Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan industri dewasa ini, khususnya dunia industri di negara kita
berjalan sangat pesat seiring dengan meluasnya jenis-jenis produk industri, mulai
dari yang digolongkan sebagai industri hulu sampai dengan industri hilir.
Kompleksitas pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku, yang berproses baik
secara fisika maupun secara kimia, telah memacu manusia untuk selalu
meningkatkan dan memperbaiki unjuk kerja sistem yang mendukung proses
tersebut, agar semakin produktif dan efisien. Salah satu yang menjadi perhatian
utama dalam hal ini ialah penggunaan sistem pengendalian proses industri (sistem
kontrol industri).

Dalam era industri modern, sistem kontrol proses industri biasanya


merujuk pada otomatisasi sistem kontrol yang digunakan. Sistem kontrol industri
dimana peranan manusia masih amat dominan (misalnya dalam merespon
besaran-besaran proses yang diukur oleh sistem kontrol tersebut dengan
serangkaian langkah berupa pengaturan panel dan saklar-saklar yang relevan)
telah banyak digeser dan digantikan oleh sistem kontrol otomatis.

Sebabnya jelas mengacu pada faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi


dan produktivitas industri itu sendiri, misalnya faktor human error dan tingkat
keunggulan yang ditawarkan system kontrol tersebut. Salah satu sistem kontrol
yang amat luas pemakaiannya ialah Programmable Logic Controller (PLC).
Penerapannya meliputi berbagai jenis industri mulai dari industri rokok, otomotif,
petrokimia, kertas, bahkan sampai pada industri tambang, misalnya pada
pengendalian turbin gas dan unit industri lanjutan hasil
pertambangan. Kemudahan transisi dari sistem control sebelumnya (misalnya dari
sistem kontrol berbasis relay mekanis) dan kemudahan trouble-shooting dalam
konfigurasi sistem merupakan dua faktor utama yang mendorong populernya PLC
ini.
Apakah sebenarnya PLC itu? NEMA (The National Electrical
Manufacturers Association) mendefinisikan PLC sebagai piranti elektronika
digital yang menggunakan memori yang bisa diprogram sebagai penyimpan
internal dari sekumpulan instruksi dengan mengimplementasikan fungsi-fungsi
tertentu, seperti logika, sekuensial, pewaktuan, perhitungan, dan aritmetika, untuk
mengendalikan berbagai jenis mesin ataupun proses melalui modul I/O digital dan
atau analog.

1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktikum di bengkel listrik semester IV ini
adalah:
Mahasiswa dapat menerapkan standar aturan kelistrikan dalam
melaksanakan pekerjaan instalasi tenaga sesuai PUIL 2011
Sebagai persyaratan untuk memenuhi atau melengkapi mata kuliah
praktikum bengkel semester IV
Mahasiswa dapat mengetahui mengenai sistem kontrol industri
konvensional dan PLC
Mahasiswa dapat menggunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsi
dan kegunaannya.
Mahasiswa mampu membaca gambar rangkaian serta memahami
prinsip kerja dari sebuah rangkaian kontrol
Mahasiswa mampu memahami apa yang telah didapatkan pada mata
kuliah yang berkaitan dengan praktikum bengkel kali ini
Mahasiwa mampu berfikir kreatif dalam hal perencanaan sebuah
kontrol
Mahasiswa dapat kompak dan bekerja sama dengan teman
kelompoknya
Mampu membuat laporan hasil praktikum sesuai dengan waktu yang
ditentukan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kontrol Industri Berbasis PLC (Programmable Logic Controller)


PLC memiliki dua bagian dasar, yaitu : Input/Output interface system
dan Central Processing Unit.

Gambar 2.1 Programmable Controller block diagram.

2.1.1 Input

Input yang masuk ke dalam CPU berupa signal dari sensor atau
tranducer. Signal sensor ini terdapat dua jenis, yaitu: discrete signal dan
analog signal. Discrete signal berupa saklar biner dimana hanya sebuah ON
atau OFF signal (1 atau 0, Benar atau salah), Contohnya : push button, limit
switch dan level sensor. Sedangkan analog signal menggunakan prinsip
rentang suatu nilai antara nol hingga skala penuh. Contoh nya dalam
kehidupan sehari-hari adalah ketika anda sedang memutar volume speaker
atau radio anda. Rentang nilai dari sensor ini akan diinterpretasikan sebagai
nilai-nilai integer oleh CPU PLC. CPU PLC pada saat ini sering
menggunakan 16 bit processor sehingga nilai integer nya memiliki rentang
-32768 hingga 32767. Contoh dari analog signal ini adalah sensor tekanan,
sensor temperature, dan sensor aliran. Analog signal dapat berupa tegangan
atau arus listrik dan nilai ini akan diproporsionalkan dengan nilai integer
CPU, contohnya: sebuah analog 0 5 V atau 4 20 mA akan dikonversikan
menjadi nilai integer 0 32767.
2.1.2 CPU
Semua aktivitas atau pemprosesan data yang diambil dari sensor (data
input) terjadi pada Central Processing Unit (CPU). CPU ini memiliki tiga
bagian utama, yaitu : Processor, Memory System, dan System Power
Supply.

Gambar 2.2 Bagian Utama CPU

Processor akan memproses signal input secara aritmatik dan logic,


yaitu melakukan operasi logika, sequential, timer, counter dan mengolah
fungsi-fungsi yang diinginkan berdasarkan program yang telah ditentukan.
Selain itu, processor juga mengolah program yang ada di dalam memori,
serta mengatur komunikasi antara input-output, memori dengan processor
itu sendiri.
2.1.3 Output

Hasil pemrosesan data yang diolah pada CPU akan berupa signal
keluaran digital yang dikirim ke modul output untuk menjalankan actuator.
Actuator ini dapat berupa motor listrik, solenoid, heater, led display,
injector, heater, pompa, dan lain-lain. Actuator ini akan berfungsi sesuai
instruksi dari CPU, jika pada CPU telah diprogram timer ON dari lampu
selama dua detik maka lampu pada aktuator akan menyala selama dua
detik dan kemudian setelah dua detik lampu akan OFF.

PLC yang digunakan pada saat praktik bengkel yaitu PLC jenis
OMRON tipe CP1E jumlah modul 20 dengan alamat lokasi:
Input : 000.00 s/d 000.11
Output : 010.00 s/d 010.07

2.2 Kontrol Industri Berbasis Konvensional


Pada industri penggunaan suatu kontrol atau pengendali sistem
sangatlah diperlukan untuk lancarnya proses produksi di industri tersebut.
Penggunaan kontrol sistem ini paling utama yang diperlukan sehingga
membuat kita harus memahami dan lancar dalam merencanakan
rangkaian. Rangkaian kontrol yang umum digunakan pada industri yang
masih menggunakan rangkaian kontrol yang berawal dari rangkaian
konvensional. Adapun jenis rangkaian kontrol yang selalu dirancang
dalamrangkaian konvensional adalah selalu menggunakan peralatan
peralatan yang bersifat listrik. Rangkaian kontrol atau pengendali harus
dipahami mulai dari jenis dan dasar komponen yang digunakan.

2.3 Programmable Logic Controllers ( PLC )


Programmable Logic Controllers (PLC) adalah komputer elektronik
yang mudah digunakan (user friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk
berbagai tipe dan tingkat kesulitan yang beraneka ragam.
Definisi Programmable Logic Controller menurut Capiel (1982) adalah
:sistem elektronik yang beroperasi secara dijital dan didisain untuk
pemakaian di lingkungan industri, dimana sistem ini menggunakan memori
yang dapat diprogram untuk penyimpanan secara internal instruksi-instruksi
yang mengimplementasikan fungsi-fungsi spesifik seperti logika, urutan,
perwaktuan, pencacahan dan operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau
proses melalui modul-modul I/O digital maupun analog.

Berdasarkan namanya konsep PLC adalah sebagai berikut :

1. Programmable, menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk


menyimpan program yang telah dibuat yang dengan mudah diubah-
ubah fungsi atau kegunaannya.
2. Logic, menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara
aritmatik dan logic (ALU), yakni melakukan operasi membandingkan,
menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi, negasi, AND,
OR, dan lain sebagainya.
3. Controller, menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan
mengatur proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan.
PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay
sequensial dalam suatu sistem kontrol. Selain dapat diprogram, alat ini
juga dapat dikendalikan, dan dioperasikan oleh orang yang tidak
memiliki pengetahuan di bidang pengoperasian komputer secara
khusus. PLC ini memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami
dan dapat dioperasikan bila program yang telah dibuat dengan
menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan
sudah dimasukkan.Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada
dan tergantung dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian
akan meng-ON atau meng-OFF kan output-output. 1 menunjukkan
bahwa keadaan yang diharapkan terpenuhi sedangkan 0 berarti
keadaan yang diharapkan tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan
untuk pengendalian sistem yang memiliki output banyak.

Gambar 2.3 Programmable Logic Controllers

2.4 Power Supply


Catu Daya atau sering disebut dengan Power Supply adalah sebuah
piranti yang berguna sebagai sumber listrik untuk piranti lain. Pada dasarnya
Catu Daya bukanlah sebuah alat yang menghasilkan energi listrik saja,
namun ada beberapa Catu Daya yang menghasilkan energi mekanik, dan
energi yang lain. Daya untuk menjalankan peralatan elektronik dapat
diperoleh dari berbagai sumber. Baterai dapat menghasilkan suatu ggl dc
dengan reaksi kimia. Foton dari panas atau cahaya yang berasal dari
matahari dapat diubah menjadi energi listrik dc oleh sel-foto (photocell). Sel
bahan bakar menggabungkan gas hidrogen dan oksigen dalam suatu
elektrolit untuk menghasilkan ggl dc.
Sebuah mesin bahan bakar fosil atau air terjun dapat memutar
generator dc atau generator ac. Power supply atau catu daya adalah sebuah
peralatan penyedia tegangan atau sumber daya untuk peralatan elektronika
dengan prinsip mengubah tegangan listrik yang tersedia dari jaringan
distribusi transmisi listrik ke level yang diinginkan sehingga berimplikasi
pada pengubahan daya listrik.
Pada intinya semua Power Supply atau Catu Daya mempunyai fungsi
yang sama yaitu sebagai penyearah dari AC ke DC.

Gambar 2.4 Power Supply

2.5 Kontaktor
Kontaktor adalah jenis saklar yang bekerja secara magnetik yaitu
kontak bekerja apabila kumparan diberi energi. The National Manufacture
Assosiation (NEMA) mendefinisikan kontaktor magnetis sebagai alat yang
digerakan secara magnetis untuk menyambung dan membuka rangkaian
daya listrik. Tidak seperti relay, kontaktor dirancang untuk menyambung
dan membuka rangkaian daya listrik tanpa merusak. Beban-beban tersebut
meliputi lampu, pemanas, transformator, kapasitor, dan motor listrik.

Gambar 2.5 Kontaktor dan Simbol Pengawatan

2.6 Relay
Relay adalah suatu komponen yang bekerja secara magnetik apabila
diberikan arus. Fungsi dari relay adalah untuk memutuskan dan
menghubungkan rangkaian kontrol.

Gambar 2.6 Relay


Relay terdiri dari dua buah kontak NO dan NC, Adapun jenis relay ada dua,
yaitu :
1. Relay yang bekerja dengan arus searah (DC)
2. Relay yang bekerja dengan arus bolak-balik (AC)
2.7 Kontaktor Timer (Time Delay Relay)
TDR (Time Delay Relay) sering disebut juga relay timer atau relay
penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor terutama
instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis.

Relay penunda waktu merupakan jenis anak kontak pada kontaktor


yang dapat mengubah kerja dari suatu rangkaian secara automatis
berdasarkan pada waktu tertentu. Relay ini dapat memutus dan
menyambungkan kontak NO dan NC berdasarkan jumlah waktu yang sudah
terlewati sejak kontaktor aktif. Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk delay
dapat di atur dengan memutar roda pada bagian atas relay.
Menurut sistem pergerakannya, Relay penunda waktu terbagi menjadi,
yaitu:
Relay penunda waktu yang bekerja akibat adanya medan magnetik.
Relay ini bekerja apabila coilnya di aliri dengan listrik.

Relay penunda waktu yang bekerja karena adanya sistim mekanis


dengan menggnakan pegas. Ketika relay pertama aktif, maka pegas-
pegas akan berada pada kondisi tertarik dimana secara perlahan akan
mengubah posisinya. Ketika telah mencapai waktu tertentu, maka
relay akan aktif untuk posisi yang di tunda.

Relay penunda waktu terbagi menjadi dua, yaitu On Delay dan Off
Delay. On delay, ketika kontaktor aktif, maka on delay akan tetap pada
kondisi awal sampai pada waktu tertentu, on delay akan mengubah posisi
kontaknya. Off delay, ketika kontaktor aktif, maka kondisi kontaknya akan
berubah sampai waktu tertentu, kemudian kondisi kontaknya akan kembali
seperti awal.
Gambar 2.7 Timer On Delay

2.8 MCB (Miniatur Circuit Breaker)


Miniature Circuit Breaker atau yang dikenal dengan MCB pada
dasarnya adalah suatu alat yang bekerja dengan cara semi otomatis yang
dapat digunakan untuk pengaman terhadap beban lebih atau hubung singkat.
Prinsip kerja dari MCB ini adalah jika arus atau tegangan yang
melewati bimetal yaitu campuran dua logam yang berbeda koefisien
muainya terlalu besar, maka MCB pada bimetal tersebut akan menjadi panas
yang selanjutnya akan melengkung memutuskan rangkaian. Jika
temperature dimana bimetal itu belum turun, maka rangkaian akan tetap
terputus atau terbuka, walaupun MCB dinaikkan.
Selain sebagai pengaman MCB juga digunakan sebagai pembagi arus
yang akan menujuk ke banyak beban. Kegunaan lain dari MCB ialah
sebagai pembatas beban pada panel PHB.

Gambar 2.8 Miniatur Circuit Breaker

2.9 Thermal Overload Relay ( TOR )


Fungsi dari Overload relays adalah untuk proteksi motor listrik dari
beban lebih. Seperti halnya sekring (fuse) pengaman beban lebih ada yang
bekerja cepat dan ada yang lambat. Sebab waktu motor start arus dapat
mencapai 6 kali nominal, sehingga apabila digunakan pengaman yang
bekerja cepat, maka pengamannya akan putus setiap motor dijalankan.
Overload relay yang berdasarkan pemutus bimetal akan bekerja sesuai
dengan arus yang mengalir, semakin tinggi kenaikan temperatur yang
menyebabkan terjadinya pembengkokan , maka akan terjadi pemutusan
arus, sehingga motor akan berhenti. Jenis pemutus bimetal ada jenis satu
phasa dan ada jenis tiga phasa, tiap phasa terdiri atas bimetal yang terpisah
tetapi saling terhubung, berguna untuk memutuskan semua phasa apabila
terjadi kelebihan beban. Pemutus bimetal satu phasa biasa digunakan untuk
pengaman beban lebih pada motor berdaya kecil.
Mekanisme kerja Over load relay: apabila resistance wire dilewati
arus lebih besar dari nominalnya, maka bimetal trip, bagian bawah akan
melengkung ke kiri dan membawa slide ke kiri, gesekan ini akan membawa
lengan kontak pada bagian bawah terdorong ke kiri dan kontak NC (95-
96) akan lepas, dan membuat kontak NO (97-98) akan terhubung.

Gambar 2.9 Thermal Overload Relay dan Simbol Pengawatan

2.10 Jenis-Jenis Kabel


Adapun jenis-jenis kabel yang digunakan pada praktek bengkel
semester IV ini antara lain:
2.8.1 Kabel NYAF
Kabel NYAF merupakan jenis kabel fleksibel dengan
penghantar tembaga serabut berisolasi PVC. Digunakan untuk
instalasi panel-panel yang memerlukan fleksibelitas yang tinggi.

Gambar 2.10 Kabel NYAF


2.8.2 Kabel NYM
Kabel NYM memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna
putih atau abu-abu), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM
memiliki lapisan isolasi dua lapis, sehingga tingkat keamanannya
lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal dari NYA). Kabel ini
dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak
boleh ditanam.

Gambar 2.11 Kabel NYM

2.11 Wire Duct ( Saluran Kabel )


Wire duct dalam pemasangannya dimaksudkan untuk menjadi
tempat saluran kawat atau kabel serabut agar hasilnya kelihatan rapi.
Penggunaan wiring channel biasanya ditemukan dalam peralatan kontrol
dikotak panel kontrol.
Gambar 2.12 Wireduct

2.10 Jenis Saklar


2.10.1 Saklar pilih
Saklar ini lebih dikenal dengan nama selektor yang merupakan
jenis saklar putar. Saklar ini sering digunakan dalam rangkaian
pengaturan, misalnya untuk dua posisi pengaturan (pengaturan manual dan
otomatis).
2.10.2 Saklar aliran
Saklar jenis ini digunakan pada job Simulasi Pompa yang biasa
ditempatkan dalam satu saluran air atau pipa. Saklar ini akan bekerja
apabila terkena suatu aliran air pada kontak yang berada di dalamnya.
Saklar jenis ini fungsinya sama dengan berbagai jenis saklar
lainnya. Saklar ini bekerja berdasarkan adanya aliran. Apabila aliran yang
melewati saklar ini baik itu merupakan aliran udara maupun zat cair, maka
akan menyebabkan kontak dari saklar ini akan menutup sehingga system
akan dapat bekerja. Bila aliran pada saklar terhenti, maka secara langsung
serempak kontak dari saklar ini yang tadinya menutup kembali ke posisi
semula (membuka) sehingga system akan terputus.
2.10.3 Saklar pelampung
Saklar ini digunakan pada job Simulasi Pompa. Penggunaan saklar
ini digunakan dalam suatu penampungan air atau bak untuk mengontrol
tinggi rendahnya suatu permukaan air dalam suatu bak atau penampungan.
2.10.4 Limit Switch
Limit switch atau yang biasa disebut dengan saklar pembatas
memiliki actuator pada sisi samping, apabila actuator pada sisi tersebut
tertekan maka secara otomatis akan membuat kontak- kontak pada limit
switch tersebut akan berubah. NO akan menutup sedangkan NC akan
membuka. Limit switch sering dihubungkan dengan perangkat lain seperti
dengan motor.
BAB III
ALAT DAN BAHAN

3.1 Konvensional
3.1.1 Daftar Alat
Tabel 3.1 Daftar Alat Konvensional
Jumla Harga
No. Nama Peralatan Satuan
h
1. Obeng Bunga 1 Buah Rp. 24.000.00,-
2. Obeng Plat 1 Buah Rp. 24.000.00,-
3. Obeng Terminal 1 Buah Rp. 17.000.00,-
4. Tang Pengupas Kabel 1 Buah Rp. 260.000.00,-
5. Testpen 1 Buah Rp. 8.000.00,-
6. Tester 1 Buah Rp. 50.000.00,-
Total Harga Rp. 383.000.00,-

3.1.2 Daftar Bahan


3.1.2.1 Air Blast
Tabel 3.1 Daftar Bahan Air Blast (Konvensional)
No Spesifikasi Jumla Satua Harga
Nama Bahan
. h n
1. Panel Box 60x120x25 cm 1 Buah Rp. 600.000.00,-
2. MCB 3 Fasa 10 A 2 Buah Rp. 160.000.00,-
3. MCB 1 Fasa 6 A 1 Buah Rp. 45.000.00,-
LR1-D09307
4. TOR 2 Buah Rp. 120.000.00,-
1,6 2,5 A
Telemecanique
5. Kontaktor LC1-D173 A65 7 Buah Rp. 875.000.00,-
NO:3 ; NC:1
Telemecanique
Kontak Bantu
7. LC1-D173 A65 4 Buah Rp. 240.000.00,-
Kontaktor
NO:2 ; NC:2
8. Timer On Delay Shneider 3 Buah Rp. 675.000.00,-
9. Selector Switch XBCD29314 C12 1 Buah Rp. 300.000.00,-
10. Push Button NO 4 Buah Rp. 80.000.00,-
11. Push Button NC 3 Buah Rp. 60.000.00,-
12. Lampu Tanda Hijau 3 Buah Rp. 60.000.00,-
13. Lampu Tanda Merah 4 Buah Rp. 80.000.00,-
14. Line Up Terminal Abu- Abu 8mm 4 Buah Rp. 8.000.00,-
15. Line Up Terminal Biru 8mm 1 Buah Rp. 2.000.00,-
16. Line Up Terminal Abu-Abu 4mm 17 Buah Rp. 34.000.00,-
17. Profil G Besi 3 Meter Rp. 30.000.00,-
18. Wire Duct - 2 Meter Rp. 12.500.00,-
19. Kabel NYAF 1.5 mm2 70 Meter Rp. 140.000.00,-
20. Kabel NYY 5 x 2.5 mm2 5 Meter Rp. 50.000.00,-
Total Harga Rp. 3.631.500.00,-

3.1.2.2 Milling
Tabel 3.2 Daftar Bahan Milling (Konvensional)
No Spesifikasi Jumla Harga
Nama Bahan Satuan
. h
1. Panel Box 60x120x25 cm 1 Buah Rp. 600.000.00,-
2. MCB 3 Fasa 10 A 5 Buah Rp. 400.000.00,-
3. MCB 1 Fasa 6 A 1 Buah Rp. 45.000.00,-
LR1-D09307
4. TOR 5 Buah Rp. 300.000.00,-
1,6 S/D 2,5 A
Telemecanique
5. Kontaktor LC1-D173 A65 14 Buah Rp. 1.750.000.00,-
NO:3 ; NC:1
Telemecanique
Kontak Bantu
6. LC1-D173 A65 10 Buah Rp. 700.000.00,-
Kontaktor
NO:2 ; NC:2
Telemecanique
7. Timer On Delay 4 Buah Rp. 900.000.00,-
LA2-D22 A65
8. Selector Switch XBCD29314 C12 1 Buah Rp. 300.000.00,-
9. Push Button NO 6 Buah Rp. 120.000.00,-
10. Push Button NC 5 Buah Rp. 100.000.00,-
11. Lampu Tanda Hijau 7 Buah Rp. 140.000.00,-
12. Lampu Tanda Merah 7 Buah Rp. 140.000.00,-
13. Line Up Terminal Abu- Abu 8mm 4 Buah Rp. 8.000.00,-
14. Line Up Terminal Biru 8mm 1 Buah Rp. 2.000.00,-
15. Line Up Terminal Abu-Abu 4mm 17 Buah Rp. 34.000.00,-
Profil G Besi 3 Meter Rp. 30.000.00,-
Wire Duct - 2 Meter Rp. 12.500.00,-
Kabel NYAF 1.5 mm2 94 Meter Rp. 188.000.00,-
Kabel NYY 5 x 2.5 mm2 5 Meter Rp. 50.000.00,-
Total Harga Rp. 50.000.00,-

3.1.2.3 Tanur
Tabel 3.3 Daftar Bahan Tanur
No Spesifikasi Jumla Satua Harga
Nama Bahan
. h n
1. Panel Box 60x120x25 cm 1 Buah Rp. 600.000.00,-
2. MCB 3 Fasa 10 A 4 Buah Rp. 320.000.00,-
3. MCB 1 Fasa 6 A 1 Buah Rp. 45.000.00,-
LR1-D09307
4. TOR 1 Buah Rp. 60.000.00,-
1,6 S/D 2,5 A
Telemecanique
5. Kontaktor LC1-D173 A65 12 Buah Rp. 1.750.000.00,-
NO:3 ; NC:1
Telemecanique
Kontak Bantu
6. LC1-D173 A65 10 Buah Rp. 840.000.00,-
Kontaktor
NO:2 ; NC:2
Telemecanique
7. Timer On Delay 2 Buah Rp. 450.000.00,-
LA2-D22 A65
8. Selector Switch XBCD29314 C12 1 Buah Rp. 300.000.00,-
9. Push Button NO 3 Buah Rp. 60.000.00,-
10. Push Button NC 3 Buah Rp. 60.000.00,-
11. Lampu Tanda Hijau 1 Buah Rp. 20.000.00,-
12. Lampu Tanda Merah 1 Buah Rp. 20.000.00,-
13. Lampu Tanda Putih 1 Buah Rp. 20.000.00,-
14. Line Up Terminal Abu- Abu 8mm 4 Buah Rp. 8.000.00,-
16. Line Up Terminal Biru 8mm 1 Buah Rp. 2.000.00,-
17. Line Up Terminal Abu-Abu 4mm 17 Buah Rp. 34.000.00,-
18. Profil G Besi 3 Meter Rp. 30.000.00,-
19. Wire Duct - 2 Meter Rp. 12.500.00,-
20. Kabel NYAF 1.5 mm2 48 Meter Rp. 96.000.00,-
Kabel NYY 5 x 2.5 mm2 5 Meter Rp. 50.000.00,-
Total Harga

3.1 PLC
3.1.1 Daftar Alat
Tabel 3.1 Daftar Alat PLC
Jumla Harga
No. Nama Peralatan Satuan
h
1. Obeng Bunga 1 Buah Rp. 24.000.00,-
2. Obeng Plat 1 Buah Rp. 24.000.00,-
3. Obeng Terminal 1 Buah Rp. 17.000.00,-
4. Tang Pengupas Kabel 1 Buah Rp. 260.000.00,-
5. Testpen 1 Buah Rp. 8.000.00,-
6. Tester 1 Buah Rp. 50.000.00,-
7. PC / Laptop 1 Set Rp. 2.000.000,00,-
Total Harga Rp. 2.383.000.00,-
3.1.2 Daftar Bahan
3.1.2.1 Air Blast
Tabel 3.1 Daftar Bahan Air Blast
No Spesifikasi Jumla Satua Harga
Nama Bahan
. h n
1. Panel Box 60x120x25 cm 1 Buah
2. MCB 3 Fasa 10 A 2 Buah
3. MCB 1 Fasa 6 A 1 Buah
LR1-D09307
4. TOR 2 Buah
1,6 2,5 A
Telemecanique
5. Kontaktor LC1-D173 A65 4 Buah
NO:4 ; NC:4
6. Buzzer 220 - 240 V 1 Buah
7. Line Up Terminal Abu- Abu 8mm 4 Buah
8. Line Up Terminal Biru 8mm 1 Buah
9. Line Up Terminal Abu-Abu 4mm 17 Buah
10. Profil C Meter
11. Profil E Meter
12. Profil G Meter
13. Wire Duct 40 x 40 mm 6 Buah
14. Selector Switch XBCD29314 C12 1 Buah
15. Push Button NO 4 Buah
16. Push Button NC 3 Buah
17. Lampu Tanda Hijau 3 Buah
18. Lampu Tanda Merah 4 Buah
380/660 V
19. Fan Motor 2,4 / 1,4 A 1 Buah
1,5 HP, 50 HZ
220/380 V
20. Vibrator Motor 1 Buah
1,1 Kw, 50 HZ
21. Light Barrier L6/LK6-GA 1 Buah
TYPE CR.25
22. Flow Switch MVS.NR:11/88 1 Buah
220 VA.IP.65
23. Kabel NYAF 1.5 mm2 Meter
24. Kabel NYY 5 x 2.5 mm2 5 Meter
25. Kabel NYY 4 x 2.5 mm2 5 Meter
26. Kabel NYY 3 x 2.5 mm2 5 Meter
27. PLC OMRON CP1E 1 Set
Total Harga

3.1.2.2 Milling
Tabel 3.2 Daftar Bahan Milling
No Spesifikasi Jumla Harga
Nama Bahan Satuan
. h
1. Panel Box 60x120x25 cm 1 Buah Rp. 600.000.00,-
BUA
2. MCB 3 PHASA 1O A 1
H
LR1-D09307 BUA
3. OVER LOAD 2
1,6 S/D 2,5 A H
TELEMENIQUE
BUA
4. KONTAKTOR LC1-D173 A65 7
H
NO: 4 NC:4
TELEMENIQUE BUA
5. TIME ON DELAY 4
LA2-D22 A65 H
LINE UP BUA
6. ABU-ABU 8mm 4
TERMINAL H
LINE UP BUA
7. BIRU 8mm 1
TERMINAL H
LINE UP BUA
8. ABU-ABU 4mm 17
TERMINAL H
SELECTOR BUA
9. XBCD29314 C12 1
SWITCH H
BUA
10. Push Putton ZB2-BE 101 12
H
BUA
11. Lampu Indikator Z-BV.6.380V 14
H
12. Profil G Besi 5 Meter
13. Wire Duct 40 x 40 mm 6 Buah
14. Kabel NYAF 1.5 mm2 93.5 Meter
15. Kabel NYY 5 x 2.5 mm2 5 Meter
16. PLC OMRON CP1E 1 Set
Total Harga

3.1.2.3 Tanur
Tabel 3.3 Daftar Bahan Tanur
No
Nama Bahan Spesifikasi Jumlah Satuan Harga
.
1. Panel Box 60x120x25 cm 1 Buah Rp. 600.000.00,-
2. MCB 3 PHASA 10 A 3 BUAH
3. MCB 1 PHASA 6 A 1 BUAH
OVER TH-N12
4. 1 BUAH
LOAD 1.6 S/D 2,5 A
TELEMECANIQU
E
5. KONTAKTOR 5 BUAH
LC1-D173 A65
\NO:4 NC:4
TELEMECANIQU
E
6. KONTAKTOR 4 BUAH
LC1-D173:A65
NO:4 NC:4
7. KONTAKTOR TELEMECANIQU 2 BUAH
E
LC1-D173:A65
NO:4 NC:4
TELEMECANIQU
E
8. KONTAKTOR 3 BUAH
CA2-DN131A65...
NO:4 NC:4
TIME ON
9. SCNEIDER 1 BUAH
DELAY
TIME ON TELEMECANIQU
DELAY E
10. 1 BUAH
LA2-D22 A65
NO:4 NC:4
TELEMECANIQU
KONTAK
E
11. BANTU 8 BUAH
LA1-D22 A65
KONTAKTOR
NO:4 NC:4
KONTAK TELEMECA.
12. BANTU LA1-D1111A65.. 1 BUAH
KONTAKTOR NO:4 NC:4
LINE UP
13. ABU-ABU 8mm 13 BUAH
TERMIN.
LINE UP
14. ABU-ABU 4mm 19 BUAH
TERMIN.
LINE UP
15. BIRU 4mm 1 BUAH
TERMIN.
16. DESKRIPSI SPESIFIKASI JUM. SAT.
TOMBOL XB7-NA.1 3 BUAH
17. TEKAN

TOMBOL XB2-EA1.2 2 BUAH


18.
TEKAN
SAKLAR 756.. BS 3 BUAH
19. TUNGGAL 10A 250V

ZB7-EV0-MP 1 BUAH
(MERAH)
LAMPU ZB7-EV0-MP 1 BUAH
20.
TANDA (PUTIH)
ZB7-EV0-MP 1 BUAH
(HIJAU)
METE
21 KABEL NYAF 1,5 mm2 20
R
22 PLC OMRON CP1E 1 Set
Total Harga
BAB IV
LANGKAH KERJA

4.1 Langkah Kerja Konvensional


1 Mengenakan perlengkapan K3 sebelum melaksanakan job, seperti sepatu
safety dan baju bengkel.
2 Menyiapkan dan mempelajari jobsheet sebagai panduan selama praktek.
3 Mengikuti penjelasan yang telah diberikan oleh pembimbing.
4 Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan selama praktek.
5 Memeriksa semua komponen pada panel, kemudian melengkapi
komponen yang tidak ada.
6 Memberi tanda atau nomor yang sesuai pada peralatan tersebut seperti
yang terdapat pada gambar rangkaian.
7 Merangkai kabel kabel mulai dari fase utama sampai peralatan kontrol.
8 Mengusahakan merangkai sesuai dengan gambar rangkaian dan bekerja
dengan cara sistematis.
9 Merangkai dengan menggunakan kabel yang lentur NYAF, memakai kabel
biru untuk penghantar netral dan memastikannya pada terminal biru.
10 Mengatur kabel dengan rapi serta mengikat dengan menggunakan pengikat
kabel.
11 Mengusahakan pemakaian terminal sesuai dengan gambar rangkaian
khususnya untuk rangkaian simulator.
12 Merangkai dengan rapi untuk lampu indicator pada pintu panel.
13 Merapikan kabel dengan baik agar tak menghalangi pintu panel untuk
membuka dan menutup.
14 Melakukan penyambungan ke sumber untuk pengetesan dan
pengoperasian panel control.
15 Bila rangkaian telah berfungsi dan sesuai dengan prinsip kerjanya, maka
rangkaian tersebut dapat langsung diperlihatkan kepada pembimbing.
16 Melakukan pembongkaran setelah disetujui oleh instruktur atau
pemimbing.
4.2 Langkah Kerja PLC
Sebelum melakukan praktek / mengerjakan job PLC, langkah pertama yang
harus dilakukan adalah mempelajari dan memahami job sheet yang akan
dikerjakan.
1. Memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan,
2. Kemudian mengambil panel yang telah disediakan lengkap dengan PLC.
3. Melakukan pengawatan sesuai dengan gambar yang ada pada job sheet.
4. Membuat ladder diagram PLC melalui program CXONE
Dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Membuka terlebih dahulu Program CX Programmer melalui menu
all program, mengklik File lalu New project sehingga muncul
tampilan berikut,

Gambar 4.1 Tampilan New


Project AIRBLAST di CX-
Programmer
Melengkapi semua dialog sesuai dengan plc yang digunakan.
5. Menggambar ladder diagram sesuai jobsheet:
6. Setelah ladder diagram telah selesai digambar ,selanjutnya
menghubungkan computer ke modul PLC, lalu memilih menu Online pada
menu bar dan pilih connect, setelah berhasil selanjutnya memilih
download program pada menu yang sama, setelah terdownload memilih
PLC MODE pada menu gambar lalu memilih mode RUN.
7. Ketika ingin melakukan perbaikan pada ladder, memilih PLC MODE pada
menu gambar lalu memilih mode STOP. Setelah selesai melakukan
perbaikan, memilih kembali download program pada menu Online, setelah
terdownload memilih PLC MODE pada menu gambar lalu memilih mode
RUN.
8. Setelah semua beroperasi dengan benar, selanjutnya melapor ke instruktur
dalam hal ini dosen pembimbing.
BAB V
GAMBAR RANGKAIAN
AIR BLAST
BAB VI
ANALISA & TROUBLESHOOTING

6.1. Analisa Job

6.1.1. Tanur

Proses kerja dari rangkaian Tanur ini yaitu bekerja secara otomatis
untuk memanaskan material dengan suhu awal sebesar 800C hingga
nantinya dipertahankan sampai 820C di dalam suatu tempat tertentu yang
biasanya disebut tungku pemanas (KILN) dan selanjutnya berakhir pada
suatu tempat yang disebut kontainer atau silo.

Pengoperasian pertama dengan menekan saklar S11 yang akan


menyebabkan konveyor belt yang berfungsi untuk mengankut/membawa
material yang akan dipanaskan bergerak.

Setelah material ini bergerak dan melewati suatu sensor (light


barier), maka selenoid dari valve 1 akan menjadi aktiv, sedangkan dilain
pihak dengan terlewatinya sensor (light-barier) oleh material tadi maka
akan menyebabkan berhentinya konveyor pembawa material tadi. Valve
yang telah aktiv tidak akan menyebabkan pintu pertama dari ruang
pemanas (tungku) menutup dan akan menekan saklar batas (LS1). Dengan
tertekannya LS1 ini maka akan berfungsi untuk mengaktifkan selenoid 2
dan yang seterusnya akan mengaktivkan valve 2 untuk menggerakan pintu
kedua dari ruang pemanas (tanur).

Apabila pintu kedua tadi telah bergerak menutup dan kemudian


menekan saklar batas LS2 maka seketika itu pula proses pemanas pun
sudah dimulai. Proses pemanasan terjadi dalam dua tahap. Pemanasan
pertama terjadi dalam kondisi delta hingga mencapai suhu 800C. Setelah
suhu tersebut tercapai maka pemanasan selanjutnya berlangsung dalam
kondisi hubungan bintang yang akan mempertahankan suhunya hingga
800C.

Kontrol pemanasan dalam ruang tersebut dilakukan dengan


menggunakan Thermostat. Setelah suhu 820C tercapai dan pemanasan
dalam ruang tersebut dilakukan telah berlangsung kira-kira 1-3 menit,
maka proses pemanasan akan selesai.

Bersamaan dengan selesainya proses pemanasan tadi maka pintu


pertama dari ruang pemanas tadi akan membuka yang kemudian diikuti
oleh pintu ke-2. Terbukanya pintu ke-2 dari ruang pemanas ini akan
menekan saklar batas LS3 yang akan mengakibatkan bekerjanya valve 3
yaitu bergeraknya sebuah tuas ke dalam ruang pemanas yang bertujuan
akan menarik material yang telah dipanaskan tadi keluar. Material tadi
akan dijatuhkan kedalam kontainer/silo yang mana bagian atas dari silo ini
telah dipanaskan oleh sensor, sehingga bila material jatuh ke silo akan
memotong sensor yang akan menyebabkan bergeraknya kembali konveyor
pembawa material yang akan dimasukkan kedalam ruang pemanas.
Begitulah proses tersebut tadi berulang lagi secara otomatis. Bila dalam
sistem ini terjadi kondisi darurat, maka sistem ini dapat dihentikan tiba-
tiba dengan menekan saklar Emergency Stop.

6.1.2. Air Blast

Sistem Air Blast adalah merupakan suatu unit proses transportasi


yang sering digunakan di dunia industri. Air Blast juga sering disebut
sebagai mesin pemindah bahan-bahan yang bersifat lunak seperti : biji-
bijian, bahan makanan ternak, serbuk semen, tepung dan lain sebagainya
yang dipindahkan dari suatu tempat (silo) ke tempat yang lain (silo)
lainnya melalui pipa dengan menggunakan tiupan angin yang dihasilkan
oleh Fan Motor.
Deskripsi Kerja:

Posisi Normal :

Didalam menjalankan atau mengontrol operasi ini terlebih dahulu saklar


pilih (Selector switch) dipindahkan ke posisi NORMAL, kemudian
tekanlah tombol normal operation on (S6B). Dengan menekan tombol
normal operation ini, fan motor (M1) akan beroperasi pada hubungan
bintang sampai batas arus nominal hubungan bintang. Pada saat mencapai
arus nominal bintang maka dengan otomatis fan motor akan beroperasi
dengan hubungan sgi tiga yang menghasilkan putaran penuh.

Pada proses ini udara akan melewati sebuah kontrol aliran yang
akan

membuka kunci motor penggetar sehingga motor tersebut akan beroperasi.

Selama ada aliran, motor penggetar (M2) akan selalu beroperasi hingga
light

barrier (S16) menginformasikan material pada silo telah penuh untuk


menampung material yang ditransport. Jika silo telah penuh maka
informasi

yang diterima dari light barrier (S16) menginstruksikan agar motor


penggetar (M2) terhenti dan setelah diperkirakan pipa atau jalur transport
telah kosong maka secara otomatis fan motor (M1) juga terhenti dan
demikian sistem airblast berhenti melakukan proses transportasi.

Sistem yang sedang berjalan dapat juga diberhentikan dengan cara

mengoperasikan tombol tekan NORMAL OFF.

Posisi Perbaikan :
Untuk membersihkan sisa-sisa bahan yang ditransport, terlebih dahulu
selector switch dioperasikan ke posisi MANUAL. Dalam posisi
MANUAL, fan motor (M1) dan motor penggetar (M2) dapat
dioperasikan secara mandiri dalam arti tidak saling tergantung kepada
komponen lainnya. Selain itu, posisi ini dapat difungsikan untuk
melakukan pemeliharaan dan perbaikan pada sistem airblast itu sendiri.

6.1.3. Pump Station

Prinsip kerja instalasi pompa secara umum yaitu bila air berada
dalam level 1 maka kedua pompa tidak bekerja, bila air berada dalam level
2 maka hanya 1 pompa yang bekerja,dimana pompa 1 dan pompa 2 akan
bergantian kerjanya bila level 2 terjadi berulang-ulang,bila air berada
dalam level 3 maka kedua pompa bekerjasama, dan bila air berada pada
level 4 maka kedua pompa bekerjasama dan alarm serta lampu tanda akan
bekerja sebagi isyarat bahwa air berada lebih daripada maksimum Untuk
keseluruhan rangkaian kontrol maupun daya yang dilayani S01.

Motor pompa 1 dan 2 masing-masing dilayani oleh sebuah MCB dan


kontaktor serta TOR sebagai pengamannya. Untuk mengoperasikan
rangkaian kemudian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

a. Secara impuls tangan

b. Secara otomatis

Secara impuls tangan


Untuk posisi impuls tangan ini pengoperasiannya dari pompa
bergantung dari kemauan pemakai yang mengoperasikannya, apakah
pompa 1 atau pompa 2 yang akan dioperasikan. Setelah memindahkan
saklar S01 pada posisi satu selanjutnya memindahkan saklar yang
melayani pompa 1 ke posisi impuls tangan.
Dengan terhubungnya S01 keposisi impuls tangan, maka supplai
tegangan akan langsung terhubung ke D11, yang mana kontak bantu NO-
nya akan menghubungkan supplai tegangan ke kontaktor C21 yang
melayani pompa 1. Ketika kontaktor C21 bekerja maka kontak utamanya
akan segera menghubungkan motor pompa dengan supplai tegangan
(tegangan 1 fasa) yang mengakibatkan motor pompa 1 bekerja. Jika C21
bekerja secara otomatis, anak kontak C21 akan bekerja (menutup)
sehingga G22 (jam meter akan bekerja pula).
Jika setting waktu dari ON Delay D11 akan tidak bekerja, maka
secara otomatis kontak ON Delay D11 akan pindah dan akan memutuskan
supplai tegangan untuk kontaktor C21 sehingga pompa akan berhenti
bekerja. Kontak bantu dari ON Delay D11 tadi akan pindah untuk
menghubungkan anak kontak D12 (relay), sehingga lampu tanda H13 akan
menyala. Kontak bantu NO D12 juga menghubungkan D35 yang mana
jika dihubungkan dengan lampu tanda / alarm keruang kontrol juga akan
bekerja.
Untuk pompa 2, jika saklar S15 dihubungkan keposisi impuls
tangan maka supplai akan terhubung ke D16. Terhubungnya D16 ini maka
kontak bantu NO-nya akan menutup dan menghubungkan supplai
tegangan C23 ynag mana pada kontak utamanya dihubungkan pada motor
pompa 2.
Bila C23 bekerja maka kontak bantu NC (C23) akan terbuka dan
memutuskan rangkaian ke D17 dan anak kontak bantu NO-nya
dihubungkan kealat ukur (G24). Pada saat tidak ada aliran (B15.1 tidak
bekerja) dan waktu setting dari ON Delay habis, maka kontak bantu NO-
nya akan menutup. Jika supplai tegangan ke C23 terputus maka pompa 2
akan berhenti bekerja dan supplai berpindah melayani D17. Saat D17
bekerja kontak bantu NO-nya yang dihubungkan ke lampu tanda H18
menyala. Dimana anak kontak D17 (NO) juga dihubungkan dengan D35
sehingga bila anak kontak D35 dihubungkan dengan lampu / tanda alarm
pada ruang kontrol maka lampu tanda tersebut akan menyala.
Apabila pompa sedang bekerja dan kita ingin mengetahui pompa
mana yang sedang bekerja, maka cukup dengan menekan S32 (test pompa)
saat saklar S32 terhubung maka TRAB (D32) akan bekerja dan kontaknya
akan menghubungkan supplai ke lampu H25 dan H28 yang menandakan
pompa 1, pompa 2 atau keduanya sedang bekerja. Lama menyalanya
lampu H25 atau H28 tergantung setting waktu D32. Sebagai tanda
pengaman beban lebih, jika TOR bekerja mengamankan motor maka
kontak NO dari masing-masing TOR akan menghubungkan D27 dan D30
sehingga lampu tanda H26 dan H29 akan menyala.

Secara otomatis
Untuk pengoperasian secara otomatis, maka S10 dan S15
dipindahkan keposisi otomatis secara bersamaan. Saat ketinggian air
mencapai level 2 maka saklar pelampung (B11) akan bekerja dan
menghubungkan supplai tegangan D14 untuk mengerjakan impuls pertama
(ON) sehingga kontak dari D14 akan menghubungkan / memberikan
supplai pada D15.
Dengan terhubungnya D15 maka kontak-kontak NO-nya akan
menutup sehingga supplai tegangan terhubung ke D16 dan kontak bantu
NO dari D16 akan menghubungkan kontaktor C23 yang mana kontak
utamanya terhubung dengan sumber tegangan satu fasa untuk menjalankan
motor pompa 2. Dan apabila C23 bekerja maka kontak bantunya akan
terhubung ke alat ukur / jam meter (G24). Jika tidak ada aliran air
mencapai level 3, maka saklar pelampung (B16) akan menutup dan
menghubungkan supplai tegangan ke D11. Sedangkan kontak NO dari D11
inilah yang akan berhubungan dengan C21 sehingga pompa 1 bekerja.
Jika tidak ada aliran air dalam selang beberapa waktu berdasarkan
setting waktu ON Delay maka kontak bantu NO dari D16 tertutup
sehingga supplai tegangan ke C23 terputus dan motor 2 berhenti bekerja.
Kontak bantu NC dari kontaktor akan kembali normal dan
menghubungkan D17, saat D17 mendapatkan supplai maka salah satu dari
kontak bantu NO-nya akan dihubungkan ke lampu tanda H18 sehingga
menyala.
Dengan bekerjanya C21 maka salah satu kontak NO-nya akan
menghubungkan supplai ke jam meter (G22). Jika salah satu sudah tidak
ada alirannya pada B10.1 maka kontak ON Delay akan menghubungkan
supplai ke D12 sehingga supplai tegangan ke C21 terputus (pompa satu
berhenti bekerja) dan dengan terhubungnya D12 mengakibatkan kontak
NO-nya terhubung untuk menyalakan lampu H13. Pada level ini kedua
pompa bekerja bersama-sama.
Bila terjadi overload maka C21 atau C23 akan terlepas sehingga
arus yang menuju pompa akan terputus dan menyebabkan pompa berhenti
beroperasi. Kontak NO dari TOR akan dihubungkan ke D27 dan D39
maka kontaknya akan terhubung dengan lampu tanda H26 dan H29.
Disesuaikan dengan pompa mana yang mengalami overload.
Jika ketinggian air berada pada level 4 dimana kedua pompa masih
bekerja secara bersamaan maka B37 akan bekerja dan mengoperasikan
D37, dimana kontak NO dari D37 akan menyalakan lampu tanda H39
yang menandakan bahwa air berada pada tingkat maksimum. Lampu tanda
level ini akan menyala terus walaupun ketinggian air telah turun lewat
level 4. Untuk mematikan lampu tersebut kita harus menekan saklar S38.
Disamping itu untuk mengetahui pompa beroperasi maka kita
cukup dengan menekan S32 (test pompa). Jika ternyata pompa 1 yang
bekerja maka lampu tanda H25 akan menyala, jika pompa 2 yang
beroperasi maka lampu H28 akan menyala. Dan jika keduanya yang
bekerja maka kedua lampu tersebut akan menyala. Selang waktu beberapa
lama berdasarkan setting waktunya pada D32 lampu tanda akan padam.
Jika ketinggian air turun melewati level 3, maka pompa 1 akan
berhenti bekerja dan bila melewati level 2 maka pompa 2 juga akan
berhenti bekerja. Akan tetapi jika air kembali naik ke level 2, maka bukan
pompa 2 lagi yang bekerja melainkan pompa 1, hal ini karena jika level 2
ini terjadi secara terus menerus maka kedua pompa tersebut akan bekerja
secara bergantian. Hal ini disebabkan oleh menutupnya B11, saklar impuls
yang kedua OFF sehingga D15 tidak bekerja. Dengan tidak terhubungnya
D15 maka kontak bantunya tidak berubah. Oleh karena itu, pada saat D11
menutup maka pompa 1 yang berjalan dan pada saat air mencapai level 3
maka pompa 2 juga akan bekerja. Cara kerja inilah yang terjadi secara
terus menerus dari proses pemindahan air dari tangki 1 menuju tangki 2
secara otomatis.

6.1.4. Milling
Pengoperasian Milling terbagi menjadi 2 posisi yaitu posisi normal
dan posisi perbaikan.
Posisi normal :
Prinsip dari posisi normal adalah menjalankan motor secara
berurutan, artinya motor 2 tidak dapat bekerja ketika motor 1 tidak
bekerja.Pada posisi normal arus akan mengalir menuju S17 sebagai tanda
bahwa rangkaian berada pada posisi normal, kemudian kita memulai
rangkaian dengan menekan tombol S19 yang akan menghubungkan arus
menuju K19. K19 aktif maka konveyor belt 1 akan berjalan.

Kemudian kita menekan S21 untuk mengaktifkan motor 2, pada


motor 2 terdapat 3 step dimana masing masing step menggunakan timer
on delay. Ketika S21 ditekan maka arus akan mengalir menuju K22T,
selang waktu tertentu maka anak kontak NO K22T akan bekerja dan
menghubungkan tegangan menuju K23M(Step 1). Setelah K23M aktif
maka anak kontak NO K23M akan bekerja dan mengaktifkan K24T,
selang waktu tertentu maka anak kontak K24T akan bekerja dan
menghubungkan tegangan menuju K25M(Step 2). Setelah K25M aktif
maka anak kontak NO K25M akan aktif dan mengaktifkan K26T, selang
waktu tertentu anak kontak K26T akan aktif dan mengaktifkan
K27M(Step 3).
Kemudian kita menekan S31 untuk mengaktifkan konveyor belt 2.
Sebelumnya K27M wajib aktif agar tegangan K31M(konveyor belt2)
dapat melalui anak kontak NO pada K27M.
Kemudian kita menekan S33 untuk mengaktifkan K33M(Motor 4).
Sebelumnya K31M wajib aktif agar tegangan K33M(Motor 4) dapat
melalui anak kontak NO pada K31M.
Sebelum mengaktifkan motor 5, wajib mengaktifkan
K35(pneumatic) terlebih dahulu dengan menekan tombol S34. Lalu kita
bisa mengaktifkan K36M (Motor 5) dengan menekan tombol S36.

Posisi repair :
Prinsip posisi repair adalah motor dapat dijalankan tanpa terikat
satu sama lain, artinya kita dapat mengaktifkan motor 2 tanpa perlu
mengaktifkan motor 1 terlebih dahulu. Pada posisi repair tegangan akan
mengalir menuju K16T yang akan membunyikan buzzer sebagai tanda
bahwa rangkaian berada pada posisi repair. Lalu kita bisa menekan S19,
S21, S31, S33, S34, S36 sesuai kehendak kita.

6.2 Troubleshooting
6.2.1 Tanur
Ketika melakukan pengecekan rangkaian, K17 tidak mau
mengunci, ini terjadi karena ada beberapa kontaktor yang A2-nya tidak
terhubung dengan netral sumber sehingga mempengaruhi kerja dari K17.

6.2.2