Anda di halaman 1dari 17

MANAJEMEN PEMBIBITAN SAPI POTONG

A. Latar Belakang

Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi yang memiliki peran yang sangat

penting dan strategis dalam upaya meningkatkan jumlah dan mutu produksi ternak, dan sebagai

salah satu faktor dalam penyediaan pangan asal ternak yang berdaya saing tinggi. Untuk dapat

menghasilkan bibit ternak yang unggul dan bermutu tinggi diperlukan proses manajemen

pemeliharaan, pemuliabiakan (breeding), pakan dan kesehatan hewan ternak yang terarah dan

berkesinambungan.

Produksi bibit ternak tersebut diarahkan agar mampu menghasilkan bibit ternak yang

memenuhi persyaratan mutu untuk didistribusikan dan dikembangkan lebih lanjut oleh instansi

pemerintah, masyarakat maupun badan usaha lainnya yang memerlukan dalam upaya

pengembangan peternakan secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Populasi sapi potong tiga tahun terakhir di Sulawesi Tenggara pada tahun 2009 sebanyak

253.171 ekor, 2010 268.138 ekor, dan 2011 sebanyak 213.736 ekor. Berdasarkan data tersebut

terlihat adanya fluktuasi populasi. Tahun 2009 sampai 2010 mengalami peningkatan, tetapi pada

tahun 2010 sampai 2011 mengalami penurunan. Sehingga rata-rata pertumbuhan sapi potong

tiap tahunnya menurun sebesar 7,18%. Hal ini disebabkan karena manajemen pemeliharaan

yang kurang baik, sistem penggemukan yang kurang berkembang, kualitas pakan yang masih

rendah dan tingginya angka pemotongan betina produktif, sehingga mengakibatkan

perkembangan populasi sapi potong menjadi terhambat (BPS Sultra, 2012).

Sulawesi Tenggara memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan pembangunan

peternakan terutama sapi potong. Hal ini didukung dengan sumber daya alam dengan areal lahan
yang masih relatif luas (38.140 km2) untuk padang pengembalaan, serta limbah pertanian dan

perkebunan yang belum dimanfaatkan secara optimal (BPS Sultra, 2012).

A. Tujuan dari makalah ini adalah:

Sebagai Pedoman teknis dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan sapi potong agar

diperoleh bibit sapi potong yang memenuhi persyaratan teknis minimal dan persyaratan

kesehatan hewan.

1. Sarana dan prasarana;

2. Pemeliharaan

3. Proses produksi bibit

PEMBAHASAN

A. Definisi
Pemuliaan adalah merupakan suatu usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu
genetik ternak melalui pengembanganbiakan ternak-temak yang memiliki potensi genetik yang
baik sehingga diperoleh kinerja atau potensi produksi yang diharapkan.
Sedangkan arti pembibitan adalah suatu tindakan peternak untuk menghasilkan ternak
bibit, dimana yang dimaksud dengan temak bibit adalah ternak yang memenuhi persyaratan dan
karakter tertentu untuk dikembangbiakan dengan tujuan standar produksi /kinerja yang
ditentukan.

B. Bangunan dan Peralatan


1. Untuk pembibitan sapi potong sistem semi intensif diperlukan bangunan dan peralatan sebagai
berikut:
a) Bangunan
Kandang yang dapat menampung dan melindungi ternak pada malam hari atau selesai
digembalakan. Pemagaran kandang dapat dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah dan
daya tampung.
Halaman sekitar kandang (Cattle Yard) yaitu bagian dari kandang yang dapat digunakan untuk
tempat sapi berjalanjalan, tempat mengawinkan, penanganan sapi dalam hal vaksinasi, bongkar
muat, dan sebagainya.
b) Peralatan
Tempat pakan dan tempat minum yaitu; berupa bak dari beton berukuran tinggi 60cm, lebar 60
cm dan panjang sesuai panjang kandang, atau dapt pula menggunakan drum plastik.
Peralatan kebersihan kandang, seperti; sekop, sapu lidi, sikat lantai, ember untuk membersihkan
kandang dan keperluan lainnya.
Peralatan penanganan ternak seperti tambang pengikat ternak yaitu agar ternak mudah
dikendalikan.
2. Untuk pembibitan sapi potong sistem pemeliharaan intensif diperlukan bangunan, peralatan,
persyaratan teknis dan tataletak kandang yang memenuhi persyaratan yaitu sebagai berikut:
a) Bangunan:
kandang pemeliharaan;
kandang isolasi;
gudang pakan dan peralatan;
unit penampungan dan pengolahan limbah.
b) Peralatan:
tempat pakan dan tempat minum;
alat pemotong dan pengangkut rumput;
alat pembersih kandang dan pembuatan kompos;
peralatan kesehatan hewan.
c) Persyaratan teknis kandang:
konstruksi harus kuat;
terbuat dari bahan yang ekonomis dan mudah diperoleh;
sirkulasi udara dan sinar matahari cukup;
drainase dan saluran pembuangan limbah baik, serta mudah dibersihkan;
lantai rata, tidak licin, tidak kasar, mudah kering dan tahan injak;
luas kandang memenuhi persyaratan daya tampung; setiap ekor sapi memerlukan ruang 2 m x 1,5
m
kandang isolasi (kandang untuk memisahkan ternak yang sakit) dibuat terpisah.
d) Letak kandang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
alat angkutan dapat masuk ke sekitar kandang;
lingkungan kandang kering dan tidak tergenang saat hujan;
dekat sumber air;
cukup sinar matahari, kandang tunggal menghadap timur, kandang ganda membujur utara-selatan;
tidak mengganggu lingkungan hidup;
memenuhi persyaratan kebersihan dan kesehatan lingkungan
C. Bbit
1. Klasifikasi bibit
Bibit sapi potong diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:
a) bibit dasar (elite/foundation stock), diperoleh dari proses seleksi rumpun atau galur yang
mempunyai nilai pemuliaan di atas nilai rata-rata;
b) bibit induk (breeding stock), diperoleh dari proses pengembangan bibit dasar;
c) bibit sebar (commercial stock), diperoleh dari proses pengembangan bibit induk.
2. Standar mutu bibit
Untuk menjamin mutu produk yang sesuai dengan permintaan konsumen, diperlukan bibit
ternak yang bermutu, sesuai dengan persyaratan teknis minimal setiap bibit sapi potong sebagai
berikut:
a) Persyaratan umum bibit:
Sapi bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti cacat mata (kebutaan), punggung
atau cacat tubuh lainnya;
Semua sapi bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak
menunjukkan gejala kemandulan;
Sapi bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya.
b) Persyaratan khusus:
Persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk masingmasing rumpun sapi yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Persyaratan Bibit Sapi Bali
Cirri-ciri Tubuh Ukuran Tubuh
- Warna bulu putih merah pada betina, Betina umur 18-24 bulan
sedangkan pada jantan warnanya hitam Tinggi gumba:
- Lutut ke bawah putih Kelas I minimal 138 cm;
- Pantat putuh berbentuk setengah bulat Kelas II minimal 105 cm;
- Ujung ekor hitam dan ada garis belut Kelas III minimal 107 cm.
warna hitam pada punggung Panjang badan:
- Tanduk tumbuh baik dan berwarna Kelas I minimal 147 cm;
hitam Kelas II minimal 109 cm;
- Bentuk kepala lebar Kelas III minimal 113 cm.
- Leher kompak dah kuat

Tabel 2. Persyaratan Bibit Sapi Peranakan Ongole (PO)


Cirri-ciri Tubuh Ukuran Tubuh
- Warna bulu putih keabu-abuan Betina umur 18-24 bulan
- Kipas ekor (bulu cambuk ekor) dan bulu Tinggi gumba:
sekitar mata berwarna hitam; Kelas I minimal 116 cm;
- Badan besar, gelambir longgar Kelas II minimal 113 cm;
bergantung; Kelas III minimal 111 cm.
- Punuk besar; Panjang badan:
- Leher pendek; Kelas I minimal 124 cm;
- Tanduk pendek. Kelas II minimal 117 cm;
Kelas III minimal 115 cm.

D. Pakan
1. Setiap usaha pembibitan sapi potong harus menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya, baik
jumlah maupun kualitasnya.
2. Pakan dapat berasal dari pakan hijauan, maupun pakan konsentrat.
3. Pakan hijauan dapat berasal dari rumput, leguminosa (kacangkacangan), sisa hasil (limbah)
pertanian dan dedaunan.
4. Pakan konsentrat yaitu pakan tambahan yang berasal dari campuran bahan seperti dedak padi,
tepung jagung, tepung gaplek, bungkil kelapa, bungkil kedele, ampas tahu, onggok dan lain-lain.
Pakan konsentrat mengandung kadar serat rendah dan kadar energy yang cukup tinggi tinggi
5. Setiap ekor sapi memerlukan pakan hijauan segar sekitar 10 % dari berat tubuhnya. Sebagai
contoh sapi seberat 350 kg memerlukan hijauan segar seberat 35 kg dan konsentrat sekitar 1 2
% dari bobot tubuhnya atau sekitar 3,5 7 kg. (Hardianto dan Sunandar, 2009, Mathius dan
Togatorop, 1993)
6. Kadar protein pakan yang diperlukan sekitar 13 15 %
7. Perbaikan kualitas hijauan pakan dapat juga dilakukan dengan menambahkan daun kacang-
kacangan seperti daun cebreng/gamal (glirisidia), daun kaliandra, daun dan buah lamtoro, daun
turi, jerami kacang tanah, sisa panen kacang panjang dengan perbandingan sesuai keadaan ternak
sapi.
8. Pakan sapi potong untuk pembibitan perlu memiliki keiseimbangan kandungan antara serat,
Protein, energi dan mineral.
9. Air minum harus selalu tersedia di kandang (ad-libitum).
Gambar Hijauan Pakan Ternak Sapi Potong yang berkualitas tinggi
(kacang-kacangan/Leguminosa)

Daun Kacang-kacangan merambat (Centrosema sp)

Tabel 3. Campuran Bahan Pakan Kosentrat untuk Sapi Potong

Komposisi Bahan Protein Kasar Total Protein


No Bahan
% % %
1 Dedak Padi 60 10 6,0
2 Bungkil kelapa 5 22 1,1
3 Bungkil Inti Sawit 20 24 4,8
4 Dedak jagung 12 9 1,1
5 Mineral 2 - -
6 Garam dapur 1 - -
Jumlah 13
Sumber : Petunjuk Teknis Penelitian Dan Pengkajian Nasional Peternakan dan Perkebunan. Balai Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian, Departemen Pertanian .2003
http:// bp2tp.litbang.deptan.go.id/fi le/juknis_nak_bun.pdf

Tabel 4. Perbandingan Campuran Rumput/Jerami dengan Daun Kacang-kacangan (Leguminosa).

Ststus fi siologis Rumput/jerami % Daun Kacang-kacangan


%
Jantan dewasa 75 25
Induk bunting 60 40
Induk menyusui 60 40

A. Obat Hewan
1. Obat untuk ternak sapi potong yang dapat disediakan oleh peternak yaitu obat cacing, obat luka
seperti yodium tincture, desinfektans seperti alkohol, lisol dan obat alami.
2. Obat ternak sapi potong yang dipergunakan seperti bahan kimia dan bahan biologik harus
memiliki nomor pendaftaran. Untuk sediaan obat alami seperti ramuan jamu hewan tidak
dipersyaratkan memiliki nomor pendaftaran.
3. Penggunaan obat keras harus di bawah pengawasan dokter hewan (penyuluh) sesuai ketentuan
peraturan perundang-udangan yang berlaku di bidang obat hewan.
B. Tenaga Kerja
1. Jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan
- pada pembibitan sapi potong dengan sistim intensif (dikurung), setiap satu orang/hari kerja,
untuk 5 ekor sapi dewasa
- pada pembibitan sapi potong dengan sistem gembala, setiap satu orang/hari kerja, untuk 10-20
ekor sapi dewasa
2. Perlu dilatih agar mempunyai pemahaman teknis dan keterampilan dalam pembibitan sapi
potong.

C. Pemeliharaan
Dalam pembibitan sapi potong, pemeliharaan ternak dapat dilakukan dengan sistim
pastura (penggembalaan), sistim semi intensif, dan sistim intensif.
1. Sistem pastura yaitu pembibitan sapi potong yang sumber pakan utamanya berasal dari padang
penggembalaan yang dikelola dengan baik. Pastura dapat merupakan milik perorangan, badan
usaha atau kelompok peternak.
2. Sistem semi intensif yaitu pembibitan sapi potong yang menggabungkan antara sistem pastura
dan sistem intensif. Pada sistem ini dapat dilakukan pembibitan sapi potong dengan cara
digembalakan untuk memenuhi kebutuhan pakannya dan pada malam hari dikandangkan.
3. Sistem intensif yaitu pembibitan sapi potong dengan pemeliharaan di kandang. Pada sistem ini
kebutuhan pakan disediakan penuh di kandang.

D. Tujuan Produksi Pembibitan


Berdasarkan tujuan produksinya, pembibitan sapi potong dikelompokkan ke dalam
pembibitan sapi potong bangsa/rumpun murni dan pembibitan sapi potong persilangan.
1. Pembibitan sapi potong bangsa/rumpun murni, yaitu perkembangbiakan ternaknya dilakukan
dengan cara mengawinkan sapi yang sama bangsa/rumpunnya.
2. Pembibitan sapi potong persilangan, yaitu perkembangbiakan ternaknya dilakukan dengan cara
perkawinan antar ternak dari satu spesies tetapi berlainan rumpun.

E. Perkawinan
Perkawinan dapat dilakukan jika terdapat tanda-tanda induk sapi betina birahi. Tanda-
tanda birahi yang umum adalah :
1. Alat kelamin induk sapi betina agak bengkak
2. Alat kelamin induk sapi betina berwarna agak kemerahan
3. Alat kelamin induk sapi betina suhunya agak hangat
4. Alat kelamin induk sapi betina mengeluarkan lender bening
5. Nafsu makannya menurun
6. Gelisah, kadang-kadang menggesek-gesekan bagian belakan tubuhnya, kadang -kadang
melenguh (bersuara, berteriak) dan menghentak-hentakkan kakinya
7. Menaiki ternak lainnya atau diam bila dinaiki.
Apabila terlihat tanda-tanda ini, maka segera mencarikan sapi pejantan untuk mengawini
secara kawin alam, atau menghubungi inseminator.
Dalam upaya memperoleh bibit yang berkualitas melalui teknik perkawinan dapat
dilakukan dengan cara kawin alam atau Inseminasi Buatan (IB).
1. Pada kawin alam perbandingan jantan : betina diusahakan 1:8-10.
2. Perkawinan dengan Inseminasi Buatan memakai semen beku SNI 01.4869.1-2005 atau semen,
cair dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya dan dinyatakan bebas dari penyakit hewan
menular yang dapat ditularkan melalui semen.
3. Dalam pelaksanaan kawin alam atau Inseminasi Buatan harus dilakukan pengaturan penggunaan
pejantan atau semen untuk menghindari terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding).

F. Persilangan
Persilangan yaitu salah satu cara perkawinan, perkembangbiakan ternaknya dilakukan
dengan cara perkawinan antara sapi-sapi dari satu spesies yang berlainan rumpun. Untuk
mencegah penurunan produktivitas akibat persilangan, harus dilakukan menurut ketentuan
sebagai berikut:
1. Sapi induk rumpun kecil (sapi lokal, PO, Madura dan Bali) yang akan disilangkan harus
berukuran di atas standar atau setelah beranak pertama;
2. Komposisi darah sapi persilangan sebaiknya dijaga komposisi darah sapi temperatenya tidak
lebih dari 50%;
3. Prinsip-prinsip seleksi dan culling sama dengan pada rumpun murni.

G. Pencatatan (Recording)
Recording yaitu data atau catatan perkawinan yang dilakukan ternak sapi yang bertujuan
untuk menghindari perkawinan sedarah ( In Breeding ) sehingga kualitas keturunan sapi tersebut
menjadi turun, dan banyak terjadi kasus kematian sapi, kelahiran sapi dalam kondisi cacat.
Pencatatan (recording) tersebut meliputi:
1. Rumpun;
2. Silsilah;
3. Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam);
4. Kelahiran (tanggal, bobot lahir);
5. Penyapihan (tanggal, bobot badan);
6. Beranak kembali (tanggal, kelahiran);
7. Pakan (jenis, konsumsi);
8. Vaksinasi, pengobatan (tanggal, perlakuan/treatment);
9. Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak);

H. Seleksi Bibit
Seleksi bibit sapi potong dilakukan berdasarkan performan anak dan individu calon bibit
sapi potong tersebut, dengan mempergunakan kriteria seleksi sebagai berikut:
1. Calon Induk
a. calon induk harus subur dan dapat menghasilkan anak secara teratur;
b. anak jantan maupun betina tidak cacat dan mempunyai rasio bobot sapih umur 205 hari
(weaning weight ratio) di atas ratarata. c. penampilan fenotipe (fi sik) sesuai dengan rumpunnya.
2. Calon Pejantan
a. bobot sapih di atas rata- rata;
b. bobot badan umur 205 dan 365 hari di atas rata-rata;
c. pertambahan bobot badan antara umur 1-1,5 tahun di atas rata-rata;
d. libido dan kualitas spermanya baik;
e. penampilan fi sik tubuh (fenotipe) sesuai dengan rumpunnya.

I. Afkir (Culling)
Pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan bibit
(afkir/culling), dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Untuk bibit rumpun murni, 50% sapi bibit jantan peringkat terendah (pertumbuhan lambat, testis
tidak normal dan tidak simetris dan cacat lainnya) saat seleksi pertama (umur sapih) dikeluarkan
atau dijadikan bakalan untuk digemukkan dan dijual.
2. Sapi betina yang tidak memenuhi persyaratan sebagai bibit, dikeluarkan sebagai ternak afkir
(culling).
3. Sapi induk yang tidak produktip segera dikeluarkan.

J. Ternak Pengganti
Pengadaan ternak pengganti (replacement stock), dilakukan sebagai berikut:
1. Calon bibit betina dipilih 25% terbaik digunakan untuk induk pengganti (replacement), 10%
untuk pengembangan populasi kawasan, 60% dijual ke luar kawasan sebagai bibit dan 5% dijual
sebagai ternak afkir (culling);
2. Calon bibit jantan dipilih 10% terbaik pada umur sapih dan bersama calon bibit betina 25%
terbaik untuk dimasukkan pada uji performan.

K. Kesehatan Hewan
Untuk memperoleh hasil yang baik, pembibitan sapi perah harus memperhatikan
persyaratan kesehatan hewan yang meliputi:
1. Situasi penyakit
Pembibitan sapi potong harus terletak di daerah yang tidak terdapat gejala klinis atau bukti lain
tentang penyakit mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease), ingus jahat (Malignant Catarhal
Fever), Bovine Ephemeral Fever, lidah biru (Blue Tongue), radang limpa (nthrax), dan
keluron/keguguran menular (Brucellosis).
2. Pencegahan/Vaksinasi
a. Pembibitan sapi potong harus melakukan vaksinasi dan pengujian/tes laboratorium terhadap
penyakit tertentu yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang;
b. Mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam kartu kesehatan
ternak;
c. Melaporkan kepada Dinas yang membidangi fungsi peternakan dalam rangka pengamanan
kesehatan.
Setiap pembibitan sapi potong harus memperhatikan hal-hal tindak biosecurity sebagai
berikut:
1) Lokasi usaha harus terhindar dari binatang liar serta bebas dari hewan piaraan lainnya yang
dapat menularkan penyakit;
2) Lakukan pengendalian serangga seperti lalat dan serangga, lainnya;
3) Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak
lainnya, pekerja yang melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang
sehat;
4) Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang ternak yang memungkinkan
terjadinya penularan penyakit;
5) Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan tamu dipintu masuk
perusahaan;
6) Memisahkan (mengisolasi) ternak yang sakit ke kandang khusus
7) Mengkonsultasikan tindakan pecegahan atau pengobatan kepada petugas yang berwenang
8) Membakar atau mengubur bangkai ternak yang mati karena penyakit menular, dan
mendesinfeksi kandang bekas ternak sakit.

L. Jenis Bangsa Sapi


Bangsa (breed) sapi adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik tertentu yang
sama. Atas dasar karakteristik tertentu tersebut, mereka dapat dibedakan dari ternak lainnya
meskipun masih dalam spesies yang sama, karakteristik yang dimiliki dapat diturunkan ke
generasi berikutnya. Setiap bangsa sapi memiliki keunggulan dan kekurangan yang kadang-
kadang bias membawa risiko yang kurang menguntungkan.
Bangsa-bangsa sapi lokal yang berpotensi dikembangkan di Indonesia adalah sapi Ongole
(Sumba Ongole dan Peranakan Ongole), sapi Bali, dan sapi Madura disamping bangsa peranakan
hasil persilangan lainnya seperti Limosin ongole (Limpo) dan Simental Ongole (Simpo). Bangsa
sapi tersebut telah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan cengkaman wilayah
Indonesia.
Beberapa jenis sapi yang bagus untuk tuujuan usaha sapi potong, kususnya di Indonesia
yaitu: sapi PO, sapi Bali, sapi Madura, sapi PFH, sapi Limousin dan sapi Simental. jika kita
memilih jenis dan bangsa sapi harus juga melihat modal dan ketersediaan pakan. jika ketersedian
pakan di lingkungan sekitar dekat dengan home industri (tahu dan tempe), penggilingan padi,
tanaman palawija dan pasar maka sapi yang digunakan adalah sapi jenis limousin dan
simmental, sapi PO sangat bagus dilingkungan yang ketersedian pakan yang rendah (hanya bisa
memanfaatkan limbah pertanian). Sedangkan apabila lingkungan sekitar jauh dengan
ketersediaan pakan serta pergantian iklim yang ekstrim maka yang cocok untuk dikembangkan
yaitu sapi Bali, karena sapi ini tahan tahan terhadap cengkaman panas yang tinggi disamping itu
juga memiliki tingkat kesuburan yang baik, kemampuan libido pejantannya lebih unggul dan
persentase karkas tinggi yaitu (56%), dengan tatalaksana pemeliharaan yang baik, sapi Bali dapat
tumbuh-kembang dengan laju kenaikan bobot hidup harian yaitu 750g.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym,Pedoman Pembinitan Sapi Potong Yang Baik. Direktorat Jenderal Peternakan

Hardianto, R, 2008. Pakan Ruminansia. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian jawa Barat.
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Pertanian. Badan Litbang Pertanian

Hardianto dan Nandang Sunandar, 2009. Petunjuk Teknis Budidaya Sapi Potong. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian jawa Barat. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan
Pertanian. Badan Litbang Pertanian

Ismeth Inounu, dkk. 2008. Implementasi Peningkatan Populasi sapi betina Produktif : Dalam
Negeri dan Impor dalam Upaya Peningkatan populasi sapi Betina Produktif Di Indonesia.
Puslitbang Peternakan.

I.W. Mathius dan M.H. Togatorop. 1993. Bahan Pakan Dan Penyususnan Ransum Ternak
sapi Potong. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian Dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Mariyono dan Endang Romjali. 2007. Petunjuk Teknis Teknologi Inovasi Pakan Murah Untuk
Usaha Pembibitan Sapi Potong. Puslitbang Peternakan, badan Litbang Pertanian.
Departemen Pertanian

PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN SAPI LOKAL BETINA PRODUKTIF


KELOMPOK MEUDANG KUPULA DESA AMUD MESJID KECAMATAN
GLEUMPANG TIGA KABUPATEN PIDIE PROVINSI ACEH
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor peternakan memiliki peranan penting dalam kehidupan dan
pembangunan sumberdaya manusia Indonesia. Peranan ini dapat dilihat dari fungsi produk peternakan
sebagai penyedia protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia.
Oleh karenanya tidak mengherankan bila produk-produk peternakan disebut sebagai bahan
pembangun dalam kehidupan ini. Selain itu, secara hipotesis, peningkatan kesejahteraan masyarakat
akan diikuti dengan peningkatan konsumsi produk-produk peternakan, yang dengan demikian maka
turut menggerakkan perekonomian pada sub sektor peternakan. Namun demikian, kenyataannya
menunjukan bahwa konsumsi produk peternakan masyarakat Indonesia masih rendah. Padahal, abad ini
merupakan abad yang penuh persaingan dan pertarungan ketat dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi yang membutuhkan talenta kuat. Untuk memenangkan pertarungan ini maka dibutuhkan
manusia-manusia cerdas dan kuat. Hal ini biasa dipenuhi dengan konsumsi protein hewani yang
memadai. Rata rata konsumsi protein hewani baru 4,19 gram/kapita/hari. Menurut Direktorat
Jenderal Peternakan (2006), rata-rata konsumsi pangan hewani daging, susu dan telur masyarakat
Indonesia adalah 4,1 : 1,8 dan 0,3 gram/perkapita/hari. Angka konsumsi ini masih rendah bila
dibandingkan dengan standar minimal konsumsi protein yang telah ditetapkan oleh FAO, yaitu 6
gram/kapita/hari atau setara dengan konsumsi 10,3 kg daging/kapita/hari, 6,5 gram telur/kapita/tahun
dan 7,2 kg susu/kapita/tahun. Beranjak dari fakta di atas, maka untuk mendongkrak produksi dan
konsumsi produk peternakan yang dalam hal ini daging sangat diperlukan swasembada daging,
sebagaimana telah dicanangkan oleh pemerintah yaitu program percepatan pencapaian swasembada
daging tahun 2014. Impor ternak daging merupakan salah satu jalan pintas yang harus ditempuh untuk
memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek. Pada saat bersamaan harus juga dibangun pengembangan
peternakan sapi secara intensif dan secara terprogram. Untuk percepatan pencapaian swasembada
daging sapi tahun 2014 dapat ditempuh dengan beberapa langkah diantaranya yaitu optimalisasi
akseptor dan kelahiran Inseminasi Buatan (IB) dan Kawin Alami (KA), pengembangan Rumah
Pemotongan Hewan (RPH) dan pengendalian pemotongan ternak betina produktif, perbaikan mutu
genetic dan penyediaan bibit, penanganan gangguan reproduksi dan kesahatan hewan, intensifikasi
kawin alam, penggemukan ternak impor (jalan cepat), pengembangan pakan lokal, serta pengembangan
Kelompok Ternak dan kelembagaan. Disamping telah disebutkan, juga ada beberapa faktor yang sangat
menentukan keberhasilan swasembada daging yaitu. 1. Semakin luas dan banyaknya usaha pembibitan
ternak baik ruminansia maupun unggas 2. Adanya sinergi dan saling mendukung antara peternakan
rakyat yang swasta maupun Pemerintah 3. Masih belum memadainya lahan penggembalaan bagi
ternak-ternak yang dimiliki para petani dan pengusaha. Karenanya perlu melokasikan lahan-lahan tidur
untuk menjadi lahan penggembalaan. Secara umum dapat disebutkan, perbaikan performans terhadap
ternak potong meliputi perbaikan pakan (feeding), bibit (breeding) dan pemeliharaan (management).
Untuk menunjang ini semua, maka diperlukan penyediaan tenaga teknis dan ahli dalam bidang
peternakan. Peran instansi dan lembaga pendidikan terkait sangat dibutuhkan. Dengan adanya
perbaikan ketiga hal tersebut maka percepatan pertambahan populasi ternak melalui percepatan umur
beranak pertama dan memperpendek jarak antar kelahiran akan terpenuhi secara signifikan. Gampong
Amud Mesjid salah satu Gampong yang ada di Kecamatan Glumpang Tiga. Gampong Amud Mesjid
mempunyai topografi daerah dataran rendah. Mayoritas penduduk Gampong Amud Mesjid sebagai
petani dan peternak. Kondisi tanah di Gampong Amud Mesjid tergolong subur, sehingga sangat
mendukung untuk pembangunan sektor pertanian dan peternakan, yang rencananya akan
dikembangkan usaha pembibitan dan penggemukan sapi lokal. Ketersediaan Hijauan Makanan Ternak
(HMT) cukup mendukung disamping - pemamfaatan limbah pertanian (jerami padi/jagung/kacang-
kacangan) dan pemamfaatan bahan pakan lokal lainnya. Secara makro ada beberapa aspek yang
melatarbelakangi dikembangkannya pembibitan dan penggemukan sapi lokal di Gampong Amud Mesjid,
antara lain : 1. Tingkat pendapatan masyarakat masih rendah dari sektor peternakan, hal ini dikarenakan
salah satu faktornya adalah lemahnya manajemen sistem pemeliharaan sapi. 2. Terbatasnya kesediaan
bakalan sapi lokal yang produktif. 3. Banyaknya limbah/hasil pertanian yang belum dimaksimalkan
pemamfaatannya, akibat dari tidak adanya sentuhan teknologi terapan pengolahan limbah pertanian
untuk dijadikan bahan pakan berkualitas bagi ternak. 4. Masih banyaknya lahan-lahan yang masih bisa
dikembangkan untuk dijadikan lahan rumput. 5. Keterbatasan modal dari peternak untuk
mengembangkan usaha pembibitan dan penggemukan sapi lokal. Program pemerintah untuk mencapai
target swasembada daging sapi 2014, ini juga akan bermanfaat untuk membantu peternak setempat
guna meningkatkan pendapatan/ kesejahteraan ekonomi keluarga peternak di Gampong Amud Mesjid
melalui usaha penggemukan dan pembibitan sapi lokal. B. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Umum
Mempercepat pencapaian swasembada daging sapi pada tahun 2014 sesuai dengan program
pemerintah melalui DIRJEN PETERNAKAN. Mengoptimalkan peranan Sarjana peternakan dan
kedokteran hewan dalam pembangunan peternakan dan pengembangan sapi betina produktif.
Mempertahankan populasi ternak lokal. 2. Tujuan Khusus Peningkatan Populasi dan produktivitas
ternak sapi lokal di Gampong. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak di
Gampong. Membuka peluang kerja bagi masyarakat Gampong. Menjaga ketersediaan daging
dipasaran dengan harga yang stabil. Peningkatan penerapan tehnologi tepat guna dalam usaha
budidaya ternak potong yang berbasis masyarakat. 3. Manfaat Meningkatkan tingkat kesejahteraan
peternak. Membantu mengurangi tingkat pengangguran di pedesaan Memperluas kesempatan
berusaha bagi masyarakat pendesaan Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan petani peternak
dalam usaha pembibitan dan penggemukan sapi lokal C. Potensi dan Daya Dukung Sebagaimana yang
telah diutarakan diatas bahwa Gampong Amud Mesjid merupakan daerah yang potensial untuk
pertanian dan peternakan, dengan potensi alam yang demikian sangat menunjang untuk pengembangan
usaha ternak khususnya sapi (betina produktif/pembibitan). Di samping itu, gairah para petani ternak
akan semakin bangkit dengan tersedianya daya dukung yang ada. 1. Potensi a. Mayoritas penduduk
sebagai petani dan peternak, dimana minat usaha di bidang peternakan semakin digemari masyarakat b.
Cukup tersedianya lahan sebagai sumber tersedianya hijauan makanan ternak. c. Cukup tersedianya
bahan pakan lokal seperti rumput, sagu, dedak dan bukil kelapa sebagai sumber pakan penguat. d.
Tersedianya hasil ikutan/limbah pertanian berupa jerami padi, limbah jagung, limbah kacang-kacangan,
bukil kelapa dan dedak. 2. Daya Dukung A. Potensi sebagai sumber bahan pakan ternak potong 1. Jerami
kering 2. Lahan hijauan makanan ternak 3. Hasil ikutan tanaman pertanian seperti limbah jagung, kacang
dan tebu. B. Potensi Sumber Daya Manusia 1. Dokter Hewan (Puskeswan/Dinas terkait) 2. Petani /
peternak PELAKSANAAN KEGIATAN A. Aspek Teknis Pelaksanaan kegiatan pengembangan usaha
pembibitan dan penggemukan sapi lokal ini akan dikelola kelompok Meudang Kupula yang bertempat
di Gampong Amud Mesjid Kecamatan Glempang Tiga Kabupaten Pidie. Secara teknis ada 2 (dua) bentuk
kegiatan yang akan dilakukan yaitu kegiatan pembibitan sapi lokal betina produktif dan kegiatan. Dalam
pelaksanaannya kegiatan usaha pembibitan sapi lokal betina produktif ini akan diketuai oleh Dokter
Hewan. 1. Kegiatan Pembibitan sapi betina lokal produktif Usaha pembibitan sapi lokal betina produktif
bertujuan untuk menjaga keberlangsungan usaha kelompok dan melestarikan populasi sapi lokal (Sapi
Aceh) serta peningkatan populasi sapi lokal secara umum. Pembibitan dilakukan dengan pemilihan calon
induk yang memiliki tingkat kelahiran tinggi dan produktif. Metode pembibitan yang dilakukan yaitu
induk (bakalan) berjumlah 25 ekor. Dalam usaha pembibitan sapi betina lokal produktif ini, peternak
memelihara sapi induk dalam satu lahan yang telah dibuat bak untuk tempat pemberian pakan dan
minuman dan atap sebagai tempat berteduh bagi induk yang dipelihara. Pemeliharaan dilakukan dengan
sistem lepas dan dilakukan secara intensif, artinya induk sapi akan diberikan pakan secara cukup
berdasarkan kebutuhan pakan per ekor induk dan makanan tambahan/konsentrat. Anak-anak sapi
jantan yang lahir akan dijadikan bakalan untuk pengemukan selanjutnya setelah dihitung harga beli
sebagai keuntungan peternak. Perhitungan keuntungan adalah harga beli bakalan ternak pada saat anak
akan digemukkan. Pembagian keuntungan dari usaha pengemukan dibagi rata, dengan seluruh anggota
setelah disisihkan 10 % dari total keuntungan untuk honor petugas, sewa lahan dan pembelian pupuk
untuk penanaman hijauan makanan ternak tahap berikutnya serta sebagai dana pinjaman anggota
tanpa bunga, untuk kebutuhan mendadak anggota yaitu untuk kesehatan dan pendidikan anggota
keluarga peternak. 2. Bangsa Sapi yang akan Dikembangkan Bangsa sapi yang akan dikembangkan
adalah jenis sapi lokal yaitu sapi Aceh. Ditinjau dari sistematika temak. A. Perkandangan Bentuk kandang
yang digunakan dalam usaha pembibitan sapi betina lokal produktif dan bentuk kandang koloni beratap
seluruhnya. Tipe lantai yang digunakan kandang ini adalah alas litter, dan pembongkaran litter lantai
kandang dilakukan apabila tinggi litter mencapai setinggi 40 cm, atau dilakukan pembersihan sekitar 3
4 kali dalam setahun. Sepanjang bagian sisi kandang dilengkapi dengan tempat palungan yaitu pada sisi
depan untuk tempat pakan hijauan dan tempat air minum secara terpisah, sedangkan pada sisi belakang
kandang palungan untuk tempat pakan penguat atau konsentrat. B. Aspek Kelembagaan Kelompok ini
dibentuk atas hasil musyawarah bersama anggota kelompok. Musyawarah ini juga dihadiri oleh kepala
gampong, dimana hasil musyawarah juga disetujui oleh kepala Gampong pada tanggal 21-05-2010.
Semua anggota kelompok mempunyai ternak dan lahan. Masing-masing anggota kelompok rata-rata
memiliki ternak 1-2 ekor dan 0,37 ha/anggota, hanya saja lahan yang dimiliki oleh anggota ternak
belum maksimal pemamfaatannya karena terbatasnya jumlah ternak yang dimiliki dan kurangnya
pengalaman dalam berternak terutama dalam hal teknologi tepat guna. C. Aspek Perencanaan
Pengembangan usaha pembibitan sapi betina lokal produktif kedepan direncanakan akan dilakukan
dengan cara pemeliharaan / pembesaran bakalan yang diperoleh dari anak sapi hasil usaha sendiri.
Penambahan jumlah populasi ternak lebih dititik beratkan pada usaha pembibitan. Penggemukan sapi
betina lokal produktif sebagai strategi untuk mempertahankan dan penembahan populasi ternak dalam
jangka waktu panjang dan berkelanjutan. Pendapatan anggota kelompok ternak, itu diambil dari
keuntungan usaha pembibitan dan penggemukan. Pembagian hasil usaha terbagi 2 komponen. Masing-
masing komponen yaitu : 1. Untuk kelompok 80% dari keuntungan usaha, 2. Kas 20% dari keuntungan
usaha. Dana kas akan digunakan untuk perkembangan usaha dan sebagai dana pinjaman untuk berbagi
kepentingan anggota kelompok. RENCANA ANGGARAN DAN ANALISA USAHA A. Analisa Usaha
Pembibitan Sapi Betina Lokal Produktif Harga beli 25 ekor sapi betina bakalan induk @ Rp 7.000.000 =
Rp 175.000.000. Setiap tahun diharapkan akan lahir 1 ekor pedet dari 25 induk. Dengan calf crop 75%
maka jumlah pedet yang lahir adalah 9 anak sapi jantan dan 8 ekor anak sapi betina. Anak sapi jantan
pada umur 2 tahun dengan taksiran harga Rp 6.000.000, maka modal yang diperoleh dari anak jantan
selama 2 tahun pemeliharaan adalah Rp 9 x 6.000.000 = 54.000.000,-. Sedangkan dari anak betina
diperoleh modal 40.000.000,- dengan taksiran harga 5.000.000,-/ekor. Secara keseluruhan modal yang
diperoleh dari pembibitan selama 2 tahun adalah: 54.000.000 + 40.000.000 = 94.000.000,-. Perhitungan
ini terus berlanjut dan meningkat seiring bertambahnya jumlah induk dimulai dari 2 tahun pertama
pembelian induk sampai seterusnya. Not: Anak sapi jantan dipersiapkan untuk penggemukan,
sedangkan anak sapi betina dipersiapkan untuk bakalan induk sebagai penambah atau pengganti induk
yang sudah tidak produktif lagi. RENCANA ANGGARAN BIAYA Anggaran yang dibutuhkan untuk usaha
pengembangan pembibitan sapi lokal betina produktif di Gampong Amud Mesjid Kecamatan Gleumpang
Tiga Kabupaten Pidie adalah sebagai berikut : No. Uraian Volume Harga Satuan Sub Total 1 Untuk
pembelian ternak: - Induk Betina . - Pejantan 25 ekor 5 ekor 7.000.000,- 10.000.000,- Rp 175.000.000,-
Rp 50.000.000,- 2 Untuk kandang - - Rp 35.000.000,- 3 Untuk administrasi kelompok - - Rp 3.000.000,- 4
Obat-obatan dan komponen alat IB - - Rp 12.000.000,- 5 Untuk pengembangan HMT - - Rp 10.000.000,-
6 Pengembangan kelembagaan - - Rp 6.000.000,- 7 Insentif Pembina selama 12 bulan - - Rp 9.000.000,- 8
Insentif Pembina Dinas Kabupaten 6 Bulan Rp 2.400.000,- Jumlah Total Rp 302.400.000,- Terbilang :
(Tiga Ratus Dua Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) PENUTUP Usaha pengembangan sapi lokal betina
produktif dengan pemanfaatan Sumber Daya Alam yang ada serta. Sumber Daya Manusia, yang dikelola
secara optimal, intensif dan profesional dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Sistem penggemukan yang selama ini berjalan tanpa adanya pengelolaan yang memanfaatkan sumber
daya dan adanya usaha pembibitan untuk ketersedian bakalan serta penggunaan konsentrat yang
murah dan mudah diolah oleh masyarakat diharapkan dapat memberi keuntungan yang lebih besar dan
dapat meningkatkan produksi daging yang maksimal untuk memenuhi kebutuhan akan daging
khususnya untuk wilayah Pidie. Gampong Amud Mesjid, 21 Mei 2012 USAHA TERNAK MEUDANG
KUPULA (Ketua) (Sekretaris) T. Fakhruddin Geuchik Amud Mesjid ( T. BANTA CUT )

Anda mungkin juga menyukai