Anda di halaman 1dari 14

TUGAS REMEDIAL

COME II
KEDOKTERAN PARIWISATA

NAMA : IDA AYU DIAH WEDAWATI


NIM : 1470121081

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS WARMADEWA
DENPASAR
BALI
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makin canggihnya alat transportasi dan komunikasi menyebabkan dunia seolah-


olah tanpa batas, manusia bebas bergerak dan bepergian ke seluruh pelosok dunia
dengan mudah dan cepat. Hal ini membawa konsekuensi makin mudah
berpindahnya sumber penyakit seperti yang dikuatirkan oleh beberapa pihak,
terutama dengan maraknya masalah flu burung (avian influenza). Kesadaran akan
masalah-masalah kesehatan yang mungkin timbul berkenaan dengan
perjalanan/wisata akhir-akhir ini berkembang pesat sehingga muncul suatu
cabang kedokteran baru yang dikenal sebagai travel medicine atau ilmu
kedokteran wisata. Cabang minat baru ini terutama membahas masalah yang
mungkin timbul akibat perjalanan, baik akibat perjalanan itu sendiri maupun
penyakit-panyakit khas kawasan tertentu yang mungkin menjangkiti wisatawan
yang berkunjung

Kedokteran wisata atau travel medicine adalah bidang ilmu kedokteran


yang mempelajari persiapan kesehatan dan penatalaksanaan masalah kesehatan
orang yang bepergian (travellers).Bidang ilmu ini baru saja berkembang dalam tiga
dekade terakhir sebagai respons terhadap peningkatan arus perjalanan internasional
di seluruh dunia. Tahun 2003, World Tourism Organization mencatat ada 691 juta
international arrivals di seluruh bandara di dunia dan tahun 2020 diproyeksikan
akan meningkat sampai 1,56 milyar.

Pelayanan kedokteran wisata diberikan di travel clinic yang umumnya


berada di negara-negara maju untuk memenuhi kebutuhan warga mereka yang akan
bepergian ke negaranegara berkembang. Saat ini diperkirakan setiap tahun ada 80
juta orang yang bepergian dari negara-negara maju ke negaranegara berkembang.
Sejauh ini negara-negara berkembang hanya dianggap sebagai daerah tujuan wisata
yang mempunyai risiko kesehatan tertentu, bahkan dalam buku panduannya, World
Health Organization hanya menyebutkan bahwa konsultasi pra-travel diperlukan
oleh travellers yang bermaksud mengunjungi negara berkembang.
Untuk itulah, dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan baru di bidang
kedokteran wisata yang perlu dikuasai oleh para tenaga kesehatan di Indonesia,
salah satunya adalah mengenai travel clinic dan pelayanan yang ditawarkannya.

1.2 Tujuan

Menambah wawasan penulis dan membaca tentang penyakit non infeksius dalam
kesehatan pariwisata (travel medicine), serta seorang dokter maupun calon dokter
mampu memahami tentang travel medicine.

1.3 Manfaat

Paper ini sangat bermanfaat bagi pembaca khususnya di bidang medis dan bagi
masyarakat umum. Diharapkan mampu memberikan informasi mengenai kesehatan
pariwisata sehingga nantinya bisa melakukan antisipasi dini untuk mencegah
terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan khusunya dalam hal kesehatan.
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Ruang Lingkup Kesehatan Pariwisata

Kedokteran wisata adalah suatu bidang keahlian interdisipliner yang telah


berkembang cepat sebagai respons terhadap kebutuhan berwisata di seluruh dunia.
Ilmu Kedokteran Wisata mempelajari berbagai aspek berwisata dan kaitannya
dengan kesehatan, temasuk kebugaran dalam perjalanan dan risiko sakit karena
perjalanan tersebut sebagai implikasi pajanan terhadap berbagai penyakit infeksi.
Penguasaan Ilmu Kedokteran Wisata harus meliputi pemahaman epidemiologi,
kedokteran preventif dan sosial serta aspek kuratif secara lengkap. Akhir-akhir ini
perkembangan Ilmu Kedokteran Wisata sebagai suatu disiplin telah diakui. Strategi
baru pemberantasan penyakit infeksi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan
Inggris di antaranya menetapkan suatu kebutuhan terhadap spesialis di bidang
kedokteran wisata.

Kesehatan pariwisata sendiri sebenarnya dapat dibagi dua yaitu kesehatan


pariwisata fisik dan psikis. Kesehatan parwisata fisik meliputi sarana untuk
penyembuhan penyakit kulit, relaxation, dan kecantikan sementara kesehatan psikis
terdiri dari penyembuhan akibat obat-obat terlarang, depresi, dan gangguan mental.

Kesehatan pariwisata psikis biasanya dilakukan di rumah peristirahatan,


rumah sakit dan pesantren serta hanya terbatas pada pengunjung yang memang
menderita penyakit dan tidak dapat dinikmati oleh rekan, keluarga, dan sanak
keluarga walaupun pada masa sekarang sudah mulai dikembangkan untuk bisa pula
dinikmati oleh keluarga terdekat. Salah satu contoh Pesantren Suryalaya yang
terletak di Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat dan sangat terkenal di seluruh
Indonesia sekarang ini menyediakan program yang dapat diikuti oleh keluarga
pasien sementara menunggu proses penyembuhan yang bersangkutan. Jenis
kesehatan pariwisata ini dilakukan oleh keluarga menengah ke atas karena biayanya
cenderung sangat mahal terutama pengobatan akibat narkoba, alhohol dan
sejenisnya.
Jenis kesehatan pariwisata fisik yang berkaitan dengan kecantikan biasanya
berupa spa, salon kecantikan dan pemandian air panas. Jenis kesehatan pariwisata
ini lebih bisa dinikmati oleh segala lapisan masyarakat karena relatif lebih murah,
banyak pilihan, dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja sesuai dengan
kemampuan finansial masing-masing.
Imunisasi juga merupakan lingkup dari kesehatan pariwisata sendiri.
Imunisasi tersebut diantaranya :
a. Routinel Immunization : DPT, POLIO, CAMPAK, INFLUENZA.
b. Required Immunization : Yellow Fever, Cholera, Meningococcal Meningitis.
c. Recommended Immunization : Hepatitis A & B, Typhoid Fever, Japanese
Encephalitis, Cholera, Rabies.

2.2 Faktor Pendukung Kesehatan Pariwisata


Pariwisata dapat mempengaruhi tidak hanya kesehatan pengunjung tetapi juga
kesehatan masyarakat penjamu. Hal-hal yang berpengaruh terhadap kesehatan
pariwisata diantaranya :
2.2.1 Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan tempat wisata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kesehatan wisatawan. Wisatawan umumnya rentan tehadap mikroorganisme, dan
juga kondisi lingkungan fisik yang berbeda dari daerah asal mereka. Lingkungan
yang bersih dijadikan indikator kualitas oleh wisatawan karena menunjukkan
perhatian otoritas setempat terhadap masalah kesehatan lingkungan
2.2.2 Makanan dan minuman
Kejadian yang muncul umumnya berhubungan dengan konsumsi makanan atau
minuman yang tidak higienis yang mengakibatkan gangguan saluran pencernaan.
Namun masalah tersebut bisa dikontrol melalui penerapan prosedur standar untuk
pengelolaan makanan dan sanitasi lingkungan.
2.2.3 Upaya pencegahan, pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat
Hal ini termasuk kesehatan lingkungan adalah fundamental dan dapat membawa
perubahan sikap dan perilaku yang dapat mengurangi risiko-risiko terjadinya
pemerosotan kesehatan pariwisata

2.2.4 Gangguan penyakit-penyakit menular karena perjalanan wisata


Sesuai International Travel and Health 2001 yang diterbitkan oleh Organisasi
Kesehatan Sedunia (WHO), gangguan kesehatan utama yang dapat terjadi karena
perjalanan wisata adalah :

1. Gangguan kesehatan karena lingkungan

Travel sickness

Bathing / diving

Altitude

Heat and humidity

Sun

Insect

Other Animals

Accidents

2. Gangguan kesehatan karena makanan dan minuman

Diarrhoea

Viral Hepatitis type A and E

3. Sexually Transmitted Diseases (STD)

HIV

Hepatitis B

4. Malaria
5. Dengue and DHF
6. Tuberculosis
7. Vaccinations
8. Special Situations

Extended Travel

Pregnancy

Children

Chronoc Diseases

The disabled

Lain lain :

1. Transfusi Darah
2. Medical Kit untuk turis / travelers
3. Pemeriksaan setelah perjalanan wisata
4. Beberapa catatan untuk para penyelenggara wisata

2.3. Konsultasi Pra-Perjalanan (Pre-Travel)

Informasi yang aktual dan akurat sangat penting dalam kedokteran wisata sehingga
rekomendasi yang diberikan bukan didasarkan pada opini tetapi evidence-based.
Nasihat perjalanan diberikan dalam bentuk konsultasi dan edukasi mengenai risiko
kesehatan yang mungkin dapat dialami wisatawan selama berpergian, baik sewaktu di
perjalanan maupun setelah tiba di tempat tujuan. Pengetahuan yang penting dikuasai
oleh tenaga kesehatan sehubungan dengan hal ini antara lain medical geography,
distribusi dan epidemiologi penyakit infeksi, serta kondisi-kondisi tertentu dalam
perjalanan, misalnya problem ketinggian (high altitude), jet lag, mabuk perjalanan,
temperatur tinggi dan sebagainya. Risiko khusus, seperti bencana alam, terorisme dan
konflik senjata juga perlu diperhatikan mengingat akhir-akhir ini banyak insiden terjadi
di daerah wisata dengan turis asing sebagai korban (runtuhnya gedungWorld Trade
Center di New York, tsunami di Pattaya, bom Bali I-II, dan lain-lain). Topik edukasi
yang dapat diberikan dalam konsultasi pra-perjalanan antara lain adalah: pencegahan
penyakit (diare, malaria, penyakit menular seksual, dll.), penyakit karena kondisi
lingkungan (panas, dingin, ketinggian), jet lag dan mabuk perjalanan, travel medical
kits, dan sebagainya (Pakasi, 2006).

Konsultasi pra-perjalanan yang terorganisasi dengan baik dan dijalankan dengan baik
dapat mendukung konsisten, tepat, dan efisien pra-perjalanan persiapan kesehatan
dengan 3 elemen penting berikut: penilaian resiko, komunikasi resiko, dan manajemen
resiko (Acosta, 2012).

2.4 Penilaian Resiko

Pra-per jalanan kesehatan penilaian risiko melibatkan pengumpulan informasi terkait


tentang rencana perjalanan (where, when, dan what) dan wisatawan (who, why,
dan how) untuk menyoroti potensi bahaya perjalanan, dan waspada terhadap
kontraindikasi suatu perjalanan dan tindakan pencegahan seperti vaksinasi atau obat
yang dapat diindikasikan. Sebuah kuesioner yang dirancang untuk mengumpulkan dan
mengatur data jadwal dan wisatawan adalah alat penting untuk membantu mendukung
proses penilaian risiko

Informasi yang paling penting untuk dikumpulkan adalah sebagai berikut :

2.4.1 Jadwal Data

o Negara dan wilayah yang akan dikunjungi, dalam rangka perjalanan

o Kunjungan ke daerah perkotaan dibandingkan di pedesaan

o Tanggal dan panjang perjalanan di daerah masing-masing

o Tujuan perjalanan (seperti bisnis, berlibur, mengunjungi teman dan kerabat)

o Jenis transportasi
o Kegiatan yang direncanakan dan akan dilakukan (seperti hiking, scuba diving,
berkemah, dll)

o Jenis akomodasi di daerah masing-masing (seperti ber-AC, tenda)

2.4.2 Demografi dan kesehatan / riwayat medis wisatawan

o Usia, jenis kelamin

o Riwayat vaksinasi, termasuk tanggal, berapa banyak dosis yang diterima dalam
serangkaian dijadwalkan.

o Riwayat medis dan psikiatris (masa lalu dan saat ini), termasuk kondisi atau obat
yang menekan sistem kekebalan tubuh

o Obat-obatan (saat ini atau yang diambil dalam 3 bulan terakhir)

o Alergi (khususnya untuk telur, lateks, ragi, merkuri, atau thimerosal)

o Kehamilan dan menyusui (status saat ini dan rencana)

o Setiap rencana operasi atau perawatan medis lainnya selama perjalanan (wisata
medis)

Contoh penggunaan data jadwal dan wisatawan mencakup menentukan apakah akan
ada risiko penyakit demam kuning atau persyaratan negara untuk bukti vaksinasi
demam kuning didasarkan pada tujuan yang direncanakan, dan jika ada kontraindikasi
(seperti alergi telur) atau tindakan pencegahan (seperti usia > 60 tahun) untuk para
traveler yang menerima vaksin. Risiko malaria adalah contoh lain. Hal ini penting
untuk menilai apakah wisatawan tersebut akan pergi ke daerah endemik malaria, dan
apa langkah yang tepat adalah untuk membantu mencegah malaria berdasarkan rincian
itinerary perjalanan, kegiatan, dan riwayat kesehatan.

Wisatawan tertentu dianggap sebagai risiko tinggi, seperti kesehatan mereka


yang sudah ada sebelumnya dan kondisi medis dapat secara unik dipengaruhi oleh
kegiatan perjalanan dan saling terkait. Dalam beberapa kasus, pengurangan risiko
tindakan mungkin lebih rumit karena meningkatnya tindakan pencegahan dan
kontraindikasi. Hal ini penting untuk mengantisipasi kebutuhan khusus berisiko
tinggi wisatwan berikut :

- Orang dengan sistem kekebalan yang lemah

- Wanita yang sedang hamil atau menyusui

- Orang mengunjungi teman dan kerabat (VFRs).

- Keluarga dengan anak yang berumur muda

- Orang yang melakukan perjalanan untuk mengadopsi anak di luar negeri

- Para wisatawan lebih tua (usia > 60 tahun)

Pentingnya penilaian risiko dapat diilustrasikan dengan 3 wisatawan pergi ke


negara yang sama: satu untuk perjalanan selama seminggu, perkotaan berbasis
bisnis; berikutnya pada pencari petualangan, backpackers ke daerah pedesaan
selama beberapa bulan; dan ketiga wisatawan hamil. Rekomendasi dan persiapan
untuk masing-masing wisatawan akan bervariasi berdasarkan kebutuhan mereka
dan rincian jadwal

2.5 Komunikasi Resiko

Komunikasi resiko adalah bagian integral dari proses konsultasi pra-perjalanan


dan berhubungan langsung dengan "who" akan berpergian. Komunikasi risiko
meliputi penyajian informasi yang dapat dipercaya, berbasis bukti dalam konteks
yang tepat untuk perjalanan individu. Informasi yang dikumpulkan selama
wawancara penilaian risiko, termasuk pengetahuan dasar wisatawan dan keyakinan
tentang risiko, atau pemahaman dan pendapat tentang langkah-langkah
pengurangan risiko, yang penting bagi diskusi membimbing. Untuk komunikasi
risiko menjadi efektif, harus dialokasikan waktu yang cukup untuk diskuai hal ini
(Acosta, 2012).
Memberikan wisatawan informasi baik lisan maupun tertulis membantu untuk
membimbing dan memfokuskan diskusi dan memperkuat penting traveler-specific
issues. Contoh meliputi laporan informasi vaksin, pamflet informasi penyakit, dan
peta risiko malaria. Hati-hati dalam melakukan penilaian resiko serta komunikasi
resiko, agar manajemen resiko dapat terbentuk perencanaan (vaksinasi, obat, dan
ditargetkan menghindari risiko pendidikan) (Acosta, 2012).

2.6 Manajemen Resiko

Elemen-elemen penting dari manajemen risiko adalah sebagai berikut (Acosta,


2012):

- Vaksin: seleksi, administrasi, dan dokumentasi vaksinasi.

- Diperlukan pertimbangan, rekomendasi, dan vaksinasi rutin.

- Diskusikan indikasi vaksin, kontraindikasi, tindakan pencegahan, dosis dan


waktu

- Tawarkan dan diskusikan informasi vaksin sebelum vaksin diberikan

- Pengobatan: Rekomendasi dan resep yang sesuai menurut risiko, seperti


kemoprofilaksis antimalaria, pertolongan pertama diare, dan obat untuk penyakit
ketinggian

- Pendidikan: Malaria pencegahan dan kepatuhan terhadap kemoprofilaksis (jika


ditunjukkan dengan penilaian risiko)

- Risiko dan pencegahan penyakit insect borne lain

- Manajemen diri diare

- Menghindari gigitan hewan dan pencegahan rabies

- Mengurangi efek negatif dari risiko selama perjalanan


- Resiko dari aktivitas yang spesifik (seperti keselamatan di jalan, diving, arung
jeram, dan perjalanan jalan pedesaan)

- Resiko prilaku pribadi (seperti penyakit menular seksual dan penggunaan


narkoba ilegal)

- Pedoman umum: Gejala yang mungkin memerlukan perhatian medis selama atau
setelah perjalanan (seperti demam, gejala gastrointestinal, atau gejala dermatologi)

- Mempersiapkan sebuah medical health kit

- Mengakses perawatan medis di luar negeri dan mendapatkan asuransi kesehatan /


evakuasi
BAB III

KESIMPULAN

Dokter umum atau dokter keluarga berada pada posisi yang unik untuk mengenali
adanya faktor-faktor pengganggu pada riwayat medik seorang traveller yang
mungkin perlu diantisipasi sebelum bepergian. Namun yang terpenting, dokter
harus sadar bahwa perjalanan yang sehat tidak semata-mata memberikan imunisasi
dan obat, tetapi juga edukasi klien yang merupakan elemen terpenting proteksi diri.
Sebagian dari konsultasi harus didedikasikan untuk edukasi atau menunjukkan
sumber-sumber informasi kepada traveller, seperti brosur-brosur, buku-buku,
pelayanan telepon dan komputer, dan bahan edukasi lainnya. Untuk mengetahui
lebih lanjut tentang cara-cara menyelenggarakan travel clinic, seorang tenaga
kesehatan dapat memperolehnya secara formal dengan mengikuti pendidikan
pascasarjana. Namun pendidikan di negara-negara maju tersebut didasarkan pada
kebutuhan mereka sendiri dan belum tentu relevan dengan kebutuhan di Indonesia.
Oleh karena itu, tenaga kesehatan di Indonesia sangat dianjurkan mengikuti
simposium atau kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Kesehatan
Wisata Indonesia (PKWI).

Pelayanan kedokteran wisata atau trave medicine yang ideal merupakan suatu
kesinambungan sejak sebelum berangkat sampai setelah pulang dari perjalanan.
Orang-orang yang mengalami sakit berat umumnya mereka yang mengunjungi
kenalan atau sanak saudara dan tinggal di rumah mereka sehingga risiko terpapar
patogen lebih besar daripada turis biasa. Pelayanan konsultasi pasca-perjalanan
membutuhkan lebih banyak keahlian dan sumber daya (dokter spesialis,
laboratorium dan penunjang diagnostik lainnya). Hal ini dapat disiasati dengan
membangun kerja sama antara beberapa provider kesehatan, misalnya rumah sakit,
laboratorium 24 jam, dan lain sebagainya
DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud.2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka : Jakarta.

Pakasi, Levina S. 2006. Pelayanan Kedokteran Wisata: Suatu Peluang. Available


from:http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_152_Kesehatanwisatarev.pdf

Pharm, Peter. 2002. The Doctor Travel. Available


from:http://www.traveldoctor.co.uk/types.htm

Rezeki, Sri. 2006. Kesehatan Wisata pada Anak. Available


from:http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_152_Kesehatanwisatarev.pdf [Ac
cessed on 28 Februari 2012]

World Health Organization. International Travel and Health. Geneva: World Health
Organization, 2005