Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO A BLOK 28

DISUSUN OLEH : KELOMPOK A5


TUTOR : dr. Tri Suciati
Rizky Vania Oka (04011381419152)
Ria Anindita Novarani (04011381419155)
Wulan Purnama Sari (04011381419160)
Trisa Andami (04011381419167)
Annisa Muthia Haryani (04011381419175)
M.Rifqi Ulwan Hamidin (04011381419183)
Rafika Triasa (04011381419186)
N.P. Ayu Oka Shinta (04011381419188)
Rahma Kurnia Lestari (04011381419189)
Yudistira Wardana (04011381419192)
Ridho Surya Putra (04011381419199)
Noelene Shamala (04011381419227)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas limpahan berkat-Nya penyusun bisa
menyelesaikan tugas laporan tutorial ini dengan baik tanpa aral yang memberatkan.

Laporan ini disusun sebagai bentuk dari pemenuhan tugas laporan tutorial skenario Dyang
merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) di
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, khususnya pada blok Trauma, Gawat Darurat,
dan Forensik. Terima kasih tak lupa pula kami sampaikan kepada dr. Tri Suciati yang telah
membimbing dalam proses tutorial ini, beserta pihak-pihak lain yang terlibat, baik dalam
memberikan saran, arahan, dan dukungan materil maupun inmateril dalam penyusunan tugas
laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik yang membangun sangat kami harapkan sebagai bahan pembelajaran yang baru bagi
penyusun dan perbaikan di masa yang akan datang.

Palembang, 11 September 2017

Penyusun

Kelompok Tutorial A5

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... 1


DAFTAR ISI......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 3
I.1. Latar Belakang ........................................................................................... 3
I.2. Maksud dan Tujuan ................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 4
SKENARIO A ............................................................................................. 4
II.1. Klarifikasi Istilah ................................................................................ 5
II.2. Identifikasi Masalah ............................................................................ 5
II.3. Analisis Masalah ................................................................................. 6
II.4. Hipotesis ............................................................................................. 28
II.5. Sintesis Masalah ................................................................................. 29
II.6. Kerangka Konsep ................................................................................ 63
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 64
Kesimpulan ................................................................................................. 64
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 65

2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Blok Trauma, Gawat Darurat, dan Forensik adalah blok ke-28 semester VII
dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial
studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi kasus yang
sebenarnya pada waktu yang akan datang.

I.2. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode
analisis pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

3
BAB II

PEMBAHASAN

SKENARIO A
Dr. Thamrin, dokter di RSUD yang terletak sekitar 40 km dari Palembang. Sekitar
100 meter dari RSUD, terjadi kecelakaan lalu lintas. Mobil minibus yang melaju
dengan kecepatan tinggi menabrak pohon beringin. Bagian depan mobil hancur, kaca
depan pecah. Sang sopir, satu-satunya penumpang mobil terlempar keluar melalui
kaca depan.
Dr. Thamrin yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian dengan
membawa peralatan tatalaksana trauma seadanya. Di tempat kejadian, terlihat sang
sopir, laki-laki 30 tahun, tergeletak dan merintih, mengeluh dadanya sesak, nyeri di
dada kanan, nyeri perut dan nyeri paha kiri.
Melalui pemeriksaan sekilas, didapatkan gambaran:
- Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas, dan kesulitan bernapas.
- Tanda vital : laju repirasi : 38x/ menit, Nadi: 120x/menit; lemah, TD: 85/60
mmHg
- Wajah dan bibir terlihat kebiruan, konjungtiva anemis (+)
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
- Terlihat deformitas di paha kiri
- GCS : 13 (E : 3 , M : 6, V : 4)
Setelah melakukan penanganan seadanya, dr. Salim langsung membawa sang sopir ke
UGD, setelah penanganan awal di UGD RSUD, pasien dipersiapkan untuk dirujuk ke
RSMH.
Pemeriksaan spesifik :
Kepala : Luka lecet di dahi dan pelipis kanan diameter 2-4 cm
Toraks :
Inspeksi : -Gerakan dinding dada asimetris, kanan tertinggal, frekuensi nafas 40x/
menit
-Tampak memar di sekitar dada kanan bawah sampai ke samping
-Trakea bergeser ke kiri, vena jugularis distensi
Auskultasi : - Bunyi nafas kanan melemah, bising nafas kiri terdengar jelas
- Bunyi jantung terdengar jelas, cepat, frekuensi 110x/menit
Palpasi : - Nyeri Tekan pada dada kanan bawah, sampai ke samping (lokasi memar)
- Krepitasi pada kosta 9,10,11 kanan depan
Perkusi : Kanan hipersonor, kiri sonor
Abdomen :
Inspeksi : Dinding perut datar
Auskultas : Bising usus melemah
Perkusi : Nyeri ketok (+)
Palpasi : Nyeri tekan (+) defanse muscular (+)
Ekstremitas :
Paha kiri : Inspeksi : Tampak deformitas, memar, hematom pada paha tengah kiri
Palpasi : Nyeri tekan, krepitasi (tidak boleh diperiksa)
ROM : Pasif, aktif, limitasi gerakan

4
I. Klarifikasi Istilah
NO ISTILAH KLARIFIKASI
1. Kongjungtiva anemis Suatu keadaan dimana konjungtiva seseorang
pucat karna darah tidak sampai ke perifer yang
bisa menjadi salah satu tanda bahwa seseorang
mengalami anemi.
2. Tabrakan Hasil bertabrakan; tumbukan; tubrukan (mobil
dengan sepeda motor dan sebagainya).
3. Deformitas Perubahan bentuk, pergerakan tulang jadi
memendek karena kuatnya tarikan otot-otot
ekstremitas yang menarik patahan tulang.
4. GCS Glasgow coma scale adalah skala yang dipakai
untuk menentukan atau menilai tingkat
kesadaran pasien mulai dari sadar sepenuhnya
sampai keadaan koma.
5. Tergeletak Posisi terlentang atau berbaring di suatu tempat.
6. Trauma Cedera atau luka, rusak atau sakit, biasanya
dipakai untuk cedera pada tubuh akibat faktor
dari luar.
7. Bibir terlihat kebiruan Keadaan dimana tubuh kekurangan oksigen dan
menyebabkan bibir terlihat kebiruan.

II. Identifikasi Masalah


NO IDENTIFIKASI MASALAH PROBLEM CONCERN
1. Dr. Thamrin, dokter di RSUD yang terletak VVV
sekitar 40 km dari Palembang. Sekitar 100
meter dari RSUD, terjadi kecelakaan lalu
lintas. Mobil minibus yang melaju dengan
kecepatan tinggi menabrak pohon beringin.
Bagian depan mobil hancur, kaca depan
pecah. Sang sopir, satu-satunya penumpang
mobil terlempar keluar melalui kaca depan.
2. Dr. Thamrin yang mendengar tabrakan VV

5
langsung pergi ke tempat kejadian dengan
membawa peralatan tatalaksana trauma
seadanya. Di tempat kejadian, terlihat sang
sopir, laki-laki 30 tahun, tergeletak dan
merintih, mengeluh dadanya sesak, nyeri di
dada kanan, nyeri perut dan nyeri paha kiri.
3. Pemeriksaan sekilas V
4. Setelah melakukan penanganan seadanya, V
dr. Salim langsung membawa sang sopir ke
UGD, setelah penanganan awal di UGD
RSUD, pasien dipersiapkan untuk dirujuk
ke RSMH.
5. Pemeriksaan spesifik V

III. Analisis Masalah


1. Dr. Thamrin, dokter di RSUD yang terletak sekitar 40 km dari Palembang.
Sekitar 100 meter dari RSUD, terjadi kecelakaan lalu lintas. Mobil minibus
yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pohon beringin. Bagian depan
mobil hancur, kaca depan pecah. Sang sopir, satu-satunya penumpang mobil
terlempar keluar melalui kaca depan.
a. Bagaimana mekanisme trauma pada kasus?
i. Kepala
Terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan 2-4cm. Terjadi laserasi
jaringan lunak menunjukkan luka ringan di kepala akibat benturan.
Mekanisme: luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang
bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau
runcing. Pada kasus ini dapat terjadi akibat benturan dengan kaca,
terbentur aspal jalan maupun benturan dan gesekan dengan beda lain
setelah terlempar ke luar.
Keadaan korban Keadaan normal Intepretasi Mekanisme

Kepala: Terdapat Tidak ada luka Terjadi perlukaan Kecelakaan


luka lecet di dahi pada bagian dahi benturan(trauma)
dan pelipis kanan dan pelipis kapitis jaringan
diameter 2-4 cm, kulit tergores luka
yang lain dbn lecet di dahi dan

6
pelipis

ii. Thoraks
Mobil minibus melaju kencang menabrak pohon beringin dada
sopir menghantam setir bagian depan mobil hancur dan kaca depan
pecah sopir terlempar keluar

iii. Abdomen
Pada umumnya Mekanisme trauma abdomen dapat terjadi akibat
kompresi secara langsung pada regio abdomen yang menyebabkan
gangguan pada organ-organ peritoneal.

Namun, pada pemeriksaan fisik kasus ditemukan dinding perut datar,


bising usus melemah, nyeri ketok, nyeri tekan, dan defans muskular
(+). Ini menunjukan adanya perdarahan pada rongga abdomen atau
perdarahan dari organ atau bagian tubuh lain yang masuk ke rongga
abdomen.
Mekanisme :
Trauma (Kecelakaan lalu lintas) perdarahan atau darah dari tempat
lain yang masuk rongga abdomen bakteri dapat masuk ke rongga
abdomen mengiritasi lapisan peritoneal peritonitis
menyebabkan rasa nyeri akibat rasa nyeri yang berlebihan nyeri
tekan (tahanan) defans muskular

7
iv. Ekstremitas
Pada pasien terjadi fraktur femur kiri tertutup akibat trauma yang
dialami (disebabkan oleh terlempar keluarnya sang supir dari dalam
mobil melalui kaca depan dan mendarat pada bagian kiri dari tubuh
sehingga terjadinya transfer energy yang melebihi toleransi jaringan
sehingga terjadi disrupsi jaringan dan terjadi suatu trauma, terutama
pada femur). Fraktur tersebut akan menyebabkan terpecahnya
frakmen-frakmen tulang yang dapat mengenai serabut syaraf
disekitarnya yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri.
Selain itu, pada fraktur femur juga dapat terkena pembuluh darah yang
menyebabkan terjadinya eksudasi darah ke jaringan dan menimbulkan
hematoma, hematoma ini akan merangsang reaksi inflamasi dengan
mengeluarkan bradikinin dan merangsang nosiseptor dan
menyebabkan timbulnya rasa nyeri.

b. Apa saja jenis trauma yang dapat terjadi pada kecelakaan lalu lintas?
Jenis trauma yang dapat terjadi pada kasus kecelakaan sopir mobil
minibus tersebut yaitu trauma tumpul (blunt) dan trauma tajam (sharp).
Trauma tumpul dapat terjadi pada saat sopir minubus menabrak pohon
beringin yang pada saat itu memungkinkan tubuh sopir tersebut
menghantam bagian depan mobil sehingga terjadi benturan. Trauma
tajam dapat terjadi pada saat kaca depan mobil pecah yang
memungkinkan akan mencederai tubuh sopir tersebut.

c. Bagaimana pencegahan atau cara meminimalisir trauma pada kecelakaan


lalu lintas?
1.Pre-event :
-Persiapan dari pengendara
-Periksa kembali rem, ban, dan lain-lain
2.Event
-Memakai sabuk pengaman
-Pastikan air bag
-Persiapkan proteksi

8
3.Post event
-Usia
-Kondisi fisik pengendara
-Integritas sistem bahan bakar
-Patuhi batas kecepatan

2. Dr. Thamrin yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian


dengan membawa peralatan tatalaksana trauma seadanya. Di tempat kejadian,
terlihat sang sopir, laki-laki 30 tahun, tergeletak dan merintih, mengeluh
dadanya sesak, nyeri di dada kanan, nyeri perut dan nyeri paha kiri.(***)
a. Apa saja peralatan tatalaksana trauma di tempat kejadian?

Pembalut biasa, pembalut segitiga

Kasa steril, plester/perban, kapas

Tourniquet, alat suntik

Alat-alat bedah sederhana

Tandu, bidai

Masker

Obat-obatan

Antiseptik

Obat-obat suntikan

Obat oral

9
b. Bagaimana tatalaksana awal pada trauma ?
1. Triase: nilai keadaan umum pasien
2. Primary survey: airway, breathing,circulation, disability, exposure
a. Airway
Nilai jalan nafas: tidak ada obstruksi(pasien dapat bicara, mengeluh
daerah sakit), gerakan udara pada hidung, mulut, pergerakan dada

bersihkan jalan nafas dari darah

b. Breathing
Nilai ventilasi dan oksigenasi, buka leher dan dada, observasi
perubahan pola pernapasan: tentukan laju dan dalam pernafasan, dan
look, listen, feel (diketahui tanda-tanda pneumotoraks)

dekompresi segera dan penanggulangan awal dengan insersi jarum

yang berukuran besar(needle thoraco syntesis) pada ICS 2 dilinea


mid clavikula
c. Circulation
Nilai TD, nadi, warna kulit dan sumber perdarahan.
Bersihkan dan Tutup luka di kepala dengan perban.
d. Disability
Nilai GCS
e. Exposure
Berdasarkan pengamatan klinis diduga,
Fraktur femur: pasang bidai, apabila tidak ada bebat anggota gerak
yang sakit ke anggota gerak yang sehat.
Fraktur iga: diberi analgesik dosis rendah IV agar tidak nyeri sehingga
mempermudah pernafasan.
Nilai sementara, pindahkan ke tandu dengan metode log Roll, bawa
ke UGD puskesmas (100meter) dengan tandu.

10
c. Bagaimana mekanisme dari :
i. Merintih
Merintih atau grunting terjadi akibat udara yang secara paksa
berusaha melewati glottis yang tertutup secara partial. Glotis yang
tertutup secara partial menunjukkan usaha tubuh untuk
mempertahankan tekanan akhir respirasi yang positif (positive end-
respiratory pressure) dan menjaga agar alveoli tetap terbuka (tidak
colaps). Ketika udara memasuki rongga pleura, maka hal ini
menyebabkan hilangnya tekanan negatif intrapleura yang mencegah
paru agar tidak kolaps pada akhir ekspirasi. Hal ini akan
menyebabkan kolaps pada paru, sehingga salah satu usaha yang
dilakukan tubuh untuk mencegah kolapsnya alveoli ini adalah
penutupan glotis (Birney et al., 2005).
Pada kasus terjadi trauma pada thoraks yang menyebabkan fraktur
pada costae. Fraktur ini menyebabkan kebocoran udara paru. Udara
masuk ke rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi sehingga
tekanan intrapleural tinggi. Paru-paru kanan kolaps dan
menimbulkan sesak. Usaha bernafas menjadi lebih kuat untuk
mengembangkan paru lebih besar. Usaha ini akan menekan costae
yang fraktur dan akan timbul nyeri saat bernafas (merintih).

ii. Dada sesak


Secara anatomi, paru-paru terletak di rongga thoraks. Trauma pada
daerah thoraks yang menyebabkan costae fraktur ditandai dengan
adanya krepitasi pada costae 9,10,11 kanan depan dapat
menyebabkan robekan pada pleura. Pleura terdiri atas 2 bagian yaitu
pleura parietalis yang membungkus rongga dada dan pleura
visceralis yang melekat pada organ paru, dimana diantara kedua
pleura ini terdapat rongga pleura. Tekanan pada rongga pleura
dipertahankan stabil, dimana tekanan ini lebih rendah dari pada
tekana atmosfer untuk mencegahnya kolaps paru. Robekan pada
dinding dada membuat udara dari luar yang bertekanan positif
masuk mengisi rongga pleura yang bertekanan lebih kecil. Udara ini
terperangkap dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar sehingga

11
menyebabkan tekanan di dalam rongga pleura meningkat. Tekanan
yang semakin tinggi mendesak organ didalamnya yaitu paru ke arah
dalam. Keadaan seperti ini awalnya dikompensasi tubuh dengan
menggunakan usaha napas tambahan. Namun, tekanan yang tinggi
di intrapleura melebihi tekanan parenkim paru sehingga
menyebabkan udara dalam alveoli terdorong keluar dan alveoli sulit
untuk recoil. Kesulitan compliance paru terjadi dalam waktu sangat
cepat pada keadaan ini. Gangguan pada kesulitan bernafas tersebut
digambarkan dengan sesak nafas pada pasien.
Penyebab sesak pada kasus ini adalah karena tension
pneumothoraks.
Mekanismenya:
Trauma pada thoraks costae fraktur kebocoran udara paru
udara masuk ke rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one way
valve) tekanan intrepleural tinggi paru-paru kanan kolaps
sesak

iii. Nyeri di dada kanan


Akselerasi dan deselerasi Trauma pada thorax Fraktur pada
costa 9,10, 11 ditandai dengan adanya krepitasi) nyeri pada dada
kanan paru-paru tidak bisa mengembang akibat tertekan dengn
costa yang fraktur pernafasan paroksikmal Flail chest
sesak.

iv. Nyeri perut


Diakibatkan karena terbenturnya dada dengan stir mobil dengan
sangat kencang dan hal ini bisa menjadi lebih buruk bila pengendara
tidak mengenakan sabuk pengaman. Pneumotoraks pada kasus ini
karena saat benturan benda tumpul akan terjadi perobekan pleura
visceralis sehingga udara bisa masuk ke dalam rongga pleura dan
udara yang masuk saat inspirasi tidak bisa keluar pada saat
ekspirasi. Jika keadaan ini berlanjut bisa menjadi tension
pneumothorax dengan gejala seperti nyeri dada, sesak, distres
pernafasan, takikardi, hipotensi, deviasi trakea, hilangnya suara
12
nafas pada satu sisi dan distensi vena leher. Adanya sianosis
merupakan manifestasi lanjut.

v. Nyeri paha kiri


Pada pasien terjadi fraktur femur kiri tertutup akibat trauma yang
dialami (disebabkan oleh terlempar keluarnya sang supir dari dalam
mobil melalui kaca depan dan mendarat pada bagian kiri dari tubuh
sehingga terjadinya transfer energy yang melebihi toleransi jaringan
sehingga terjadi disrupsi jaringan dan terjadi suatu trauma, terutama
pada femur). Fraktur tersebut akan menyebabkan terpecahnya
frakmen-frakmen tulang yang dapat mengenai serabut syaraf
disekitarnya yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri.
Selain itu, pada fraktur femur juga dapat terkena pembuluh darah
yang menyebabkan terjadinya eksudasi darah ke jaringan dan
menimbulkan hematoma, hematoma ini akan merangsang reaksi
inflamasi dengan mengeluarkan bradikinin dan merangsang
nosiseptor dan menyebabkan timbulnya rasa nyeri.

3. Pemeriksaan sekilas
a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan sekilas?

Kasus Interpretasi Nilai Normal

Pasien sadar tapi terlihat Penurunan kesadaran: GCS 15


bingung, cemas delirium
GCS 13 (E:3, M:6, V:4) Trauma kapitis ringan
E3: mata dapat dibuka dengan
perinta suara

M6: dapat menggerakkan


anggota badannya sendiri
berdasarkan perintah

V4: pasien tampak bingung,


disorientasi

13
Kesulitan bernafas Gangguan penafasan Tidak kesulitan

RR 38x/menit Takipneu 16 24 x/ menit

Nadi 120x/menit Takikardia 60 100 x/ menit

TD 85/60 Hipotensi 120/80 mmHg

Wajah dan bibir terlihat Abnormal : terlihat memar Wajah dan bibir
kebiruan, konjungtiva anemis dan anemis tidak kebiruan, dan
konjungtiva tidak
anemis

Kulit pucat, dingin, Abnormal : Anemis, perfusi


berkeringat dingin pada proksimal tidak adekuat

Terlihat deformitas di paha Abnormal Tidak terlihat


kiri deformitas

b. Bagaimana mekanisme abnormalitas pemeriksaan sekilas?

Temuan Interpretasi Mekanisme Abnormal


Pasien sadar tapi Penurunan kesdaran: Hipoksia > suplai O2 ke otak
terlihat bingung, delirium berkurang > gangguan fungsi otak
cemas E3: mata dapat dibuka > penurunan kesadaran >
GCS 13 (E:3, dengan perinta suara delirium
M:6, V:4) M6: dapat menggerakkan
anggota badannya sendiri
berdasarkan perintah

V4: pasien tampak


bingung, disorientasi

14
Kesulitan Gangguan penafasan Kecelakaan lalu lintas > dada
bernafas menumbur setir > trauma tumpul
pada thorax udara dari dalam paru
paru bocor ke rongga pleura >
udara tidak dapat keluar lagi dari
rongga pleura (one-way valve) >
tekanan intrapleural meningkat >
paru-paru kolaps > pertukaran
udara tidak adekuat > hipoksia >
kesulitan bernafas

RR 38x/menit Takipneu Hipoksia > kompensasi


(meningkatkan usaha pernafasan)
> peningkatan laju pernafasan

Nadi 120x/menit Takikardia Cardiac output menurun >


Kompensasi jantung >
peningkatan denyut jantung >
takikardia

TD 85/60 Hipotensi Kecelakaan lalu lintas > dada


menumbur setir trauma tumpul
pada thorax > udara dari dalam
paru-paru bocor ke rongga pleura
> udara tidak dapat keluar lagi
dari rongga pleura (one-way
valve) > tekanan intrapleural
meningkat > mediastinum
terdorong ke arah yang
berlawanan > menekan aliran
balik vena > output jantung
menurun > syok non hemoragik >
hipotensi

15
- Wajah dan bibir terlihat kebiruan, konjungtiva anemis (+)
Akselerasi dan deselerasi Trauma pada thorax Fraktur pada costa
9,10, 11 ditandai dengan adanya krepitasi) nyeri pada dada kanan
paru-paru tidak bisa mengembang akibat tertekan dengn costa yang
fraktur pernafasan paroksikmal Flail chest sesak
penurunan O2 dalam tubuh sianosis sentral ( wajah dan bibir
kebiruan.
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
Akselerasi dan deselerasi Trauma pada thorax Fraktur ditandai
dengan adanya krepitasi) nyeri pada dada kanan paru-paru tidak
bisa mengembang akibat tertekan dengn costa yang fraktur
pernafasan paroksikmal Flail chest sesak penurunan O2
dalam tubuh kebutuhan O2 otak diutamakan penurunan O2 serta
perdarahan Kulit pucat berkurannya TBV kulit tidak
mendapatkan energi untuk meregulasi suhu tubuh pelepasan
- Terlihat deformitas di paha kiri
Akselerasi dan deselerasi Trauma pada ekstremitas bawah fraktur
femur.

c. Apakah pada pasien sudah termasuk syok? Jelaskan!


Berikut ini ada empat tanda syok yang paling penting :
1. Hipotensi terjadi akibat dari berkurangnnya curah jantung. Dikatakan
hipotensi jika tekanan darah systole dibawah 80 mmHg atau tekanan nadi
dibawah 20 mmHg.
2. Takikardi terjadi akibat dari refleks simpatis terhadap keadaan
hipotensi. Pada orang dewasa frekuensi nadi 60-100 kali/menit, jadi
dikatakan takikardi jika frekuensi nadi diatas 100 kali/menit. Pada anak-
anak dikatakan takikardi jika di atas 120 kali/menit.
3. Takipneu terjadi akibat usaha tubuh untuk mengkompensasi hipoksia
pada keadaan syok. Pernapasan di katakan tacipneu, jika frekuensinya di
atas 24 kali/menit.
4. Penurunan kesadaran terjadi akibat aliran darah ke saraf pusat tidak
memadai. Penurunan kesadaran ini bisa berupa kebingungan, letargia,
agitasi dan koma.
16
Berikut ini beberapa gejala-gejala syok, baik yang bersifat subyektif
ataupun objektif :
Gejala Obyektif
1. Pernapasan cepat & dangkal
2. Nadi capat dan lemah
3. Akral pucat, dingin & lembab
4. Sianosis : bibir, kuku, lidah & cuping hidung
5. Pandangan hampa & pupil melebar

Gejala Subyektif
1. Mual dan mungkin muntah
2. Rasa haus
3. Badan lemah
4. Kepala terasa pusing

Gejala khusus syok sesuai penyebabnya, antara lain :


1. Syok Hipovolemik : pasien menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, tanda
dan gejala perdarahan internal ataupun eksternal.
2. Syok Kardiogenik : biasanya ada keluhan nyeri dada, tanda-tanda
edema paru ataupun kematian mendadak.
3. Syok Obstruktif : gejalanya sulit dibedakan dengan syok kardiogenik,
namun dari riwayat penyakit pasien, syok ini bisa didiagnosa.
4. Syok distributive : pada awalnya pasien ada demam, riwayat penyakit
infeksi sebelumnya, riwayat alergi makanan, obat-obatan, dll. Bisa juga
didapatkan urtikaria dan angioedema serta bronkospasme (terutama pada
syok anafilaktik).

Berdasarkan gejala yang diderita pasien, bisa disimpulkan bahwa pasien


menderita syok hipovolemik.

4. Setelah melakukan penanganan seadanya, dr. Salim langsung membawa sang


sopir ke UGD, setelah penanganan awal di UGD RSUD, pasien dipersiapkan
untuk dirujuk ke RSMH. (*)
17
a. Bagaimana cara membawa pasien kecelakaan lalu lintas menuju UGD
RSUD?

Setelah di tatalaksana awal dengan memeriksa kesadaran dan


mengevaluasi airway, breathing, dan circulation pasien, pasien di
mobilisasi ke UGD setempat dengan melakukan beberapa persiapan
sebagai berikut.
1) Lakukan pembidaian femur (dengan spalek atau teknik neighbouring
splint) atau traksi dengan menggunakan traction splint (penting untuk
mencegah terjadinya overriding tulang femur). Sebelum dan sesudah
memasang traction splint, lakukan perabaan arteri dorsalis pedis untuk
menilai apakah ikatan terlalu kuat.

2) Lakukan immobilisasi pasien


Persiapkan long spine board
Lakukan penggulingan korban (90) dengan teknik logroll (teknik
agar tulang belakang, pelvis, dll tidak bergerak, membutuhkan min 3
orang)
3) Teknik transport pasien
Jika ada ambulance, transport pasien dengan ambulance. Jika tidak ada
sebaiknya menggunankan alat transport lain untuk mencegah guncangan
bila dibawa tanpa alat transpor.

18
b. Apa syarat rujuk lengkap ke RSMH?
Indikasi rujuk
a. Dari kemampuan petugas kesehatan yang bekerja. Apabila petugas
kesehatan tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi trauma
hingga tuntas, maka sebaiknya dirujuk.
b. Kemampuan pusat pelayanan kesehatan. Apabila di RSUD tidak
terdapat fasilitas yang mencukupi dari diagnosis hingga tatalaksana
untuk mengatasi pasien trauma, sebaiknya dirujuk.

Persiapan sebelum merujuk pasien trauma dari RSUD ke RSMH


a. Keadaan pasien harus stabil selama di UGD.
b. Mengkonfirmasi indikasi rujuk pada klinis pasien dan atau atas
permintaan kerabat pasien.
c. Lengkapi catatan biodata pasien, serta riwayat tindakan, pengobatan,
serta respon yang diberikan selama pasien di UGD.
d. Menginfomasikan kepada petugas pendamping selama perjalanan
mengenai stabilisasi pasien (jalan napas, cairan, suhu), tindakan
khusus yang mungkin diperlukan, serta perubahan-perubahan yang
mungkin akan terjadi selama di perjalanan.
e. Siapkan surat rujukan.

c. Bagaimana penanganan pada pasien trauma di UGD?


1. Pengelolaan Jalan Nafas (Airway)
Jika pasien sadar: dengarkan suara yang dikeluarkan pasien, ada obstruksi
airway atau tidak. Jika pasien tidak sadar: 1) Look: ada sumbatan airway
atau tidak; 2) Listen: suara-suara nafas; 3) Feel: hembusan nafas pasien.
Prioritas pertama adalah membebaskan jalan nafas dan
mempertahankannya agar tetap bebas.
a. Bicara kepada pasien
Pasien yang dapat menjawab dengan jelas adalah tanda bahwa jalan
nafasnya bebas. Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan jalan nafas
buatan dan bantuan pernafasan. Penyebab obstruksi pada pasien tidak
sadar umumnya adalah jatuhnya pangkal lidah ke belakang. Jika ada

19
cedera kepala, leher atau dada maka pada waktu intubasi trakhea tulang
leher (cervical spine) harus dilindungi dengan imobilisasi in-line.
b. Berikan oksigen dengan sungkup muka (masker) atau kantung nafas (
selfinvlating)
c. Menilai jalan nafas Tanda obstruksi jalan nafas antara lain :
Suara berkumur
Suara nafas abnormal (stridor, dsb)
Pasien gelisah karena hipoksia
Bernafas menggunakan otot nafas tambahan / gerak dada paradoks
Sianosis
d. Menjaga stabilitas tulang leher
e. Pertimbangkan untuk memasang jalan nafas buatan Indikasi tindakan
ini adalah :
Obstruksi jalan nafas yang sukar diatasi
Luka tembus leher dengan hematoma yang membesar
Apnea
Hipoksia
Trauma kepala berat
Trauma dada
Trauma wajah / maxillo-facial

2. Pengelolaan Nafas ( Breathing )


Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik
meliputi: fungsi paru baik, dinding dada dan diafragma. Nilai frekuensi
pernafasannya, lihat ada sesak atau tidak, lihat ada trauma di thorax atau
tidak, tanda-tanda sianosis juga harus diperhatikan.
Prioritas kedua adalah memberikan ventilasi yang adekuat.
Tanda-tanda pernafasan yang memadai (adekuat)
Dada dan perut bergerak naik turun seirama dengan pernafasan
Udara terdengar dan terasa saat keluar dari mulut/hidung
Penderita tampak nyaman
Frekuensi cukup

20
Tanda-tanda pernafasan tidak adekuat
Gerakan dada kurang baik
Ada suara nafas tambahan
Sianosis
Frekuensi kurang atau lebih
Perubahan status mental (gelisah)

Inspeksi / lihat frekwensi nafas (LOOK) Adakah hal-hal berikut :


Sianosis
Luka tembus dada
Flail chest
Sucking wounds
Gerakan otot nafas tambahan
Palpasi / raba (FEEL)
Pergeseran letak trakhea
Patah tulang iga
Emfisema kulit
Dengan perkusi mencari hemotoraks dan atau pneumotoraks
Auskultasi / dengar (LISTEN)
Suara nafas, detak jantung, bising usus
Suara nafas menurun pada pneumotoraks
Suara nafas tambahan / abnormal

3. Pengelolaan Sirkulasi (Circulation)


Prioritas ketiga adalah perbaikan sirkulasi agar memadai. Syok adalah
keadaan berkurangnya perfusi organ dan oksigenasi jaringan. Pada pasien
trauma keadaan ini paling sering disebabkan oleh hipovolemia. Diagnosa
syok didasarkan tanda-tanda klinis : Hipotensi, takhikardia, takhipnea,
hipothermi, pucat, ekstremitas dingin, melambatnya pengisian kapiler
(capillary refill) dan penurunan produksi urine.
Setelah melakukan penangan pada sistem pernapasan, sistem sirkulasi
dapat segera dinilai dengan cara :

21
- Memeriksa denyut nadi (radialis atau karotis). Pada orang dewasa dan
anak-anak, denyut nadi diraba pada arteri radialis dan arteri carotis
(medial dari M. Sternocleidomastoideus). Sedangkan pada bayi, meraba
denyut nadi adalah pada a. Brachialis, yakni pada sisi medial lengan atas.
Frekuensi denyut jantung pada orang dewasa adalah 60-100 kali/menit.
Bila kurang dari 50 kali/menit disebut bradikardi dan lebih dari 100
kali/menit disebut takikardi. Bradikardi normal sering ditemukan pada
atlit yang terlatih. Pada bayi frekuensi denyut jantung adalah 85-200
kali/menit sedangkan pada anak-anak adalah 60-140 kali/menit. Pada syok
bila ditemukan bradikardi merupakan tanda diagnostik yang buruk.
- Menilai warna kulit
- Meraba suhu akral dan kapilari refill
- Periksa perdarahan
- Selain itu, kesadaran yang menurun dapat digunakan sebagai penilaian
terhadap adanya masalah pada system sirkulasi, karena kurangnya perfusi
oksigen ke otak dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran.
- Pemeriksaan sirkulasi dapat dilakukan bersamaan dengan penilaian
jalan napas dan system pernapasan. Pada saat melakukan penilaian jalan
napas, nadi radialis maupun nadi karotis dapat pula teraba.
- Jika ditemukan perdarahan terbuka segera tutup dengan bebat tekan.
Cegah bertambahnya jumlah darah yang keluar. Waspada terhadap
terjadinya shock. Penanganan luka secara baik dilakukan setelah korban
stabil.
- Jika ditemukan henti jantung, penderita mungkin masih akan berusaha
menarik napas satu atau dua kali, setelah itu akan berhenti napas.
Penderita akan ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Pada perabaan nadi
tidak ditemukan arteri yang tidak berdenyut, maka harus dilakukan
masase jantung luar yang merupakan bagian resusitasi jantung paru (RJP,
CPR).
Penanganan pada kasus: nilai TD, nadi, warna kulit, dan sumber
perdarahan. Bersihkan dan tutup luka dengan perban.

22
5. Pemeriksaan spesifik
a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormalitas pemeriksaan
spesifik?
Keadaan korban Keadaan Intepretasi Mekanisme
normal
Kepala: Terdapat Tidak ada luka Terjadi perlukaan Kecelakaan
luka lecet di dahi pada bagian dahi benturan(trauma)
dan pelipis kanan dan pelipis kapitis
diameter 2-4 cm, jaringan kulit
yang lain dbn tergores luka
lecet di dahi dan
pelipis

Keadaan korban Keadaan normal Intepretasi Mekanisme

Trakea bergeser Trakea berada di Ada yang Trauma tumpul


ke kiri tengah menyebabkan mengenai thoraks
trakea fraktur iga tension
terdorong pneumothoraks kanan
udara di rongga
pleura peningkatan
intra pleural trakea
bergeser ke kiri
(menjauhi sisi yang
mengalami
pneumothoraks)

Distensi vena JVP 5-2 Ada yang Trauma tumpul


jugularis menghalangi mengenai thoraks
aliran balik fraktur iga tension
vena pneumothoraks kanan
uda di rongga
pleura peningkatan

23
tekanan intrapleura
menghambar venous
return distensi
vena jugularis

Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Interpretasi

Thorax: gerakan dinding Simetris Gangguan pada


dada asimetris, kanan pulmo dekstra
tertinggal,

RR 40x/min RR: 16-24 x/menit Takipneu

Trauma pada dada


memar di sekitar dada kanan
- kanan
bawah sampai samping

Fraktur costae
krepitasi pada costae 9, 10,
- 9,10,11
11 kanan depan
Pneumothoraks
perkusi: kanan hipersonor, Sonor kedua paru
paru kanan
kiri sonor

auskultasi bunyi napas


Bunyi napas jelas Paru kanan kolaps
kanan melemah bising napas
kiri jelas

Takikardi
jantung jelas cepat HR HR: 60-100x/menit
110x/min

24
Ekstremitas (paha kiri):

- Inspeksi:
Deformitas tertutup menandakan adanya
Tampak deformitas, memar,
fraktur tulang femur yang tertutup. Memar
hematom pada paha tengah
dan hematom menandakan adanya cedera
kiri
akibat trauma di daerah tersebut.

- Palpasi: Nyeri tekan menandakan adanya cedera di


Nyeri tekan, krepitasi, daerah tersebut, kemungkinan karena fraktur.

- ROM ROM yang terdapat limitasi gerakan


aktif: limitasi gerakan, menandakan adanya inflamasi sehingga
pasif: limitasi gerakan menghambat terjadinya pergerakan oleh
tulang, sendi, dan otot. Hal ini biasanya
terjadi pada fraktur tulang.

b. Apakah ada pemeriksaan tambahan yang harus dilakukan?


1. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur
2. Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan
mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak
3. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi)
atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh
pada trauma multipel), Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres
normal setelah trauma.
4. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
5.DPL : menentukan adanya perdarahan intraabdominal

c. Bagaimana tanda-tanda adanya fraktur pada ekstremitas bawah dan


thoraks?
a. Deformitas ( perubssahan struktur atau bentuk)
b. Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh
darah

25
c. Ekimosis ( perdarahan subkutan)
d. Spasme otot karena kontraksi involunter disekitar fraktur
e. Nyeri, karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang
meningkat karena penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan
bagian fraktur
f. Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf,
dimana syaraf ini terjepit atau terputus oleh fragmen tulang
g. Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidakstabilan
tulang, nyeri atau spasme otot
h. Pergerakan abnormal
i. Krepitasi, yang dapat dirasakan atau didengar bila fraktur digerakan
j. Hasil foto rontgen yang abnormal

d. Bagaimana tatalaksana lanjutan pada pasien kecelakaan lalu lintas?


1. Thorax
Pada thorax keseluruhannya mengindikasikan bahwa pasien dalam
keadaan tension pneumothorax sehingga perlu ditatalaksana dengan
dekompresi segera: large-bore needle insertion (sela iga II, linea mid-
klavikula) dan WSD.

2. Abdomen
Pada abdomen Prinsip umum pengobatan peritonitis adalah
mengistirahatkan saluran cerna dengan menenangkan pasien, pemberian
antibiotik yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan
nasogastrik atau intestinal, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang
yang dilakukan secara intravena, pembuangan fokus septik (apendiks)
atau penyebab radang lainnya, bila mungkin dengan mengalirkan nanah
keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.
Prinsip umum dalam menangani infeksi intraabdominal ada 4, antara lain:
(1) kontrol infeksi yang terjadi, (2) membersihkan bakteri dan racun, (3)
memperbaiki fungsi organ, dan (4) mengontrol proses inflamasi.
Eksplorasi laparatomi segera perlu dilakukan pada pasien dengan akut
peritonitis.

26
3. Ekstremitas
Tatalaksana fraktur
1. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinis, dan radiologis.
2. Reduction, reduksi fraktur apabila perlu.
3. Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang
dapat diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis
dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah
komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di
kemudian hari.
4. Retention, imobilisasi fraktur.
5. Rehabilitation, mengembalikan aktivitas fungsional semaksimal
mungkin.

e. Bagaimana komplikasi penanganan yang tidak tepat pada kasus?


Komplikasi pada tension pneumothorax:
Gagal napas akut (3-5%)
Henti jantung-paru
Infeksi sekunder dari penggunaan WSD
Kematian
timbul cairan intra pleura, misalnya.
Pneumothoraks disertai efusi pleura : eksudat, pus.
Pneumothoraks disertai darah : hemathotoraks.
Syok

Komplikasi fraktur costae:


Komplikasi yang timbul akibat adanya fraktur costa dapat timbul segera
setelah terjadi fraktur, atau dalam beberapa hari kemudian setelah
terjadi.Besarnya komplikasi dipengaruhi oleh besarnya energi trauma dan
jumlah costae yang patah.
Gangguan hemodinamik merupakan tanda bahwa terdapat komplikasi
akibat fraktur costae. Pada fraktur costa ke 1-3 akan menimbulkan cedera
27
pada vasa dan nervus subclavia, fraktur costa ke 4-9 biasannya akan
mengakibatkan cedera terhadap vasa dan nervus intercostalis dan juga
pada parenkim paru, ataupun terhadap organ yang terdapat di
mediastinum, sedangkan fraktur costa ke 10-12 perlu dipikirkan
kemungkinan adanya cedera pada diafragma dan organ intraabdominal
seperti hati,limpa,lambung maupun usus besar.
Pada kasus fraktur costa simple pada satu costa tanpa komplikasi dapat
segera melakukan aktifitas secara normal setelah 3-4 minggu kemudian,
meskipun costa baru akan sembuh setelah 4-6 minggu.

Komplikasi awal :
Pneumotoraks, efusi pleura, hematotoraks, dan flail chest, sedangkan
komplikasi yang dijumpai kemudian antara lain contusio pulmonum,
pneumonia dan emboli paru. Flail chest dapat terjadi apabila terdapat
fraktur dua atau lebih dari costa yang berurutan dan tiap-tiap costa
terdapat fraktur segmental,keadaan ini akan menyebabkan gerakan
paradoksal saat bernafas dan dapat mengakibatkan gagal nafas.

IV. HIPOTESIS

Laki-laki 30 tahun seorang supir mengalami trauma multiple et causa kecelakaan lalu
lintas.

28
V. Sintesis Masalah

1. TRAUMA KECELAKAAN LALU INTAS

A. TRAUMA THORAX
Thorax dapat didefinisikan sebagai area yang dibatasi di superior oleh thoracic
inlet dan inferior oleh thoracic outlet; dengan batas luar adalah dinding thorax
yang disusun oleh vertebra torakal, iga-iga, sternum, otot, dan jaringan ikat.
Rongga thorax dibatasi dengan rongga abdomen oleh diafragma. Rongga
thorax dapat dibagi ke dalam dua bagian utama, yaitu : paru-paru (kiri dan
kanan) dan mediastinum. Mediastinum dibagi ke dalam 3 bagian: superior,
anterior, dan posterior. Mediastinum terletak diantara paru kiri dan kanan dan
merupakan daerah tempat organ-organ penting thorax selain paru-paru (yaitu:
jantung, aorta, arteri pulmonalis, vena cavae, esofagus, trakhea, dll.).
Thoracic inlet merupakan pintu masuk rongga thoraks yang disusun
oleh: permukaan ventral vertebra torakal I (posterior), bagian medial dari iga I
kiri dan kanan (lateral), serta manubrium sterni (anterior). Thoracic inlet
memiliki sudut deklinasi sehingga bagian anterior terletak lebih inferior
dibanding bagian posterior. Manubrium sterni terletak kira-kira setinggi
vertebra torakal II. Batas bawah rongga thoraks atau thoracic outlet (pintu
keluar thoraks) adalah area yang dibatasi oleh sisi ventral vertebra torakal XII,
lateral oleh batas bawah iga dan anterior oleh processus xiphoideus.
Diafragma sebagai pembatas rongga thoraks dan rongga abdomen,
memiliki bentuk seperti kubah dengan puncak menjorok ke superior, sehingga
sebagian rongga abdomen sebenarnya terletak di dalam area thoraks.
Trauma paru merupakan komponen yang penting dalam trauma thoraks.
Cidera thoraks memberikan impak medis dan social yang besar, dengan
kontribusi terhadap trauma yang menyebabkan kematian kira-kira 25% dan
menyumbang secara signifikan sebanyak 25% dari seluruh penyebab kematian.
Trauma thoraks merupakan penyebab utama kematian, cacat, rawat inap,
pertambahan golongan kurang upaya pada masyarakat di amerika dari umur 1
tahun sehingga umur pertengahan decade 50. Sehingga kini, trauma merupakan
masalah besar kesehatan tingkat nasional.
Kebanyakan trauma thoraks disebabkan oleh kecelakaan lalulintas.
Insiden dari trauma dadadi Amerika adalah 12 orang bagi setiap 1000 orang

29
penduduk tiap harinya, dan 20-25% kematian yang disebabkan oleh trauma
adalah disebabkan oleh trauma thoraks.Trauma thoraks diperkirakan
bertanggung jawab atas kematian 16,000 kematian tiap tahunnya di Amerika.
Trauma thoraks dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu trauma tembus
atau tumpul.

KLASIFIKASI
Trauma toraks dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu trauma tembus atau
tumpul.
1. Trauma tembus (tajam)

Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat penyebab trauma

Terutama akibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau peluru

Sekitar 10-30% memerlukan operasi torakotomi


2. Trauma tumpul

Tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks.

Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas, terjatuh, olahraga, crush atau blast


injuries.

Kelainan tersering akibat trauma tumpul toraks adalah kontusio paru

Sekitar <10% yang memerlukan operasi torakotomi

TRAUMA TUMPUL
Trauma tumpul lebih sering didapatkan berbanding trauma tembus,kira-
kira lebih dari 90% trauma thoraks. Dua mekanisme yang terjadi pada trauma
tumpul: (1) transfer energi secara direk pada dinding dada dan organ thoraks
dan (2) deselerasi deferensial, yang dialami oleh organ thoraks ketika terjadinya
impak. Benturan yang secara direk yang mengenai dinding torak dapat
menyebabkan luka robek dan kerusakan dari jaringan lunak dan tulang seperti
tulang iga. Cedera thoraks dengan tekanan yang kuat dapat menyebabkan
peningkatan tekanan intratorakal sehingga menyebabkan ruptur dari organ
organ yang berisi cairan atau gas.

30
TRAUMA TEMBUS
Trauma tembus, biasanya disebabkan tekanan mekanikal yang dikenakan
secara direk yang berlaku tiba-tiba pada suatu area fokal. Pisau atau projectile,
misalnya, akan menyebabkan kerusakan jaringan dengan stretching dan
crushing dan cedera biasanya menyebabkan batas luka yang sama dengan
bahan yang tembus pada jaringan. Berat ringannya cidera internal yang berlaku
tergantung pada organ yang telah terkena dan seberapa vital organ tersebut.
Derajat cidera tergantung pada mekanisme dari penetrasi dan temasuk,
diantara faktor lain, adalah efisiensi dari energy yang dipindahkan dari obyek ke
jaringan tubuh yang terpenetrasi. Faktor faktor lain yang berpengaruh adalah
karakteristik dari senjata, seperti kecepatan, size dari permukaan impak, serta
densitas dari jaringan tubuh yang terpenetrasi. Pisau biasanya menyebabkan
cidera yang lebih kecil karena ia termasuk proyektil dengan kecepatan rendah.
Luka tusuk yang disebabkan oleh pisau sebatas dengan daerah yang terjadi
penetrasi. Luka disebabkan tusukan pisau biasanya dapat ditoleransi, walaupun
tusukan tersebut pada daerah jantung, biasanya dapat diselamatkan dengan
penanganan medis yang maksimal.
Peluru termasuk proyektil dengan kecepatan tinggi, dengan biasanya bisa
mencapai kecepatan lebih dari 1800-2000 kali per detik. Proyektil dengan
kecepatan yang tinggi dapat menyebabkan dapat menyebabkan berat cidera
yang sama denganseperti penetrasi pisau, namun tidak seperti pisau, cidera yang
disebabkan oleh penetrasi peluru dapat merusakkan struktur yang berdekatan
dengan laluan peluru. Ini karena disebabkan oleh terbentuknya kavitas jaringan
dan dengan menghasilkan gelombang syok jaringan yang bisa bertambah luas.
Tempat keluar peluru mempunya diameter 20-30 kali dari diameter peluru.

MEKANISME TRAUMA
Akselerasi
Kerusakan yang terjadi merupakan akibat langsung dari penyebab trauma. Gaya
perusak berbanding lurus dengan massa dan percepatan (akselerasi); sesuai dengan
hukum Newton II (Kerusakan yang terjadi juga bergantung pada luas jaringan
tubuh yang menerima gaya perusak dari trauma tersebut).

31
Pada luka tembak perlu diperhatikan jenis senjata dan jarak tembak; penggunaan
senjata dengan kecepatan tinggi seperti senjata militer high velocity (>3000 ft/sec)
pada jarak dekat akan mengakibatkan kerusakan dan peronggaan yang jauh lebih
luas dibandingkan besar lubang masuk peluru.

Deselerasi
Kerusakan yang terjadi akibat mekanisme deselerasi dari jaringan. Biasanya
terjadi pada tubuh yang bergerak dan tiba-tiba terhenti akibat trauma. Kerusakan
terjadi oleh karena pada saat trauma, organ-organ dalam yang mobile (seperti
bronkhus, sebagian aorta, organ visera, dsb) masih bergerak dan gaya yang
merusak terjadi akibat tumbukan pada dinding thoraks/rongga tubuh lain atau oleh
karena tarikan dari jaringan pengikat organ tersebut.

Torsio dan rotasi


Gaya torsio dan rotasio yang terjadi umumnya diakibatkan oleh adanya deselerasi
organ-organ dalam yang sebagian strukturnya memiliki jaringan pengikat/fiksasi,
seperti Isthmus aorta, bronkus utama, diafragma atau atrium. Akibat adanya
deselerasi yang tiba-tiba, organ-organ tersebut dapat terpilin atau terputar dengan
jaringan fiksasi sebagai titik tumpu atau poros-nya.

Blast injury
Kerusakan jaringan pada blast injury terjadi tanpa adanya kontak langsung dengan
penyebab trauma. Seperti pada ledakan bom.
Gaya merusak diterima oleh tubuh melalui penghantaran gelombang energi.

Faktor lain yang mempengaruhi


Sifat jaringan tubuh
Jenis jaringan tubuh bukan merupakan mekanisme dari perlukaan, akan tetapi
sangat menentukan pada akibat yang diterima tubuh akibat trauma. Seperti adanya
fraktur iga pada bayi menunjukkan trauma yang relatif berat dibanding bila
ditemukan fraktur pada orang dewasa. Atau tusukan pisau sedalam 5 cm akan
membawa akibat berbeda pada orang gemuk atau orang kurus, berbeda pada
wanita yang memiliki payudara dibanding pria, dsb.

32
Lokasi
Lokasi tubuh tempat trauma sangat menentukan jenis organ yang menderita
kerusakan, terutama pada trauma tembus. Seperti luka tembus pada daerah pre-
kordial.

Arah trauma
Arah gaya trauma atau lintasan trauma dalam tubuh juga sangat mentukan dalam
memperkirakan kerusakan organ atau jaringan yang terjadi.
Perlu diingat adanya efek ricochet atau pantulan dari penyebab trauma pada
tubuh manusia. Seperti misalnya : trauma yang terjadi akibat pantulan peluru dapat
memiliki arah (lintasan peluru) yang berbeda dari sumber peluru sehingga
kerusakan atau organ apa yang terkena sulit diperkirakan.

Kondisi Yang Berbahaya


Berikut adalah keadaan atau kelainan akibat trauma toraks yang berbahaya dan
mematikan bila tidak dikenali dan di-tatalaksana dengan segera:
1. Obstruksi jalan napas
Tanda: dispnoe, wheezing, batuk darah
PF:stridor, sianosis, hilangnya bunyi nafas
Ro toraks: non-spesifik, hilangnya air-bronchogram, atelektasis
2. Tension pneumotoraks
Tanda : dispnoe, hilangnya bunyi napas, sianosis, asimetri toraks, mediastinal
shift
Ro toraks (hanya bila pasien stabil) : pneumotoraks, mediastinal shift
3. Perdarahan masif intra-toraks (hemotoraks masif)
Tanda: dispnoe, penampakan syok, hilang bunyi napas, perkusi pekak,
hipotensif
Ro toraks: opasifikasi hemitoraks atau efusi pleura
4. Tamponade
Tanda: dispnoe, Trias Beck (hipotensi, distensi vena, suara jantung menjauh),
CVP > 15

33
Ro toraks: pembesaran bayangan jantung, gambaran jantung membulat
5. Ruptur aorta
Tanda: tidak spesifik, syok
Ro toraks: pelebaran mediastinum, penyempitan trakhea, efusi pleura
6. Ruptur trakheobronhial
Tanda: Dispnoe, batuk darah
Ro toraks: tidak spesifik, dapat pneumotoraks, hilangnya air-bronchograms
7. Ruptur diafragma disertai herniasi visera
Tanda: respiratory distress yang progresif, suara usus terdengar di toraks
Ro toraks : gastric air bubble di toraks, fraktur iga-iga terbawah, mediastinal
shift
8. Flail chest berat dengan kontusio paru
Tanda: dispnoe, syok, asimetris toraks, sianosis
Ro toraks: fraktur iga multipel, kontusio paru, pneumotoraks, effusi pleura
9. Perforasi esofagus
Tanda: Nyeri, disfagia, demam, pembengkakan daerah servikal
Ro toraks: udara dalam mediastinum, pelebaran retrotracheal-space, pelebaran
mediastinum, efusi pleura, pneumotoraks

B. TRAUMA PADA DINDING DADA


FRAKTUR IGA
Fraktur pada iga (costae) merupakan kelainan tersering yang diakibatkan trauma
tumpul pada dinding dada. Trauma tajam lebih jarang mengakibatkan fraktur iga, oleh
karena luas permukaan trauma yang sempit, sehingga gaya trauma dapat melalui sela
iga. Fraktur iga terutama pada iga IV-X (mayoritas terkena). Perlu diperiksa adanya
kerusakan pada organ-organ intra-toraks dan intra abdomen.
Kecurigaan adanya kerusakan organ intra abdomen (hepar atau spleen) bila terdapat
fraktur pada iga VIII-XII. Kecurigaan adanya trauma traktus neurovaskular utama
ekstremitas atas dan kepala (pleksus brakhialis, a/v subklavia, dsb.), bila terdapat
fraktur pada iga I-III atau fraktur klavikula.
Komplikasi tersering adalah timbulnya atelektasis dan pneumonia, yang umumnya
akibat manajemen analgetik yang tidak adekuat.

34
FRAKTUR KLAVIKULA
Cukup sering sering ditemukan (isolated, atau disertai trauma toraks, atau disertai
trauma pada sendi bahu ).
Lokasi fraktur klavikula umumnya pada bagian tengah (1/3 tengah)
Deformitas, nyeri pada lokasi taruma.
Foto Rontgen tampak fraktur klavikula
Komplikasi : timbulnya malunion fracture dapat mengakibatkan penekanan pleksus
brakhialis dan pembuluh darah subklavia.

FRAKTUR STERNUM
Insidens fraktur sternum pada trauma toraks cukup jarang, umumnya terjadi pada
pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan.
Biasanya diakibatkan trauma langsung dengan gaya trauma yang cukup besar
Lokasi fraktur biasanya pada bagian tengah atas sternum
Sering disertai fraktur Iga.
Adanya fraktur sternum dapat disertai beberapa kelainan yang serius, seperti:
kontusio/laserasi jantung, perlukaan bronkhus atau aorta.
Tanda dan gejala: nyeri terutama di area sternum, krepitasi
Pemeriksaan
Seringkali pada pemeriksaan Ro toraks lateral ditemukan garis fraktur, atau
gambaran sternum yang tumpang tindih.
Pemeriksaan EKG : 61% kasus memperlihatkan adanya perubahan EKG (tanda
trauma jantung).

DISLOKASI SENDI STERNOKLAVIKULA


Kasus jarang
Dislokasi anterior : nyeri, nyeri tekan, terlihat "bongkol klavikula" (sendi
sternoklavikula) menonjol kedepan
Posterior : sendi tertekan kedalam
Pengobatan : reposisi

35
FLAIL CHEST
Definisi
Flail chest adalah area thoraks yang melayang (flail) oleh sebab adanya fraktur iga
multipel berturutan 3 iga , dan memiliki garis fraktur 2 (segmented) pada tiap
iganya dapat tanpa atau dengan fraktur sternum. Akibatnya adalah: terbentuk area
flail segmen yang mengambang akan bergerak paradoksal (kebalikan) dari gerakan
mekanik pernapasan dinding dada.
Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada ekspirasi,
sehingga udara inspirasi terbanyak memasuki paru kontralateral dan banyak udara ini
akan masuk pada paru ipsilateral selama fase ekspirasi, keadaan ini disebut dengan
respirasi pendelluft. Fraktur pada daerah iga manapun dapat menimbulkan flail chest.
Dinding dada mengambang (flail chest) ini sering disertai dengan hemothoraks,
pneumothoraks, hemoperikardium maupun hematoma paru yang akan memperberat
keadaan penderita. Komplikasi yang dapat ditimbul yaitu insufisiensi respirasi dan
jika korban trauma masuk rumah sakit, atelectasis dan berikut pneumonia dapat
berkembang.
Karakteristik
Gerakan "paradoksal" dari (segmen) dinding dada saat inspirasi/ekspirasi; tidak
terlihat pada pasien dalam ventilator
Menunjukkan trauma hebat
Biasanya selalu disertai trauma pada organ lain (kepala, abdomen, ekstremitas)
Komplikasi utama adalah gagal napas, sebagai akibat adanya ineffective air
movement, yang seringkali diperberat oleh edema/kontusio paru, dan nyeri. Pada
pasien dengan flail chest tidak dibenarkan melakukan tindakan fiksasi pada daerah
flail secara eksterna, seperti melakukan splint/bandage yang melingkari dada, oleh
karena akan mengurangi gerakan mekanik pernapasan secara keseluruhan.

C. TRAUMA PADA PLEURA DAN PARU


PNEUMOTHORAX
Adalah kelainan pada rongga pleura ditandai dengan adanya udara yang terperangkap
dalam rongga pleura maka akan menyebabkan peningkatan tekanan negatif
intrapleura sehingga mengganggu proses pengembangan paru. Merupakan salah satu
dari trauma tumpul yang sering terjadi akibat adanya penetrasi fraktur iga pada

36
parenkim paru dan laserasi paru. Pneumothoraks bisa juga terjadi akibat decelerasi
atau barotrauma pada paru yang tanpa disertai adanya fraktur iga. Pasien akan
melaporkan adanya nyeri atau dispnea dan nyeri pada daerah fraktur. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan melemahnya suara pernapasan. pneumothoraks terbagi
atas tiga yaitu: simple, open, dan tension pneumothorax.

Simple Pneumothorax
Adalah pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intra toraks yang
progresif.

Ciri:
Paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsial atau total)
Tidak ada mediastinal shift
PF: bunyi napas , hyperresonance (perkusi), pengembangan dada

Tension Pneumothorax
Adalah pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang semakin
lama semakin bertambah (progresif). Pada pneumotoraks tension ditemukan
mekanisme ventil (udara dapat masuk dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar).
Ciri:
Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi : kolaps total
paru, mediastinal shift (pendorongan mediastinum ke kontralateral), deviasi
trakhea venous return hipotensi & respiratory distress berat.
Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan cepat, takipneu,
hipotensi, JVP , asimetris statis & dinamis
Merupakan keadaan life-threatening tdk perlu Ro

Open Pneumothorax
Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada dada sehingga udara dapat keluar
dan masuk rongga intra toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks akan sama dengan
tekanan udara luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound. Terjadi kolaps total paru.

37
HEMATOTHORAX
Definisi: Terakumulasinya darah pada rongga toraks akibat trauma tumpul atau
tembus pada dada.
Sumber perdarahan umumnya berasal dari A. interkostalis atau A. mamaria
interna. Perlu diingat bahwa rongga hemitoraks dapat menampung 3 liter cairan,
sehingga pasien hematotoraks dapat syok berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat
adanya perdarahan yang nyata, oleh karena perdarahan masif yang terjadi
terkumpul di dalam rongga toraks.
Penampakan klinis yang ditemukan sesuai dengan besarnya perdarahan atau
jumlah darah yang terakumulasi. Perhatikan adanya tanda dan gejala instabilitas
hemodinamik dan depresi pernapasan
Pemeriksaan
Ro toraks (yang boleh dilakukan bila keadaan pasien stabil)
Terlihat bayangan difus radio-opak pada seluruh lapangan paru
Bayangan air-fluid level hanya pada hematopneumotoraks

KONTUSIO PARU
Terjadi pada kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi, jatuh dari tempat
yang tinggi dan luka tembakdengan peluru cepat (high velocity) maupun setelah
trauma tumpul thoraks.
Dapat pula terjadi pada trauma tajam dengan mekanisme perdarahan dan edema
parenkim. Penyulit ini sering terjadi pada trauma dada dan potensial menyebabkan
kematian.
Tanda dan gejalanya adalah sesak nafas/dyspnea, hipoksemia, takikardi, suara
nafas berkurang atau tidak terdengar pada sisi kontusio, patah tulang iga, sianosis.
Patofisiologi : kontusio/cedera jaringan edema dan reaksi inflamasi lung
compliance ventilation-perfusion mismatch hypoxia & work of breathing

Diagnosis : ro toraks dan pemeriksaan lab (PaO2 )
Manifestasi klinis dapat timbul atau memburuk dalam 24-72 jam setelah trauma

38
LASERASI PARU
Definisi : Robekan pada parenkim paru akibat trauma tajam atau trauma tumpul keras
yang disertai fraktur iga, sehingga dapat menimbulkan hemothoraks dan
pneumothoraks. Mekanisme terjadinya pneumothoraks oleh karena
meningkatnya tekanan intraalveolar yang disebabkan adanya tubrukan yang
kuat pada thoraks dan robekan pada percabangan trakeobronchial atau
esophagus. Perdarahan dari laserasi paru dapat berhenti, menetap, atau berulang.
Manifestasi klinik umumnya adalah : hemato + pneumotoraks

D. RUPTUR DIAFRAGMA
Ruptur diafragma pada trauma toraks biasanya disebabkan oleh trauma tumpul
pada daerah toraks inferior atau abdomen atas.
Trauma tumpul di daerah toraks inferior akan mengakibatkan peningkatan tekanan
intra abdominal mendadak yang diteruskan ke diafragma. Ruptur terjadi bila
diafragma tidak dapat menahan tekanan tersebut.
Dapat pula terjadi ruptur diafragma akibat trauma tembus pada daerah toraks
inferior. Pada keadaan ini trauma tembus juga akan melukai organ-organ lain
(intratoraks atau intraabdominal).
Ruptur umumnya terjadi di "puncak" kubah diafragma (sentral) ataupun dapat kita
curigai bila terdapat luka tusuk dada yang didapatkan pada: dibawah ICS 4
anterior, didaerahh ICS 6 lateral, didaerah ICS 8 posterior.
Kejadian ruptur diafragma sebelah kiri lebih sering daripada diafragma kanan
Akan terjadi herniasi organ viseral abdomen ke toraks
Kematian dapat terjadi dengan cepat setelah terjadinya trauma oleh karena shock
dan perdarahan pada cavum pleura kiri.
Dapat terjadi ruptur ke intra perikardial

Diagnostik:
Riwayat trauma tumpul toraks inferior atau abdomen
Tanda dan gejala klinis (sesak/respiratory distress), mual-muntah, tanda abdomen
akut)
Ro toraks dengan NGT terpasang (pendorongan mediastinum kontralateral,
terlihat adanya organ viseral di toraks)

39
CT scan toraks

E. RUPTUR TRAKEA DAN BRONKUS


Ruptur trakea dan bronkus utama dapat disebabkan oleh trauma tajam maupun trauma
tumpul dimana angka kematian akibat penyulit ini adalah 50%. Pada trauma tumpul
ruptur terjadi pada saat glottis tertutup dan terdapat peningkatan hebat dan mendadak
dari tekanan saluran trakeobronkial yang melewati batas elastisitas saluran
trakeobronkial ini. Kemungkinan kejadian ruptur bronkus utama meningkat pada
trauma tumpul thoraks yang disertai dengan fraktur iga 1 sampai 3, lokasi tersering
adalah pada daerah karina dan percabangan bronkus. Pneumothoraks,
pneumomediatinum, emfisema subkutan dan hemoptisis, sesak nafas,dan sianosis
dapat merupakan gejala dari ruptur ini.

F. TRAUMA ESOFAGUS
Penyebab trauma/ruptur esofagus umumnya disebabkan oleh trauma tajam/tembus.
Pemeriksaan Ro toraks: Terlihat gambaran pneumomediastinum atau efusi pleura
Diagnostik: Esofagografi
Tindakan: Torakotomi eksplorasi

G. TRAUMA JANTUNG
Tamponade jantung terdapat pada 20% penderita dengan trauma thoraks yang berat,
trauma tajam yang mengenai jantung akan menyebabkan tamponade jantung
dengan gejala trias Beck yaitu distensi vena leher, hipotensi dan menurunnya
suara jantung. Kontusio miokardium tanpa disertai ruptur dapat menjadi
penyebab tamponade jantung.
Kecurigaan trauma jantung :
Trauma tumpul di daerah anterior
Fraktur pada sternum
Trauma tembus/tajam pada area prekordial (parasternal kanan, sela iga II kiri, grs
mid-klavikula kiri, arkus kosta kiri)
Diagnostik
Trauma tumpul : EKG, pemeriksaan enzim jantung (CK-CKMB / Troponin T)

40
Foto toraks : pembesaran mediastinum, gambaran double contour pada
mediastinum menunjukkan kecurigaan efusi perikardium
Echocardiography untuk memastikan adanya effusi atau tamponade
Komplikasi
Salah satu komplikasi adanya kontusio jantung adalah terbentuknya aneurisma
ventrikel beberapa bulan/tahun pasca trauma.

RUPTUR AORTA
Ruptur Aorta sering menyebabkan kematian penderitanya, dan lokasi ruptur tersering
adalah di bagian proksimal arteri subklavia kiri dekat ligamentum arteriosum.
Hanya kira-kira 15% dari penderita trauma thoraks dengan ruptur aorta ini dapat
mencapai rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Kecurigaan adanya
ruptur aorta dari foto thoraks bila didapatkan mediastinum yang melebar, fraktur
iga 1 dan 2, trakea terdorong ke kanan, gambaran aorta kabur, penekanan
bronkus utama kiri.

H. TRAUMA ABDOMEN
Anatomi Abdomen
Abdomen dapat dibagi menjadi empat kompartemen anatomis, yaitu (Williams,
2013):

Regio thoraks. Regio ini berada antara inframammary creases dan batas iga. Di
dalamnya terdapat organ berupa diafragma, hati, limfa, dan lambung. Saat
menghembuskan nafas, diafragma dapat naik sampai setinggi torakal tiga.

Regio peritoneum (true abdomen). Pada regio ini dapat dijumpai lambung, usus
halus, dan usus besar, omentum, rahim, dan terkadang puncak dari vesika urinaria.
Pada akhir inhalasi, ketika hati dan limfa turun, kedua organ ini menjadi bagian
dari regio peritoneum.

Regio retroperitoneum. Regio ini mencakup pembuluh-pembuluh darah besar,


ginjal, kolon transversum, kolon desenden, uterus, pankreas, dan duodenum.

Regio pelvis. Abdomen bagian pelvis dibentuk oleh sambungan tulang-tulang


pelvis.

41
Trauma Abdomen
Trauma abdomen didefinisikan sebagai trauma yang melibatkan daerah antara
diafragma atas dan panggul bawah (Guilon, 2011).
Mekanisme Trauma
Trauma pada abdomen dibagi menjadi trauma tumpul dan tembus.Trauma
tumpul abdomen disebabkan kompresi dan deselerasi. Kompresi rongga abdomen
oleh benda-benda terfiksasi, seperti sabuk pengaman atau setir kemudi akan
meningatkan tekanan intraluminal dengan cepat, sehingga mungkin menyebabkan
ruptur usus, atau pendarahan organ padat. Gaya deselerasi (perlambatan) akan
menyebabkan tarikan atau regangan antara struktur yang terfiksasi dan yang dapat
bergerak. Deselerasi dapat menyebabkan trauma pada mesenterium, pembuluh darah
besar, atau kapsul organ padat, seperti ligamentum teres pada hati. Organ padat,
seperti limpa dan hati merupakan jenis organ yang tersering mengalami terluka
setelah trauma tumpul abdomen terjadi (Demetriades,2000).
Luka tembak adalah penyebab paling umum (64%) dari trauma tembus
abdomen, diikuti oleh luka tusukan (31%) dan luka senapan (5%)(Todd, 2004).Luka
tusuk dan luka tembak kecepatan rendah menyebabkan kerusakan jaringan dengan
laserasi dan memotong.Kecepatan tinggi pada luka tembak mentransferenergi kinetic
lebih ke abdomen visera (American College of Surgeons Committee on Trauma,
2008).

TRAUMA KAPITIS
Definisi
Trauma kapitis atau cedera kepala adalah trauma mekanik terhadap kepala, baik
secara langsung maupun tidak langsung, yang menyebabkan gangguan fungsi
neurologis (gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial) baik temporer maupun
permanen.

42
Klasifikasi
Trauma kapitis diklasifikasikan menggunakan GCS.
trauma kepala berat jika GCS 3-8
trauma kepala sedang jika GCS 9-12
trauma kepala ringan jika GCS 13-15

Patologi
1. Hematoma epidural, memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
hilangnya kesadaran (menurun dengan cepat) setelah suatu masa bebas
(lucid interval)
perdarahan arteria meningea media dengan peningkatan cepat dari
tekanan intrakranial
timbulnya kelumpuhan (hemiparesis) pada sisi yang berlawanan
dengan sisi trauma
timbulnya pupil yang fixed (tidak ada reaksi cahaya) pada sisi yang
sama dengan tempat trauma.
Pada CT scan, tampak lesi hiperdens berbentuk bikonveks.
2. Hematoma subdural, terjadi akibat robeknya vena yang melintang antara
korteks dan dura. Bekuan darah dalam rongga subdural disertai dengan
kontusio jaringan otak di bawahnya.
3. Perdarahan subarakhnoid, terjadi pada ruang subarakhnoid (antara piamater
dan arakhnoid).
4. Perdarahan intraserebral dan kontusio
5. Diffuse axonal injury

Diagnosis
1. Anamnesis
Mekanisme trauma, jenis trauma apakah tembus atau tidak, waktu
terjadinya trauma
Riwayat kejang, penurunan kesadaran, serta mual dan muntah
Apakah terdapat kelemahan pada salah satu sisi tubuh
2. Pemeriksaan Fisik
ABC dan GCS

43
Pemeriksaan neurologis lengkap setelah stabil
- Kesadaran
-Pemeriksaan n.cranialis: lebar pupil, rangsang cahaya, pergerakan
bola mata.
Pada pasien koma, respons okulosefalik dan okulovestibular
dilakukan
Periksa apakah ada:
- Otorea Otorea tandanya fraktur basis cranii media
- Racoon eye (ekimosis periorbita bilateral) atau rinorea tanda dari
fraktur
basis cranii anterior
- Battles sign (ekimosis mastoid bilateral) tanda fraktur basis cranii
posterior

3. Pemeriksaan penunjang
Radiologi: CT scan tanpa kontras atau foto polos kepala posisi AP, lateral, dan
tangensial
Laboratorium: darah lengkap, urinalisis, gula darah, ureum, kreatinin, AGD

J. TRAUMA LEHER

Trauma yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas, jatuh dari tempat yang tinggi serta
pada aktivitas olahraga yang berbahaya boleh menyebabkan cedera pada beberapa
bagian ini. Antara kemungkinan kecederaan yang bisa timbul adalah seperti
berikut:
Kerusakan pada tulang servikal C1-C7; cedera pada C3 bisa menyebabkan pasien
apnu. Cedera dari C4-C6 bisa menyebabkan pasien kuadriplegi, paralisis hipotonus
tungkai atas dan bawah serta syok batang otak.
Fraktur Hangman terjadi apabila terdapat fraktur hiperekstensi yang bilateral pada
tapak tulang servikal C2.
Tulang belakang torak dan lumbar bisa diakibatkan oleh cedera kompresi dan
cedera dislokasi.

Spondilosis servikal juga dapat terjadi.

44
Cedera ekstensi yaitu cedera Whiplash terjadi apabila berlaku ekstensi pada
tulang servikal.

2. TATALAKSANA TRAUMA KECELAKAAN LALU LINTAS

Multiple trauma dapat didefinisikan sebagai cedera pada minimal dua sistem organ
yang menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa. Secara lebih khusus, multiple
trauma adalah suatu sindrom dari cedera multipel dengan derajat keparahan yang
cukup tinggi (ISS >16) yang disertai dengan reaksi sistemik akibat trauma yang
kemudian akan menimbulkan terjadinya disfungsi atau kegagalan dari organ yang
letaknya jauh dan sistem organ yang vital yang tidak mengalami cedera akibat trauma
secara langsung (Trentz O L, 2000)

Epidemiologi

Trauma merupakan masalah kesehatan yang cukup serius dan merupakan salah satu
penyebab utama dari kematian terutama pada usia remaja dan usia dewasa muda.
Pada tahun 1998, diperkirakan 5,8 juta orang meninggal dunia oleh karena trauma. Di
Amerika Serikat, diperkirakan 12.400 orang meninggal dunia setiap bulannya oleh
karena trauma. Disebutkan bahwa rerata umur pasien trauma adalah antara umur 29-
34 tahun dan disebutkan pula bahwa pria lebih banyak yang mengalami trauma (60-
80% dari kasus yang terjadi) daripada wanita (Barkin et al., 1998).

Insiden terjadinya trauma meningkat secara signifikan di negara miskin dan


negara berkembang. Fenomena ini disebabkan oleh karena meningkatnya mobilisasi
di negara negara tersebut, yang kemudian tergantung pada kendaraan transportasi
untuk melakukan kegiatan ekonomi. Peningkatan penggunaan kendaraan bermotor di
negara-negara tersebut sering tidak disertai dengan peningkatan kuantitas serta
kualitas infrastruktur penunjang, misalnya ketersediaan jalan, regulasi transportasi
yang baik, fasilitas keamanan suatu kendaraan, serta sistem edukasi mengenai tata
cara berlalu lintas yang baik dan benar. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan
tingginya angka kejadian trauma di negara-negara miskin dan berkembang.
Multiple trauma mempunyai konseskuensi yang serius terhadap pasien dan
apabila pasien terselamatkan maka akan disertai dengan disability yang cukup serius

45
dan akan menghambat pasien tersebut dalam beraktivitas sehari-hari di rumah, tempat
pekerjaan, dan masyarakat.

Mekanisme Trauma

Pengetahuan mengenai mekanisme trauma akan dapat membantu dokter bedah dalam
memperkirakan masalah dan cedera khusus yang dapat terjadi pada pasien multiple
trauma sehingga diagnsosis dan tindakan dapat dilakukan dengan lebih efektif
(Barkin et al., 1998).

Tabel. 1 Mekanisme Trauma dan Cedera yang Diantisipasi (Barkin et al., 1998).

46
47
MULTIPEL TRAUMA

Trauma yang terjadi pada kecelakaan lalu-lintas memiliki banyak bentuk, tergantung
dari organ apa yang dikenai. Trauma semacam ini, secara lazim, disebut sebagai
trauma benda tumpul ( trauma multiple). Ada tiga trauma yang paling sering terjadi
dalam peristiwa ini, yaitu cedera kepala, trauma thorax ( dada) dan fraktur ( patah
tulang).

48
Trauma pertama yaitu trauma kepala, terutama jenis berat, merupakan trauma yang
memiliki prognosis (harapan hidup) yang buruk. Hal ini disebabkan oleh karena
kepala merupakan pusat kehidupan seseorang. Di dalam kepala terdapat otak yang
mengatur seluruh aktivitas manusia, mulai dari kesadaran, bernapas, bergerak,
melihat, mendengar, mencium bau, dan banyak lagi fungsinya. Jika otak terganggu,
maka sebagian atau seluruh fungsi tersebut akan terganggu. Gangguan utama yang
paling sering terlihat adalah fungsi kesadaran. Itulah sebabnya, trauma kepala sering
diklasifikasikan berdasarkan derajat kesadaran, yaitu trauma kepala ringan, sedang,
dan berat. Makin rendah kesadaran seseorang makin berat derajat trauma kepala.
Trauma kedua yang paling sering terjadi dalam sebuah kecelakaan adalah
fraktur (patah tulang). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur
dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang itu menembus kulit sehingga
berhubungan dengan udara luar, dan fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak
berhubungan dengan dunia luar.
Secara umum, fraktur terbuka bisa diketahui dengan melihat adanya tulang
yang menusuk kulit dari dalam, biasanya disertai perdarahan. Adapun fraktur tertutup,
bisa diketahui dengan melihat bagian yang dicurigai mengalami pembengkakan,
terdapat kelainan bentuk berupa sudut yang bisa mengarah ke samping, depan, atau
belakang. Selain itu, ditemukan nyeri gerak, nyeri tekan dan perpendekan tulang. 1
Dalam kenyataan sehari-hari, fraktur yang sering terjadi adalah fraktur
ekstremitas dan fraktur vertebra. Fraktur ekstremitas mencakup fraktur pada tulang
lengan atas, lengan bawah, tangan, tungkai atas, tungkai bawah, dan kaki. Dari semua
jenis fraktur, fraktur tungkai atas atau lazimnya disebut fraktur femur (tulang paha)
memiliki insiden yang cukup tinggi.
Trauma yang ketiga, yang sering terjadi pada kecelakaan adalah trauma dada
atau toraks. Tercatat, seperempat kematian akibat trauma disebabkan oleh trauma
toraks.
Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yaitu
paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung sebagai alat
pemompa darah. Jika terjadi benturan alias trauma pada dada, kedua organ tersebut
bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan.
Gangguan yang biasa terjadi pada paru-paru pasca kecelakaan adalah fraktur
iga, kontusio (memar) paru, dan hematotoraks. Fraktur iga merupakan cedera toraks
49
yang terbanyak. Fraktur iga tidak termasuk ke dalam fraktur yang dijelaskan
sebelumnya karena efek dari fraktur ini lebih kompleks daripada fraktur di daerah lain
yaitu bisa mengganggu paru-paru dan jantung. Kontusio paru adalah memar atau
peradangan pada paru, sedangkan hematotoraks adalah terdapatnya darah di dalam
selaput paru.

1. Cedera Kepala
Definisi dan Epidemiologi
Cedera kepala adalah kekerasan pada kepala yang dapat menyebabkan kerusakan
yang kompleks di kulit kepala, tulang tempurung kepala, selaput otak, dan jaringan
otak itu sendiri.2 Menurut Brain Injury Assosiation of America cedera kepala adalah
suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi
disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan
fungsi fisik.
Di Amerika Serikat, kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan
mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah tersebut, 10% meninggal sebelum tiba di rumah
sakit. Jika sampai di rumah sakit, 80% dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan
(CKR), 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS), dan 10% sisanya adalah cedera
kepala berat (CKB). Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia
produktif antara 15-44 tahun. Kecelekaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53%
dari insiden cedera kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya
disebabkan tindak kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi.

Klasifikasi
Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Secara praktis dikenal 3
deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan mekanisme, berat dan morfologi.
Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi atas:
1. Cedera kepala tumpul
Biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas, jatuh atau pukulan benda
tumpul. Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan deselerasi yang cepat menyebabkan
otak bergerak di dalam rongga cranial dan melakukan kontak pada protuberans tulang
tengkorak.
2. Cedera tembus
50
Biasanya disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan.
Berdasarkan morfologinya cedera kepala dikelompokkan menjadi:
1. Fraktur tengkorak
Fraktur tengkorak dapat terjadi pada atap dan dasar tengkorak. Fraktur dapat
berupa garis/linear, multipel dan menyebar dari satu titik (stelata) dan membentuk
fragmen-fragmen tulang (kominutif). Fraktur tengkorak dapat berupa fraktur tertutup
yang secara normal tidak memerlukan perlakuan spesifik dan fraktur tertutup yang
memerlukan perlakuan untuk memperbaiki tulang tengkorak.
Fraktur basis tengkorak tidak selalu dapat dideteksi oleh foto rontgen, karena
terjadi sangat dasar. Tanda-tanda klinik yang dapat membantu mendiagnosa adalah
Battle sign (warna biru/ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid), ekimosis
daerah kedua periorbital (racoon eyes), Rhinorrhoe (liquor keluar dari hidung),
Otorrhoe ( liquor keluar dari telinga) , paresis nervus facialis dan kehilangan
pendengaran. pemulihan peresis nervus facialis lebih baik daripada paresis nervus
VIII. Fraktur dasar tengkorak yang menyilang kanalis karotikus dapat merusak arteri
carotis.

2. Lesi intrakranial
a. Dapat berbentuk lesi fokal
i. Perdarahan epidural
Disebabkan oleh robeknya arteri meningea media akibat fraktur tengkorak.
Perdarahan epidural 0,5% dari cedera otak. Dari CT scan didapatkan
gambaran bikonveks atau menyerupai lensa cembung.
ii. Perdarahan subdural
Disebabkan robeknya vena-vena kecil di permukaan korteks cerebri.
Perdarahan ini biasanyanya menutup seluruh permukaan hemisfer otak.
Prognosis perdarahan subdural lebih buruk daripada perdarahan epidural.
iii. Kontusio dan peradarahan intraserebral
Kontusio serebri sering terjadi (20-30% dari cedera kepala berat). Area
tersering adalah frontal dan temporal. Dalam beberapa jam atau hari
kontusio dapat berubah menjadi perdarahan intraserebral yang
membutuhkan operasi.

51
b. lesi difus
cedera otak difus yang erat biasanya diakibatkan hipoksia, iskemia dari otak akibat
syok yang berkepanjangan atau periode apneu yang terjadi segera setelah trauma.
Hasil CT scan dapat menunjukkan hasil yang normal, edema otak dengan dengan
batas area putih dan abu abu yang kabur. Pada beberapa kasus yang jarang ditemukan
bercak bercak perdarahan diseluruh hemisfer otak yang dikenal dengan cedera akson
difus yang memberikan prognosis yang buruk.
Secara umum untuk mendeskripsikan beratnya penderita cedera kepala
digunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini dilakukan terhadap respon
motorik (1-6), respon verbal (1-5) dan buka mata (1-4), dengan interval GCS 3-15.
Sedangkan pada anak yang tidak dapat bicara deskripsi beratnya penderita cedera
kepala digunakan Children Coma Scale (CCS). Dalam penilaian GCS jika terdapat
asimetri ekstremitas, maka yang digunakan adalah respon motorik yang terbaik.

52
2. Trauma Toraks
Trauma adalah penyebab kematian terbanyak diseluruh kota besar didunia dan
diperkirakan 16.000 kasus kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh
trauma toraks. Insiden penderita trauma toraks di Amerika Serikat diperkirakan 12
penderita per seribu populasi per hari dan menyebabkan kematian sebesar 20-25% .
Canadian Study dalam laporan penelitiannya selama 5 tahun pada "Urban Trauma
Unit" menyatakan bahwa insiden trauma tumpul toraks sebanyak 96.3% dari seluruh
trauma toraks, sedangkan sisanya sebanyak 3,7% adalah trauma tajam. Penyebab
terbanyak dari trauma tumpul toraks masih didominasi oleh korban kecelakaan lalu
lintas (70%).

Trauma toraks harus ditangani secepatnya karena dapat menyebabkan hipoksia


otak dan jantung yang berakibat fatal. Banyak penderita meninggal setelah sampai di
rumah sakit, dan banyak diantara kematian ini dapat dicegah.6 Hanya 10-15%
penderita trauma tumpul toraks yang memerlukan tindakan operasi, jadi sebagian
besar hanya memerlukan tindakan sederhana untuk menolong korban dari ancaman
kematian. Kematian sering disebabkan oleh obstruksi jalan nafas, flail chest,
pneumotoraks terbuka, hemotoraks massif, tension pnemothorax dan tamponade
jantung.

PATOFISIOLOGI
Trauma thoraks terdiri atas trauma tajam dan trauma tumpul. Pada trauma tajam,
terdapat luka pada jaringan kutis dan subkutis, mungkin lebih mencapai jaringan otot
ataupun lebih dalam lagi hingga melukai pleura parietalis atau perikardium parietalis.
Dapat juga menembus lebih dalam lagi, sehingga merusak jaringan paru, menembus
dinding jantung atau pembuluh darah besar di mediastinum.

Trauma tajam yang menembus pleura parietalis akan menyebabkan kolaps


paru, akibat masuknya udara atmosfer luar kedalam rongga paru. Bila pleura viseralis
pun tertembus, kemungkinan trauma tajam terhadap jaringan paru sangat besar,
sehingga selain terjadi penurunan ventilasi akibat hubungan pendek bronkho udara
luar melalui luka tajam, mungkin terjadi pula Hemoptoe massif dengan akibat
akibatnya.

53
Trauma tajam yang melukai perikardium parietalis dapat menimbulkan
tamponade jantung dengan tertimbunya darah dalam rongga pericardium, yang akan
mampu meredam aktivitas Diastolik jantung. Eksanguinasi akibat tembusnya dinding
jantung atau pembuluh darah besar di mediasternum, mampu menimbulkan henti
jantung dalam waktu 2 5 menit, tergantung derajat perdarahannya.

Satu jenis lain dari trauma tajam, yaitu trauma tertembus peluru. Fatalitas
akibat trauma peluru ini lebih besar dari jenis trauma dari pleura, berakibat luka
tembus keluar yang relatif lebih besar dari luka tembus masuk.

Trauma tumpul toraks, bila kekuatan trauma tajam lainnya, karena faktor
kerusakan jaringan yang lebih besar akibat rotasi berkecepatan tinggi tidak cukup
besar, hanya akan menimbulkan desakan terhadap kerangka dada, yang karena
kelenturannya akan mengambil bentuk semula bila desakan hilang. Trauma tumpul
demikian, secara tampak dari luar mungkin tidak memberi gambaran kelainan fisik,
namun mampu menimbulkan kontusi terhadap otot kerangka dada, yang dapat
menyebabkan perdarahan in situ dan pembentukan hematoma inter atau intra otot,
yang kadang kala cukup luas, sehingga berakibat nyeri pada respirasi dan pasien
tampak seperti mengalami dispnea.

Trauma tumpul dengan kekuatan cukup besar, mampu menimbulkan patah


tulang iga, mungkin hanya satu iga, dapat pula beberapa iga sekaligus, dapat hanya
satu lokasi fraktur pada setiap iga, dapat pula terjadi patahan multiple, mungkin hanya
melibatkan iga sisi unilateral, mungkin pula berakibat bilateral.

Trauma tumpul jarang menimbulkan kerusakan jaringan jantung, kecuali bila


terjadi trauma dengan kekuatan cukup besar dari arah depan, misalnya : akibat
dorongan kemudi atau setir mobil yang mendesak dada akibat penghentian mendadak
mobil berkecepatan sangat tinggi yang menabrak kendaraan atau bangunan
didepannya. Desakan setir mobil tersebut mampu menimbulkan tamponade jantung,
akibat perdarahan rongga pericardium ataupun hematoma dinding jantung yang akan
meredam gerakan sistolik dan diastolik.

Meskipun secara morfologis hanya di dapat fraktur sederhana dan tertutup dari
iga dalam kedudukan baik, namun mampu menimbulkan hematotoraks atau

54
pneumotoraks, bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadi Tension Pneumotorax,
karena terjadi keadaan dimana alveoli terbuka, pleura viseralis dengan luka yang
berfungsi Pentil dan luka pleura parietalis yang menutup akibat desakan udara yang
makin meningkat di rongga pleura. Tension pneumotoraks selanjutnya akan mendesak
paru unilateral, sehingga terjadi penurunan ventilasi antara 15 20 %. Bila desakan
berlanjut, terjadi penggeseran mediastinum kearah kontralateral dan selanjutnya
bahkan akan mendesak paru kontralateral yang berakibat sangat menurunnya
kapasitas ventilasi.

Hemotoraks maupun hemopneumotoraks adalah merupakan keadaan yang


paling sering dijumpai pada penderita trauma toraks, pada lebih dari 80% penderita
dengan trauma toraks didapati adanya darah pada rongga pleura.2 Penyebab utama
dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah interkostal
atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh trauma tajam atau trauma tumpul.
Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya
hemotoraks. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi
operasi.

Hemotoraks akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks,
sebaiknya diterapi dengan selang dada kaliber besar. Selang dada tersebut akan
mengeluarkan darah dari rongga pleura, mengurangi resiko terbentuknya bekuan
darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai dalam memonitor kehilangan darah
selanjutnya. Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari selang
dada sebanyak 1.500 ml, atau bila darah yang keluar lebih dari 200 ml tiap jam untuk
2 sampai 4 jam, atau jika membutuhkan transfusi darah terus menerus, torakotomi
harus dipertimbangkan.

3. Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. Terjadinya fraktur akibat adanya trauma yang mengenai tulang yang
kekuatannya melebihi kekuatan tulang.

55
ABCDE DALAM TRAUMA

Pengelolaan trauma ganda yang berat memerlukan kejelasan dalam menetapkan


prioritas. Tujuannya adalah segera mengenali cedera yang mengancam jiwa dengan
Survey Primer, seperti :
Obstruksi jalan nafas
Cedera dada dengan kesukaran bernafas
Perdarahan berat eksternal dan internal
Cedera abdomen
Jika ditemukan lebih dari satu orang korban maka pengelolaan dilakukan berdasar
prioritas (triage) Hal ini tergantung pada pengalaman penolong dan fasilitas yang ada.

Survei ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure) ini disebut


survei primer yang harus selesai dilakukan dalam 2 - 5 menit. Terapi dikerjakan
serentak jika korban mengalami ancaman jiwa akibat banyak sistim yang cedera :

Airway
Menilai jalan nafas bebas. Jika ada obstruksi maka lakukan :
Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
Suction / hisap (jika alat tersedia)
Guedel airway / nasopharyngeal airway
Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral

Breathing
Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas. Jika
pernafasan tidak memadai maka lakukan :
Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
Pernafasan buatan

Berikan oksigen jika ada


Sirkulasi Menilai sirkulasi / peredaran darah. Sementara itu nilai ulang apakah jalan
nafas bebas dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan :
Hentikan perdarahan eksternal
Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)

56
Berikan infus cairan

Disability
Menilai kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons terhadap nyeri
atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur Glasgow Coma Scale.
AWAKE = A
RESPONS BICARA (verbal) = V
RESPONS NYERI = P
TAK ADA RESPONS = U

Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cedera yang
mungkin ada. Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi
in-line harus dikerjakan.

PENGELOLAAN JALAN NAFAS

Prioritas pertama adalah membebaskan jalan nafas dan mempertahankannya agar


tetap bebas.
1. Bicara kepada pasien
Pasien yang dapat menjawab dengan jelas adalah tanda bahwa jalan nafasnya bebas.
Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan jalan nafas buatan dan bantuan
pernafasan. Penyebab obstruksi pada pasien tidak sadar umumnya adalah jatuhnya
pangkal lidah ke belakang. Jika ada cedera kepala, leher atau dada maka pada waktu
intubasi trakhea tulang leher (cervical spine) harus dilindungi dengan imobilisasi in-
line.
2. Berikan oksigen dengan sungkup muka (masker) atau kantung nafas ( selfinvlating)
3. Menilai jalan nafas
Tanda obstruksi jalan nafas antara lain :
Suara berkumur
Suara nafas abnormal (stridor, dsb)
Pasien gelisah karena hipoksia
Bernafas menggunakan otot nafas tambahan / gerak dada paradoks
Sianosis

57
Waspada adanya benda asing di jalan nafas. Jangan memberikan obat sedativa pada
pasien seperti ini.
4. Menjaga stabilitas tulang leher
5. Pertimbangkan untuk memasang jalan nafas buatan
Indikasi tindakan ini adalah :
Obstruksi jalan nafas yang sukar diatasi
Luka tembus leher dengan hematoma yang membesar
Apnea
Hipoksia
Trauma kepala berat
Trauma dada
Trauma wajah / maxillo-facial

PENGELOLAAN NAFAS (VENTILASI )


Prioritas kedua adalah memberikan ventilasi yang adekuat.
Inspeksi / lihat frekwensi nafas (LOOK)
Adakah hal-hal berikut :
. Sianosis
. Luka tembus dada
. Flail chest
. Sucking wounds
. Gerakan otot nafas tambahan
Palpasi / raba (FEEL)
. Pergeseran letak trakhea
. Patah tulang iga
. Emfisema kulit
. Dengan perkusi mencari hemotoraks dan atau pneumotoraks
Auskultasi / dengar (LISTEN)
. Suara nafas, detak jantung, bising usus
. Suara nafas menurun pada pneumotoraks
. Suara nafas tambahan / abnormal
Tindakan Resusitasi

58
Jika ada distres nafas maka rongga pleura harus dikosongkan dari udara dan darah
dengan memasang drainage toraks segera tanpa menunggu pemeriksaan sinar X. Jika
diperlukan intubasi trakhea tetapi sulit, maka kerjakan krikotiroidotomi. Catatan
Khusus
Jika dimungkinkan, berikan oksigen hingga pasien menjadi stabil
Jika diduga ada tension pneumotoraks, dekompresi harus segera dilakukan dengan
jarum besar yang ditusukkan menembus rongga pleura sisi yang cedera. Lakukan
pada ruang sela iga kedua (ICS 2) di garis yang melalui tengah klavikula. Pertahankan
posisi jarum hingga pemasangan drain toraks selesai.
Jika intubasi trakhea dicoba satu atau dua kali gagal, maka kerjakan
krikotiroidotomi.
Tentu hal ini juga tergantung pada kemampuan tenaga medis yang ada dan
kelengkapan alat.

PENGELOLAAN SIRKULASI

Prioritas ketiga adalah perbaikan sirkulasi agar memadai. Syok adalah keadaan
berkurangnya perfusi organ dan oksigenasi jaringan. Pada pasien trauma keadaan ini
paling sering disebabkan oleh hipovolemia.

Diagnosa syok didasarkan tanda-tanda klinis :


Hipotensi, takhikardia, takhipnea, hipothermi, pucat, ekstremitas dingin, melambatnya
pengisian kapiler (capillary refill) dan penurunan produksi urine. (lihat Appendix-3)
Jenis-jenis syok :
Syok hemoragik (hipovolemik): disebabkan kehilangan akut dari darah atau cairan
tubuh. Jumlah darah yang hilang akibat trauma sulit diukur dengan tepat bahkan pada
trauma tumpul sering diperkirakan terlalu rendah. Ingat bahwa :
Sejumlah besar darah dapat terkumpul dalam rongga perut dan pleura.
Perdarahan patah tulang paha (femur shaft) dapat mencapai 2 (dua) liter.
Perdarahan patah tulang panggul (pelvis) dapat melebihi 2 liter
Syok kardiogenik : disebabkan berkurangnya fungsi jantung, antara lain akibat :
Kontusioo miokard
Tamponade jantung
Pneumotoraks tension

59
Luka tembus jantung
Infark miokard
Penilaian tekanan vena jugularis sangat penting dan sebaiknya ECG dapat direkam.
Syok neurogenik : ditimbulkan oleh hilangnya tonus simpatis akibat cedera sumsum
tulang belakang (spinal cord). Gambaran klasik adalah hipotensi tanpa diserta
takhikardiaa atau vasokonstriksi.

Syok septik : Jarang ditemukan pada fase awal dari trauma, tetapi sering menjadi
penyebab kematian beberapa minggu sesudah trauma (melalui gagal organ ganda).
Paling sering dijumpai pada korban luka tembus abdomen dan luka bakar.

Langkah-langkah resusitasi sirkulasi

Tujuan akhirnya adalah menormalkan kembali oksigenasi jaringan. Karena penyebab


gangguan ini adalah kehilangan darah maka resusitasi cairan merupakan prioritas
1. Jalur intravena yang baik dan lancar harus segera dipasang. Gunakan kanula besar
(14 - 16 G). Dalam keadaan khusus mungkin perlu vena sectie
2. Cairan infus (NaCL 0,9%) harus dihangatkan sampai suhu tubuh karena hipotermia
dapat menyababkan gangguan pembekuan darah.
3. Hindari cairan yang mengandung glukose.
4. Ambil sampel darah secukupnya untuk pemeriksaan dan uji silang golongan darah.

Transfusi harus diberikan jika Hb dibawah 7g / dl jika pasien masih terus berdarah.
Prioritas pertama : hentikan perdarahan
Cedera pada anggota gerak :
Torniket tidak berguna. Disamping itu torniket menyebabkan sindroma reperfusi dan
menambah berat kerusakan primer. Alternatif yang disebut bebat tekan itu sering
disalah mengerti. Perdarahan hebat karena luka tusuk dan luka amputasi dapat
dihentikan dengan pemasangan kasa padat subfascial ditambah tekanan manual pada
arteri disebelah proksimal ditambah bebat kompresif (tekan merata) diseluruh bagian
anggota gerak tersebut.

Cedera dada
Sumber perdarahan dari dinding dada umumnya adalah arteri. Pemasangan chest tube
/ pipa drain harus sedini mungkin. Hal ini jika di tambah dengan penghisapan berkala,

60
ditambah analgesia yang efisien, memungkinkan paru berkembang kembali sekaligus
menyumbat sumber perdarahan. Untuk analgesia digunakan ketamin I.V.

Cedera abdomen
Damage control laparatomy harus segera dilakukan sedini mungkin bila resusitasi
cairan tidak dapat mempertahankan tekanan sistolik antara 80-90 mmHg. Pada waktu
DC laparatomy, dilakukan pemasangan kasa besar untuk menekan dan menyumbat
sumber perdarahan dari organ perut (abdominal packing). Insisi pada garis tengah
hendaknya sudah ditutup kembali dalam waktu 30 menit dengan menggunakan
penjepit (towel clamps). Tindakan resusitasi ini hendaknya dikerjakan dengan
anestesia ketamin oleh dokter yang terlatih (atau mungkin oleh perawat untuk rumah
sakit yang lebih kecil). Jelas bahwa teknik ini harus dipelajari lebih dahulu namun jika
dikerjakan cukup baik pasti akan menyelamatkan nyawa.
Prioritas kedua: Penggantian cairan, penghangatan, analgesia dengan ketamin.

Survei Sekunder hanya dilakukan bila ABC pasien sudah stabil Bila sewaktu survei
sekunder kondisi pasien memburuk maka kita harus kembali mengulangi PRIMARY
SURVEY.
Semua prosedur yang dilakukan harus dicatat dengan baik. Pemeriksaan dari kepala
sampai ke jari kaki (head-to-toe examination) dilakukan dengan perhatian utama :

Pemeriksaan kepala
Kelainan kulit kepala dan bola mata
Telinga bagian luar dan membrana timpani
Cedera jaringan lunak periorbital Pemeriksaan leher
Luka tembus leher
Emfisema subkutan
Deviasi trachea
Vena leher yang mengembang Pemeriksaan neurologis
Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS)
Penilaian fungsi medula spinalis dengan aktivitas motorik
Penilaian rasa raba / sensasi dan refleks Pemeriksaan dada
Clavicula dan semua tulang iga
Suara napas dan jantung
61
Pemantauan ECG (bila tersedia)

Pemeriksaan rongga perut (abdomen)


Luka tembus abdomen memerlukan eksplorasi bedah
Pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul abdomen kecuali bila ada
trauma wajah
Periksa dubur (rectal toucher)
Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus

Pelvis dan ekstremitas


Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan tes gerakan
apapun karena memperberat perdarahan)
Cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma
Cari luka, memar dan cedera lain Pemeriksaan sinar-X (bila memungkinkan)

62
VI. Kerangka Konsep

Laki-laki 30 tahun

Mengalami Bekerja sebagai supir


kecelakaan

Trauma

Trauma Trauma Trauma Trauma


kompresi thorax Abdomen Kepala Ekstremitas
n
Kemungk
Fraktur iga Gesekan Energi
inan Perdarahan
9,10,11 dengan kinetik
perforasi
dekstra lambung benda
tajam
TBV TD
Shock
Udara Asam wave
masuk ke lambung
Inspirasi Bising Kompe- Lecet 2-4 cm
rongga masuk ke
pada saat usus nsasi Menekan
pleura rongga
bernapas tubuh
peritonea os.
Femur
Costae sinistra
patah Mengiritasi Nadi
bergeser (Takikardi)
dengan jar. Fraktur
lunak Nyeri perut os.
Femur
Tension sinistra
Pneumo Nyeri Gerakan Nyeri tekan
thorax dada dinding Fragmen
kanan dada tulang
asimetris Memar
Defans
Sesak Muskular
Merangsang
s. saraf
Perkusi Kompensasi
hiperso- tubuh Nyeri paha
nor kiri

RR
Trauma
Multipel

63
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Laki-laki 30 tahun seorang supir mengalami trauma multipel et causa kecelakaan lalu
lintas yang menimbulkan tension pneumothorax, fraktur os femur sinistra, peritonitis,
fraktur costae 9, 10, 11 dextra, dan syok hipovolemik.

64
DAFTAR PUSTAKA

1. American Chollage of Surgeon Committe on Trauma. 2004. Advance Trauma Life


Support for Doctors.

2. A Pierce dkk. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta: Erlangga.

3. Bresler, Michael Jay, dan George L. Sternbach. 2007. Manual Kedokteran


Darurat. Jakarta: EGC.

4. De Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.2. Jakarta: EGC.

5. Djoko, Widayat dan Djoko Widodo. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi IV. Jakarta:
FKUI

6. Guyton. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

7. Prince, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Volume 1 Edisi 6. Jakarta: EGC

8. Purwadianto, Agusdan Budi Sampurna. 2010. Kedaruratan Medik. Jakarta Barat:


Binarupa Aksara

65