Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KAPITA SELEKTA

MANAJEMEN
Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah

Oleh:
1. Muslimah Dartiningtias (121714018)
2. Susana Margaretha H. (121714026)
3. Wening Ros Indri P.S. (121714039)
4. Dinar Purwaningrum (121714045)
5. Ahmad Ainul Yaqin (121714050)

Manajemen Pendidikan
2012 A
Universitas Negeri Surabaya
DAFTAR ISI

KATA ENGANTAR........i
DAFTAR ISI......ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah..1
1.2 Rumusan Masalah1
1.3 Tujuan Penelitian.1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian MPMBS.....2
2.2 Tujuan MPMBS...2
2.3 Prinsip Dasar MPMBS.2
2.4 Konsep Dasar MPMBS3
2.5 Aspek Dasar MPMBS..3
2.6 Langkah dan Pelaksanaan MPMBS.6
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan..7
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Faktor Pertama
Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education
production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen.
Faktor Kedua
Penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik.
Faktor Ketiga
Peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam menyelenggarakan pendidikan
selama ini sangat minim.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana pengertian mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah?
Apa tujuan mutu pendidikan manajemen pendidikan berbasis sekolah?
Apa prinsip dasar mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah?
Apa aspek dasar mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah?
Apa langkah dan pelaksanaan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah.
Untuk mengetahui tujuan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.
Untuk mengetahui Bagaimana Implementasi Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian MPMBS


MPMBS adalah sebuah singkatan dari Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah, yaitu sebagai model desentralisasi dalam bidang pendidikan, khususnya untuk
pendidikan dasar dan menengah diyakini sebagai model yang akan mempermudah
pencapaian tujuan pendidikan.

2.2 Tujuan MPMBS


Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas,
partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, sekolah dalam mengelola,
memanfaatkan dalam memperdayakan sumber daya yang tersedia.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat menyelenggarakan pendidikan
melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah
tentang mutu sekolah.
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan
dicapai.

2.3 Prinsip Dasar MPMBS


Kemandirian dan kemauan berinisiatif
Transparansi atau keterbukaan
Kerjasama dan keputusan partisipatif
Sustainabilitas atau keberlanjutan
Orientasi pada peningkatan mutu pendidikan

2
2.4 Konsep Dasar MPMBS
Pola Lama Pola Baru
Sub-ordinasi Otonomi
Pengambilan keputusan terpusat Pengambilan keputusan partisipatif
Ruang gerak kaku Ruang gerak luwes
Pendekatan birokratik Pendekatan professional
Sentralistik Desentralistik
Diatur Motivasi diri
Overregulasi Deregulasi
Mengontrol Mempengaruhi
Mengarahkan Memfasilitasi
Menghindari Resiko Mengelola Resiko
Gunakan uang semaunya Gunakan uang seefisien mungkin
Individual yang cerdas Teamwork yang cerdas
Informasi terpribadi Informasi terbagi
Pendelegasian Pemberdayaan
Organisasi hierarkis Organisasi datar

2.4 Aspek Dasar MPMBS


Perencanaan
Sekolah diberikan kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai kebutuhannya
(school base plan). Kebutuhan yang dimaksud, misalnya kebutuhan untuk meningkatkan
mutu sekolah, oleh karena itu sekolah harus melakukan analisis kebutuhan mutu dab
berdasarkan hasil analisis kebutuhan mutu inilah kemuddian sekolah membuat rencana
peningkatan mutu.

3
Evaluasi
Sekolah diberikan wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evaluasi internal.
Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan
mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. Evaluasi semacam ini
disebut evaluasi diri, evaluasi ini harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat
mengungkap informasi yang sebenarnya.
Pengelolaan
Pengelolaan Kurikulum
Kurikulum yang dibuat oleh pemerintah pusat adalah kurikulum standar yang
berlaku secara nasional. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam.
Oleh krena itu, dalam implementasinya, sekolah dapat mengembangkan
(memperdalam, memperkaya, dan memodifikasi), namun tidak boleh mengurangi
isi kurikulum yang berlaku secara nasional , selain itu sekolah diberi kebebasan
untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal.
Pengelolaan Proses Belajar Mengajar
Proses belajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberikan kebebasan
memilih strategi, metode, dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang
paling efektif, sesuai dengan karakterisik mata pelajaran, karakteristik siswa,
karakteristik guru, dan kondisinya atas sumber daya yang disekolah. Secara
umum strategi atau metode atau teknik pembelajaran dan pengajaran yang
berpusat pada siswa (student centered), lebih mampu memberdayakan
pembelajaran siswa.
Pengelolaan Ketenagaan
Segala pengelolaan ketenagaan, mulai dari analisis kebutuhan, yakni perencanaan,
rekrutmen pengembangan, hadiah dan sangsi (reward and punishment), hubungan
kerja sampai evaluasi kinerja tenaga sekolah (guru, tenaga administrasi, laboran
dan sebagainya) dapat dilakukan sekolah, kecuali yang menyangkut pengupahan
atau imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri, yang sampai saat ini masih
ditangani oleh birokrasi diatasnya.

4
Pengelolaan fasilitas (peralatan dan perlengkapan)
Maksudnya pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah, mulai
dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan hingga sampai pengembangan. Hal
ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolah yang paling mengetahui kebutuhan
fasilitas, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemutakhirannya terutama fasilitas
yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar.
Pengelolaan Keuangan
Terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh
sekolah. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling
memahami kebutuhannya, sehingga desentralisasi pengalokasian atau penggunaan
uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. Sekolah juga harus diberi
kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan
(income generating activies), sehingga sumber keuangan tidak semaa-mata
tergantung pada pemerintah.
Pelayanan siswa
Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru,
pengembangan/pembinaan/pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan
sekolah atau untuk memasuki dunia kerja, hingga sampai pada pengurusan
alumni, sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. Karena itu,
yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya.
Hubungan Sekolah-Masyarakat
Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan,
kepedulian,kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan
moral dan financial. Dalam arti yang sebenarnya, hubungan sekolah-masyarakat
sudah disentralisasikan. Oleh karena itu, sekali lagi yang dibutuhkan adalah
peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah-masyarakat.

5
Pengelolaan iklim sekolah
Iklim sekolah (fisik dan non fisik) yang kondusif akademik merupakan prasyarat
bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Lingkungan sekolah
yang aman dan tertib, optimis dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga
sekolah, kesehatan sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa
(student centered activities) adanya contoh-contoh iklim sekolah yang dapat
menumbuhkan semangat belajar siswa. Iklim sekolah sudah merupakan
kewenangan sekolah, sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih
intensif dan ekstensif.

2.5 Langkah dan pelaksanaan MPMBS


Mengevaluasi sekolah (potensi, kelemahan, peluang, kebutuhan, dll)
Menetapkan visi dan misi sekolah, serta target mutu tahunan yang jelas.
Merencanakan program kegiatan yang mengacu pada target mutu yang akan dicapai.
Melaksanakan program kegiatan secara terjadwal.
Memantau dan mengevaluasi program kegiatan yang sedang berjalan.
Melaporkan hasil yang dicapai dan hambatan kepada orang tua, masyarakat, dan
pemerintah.
Menetapkan target mutu baru untuk tahun berikutnya.

6
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Manajemen Berbasis Sekolah pada intinya adalah memberikan kewenangan terhadap


sekolah untuk melakukan pengelolaan dan perbaikan kualitas secara terus-menerus. Dapat juga
dikatakan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya
yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan
(stake holder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan
untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional.

Tujuan MBS adalah untuk mewujudkan kemerdekaan pemerintah daerah dalam


mengelola pendidikan, dangan demikian peran pemerintah pusatakan berkurang. Sekolah diberi
hak otonom untuk menentukan nasibnya sendiri. Paling tidak ada tiga tujuan dilaksanakannya
MBS, yaitu: peningkatan efisiensi, peningkatan mutu, peningkatan pemerataan pendidikan.

Dengan adanya MBS diharapkan akan memberi peluang dan kesempatan kepada kepala
sekolah, guru, dan siswa untuk melakukan inovasi pendidikan. Dengan adanya MBS maka ada
beberapa keuntungan dalam pendidikan, yaitu kebijakan dan kewenangan sekolah mengarah
langsung kepada siswa, orang tua dan guru, sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara
optimal, pembinaan peserta didik dapat dilakukan secara efektif, dapat mengajak semua pihak
untuk memajukan dan meningkatkan pelaksanaan pendidikan.

7
DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen AAdministrasi Pendidikan UPI. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta

http://iendahaswa-mpmbs.blogspot.com/2012/11/makalah-mpmbs.html

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/tujuan-dan-manfaat-mpmbs.html

http://suaidinmath.wordpress.com/2010/04/24/konsep-dasar-mpmbs/