t)|2 = (x, t)(x, t) = (A eikx e+it )(Aeikx eit )


= A Ae0 = |A|2

7
Fungsi distribusi probabilitas ini tidak bergantung waktu, karena dalam keadaan
stasioner (keadaan energi tertentu). Dia juga tidak bergantung pada posisi, artinya
kita mungkin dapat menemukan partikel tersebut dimanapun di dalam ruang! Menu-
rut perhitungan, situasi ini terjadi karena fungsi gelombang spasial (x) = Aeikx =
A cos kx + iA sin kx adalah fungsi sinusoidal yang terdapat sepanjang sumbu x, sejak
x = hingga x = + dengan amplitudo A. (Ini berarti bahwa fungsi gelombang
tidak dapat dinormalisasi: Integral dari |(x, t)|2 di seluruh ruang akan bernilai tak
hingga untuk berapapun nilai A.)
Secara praktis, kita selalu memiliki beberapa ide tentang dimana partikel tersebut.
Kita memerlukan fungsi gelombang yang lebih terlokalisasi di dalam ruang. Kita dapat
merumuskannya dengan menggabungkan dua fungsi sinusoidal atau lebih.
Untuk langkah penyederhanaan, kita gunakan fungsi gelombang yang hanya bergan-
tung pada satu koordinat ruang (x), dan kita akan perhitungkan pada satu waktu
tertentu (misalnya t = 0). Misalnya, kita tambahkan dua fungsi gelombang keadaan
stasioner untuk partikel bebas dari Persamaan (8) dengan bilangan gelombang k1 dan
k2 yang sedikit berbeda. Pada t = 0, ei1 t dan ei2 t keduanya bernilai e0 = 1, jadi
fungsi gelombang pada t = 0 adalah

(x) = A1 eik1 x + A2 eik2 x


= [A1 cos(k1 x) + iA1 sin(k1 x)] + [A2 cos(k2 x) + iA2 sin(k2 x)]
= [A1 cos(k1 x) + A2 cos(k2 x)] + i[A1 sin(k1 x) + A2 sin(k2 x)] (12)

Kita gunakan kaidah Euler, Persamaan (9), untuk memisahkan bagian real dan
imajiner fungsi (x).

Gambar 2: (a) Bagian real dari dua gelombang sinusoidal dengan bilangan gelombang
yang sedikit berbeda, pada satu waktu terntentu. (b) Superposisi dari kedua gelombang
ini memiliki bilangan gelombang sebesar nilai rata-rata dari bilangan gelombang kedua
gelombang penyusunnya, sedangkan amplitudonya bervariasi.

8
Gambar 5a adalah grafik yang menampilkan bagian real dari masing-masing fungsi
gelombang untuk A2 = A1 ; Gambar 5b menampilkan bagian real dari fungsi gelom-
bang gabungan (x) yang dinyatakan Persamaan (12). Ketika kita menggabungkan
dua gelombang sinusoidal dengan frekuensi yang sedikit berbeda, hasilnya adalah se-
buah gelombang tersendiri yang sifatnya berlainan dengan kedua gelombang penyusun-
nya. Sebuah partikel yang dinyatakan oleh fungsi gelombang di Persamaan (12) lebih
sering ditemukan di beberapa tempat yang terlokalisasi dibandingkan di tempat yang
lain. Tetapi, momentum partikel tersebut tidak lagi bernilai pasti karena melibatkan
dua bilangan gelombang. Hal ini bertepatan dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg:
Dengan menurunkan ketidakpastian pada posisi partikelm kita akan meningkatkan keti-
dakpastian pada momentumnya.

Tidak sulit bagi kita untuk memikirkan superposisi dua gelombang sinusoidal den-
gan amplitudo dan bilangan gelombang yang berbeda. Sekarang, jika kita superposisi-
kan banyak sekali gelombang sinusoidal dengan bilangan gelombang yang berbeda, kita
akan mendapatkan sebuah gelombang yang menyerupai satu gumpalan saja.