Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Jenis Organisme Parasit.
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah
Management Patient Safety. Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak menemukan
kesulitan maupun hambatan dalam hal materi yang akan dibahas, buku referensi yang akan
digunakan, keterbatasan buku referensi yang ada di perpustakaan, dan keterbatasan waktu
dalam penyusunan makalah ini. Walaupun ditemukan kesulitan maupun hambatan dalam
penyusunan makalah ini, penulis tetap berusaha dan bekerja keras untuk menghadapi
berbagai kesulitan maupun hambatan tersebut, sehingga makalah ini dapat terselesaikan
dengan baik dan maksimal.
Selain mengikuti bimbingan dan arahan penulis juga memperoleh bantuan dan dukungan
dari orang tua penulis di dalam menyusun makalah ini, baik dukungan secara material
maupun non material. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah
mendukung dan membantu, sehingga makalah ini dapat terselesaikan, di antarannya:
1. Yeti Resnayati, S.Kp., M.Kes., selaku Ketua Jurusan Keperawatan.
2. Ulty Desmarnita, S.Kp., Ns., M.Kes., selaku Ketua Prodi D III Keperawatan.
3. Mamah, S.Pd., M.Kes., selaku Penanggung jawab mata kuliah Management Patient
Safety.
4. Dewi Lusiani,S.Kp.,MM., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
bimbingan maupun arahan mengenai materi yang akan di bahas dalam makalah ini
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran serta koreksi yang bersifat membangun
dari para pembaca makalah ini untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Jakarta, September 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2
BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 4
BAB II........................................................................................................................................ 5
TINJAUAN TEORI ................................................................................................................... 5
A. Definisi/Pengertian Parasit.............................................................................................. 5
B. Pengertian dan Ruang Lingkup ....................................................................................... 5
C. Jenis Organisme Parasit .................................................................................................. 5
D. Cara Penularan ................................................................................................................ 9
E. Kerugian Akibat Parasit .................................................................................................. 9
F. Siklus Hidup.................................................................................................................. 11
G. Infestasi parasit ............................................................................................................. 11
H. Standard Precautions ..................................................................................................... 12
I. Langkah-Langkah Patient Safety .................................................................................. 14
J. Sasaran Keselamatan Pasien ......................................................................................... 17
K. Tujuan Patient Safety .................................................................................................... 17
BAB III .................................................................................................................................... 18
PENUTUP................................................................................................................................ 18
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 18
B. Saran ............................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 19

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hampir setiap tindakan medik menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis obat,
jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf Rumah Sakit yang cukup
besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical errors).
Menurut Institute of Medicine (1999), medical error didefinisikan sebagai: The failure of
a planned action to be completed as intended (i.e., error of execusion) or the use of a
wrong plan to achieve an aim (i.e., error of planning). Artinya kesalahan medis
didefinisikan sebagai: suatu Kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk
diselesaikan tidak seperti yang diharapkan (yaitu., kesalahan tindakan) atau perencanaan
yang salah untuk mencapai suatu tujuan (yaitu., kesalahan perencanaan). Kesalahan yang
terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian
Tidak Diharapkan/KTD).
Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) merupakan suatu kejadian akibat melaksanakan
suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
(omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi, karena
keberuntungan (misalnya,pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul
reaksi obat), pencegahan (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf
lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan), dan peringanan (suatu
obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan antidotenya).
Adverse Event atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan suatu kejadian
yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan
(commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan
bukan karena underlying disease atau kondisi pasien.
Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan atau
keterlambatan diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara
pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau
observasi; tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan, pelaksanaan
terapi, metode penggunaan obat, dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan
yang tidak layak; tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik serta

3
monitor dan follow up yang tidak adekuat; atau pada hal teknis yang lain seperti
kegagalan berkomunikasi, kegagalan alat atau system yang lain.
Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan
mencerminkan fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse
event yang ditemukan secara kebetulan saja. Sebagian besar yang lain cenderung tidak
dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput dari perhatian kita semua.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelakan jenis organisme parasit.
2. Menjelaskan siklus hidup organisme parasit.
3. Menjelaskan cara berkembang biak organisme parasit.
4. Menjelaskan cara penularan organisme parasit.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi/Pengertian Parasit
Parasit adalah hewan renik Pengertian dan Macam-macam Parasit yang bisa
menurunkan produktivitas hewan yang ditumpanginya. Parasit bisa menyerang manusia
dan hewan, seperti menyerang kulit manusia. Parasitoid ialah parasit yang memakai
jaringan organisme lainnya untuk keperluan nutrisi mereka hingga inang/hospes yang
ditumpangi meninggal karena kehilangan nutrisi atau jaringan yang dibutuhkan. Hospes
adalah makhluk hidup sebagai tempat hidup parasit.

B. Pengertian dan Ruang Lingkup


Parasitologi berasal dari kata "parasitos" yang artinya organisme yang mengambil
makanan dan "logos" yang artinya ilmu atau telaah. Jadi, Parasitologi adalah ilmu yang
mempelajari organisme-organisme yang hidup sementara atau tetap di dalam atau di
permukaan organisme lain yang dihinggapi untuk mengambil makanan sebagian atau
seluruhnya dari organisme itu.

C. Jenis Organisme Parasit


1. Berdasarkan Akibat Yang Ditimbulkan
Berdasarkan akibat yang ditimbulkan, parasit dapat dibedakan menjadi :
ParasitiASIS adalah jika parasit belum mampu menimbulkan lesi (jejas) atau
tanda klinis pada hospesnya, sedangkan ParasitOSIS adalah jika parasit telah mampu
menimbulkan lesi (jejas) atau gejala klinis pada hospesnya. Contoh : infeksi cacing
Ascaris suum pada babi, hasil pemeriksaan tinja ditemukan telur cacing Ascaris
suum tetapi babi tersebut belum menampakkan gejala klinis, sehingga babi tersebut
menderita Ascariasis. Sedangkan jika babi tersebut telah menampakkan gejala klinis
disebut menderita Ascariosis
Contoh infeksi Protozoa saluran pencernaan (Balantidium sp), hasil
pemeriksaan tinja ditemukan bentuk kista atau tropozoit Balantidium sp, tetapi
hewannya belum menampakkan gejala klinis, sehingga disebut hewan menderita
Balantidiasis dan jika gejala klinisnya sudah nampak disebut Balantidiosis. Contoh
infestasi artropoda kudis kulit (Sarcoptes scabiei penyebab Scabies). Dari hasil
pemeriksaan kerokan kulit ditemukan tungau Sarcoptes sp, jika hewannya belum

5
menampakkan gejala klinis disebut menderita Scabiasis dan jika sudah
menampakkan gejala klinis disebut Scabiosis.

2. Berdasarkan Lama Hidup Berparasit Pada Hospes


Berdasarkan lama hidup perparasit pada hospes, parasit dapat dibedakan menjadi :
a. Parasit yang Selama Hidupnya sebagai Parasit
Contoh : Cacing Trichinella spiralis cacing dewasanya hidup didalam saluran
pencernaan dan larvanya hidup diantara sel-sel daging serat lintang babi.
Protozoa Plasmodium sp, stadium aseksualnya berparasit didalam eritrosit
unggas, sedangkan stadium seksualnya berparasit didalam tubuh nyamuk.
Artopoda (kutu Menopon gallinae), sejak dari telur sampai dewasa hidup dan
melekat pada bulu ayam
b. Parasit yang Belum Dewasa sebagai Parasit dan setelah Dewasa Hidup Bebas
Contoh : artopoda (lalat Chrysomia sp) dimana larva lalat ini umumnya hidup di
sela-sela ceracak kaki sapi sehingga menimbulkan Miasis, sedangkan lalat
dewasanya hidup bebas
c. Parasit yang Dewasa sebagai Parasit dan Sebelum Dewasa Hidup Bebas
Contoh : artropoda nyamuk, (Aedes, Anopheles dan Culex) betina dewasa hidup
sebagai parasit (menghisap darah), sedangkan jentik (belum dewasa) hidup bebas
didalam air.
d. Parasit yang Hampir Seluruh Hidupnya sebagai Parasit.
Contoh : cacing Fasciola gigantica, embrio yang ada didalam telur hidup bebas,
stadium mirasidium, sporokista, redia dan cercaria hidup sebagai parasit pada
siput air tawar (Lymnaea sp), stadium metasercaria hidup bebas dan cacing
dewasanya berparasit didalam hati dan kantung empedu herbivora.

3. Berdasarkan Lama Waktu Berparasitnya


Berdasarkan lama waktu berparasitnya, parasit dapat diebdakan menjadi ;
a. Parasit Temporer (Berkala = Periodik) adalah parasit yang mengunjungi
hospesnya pada waktu waktu tertentu saja.Contoh : Nyamuk, lalat akan
menghisap darah hospesnya pada waktu tertentu saja
b. Parasit Stasioner, adalah parasit yang sebagian atau seluruh hidupnya menetap
pada hospes, apabila menetap selama satu stadium siklus hidupnya disebut Parasit
Stasioner Berkala (Stasioner Periodik) dan apabila selama hidupnya menetap dan
berparasit pada hospes disebut Parasit Stasioner Permanen. Contoh. Parasit

6
Stasioner berkala, lalat Gastrophylus sp, karena stadium larva saja yang
berparasit didalam lambung kuda, sedangkan lalat dewasa hidup bebas. Parasit
Stasioner Permanen, salah satunya kutu (Menopon gallinae) karena selama
hidupnya (telur, larva dan dewasa) hidup pada bulu unggas. Cacing Trichinella
spiralis, baik stadium larva dan dewasanya hidup didalam tubuh hewan.

4. Berdasarkan Sifat Keparasitannya


Berdasarkan sifat keparasitannya, parasit dapat dibedakan menjadi parasit :
a. Parasit Isidentil adalah parasit yang secara kebetulan ditemukan pada hospes
yang tidak seharusnya (hospes yang tidak wajar). Contoh : cacing pita
Dipyllidium caninum adalah saluran pencernaan anjing, tetapi kadang-kadang
bisa ditemukan berparasit didalam usus manusia terutama anak-anak.
Kejadiannya dimana telur cacing pita termakan oleh larva pinjal
(Ctenocephalides sp) yang merupakan hospes antara cacing pita tersebut, pinjal
yang infektif secara tidak sengaja termakan oleh anak-anak sehingga didalam
ususnya terinfeksi cacing pita anjing
b. Parasit Eratica adalah parasit yang lokasi berparasitnya ditemukan tidak pada
target organnya. Contoh : cacing Ascaris suum secara normal berpredileksi
(lokasi berparasitnya) didalam usus halus babi, tetapi karena sesuatu sebab yang
tidak diketahui secara pasti bisa ditemukan didalam kantung empedu atau
lambung babi. Contoh lain cacing Ascaridia galli adalah cacing saluran
pencernaan ayam, tetapi pernah ditemukan didalam telur dan uterus ayam.
c. Parasit Fakultatif adalah parasit yang dapat hidup bebas atau hidup sebagai
parasit. Contoh lalat rumah (Musca domestica) umumnya baik stadium larva
dan dewasa hedup bebas, tetapi jika larvanya hidup didalam luka maka
menyebabkan Miasis (Belatungan)
d. Parasit Obligat adalah parasit yang hidupnya mutlak sebagai parasit, jadi untuk
kelangsungan hidupnya mutlak memerlukan hospes. Contoh ; cacing hati
Fasciola gigantica, Protozoa (Eimeria sp) dan Artropoda (Sarcoptes sp)
kesemuanya mutlak memerlukan hospes, tanpa hospes akan mati.
e. Parasit Spuriosa adalah parasit yang dikeluarkan oleh bukan hospes yang
semestinya, dimana parasit tersebut tidak mengalami perkembangan atau
menimbulkan kerusakan pada hospes tersebut. Contoh pada pemeriksaan tinja
anjing ditemukan telur cacing pita Taenia saginata yang seharusnya berparasit
pada manusia, kemungkinan karena anjing memakan tinja manusia yang

7
mengandung telur cacing pita tersebut. Contoh lain : pada pemeriksaan tinja
ayam ditemukan telur cacing Ascaris suum yang berparasit pada babi,
kemungkinan disebabkan karena ayam memakan bagian tinja babi yang
terkontaminasi telur cacing Ascaris suum.

5. Berdasarkan Jumlah Hospes Yang Diperlukan


Berdasarkan jumlah hospes yang dibutuhkan dalam menyelesaikan siklus
hidupnya, maka parasit dibedakan menjadi :
a. PARASIT MONOXEN adalah parasit yang dalam menyelesaikan siklus
hidupnya hanya membutuhkan satu hospes yaitu hospes definitif saja Contoh :
tungau Sarcoptes membutuhkan hanya satu hospes definitif saja.
b. PARASIT HETEROXEN (heteros = berbeda) sering disebut juga
DIHETEROXEN adalah parasit yang dalam menyelesaikan siklus hidupnya
melalui stadium-stadium yang setiap stadiumnya memerlukan hospes yang
berlainan. Contoh : cacing hati Fasciola gigantica memerlukan siput air tawar
Lymnaea sp pada stadium (mirasidium, sporokista, redia dan serkaria)
sedangkan dewasanya memerlukan mamalia sebagai hospes definitifnya.
c. PARASIT POLIXEN (poly = banyak) adalah parasit yang dalam
menyelesaikan siklus hidupnya memerlukan lebih dari satu hospes, tetapi
kesemuanya dari satu jenis. Contoh : kebanyakan caplak adalah parasit polixen,
karena stadium larva, nimpa dan dewasanya berparasit pada satu atau beberapa
hewan sejenis.

6. Berdasarkan Tempat Berparasitnya


Berdasarkan tempat berparasitnya (predileksinya), parasit dapat dibedakan menjadi:
a. EKTOPARASIT = EKTOZOA adalah parasit yang secara umum hidup pada
permukaan luar tubuh (kulit) hospes atau didalam liang (telinga luar dan rongga
hidung) yang berhubungan bebas dengan dunia luar dan termasuk juga parasit
datang pergi (parasit yang tidak menetap didalam tubuh hospes). Contoh :
artropoda : kutu, pinjal, lalat, nyamuk, caplak dan tungau.
b. ENDOPARASIT = ENDOZOA adalah parasit yang hidup didalam organ dalam,
system (alimentarius, sirkulasi, respirasi), rongga dada, rongga perut,
persendian, otot daging atau jaringan lainnya yang tidak berhubungan langsung
dengan dunia luar. Contoh : cacing saluran pencernaan, cacing jantung,
protozoa saluran cerna dan protozoa darah.

8
D. Cara Penularan
Secara umum parasit dapat ditularkan dengan dua cara, yaitu secara Vertikal dan
Horizontal (1,2):
1. PENULARAN SECARA VERTIKAL adalah penularan yang terjadi melalui induk
kepada anak yang baru dilahirkannya. Penularan dengan cara ini dapat terjadi melalui
: telur, air susu atau plasenta.
2. PENULARAN SECARA HORIZONTAL adalah cara penularan yang umumnya
terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya, atau termasuk juga
yang melalui bahan-bahan tercemar. Berkaitan dengan hal ini, cara penularan tersebut
dapat terjadi melalui :
a. KONTAK LANGSUNG adalah penularan yang terjadi karena adanya kontak
fisik antara dua individu atau lebih. Contoh : penularan kutu, tungau.
b. KONTAK TIDAK LANGSUNG adalah penularan yang terjadi bukan karena
terjadinya kontak fisik antara individu, melainkan karena sarana lain seperti
(bahan yang tercemar oleh parasit atau parasit sendiri yang aktif mencari hospes).

E. Kerugian Akibat Parasit


1. Menghisap darah, cairan getah bening atau eksudat
Contoh : artropoda (lalat dan nyamuk), helminth (cacing Ancylostoma sp) dan
Protozoa darah (Plasmodium sp; Leucocytozoon sp; Trypanosoma sp) menghisap
darah. Artropoda (lalat jenis tertentu), Helmin (cacing Thelazia sp; Syngamus sp),
protozoa (Trichomonas sp) menghisap cairan getah bening atau eksudat
2. Menghisap makanan hospes
Contoh : Helmin (cacing Ascaris sp, Taenia spp), kesemuanya menghisap
makanan hospes
3. Merusak jaringan tubuh
Contoh : cacing Trematoda Fasciola gigantica merusak jaringan hati, Protozoa
(Eimeria sp) merusak epitel usus, Artopoda larva lalat Gastrophylus sp merusak
dinding lambung
4. Menimbulkan gangguan mekanik
Contoh : bentuk peralihan cacing pita echinococus granulosus (kista hidatida)
yang berpredileksi didalam hati, bisa menekan organ hati dan organ lainnya.

9
5. Menimbulkan radang
Contoh : larva dari cacing Ancylostoma sp bisa menembus kulit dan
menimbulkan radang. Gigitan dari Artropoda (lalat, nyamuk, kutu, pinjal, caplak dan
tungau) ke semuanya menimbulkan radang. Protozoa Eimeria sp merusak epitel usus
dan mengakibatkan terjadinya radang.
6. Memudahkan masuknya mikro-organisme
Contoh : artropda (gigitan nyamuk, caplak), helmin (tempat masuknya larva
cacing Ancylostoma sp) menimbulkan kelukaan dan memudahkan masuknya mikro-
organisme sehingga terjadi infeksi sekunder.
7. Menghasilkan berbagai substansi toksik seperti (hemolysin, histilysine, antikoagulan
dan produksi toksik dari metabolismenya)
Contoh : Protozoa (Trypanosoma sp), artropoda (lalat, nyamuk, caplak) dan
Helmin (cacing Ancylostoma sp) menghasilkan substansi seperti tersebut terdahulu
8. Menimbulkan reaksi alergi
Contoh : artropoda (Sarcoptes sp, lalat, nyamuk, kutu dan pinjal), tempat
gigitannya timbul reaksi alergi
9. Dapat menstimulir terjadinya kanker
Contoh : cacing Spirocerca lupi telah terbukti dapat menstimulir (merangsang)
terjadinya kanker saluran pencernaan anjing
10. Membawa beberapa penyakit (Vektor)
Contoh : caplak menularkan Anaplasmosis, lalat menularkan malaria unggas
11. Menimbulkan penyumbatan secara mekanis
Contoh : cacing Ascaris suum jika jumlahnya banyak dapat menyumbat saluran
pencernaan babi.
12. Dapat menghncurkan sel, karena mengadakan pertumbuhan didalamnya
Contoh : protozoa (Eimeria sp, menghancurkan sel epitel saluran cerna,
Plasmodium sp, Leucocytozoon dan Haemoproteus, menghancurkan sel darah merah
unggas)
13. Menurunkan resistensi tubuh hospes terhadap penyakit lainnya.

10
F. Siklus Hidup
Siklus hidup (daur hidup) parasit adalah serangkaian fase (stadium) dari paarsit
untuk kelangsungan hidupnya. Mengenai siklus hidup parasit sangatlah penting, karena
pengendalian penyakit parasit tanpa dilandasi dengan pengetahuan siklus hidup parasit
adalah sia sia (2,3). Siklus hidup parasit secara umum dapat dibedakan menjadi:
1. SIKLUS HIDUP secara LANGSUNG, untuk melangsungan hidup parasit
memerkulan hanya satu hospes (hospes definitif) dan parasit ini biasanya memiliki
fase bebas. Contoh cacing Ascaris suum yang menginfeksi babi, cacing dewasa
bertelur dan keluar bersama tinja dan mencemari lingkungan, telur mengalami
perkembangan dimana di dalam telur terbentuk larva stadium 1 dan 2 yang bersifat
infektif dan akhirnya tertelan lagi oleh babi dan berkembang menjadi dewasa. Disini
hanya memerluka satu hospes babi dan perkembangan telur terjadi diluar tubuh babi
(fase bebas).

2. SIKLUS HIDUP secara TIDAK LANGSUNG, untuk kelangsungan hidup parasit


membutuhkan satu hospes definitive dan satu atau lebih hospes intermedier. Contoh
cacing hati Fasciola gigantica yang menginfeksi sapi, cacing dewasa yang
berpredileksi didalam kantung empedu bertelur dan keluar bersama tinja dan
mencemari lingkungan, dari dalam telur akan keluar mirasidium yang harus
membutuhkan hospes intermedier siput Lymnaea sp untuk berkembang menjadi
sporokista, redia dan serkaria, serkaria akan keluar dari tubuh siput dan menempel
pada rumput menjadi Metaserkaria infektif dan akhirnya harus tertelan oleh sapi.

G. Infestasi parasit
1. Infestasi Cacing
a. Filariasis
Filariasis adalah penyakit di daerah tropis dan subtropis yang disebabkan oleh
infestasi cacing Wuchereria bancrofti atau Brugia malayi pada saluran limfe,
ditularkan melalui gigitan nyamuk. Dalam tahap lanjut infestasi cacing menyebab
cacat menetap berupa pembesaran tungkai, lengan, dan alat kelamin (elephantiasis;
penyakit kaki gajah).

11
b. Ascariasis (penyakit cacing gelang)
Ascariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi cacing gelang
Ascaris lumbricoides pada usus manusia, ditularkan melalui ingesti telur cacing
yang ada pada sayuran mentah atau buah.

c. Ancylostomiasis (penyakit cacing tambang)


Ancylostomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi cacing
Ancylostoma duodenale pada usus manusia, mengisap darah dan mengakibat
anemia berat. Penularan terjadi melalui larva yang menembus telapak kaki
telanjang.

d. Schistosomiasis (bilharziasis)
Schistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi cacing
Schistosoma japonicum pada berbagai organ dalam tubuh, ditularkan melalui air
yang terkontaminasi larva yang berasal dari tempat hidup semula pada keong air
tawar.

H. Standard Precautions
Standard Precautions digunakan untuk semua pasien tanpa memandang status ekonomi,
sosial atau penyakit.
1. Cuci Tangan
a. Cuci tangan
Setelah menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi danbarang-barang
terkontaminasi, meskipun menggunakan sarung tangan. Cuci tangan segera
setelah melepas sarung tangan, diantara kontak dengan satu pasien dan yang
berikutnya, dan kapan saja bila diperlukan untuk mencegah perpindahan
mikroorganisme ke pasien lain atau ke lingkungan. kadang- kadang diperlukan
mencuci tangan diantara dua tugas atau prosedur yang berbeda pada pasien yang
sama untuk mencegah kontaminasi silang pada bagian tubuh yang lain
b. Gunakan sabun cuci tangan
Gunakan zat antimikroba atau zat antiseptik tanpa air untuk keadaan yang
khusus ( KLB atau infeksi hiperendemis).

12
2. Sarung Tangan
a. Pakai sarung tangan ( bersih dan tidak perlu steril) jika menyentuh darah,cairan
tubuh, sekresi, ekskresi dan barang-barang yang terkontaminasi.
b. Pakai sarung tangan tepat sebelum menyentuh lapisan mukosa dari kulit yang
luka.
c. Ganti sarung tangan diantara dua tugas dan prosedur berbeda pada pasien yang
sama setelah menyentuh bagian yang kemungkinan mengandung banyak
mikroorganisme .
d. Lepas sarung tangan tepat saat selesai suatu tugas, sebelum menyentuh barang
dan permukaan lingkungan yang tidak terkontaminasi dan sebelum berpindah ke
pasien lain. serta segera cuci tangan untuk mencegah perpindahan
mikroorganisme ke pasien lain atau lingkungan.

3. Masker
Gunakan masker dan pelindung mata atau wajah untuk melindungi lapisan
mukosa pada mata, hidung dan mulut saat melakukan prosedur atau aktifitas
perawatan pasien yang memungkinkan adanya cipratan darah atau cairan tubuh
lainnya.

4. Gaun / Apron
Gunakan gaun ( bersih dan tidak perlu steril) untuk melindungi kulit dan untuk
mencegah ternodanya pakaian saat melakukan prosedur dan aktifitas perawatan
pasien yang memungkinkan adanya cipratan darah. Lepas gaun kotor segera dan
cuci tangan untuk mencegah perpindahan mikroorganisme ke pasien lain atau
lingkungan.

5. Peralatan Perawatan Pasien


Peralatan perawatan pasien yang terkontaminasi darah, cairan tubuh, sekresi
dan ekskresi hendaknya diperlakukan sedemikian rupa sehingga tidak bersentuhan
dengan kulit dan lapisan mukosa, tidak mengotori pakaian dan tidak memindahkan
mikroorganisme ke pasien lain dan lingkungan. Pastikan bahwa peralatan yang dapat
dipakai ulang tidak dipakai lagi untuk pasien lain sebelum dibersihkan dan diproses
selayaknya.

13
6. Pengendalian Lingkungan
Rumah sakit harus memiliki prosedur yang memadai untuk perawatan rutin,
pembersihan dan desinfeksi permukaan lingkungan, tempat tidur,tiang-tiang tempat
tidur,peralatan samping tempat tidur dan permukaan lain yang sering disentuh serta
pastikan prosedur ini dilaksanakan.

7. Linen
Tangani,transportasikan dan proseslah linen yang terkontaminasi dengan
darah, cairan tubuh, sekresi dan ekskresi dengan baik sehingga tidak bersentuhan
dengan kulit dan lapisan mukosa, tidak mengotori pakaian dan tidak memindahkan
mikroorganisme ke pasien lain dan lingkungan.

8. Keselamatan kerja karyawan dan penularan penyakit melalui darah


a. Jangan sampai terluka saat memakai jarum,skapel dan instrumen atau peralatan
lain yang tajam; saat menangani peralatan tajam setelah selesai suatu prosedur;
saat membersihkan instrumen kotor dan saat membuang jarum bekas. Jangan
memasang kembali tutup jarum atau berbuat apapun terhadap jarum itu dengan
menggunakan kedua tangan atau menggunakan tehnik apapun yang mengarahkan
mata jarum ke arah bagian tubuh manapun tetapi gunakanlah tehnik satu tangan
atau peralatan khusus untuk memegang jarum. Jangan melepas jarum bekas dari
spuitnya dengan tangan dan jangan menekuk, mematahkan atau memanipulasi
jarum bekas dengan tangan. Letakkan benda-benda tajam sekali pakai seperti
jarum dan spuit bekas, mata skapel bekas dan peralatan tajam lainnya dalam
wadah yang tahan tusukan yang diletakkan sedekat mungkin dan sepraktis
mungkin di lokasi penggunaan peralatan.
b. Peralatan yang dapat menggantikan pernafasan dari mulut ke mulut seperti
mouthpiece, kantong resusitasi dan peralatan ventilasi lainnya hendaknya
diletakkan di tempat yang sering dibutuhkan.

I. Langkah-Langkah Patient Safety


Pelaksanaan patient safety meliputi:
1. Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS yaitu (Daud, 2007):
a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication
names).

14
b. Nama obat yang mirip dan membingungkan merupakan salah satu penyebab
terjadinya kesalahan obat. Rekomendasinya adalah memperbaiki penulisan resep
dengan cara memperbaiki tulisan tangan atau membuat resep elektronik. Obat yang
ditulis adalah nama dagang dan nama generik, dosis, kekuatan, petunjuk
pemakaian, dan indikasinya untuk membedakan nama obat yang terdengar atau
terlihat mirip.
c. Pastikan identifikasi pasien.
d. Cek ulang secara detail identifikasi pasien untuk memastikan pasien yang benar
sebelum dilakukan tindakan. Libatkan pasien dalam proses identifikasi. Pada
pasien koma, kembangkan Standar Prosedur Operasional (SPO) pendekatan non-
verbal biometrik.
e. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien.
f. Alokasi waktu yang cukup pada patugas untuk bertanya dan memberi respon.
Repeat back dan read back yaitu penerima informasi membacakan ulang informasi
yang telah ditulisnya untuk memastikan bahwa informasi telah diterima secara
benar.
g. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar.
h. Verifikasi pada tahap pre-prosedur untuk pasien yang dimaksud, prosedur, sisi dan
jika ada implant atau protesis. Tugas petugas dalam memberikan tanda agar tidak
terjadi salah persepsi serta harus melibatkan pasien. Melakukan time out pada
semua petugas sebelum memulai prosedur.
i. Kendalikan cairan elektrolit pekat.
j. Memonitor, meresepkan, menyiapkan, mendistribusi, memverifikasi, dan
memberikan cairan pekat seperti Potasium Chloride (KCL) sesuai rencana agar
tidak terjadi KTD. Standarisasi dosis, unit pengukuran, dan terminology
merupakan hal yang penting dalam penggunaan cairan pekat. Hindari pencampuran
antar cairan pekat.
k. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan.
l. Kesalahan yang sering timbul adalah saat peresepan dan pemberian obat.
Rekonsiliasi obat adalah salah suatu proses yang dirancang untuk mencegah
kesalahan pemberian obat saat pengalihan pasien.
m. Hindari salah kateter dan salah sambung slang.
n. Solusi terbaik adalah mendesain alat yang mencegah salah sambung dan tepat
digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik.

15
o. Gunakan alat injeksi sekali pakai.
p. Salah satu kekhawatiran adalah tersebarnya virus HIV, virus hepatitis B, virus
hepatitis C akibat penggunaan jarum suntik yang berulang. Kembangkan program
pelatihan untuk petugas kesehatan mengenai prinsip pengendalian infeksi,
penyuntikan yang aman, dan manajemen limbah benda tajam.
q. Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.
r. Bukti nyata bahwa kebersihan tangan dapat menurunkan insiden infeksi
nosokomial. Kebijakan yang mendukung adalah tersedianya air secara terus
menerus dan tersedianya cairan cuci tangan yang mengandung alkohol pada titik-
titik pelayanan pasien.

2. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien RS sebagai panduan bagi staf Rumah Sakit
(DepKes RI, 2006):
a. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien, ciptakan kepemimpinan dan
budaya yang terbuka dan adil.
b. Pimpin dan dukung staf RS, bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas
tentang keselamatan pasien di RS.
c. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko, kembangkan sistem dan proses
pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi dan penilaian hal yang potensial
bermasalah.
d. Kembangkan sistem pelaporan, pastikan staf dapat dengan mudah melaporkan
kejadian/insiden, serta RS mengatur pelaporan kepada KKP-RS.
e. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien, kembangkan cara-cara komunikasi
yang terbuka dengan pasien.
f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien, dorong staf untuk
melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian
itu timbul.
g. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien, gunakan informasi
yang ada tentang kejadian/ masalah untuk melakukan perubahan pada sistem
pelayanan.

16
J. Sasaran Keselamatan Pasien
1. Ketepatan identifikasi pasien.
2. Peningkatan komunikasi yang efektif.
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu di waspadai.
4. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi.
5. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan.
6. Pengurangan resiko pasien jatuh.

K. Tujuan Patient Safety


Tujuan Patient safety adalah:
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS.
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat.
3. Menurunnya KTD di RS.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
KTD.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Saat ini isu penting dan global dalam Pelayanan Kesehatan adalah Keselamatan
Pasien (Patient Safety). Isu ini praktis mulai dibicarakan kembali pada tahun 2000-an,
sejak laporan dan Institute of Medicine (IOM) yang menerbitkan laporan: to err is
human, building a safer health system. Keselamatan pasien adalah suatu disiplin baru
dalam pelayanan kesehatan yang mengutamakan pelaporan, analisis, dan pencegahan
medical error yang sering menimbulkan Kejadian Tak Diharapkan (KTD) dalam
pelayanan kesehatan.

B. Saran
Mengingat pelaksanaan penulisan makalah ini baru berjalan sepekan sehingga hasil
yang diperoleh belum maksimal. Oleh karena itu, kami memerlukan saran yang
membangun untuk pembaca makalah ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Astrid Clara. 2014. Pengantar Parasitologi. http://astriidclara.blogspot.co.id/2014/05/


pengantar-parasitologi.html. diakses tanggal 27 September 2016 Pukul 16.54
Om Kicau. 2009. Parasit dan Gangguannya Terhadap Inang (Hospes).
https://omkicau.com/2009/11/06/sekilas-tentang-parasit-dan-gangguannya-terhadap-
inang-hospes/. Diakses tanggal 27 September 2016 Pukul 17.26
Radar Pos. 2009. Pembagian Parasit Di Dunia.
http://arifkusumayuda.blogspot.co.id/2012/05/pembagian-parasit-di-dunia.html. Diakses
tanggal 27 September 2016 Pukul 17.38
Joe Orbitnet. 2011. Resume Parasitologi. http://warnetorbit.blogspot.co.id/2011/07/resume-
parasitologi.html. diakses tanggal 27 September 2016 Pukul 18.56
Ana Nurulf. 2014. Infeksi Mikroba dan Infestasi Parasit.
http://ananurulf29.blogspot.co.id/2014/11/infeksi-mikroba-dan-infestasi-parasit.html.
Diakses tanggal 27 September 2016 Pukul 19.12

19