Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

ANAK DENGAN ISPA

Disusun oleh:

Bella Rosari (030.11.054)


Komang Ayu Ratnapuri (030.11.158)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
PERIODE 24 JULI 29 SEPTEMBER 2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA


ANAK DENGAN ISPA

Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta

Disusun Oleh:
Komang Ayu Ratnapuri
030.11.158

Semarang, September 2017


Telah diuji, direvisi, dan disahkan oleh:

Penguji

(.....................................)

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................5
BAB III LAPORAN KASUS..............................................................................................29
BAB IV PENUTUP.............................................................................................................57
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................58
LAMPIRAN............................................................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan yang membentuk terowongan pada lapisan
stratum korneum dan stratum granulosum pejamu. S. scabiei termasuk parasit obligat pada
manusia. Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk filum Arthopoda,
kelas Arachnida.

Ackarima, superfamili Sarcoptes. Bentuknya lonjong, bagian chepal depan kecil dan
bagian belakang torakoabdominal dengan penonjolan seperti rambut yang keluar dari dasar
1
kaki.

Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terjangkit
2
tungau skabies. Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies cenderung
tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, umur,
ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah kemiskinan dan
7
kondisi hidup di daerah yang padat, sehingga penyakit ini lebih sering di daerah padat
3
penghuni.

Prevalensi di Brazil Amerika Selatan skabies mencapai 18 % (Strina et al., 2013), di


Benin Afrika Barat 28,33 % di kota Enugu Nigeria 13,55 %, di Pulau Pinang Malaysia 31
3
%. Prevalensi skabies di Indonesia menurut Depkes RI berdasarkan data dari puskesmas
seluruh Indonesia tahun 2008 adalah 5,6%-12,95%. Skabies di Indonesia menduduki
urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Indonesia merupakan daerah tropis yang
memungkinkan parasit tersebut berkembang dengan optimal, selain itu ditunjang oleh
faktor ekonomi masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah serta tingkat kepadatan
1
penduduk yang masih tinggi.
Skabies dapat diderita semua orang tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, akan
tetapi lebih sering ditemukan pada anak -anak usia sekolah dan dewasa muda/remaja.

1
Berdasarkan pengumpulan data Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI)
tahun 2001 dari 9 rumah sakit di 7 kota besar di Indonesia, diperoleh sebanyak 892
penderita skabies dengan insiden tertinggi pada kelompok usia sekolah (5 -14 tahun)
sebesar 54,6% serta penderita berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan
yakni sebesar 63,4%. Hal ini sesuai dengan faktor predisposisi pada anak usia sekolah
yang memiliki kemungkinan pajanan di luar rumah lebih besar, dengan anak laki - laki
3,4
memiliki frekuensi kegiatan di luar rumah lebih banyak daripada anak perempuan.

Skabies sering diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas


penanganannya rendah, namun sebenarnya skabies kronis dan berat dapat menimbulkan
komplikasi yang berbahaya.Tingginya kepadatan hunian dan interaksi atau kontak fisik
antar individu memudahkan transmisi dan infestasi tungau skabies. Oleh karena itu,
prevalensi skabies yang tinggi umumnya ditemukan di lingkungan dengan kepadatan
penghuni dan kontak interpersonal tinggi seperti penjara, panti asuhan, dan pondok
4
pesantren.

1
Skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung.
Penularan melalui kontak langsung (skin-to-skin) menjelaskan mengapa penyakit ini
11
sering menular ke seluruh anggota keluarga. Penularan secara tidak langsung dapat
melalui penggunaan bersama pakaian, handuk, maupun tempat tidur. Bahkan dapat pula
ditularkan melalui hubungan seksual antar penderita dengan orang sakit, namun skabies
1
bukan manifestasi utama dari penyakit menular seksual.

Hal ini dituangkan dalam prinsip pelayanan dokter keluarga dimana arti dari
kedokteran keluarga itu sendiri adalah ilmu kedokteran yang khusus mempelajari
pelayanan kesehatan untuk pasien dan keluarganya secara berkesinambungan dan
komprehensif, sedangkan dokter keluarga adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama
pasien untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi , tanpa memandang
jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin sedini dan sedapat mungkin,
secara menyeluruh, paripurna, berkesinambungan, dan dalam koordinasi serta kolaborasi
dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang

2
efektif dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika dan
moral.

Penanganan masalah penyakit menular, termasuk penyakit skabies juga menjadi


salah satu penyakit yang perlu menggunakan pendekatan oleh dokter keluarga secara
holistik. Dari hasil studi epidemiologi didapatkan bahwa skabies banyak diderita oleh anak
dan di lokasi yang padat penghuni. Kejadian skabies yang sulit dipisahkan di kalangan
manusia yang hidup dalam komunitas padat, serta perilaku higiene dan pengetahuan
mengenai kesehatan yang kurang diperhatikan. Oleh karenanya, peneliti tertarik untuk
meneliti mengenai kejadian skabies yang terjadi di dalam satu keluarga yang menderita
Skabies sebagai tugas ilmiah yang akan dibahas.

1.2 Tujuan

I.2.1 Tujuan Umum

Mengaplikasikan dan menerapkan konsep kedokteran keluarga terhadap pasien


ISPA, keluarga serta lingkungan tempat tinggalnya.

I.2.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik (fungsi, bentuk, dan siklus) keluarga serta lingkungan


tempat tinggal pasien ISPA.

b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan pada


pasien ISPA, keluarga serta lingkungan tempat tinggalnya.

c. Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pasien ISPA keluarga serta


lingkungan tempat tinggalnya.

I.3 Manfaat

a. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan penulis tentang kedokteran keluarga, serta


penatalaksanaan kasus ISPA dengan pendekatan kedokteran keluarga.

3
b. Bagi Tenaga Kesehatan

Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar setiap memberikan


penatalaksanaan kepada pasien ISPA dilakukan secara holistik dan komprehensif
serta mempertimbangkan aspek keluarga dalam proses kesembuhan.
c. Bagi Pasien dan keluarga

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya bahwa keluarga juga


memiliki peranan yang cukup penting dalam kesembuhan dan mencegah kekambuhan
ISPA.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pendekatan Kedokteran Keluarga


II.1.1Definisi Keluarga
Bermacam-macam batasan keluarga, beberapa di antaranya dikemukakan sebagai
berikut:
a. UU No. 10 Tahun 1992, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri
dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan
anaknya.
b. Menurut Friedman, keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau lebih yang
satu sama lain saling terkait secara emosional, serta bertempat tinggal yang sama
dalam satu daerah yang berdekatan.
c. Menurut Goldenberg (1980), keluarga adalah tidak hanya merupakan suatu
kumpulan individu yang bertempat tinggal yang sama dalam satu ruang fisik dan
psikis yang sama saja, tetapi merupakan suatu sistem sosial alamiah yang memiliki
kekayaan bersama, mematuhi peraturan, peranan, struktur kekuasaan, bentuk
komunikasi, tata cara negosiasi, serta tata cara penyelesaian masalah yang disepakati
2,4
bersama, yang memungkinkan berbagai tugas dapat dilaksanakan secara efektif.
II.1.2 Bentuk Keluarga
Menurut Goldenberg, bentuk keluarga terdiri sembilan macam, antara lain 4,25
c. Keluarga inti (nuclear family)
d. Keluarga besar (extended family)
e. Keluarga campuran (blended family)
f. Keluarga menurut hukum umum (common law family)
g. Keluarga orang tua tunggal
h. Keluarga hidup bersama (commune family)
i. Keluarga serial (serial family)
d. Keluarga gabungan (composive family)
e. Hidup bersama dan tinggal bersama (co habitation family)

5
II.1.3 Fungsi dan Siklus Keluarga
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 Tahun 1994 fungsi keluarga dibagi
menjadi delapan jenis, yaitu fungsi keagamaan, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi
melindungi, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan
fungsi pembinaan lingkungan. Apabila fungsi keluarga terlaksana dengan baik, maka dapat
diharapkan terwujudnya keluarga yang sejahtera. Yang dimaksud keluarga sejahtera adalah
keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kehidupan
spiritual, dan materiil yang layak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ogburn (1969), telah terbukti adanya
perubahan pelaksanaan fungsi keluarga. Olehnya disebutkan, bahwa keluarga memiliki
fungsi:
1. Fungsi ekonomi
2. Fungsi pelindungan
3. Fungsi agama
4. Fungsi rekreasi
5. Fungsi pendidikan
6. Fungsi status sosial
Delapan tahap pokok yang terjadi dalam keluarga (siklus keluarga), yaitu:4,5
1. Tahap awal perkawinan (newly married family)
2. Tahap keluarga dengan bayi (birth of the first child)
3. Tahap keluarga dengan anak usia pra sekolah (family with children in school)
4. Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (family with children in school)
5. Tahap keluarga dengan anak usia remaja
6. Tahap keluarga dengan anak-anak yang meninggalkan keluarga
7. Tahap orang tua usia menengah
8. Tahap keluarga usia jompo

II.1.4 Arti dan Kedudukan Keluarga dalam Kesehatan


6
Keluarga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesehatan. Adapun
arti dan kedudukan keluarga dalam kesehatan adalah sebaga berikut:
1. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan melibatkan mayoritas
penduduk, bila masalah kesehatan setiap keluarga dapat di atasi maka masalah
kesehatan masyarakat secara keseluruhan akan dapat turut terselesaikan.
2. Keluarga sebagai suatu kelompok yang mempunyai peranan mengembangkan,
mencegah, mengadaptasi, dan atau memperbaiki masalah kesehatan yang
diperlukan dalam keluarga, maka pemahaman keluarga akan membantu
memperbaiki masalah kesehatan masyarakat.
3. Masalah kesehatan lainnya, misalnya ada salah satu anggota keluarga yang sakit
akan mempengaruhi pelaksanaan fungsi-fungsi yang dapat dilakukan oleh
keluarga tersbut yang akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan fungsi-fungsi
masyarakat secara keseluruhan.
4. Keluarga adalah pusat pengambilan keputusan kesehatan yang penting, yang akan
mempengaruhi kebrhasilan layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
5. Keluarga sebagai wadah dan ataupun saluran yang efektif untuk melaksanakan
berbagai upaya dan atau menyampaikan pesan-pesan kesehatan. 5
II.2 Kedokteran Keluarga
II.2.1 Definisi
Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan
primer yang komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif, dengan
mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan serta
pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin,
usia ataupun jenis penyakitnya.2
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab dokter
terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien
juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu. Kompetensi yang harus dimiliki
oleh setiap Dokter Keluarga secara garis besarnya ialah: 3,5
1. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga.
2. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam
7
pelayanan kedokteran keluarga.
3. Menguasai keterampilan berkomunikasi
II.2.2 Prinsip Pelayanan atau Pendekatan Kedokteran Keluarga
Prinsip dalam pelayanan atau pendekatan kedokteran keluarga yaitu memberikan 3,5
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif.
2. Pelayanan yang kontinu.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan
tempat tinggalnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
8. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.
9. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertangungjawabkan
II.2.3 Standar Pelayanan Kedokteran Keluarga
Standar pelayanan doker keluarga :
1. Standar pemeliharaan kesehatan di klinik
a. Standar pelayanan paripurna
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata pertama
untuk semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan
proteksi khusus (preventive & spesific protection), pemulihan kesehatan (curative),
pencegahan kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi setelah sakit
(rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan
mediko legal etika kedokteran.
b. Standar pelayanan medis
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara lega artis. Meliputi anamnesis,
pemeriksaan fisik & pemeriksaan penunjang, penegakkan diagnosis & diagnosis
banding, prognosis, konseling, konsultasi, rujukan, tindakan, pengobatan rasional,
dan pembinaan keluarga.
8
c. Standar pelayanan menyeluruh
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaitu peduli
bahwa pasien adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental,
sosial dan spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
d. Standar pelayanan terpadu
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain
merupakan kemitraan antara dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan
medis, juga merupakan kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang
menunjang pelayanan kedokteran, baik dari formal maupun informal.
e. Standar pelayanan bersinambung
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung,
yang melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus
menerus demi kesehatan pasien.3
2. Standar perilaku dalam praktik
a. Standar perilaku terhadap pasien
Pelayanan dokter keluarga menyediakan kesempatan bagi pasien untuk
menyampaikan kekhawatiran dan masalah kesehatannya, serta memberikan
kesempatan kepada pasien untuk memperoleh penjelasan yang dibutuhkan guna
dapat memutuskan pemilihan penatalaksanaan yang akan dilaksanakannya.
b. Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik
Pelayanan dokter keluarga mempunyai seorang dokter keluarga sebagai pimpinan
manajemen untuk mengelola klinik secara profesional dan harus dapat bekerja sama
dengan tenaga kesehatan lain sebagai tim.
c. Standar perilaku dengan sejawat
Pelayanan dokter keluarga harus dapat menghormati dan menghargai pengetahuan,
ketrampilan dan kontribusi kolega lain baik itu dengan profesi lain dan terutama
dengan dokter sejawat dalam pelayanan kesehatan dan menjaga hubungan baik
secara profesional.
d. Standar pengembangan ilmu dan keterampilan baik.
Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah guna
memelihara dan menambah ketrampilan praktik serta meluaskan wawasan
9
pengetahuan kedokteran sepanjang hayatnya.
e. Standar partisipasi dalam kegiatan masyarakat di bidang kesehatan Pelayanan dokter
keluarga selalu berusaha berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan peningkatan
kesehatan disekitarnya dan siap memberikan pendapatnya pada setiap kondisi
kesehatan di daerahnya.2,3,5

3. Standar pengelolaan praktik


a.Standar sumber daya manusia
Dalam pelayanan dokter keluarga, selain dokter keluarga, juga terdapat petugas
kesehatan seperti perawat atau bidan dan pegawai lainnya yang sesuai dengan latar
belakang pendidikan atau pelatihannya.
b. Standar manajemen keuangan
Pelayanan dokter keluarga mengelola keuangannya dengan manajemen
keuangan profesional.
c. Standar manajemen klinik
Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan pada suatu tempat pelayanan yang disebut
klinik dengan manajemen yang profesional.
4. Standar sarana dan prasarana
a. Standar fasilitas praktik
Pelayanan dokter keluarga memiliki fasilitas pelayanan kesehatan strata
pertama yang lengkap serta beberapa fasilitas pelayanan tambahan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat sekitarnya.
b. Standar peralatan klinik
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan klinik yang sesuai dengan
fasilitas pelayanannya yaitu pelayanan kedokteran di strata pertama (tingkat
primer).
c. Standar proses-proses penunjang praktik
Pelayanan dokter keluarga memiliki panduan proses-proses yang menunjang
kegiatan praktik dokter keluarga, seperti pengelolaan rekam medik,
pencegahan infeksi, dan obat.2,5
II.2.4 Manfaat Kedokteran Keluarga
10
Manfaat yang dapat dirasakan dengan adanya pelayanan kedokteran keluarga,
antara lain yaitu :6
1. Terselenggaranya penanganan kasus penyakit sebagai manusia seutuhnya, bukan
hanya terhadap keluhan yang disampaikan.
2. Terselenggaranya pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin kesinambungan
pelayanan kesehatan.
3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih baik dan
terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan kesehatan saat ini.
4. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga
penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai masalah
lainnya.
5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan maka segala
keterangan tentang keluarga tersebut baik keterangan kesehatan ataupun
keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah
kesehatan yang sedang dihadapi.
6. Akan dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.
7. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara yang
lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan meringankan biaya
kesehatan.
8. Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang
memberatkan biaya kesehatan
II.2.5 Family Tools
1. Family APGAR
Family APGAR adalah sebuah alat untuk mengukur disfungsi keluarga
secara kualitatif, menunjukkan persepsi dan kepuasan pasien terhadap keadaan
hubungan keluarga saat ini.
a. A = Adaptation
Kemampuan keluarga untuk menggunakan dan membagi sumber daya yang
melekat dengan anggota keluarga itu sendiri atau dengan keluarga lainnya.
b. P = Partnership
11
Saling berbagi dalam membuat keputusan. Hal ini mengukur pencapaian dalam
memecahkan permasalahan dengan komunikasi.
c. G = Growth
Hal ini mewakili pertumbuhan fisik dan emosional. Hal ini mengukur
kepuasan penyediaan kebebasan untuk berubah.
d. A = Affection
Bagaimana emosi, marah dan benci dibagi antara anggota keluarga. Hal ini
mengukur kepuasan anggota keluarga terhadap keintiman dan reaksi emosional
yang ada di keluarga.
e. R = Resolve
Mewakili bagaimana waktu, ruang, keuangan dibagikan. Hal ini mengukur
kepuasan anggota keluarga dengan komitmen yang dibuat oleh anggota
keluarga lain.2,5
2. Genogram
Dapat digunakan untuk mengumpulkan data tentang individu, pasangan, atau
keluarga terutama pola keturunan, riwayat penyakit keluarga, anggota keluarga,
struktur keluarga, proses emosional seiring waktu. Sebuah genogram yang lengkap
harus terdapat:
a. Nama dan umur semua anggota keluarga
b. Tanggal lahir, menikah, bercerai, meninggal (termasuk penyebab) dan kejadian
penting lainnya
c. Informasi mencakup 3 atau lebih generasi
d. Penyakit (termasuk penyakit keturunan atau masalah yang signifikan)
e. Anak pertama di keluarga berada disebelah kiri, diikuti anak selanjutnya di sebelah
kanan.
f. Tandai yang menunjukkan anggota keluarga mana yang tinggal satu rumah.
g. Nama dari keluarga, dengan alamat dari keluarga indeks.
h. Dari siapa data didapatkan
i. Tanggal dibuat genogram.4
3. Family Life Line
Merupakan alat yang merangkum riwayat keluarga, khususnya individu atau
12
pengalaman keluarga yang penting dalam periode tertentu dalam kronologis yang urut.
Juga termasuk cara keluarga menghadapi kejadian yang penuh tekanan. Berguna untuk
mengantisipasi penyakit jangka panjang, adanya kesulitan perawatan, strategi
pengobatan yang cocok, dan situasi saat dokter perlu berpikir, mengenai keluarga
seperti perilaku abnormal anak, perilaku yang jelek saat antenatal dan atau periode post
partum, penyalahgunaan obat dan alkohol, dan penyimpangan seksual.
4. Family MAP
Digunakan untuk mengetahui hubungan dalam keluarga dan interaksi didalamnya.
Family MAP menggambarkan sistem keluarga, pola interaksi dan hubungan, batas
generasi dan konflik/persekutuan, juga digunakan untuk mengetahui siapa yang
megambil keputusan dalam keluarga.
5. Family SCREEM
Menggambarkan ketersediaan sumber, penilaian kapasitas keluarga dalam
berpartisipasi pada ketentuan pelayanan kesehatan atau mengatasi krisis. Kemudian
digunakan untuk mengetahui fungsi patologis di dalam keluarga.
a. S = Social
Interaksi social merupakan bukti antara anggota keluarga. Anggota keluarga
jalur komunikasi yang seimbang dengan grup social diluar keluarga seperti teman,
grup olahraga, klub, dan komunitas lainnya.
b. C = Cultural/ Kebudayaan
Kebanggaan budaya atau kepuasan dapat teridentifikasi, khususnya dalam
grup etnis yang jelas.

c. R = Religious/Keagamaan
Tawaran agama yang memuaskan pengalaman spiritual dan hubungan grup
diluar keluarga yang mendukung.
d. E = Economic
Stabilitas ekonomi cukup untuk menyediakan kepuasan yang berhubungan
dengan status keuangan dan kemampuan untuk menyatukan permintaan ekonomi
sesuai dengan norma kehidupan
e. E = Education/Pendidikan
13
Pendidikan anggota keluarga cukup untuk mengijinkan anggota keluarga
memecahkan atau memahami sebagian besar permasalahan yang muncul dalam
gaya hidup formal yang dibangun oleh keluarga.
f. M = Medical/ Perawatan
Perawatan kesehatan tersedia melalui saluran yang mana secara mudah
terbangun dan sebelumnya dialami dengan cara yang memuaskan 4
6. Family Life Cycle
Family life cycle adalah konsep esensial yang sangat penting dalam mengerti
respon kesehatan dan kesakitan dari pasien dan keluarganya. Family life cycle
melukiskan berbagai tahapan perkembangan dalam status keluarga dan menjelaskan
cara sebuah keluarga berfungsi. Pada setiap tahapan, keluarga memproyeksikan
berbagai identitas dan peran, pemenuhan yang akan memastikan kemajuan ke tahap
berikutnya atau lebih tinggi. Proses yang dilakukan melibatkan transisi, ekstensi, dan
tumpang tindih. Proses ini adalah normatif, tetapi tidak selalu hadir dalam semua
keluarga karena proses berganutng sampai batas tertentu pada terhadap anggota
individu, lama waktu merupakan faktor yang mempengaruhi proses family cycle.
Proses family cycle menurut Duval:
a. Married couple (without children, tanpa anak)
b. Childbearing famies (anak tertua lahir 30 bulan)
c. Families with preschool children (30 bulan 6 tahun)
d. Families with school children (6 13 tahun)
e. Families with teenager (13 20 tahun)
f. Families launching young adults (anak pertama hingga anak terakhir sudah
tidak tinggal serumah)
g. Middle aged parents (semua anak telah meninggalkan rumah, hanya suami dan
istri usia paruh baya)
h. Aging family members (tahap keluarga usia jompo)3

II.2.6 Diagnosis Holistik


1. Aspek Personal
Aspek personal adalah alasan kedatangan pasien, harapan, kekhawatiran dan
14
persepsi pasien.
2. Aspek Klinis
Aspek klinis adalah masalah medis, diagnosa kerja berdasarkan gejala dan tanda.
3. Aspek Internal
Aspek internal adalah faktor resiko yang ada pada pasien seperti pengaruh genetik,
gaya hidup, kepribadian, usia dan gender.
4. Aspek Eksternal
Aspek eksternal adalah hal-hal yang berasal dari lingkungan (keluarga, tetangga,
tempat kerja dan budaya). Faktor pendukung kesehatan pasien yang berasal dari
keluarga ialah adanya dukungan dari keluarga (ayah, ibu, kakak dan nenek) dalam
mengupayakan kesehatan pasien.2,3
5. Derajat Fungsional
Kualitas hidup pasien. Penilaian dengan skor 1-5 berdasarkan disabilitas pasien,
Ada 5 derajat fungsional berdasarkan ICPC 2:
a. Tidak ada keterbatasan fungsi apapun
b. Mulai ada keterbatasan fungsi
c. Banyak keterbatasan fungsi
d. Sangat banyak keterbatasan fungsi (kegiatan dirumah)
e. Tidak bisa beraktifitas sama sekali (full bed, 100% pelaku rawat)

Aktivitas menjalankan fungsi sosial


dalam
Skor
Kehidupan
Mampu melaksanakan pekerjaann secara
1
mandiri seperti sebelum sakit.
Mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-
hari 2
di dalam dan luar rumah.
Mampu melakukan perawatan diri, tapi tidak 3
mampu melakukanpekerjaan ringan.
15
Dalam keadaan tertentu masih mampu
merawat
diri, tapi sebagian besar aktivitas hanya
duduk 4
dan berbaring.
Perawatan diri oleh orang lain, hanya
berbaring 5
pasif.

Tabel 2.1 Derajat Fungsional

II.3 Scabies
II.3.1 Definisi Scabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.6
Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk filum
Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Bentuknya
lonjong, bagian chepal depan kecil dan bagian belakang torakoabdominal dengan
penonjolan seperti rambut yang keluar dari dasar kaki.

II.3.2 Epidemiologi

Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Daerah


endemik skabies adalah di daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika
Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, Kepulauan Karibia, India, dan Asia
Tenggara.7 Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia
terjangkit tungau skabies.2 Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies
cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin,
ras, umur, ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah
kemiskinan dan kondisi hidup di daerah yang padat,7 sehingga penyakit ini lebih sering di
daerah perkotaan. 6,7
Prevalensi skabies di Indonesia menurut Depkes RI berdasarkan data dari puskesmas
seluruh Indonesia tahun 2008 adalah 5,6%-12,95%. Skabies di Indonesia menduduki

16
urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Indonesia merupakan daerah tropis yang
memungkinkan parasit tersebut berkembang dengan optimal, selain itu ditunjang oleh
faktor ekonomi masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah serta tingkat kepadatan
penduduk yang masih tinggi.
Terdapat bukti menunjukkan insiden kejadian berpengaruh terhadap musim dimana
kasus skabies lebih banyak didiagnosis pada musim dingin dibanding musim panas.
Insiden skabies semakin meningkat sejak dua dekade ini dan telah memberikan pengaruh
besar terhadap wabah di rumah-rumah sakit, penjara, panti asuhan dan panti jompo.7
Skabies dapat diderita semua orang tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, akan
tetapi lebih sering ditemukan pada anak -anak usia sekolah dan dewasa muda/remaja.
Berdasarkan pengumpulan data Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI)
tahun 2001 dari 9 rumah sakit di 7 kota besar di Indonesia, diperoleh sebanyak 892
penderita skabies dengan insiden tertinggi pada kelompok usia sekolah (5 -14 tahun)
sebesar 54,6% serta penderita berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan
yakni sebesar 63,4%. Hal ini sesuai dengan faktor predisposisi pada anak usia sekolah
yang memiliki kemungkinan pajanan di luar rumah lebih besar, dengan anak laki - laki
memiliki frekuensi kegiatan di luar rumah lebih banyak daripada anak perempuan.7,8
II.3.3 Etiologi
Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk filum

Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Bentuknya lonjong,


bagian chepal depan kecil dan bagian belakang torakoabdominal dengan penonjolan
seperti rambut yang keluar dari dasar kaki.4 Tungau skabies mempunyai empat kaki dan
diameternya berukuran 0,3 mm. Sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Tungau ini tidak dapat terbang atau melompat dan hanya dapat hidup selama 30 hari di
lapisan epidermis.3
Gambar 2.1. Sarcoptes scabiei
Terdapat empat pasang kaki pendek, di bagian depan terdapat dua pasang kaki yang
berakhir dengan perpanjangan peduncles dengan pengisap kecil di bagian ujungnya. Pada
tungau betina, terdapat dua pasang kaki yang berakhir dengan rambut (Satae) sedangkan
pada tungau jantan rambut terdapat pada pasangan kaki ketiga dan peduncles dengan
17
pengisap pada pasangan kaki keempat.9
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi
di atas kulit, tungau jantan akan mati. Tapi kadang-kadang masih dapat hidup beberapa
hari dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah dibuahi
menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan
sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai 40-50 telur yang
dihasilkankan oleh setiap tungau betina selama rentang umur 4-6 minggu dan selama itu
tungau betina tidak meninggalkan terowongan. Setelah itu, larva berkaki enam akan
muncul dari telur setelah 3-4 hari dan keluar dari terowongan dengan memotong atapnya.
Larva kemudian menggali terowongan pendek (moulting pockets) di mana mereka berubah
menjadi nimfa. Setelah itu berkembang menjadi tungau jantan dan betina dewasa. Seluruh
siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 12
hari.7

Gambar 2.2. Siklus Hidup Skabies


18
Tungau skabies lebih suka memilih area tertentu untuk membuat terowongannya dan
menghindari area yang memiliki banyak folikel pilosebaseus. Biasanya, pada satu individu
terdapat kurang dari 20 tungau di tubuhnya, kecuali pada Norwegian scabies dimana
individu bisa didiami lebih dari sejuta tungau. Orang tua dengan infeksi virus
immunodefisiensi dan pasien dengan pengobatan immunosuppresan mempunyai risiko
tinggi untuk menderita Norwegian scabies.6,7,8,9
II.3.5 Cara Penularan
Skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung, penularan
melalui kontak langsung (Skin to skin) misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan
hubungan seksual. penularan secara tidak langsung misalnya melalui pakaian, sprai,
handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita Tungau S.
scabiei hidup dari sampel debu penderita, lantai, furniture dan tempat tidur. Penularannya
biasanya oleh Sarcopteas scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh
bentuk larva. Sarcoptes scabei var. animalis yang kadang-kadang bisa menulari manusia,
terutama bagi yang memelihara hewan peliharaan seperti anjing.7,8,9

II.3.6 Patogenesis
Setelah terjadi perkawinan (kopulasi) biasanya tungau jantan akan mati, namun
kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh
betina. Setelah tungau betina dibuahi, tungau ini akan membentuk terowongan pada kulit
sampai perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum dengan panjangnya 2-3 mm
perhari serta bertelur sepanjang terowongan sampai sebanyak 2 atau 4 butir sampai sehari
mencapai 40-50 butir. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva
yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva tersebut sebagian ada yang tetap tinggal dalam
terowongan dan ada yang keluar dari permukaan kulit, kemudian setelah 2-3 hari masuk
ke stadium nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki.
Waktu yang diperlukan mulai dari telur menetas sampai menjadi dewasa sekitar 8-12
hari.6,7
Reaksi alergi yang sensitif terhadap tungau dan produknya memperlihatkan peran
yang penting dalam perkembangan lesi dan terhadap timbulnya gatal. S. Scabiei
19
melepaskan substansi sebagai respon hubungan antara tungau dengan keratinosit dan sel-
sel Langerhans ketika melakukan penetrasi ke dalam kulit. 4 Sarcoptes scabiei varian
hominis betina, melakukan seleksi bagian-bagian tubuh mana yang akan diserang, yaitu
bagian-bagian yang kulitnya tipis dan lembab, seperti di lipatan-lipatan kulit pada orang
dewasa, sekitar payudara, area sekitar pusar, dan penis. Pada bayi karena seluruh kulitnya
tipis, pada telapak tangan, kaki. Wajah dan kulit kepala juga dapat diserang. Tungau
biasanya memakan jaringan dan kelenjar limfe yang disekresi dibawah kulit. Selama
makan, mereka menggali terowongan pada stratum korneum dengan arah horizontal.
Beberapa studi menunjukkan tungau skabies khususnya yang betina dewasa secara selektif
menarik beberapa lipid yang terdapat pada kulit manusia, di antaranya asam lemak jenuh
odd-chain-length (misalnya pentanoic dan lauric) dan tak jenuh (misalnya oleic dan
linoleic) serta kolesterol dan tipalmitin. Hal tersebut menunjukkan bahwa beberapa lipid
yang terdapat pada kulit manusia dan beberapa mamalia dapat mempengaruhi baik insiden
infeksi maupun distribusi terowongan tungau di tubuh. Tungau dewasa meletakkan baik
telur maupun kotoran pada terowongan dan analog dengan tungau debu, enzim pencernaan
pada kotoran adalah antigen yang penting untuk menimbulkan respons imun terhadap
tungau skabies.6,7,8,

Gambar 2.3.Siklus Hidup Sarcoptes scabiei dan Predileksi Scabies

Gambar 2.4. Lesi pada sela jari dan bagian perut

II.3.7 Diagnosis

20
1. Gambaran Klinis
Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei
sangat bervariasi. Meskipun demikian kita dapat menemukan gambaran klinis
berupa keluhan subjektif dan objektif yang spesifik. Dikenal ada 4 tanda utama atau
cardinal sign pada infestasi skabies, yaitu 7 :
a. Pruritus nocturna
Setelah pertama kali terinfeksi dengan tungau skabies, kelainan kulit seperti
pruritus akan timbul selama 6 hingga 8 minggu. Infeksi yang berulang
menyebabkan ruam dan gatal yang timbul hanya dalam beberapa hari. Gatal
terasa lebih hebat pada malam hari.3,4 Hal ini disebabkan karena meningkatnya
aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas. Sensasi gatal yang
hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi gelisah.7
b. Sekelompok orang
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam sebuah
keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam sebuah
pemukiman yang padat penduduknya, skabies dapat menular hampir ke seluruh
penduduk. Didalam kelompok mungkin akan ditemukan individu yang
hiposensitisasi, walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga tidak menimbulkan
keluhan klinis akan tetapi menjadi pembawa/carier bagi individu lain.7
c. Adanya terowongan
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada
kemampuannya meletakkan telur, larva dan nimfa didalam stratum korneum, oleh
karena itu parasit sangat menyukai bagian kulit yang memiliki stratum korneum
yang relative lebih longgar dan tipis.1 Lesi yang timbul berupa eritema, krusta,
ekskoriasi papul dan nodul yang sering ditemukan di daerah sela-sela jari, aspek
volar pada pergelangan tangan dan lateral telapak tangan, siku, aksilar, skrotum,
penis, labia dan pada areola wanita. 3 Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya
menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).7,9,10
Erupsi eritematous dapat tersebar di badan sebagai reaksi hipersensitivitas pada
antigen tungau. Lesi yang patognomonik adalah terowongan yang tipis dan kecil seperti
21
benang, berstruktur linear kurang lebih 1 hingga 10 mm, berwarna putih abu-abu, pada
ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel yang merupakan hasil dari pergerakan
tungau di dalam stratum korneum. Terowongan ini terlihat jelas kelihatan di sela-sela jari,
pergelangan tangan dan daerah siku. Namun, terowongan tersebut sukar ditemukan di awal
infeksi karena aktivitas menggaruk pasien yang hebat.10,11

Gambar 2.5. Tempat-tempat predileksi scabies


d. Menemukan Sarcoptes scabiei
Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh kemungkinan besar
kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa maupun skibala dan ini
merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi, kriteria yang keempat ini agak
susah ditemukan karena hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang
dengan lesi yang sangat variatif dan tidak spesifik. 3 Pada kasus skabies yang klasik,
jumlah tungau sedikit sehingga diperlukan beberapa lokasi kerokan kulit. Teknik
pemeriksaan ini sangat tergantung pada operator pemeriksaan, sehingga kegagalan
menemukan tungau sering terjadi namun tidak menyingkirkan diagnosis
skabies.7,8,9,10,11
2. Pemeriksaan penunjang
Bila gejala klinis spesifik, diagnosis skabies mudah ditegakkan. Tetapi penderita
sering datang dengan lesi yang bervariasi sehingga diagnosis pasti sulit ditegakkan.
Pada umumnya diagnosis klinis ditegakkan bila ditemukan dua dari empat cardinal
11
sign. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau dan produknya
yaitu:
a. Kerokan kulit

Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH 10% lalu
dilakukan kerokan dengan meggunakan scalpel steril yang bertujuan untuk
mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas
objek dan ditutup dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.
b. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam
22
terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian
dikeluarkan. Bila positif, Tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang
sangat kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian
tinggi.
c. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta
hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah
tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih gelap
dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes
dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai
bentuk zigzag.
d. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Diagnosis pasti dapat melalui identifikasi tungau, telur atau skibala secara mikroskopik.
Ini dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk kemudian dibuat
irisan tipis, dan dilakukan irisan superficial secara menggunakan pisau dan berhati-hati
dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca
objek dan ditetesi dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa dibawah
mikroskop.11
e. Biopsi irisan dengan pewarnaan HE.

Gambar 2.6. Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan pewarnaan H.E

f. Uji tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah
23
dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin
tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli.11
Dari berbagai macam pemeriksaan tersebut, pemeriksaan kerokan kulit merupakan cara
yang paling mudah dan hasilnya cukup memuaskan. Agar pemeriksaan berhasil, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni 11 :

1) Kerokan harus dilakukan pada lesi yang utuh (papula, kanalikuli) dan tidak
dilakukan pada tempat dengan lesi yang tidak spesifik.

2) Sebaiknya lesi yang akan dikerok diolesi terlebih dahulu dengan minyak
mineral agar tungau dan produknya tidak larut, sehingga dapat menemukan
tungau dalam keadaan hidup dan utuh.

3) Kerokan dilakukan pada lesi di daerah predileksi.

4) Oleh karena tungau terdapat dalam stratum korneum maka kerokan harus
dilakukan di superficial dan menghindari terjadinya perdarahan. Namun
karena sulitnya menemukan tungau maka diagnosis scabies harus
dipertimbangkan pada setiap penderita yang datang dengan keluhan gatal yang
menetap.
II.3.8 Diagnosis Banding7,8,11

1. Prurigo: Papula milier, terasa gatal dengan predileksi di ekstremitas

2. Pedikulosis corporis: Papula milier disertai ekskoriasi, terasa gatal dengan

predileksi pinggang, ketiak dan inguinal

3. Gigitan serangga : Urtikaria papular biasanya pada bagian tubuh yang tidak

tertutup, timbul setelah gigitan serangga


24
4. Folikulitis : Pustula milier dengan dasar makula eritematosa yang terasa nyeri
II.3.9 Penatalaksanaan6,7,11

Terdapat beberapa terapi untuk scabies yang memiliki tingkat efektivitas yang
bervariasi. factor yang berpengaruh dalam keberhasilan yang antara lain umur pasien,
biaya pengobatan, berat derajat erupsi dan factor kegagalan terapi yang pernah diberikan
sebelumnya. Penatalaksanaan secara umum pada pasien scabies adalah edukasi pada
pasien :

1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan


2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya pada malam hari
sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulu dan mata dengan tangan
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan
direndam dengan air panas.
5. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu walaupun rasa
gatal yang mungkin masih timbul dalam beberapa hari.
6. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang
sama dan ikut untuk menjaga kebersihan,
Pengobatan scabies harus efektif terhadap tungau dewasa, telur dan produknya,
mudah diaplikasikan, nontoksik, tidak mengiritasi, aman untuk semua umur, dan
terjangkau biayanya. pengobatan scabies bervariasi berupa topical maupun oral. Jenis obat
topikal yang dapat diberikan kepada pasien adalah :
1. Permetrin 5% dalam krim, Merupakan sintesa dari pyrethroid dan bekerja dengan
cara mengganggu polarisasi dinding sel saraf parasit yaitu melalui ikatan natrium.
Hal ini memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralise parasit.
Obat ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan scabies karena efek
tosisitasnya terhadap mamalia sangat rendah dan kecenderungan keracunan akibat
kesalahan penggunaan sangat kecil.
2. Presipitat Sulfur 2-10%, Merupakan antiskabies tertua yang telah lama digunakan.
25
cara aplikasi salep sangat sederhana, yakni mengoleskan salep setelah mandi
keseluruh tubuh selama 24 jam dalam tiga hari berturut-turut.
3. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%) efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap
malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-
kadang makin gatal setelah dipakai.

4. Ivermectin, merupakan bahan semisintetik yang dihasilkan oleh streptomyces


avermitilis, anti parasit yang strukturnya mirip antibiotic makrolid, namun tidak
mempunyai aktifitas sebagai antibiotic, diketahui aktif melawan ekto dan endo
parasit.

Bila disertai infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika. Untuk rasa gatal dapat
diberikan antihistamin per oral. Perlu diperhatikan jika diantara anggota keluarga ada yang
menderita skabies juga harus diobati. Karena sifatnya yang sangat mudah menular, maka
apabila ada salah satu anggota keluarga terkena skabies, sebaiknya seluruh anggota
keluarga tersebut juga harus menerima pengobatan.

II.3.10 Komplikasi 7,11


1. Erupsi dapat berbentuk limfangitis, impetigo, ektima, selulitis, folikulitis dan
furunkel jika skabies dibiarkan tidak diobati selama beberapa minggu sampai
beberapa bulan
2. Dapat timbul infeksi sekunder sistemik yang memperberat perjalanan penyakit
seperti pielonefritis, abses, internal, pneumonia piogenik dan septikemia (Stone)
3. Pada anak-anak sering terjadi glomerulonefritis
4. Terjadi iritasi dalam penggunaan benzyl benzoate sehari 2 kali terutama pada
pemakian di genitalia pria

II.3.11 Prognosis
Keberhasilan pengobatan skabies dan pemberantasan penyakit tersebut
tergantung pada pemilihan efektif, pemakaian obat yang benar, serta menghilangkan faktor
predisposisi.11
26
BAB III
LAPORAN KASUS

III.1 Identitas Pasien dan Keluarga

III.1.1 Identitas Pasien

Nama pasien : An.R

Usia pasien : 2 tahun

Alamat pasien : Srondol Kulon RT 05/RW10

Agama : Islam

Pendidikan terakhir : Belum sekolah

Suku : Jawa

Pekerjaan : Belum bekerja

Status pernikahan : Belum menikah

Kunjungan ke pelayanan kesehatan : 6 September 2017

Kunjungan rumah : 8 September 2017

Telp / No HP :-

III.1.2 Identitas Orang Tua

Tabel 3.1 Identitas Orang Tua

Identitas Ayah Ibu


Nama Tn. R Ny. S
Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan
Umur 27 tahun 27 tahun
Alamat Srondol Srondol
Kulon Kulon
27
RT 05/RW10 RT 05/RW10
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Jawa Jawa
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Buruh Ibu Rumah Tangga

III.2 Profil Keluarga yang Tinggal Satu Rumah


III.2.1 Daftar Anggota Keluarga

Tabel 3.2 Daftar anggota keluarga serumah

No Nama Kedudukan JK Umur Pendidikan Pekerjaan Keteranga


dalam (th) n
Keluarga
1 Rudi KK L 27 SLTA Buruh Sehat
Kurniawan
2 Supriyanti Istri KK P 27 SLTA Ibu Rumah Sehat
Tangga
3 Rasya Anak L 2 Belum Belum Pasien
kandung sekolah bekerja
4 Suparni Nenek P 67 SD Ibu Rumah Sehat
Tangga

Sumber: Data primer hasil wawancara dengan Bu Supriyanti

Keterangan:

d. Pekerjaan disebutkan rinci jenis pekerjaan/ jenis aktivitas


berkaitan dengan kedokteran okupasi untuk menilai faktor
risiko gangguan kesehatan / penyakit akibat kerja.

e. Pendidikan disebutkan jenjang pendidikan terakhir yang


mendapatkan surat kelulusan.

28
III.3 Family Assesment Tools
III.3.1Genogram Keluarga

Gambar 3.1 Genogram Keluarga

Genogram dibuat pada tanggal 8 September 2017, sumber pembuatan genogram adalah Ny.

S, 27 tahun, ibu pasien.

Keterangan :

: Pasien : Perempuan

: Tinggal serumah : Laki- laki

29
III.3.2. Bentuk dan Siklus Keluarga

Keluarga pasien termasuk dalam bentuk Extended yakni Keluarga yang


terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung dan nenek pasien. Family Map
digunakan untuk mengetahui hubungan dalam keluarga dan interaksi di
dalamnya, serta menggambarkan system keluarga, pola interaksi dan hubungan,
batas generasi dan konflik/ persekutuan, serta mengetahui siapa yang
mengambil keputusan di dalam keluarga tersebut. Siklus keluarga Familie with
child preschool.

Gambar 3.2Family Map

Keterangan :

Fungsional (hubungan dekat)


Disfungsional
Enmeshed or over involved relationship

Kesan : Hubungan antara pasien dan keluarga terdapat hubungan dekat

III.3.3.Komponen APGAR

Genogram dapat digunakan untuk mengumpulkan data tentang individu,


pasangan, atau keluarga terutama pola keturunan, riwayat penyakit keluarga,
30
anggota keluarga, struktur keluarga, proses emosional seiring waktu. Juga
merupakan strategi yang berguna untuk menganjurkan anggota keluarga yang
mungkin enggan untuk ikut terlibat dalam diskusi dalam masalah keluarga.
Fungsi keluarga pasien dinilai dengan perangkat APGAR yang ditanyakan
kepada ibu pasien (Ny. S).
Tabel 3.3 Komponen APGAR

Hampir
Kadang- Hampir
tidak
Komponen Indikator kadang selalu
pernah
(1) (2)
(0)
Saya puas bahwa saya dapat
kembali pada keluarga
Adaptation (teman-teman) saya, untuk
membantu saya pada waktu
saya mendapat kesusahan
Saya puas dengan cara
keluarga (teman-teman) saya,
untuk membicarakan sesuatu
Partnership
dengan saya dan
mengungkapkan masalah
dengan saya
Saya puas bahwa keluarga
(teman-teman) saya,
menerima dan mendukung
Growth
keinginan saya untuk
melakukan aktifitas atau arah
baru
Saya puas dengan cara
keluarga (teman-teman) saya,
mengekpresikan afek dan
Affection
berespon terhadap emosi-
emosi saya seperti marah
sedih atau mencintai
Saya puas dengan cara
keluarga (teman-teman) saya,
Resolve
dan saya menyediakan waktu
bersama-sama
Skor total 4

Klasifikasi :

Skor 8-10 : fungsi keluarga sehat

31
Skor 4-7 : fungsi keluarga kurang sehaT
Skor 0-3 : fungsi keluarga tidak sehat
Kesan : fungsi keluarga kurang sehat

III.3.4. Sumber Daya Keluarga (FAMILY SCREEM)

Family SCREEM (Social, Cultural, Religius, Economic, Education,

Medical) menggambarkan ketersediaan sumber, penilaian kapasitas keluarga

dalam berpartisipasi pada ketentuan pelayanan kesehatan atau mengatasi krisis,

serta digunakan untuk mengetahui fungsi patologis di dalam keluarga, dan

diperlukan pada kondisi dimana pasien mengalami penyakit kronis dan

membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang atau seumur hidup.

Tabel 3.4 Family SCREEM

Sangat Setuju Tidak Sangat


Pertanyaan Setuju Setuju Tidak
Setuju
(3) (2) (1) (0)
Sosial Di dalam keluarga, kami saling
(Social) membantu satu sama lain. Teman-
teman dan tetangga juga membantu
kami bila kami mendapat kesulitan

Kebudayaan Budaya saling membantu satu sama


(Culture) lain di lingkungan kami tinggal
sangat membantu keluarga kami

Keagamaan Kami percaya dan yakin dengan


(Religious) agama yang kami anut

Ekonomi Penghasilan keluarga kami cukup


(Economy) untuk kehidupan sehari-hari

Pendidikan Pendidikan/ pengetahuan kami


(Education) cukup untuk memahami masalah
kesehatan

Kesehatan Sangat mudah untuk menjangkau


(Medical) fasilitas pelayanan kesehatan di
32
tempat tinggal kami

Skor Total 16

Dari survey Family SCREEM maka keluarga dapat diklasifikasikan berdasarkan


hasil dari penghitungan survey yang bilamana didapatkan hasil
0-6 : tidak ada sumber daya dalam keluarga
7-12 : sumber daya dalam keluarga cukup
13-18 : sumber daya dalam keluarga memadai
Kesan : Sumber daya dalam keluarga memadai
III.3.5. Perjalanan Hidup Keluarga (FAMILY LIFE LINE)

Tabel 3.5 Family Life Line

Usia Peristiwa Keterangan


Tahun
2015 Lahir Pasien lahir secara SC
dirumah sakit ditemani oleh Terdapat gunjangan
19 September Ayah pasien dan nenek psikologis karena ini
merupakan kelahiran anak
pertama dan harus
menerima kenyataan
bahwa dilahirkan secara
SC karena kondisi
kehamilan yang berisiko
yang dapat mengancam
kematian pada bayi.
Pasien masuk ruang perina Pasien saat baru lahir tidak
(ruang perawatan khusus bayi) langsung mendapat
dekapan yang hangat dari
ibunda untuk mendapatkan
air susu ibu pertama kali.

2015 Lahir sampai Pasien tidak mendapatkan ASI Ibu pasien mendapat
sekarang (susu formula) tekanan psikologis karena
kondisi yang
33
mengharuskan pasien saat
lahir SC sehingga tidak
langsung diberikan ASI
2015 Lahir Imunisasi Polio, Hepatitis B Pasien mendapatkan
imunisasi pertama kali di
rumah sakit oleh tenaga
medis (bidan/perawat).

2015 2 bulan Imunisasi BCG, Polio, Hepatitis Pasien diberikan imunisasi


B, Hib, DPT di Puskesmas Srondol oleh
November
bidan.

2015 3 bulan Imunisasi Polio, Hepatitis B, Pasien diberikan imunisasi


Hib, DPT di Puskesmas Srondol oleh
Desember bidan.

2016 4 bulan Imunisasi Polio, Hepatitis B, Pasien diberikan imunisasi


Hib, DPT di Puskesmas Srondol oleh
Januari bidan.

2016 9 bulan Imunisasi campak Pasien mendapat imunisasi


di Puskesmas Srondol oleh
September bidan.

Kesan : Pada umunya perjalanan hidup pasien yaitu berkaitan dengan tahap tumbuh dan
kembang pada pasien baik, hanya saja ibu pasien terkadang kurang memperhatikan secara

34
rinci tumbuh dan kembang pada pasien atau dalam artian meningkatkan pengetahuan
berkaitan tumbuh dan kembang anak. Pemberian imunisasi dasar yang diprogramkan oleh
pemerintah memang telah dilaksakan oleh ibu pasien. Ibu pasien kurang mengetahui
pentingnya ASI ekslusif dan informasi tentang bagaimana cara pemberian MPASI.

III.3.6. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Tabel 3.6 Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

No. Indikator PHBS Ya Tidak


1 Persalinan di keluarga anda di tolong oleh tenaga
kesehatan terampil yang dilakukan di fasilitas
kesehatan (bukan di rumah sendiri)
2 Pemeriksaan kehamilan minimal selama 4 kali
selama hamil
3 Pemberian ASI eksklusif saja pada bayi sampai
usia 6 bulan
4 Balita ditimbang secara rutin (minimal 8 kali
setahun)
5 Keluarga biasa makan dengan gizi seimbang
6 Menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-
hari
7 Keluarga biasa BAB di jamban sehat
8 Membuang sampah pada tempatnya sehari-hari
9 Menggunakan lantai rumah kedap air (bukan tanah)
10 Apakah keluarga anda biasa melakukan aktivitas
fisik minimal 30 menit perhari?
11 Anggota keluarga tidak ada yang merokok
12 Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan
sesudah BAB
13 Menggosok gigi minimal 2 kali sehari
14 Membeli/menyimpan /menjual minum-minuman
keras (bir, alkohol, arak, anggur)/narkoba?
15 Anggota JPK/Dana Sehat/Asuransi
Kesehatan/JAMKESMAS (peserta JKN/BPJS)?
16 Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
seminggu sekali?

Dari penilaian indikator tersebut, dapat ditentukan kriteria PHBS


tatanan rumah tangga, yaitu :

35
1. Sehat pratama =0-5
2. Sehat madya = 6 -10
3. Sehat utama = 11 -15
4. Sehat paripurna = 16

Kesan : Hal ini menunjukan bahwa indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
berkaitan dengan tatanan rumah tangga pasien yaitu sehat madya.

III.3.7. Indikator Rumah Sehat

Rumah pasien berada di lingkungan yang cukup padat,


dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk lain. Ruangan rumah
terdiri dari 1 ruang tamu, 2 ruang tidur, dan dapur. Setiap kamar
tidak ada jendela dan ventilasi. Jendela hanya terdapat pada
ruang tamu.Terdapat lampu disetiap ruangan. Dinding rumah
sudah diplester dan kedap air. Lantai sebagian besar rumah sudah
diplester dan kedap air, kecuali dapur yakni masih dari tanah
Dapur pasien masih menggunakan tungku dengan kayu bakar
sebagai bahan bakar. Terdapat lubang untuk pembuangan asap.
Rumah pasien memiliki jamban. Sumber air didapatkan dari
mata air gunung, sama seperti masyarakat sekitar dengan kualitas
air yang jernih, tidak berasa dan tidak berbau. Air tersebut
digunakan untuk seluruh kebutuhan sehari-hari keluarga pasien.
Berikut penilaian rumah sehat berdasarkan pedoman teknis
penilaian rumah sehat menurut Depkes RI 2002 :

Tabel 3.7 Indikator Rumah Sehat

No. Komponen Rumah Kriteria Nilai


36
Yang Dinilai
KOMPONEN Bobot 310
I
RUMAH (31)
1 Langit-langit a. Tidak ada 0
b. Ada, kotor sulit dibersihkan dan rawan
1
kecelakaan
c. Ada, bersih dan tidak rawan kecelakaan 2
2 Dinding a. Bukan tembok (terbuat dari anyaman
1
bambu / ilalang)
b. Semi permanen / setengah
tembok/pasangan bata atau batu yang tidak 2
diplester/papan yang tidak kedap air
c. permanen (tembok/pasangan bata atau
batu yang diplester/papan kedap air) 3

3 Lantai a. Tanah 0
b. papan/anyaman bambu dekat dengan 1
tanah/plesteran yang retak dan berdebu
c. Diplester/ubin/keramik/ papan(rumah
2
panggung)
4 Jendela kamar tidur a. Tidak ada 0
b. Ada 1
5 Jendela ruang a. Tidak ada 0
keluarga b. Ada 1

37
6 Ventilasi a. Tidak ada 0
b. Ada, luas ventilasi permanen < 10% dari
1
luas lantai
c. Ada, luas ventilasi permanen > 10% dari
luas lantai 2

7 Lubang asap dapur a. Tidak ada 0


b. Ada, luas ventilasi < 10% dari luas lantai 1
dapur
c. Ada, luas ventilasi >10% dari luas lantai
dapur (asap keluar dengan sempurna) atau
2
ada exhauster fan ada peralatan lain yang
sejenis
8 Pencahayaan a. Tidak terang, tidak dapat digunakan untuk
0
membaca
b. kurang terang, sehingga kurang jelas
1
untuk membaca
c. Terang dan tidak silau, sehingga dapat 2
dipergunakan untuk membaca dengan
normal
SARANA SANITASI 25 300
II
(Bobot)
1 Sarana air bersih a. Tidak ada 0
(SGL/SPT/PP/KU/ b. Ada, bukan milik sendiri dan tidak
1
PAH) memenuhi syarat kesehatan
c. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi
2
syarat
d. Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi
3
syarat
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat 4
2 Jamban (sarana a. Tidak ada 0
pembuangan kotoran) b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup,
1
disalurkan ke sungai/kolam
c. Ada, bukan leher angsa dan ditutup (leher
2
angsa), disalurkan ke sungai/kolam
d. Ada, bukan leher angsa ada tutup, septic
3
tank
e. Ada, leher angsa, septic tank 4
3 Sarana pembuangan a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak
0
air limbah (SPAL) teratur di halaman rumah
b. Ada, diresapkan tetapi mencemari sumber
1
air (jarak dengan sumber air <10m)
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka 2
d. Ada, dialirkan ke selokan tertutup
3
(saluran kota) untuk diolah lebih lanjut
4 Sarana pembuangan a. Tidak ada 0
38
sampah (tempat b. Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak ada
1
sampah) tutup
c. Ada, kedap air dan tidak tertutup 2
d. Ada, kedap air dan tertutup 3

PERILAKU 44 264
III
PENGHUNI (Bobot)
Membuka jendela a. Tidak pernah dibuka 0
1 kamar b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2
Membuka jendela a. Tidak pernah dibuka 0
2 ruang keluarga b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2
Membersihkan rumah a. Tidak pernah 0
3 dan halaman b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2
Membuang tinja bayi a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam
0
dan balita ke jamban sembarangan
4
b. Kadang-kadang ke jamban 1
c. Setiap hari dibuang ke jamban 2
Membuang sampah a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam 0
pada tempat sampah sembarangan
5
b. Kadang-kadang ke jamban 1
c. Setiap hari dibaung ke tempat sampah 2
TOTAL HASIL PENILAIAN 874

39
Menurut Depkes 2002, kriteria rumah sehat terbagi menurut hasil penilaian :
1. Rumah Sehat : 1068 1200
2. Rumah Tidak Sehat : < 1068
Kesan : Sehingga pada rumah keluarga An. Rasya termasuk kategori rumah tidak
sehat. Hal ini dikarenakan keluarga pasien tidak mengetahui dampak yang nanti
diakibatkan karena kurangnya menjaga kondisi rumah agar selalu bersih dan sehat.

Gambar 3.3 Denah Rumah

III.4. Resume Penyakit

1. Anamnesa

Anamnesa dilakukan secara alloanamnesis pada Jumat, 8 September


2017 pukul 14.30 WIB.

2. Keluhan Utama
Batuk sejak 2 hari yang lalu
3. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Puskesmas Srondol bersama ibu kandung pasien 2


hari yang lalu dengan keluhan batuk sejak 3 hari yang lalu. Batuk
disertai dengan dahak bewarna bening. Sebelum batuk, ibu pasien

40
mengatakan bahwa pasien sempat demam sejak 4 hari yang lalu. Ibu
pasien juga mengatakan bahwa demam dirasakan tidak terlalu tinggi
dan reda jika diberikan obat penurun panas. Ibu pasien mengatakan
pasien juga mengalami pilek dan diare. Diare cair disertai dengan
ampas berwarna cokelat sejak 1 hari yang lalu. Keluhan pilek yang
dirasakan oleh pasien sejak 2 hari yang lalu.

4. Riwayat Penyakit Dahulu

a. Riwayat sakit yang serupa : pasien pernah mengalami penyakit


serupa

b. Riwayat alergi : disangkal

c. Riwayat rawat inap : disangkal

d. Riwayat kelahiran : Pasien lahir sectio caesarea, BBL


4700gr

e. Riwayat tumbuh kembang : normal sesuai usia

5. Riwayat Penyakit Keluarga

a . Riwayat penyakit serupa : disangkal

b . Riwayat Alergi : disangkal

6 . Riwayat Imunisasi

Imunisasi Waktu Pemberian


Bulan (Booster)
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 9 15 18 5 10 12
BCG I
Polio I II III IV
Hepatitis B I II III IV
Hib I II III
DPT I II III
Campak I
Kesan : imunisasi dasar lengkap
7. Riwayat Perkembangan

41
Usia Peristiwa
2 bulan Mengangkat kepala
ketika tengkurap Usia Peristiwa
3 bulan Kepala tegak saat 18 bulan Berbicara minimal 15 kata dan
didudukkan mengetahui benda asing
5 bulan Meraih dan menggapai
Benda
disekitarnya
6 bulan Duduk

12 bulan Berjalan tanpa alat bantu

Kesan : Perkembangan normal


sesuai usia

42
8. Status Generalis

a. Keadaan Umum : Compos mentis

b. RR : 20x/menit

c. Nadi : 100x/menit

d. Suhu : 36.8C

9. Penilaian Status Gizi :

a. BB : 14,7 kg
b. TB : 98 cm
c. Z Score
d. IMT/U : presentile -1 SD sampai 1 SD, Kategori Normal

Kesan kurva berat terhadap panjang atau tinggi badan : z skor di median 0 (normal)

43
Kesan kurva Berat Badan terhadap Umur : Z Skor di median 0 (dalam batas normal)

Kesan kurva Lingkar Kepala terhadap Umur : Z Skor di median 0 (dalam batas normal)

44
Kesan kurva Panjang Badan terhadap Umur : Z Skor diatas 3 (perawakan tinggi)
10. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Kepala
1) Bentuk kepala: normocephal
2) Rambut : distribusi rambut merata
b. Pemeriksaan Mata
1) Palpebra: edema (-), eritema (-)
2) Konjungtiva : hiperemis (-)
3) Sklera : ikterik (-)
4) Pupil : isokor
c. Pemeriksaan Telinga : deformitas daun telinga (-), liang telinga,
lapang, eritema (-)
d. Pemeriksaan Hidung : deformitas (-), kavum nasi hiperemis (+),
sekret bening (+)
e. Pemeriksaan Leher
1) Kelenjar tiroid : tidak teraba pembesaran
2) Kelenjar limfonodi : tidak teraba pembesaran, nyeri tekan (-)
3) JVP : tidak dilakukan
f. Pemeriksaan Thorax

45
1) Pulmo :
Tabel 3.8 Pemeriksaan Dada Pulmo
Anterior Posterior
Inspeksi Deformitas (-), lesi (-), Deformitas (-), lesi (-),
gerak simetris gerak simetris
Palpasi Vokal fremitus simetris Vokal fremitus simetris
Perkusi Sonor diseluruh lapang Sonor diseluruh lapang paru
paru
Auskultasi Vesikuler diseluruh lapang Vesikuler diseluruh lapang
paru paru

2) Jantung :
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba di ICS V linea midclavicularis
sinistra
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

g. Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : tampak datar

Auskultasi : bising usus (+) normal

Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen

Palpasi : supel, turgor baik, nyeri tekan (-)

7. Pemeriksaan Ekstremitas

Tabel 3.9 Pemeriksaan Ekstremitas

Ekstremitas Atas Ekstremitas Bawah


Kanan Kiri Kanan Kiri
Kekuatan 5555 5555 5555 5555
46
Tonus Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus
Klonus (-) (-) (-) (-)
Reflek (-) (-) (-) (-)
patologis
Reflek (+) (+) (+) (+)
fisiologis
Edema (-) (-) (-) (-)
11. Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan
III.5. Assesment (sesuai kasus)
III.6. Diagnosis Kerja

Diagnosis Klinis : ISPA


Imunisasi : lengkap
Status gizi : Normoweight
Perkembangan : Perkembangan sesuai usia
III.7. Rencana Penatalaksanaan
Medikamentosa :
Paracetamol Syr k/p
Vitamin C pulv 1x1

Non-Medikamentosa :

1 Edukasi :
Menjaga kebersihan tempat tidur, membuka ventilasi rumah
saat pagi hari
Hindari pajanan asap rokok
Istirahat yang cukup
Biasakan pola hidup bersih dan sehat
Konsumsi makan-makanan bergizi dengan prinsip gizi seimbang
dan perbanyak minum air putih

III.8. Pengelolaan Komprehensif


1. Promotif

Penjelasan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Orang tua pasien
juga perlu diberikan edukasi mengenai gizi, self hygiene, dan makan
makanan bergizi seimbang.
47
2. Preventif

Edukasi kepada keluarga pasien (minimal melibatkan satu orang


anggota keluarga jika memungkinkan) tentang :

a. Gambaran tentang penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit


yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar rumah yang tidak
sesuai syarat rumah sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat.
b. Edukasi tentang ISPA meliputi penyebab, perjalanan penyakit,
faktor resiko, pengobatan dan pencegahan.

c. Edukasi tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat serta


syarat-syarat rumah sehat.

d. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah dan menerapkan


prinsip rumah tangga sehat yang memperhatikan syarat rumah sehat
yang merupakan faktor resiko ISPA.
e. Edukasi mengenai ASI ekslusif dan MPASI.

3. Kuratif

Pengobatan simptomatik dan tambahan antibiotik jika diperlukan.

III.9. Hasil Penatalaksanaan Medis

Dari hasil kunjungan ke rumah pasien pada tanggal 16 September 2017


didapatkan keterangan bahwa keadaan pasien membaik setelah dilakukan
pengobatan.

a. Faktor pendukung : Anak meminum obat dan memakai secara


teratur sesuai anjuran dokter.

b. Faktor penghambat : Kurangnya perhatian ibu terhadap


kebersihan ruang tidur yaitu kurangnya pencahayaan di dalam
rumah pasien.
48
IIII.10 Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga

1. Fungsi Biologis

Pasien datang ke Puskesmas Srondol bersama ibu kandung pasien 2 hari


yang lalu dengan keluhan batuk sejak 3 hari yang lalu. Batuk disertai
dengan dahak bewarna bening. Sebelum batuk, ibu pasien mengatakan
bahwa pasien sempat demam sejak 4 hari yang lalu. Ibu pasien juga
mengatakan bahwa demam dirasakan tidak terlalu tinggi dan reda jika
diberikan obat penurun panas. Ibu pasien mengatakan pasien juga
mengalami pilek dan diare. Diare cair disertai dengan ampas berwarna
cokelat sejak 1 hari yang lalu. Keluhan pilek yang dirasakan oleh pasien
sejak 2 hari yang lalu.

2. Fungsi Psikologis

Pasien tinggal bersama kedua orang tua, kakak dan nenek pasien.
Hubungan antara ayah, ibu, dan nenek pasien terjalin baik dan
komunikasi lancar. Dalam menghadapi masalah eksternal dan
internal dalam keluarga proses pengambilan keputusan berasal dari
ayah pasien sebagai pembuat keputusan akhir.

3. Fungsi Ekonomi

Sumber penghasilan keluarga pasien didapatkan dari upah kerja


suami sebagai buruh. Penghasilan yang didapatkan tidak menentu
( Rp 1.200.000,00). Ibu pasien sudah tidak bekerja lagi.

4. Fungsi Pendidikan

Pendidikan terakhir ayah dan ibu pasien adalah SMA.

5. Fungsi Religius

Pasien berasal dari keluarga muslim yang taat dan rutin.

49
menjalankan ibadahnya.

6. Fungsi Sosial Budaya

Pasien dan keluarga dibesarkan dalam adat istiadat suku Jawa pada
umumnya. Pasien hidup dalam keluarga yang sederhana dan
hubungan dengan tetangga-tetangga serta teman-temannya baik.
Keluarga pasien dikenal baik oleh seluruh tetangganya. Tidak
terdapat kepercayaan terhadap mitos atau hal-hal lain yang
berhubungan dengan kesehatan yang masih dipercaya oleh pasien.

III.11 Pola Konsumsi Makan Pasien dan Keluarga

Frekuensi makan rata rata setiap harinya 3x/hari namun kurang variasi
makanan sebagai berikut : bubur, sayur (bayam, sayur asem, dan sayuran
lainnya). Pasien dan keluarganya jarang mengkonsumsi telur (1 minggu sekali),
daging ayam ataupun daging merah (hanya pada hari raya besar saja). Namun
buah biasanya diberikan berupa sari dengan di blender.
Kesan : Kebutuhan makanan pasien kurang secara kualitatif dan kuantitatif.

III.12 Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan


1. Faktor Perilaku
Pasien sulit makan sehingga kecukupan gizi tidak terpenuhi. Ada anggota
keluarga pasien yang merokok yaitu ayah pasien. Keluarga pasien tidak
membiasakan untuk mencuci tangan baik sebelum makan maupun setelah
BAB.
2. Faktor Non Perilaku
Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup dekat. Adapun jarak
antara rumah pasien dengan Puskesmas Srondol kira-kira 2 km.
Kebersihan sanitasi rumah masih kurang baik. Kondisi rumah belum
mempunyai langit-langit dan terlihat kotor, jendela yang jarang dibuka,
pencahayaan kurang dan kebersihan rumah kurang.

III.13 Identifikasi Lingkungan Rumah


50
Rumah pasien terletak di pedusunan yang padat, dengan bentuk
bangunan tidak bertingkat. Secara umum gambaran rumah terdiri dari 2 kamar
tidur, 1 ruang dapur, 1 kamar mandi, 1 ruang keluarga dan 1 ruang tamu. Lantai
terbuat dari keramik, dinding terbuat dari batako dan atap rumah terbuat dari
genteng. Terdapat jendela hanya pada ruang tamu sebanyak 4 buah. Penerangan
dalam rumah kurang terang, sehingga tidak dapat membaca tanpa bantuan
lampu listrik pada siang hari. Kebersihan di dalam rumah kurang baik karena
pada bagian dapur barang-barang masih belum tertata rapih. Rumah pasien
sudah memiliki jamban yang layak. Sumber air bersih untuk keperluan sehari-
hari dari PAM. Ibu pasien mengaku membuang sampah di tempat sampah
terbuka yang letaknya di luar rumah.

Tidak ada kelainan


Tidak ada masalah

Pasien jarang mencuci


tangan sebelum dan
sesudah bermain
Keluarga pasien jarang
membuka jendela rumah
Keadaan sekitar rumah
dan kamar pasien
pasien padat, terdapat
Keluarga pasien jarang burung yang tersangkar
membersihkan bagian digantung depan rumah
atap rumah
pasien, asap rokok bebas
Ayah pasien merokok masuk ke sekitar rumah
dan dalam rumah,
pencahayaan dalam
rumah dan kamar pasien
sangat kurang.
51
Gambar 3.5. Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan

III.14 Diagnosis Fungsi Keluarga

1. Fungsi Biologis

Keluhan gatal-gatal pada sela jari kedua tangan, telapak tangan, siku
dan sela jari-jari kaki. Keluhan gatal dirasakan semakin memberat
terutama pada malam hari yang menyebabkan pasien sering
terbangun hampir setiap malam karena rasa gatal yang hebat. Rasa
gatal yang dirasakan membuat pasien menggaruk kulit hingga timbul
luka akibat garukan.

2. Fungsi Psikologis
i. Hubungan dengan tiap anggota keluarga baik.
ii. Hubungan dengan tetangga rumah baik.
3. Fungsi Ekonomi
Perekonomian keluarga kurang sehingga kebutuhan juga belum dapat
dipenuhi seutuhnya.

4. Fungsi Pendidikan

Ayah tamat SMA, ibu tamat SMA . Pendidikan yang rendah


mengarah pada pengetahuan yang kurang, sehingga aplikasi perilaku
untuk hidup bersih dan sehat kurang, akibatnya kesadaran akan
kesehatan kurang.

5. Fungsi Religius dan Fungsi Sosial Budaya

Dapat bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar dengan baik.

6. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi

Masalah yang berhubungan dengan keluarga diselesaikan dengan


musyawarah.

52
III.15 Diagnosis Holistik

1. Aspek Personal

a. Aspek kedatangan

Pasien datang berobat ke puskesmas karena pasien batuk, pilek,


dan demam.

b. Harapan
Pasien memiliki harapan untuk dapat sembuh

c. Kekhawatiran

Ibu pasien khawatir keluhannya berulang sehingga dapat


mengganggu aktivitas sehari-hari pasien, dan khawatir akan
membuat pasien tambah sulit untuk makan.

2. Aspek Klinis
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik disimpulkan bahwa
diagnosis dari pasien tersebut adalah ISPA.
3. Aspek Internal
a. Genetik
Tidak terdapat faktor genetik yang berkaitan dengan keluhan
yang dialami pasien.
b. Pola makan
Pola makan pasien belum memenuhi pola gizi seimbang.
c. Kebiasaan
Ibu dan keluarga pasien dirumah kurang menerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat dirumah.
d. Spiritual
Keluarga pasien percaya bahwa penyakit yang dideritanya
adalah ketentuan Allah SWT.

53
4. Aspek Eksternal

Faktor pendukung kesehatan pasien adalah pihak keluarga yang


memberi motivasi agar pasien meminum obat secara teratur serta
berperilaku hidup bersih dan sehat, keluarga tidak tahu bahwa obat yang
diresepkan oleh puskesmas harus segera di tebus, setelah mengetahui
fungsi nya keluarga mengerti dan akan membeli obat yang diresepkan.
5. Derajat Fungsional

Menurut skala pasien termasuk derajat 1 dimana pasien dapat secara


mandiri melakukan perawatan diri dan melakukan seluruh aktivitasnya
tanpa dibatasi oleh masalah.
IV.3 Prinsip Kedokteran Keluarga (ndak tau masuk bagian mana ini)
a. Holistic Care
Pada pasien ini telah dilakukan anamnesis disease (berkaitan dengan klinis
pasien) dan anamnesis illness (berkaitan dengan perasaan pasien terhadap
penyakitnya), serta telah dilakukan anamnesis psikososial dan tergali
permasalahan klinis dan psikisnya yang saling berkaitan.
b. Comprehensive Care
Pasien ini telah mendapatkan aspek promotif berupa edukasi tentang penyakit
Skabies serta PHBS. Upaya preventif dilakukan dengan menjaga kebersihan
lingkungan sekitar rumah dan menerapkan prinsip rumah tangga sehat yang
memperhatikan syarat rumah sehat yang merupakan faktor resiko penularan
Skabies serta menjaga kondisi fisik pribadi, self hygene, makan makanan yang
bergizi seimbang. Upaya kuratif telah dilakukan dengan pemberian obat yang
sesuai dengan gejala yang dialami oleh pasien.
c. Personal Care
Pasien telah diberikan kesempatan untuk bertanya, mendapat informasi tentang
penyakit yang dialaminya, serta dapat menyalurkan ide, perasaan, harapan, dan
masalah psikososial yang dihadapi.
d. Continuing Care
Pasien belum pernah mendapatkan kunjungan rumah untuk mengontrol

54
perkembangan penyakit dan kesehatan pasien terkait faktor risiko kebiasaan dan
perilaku yang dapat memperburuk maupun memperingan penyakitnya.
e. Patient centered, family focused, and community oriented
Pasien telah melibatkan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya yaitu kedua
orang tuanya terhadap penyakit yang diderita pasien.
f. Emphasis of preventive medicine
Pencegahan agar tidak terjadi kekambuhan dan komplikasi dengan terapi obat
telah diberikan dari puskesmas, faktor pencetus dari perilaku pasien dapat
dirubah dengan mudah karena pasien memiliki keinginan kuat untuk sembuh
dari penyakitnya.

IV.7 Kesimpulan Pembinaan Keluarga

Hasil pembinaan keluarga dilakukan pada tanggal 16 September 2017


pada pukul 14.00 WIB. Dari pembinaan keluarga tersebut didapatkan hasil
sebagai berikut:

Tingkat pemahaman ibu pasien: pemahaman terhadap edukasi yang dilakukan


cukup baik.

1. Hasil pemeriksaan
Keadaan umum : Baik
Keluhan : batuk berkurang
TTV : dalam batas normal
2. Faktor pendukung :
a. Orangtua pasien dapat memahami dan menangkap penjelasan mengenai
pentingnya ASI dan MPASI bagi pasien.
b. Pemahaman keluarga pasien untuk hidup sehat, sehingga cukup
kooperatif untuk mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan.
c. Pemahaman ibu paisen akan pentingnya menjaga
kebersihan ruang kamar di rumah serta prilaku yang dapat
dilakukan untuk menanggulanginya
3. Faktor penyulit :
55
a. Biaya yang masih kurang untuk memperbaiki kondisi dalam rumah yang
cenderung terlihat kotor, tidak terawat, dan pencahayaan kurang serta aplikasi
perilaku hidup bersih dan sehat yang masih kurang.

b. Kurangnya biaya untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang, sehingga dapat


mengganggu pertumbuhan anak dan rentan infeksi.

4. Indikator keberhasilan :

a. Pengetahuan meningkat mengenai penyakit ISPA sehingga tidak kambuh

b. Kesadaran orang tua pasien untuk hidup sehat dengan menerapkan indikator
PHBS.

c. Kesadaran pasien untuk mengatur pola makan dengan gizi seimbang tanpa
harus mahal.

56
BAB IV
PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil kesimpulan yang di dapat dari data dan kunjungan rumah pasien
pada tanggal 27 April 2017, An.Bima di Desa Sidomulyo Kecamatan Salaman. Faktor-
faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan An. Bima terdiri dari empat hal yaitu faktor
genetik, perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Adapun faktor yang paling
berpengaruh yaitu dari segi perilaku, pasien tidak menyimpan bajunya dengan benar,
kamar jarang dibersihkan dan kurang bersih, pasien sering menginap dirumah teman
sebayanya yang menderita keluhan yang sama, pasien tidak pernah menjemur
perlengkapan tidur seperti kasur,bantal,guling, dan pasien tinggal satu kamar bersama
dengan adik, kakak dan teman sebayanya di pesantren. Dari segi lingkungan tidak ada
jendela yang harusnya dibuka sebagai ventilasi, pencahayaan kurang dan kebersihan
sanitasi kurang. Sehingga hal tersebut menjadi faktor resiko dideritanya skabies baik oleh
pasien maupun keluarga lainnya.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan maka perlu adanya perubahan perilaku dari
pasien serta keluarga maupun pihak pesantren dan teman pesantrenya sehingga dapat
menciptakan lingkungan yang juga mendukung bagi tercapainya derajat kesehatan yang
baik.
V.2 Saran

f. Diharapkan keluarga dapat berperilaku hidup bersih dan sehat, menciptakan


lingkungan yang sehat dan melakukan pencegahan penularan skabies.

g. Diharapkan kepada keluarga dan pihak pesatren mampu untuk mengaplikasikan


edukasi yang telah diberikan tenaga kesehatan mengenai pencegahan penularan
skabies seperti menjemur perlengkapan tidur (kasur,bantal,guling), tidak
menggunakan barang barang bersamaan seperti handuk.
e. Kepada tenaga kesehatan untuk melakukan pendekatan kedokteran keluarga dalam
menangani skabies. Edukasi sangat berguna bagi masyarakat sehingga dapat
meningkatkan kesadaran untuk melakukan PHBS.
57
DAFTAR PUSTAKA

(nanti di email pdf yang ada daftar pustakanya ya)

58
LAMPIRAN

A. Kunjungan Home Visit 8 September 2017

Hai, Namaku Rasya


kakak-kakak
Tampak depan
rumah pasien.

Rokok dulu ah,


santai boss...

Ruang tamu
aku debuan :(

59
Rumahku engga ada
langit-langit dan debuan.

Ini kamar Rasya yang


pengap dan jendela
jarang dibuka bunda

B. Kunjungan intervensi 16 September 2017

60
61