Anda di halaman 1dari 8

Laporan Pemeriksaan Clothing Time

1. Praktikum ke : Empat(4)
2. Hari, tanggal : Selasa, 18 Maret 2014
3. Judul Praktikum : Pemeriksaan Clothing Time
4. Tujuan :
Untuk melihat lamanya waktu yang dibutuhkan oleh darah untuk membeku.
5. Prinsip :
Jika darah keluar dari tubuh maka akan membeku karena ada kontak dengan benda
asing(kaca tabung).
6. Metode : Lee and white dan objek glass
7. Nilai Normal : 1. Lee and white : 5-11 menit
2. Objek glass : 3-7 menit
8. Bahan Pemeriksaan : Darah vena
9. Dasar Teori :
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut
oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan
tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai
bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai
penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Komponen penyusun darah ada 2 yaitu bagian yaitu :
a. Plasma darah, mempunyai fungsi pengangkut gas dan sari makanan disamping itu
plasma darah juga mengandung fibrinogen yang berfungsi dalam pembekuan darah.
b. Sel darah, adalah merupakan 45 % volume darah. Sel darah terdiri atas sel darah
merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
Hemostasis
Hemostasis adalah peristiwa berhentinya suatu perdarahan sebagai reaksi tubuh
terhadap adanya luka. Mekanisme hemostasis yang seimbang terjadi karena interaksi dari
4 faktor yaitu :
1. Faktor vaskular .
2. Faktor trombosit.
3. Faktor pembekuan
Jika ada benturan atau gesekan menyebabkan luka, maka trombosit pecah dan keluar
enzim tromboplastin (trombokinase). Zat ini bersama ion-ion kalsium yang ada di dalam
plasma darah akan bereaksi dengan protombin. Protombin adalah senyawa globulin yang
terdapat di dalam plasma darah dan bersifat sebagai enzim yang belum aktif. Zat ini di
hasilkan di hati dengan bantuan vitamin K. zat yang terbentuk adalah thrombin, enzim
trombin akan mengubah fibrinogen, suatu protein yang larut dalam plasma,menjadi fibrin.
Fibrin berupa benang-benang halus yang menjaring dan mengikat sel-sel darah dan
terbentuk benang-benang fibrin penutup luka.
Adapun fungsi dari proses hemostasis ini adalah :
1. Mencegah keluarnya darah dari pembuluh darah yang utuh. Hal ini tergantung dari :
a. Intergritas Pembuluh darah.
b. Fungsi trombosit yang normal.
2. Menghentikan perdarahan dari pembuluh darah yang terluka. Proses yang terjadi
setelah adanya suatu luka adalah :
a. Vasokonstriksi pembuluh darah.
b. Pembentukan sumbat trombosit.
c. Proses pembekuan darah.
Bila terjadi suatu luka pada pembuluh darah, maka pembuluh darah tersebut akan
mengalami vasokonstriksi, sehingga aliran darah terhambat, dan darah yang dikeluarkan
juga sedikit, serta terjadi kontak antara trombosit dengan dinding pembuluh darah yang
cukup lama.
1. Sistem Vaskuler
Pembuluh darah memiliki satu atau lebih lapisan otot polos yang mengelilingi sel
endotel yang menutupi permukaan lumen. Apabila pembuluh rusak, otot-otot ini
berkonstriksi dan mempersempit jalur yang dilalui oleh darah dan kadang-kadang
menghentikan secara total aliran darah. Fase pembuluh darah pada hemostasis ini
hanya mengenai arteriol dan kapiler-kapilernya, pembuluh besar tidak cukup dapat
berkonstriksi untuk mencegah pengeluaran darah. Bahkan pada pembuluh darah yang
halus, vasokontriksi hanya menghasilkan hemostasis paling singkat.
2. Trombosit
Perbaikan permanen pada pembuluh darah yang terbuka memerlukan penambahan
lubang di dinding pembuluh darah, sumbat hemostatik yang efektif terdiri dari
trombosit dan protein yang mirip dengan gel yaitu fibrin.
Treombosit adalah keping darah yang tidak memiliki inti yang berasal dari sitoplasma
megakariosit. Trombosit dapat menyumbat lubang pembuluh darah yang terbuka
dengan cara adhesi, pelepasan zat-zat kimia dan agregasi.
Adhesi merupakan proses menempelnya trombosit pada kolagen yang terbuka.
Setelah trombosit menempel maka keluarlah zat-zat kimia yang akan merangsang
terjadinya agregasi. Agregasi yaitu proses menempelnya trombosit dengan trombosit
sehingga terbentuk sumbatan dan dapat menutup luka sehingga darah tidak keluar dari
pembuluh darah.
3. Faktor Pembekuan
Terdapat tiga belas faktor pembekuan yang akan membantui proses hemostasis.
Berikut penjelasan faktor-faktor pembekuan:
1. Fibrinogen : sebuah faktor koagulasi yang tinggi berat molekul protein plasma dan
diubah menjadi fibrin melalui aksi thrombin. Kekurangan faktor ini menyebabkan
masalah pembekuan darah afibrinogenemia atau hypofibrinogenemia.
2. Prothrombin : sebuah faktor koagulasi yang merupakan protein plasma dan diubah
menjadi bentuk aktif thrombin (faktorIIa) oleh pembelahan dengan mengaktifkan
faktor X (Xa) dijalur umum dari pembekuan. Fibrinogen thrombin kemudian
memotong ke bentuk aktif tibrin. Kekurangan faktor menyebabkan
hypoprothrombinemia.
3. Tromboplastin : koagulasi faktor yang berasal dari beberapa sumber yang berbeda
dalam tubuh, seperti otak dan paru-paru; jaringan tromboplastin penting dalam
pembentukan prothrombin ekstrinsik yang mengkonversi prinsip di jalur koagulasi
ekstrinsik. Disebut juga faktor jaringan.
4. Kalsium : sebuah faktor koagulasi diperlukan dalam berbagai fase pembekuan
darah.
5. Proaccelerin : sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan panas,
yang hadir dalam plasma, tetapi tidak dalam serum, dan fungsi baik di intrinsik dan
ekstrinsik koagulasi jalur. Proaccelerin mengkatalisis pembelahan prothombin
thrombin yang aktif. Kekurangan faktor ini, sifat resesif autosomal, mengarah pada
kecendrungan berdarah yang langka yang disebut parahemofilia,dengan berbagai
derajat keparahan. Disebut juga akselerator globulin.
6. Sebuah faktor koagulasi sebelumnya dianggap suatu bentuk aktif faktor V, tetapi
tidak lagi dianggap dalam skema hemostasis.
7. Proconvertin : sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relative stabil dan panas
dan berpartisipasi dalam jalur koagulasi ekstrinsik. Hal ini diaktifkan oleh kontak
dengan kalsium, dan bersama dengan mengaktifkan faktor III itu faktor X.
defisiensi faktor proconvertin, yang mungkin herediter (autosomal resesif) atau di
peroleh (yang berhubungan dengan kekurangan vitamin K), hasil dalam
kecendrungan perdarahan. Disebut juga serum prothrombin konversi faktor
akselerator dan stabil.
8. Antihemofilic faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatief labil dan
berpartisipasi dalam jalur intrinsik dari koagulasi, bertindak (dalam konser dengan
faktor von Willebrand) sebagai kofaktor dalam aktivasi faktor 10. defisiensi,
sebuah resesif terkait-10 sifat, penyebab hemophilia A. disebut juga antihemophilic
globulin dan faktor antihemophilic A.
9. Tromboplastin plasma komponen, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang
relative stabil dan terlibat dalam jalur intrinsic dari pembekuan. Setelah aktivasi,
diaktifkan defisiensi faktor 10. hasil di hemophilia B. disebut juga faktor natal dan
faktor antihemophilic B.
10. Stuart faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relative stabil dan
berpartisipasi dalam baik intrinsic dan ekstrinsik jalur koagulasi, menyatukan
mereka untuk memulai jalur umum dari pembekuan. Setelah diaktifkan,
membentuk kompleks dengan kalsium, fosfolipid, dan faktor 7, yang disebut
prothrombinase; hal ini dapat membelah dan mengaktifkan prothrombin untuk
thrombin. Kekurangan faktor ini dapat menyebabkan gangguan koagulasi sistemik.
Disebut juga power stuart-faktor. Bentuk yang diaktifkan disebut juga
thrombokinase.
11. Tromboplastin plasma yang diatas, faktor koagulasi yang stabil yang terlibat dalam
jalur intrinsic dari koagulasi; sekali diaktifkan, itu mengaktifkan faktor 9. Lihat
juga kekurangan 11. Disebut juga faktor antihemophilic C.
12. Hagamen faktor; faktor koagulasi yang stabil diaktifkan oleh kontrak dengan kaca
atau permukaan asing lainnya dan memulai jalur intrinsic dari koagulasi dengan
mengaktifkan faktor 11. Kekurangan faktor ini menghasilkan kecendrungan
thrombosis.
13. Fibrin-faktor yang menstabilkan,sebuah faktor koagulasi yang merubah fibrin
monomer untuk polimer sehingga mereka menjadi stabil dan tidak larut dalam
urea, fibrin yang memungkinkan untuk membentuk pembekuan darah. Kekurangan
faktor ini memberikan kecendrungan seseorang hemorrhagic. Disebut juga
fibrinase dan protransgultaminase. Bentuk yang diaktifkan juga disebut
transglutaminase.
10. Alat dan Bahan :
A. Alat yang digunakan yaitu:
Objek glass
Tourniquet
Tabung reaksi
Water bath
Stopwatch
Kapas
B. Bahan yang digunakan yaitu:
Spuilt
Alkohol 70%
Kapas
11. Cara Kerja :
A. Metode Lee and White
1) Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
2) Disiapkan water bath dengan suhu 37C.
3) Diambil darah vena sebanyak 3-4 cc dan ditekan stopwatch.
4) Darah dimasukkan ke dalam 3 buah tabung reaksi masing-masing 1cc.
5) Disimpan dalam water bath dengan suhu 37C.
6) Dilihat terjadinya bekuan pada tabung 1 dengan cara dimiringkan.
7) Jika darah pada tabung 1 sudah membeku, dilakukan hal yang sama pada tabung 2
dan 3.
8) Dihentikan stopwatch jika darah pada tabung 3 telah membeku.
9) Dicatat waktu yang diperlukan untuk darah membeku.
B. Metode Gelas Objek
1) Diambil darah dengan spuilt dan ditekan stopwatch.
2) Diteteskan darah pada gelas objek.
3) Dikail setiap 30 detik, sampai terbentuk gumpalan.
4) Dihentikan stopwatch bila sudah terbentuk gumpalan.
5) Dicatat waktu yang diperlukan untuk darah membentuk gumpalan.
12. Hasil Pengamatan :
Hasil
Kelompok
Metode Lee and White Metode Gelas Objek
1 14 menit 7 menit
2 12 menit 5 menit
3 10 menit 2 menit
4 8 menit 7 menit
5 10 menit 2 menit
6 17 menit 7 menit

13. Pembahasan :
Clotting Time adalah waktu yang di perlukan darah untuk membeku atau waktu yang
di perlukan saat pengambilan darah sampai saat terjadinya pembekuan. Hal ini
menunjukkan seberapa baik platelet berinteraksi dengan dinding pembuluh darah untuk
membentuk pembekuan darah. Hasilnya menjadi ukuran aktivitas faktor-faktor koagulasi
darah, terutama faktor-faktor yang membentuk tromboplastin. Selain itiu, kadar
fibrinogen juga berpengaruh pada waktu pembekuan darah.
Waktu yang dihitung yaitu waku yang diperlukan untuk darah menggumpal dalam
tabung kaca; ukuran dari sistem koagulasi intrinsik. Dalam metode Lee-White, darah
dalam tabung reaksi dipertahankan pada suhu konstan dan diperiksa secara teratur
sampai pembekuan terjadi, tes dapat juga dilakukan dalam tabung kapiler atau dengan
objek glass. Metode pipa kapiler disebut juga waktu koagulasi, kurang sensitif dan
sekarang lebih sering digunakan daripada waktu koagulasi yang diaktifkan.
Penetapan dengan metode ini digunakan darah lengkap yang sebenarnya satu tes yang
kasar saja, tetapi diantara tes-tes yang menggunakan darah lengkap cara ini dianggap
yang terbaik. Dahulu uji ini digunakan untuk memantau terapi heparin, yang
memperpanjang waktu pembekuan.
Waktu pembekuan Lee-White menggunakan tiga tabung yang disimpan dalam suhu
37C, masing-masing berisi 1 ml darah lengkap. Waktu dijalankan pada saat darah keluar
pertama kali dalam spuilt, karena pada saat itulah darah mulai kontak dengan permukaan
benda asing. Tabung pertama yang diisi oleh darah yaitu tabung ke 3, 2, dan 1. Tabung-
tabung 1 secara hati-hati dimiringkan setiap 30 detik untuk meningkatkan kontak antara
darah dan permukaan kaca untuk melihat kapan pembekuan terjadi. Setelah darah pd
tabung ke 1 membeku, dilihat tabung ke 2 lalu tabung ke 3 apa sudah membeku atau
belum. Apabila pada tabung ke 3 darah sudah membeku, waktu dalam stopwatch
dihentikan.
Darah pada tabung ke 1 akan lebih cepat membeku karena darah lebih sering kontak
dengan permukaan kaca. Sedangkan darah pada tabung ke 3 darah lambat membeku
karena hanya sesekali saja darah kontak dengan kaca. Maka dari itu pada metode ini
digunakan 3 tabung reaksi yang berisi darah untuk digunakan sebagai kontrol yaitu
tabung 1 dan 2. Darah normal membeku secara padat dalam waktu 5-11 menit.
Tes ini menjadi sempurna jika tabung yang digunakan diberi lapisan silikon. Masa
pembekuan darah lengkap dengan memakai tabung berlapis silikon jauh lebih panjang
daripada nilai normal, maka dari itu nilai normal seharusnya ditentukan sendiri oleh
masing-masing laboratorium. Hal-hal yang sama beraku jika memakai semprit dan
tabung-tabung plastik.
Bermacam-macam kesalahan teknik yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Hasil cenderung memperpendek masa pembekuan. Kesalahan dapat berupa percampuran
darah dengan tromboplastin jaringan, fungsi vena yang tidak segera berhasil baik,
terjadinya busa atau gelembung dalam spuilt, tergoyangnya tabung yang tidak sedang
diperiksa(tabung 3), atau tabung yang digunakan kotor. Diameter tabung yang digunakan
pun berpengaruh pada hasil pemeriksaan. Semakin lebar diameter tabung maka semakin
lama waktu pembekuan darahnya.
Metode ke dua yang digunakan yaitu metode gelas objek. Darah diteteskan pada
tengah-tengah gelas objek, lalu dikail-kail hingga terbentuk benang-benang fibrin.
Setelah terjadi benang fibrin waktu diberhentikan. Nilai normal darah membeku pada
metode gelas objek 3-7 menit. Waktu pembekuan pada metode ini lebih cepat karena
darah akan lebih cepat membeku dari pada metode lee and white. Darah akan kontak
seluruhnya pada permukaan gelas objek, selain itu gelas objek pun memiliki permukaan
yang lebih besar. Kebersihan gelas objek pun harus diperhatikan karena jika kotor akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan, waktu dapat memanjang atau memendek.
Jika terdapat kelainan atau pemanjangan waktu pembekuan, maka hasil itu menjadi
indikasi untuk lebih jauh menyelidiki faktor pembekuan mana yang aktifitasnya
berkurang, serta dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti jumlah dan fungsi
trombosit. Faktor yang membuat clotting time abnormal adalah :
a. Volume darah
b. Teknik pengambilan
c. Darah yang diambil terlalu sedikit/terlalu banyak.
Hasil pemeriksaan pembekuan darah yang memanjang dapat terjadi pada penderita
hemofili (kelainan pada darah berupa darah yang sukar membeku), anemia, atau pada
pendariata sclerosis (mengerasnya pembuluh nadi akibat endapan lemak/kapur).

14. Kesimpulan :
Dari hasil pemeriksaan pembekuan darah dapat di tarik kesimpulan :
1. Darah mempunyai peranan penting dalam tubuh manusia
2. Clotting Time adalah waktu yang di perlukan darah untuk membeku atau waktu yang
di perlukan saat pengambilan darah sampai saat terjadinya pembekuan.
3. Setiap sel darah mempunyai fungsinya masing-masing
4. Dalam proses pembekuan darah membutuhkan 13 faktor

15. Daftar Pustaka :


Sofro, Abdul Salam M. 2012. Darah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Freund, Mathias. 2011. Atlas Hematologi-Praktikum Hematologi dengan Mikroskop.
Jakarta: EGC
Gandasoebrata, R. 2004. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat.
Metha, Atul. Victor Hoffbrand. 2008. At A Glance Hematologi edisi 2. Jakarta:
Erlangga

Nama : Kusmawati (1211C1027)


..........................................