Anda di halaman 1dari 8

PROBLEM SOLVING CYCLE

1. Identifikasi Masalah

2. Penentuan Prioritas Masalah


A. Metode Kuantitatif
B. Metode Kualitatif
a. Metode Delphi
Menurut Dilworth (1992), Metode Delphi adalah sebuah alat sistematis untuk
mendapatkan konsensus dari sebuah kelompok ahli (panel). Setiap anggota
kelompok ahli justru dijaga independensinya, sehingga setiap anggota bebas
dalam mengemukakan pendapat. Metode Delphi diharapkan akan
mendapatkan pendapat, konsensus atau masalah secara kualitatif. Koordinator
kelompok ahli biasanya akan menanyakan suatu permasalahan kepada setiap
anggota kelompok dengan mengedarkan kuesioner.
Delphi merekomendasikan empat langkah penerapan metode ini, yaitu:
Issue dan pertanyaan yang diajukan kepada para ahli untuk di formulasi
Pertanyaan atas issue ini disampaikan kepada partisipan yang
memberikan respon tanpa diketahui namanya.
Memungkinkan respon berasal dari opini para ahli atau gabungan
Respon mendeteksi suatu konsensus atau tetap kalau opini yang
divergent.

Langkah langkah metode ini adalah sebagai berikut :


Seleksi anggota kelompok yang terdiri dari 6 10 orang
Masing masing anggota mengajkan pendapat sesuai dengan kuisioner
yang dibagikan.
Hasil pendapat masing masing anggota dihitung, kemudian dibagi
seluruh anggota, untuk dibandingkan pendapatnya dengan pendapat yang
lain.
Proses berulang kali melalui pembahasan, perbaikan dan penjelasan
yang akhirnya dapat dicapai kesepakatan.

b. Metode Diskusi atau Brainstorming Technique


Merupakan metode yang paling efektif untuk mengidentifikasi masalah,
penyebab masalah serta mengajukan solusi sebagai alternatif pmecahan
masalah. Metode ini ditemukan oleh Alex Osborn (1930). Dalam pendekatan
pemecahan masah (problem solving cycle) brainstorming berguna untuk
mengidentifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, menentukan penyebab
masalah dan usulan solusi pemecahan masalah.
Ketentuan pelaksanaan brainstorming meliputi beberapa cara sebagai berikut :
Pelaksanaannya tidak ada kritikan. Partisipan berhak mengeluarkan ide
dan komentar tanpa takut dikritik oranglain.
Bebas berpendapat, merupakan upaya kebebasan mengeluarkan ide
tanpa proses editing terlebih dahulu, sehingga kadang kala keluar ide
yang tidak logis, dan kurang berbobot.
Dapatkan mutu. Dengan banyaknya partisipan menyampaikan ide dan
pendapat, maka diharapkan akan diperoleh berbagai ide yang lebih
bermutu.
Menemukan ide yang cemerlang, dengan adanya berbagai ide yang
dilontarkan, maka tim peneliti atau analisis dapat menseleksi untuk
dikembangkan atau dilaksanakan
Menyatukan ide silang, yaitu menggunakan ide oranglain dalam rangka
membangun gagasan ide baru, sehingga tercipta ide yang terbaik.

Langkah langkah metode ini adalah sebagai berikut :


Tentukan topik yang akan di brainstorming
Tentukan peraturan brainstorming sehingga semua memahami
prosedur yang akan dilaksanakan
Pemanasan dalam rangka pencairan suasana
Pilih sukarelawan untuk menulis semua ide pada flip chart atau papan
tulis yang telah ada.
Penampilan ide dimulai
Pertahankan momentum untuk mengeluarkan berbagai ide yang bebas
dan bertanggung jawab.
Cairkan suasana sampai keluar kreativitas
Apabila suasana memanas, coba bangunkan ide yang terseleksi
sehingga diperoleh ide diatasnya.
Rumuskan berbagai ide yang baik.

c. Metode Brainwriting
Peserta 6-8 orang dengan keahlian dan latar belakang pendidikan dan
pengalaman yang relatif sama atau setara.
Pimpinan diskusi mengajukan masalah pada secarik kertas dan
diletakkan di atas kertas.
Semua peserta membacanya kemudian menuliskan pendapatnya pada
pada kertas-kertas yang ada. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai
lengkap.
Kertas-kertas dibagikan lagi, kemudian peserta menambah atau
mengurangi pendapatnya.
Semua pendapat ditulis di kertas atau di papan tulis kemudian
didiskusikan untuk dicari pendapat yang terbanyak
d. Metode Hanlon (Kualitatif)
Metode Hanlon (Kualitatif) ini lebih efektif dipergunakan untuk masalah
yang bersifat kualitatif dan data atau informasi yang tersediapun bersifat
kualitatif miaslkan peran serta masyarakat, kerja sama lintas program, kerja
sama lintas sektor dan motivasi staf. Prinsip utama dalam metode ini adalah
membandingkan pentingnya masalah yang satu dengan yang lainnya dengan
cara matching.
Langkah-langkah metode ini adalah sebagai berikut:
Membuat matriks masalah
Menuliskan semua masalah yang berhasil dikumpulkan pada sumbu
vertikal dan horisontal.
Membandingkan (matching) antara masalah yang satu dengan yang
lainnya pada sisi kanan diagonal dengan memberi tanda (+) bila masalah
lebih penting dan memberi tanda (-) bila masalah kurang penting.
Menjumlahkan tanda (+) secara horisontal dan masukan pada kotak total
(+) horisontal.
Menjumlahkan tanda (-) secara vertikal dan masukan pada kotak total (-)
vertikal.
Pindahkan hasil penjumlahan pada total (-) horisontal di bawah kotak (-)
vertikal.
Jumlah hasil vertikal dan horisontal dan masukan pada kotak total.
Hasil penjumlahan pada kotak total yang mempunyai nilai tertinggi
adalah urutan prioritas masalah.
Kriteria untuk menentukan kepentingan masalah satu dengan masalah lainnya,
dapat digunakan kriteria USG.
Skoring Indikator (USG) sbb :
Mendesaknya (Urgency) :Lebih menekankan soal waktu. Bila tidak
segera ditanggulangi akan menimbulkan akibat yang lebih serius.
Kegawatannya (Seriousness) : Besar/kecilnya akibat masalah ini bagi
masyarakat. Dapat juga diganti dengan kriteria Kemudahan :
mudah/tidaknya masalah tersebut diatasi.
Penyebarannya (Growth) : Semakin banyak penduduk atau semakin
luas wilayah yang terkena, menjadi semakin penting.

3. Penentuan Penyebab Masalah


A. H.L. Bloom
B. FGD (Focus Group Discussion)
Tahapan pelaksanaan:
Siapkan peralatan yang digunakan misalnya tape recorder, alat tulis dan
lain-lain
Tentukan kelompok diskusi, satu kelompok sekitar 8 10 orang.
Tentukan kesepakatan prosedur diskusi yang akan dilakukan bersama
Tentukan topik diskusi
Bina suasana yang kondusif, agar lebih hidup dan mencair.
C. Fish bone
Tahapan pelaksanaan:
Gambarkan garis besar sebagai tulang ikan yang menggambarkan sebab-
akibat
Tentukan karakteristik permasalahan dan tulis disebelah kanan kotak
Tulis pada tulang utama faktor resiko yang paling mempengaruhi sebagai
penyebab timbulnya permasalahan.
Selanjutnya, mencari faktor penyebab pada faktor risiko utama dan
cantumkan pada tulang sedang demikian juga penyebab pada lapisan
ketiga
Secara sederhana faktor risiko tersebut disusun dalam fishbone dibawah
ini.

4. Prioritas Penyebab Masalah

5. Menentukan Alternatif Pemecahan Masalah

6. Prioritas Pemecahan Masalah


Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan
penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif
pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks
menggunakan rumus M x I x V / C.
Penyelesaian masalah sebaiknya memenuhi kriteria, sebagai berikut :
A. Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program:
Magnitude ( m ) : Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan.
Importancy ( I ) : Pentingnya cara penyelesaian masalah
Vulnerability ( v ) : Sensitivitas cara penyelesaian masalah
Kriteria m, I, dan v kita beri nilai 1-5. Bila makin magnitude maka nilai nya
makin besar, mendekati 5. Begitu juga dalam melakukan penilaian pada
kriteria I dan v.
B. Efisiensi pogram
Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cost)
Kriteria cost (c) diberi nilai 1-5. Bila cost nya makin kecil, maka nilainya
mendekati 1.
Contoh kasus
Masalah : seseorang datang ke tempat kita dalam keadaan basah kuyup,
diharapkan hal ini tidak terjadi lagi bila orang tsb. datang ke tempat kita.
Pernyataan masalah : basah kuyup.
Kemungkinan penyebab :
Kena hujan.
Kecipratan air.
Kecebur got
Habis mandi
Penyebab yang paling mungkin (setelah konfirmasi) :
Kena hujan.
Kecipratan air.

Kesimpulan : Jadi berdasar perhitungan kriteria matriks diatas maka kita cukup
memecahkan masalah dengan memakai pilihan Pemakaian jas hujan

7. Penyususnan Rencana
Setelah pemecahan masalah terpilih ditentukan, langkah selanjutnya adalah
menentukan kegiatan kegiatan dalam rangka pemecahan masalah. Rencana
penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA ( Plan Of Action) atau
rencana kegiatan.

8. Monitoring dan evaluasi


Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah yang
sedang dilaksanakan sudah diterapkan dngan baik dan menyangkut masalah itu
sendiri, apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan.
1. Epidemik / wabah : peristiwa terjadinya sejumlah penderita suatu penyakit dengan sifat
sifat atau hampir sama dalam suatu masyarakat atau hampir sama dalam suatu masyarakat
atau hampir sama dalam suatu masyarakat atau daerah tertentu, yang jelas berbeda dengan
perkiraan jumlah penderita yang biasa terdapat dan berasal dari suatu sumber terbesar.
Atau merupakan suatu penyakit menular di masyarakat dengan jumlah penderita yang
meningkat secara nyata melebihi angka lazim pada waktu dan daerah tertentu yang
ditetapka oleh Mentri.
Contoh : Cholera.
2. Endemik : Suatu keadaan berjangkitnya prevalensi suatu penyakit yang terjadi sepanjang
tahun dengan frekuensi rendah di suatu tempat.
Contoh : Malaria, Kaki Gajah