Anda di halaman 1dari 28

BAB VI

TUGAS KHUSUS

PEMBUKTIAN JUMLAH TRAY UNIT KOLOM DESTILASI D01


SECTION 107 METHANOL RECOVERY BERDASARKAN
PERHITUNGAN

6.1 Pendahuluan
6.1.1 Latar Belakang
Section 107 Methanol recovery merupakan salah satu unit yang penting
yang ada di Methyl Ester Plant EOB 1. Unit ini me-recovery methanol yang
merupakan produk keluaran dari section 105: hidrogenation plant agar dapat
digunakan kembali pada section 103 Transesterification. Diharapkan bahwa
metanol keluaran section 107 ini memiliki konsentrasi 99.99%. Untuk itu
dilakukan proses pemurnian dengan cara distilasi untuk memisahkan metanol dan
campurannya.
Pemisahan merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan suatu
senyawa atau sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang
berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri.
Pada prinsipnya, pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang
saling bercampur. Dalam prakteknya kolom distilasi methanol pada section 107
memiliki tray sejumlah 52 tray. Dengan jumlah tray tersebut diperoleh methanol
dengan konsentrasi sekitar 99.5%. Sehingga perlu dilakukan perhitungan tray
secara teoritis untuk membuktikan jumlah tray yang digunakan mendekati jumlah
tray teoritis.

6.1.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Pelaksanaan tugas khusus dilakukan selama 22 hari, dimulai pada tanggal
21 april 2017 s/d 19 mei 2017 di PT. Ecogreen Oleochemicals Batam (EOB 1)
section 107 : methanol recovery.

6.1.3 Tujuan
1. Memahami dan memecahkan masalah nyata yang dihadapi pada proses
produksi di industri.

38
2. Memahami prinsip dari kolom distilasi
3. Menentukan jumlah tray kolom distilasi secara teoritis dengan
menggunakan metode Fenske.
6.1.4 Batasan Masalah
1. Tugas khusus dilakukan pada unit distilasi di section 107 methanol
recovery PT. Ecogreen Oleochemicals Batam 1 (EOB 1)
2. Data aktual yang digunakan pada tanggal 21 April 2017
3. Perhitungan jumlah tray dilakukan dengan menggunakan metode Fenske.
6.1.5 Metode Penyelesaian yang digunakan
1. Menghitung kondisi operasi atas dan bawah menara distilasi.
2. Menentukan volatilitas rata-rata
3. Mengecek pemilihan light key component (LK) dan heavy key component
(HK) dengan persamaan Shiras et. Al. pada Rm.
. ( 1) . ( ) .
.
= ( 1) .
+ ( 1) .
(Treybal, 1981 pers. 9.164)

Batasan:
Komponen j tidak terdistribusi jika:
. .
< 0.01 < 1.01
. .
.
komponen j terdistribusi jika: 0.01 1.01
.

4. Menghitung jumlah plate minimum dengan persamaan Fenske.



log[( )( )]

= (Coulson, 2005 Pers.11.58)
log

5. Menghitung refluks minimum dengan persamaan Colburn & Underwood.


.
= + 1 (Coulson, 2005 Pers.11.60)

Nilai didapat dari persamaan :


.
= 1 (Coulson, 2005 Pers.11.61)

6. Penentuan jumlah stage ideal


7. Penentuan efisiensi
8. Menentukan lokasi feed plate dengan persamaan Kirkbride.
. . 2
log ( ) = 0.206 log [ ( . ) ( .) ] (Coulson, 2005 Pers. 11.62)

39
6.2 Landasan Teori
6.2.1 Pengertian Distilasi
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan campuran
bahan kimia berdasarkan perbedaan kemudahan menguap (volatilitas) bahan
dengan titik didih yang berbeda. Distilasi menggunakan panas sebagai agen
pemisah campuran, campuran zat dididihkan hingga menguap dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Pada proses pemisahan secara distilasi, fase uap akan segera terbentuk
setelah sejumlah cairan dipanaskan pada kondisi tekanan dan suhu tertentu. Uap
dipertahankan kontak dengan sisa cairannya (dalam waktu relatif cukup) dengan
harapan pada suhu dan tekanan tertentu, antara uap dan sisa cairan akan berada
dalam keseimbangan, sebelum campuran dipisahkan menjadi distilat dan residu.
Pada pemanasan yang terus menerus, komponen yang lebih volatil akan berubah
menjadi fasa uap. Fasa uap yang terbentuk selanjutnya diembunkan
(dikondensasi), kemudian akan diperoleh kondensat yang berupa komponen-
komponen dalam keadaan yang relatif murni.
Distilasi merupakan cara yang paling umum digunakan dalam industri
untuk memisahkan suatu campuran yang homogen dalam bentuk larutan. Proses
distilasi beroperasi dalam satu perangkat yang terdiri dari beberapa peralatan,
yang masing-masing peralatan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Peralatan-
peralatan yang digunakan pada proses distilasi seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 6.1 adalah sebagai berikut (Christyananta, 2012):
a. Kolom Distilasi
Kolom distilasi berfungsi untuk memisahkan campuran berdasarkan titik
didihnya.
b. Kondenser
Kondenser berfungsi untuk mendinginkan produk atas dari kolom distilasi
sehingga berubah menjadi fasa cair.
c. Reboiler
Reboiler berfungsi untuk memanaskan sebagian produk bawah kolom
distilasi sehingga berubah menjadi gas. Gas yang terbentuk dipompakan

40
kembali menuju kolom distilasi sebagai pemanas untuk proses distilasi.
d. Pompa
Pompa berfungsi untuk mengalirkan kondensat sebagai reflux ke
kolom distilasi.
e. Tangki Pengumpul
Tangki pengumpul berfungsi menampung hasil pemisahan dari kedua
campuran

Gambar 6.1 Peralatan-peralatan pada proses distilasi


6.2.2 Jenis-jenis Distilasi
1. Jenis distilasi secara umum
Secara umum distilasi dibagi atas 4 jenis, yaitu:
a. Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih
yang jauh atau salah satu komponen lebih bersifat volatile dari komponen yang
laindan bekerja pada tekanan atmosfer. Jika campuran dipanaskan maka
komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Selain perbedaan titik didih dan perbedaan volatilitas, yaitu kecenderungan
sebuah komponen untuk menjadi gas. Distilasi ini dilakukan pada tekanan
atmosfer, aplikasi distilasi seerhana digunakan untuk memisahkan campuran air
dan alkohol, air dan NaCl dan lain-lain.

41
b. Distilasi Fraksionasi
Distilasi fraksionasi adalah proses pemisahan distilasi ke dalam bagian-
bagian dengan titik didih makin lama makin tinggi yang selanjutnya pemisahan
bagian-bagian ini dimaksudkan untuk destilasi ulang. Distilasi ini berfungsi untuk
memisahkan campuran larutan/cairan yang terdiri dari dua komponen atau lebih,
dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini dapat
digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20C dan
bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari distilasi
jenis ini digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dalam minyak
mentah, minyak atsiri, dan lain-lain.
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya
kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu
yang berbeda-beda pada setiap plate atau tahapnya. Pemanasan yang berbeda-
beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari tahap-tahap di
bawahnya.
c. Distilasi Uap
Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki
titik didih mencapai 200C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-
senyawa ini dengan suhu mendekati 100C dalam tekanan atmosfer menggunakan
uap atau air mendidih. Sifat dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran
senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya. Distilasi
uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak larut dalam air di semua suhu,
tapi dapat didistilasi dengan air. Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk
mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus,
minyak sitrus dari lemon, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.
Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran
dan ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan naik ke atas
menuju ke kondensor menghasilkan distilat dan akhirnya masuk ke labu distilat.
d. Distilasi Vakum
Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi
tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik
didihnya atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150C. Metode distilasi

42
ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika
kondensornya menggunakan air dingin karena komponen yang menguap tidak
dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum
atau aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi
vakum.
2. Jenis Distilasi Berdasarkan Jumlah Komponen
Berdasarkan komponennya, distilasi dibagi menjadi dua, yaitu
(Geankoplis, 1983):
a. Distilasi Dua Komponen (Binary)
Distilasi dua komponen merupakan proses pemisahan larutan biner, yaitu
larutan yang mengandung dua komponen yang dapat melarut dengan baik.
Contoh dari distilasi dua komponen adalah pada proses pemisahan benzene dan
toluene yang dapat dilihat pada Gambar 6.2.

Gambar 6.2 Distilasi dua Komponen


Perhitungan neraca massa berfungsi untuk mengetahui fraksi mol
komponen di umpan, distilat, dan bottom. Selanjutnya hasil perhitungan tersebut
dapat digunakan untuk menentukan jumlah stage teoritis menggunakan kurva
McCabe- Thiele untuk distilasi dua komponen.
Asumsi yang digunakan pada metode McCabe-Thiele adalah terjadinya
kesetimbangan pada menara distilasi antara umpan masuk dengan top traynya dan
antara umpan masuk dengan bottom traynya. Dapat dilihat pada Gambar 6.3, fasa
cair dan uap memasuki tray, kemudian terjadi kesetimbangan, dan selanjutnya
meninggalkan tray.

43
Gambar 6.3 Laju fasa uap dan cair memasuki dan meninggalkan tray
Neraca massa totalnya adalah sebagai berikut :
Vn+1 + Ln-1 = Vn + Ln (1)
Neraca massa komponennya adalah sebagai berikut :
Vn+1 yn+1 + Ln-1 xn-1 = Vn yn + Ln xn (2)
Keterangan :
Vn+1 = laju alir uap dari tray n+1
Ln-1 = laju alir cairan dari tray n-1
Vn = laju alir uap dari tray ke-n
Ln = laju alir cairan dari tray ke-n
yn+1 = fraksi mol uap suatu komponen di Vn+1
xn-1 = fraksi mol cair suatu komponen di Ln-1
yn = fraksi mol uap dari tray ke-n
xn = fraksi mol cair dari tray ke-n
Neraca massa overall di keseluruhan bagian kolom distilasi dihitung
dengan menggunakan persamaan (3) :
F=D+W (3)
Sedangkan persamaan neraca massa komponennya dapat dilihat pada
persamaan (4) :
xF . F = xD . D + xw . W (4)
Keterangan :
xF = fraksi mol umpan (mol)
xD = fraksi mol distilat (mol)
xW = fraksi mol bottom (mol)
F = laju alir mol umpan (kmol/jam)

44
D = laju alir mol distilat (kmol/jam)
W = laju alir mol bottom (kmol/jam
b. Distilasi Multikomponen
Pada umumnya, di industri proses pemisahan menggunakan
distilasi melibatkan lebih dari dua komponen. Secara umum, desain untuk menara
distilasi multikomponen sama dengan distilasi dua komponen (binary). Begitu
pula dengan neraca massa, pada distilasi multikomponen terdapat neraca massa
untuk masing-masing komponen di dalam campuran. (Geankoplis, 1983)
Pada distilasi dua komponen hanya digunakan satu menara untuk
memisahkan dua komponen A dan B menjadi komponen yang kebih murni.
Komponen A mempunyai sifat lebih volatile daripada B, sehingga pada hasil
proses distilasi koomponen A sebagai produk atas dan koponen B sebagai produk
bawah. Berbeda dengan distilasi dua komponen, pada campuran multikomponen
yang terdiri dari n komponen, akan dibutuhkan n 1 fractionator untuk
memisahkan komponen-komponen tersebut. Sebagi contoh untuk memisahkan
komponen A, B, dan C. A dan B merupakan komponen yang paling mudah
menguap dengan volatilitas berdekatan dan C merupakan komponen yang paling
sulit menguap. Untuk memisahkan ketiga komponen tersebut dibutuhkan dua
buah kolom seperti pada Gambar 6.4.

Gambar 6.4 Pemisahan tiga komponen A, B, dan C


Umpan yang terdiri dari komponen A, B, dan C didistilasi di kolom 1.
Produk atas yang dihasilkan, yaitu komponen A dan B, sedangkan produk
bawahnya merupakan komponen C. Di bottom masih dapat terkandung komponen
A dan B dalam jumlah yang sedikit (sering disebut trace component).

45
Pada kolom 2 terjadi pemisahan komponen A dan B. Distilat yang
dihasilkan, yaitu komponen A dengan sejumlah kecil komponen B, sedangkan
pada bottom dihasilkan komponen B yang juga mengandung sedikit komponen A
dan C.
Pada campuran multikomponen dengan mengetahui komposisi dari satu
komponen tidak dapat langsung mengetahui komposisi dari komponen lainnya.
Selain itu, jika umpan mengandung lebih dari dua komponen tidak dapat
ditentukan komposisi produk atas dan produk bawahnya secara langsung. Akan
tetapi, hal tersebut dapat diketahui dengan dua komponen kunci (key components)
(Sinnott, 2005).
Proses pemisahan dari campuran multikomponen pada menara distilasi
hanya akan terjadi pada dua komponen saja. Misalnya, untuk campuran A, B, C,
D, dan seterusnya, proses pemisahan dalam satu menara distilasi hanya dapat
terjadi antara komponen A dan B, atau B dan C, dan seterusnya. Misalnya, pada
distilasi multikomponen ini terjadi pemisahan antara komponen A dan B.
Komponen A merupakan light key component dan komponen B merupakan heavy
key component. Light key component merupakan komponen yang lebih mudah
menguap (LK) yang akan dihasilkan pada distilat. Heavy key component
merupakan komponen yang lebih sulit untuk menguap (HK) dan akan dihasilkan
pada bottom. Komponen-komponen yang lebih mudah menguap disebut dengan
light components yang akan terdapat dalam jumlah yang sedikit pada bottom.
Untuk komponen-komponen yang lebih sulit menguap daripada heavy key
components akan terdapat pada distilat dalam jumlah yang sedikit. (Geankoplis,
1983).
Pada distilasi multikomponen, hukum Raoult dapat digunakan untuk
menentukan komposisi fasa uap dalam keadaan setimbang dengan fasa liquidnya.
Misalkan, untuk komponen A, B, C, dan D rumus untuk mencari komposisi fasa
uapnya adalah sebagai berikut (Geankoplis, 1983) :
pA = PA xA pB = PB xB pC = PC xC pD = PD xD (5)

= = = =


= = = = (6)

46
Untuk Senyawa hidrokarbon, data kesetimbanganny dirumuskan sebagai berikut:
= = = = (7)
KA merupakan konstanta kesetimbangan fasa uap-cair atau koefisien
distribusi untuk komponen A. Pada penentuan nilai relative volatility (i) untuk
masing-masing komponen pada campuran multi komponen digunakan cara yag
sama seperti pada distilasi dua komponen, maka:

= (8)

Relative volatility (i) adalah ukuran kemudahan terpisahkan lewat


eksploitasi perbedaan volatillitas. Relative volatility ditulis sebagai perbandingan
nilai K dari komponen lebih mudah menguap terhadap nilai K komponen yang
lebih sulit menguap. Oleh karena itu, jika harga mendekati satu atau bahkan satu,
maka kedua komponen sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan melalui
operasi distilasi.
6.2.3 Penentuan Jumlah Tray Distilasi
1. Metode McCabe Thiele
Salah satu metode yang sering digunakan dalam menghitung jumlah stage
ideal untuk distilasi dua komponen adalah dengan menggunakan metode
McCabe-Thiele, disamping itu terdapat metode lain, yaitu metode Ponchon
Savarit. Bila dibandingkan dengan metode ponchon savarit, maka metode
McCabe-Thiele lebih mudah digunakan karena dengan metode McCabe-Thiele
tidak memerlukan perhitungan Heat Balance (necara panas) untuk menentukan
jumlah stage yang dibutuhkan. Metode McCabe-Thiele ini mengasumsikan
bahwa laju alir molar baik liquid maupun vapour atau L/V konstan, atau dikenal
juga dengan istilah Constant Molar Overflow (CMO), namun pada keadaan
sebenarnya keadaan CMO tidaklah konstan. Dalam perhitungan theoritical stage
ada beberapa tahap yang harus dilakukan, yaitu:
Pembuatan kurva kesetimbangan uap cair (biasanya untuk senyawa atau
komponen yang lebih ringan)
Membuat garis operasi baik seksi rectifying (enriching) maupun stripping
Membuat garis umpan (q-line) yang menunjukkan kualitas dari umpan itu
sendiri, berada dalam keadaan uap jenuh, liquid jenuh, dan lain-lain

47
Membuat atau menarik garis stage yang memotong kurva kesetimbangan
yang memotong kurva kesetimbangan xy, garis operasi rectifying dan
stripping yang diawali dari XD dan berakhir pada XB
Pada Gambar 6.5 merupakan contoh penentuan jumlah stage teoritis pada
distilasi dua komponen (benzene-toluene) dengan menggunakan grafik McCabe-
Thiele.

Gambar 6.5 Grafik McCabe-Thiele untuk menentukan jumah stage teoritis


a. Menghitung Jumlah Stage Minimum (Nm) untuk distilasi biner
Jumlah stage minimum merupakan suatu kondisi yang kedua garis
operasinya (Rectifying dan stripping) saling berimpitan dengan garis y = x disebut
dengan refluk total (total reflux), pada kondisi ini akan memberikan jumlah stage
minimum.
Pada saat rasio refluk menjadi tidak terhingga menghasilkan jumlah
minimum stage, atau garis operasi rectifying dan stripping saling berimpitan pada
garis y = x sehingga membentuk sudut 45 kondisi ini disebut juga dengan total
refluk. Pada kondisi ini, semua kondensat dikembalikan kedalam kolom sebagai
refluk, tidak ada produk yang diambil serta tidak ada umpan yang masuk. Pada

48
saat start up, kolom-kolom distilasi sering kali dijalankan pada keadaan total
refluk hingga keadaan steady dicapai. Untuk menentukan berapa jumlah stage
minimum dari suatu pemisahan adalah dengan membuat stage yang dimulai dari
fraksi nol distilat (produk atas) dan berakhir pada fraksi mol produk bawah.
Kedua garis operasi berimpit pada garis y = x sehingga dihasilkan kurva pada
Gambar 6.6.

Gambar 6.6 Jumlah stage pada kondisi total refluks


Untuk menentukan jumlah stage minimum pada distilasi dua komponen
digunakan persamaan (5) berikut ini.
1
log( )
1
(9)
log
= ( )1/2 (10)
Katerangan :
Nm = Jumlah stage minimum
xD = Fraksi mol distilat (mol)
xW = Frasi mol bottom (mol)
av = Relative volatility rata-rata
D = Realative volatility distilat
W = Relative volatility di bottom

49
b. Reflux Ratio Minimum
Refluk memiliki peranan yang penting dalam sebuah pengoperasian
kolom. Seiring dengan naiknya nilai rasio refluk, maka jumlah stage yang
dibutuhkan akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya apabila nilai rasio refluk
semakin kecil maka jumlah stage yang dibutuhkan akan semakin banyak hingga
pada akhirnya jumlah stage akan menjadi tidak terhingga. Jumlah stage yang
tidak terhingga terjadi pada nilai rasio refluk minimum. Pada saat jumlah stage
tidak terhingga konsentrasi komponen pada liquid dan uap tidak mengalami
perubahan. Zona tidak terjadi perubahan ini disebut juga dengan zona invariant,
istilah lainnya adalah pinch point (titik pencekik), seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 6.7 berikut ini.

Gambar 6.7 Pinch Point pada Grafik McCabe-Thiele


Untuk menentukan reflux ratio minimum pada distilasi dua komponen
digunakan persamaa (11) berikut ini.

= (11)
+1
Keterangan :
Rm = reflx ratio minimum
xD = fraksi mol distilat (mol)
y = fraksi mol uap pada pinch point (mol)
x = fraksi mol cair pada pinch point (mol)

50
Umumnya reflux ratio minimum dapat terjadi oleh kondisi :
Perpotongan antara garis umpan (q-line) dengan kurva kesetimbangan
uap-cair dan dapat juga terjadi pada ketika garis operasi rectifying
menyinggung garis kesetimbangan uap-cair. Pada umumnya kondisi ini
terjadi pada jenis kurva kesetimbangan normal, q line mempunyai peranan
penting daripada kurva kesetimbangan.
Garis operasi rectifying menyinggung kurva kesetimbangan uap-cair, titik
singgung ditunjukkan oleh pinch point. Umumnya terjadi pada jenis kurva
kesetimbangan yang tidak normal, kurva kesetimbangan mempunyai
peranan penting dari pada q line.
2. Metode Fenske, Underwood, Gilliand
Jumlah stage minimum (Nm) untuk distilasi multi komponen dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan Fenske. Akan tetapi, hanya dua
komponen saja yang digunakan, yaiti heavy key (K) dan light key (LK). Rumus
perhitungannya adalah sebagai berikut:

(12)
Perhitungan menggunakan metode shortcut dapat digunakan untuk
membantu designer dalam menyelesaikan beberapa masalah secara cepat, seperti
menentukan kondisi optimum dan dapat juga digunakan untuk memperoleh
informasi tentang estimasi biaya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa
perhitungan dengan menggunakan metode shortcut.
a. Metode Shortcut untuk Reflux Ratio Minimum (Rm)
Pada distilasi multikomponen, terdapat dua pinch points, yaitu satu berada
di atas tray umpan dan satu lagi berada di bawahnya. Penentuan nilai Rm dengan
menggunakan metode plate-by-plate dengan cara trial and error membutuhkan
waktu yang cukup lama jika dihitung manual. Pada metode shortcut digunakan
persamaan Underwood untuk menghitung Rm menggunakan nilai rata-rata dan
mengasumsikan laju alir konstan di kedua bagian menara distilasi. Untuk
menentukan nilai reflux ratio minimum digunakan dua persamaan berikut.

51

1q= (13)

Keterangan :
= Relative Volatility untuk komponen i pada umpan
= Fraksi komponen i pada umpan
q = Perbandingan antara panas untuk menguapkan 1 mol umpan dengan
kalor laten umpan, keadaan q : kondisi/ wujud-wujud umpan pada proses
distilasi dapat dilihat pada Gambar 6.8 berikut ini.

Gambar 6.8 q-line berdasarkan nilai q pada kurva kesetimbangan


q = 0, Umpan pada kondisi titik embun, saturated vapour
q = 1, Umpan pada kondisi titik gelembung, saturated liquid
0 < q < 1, Umpan pada kondisi campuran uap dan cair
q > 1, Umpan pada kondisi dingin
q < 0, Umpan pada kondisi uap panas lanjut, superheated vapour

Rm + 1 = (14)

Keterangan :
= relative volatility untuk komponen i pada distilat
= fraksi komponen i pada distilat
Rm = reflux ratio minimum
Untuk menentukan nilai Rm, dilakukan trial and error untuk mencari nilai

52
. Nilai berada di antara dari light key component dan dari heavy key
component. Jika nilai sudah ditemukan maka nilai Rm bisa langsung dapat
diketahui.
b. Metode Shortcut untuk Jumlah Stage pada Reflux Ratio Operasi
(Rop)
Tahapan penting pada metode shortcut untuk menentukan jumlah stage
teoritis yang digunakan pada reflux ratio operasi (R) adalah dengan menggunakan
grafik dari Gilliand seperti pada Gambar 6.9.

Gambar 6.9 Grafik Gilliand antara reflux ratio dan jumlah stage
Reflux ratio operasi berhubungan dengan nilai Rm yang diperoleh
menggunakan metode Underwood, jumlah stage minimum (Nm) diperoleh
dengan menggunakan metode Fenske. Dari grafik diatas dapat diketahui jumlah
stage teoritis (N).

53
6.3 Hasil Perhitungan dan Pembahasan
Data yang diperoleh dari EOB 1 section 107 Methanol Recovery dengan
asumsi fatty alcohol dialirkan pada receiver F2 dan tidak terdestilasi sehingga
campuran dianggap biner.
Tabel 6.1 Data Kolom Distilasi D01 Section 107
Parameter Nilai
Laju Alir Umpan, F 2300 kg/jam
Komposisi Umpan Metanol 66 %
Fatty Alcohol 0.6 %
Air 33.4%
Temperatur Umpan Boiling Point
Tekanan Operasi Kolom Atmosfer
Kondensor Kolom Total Condensor
Reboiler Kolom Partial Reboiler
Komposisi Distilat , xD 99 % Metanol
1 % Air
Komposisi Bottom, xW 98.8% Air
0.2 % Metanol
1.0% Fatty Alcohol
Untuk merancang menara destilasi ada beberapa tahapan yang harus dicari
dan spesifikasi data yang diperlukan. Berikut adalah tahapan-tahapan untuk dalam
perancangan utuk menara destilasi, yaitu:
6.3.1 Menentukan Kondisi Operasi Atas dan Bawah Menara Distilasi
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dihitung neraca massa total dan
neraca massa komponen menggunakan persamaan berikut.
=+ (Geankoplis, 1993 Pers.11.4-3)
= + (Geankoplis, 1993 Pers.11.4-4)
Keterangan :
F = Laju alir umpan (kg/h atau mol/h)
D = Laju alir distilat (kg/h atau mol/h)
W = Laju alir bottom (kg/h atau mol/h)
XF = Fraksi umpan
XD = Fraksi distilat
XW = Fraksi bottom

54
Tabel 6.2 Neraca Massa D01

Feed distilat bottom


Senyawa
kg kmol kg kmol kg kmol
Methanol 1699.7 53.12 1469.03 45.91 48.97 1.53
Air 600.3 33.35 14.84 0.82 767.16 42.62
Jumlah 2300 86.47 1483.87 46.73 816.13 44.15
Untuk menentukan temperatur umpan maka perlu ditrial temperatur
bubble point feed pada tekanan operasi. Tekanan uap tiap komponen dihitung
dengan menggunakan persamaan:
log10(P) = A + B/T + C LogT + DT + ET2 (Yaws, 1996)
keterangan:
A, B, C,D, E = konstanta
P = tekanan uap komponen i (mmHg)
T = temperatur (K)
Konstanta untuk tiap tiap senyawa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6.3 Konstanta Tekanan Uap
Nama A B C D E
Metanol 45.6171 -3.2447x103 -13.988 6.6365 x10-3 -1.0507x10-13
Air 29.8605 -3.1522 x103 -7.3037 2.4247 x10-9 1.809x10-6
Sumber : Chemical Properties Handbook ; Carl L Yaws, 1996.
Menentukan temperatur bubble point umpan
Pada keadaan bubble point, menghitung fraksi mol uap menggunakan
persamaan:
Yi = (KiXi) = 1 (Abbott, 2005 Pers.10.10)
Keterangan :
yi = fraksi mol uap
Ki = Koefisien distribusi = Pi / P
xi = fraksi mol cair = ni/ntot
Dengan cara trial T pada tekanan operasi 1 atm hingga yi = 1 maka akan
diperoleh temperatur bubble point feed.

55
Tabel 6.4 Penentuan Bubble Point Feed

Feed Pi Yi
Senyawa K
kg kmol Xi atm Ki.Xi
Metanol 1518 47.44 0.52 1.55 1.55 0.81
Air 782 43.44 0.48 0.4 0.4 0.19
Jumlah 2300 86.47 1 1.95 1.95 1
P = 1 atm
T trial = 349.3 K
Menentukan temperatur dew point distilat
Pada keadaan dew point, xi = (yi/Ki) = 1. Dengan cara trial T pada
tekanan operasi hingga xi = 1 maka akan diperoleh temperatur dew point
distilat.
Tabel 6.5 Penentuan Dew Point Distilat

Distilat Pi Xi
Senyawa K
kg kmol Yi atm Yi/Ki
Metanol 1469.03 45.91 0.98 1.05 1.05 0.94
Air 14.84 0.82 0.02 0.27 0.27 0.06
Jumlah 1483.87 46.73 1 1.32 1.32 1
P = 1 atm
T trial = 343 K
Menentukan temperatur bubble point bottom
Pada keadaan bubble point, yi = (Ki x xi) = 1. Dengan cara trial T
pada tekanan operasi hingga yi = 1 maka akan diperoleh temperatur bubble
point bottom.
Tabel 6.6 Penentuan Bubble Point Bottom

Bottom Pi Yi
Senyawa K
kg kmol Xi atm Ki.Xi
Metanol 48.97 1.53 0.035 17.74 17.74 0.615
Air 767.16 42.62 0.965 0.4 0.4 0.385
Jumlah 816.13 44.15 1 18.14 18.14 1
P = 1 atm
T trial = 394.15 K

56
6.3.2 Menentukan Volatilitas Rata-rata
Light key component (LK) merupakan komponen yang lebih mudah
menguap yang akan dihasilkan pada distilat. Heavy key component (HK)
merupakan komponen yang lebih sulit menguap dan akan dihasilkan pada bottom
(Geankoplis, 1983). Pada perhitungan relative volatility selalu mengacu terhadap
heavy key component, untuk heavy key component sama dengan 1 sedangkan
untuk komponen yang lebih ringan dari heavy key component, memiliki lebih
besar dari 1 (Treybal, 1981).

= (Treybal, 1981 Pers. 9.163)

= (Geankoplis, 1983 Pers. 11.7-13)


Keterangan :
avg = Volatilitas relatif rata-rata
top = Volatilitas relatif pada distilat
bottom = Volatilitas relatif pada bottom
dengan mengunakan persamaan tersebut diperoleh nilai avg sebagai berikut
Tabel 6.7 Nilai avg Tiap Komponen
Senyawa top bottom avg
Metanol 3.85 44.5 13.08
Air 1 1 1
6.3.3 Mengecek Pemilihan Light Key Component (LK) dan Heavy Key
Component (HK) dengan Persamaan Shiras et. Al. pada Rm.
. ( 1) . ( ) .
= ( 1) .
+ ( 1) .
( Treybal, 1981 pers.9.164)
.

Batasan:
Komponen j tidak terdistribusi jika:
. .
< 0.01 < 1.01
. .
.
komponen j terdistribusi jika: 0.01 1.01
.

Tabel 6.8 Penentuan Distribusi Komponen

57
.
Senyawa xj, F xj, D Keterangan
.
Metanol 0.52 0.98 0.97 Terdistribusi
Air 0.48 0.018 0.024 Terdistribusi
Light Key : Metanol
Heavy Key : Air
6.3.4 Menghitung Jumlah Plate Minimum dengan Persamaan Fenske

log[( )( )]

= (Coulson, 2005 Pers.11.58)
log

Keterangan :
Nm : Jumlah Plate Minimum
XLX : Fraksi Mol Light Key
XHK : Fraksi Mol Heavy Key
avg LK : Relatif volatilitas Light Key rata-rata
0.98 0.965
log [(0.018) 1483.87 ( ) 816.13]
= 0.035
log 13.08
= 8.3 = 9
6.3.5 Menghitung Rasio Refluks Minimum dengan Persamaan Colburn &
Underwood
Persamaan yang digunakan untuk menentukan refluks minimum adalah
dengan persamaan underwood :
.
= 1 (Coulson, 2005 Pers.11.61)

Untuk menghitung nilai refluks minimum dicari dengan cara trial sampai
diperoleh nilai persamaan diatas sama dengan nol.
.
= + 1 (Coulson, 2005 Pers.11.60)

Keterangan:
i = Relatif volatilitas rata-rata komponen i
X i,F = Fraksi mol komponen i dalam feed, q nilainya tergantung kondisi umpan
X i,D = Fraksi mol komponen i dalam distilat
Rm = Rasio refluks minimum
R = Refluks

58
.
Nilai ditrial hingga = 0 . nilai harus berada diantara nilai volatilitas

relatif komponen LK dan HK.


Tabel 6.9 Hasil Trial Nilai
Senyawa avg Xi, F avg.Xi,F i Xi.F / (i-)
Metanol 13.08 0.52 6.83 0.605
Air 1 0.48 0.48 -0.605
Jumlah 14.08 1 7.31 0
= 1.79
Tabel 6.10 Hasil Perhitungan Rm
Senyawa avg Xi, D avg.Xi,D i Xi.D / (i-)
Metanol 14.41 0.98 12.85 1.14
Air 1 0.02 0.02 -0.022
Jumlah 15.41 1 12.87 1.118
.
= + 1

1.118 = + 1
= 1.118 1
= 0.118
R operasi berkisar antara 1.2 -1.5 Rm (Geankoplis, 1993)
Dipilih R operasi = 1.4 Rm
Sehingga R operasi = 1.4 (0.118) = 0.162
6.3.6 Penentuan Jumlah Stage Ideal
0.162
= = 0.14
+ 1 1.162
0.118
= = 0.104
+ 1 1.118
Dari gambar 6.1 diperoleh :

= 0.2

8
= 0.2 = 41.5266 = 42 (tidak termasuk reboiler)

59
Gambar 6.10 Erber-Maddox Correlation
6.3.7 Penentuan Efisiensi Plat
Untuk menentukan viskositas rata-rata maka diperlukan data viskositas
masing-masing senyawa. Viskositas tiap komponen dihitung dengan
menggunakan persamaan:
Log 10 n Liq = A+B/T+CT+DT2 (Yaws, 1996)
n liq = Viskositas liquid, centipoise
A, B, dan C = Koefisien regresi
T = Temperatur, K
Konstanta untuk tiap tiap senyawa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6.11 Konstanta Viskositas Liquid
Nama A B C D @25oC
Methanol -9.0562 1.2542x103 2.2383x10-2 -2.3583x10-5 0.539
Air -10.2158 1.792x103 1.7730x10-2 -1.2631x10-5 0.911
Sumber : Chemical Properties Handbook ; Carl L Yaws, 1996.

60
Tabel 6.12 avg Produk Atas D01
distilat
Senyawa yD/D
kg kmol Yj, D , D
Metanol 1469.03 45.91 0.98 0.319 3.08
Air 14.84 0.82 0.02 0.0237 0.744
jumlah 1483.87 46.73 1 3.824
1
= = = 0.261
3.824


Tabel 6.13 avg Produk Bawah D01
Bottom
Senyawa yW/W
kg kmol Yj, W , W
Metanol 48.97 1.53 0.035 6.84x10-5 506
-2
Air 767.16 42.62 0.965 1.61x10 6
jumlah 816.13 44.15 1 566
1
= = = 0.00177
0.0162


=

= 0.2610.00177
= 0.02147
LK, avg = 13.08
LK, avg x avg = 13.08 x 0.02147 = 0.28084

Gambar 6.11 Effisiensi kolom (Chopey, 2004)


42
= = 0.81 = 51.3 = 52 (tidak termasuk reboiler)

61
6.3.8 Menentukan Lokasi Feed Plate dengan Persamaan Kirkbride
. . 2
log ( ) = 0.206 log [ ( . ) ( .) ] (Coulson, 2005 Pers. 11.62)

Keterangan :
B : laju alir molar bottom (kmol/jam)
D : laju alir molar distilat (kmol/jam)
(X LK, XHK)F : fraksi mol light key dan heavy key di feed
XLK, B : fraksi mol light key di bottom
XHK, D : fraksi mol heavy key di distilat
Nr : Number of stage di atas feed
Ns : Number of stage di bawah feed

D = 46.73 kmol/jam X HK F = 0.39


B = 44.15 kmol/jam X LK F = 0.61
X HK D = 0.01764
X LK B = 0.035
Berdasarkan persamaan tersebut diperoleh :

= 1.25

= 1.25
Jumlah plate tidak termasuk reboiler adalah 42 plate
Nr + Ns = N
Nr + Ns = 42 plate
42
=
1 + 1.25
Ns = 18.5 = 19 plate

62
6.4 Kesimpulan dan Saran
6.4.1 Kesimpulan
1. Cd
2. Dfs
3. Fd

6.4.2 Saran

63
DAFTAR PUSTAKA

Abbott, J.M. Smith, H.C. Van Ness, M.M. 2005. Introduction to chemical
engineering thermodynamics ed. 7th ed. Montreal: McGrawHill.
Boston.
Budiawan, R. Zulfansyah, W. Fatra dan Z. Helwani. 2103. Off-grade Palm Oil
as A Reneweble Raw Material for Biodiesel Production By Two-Step
Process. ChESA Conference, 7, 40-50
Chopey, P. Nicholas. 2004. Handbook Of Chemical Engineering Calculations,
3rd Ed. McGrawHill. New York.
Christyananta, 2012, Pembuatan Operator Training Simulator Proses Distilasi
Pada Pabrik Petrokimia Menggunakan Dcs Centum Cs3000 Yokogawa,
Perpustakaan Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Coulson, J.M. And J.F, Young. 2005, Chemical Engineering Design, Vol. 6, 4th
ed, Pergamon Press, Oxford.
Condea, 2000, All About Fatty Alcohol,
https://www.researchgate.net/file.PostFileLoader.html?id, Diakses tanggal
09 Mei 2017.
Geankoplis, C.J. 1983, Transport Processes and Unit Operations, 3rd Ed.
Prentice Hall International. London.
Kemenperin. 2014. Profil Industri Oleokimia Dasar dan Biodisel. Kementrian
Perindustrian Republik Indonesia. Jakarta.
Ketaren, S., 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan,
Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta.
Konwar,L.J.,J. Boro dan D.Deka,2014. Review On Latest Development In
Biodiesel Production Using Carbon-Based Catalyst, Renewable Energy,
29,546-564.
Perdana, F.K dan Ibnu Hakim, 2009, Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak
dan Soda Q Sebagai Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q,
http://eprints.undip.ac.id, Diakses tanggal 2 Mei 2017.

Schuchardt, Ulf, Shercheli, Ricardo & Rogerio Matheus Vargas, 1998,


Transesterification of Vegetable Oils, Instituto de Quimica,
Universidade Estadual de Campinas, Brazil.
Sunarko, 2006, Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit, PT.
Agromedia Pustaka, Jakarta.

64
Sonntag, 1981. Fat Splitting, Esterification and Interesterifiation. Dalam
Baileys Industrial Oil and Fat Products. John Wiley and Sons.
Newyork.
Treybal, R.E. 1981. Mass-Transfer Operations, 3rd ed. McGraw-Hill Book
Company. Singapore.
Yaws, C. L .1996. Chemical Properties Handbook. Texas. Printed in Chemical
Engineering Lamar University.

65