Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sterilisasi dan desinfeksi ruangan rumah sakit merupakan suatu usaha untuk

mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Hal itu mengingat angka kuman di

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar lebih dari l0 kuman/cm2.

Desinfeksi ini dilakukan dengan cara mengepel lantai menggunakan desinfektan

Refisol. Namun sampai saat ini belum diketahui dosis yang paling efektif dalam

menurunkan angka kuman lantai. Tuiuan: mengetahui dosis desidektan Refisol

yang paling efektif dalam menurunkan angka kuman lantai. Metode. Penelitian

eksperimen ini menerapkan rancangon pre-test post-test control group design.

Subjek penelitian adalah empat kamar dengan kondisi sama. Penghitungan angka

kuman awal dilakukan sebelum lantai dipel dengan refisol. Intervensi yang

dilakukan adalah pengepelan lantai dengan 3 variasi dosis refisol, yaitu 30 mL,

40 mL, dan 50 mL. Analisa data dengan Paired Sample Test dan Anawa satu

jalan (Anova). Hasil Pada pengepelan dengan dosis refisol 30 mL angka kuman

menurun sebesar 28,28%, pada dosis 40 mL sebesar 39,81 %, pada dosis 50 mL

mencapai 54,17% (tertinggi). Kesimpulan. Terjadi penurunan jumlah kuman.

Dosis desinfektan Refisol berpengaruh dalam menurunkan angka kuman lantai

Ruang Perawatan.

1
Sterilisasi adalah penghancuran atau pemusnahan terhadap semua

mikroorganisme (Schwartz, 2000). Asepsis adalah prinsip bedah untuk

mempertahankan keadaan bebas kuman. Keadaan asepsis merupakan syarat

mutlak dalam tindakan bedah. Antisepsis adalah cara dan tindakan yang

diperlukan untuk mencapai keadaan bebas kuman patogen (Sjamsuhidajat dan

Jong, 2004). Tujuan tindakan asepsis dalam pembedahan adalah untuk mencegah

masuknya bakteri pada luka pembedahan. Pencapaian tingkat asepsis dimulai

dengan mensterilkan alat-alat, jubah operasi, sarung tangan, benang bedah, dan

kasa pembalut yang kontak dengan luka operasi. Kemudian, lakukan desinfeksi

pada kulit tempat pembedahan dengan menggunakan sediaan antiseptik

(Schwartz, 2000). Pasien-pasien bedah, pada masa : pra-bedah, intra-bedah dan

pasca bedah, harus dilindungi sepenuhnya dari bahaya infeksi. Perawatan yang

memperhatikan prinsip-prinsip asepsis, antisepsis serta lingkungan perawatan

yang baik, mempengaruhi kejadian dan beratnya infeksi (Schrock, 1995).

Sterilisasi merupakan jaminan tingkat tertinggi mengenai peralatan bedah bebas

dari mikroba (Young, 2001). Tindakan aseptik dalam pembedahan merupakan

hal yang mutlak perlu dilaksanakan melalui serangkaian prinsip dan praktek

yang bertujuan untuk menurunkan, atau menghambat proses infeksi (Zoltie,

1991). Maksud dari teknik aseptik adalah melindungi pasien dari lingkungan

sekitarnya dan mengusahakan lingkungan yang bebas dari semua organisme

(Nealon, 1996). Infeksi merupakan komplikasi pasca bedah yang sering terjadi.

2
Manifestasi pertama yang sering timbul adalah kenaikan suhu tubuh. Bila

suhu tubuh pasien naik, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan luka. Adanya

infeksi, tidak selalu terdapat ketegangan pada daerah luka, tetapi yang pasti ada

indurasi. Daerah yang paling sering terkena infeksi adalah jaringan lemak

superfisial dekat fascia, tetapi sepsis dapat terjadi pada setiap jaringan (Nealon,

1996).

Sumber infeksi dapat berasal dari udara, alat dan pembedah, kulit penderita,

visera, dan darah. Mikroba atau bakteri dapat berpindah dari suatu tempat ke

tempat lain melalui perantara. Pembawa kuman ini dapat berupa hewan,

misalnya serangga, manusia, atau benda yang terkontaminasi, seperti peralatan

bedah. Jadi, dalam hal ini alat bedah, personel, dan dokter pembedah merupakan

pembawa potensial untuk memindahkan bakteri (Sjamsuhidajat dan Jong, 2004).

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai penggunaan sarung tangan yang

steril. Di Belanda, hasilnya menunjukkan bahwa dari 126 pasien yang mendapat

prosedur pembedahan dengan tidak memakai sarung tangan steril (hanya

menggunakan sarung tangan bersih), hanya 4 pasien yang mengalami komplikasi

dengan tiga (2,4%) pasien yang merupakan infeksi karena bedah (Bruens, 2008).

Suatu penelitian lain menunjukkan bahwa risiko untuk infeksi luka dalam bedah

dermatologi setelah menggunakan sarung tangan bersih tidak signifikan lebih

besar daripada setelah menggunakan sarung tangan steril, yaitu 1,7%

dibandingkan 1,6% (Rogues, 2007). Penggunaan peralatan yang tidak steril

dapat berakibat buruk, yang paling berbahaya yang dapat mengenai pasien

3
adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan virus Hepatitis B. Penelitian

menggunakan kuisioner, dari 138 responden yang mengembalikan kuisioner,

didapatkan 127 responden menggunakan alat yang disterilkan. 106 (83,5%)

menggunakan metode sterilisasi uap, 35 diantaranya menggunakan mesin uap

dan 71 lainnya sterilisasi uap langsung. Dari 21 (19,8%) responden, 11

menggunakan ad hoc yang langsung dari pemerintah dan 10 responden sisanya

menggunakan sterilisasi dengan metode sederhana yang kurang memuaskan,

seperti : air panas, rebusan air, bahan kimia untuk disinfeksi (Whyte, 1992).

Pengetahuan yang tepat tentang proses yang berbeda atau agen untuk

sterilisasi dan disinfeksi sangat penting (Patwardhan, 2011). Sejauh pengamatan

peneliti, peneliti jarang sekali menemukan penelitian tentang sterilisasi peralatan

bedah minor bahkan peneliti belum menemukan ini dilakukan di Indonesia,

sehingga peneliti tertarik untuk melakukannya, terutama untuk melihat

pengetahuan dari mahasiswa kedokteran USU mengenai masalah ini.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen

Pasien Safety dan untuk menambah pengetahuan kita tentang sterilisasi,

desinfeksi, aseptik, dan antiseptik.

4
2. Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui pengertian dan pengetahuan dan tujuan sterilisasi dan

desinfeksi

2. Untuk mengetahui jenis sterilisasi dan desinfeksi

3. Untuk mengetahui bagaimana cara sterilisasi dan desinfeksi

4. Untuk mengetahui bagaimana syarat sterilisasi dan desinfeksi

5. Untuk mengetahui bagaimana aplikasi sterilisasi sterilisasi dan desinfeksi

di rumah sakit

a. Manfaat penulisan

Penulisan ini bermanfaat bagi perawat untuk mengetahui jenis-jenis cairan

desinfeksi guna melakukan sterilisasi dan menghindari pasien terkena infeksi dari

berbagai macam pathogen atau mikroorganisme berbahaya.

5
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Sterilisasi

Sterilisasi yaitu proses membunuh semua mikroorganisme termasuk spora

bakteri pada benda yang telah didekontaminasi dengan tepat. Tujuan sterilisasi yaitu

untuk memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroorganisme patogen termasuk

spora, yang mungkin telah ada pada peralatan kedokteran dan perawatan yang

dipakai. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode sterilisasi yaitu sifat

bahan yang akan disterilkan.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode sterilisasi:

Sifat bahan yang akan disterilkan

Metode yang paling mudah, murah namun cukup efektif.

Bila terdapat beberapa fasilitas untuk melakukan sterilisasi, haruslah dipilih cara

yang baik

Metode sterilisasi antara lain :

a. Sterilisasi secara fisik

Sterilisasi secara fisik dipakai bila selama sterilisasi dengtan bahan kimia

tidak akan berubah akibat temperatur tinggi atau tekanan tinggi. Cara

membunuh mikroorganisme tersebut adalah dengan panas. Panas kering

membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel. Daya bunuh

6
panas kering tidak sebaik panas basah. Pemanasan basah dapat memakai

otoklaf, tyndalisasi dan pasteurisasi. Otoklaf adalah alat serupa tangki minyak

yang dapat diisi dengan uap air. Tyndalisasi merupakan metode dengan

mendidihkan medium dengan uap beberapa menit saja. Pasteurisasi adalah

suatu cara disinfeksi dengan pemanasan untuk mengurangi jumlah

mikrooranisme tanpa merusak fisik suatu bahan. Pemanasan kering dapat

memakai oven dan pembakaran. Selain itu dapat dilakukan penyinaran dengan

sinar gelombang pendek (Waluyo, 2005).

b. Sterilisasi secara kimia

Sterilisasi secara kimia dapat memakai antiseptik kimia. Pemilihan antiseptik

terutama tergantung pada kebutuhan daripada tujuan tertentu serta efek yang

dikehendaki. Perlu juga diperhatikan bahwa beberapa senyawa bersifat iritatif,

dan kepekaan kulit sangat bervariasi. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk

sterilisasi antara lain halogen (senyawa klorin, yodium), alkohol, fenol,

hidrogen peroksida, zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosalin, deterjen,

logam-logam berat, aldehida, ETO, uap formaldehid ataupun beta-propilakton

(Volk, 1993).

c. Sterilisasi secara mekanik.

Sterilisasi secara mekanik dapat dilakukan dengan penyaringan. Penyaringan

dengan mengalirkan gas atau cairan melalui suatu bahan penyaring.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara:

1. Sterilisasi dengan pemanasan kering

7
a) Pemijaran/flambir

Cara ini dipakai langsung, sederhana, cepat dan dapat menjamin

sterilisasinya, namun penggunaannya terbatas pada beberapa alat saja,

misalnya: benda-benda dari logam (instrument), benda-benda dari

kaca, benda-benda dari porselen.

Caranya yaitu:

1) Siapkan bahan yang disterilkan, baskom besar yang bersih, brand

spritus, korek api.

2) Kemudian brand spritus dituangkan secukupnya ke dalam waskom

tersebut. Selanjutnya dinyalakan dengan api.

3) Alat-alat instrumen dimasukkan ke dalam nyala api.

b) Dengan cara udara panas kering

Cara ini pada dasarnya adalah merupakan suatu proses oksidasi, cara

ini memerlukan suhu yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan

sterilisasi pemanasan basah. Adapun alat yang dapat dilakukan dengan

cara ini yaitu benda-benda dari logam, zat-zat seperti bubuk, talk,

vaselin, dan kaca.

Caranya yaitu:

1) Alat bahan harus dicuci, sikat dan desinfeksi terlebih dahulu

2) Dikeringkan dengan lap dan diset menurut kegunaannya

3) Berilah indikator pada setiap set

4) Bila menggunakan pembungkus, dapat memakai aluminium foil.

8
5) Oven harus dipanaskan dahulu sampai temperatur yang diperlukan.

6) Kemudian alat dimasukkan dan diperhatikan derajat pemanasannya.

2. Sterilisasi dengan pemanasan basah.

Ada beberapa cara sterilisasi ini, yaitu:

a) Dimasak dalam air biasa.

Suhu tertinggi 100 C, tapi pada suhu ini bentuk vegetatif dapat dibinasakan

tetapi bentuk yang spora masih bertahan. Oleh karna itu agar efektif

membunuh spora maka dapat ditambahkan natrium nitrat 1% dan phenol 5%.

Caranya yaitu:

1) Alat atau bahan instrumen dicuci bersih dari sisa-sisa darah, nanah atau

kotoran lain.

2) Kemudian dimasukkan langsung ke dalam air mendidih.

3) Tambahkan nitrit 1% dan phenol 5%, agar bentuk sporanya mati

4) Waktu pensterilan 30-60 menit (menurut pharmacope Rusia).

5) Seluruh permukaan harus terendam.

b) Dengan uap air.

Cara ini cukup efektif dan sangat sederhana. Dapat dipakai dengan

dandang/panci dengan penangas air yang bagiannya diberi lubang/sorongan,

agar uap air dapat mengalir bagian alat yang akan disterilkan.waktu sterilisasi

30 menit.

Caranya yaitu:

9
1) Alat-alat yang akan disterilkan dicuci, dibersihkan, disikat serta

didesinfeksi.

2) Kemudian dibungkus dengan kertas perkamen dan dimasukkan dalam

dandang

c) Sterilisasi dengan uap air bertekanan tinggi.

Jenis sterilisasi dengan cara ini merupakan cara yang paling umum

digunakan dalam setiap rumah sakit dengan menggunakan alat yang disebut

autoclave.

Caranya yaitu:

1) Alat-alat atau bahan-bahan yang akan disterilkan dicuci, disikat,

dan didesinfeksi

2) Kemudian diset menurut penggunaannya dan diberi indikator.

3) Kemudian dibungkus kain/kertas.

4) Masukkan alat/bahan yang telah dibungkus ke dalam autoclave.

3. Sterilisasi dengan penambahan zat-zat kimia

Cara ini tidak begitu efektif bila dibandingkan dengan cara pemanasan

kering. Cara ini dipergunakan pada bahan-bahan yang tidak tahan

pemanasan atau cara lain tidak bisa dilaksanakan karena keadaan. Contoh

zat kimia : Formaldehyda, hibitane, Cidex.

4. Sterilisasi dengan radiasi ultraviolet.

Karena disemua tempat itu terdapat kuman, maka dilakukan sterilisasi

udara dan biasanya dilakukan di tempat-tempat khusus.Misalnya: di

10
kamar operasi, kamar isolasi, dsb. dan udaranya harus steril. Hal ini dapat

dilakukan dengan sterilisasi udara (air sterilization) yang memakai radiasi

ultraviolet.

5. Sterilisasi dengan filtrasi

Cara ini digunakan untuk udara atau bahan-bahan berbentuk cairan.

Filtrasi udara disebut HEPA (Hight Efficiency Paticulate Air). Tujuannya

adalah untuk filtrasi cairan secara luas hanya digunakan dalam produksi

obat-obatan atau pada sistem irigasi dalam ruang operasi, maupun dalam

perawatan medik lainnya yang membutuhkan adanya cairan steril. Jenis

filternya yang penting ialah pori-porinya harus lebih kecil dari jenis

kuman. Pori-pori filter ukurannya minimal 0,22 micron.

B. Desinfeksi

Desinfeksi adalah menghancurkan atau membunuh kebanyakan organisme patogen


pada benda atau instrumen dengan menggunakan campuran zat kimia cair tanpa
membunuh spora. Cairan yang digunanakan untuk desinfeksi adalah desinfektan.

1. Jenis-jenis desinfektan
2. Betadine
Suatu larutan organik dari bahan aktif Polivinil-Pirolidon, yang merupakan
kompleks Iodine yang larut dalam air.
Fungsi : Sebagai desinfektan dan anti septik lokal yang juga dapat
membunuh jamur, virus, Protozoa dan spora.
Bau : Khas, tidak menyengat.
Warna : Hitam-kekuning-kuningan

11
Komposisi : Mundidone (Polyvinyl pyrolidone Iodine murni)
Konsentrasi :
- Betadine Gargle 1% - kumur-kumur
- Betadine skin cleaner 7,5%
- Betadine solution 10%
- Betadine ointment 10%
- Betadine vag. Douche 10%
- Betadine vaginal GCL 10%
- Betadine shampoo 4%
Perhatian : Larutan povidium yodium tidak untuk diminum atau
ditelan, atau juga untuk mencuci mata.
Side effect : Dapat menimbullkan metabolilk asidosis bila povidium
yodium digunakan pada luka bakar yang luas, diare-bila terminum.

3. Hidrogen Peroksida (H2O2)


Bau : Merangsang (menyengat) dan kecut. Warna : Bening kebiruan.
Komposisi : H2O (air) dan O2 (oksigen)

12
Bila bersentuhan dengan tubuh pada jaringan luka atau mukosa, maka
akan terjadi pengelupasan O2 karena adanya enzim katalase dalam sel.
Konsentrasi :
- Untuk desinfektan dan mencuci luka 0,3% - 6%
- Untuk sterilisasi 6% - 25%
- Larutan H2O2 yang biasa dipakai (standar) 3%
Gunanya :
- Vagina douche (mendesinfeksi vagina)
- Sebagai antiseptik yang non toxid
- Desinfektan luka dan borok
- Untuk deodorant
- Untuk kumur-kumur
Problem dan efek samping :
- Akan merusak jaringan yang baru
- Berbahaya digunakan pada rongga tertutu
Misal : Abses = H2O2 akan melepas gas yang masuk ke dalam
pembuluh darah.
- Penggunaan pada mukosa akan menimbulkan iritasi-bintik hitam
pada lidah.

13
4. Yodium Tincture
Nama obat : Yodium Tincture
Bau : Khas, menyengat
Warna: Coklat
Komposisi dan Konsentrasi :
- 2,4% Sodium iodide
- 2% Iodide
- alkohol Etyl 46
Gunanya
- Sebagai desinfektan
- Sebagai antiseptic
- Dipakai sebagai obat luar
Kontra indikasi :
- Hypersensitif terhadap Iodine
- Dapat menimbulkan iritasi
- Jauhkan pemakaian rutin

14
5. Mercurochrome
Warna : Merah Bau : Khas
Komposisi :
- Mercurochrome 2%
- Aqua Destilata 98%
- Dilarutkan dalam alkohol
Gunanya :
- Untuk merawat luka-luka kecil
- Untuk mengeringkan luka
- Untuk menghentikan darah pada luka tergores/kecil
Kerugian :
- Menyebabkan parut
- Bukan merupakan anti bakterial/anti septik
Pelaksanaan : Olesi luka dengan menggunakan peralatan yang
tidak mudah menempel pada luka untuk mencegah pengotoran
luka

6. Kalium Permanganat (PK)


Nama Obat : PK (Kalium Permanganat)
Bau : Tidak berbau, Warna : Ungu tua

15
Kompisisi :
Kalium Permanganat (KMnO4)
Konsentrasi bila 1 : 1000
1 gr PK : 1 Liter air
Gunanya :
- Kompres luka
- Menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri busuk
- Irigasi kandung kemih yang terinfeksi
- Untuk pembilasan akhir pada vulva dan penis hygiene
Kontra indikasi :
- Dapat menimbulkan kepedihan
Kalium Permanganat dapat larut dalam air. Dalam menghambat
pertumbuhan dan membunuh bakteri pembusuk yang dapat
disebabkan dari udara bebas, bakteri ini dapat dimatikan oleh kalium
permanganat dengan memperhatikan perbandingan yang sesuai
dengan jumlah materi organik yang ada.
Dalam penyiraman vagina/penis dalam tindakan vagina/penis hygiene
dengan konsentrasi antara 1 : 1000 s/d 1 : 5000. Bila larutan ini kuat
yaitu dengan perbandingan lebih dari 1 : 5000 dapat menimbulkan
kepedihan.

16
7. Larutan Nacl
- Bau : Tidak berbau
- Warna : Bening
- Kompisisi :
- Natrium
- Klorida
- Air
Pada cairan NaCl 0,9% yang biasa digunakan di sarana kesehatan,
CRS, Puskesmas terdiri dari :
Air : 500 ml
Sodium/Natrium : 150 mm/L
Klorida : 150mm/L
Rasa : Asin
Fungsi Sodium :
- Untuk mempertahankan osonolaritas plasma
- Generasi dan transmisi potensial aksi
- Mempertahankan elektronetralisa (kenetralan elektrolit)
- Fungsi normal dari aktifitas fisiologik tubuh
Fungsi Klorida :
- Mempertahankan keseimbangan asam-basa
- Mempertahankan elektrinetralitas plasma
- Formasi asam Hidrolik
Fungsi cairan NaCl dalam perawatan luka :
- Sebagai pelarut/pengencer
- Untuk membersihkan luka
- Sebagai cairan infuse
- Sebagai cairan humidifer pada tabung O2
- Untuk irigasi kulit

17
- Untuk mengatur keseimbangan asam-basa

8. Klorin

Senyawa klorin yang paling aktif adalah asam hipoklorit. Mekanisme

kerjanya adalah menghambat oksidasi glukosa dalam sel mikroorganisme

dengan cara menghambat enzim-enzim yang terlibat

dalam metabolisme karbohidrat .Kelebihan dari disinfektan ini adalah mudah

digunakan, dan jenis mikroorganisme yang dapat dibunuh dengan senyawa ini

juga cukup luas, meliputi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Kelemahan dari disinfektan berbahan dasar klorin adalah dapat

menyebabkan korosi pada pH rendah (suasana asam), meskipun sebenarnya

18
pH rendah diperlukan untuk mencapai efektivitas optimum disinfektan

ini.Klorin juga cepat terinaktivasi jika terpapar senyawa organik tertentu.

9. Iodin

Iodin merupakan disinfektan yang efektif untuk proses desinfeksi air dalam

skala kecil. Dua tetes iodine 2% dalam larutan etanol cukup untuk

mendesinfeksi 1 liter air jernih. Salah satu senyawa iodine yang sering

digunakan sebagai disinfektan adalah iodofor. Sifatnya stabil, memiliki waktu

simpan yang cukup panjang, aktif mematikan hampir semua sel bakteri,

namun tidak aktif mematikan spora, nonkorosif, dan mudah

terdispersi. Kelemahan iodofor diantaranya aktivitasnya tergolong lambat

pada pH 7 (netral) dan lebih dan mahal. Iodofor tidak dapat digunakan pada

suhu lebih tinggi dari 49 C.

19
10. Alkohol

Alkohol disinfektan yang banyak dipakai untuk peralatan medis,

contohnya termometer oral. Umumnya digunakan etil alkohol dan isopropil

alcohol dengan konsentrasi 60-90%, tidak bersifat korosif terhadap logam,

cepat menguap, dan dapat merusak bahan yang terbuat dari karet atau plastik.

11. Amonium Kuartener

Amonium kuartener merupakan garam ammonium dengan substitusi gugus

alkil pada beberapa atau keseluruhan atom H dari ion NH4+nya. Umumnya

yang digunakan adalahen:cetyl trimetil ammonium bromide (CTAB) atau

lauril dimetil benzyl klorida. Amonium kuartener dapat digunakan untuk

mematikan bakteri gram positif, namun kurang efektif terhadap bakteri gram

negatif, kecuali bila ditambahkan dengan sekuenstran (pengikat ion logam).

20
Senyawa ini mudah berpenetrasi, sehingga cocok diaplikasikan pada

permukaan berpori, sifatnya stabil, tidak korosif, memiliki umur simpan

panjang, mudah terdispersi, dan menghilangkan bau tidak sedap. Kelemahan

dari senyawa ini adalah aktivitas disinfeksi lambat, mahal, dan menghasilkan

residu.

12. Formaldehida

Formaldehida atau dikenal juga sebagai formalin, dengan konsentasi efektif

sekitar 8%. Formaldehida merupakan disinfektan yang

bersifat karsinogenik pada konsentrasi tinggi namun tidak korosif terhadap

metal, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan pernapasan. Senyawa

ini memiliki daya inaktivasi mikroba dengan spektrum luas. Formaldehida

juga dapat terinaktivasi oleh senyawa organik.

21
13. Fenol

Fenol merupakan bahan antibakteri yang cukup kuat dalam konsentrasi 1-2%

dalam air, umumnya dikenal dengan lisol dan kreolin. Fenol dapat diperoleh

melalui distilasi produk minyak bumi tertentu. Fenol bersifat toksik, stabil,

tahan lama, berbau tidak sedap, dan dapat menyebabkan iritasi, Mekanisme

kerja senyawa ini adalah dengan penghancuran dinding sel dan presipitasi

(pengendapan) protein sel dari mikroorganisme sehingga terjadi koagulasi dan

kegagalan fungsi pada mikroorganisme tersebut.

Hasil proses desinfeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor:

Beban organik (beban biologis) yang dijumpai pada benda.

Tipe dan tingkat kontaminasi mikroba.

Pembersihan/dekontaminasi benda sbelumnya.

22
Konsentrasi desinfektan dan waktu pajanan

Struktur fisik benda

Suhu dan PH dari proses desinfeksi.

2.4 Aseptis/Aseptik

Asepsis adalah prinsip mempertahankan keadaan bebas kuman ataupun

mikroorganisme sedangkan Aseptik usaha yang dilakukan guna mempertahankan

keadaan bebas kuman tersebut. Teknik aseptik adalah usaha mempertahankan objek

agar bebas dari mikroorganisme.

Asepsis ada 2 macam:

1. Asepsis medis

Tehnik bersih, termasuk prosedur yang digunakan untuk mencegah

penyebaran mikroorganisme. Misalnya: mencuci tangan, mengganti linen

tempat tidur, dan menggunakan cangkir untuk obat.

2. Asepsis bedah

Teknik steril, termasuk prosedur yang digunakan untuk membunuh

mikroorganisme dari suatu daerah.

Prinsip-Prinsip Tindakan Asepsis Yang Umum :

Semua benda yang menyentuh kulit yang luka atau dimasukkan ke dalam

kulit untuk menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh, atau yang dimasukkan ke

dalam rongga badan yang dianggap steril haruslah steril.

23
1. Jangan sekali-kali menjauhi atau membelakangi tempat yang steril.

2. Peganglah objek-objek yang steril, setinggi atas pinggang dengan

demikian objek-objek itu selalu akan terlihat jelas dan ini mencegah

terjadinya kontaminasi diluar pengawasan.

3. Hindari berbicara, batuk, bersin atau menjangkau suatu objek yang steril.

4. Jangan sampai menumpahkan larutan apapun pada kain atau kertas yang

sudah steril.

5. Bukalah bungkusan yang steril sedemikian rupa, sehingga ujung

pembungkusnya tidak mengarah pada si petugas.

6. Objek yang steril menjadi tercemar, jika bersentuhan dengan objek yang

tidak steril.

7. Cairan mengalir menurut arah daya tarik bumi, jika forcep dipegang

sehingga cairan desinfektan menyentuh bagian yang steril, maka forcep itu

sudah tercemar.

C. Antisepsis dan Antiseptik

Antisepsis adalah cara dan tindakan yang diperlukan untuk mencapi kedaan bebas

kuman pathogen sedangkan Anti Septik yaitu suatu zat atau bahan kimia yang dipakai

untuk mencapai keadaan bebas kuman dan pathogen tersebut. Tujuannya yaitu

memusnahkan semua kuman-kuman patogen, tetapi spora dan virus yang mempunyai

daya tahan yang sangat kuat sehingga masih tetap hidup. Macam-macam bahan yang

sering digunakan untuk antiseptik dan kegunaanya yaitu:

24
1. Ethyl alkohol Larutan alkohol yang dipakai sebaiknya 65-85% karena daya

kerjanya akan menurun bila dipakai konsentrasi yang lebih rendah atau lebih

tinggi.

2. Jodium Tinctura. Larutan 2% jodium dalam alkohol 70% adalah suatu

desinfeksi yang sangat kuat. Larutan ini dipakai untuk mendisinfeksi kulit

dengan membasmi kuman-kuman yang ada pada permukaan kulit.

Penggunaan desinfektan/antiseptic:

1. Desinfeksi kulit secara umum (Pre Operasi) dengan larutan savlon 1:30 dalam

alkohol 70%. Hibiscrup 0,5% dalam alkohol 70%.

2. Desinfeksi tangan dan kulit dengan Chlorrhexidine 4% (hibiscrup) minimal 2

menit

3. Untuk kasus Obgin (persiapan partus, vulva hygiene, neonatal hygiene).

Hibiscrup 0,5% dalam Aquadest Savlon 1:300 dalam aqua hibiscrup.

25
BAB III

JURNAL PENELITIAN

Vol I No.2 Th.2A04 Efektivitas Dosis ReJisol terhaap Penurunan Angka Kuman

Ninuk Krisetyowatir, Margo Utomo2

EFEKTIVITAS DODIS REFISOL TERHADAP PENURUNAN ANGKA

KUMAN PADA LANTAI BANGSAL PERAWATAN PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR 2003

ABSTRACT

Background. Hospital sanitary especially the sterilisation and disinfectant activities

has a function to control the existence of germs to prevent nosocomial infection. This

is considered important because the number of germs at the General Hospital

Karanganyar is more than l0 germs/cmz . Disinfecting activity is usually done by

mopping .the floor using Refisol clisinfectant. However, nobody knows how much

dose is needed to effectively reduce the number of germs on the Jloor. Objective: to

find out the effective dose of the Refisol disinfectant in reducing the rumber of germs

on the floor. Method. This experimental research is applied pre-test control group

design. The subject is the floor in four wards that have the same condition. The

research procedure is by having a post test by wiping theJloor before mopping and

count the germs. Then, tredt theJloor by giving some dose oJ Refisol desinfectant (30,

26
40, and 50 mL), and later, test it agqin by wiping theJloor after mopping and count

the germs, while the contol group only cleaning the floor with water. The data is

analyzed by using the Paired Sample T-Test and one way Analysis of variance.

Result: in the dose of 30 mL there is a reduction of germsupto 28,8%.

Thisnumberincreasesinthedoseof 40mLto 39,81%,in thedoseof 50mLto 54,17%(the

highest). Tlest in control treatment gain t:5,458 and p:0,002, in 30 mL dose t:10,102

and p:0,012, in 40 mL t:5,384 and p:0,013 while 50 mL dose is t:5,451 and p:0,012. It

means that there is a significant change in the number of germs before and after

treatments. Conclusion, The dose of Refisol disidectant in/luenced to number ofJloor

germs reducing. Keywords : disinfectant dose, Refisol, the decrease offloor germs

number.

ABSTRAK

Latorbelakang. Sterilisasi dan desinfeksi ruongan rumah sakit merupakan suatu usaha

untuk mencegah terjadinya infel<si nosokomial. Hal itu mengingat angka kuman di

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar lebih dari l0 kuman/cm2.

Desinfeksi ini dilakukan tlengan cara mengepel lantai mengguiakan desinfektan

Refisol. Namun sampai saat ini belum diketahui dosis yang paling efektrf dalam

menurunkan angka kuman lantai. Tuiuan: mengetahui dosis desidektan Refisol yang

paling efektif dalam menurunkan angka kuman lantai. Metode. Penelitian

el<sperimen ini menerapkan rancangon pre-test post-test control group design.

27
Subjek penelitian adalah empat kamor dengan kondisi sama. Penghitungan angka

kuman awal dilakukan sebelum lantai dipel dengan refisol. Intervensi yang dilakukan

qdalah pengepelan lantai dengan 3 variasi dosis refisol, yaitu 30 mL, 40 mL, dan 50

mL. Analisa data dengan Paired Sample Test dan Anawa satu jalan (Anova). Hasil

Pada pengepelan dengan dosis refisol 30 mL anka kuman menurun sebesar 28,28%,

pada dosis 40 mL sebesar 39,81 %, pada dosis 50 mL mencapai 54,17% (tertinggi).

Hasil uji t antara perlakuan-kontrol diperoleh harga t:5,458 dan p=0,012, pada dosis

30 mL t:10,102, p:0,002, pada dosis 40 mL t:5,384, p:0,013 dan dosis 50 mL t:5,451,

p:0,012. Berarti ada perbedaanyang bermakna angka kuman sebelum dan sesudah

perlakuan. Kesimpulan. Terjadi penurunan jumlah kuman. Dosis desinfektan Refisol

berpengaruh dalam menurunkan angka kuman lantai Ruang Perawatan. Kata kunci :

Desinfektan Refisol, dosis, Angka Kuman,

I Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang 2

Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang

96

Http://Jurna!.unimus.ac.iC'

Ninuk Krisetyowati, Margo Utomo J Kesehat Masy lndones

28
PENDAHULUAN

Terdapat suatu pengertian bahwa rumah sakit merupakan institusi pelayanan

kesehatan individu pasien, keluarga dan masyatakat yang berinti pada pelayanan

medik. Berdasarkan pengertian tersebut rumah sakit dapat dikatakan sebagai depot

pengumpul segala macam penyakit baik yang menular maupun tidak menular

sehingga dapat menimbulkan dampak negatif yang antara lain berupa : l)

terhambatnya proses penyembuhan dan pemulihan penderita; 2) timbulnya pengaruh

buruk terhadap petugas; 3) merupakan sumber penyakit bagi masyarakat sekitar; dan

4) menimbulkan pencemaran lingkungan.' )

Hal tersebut mendasari perlunya sanitasi rumah sakit sebagai upaya

pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan baik fisik, kimia radioaktif maupun

biologis di rumah sakit yang mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk pada

kesehatan para petugas, penderita, pengunjung dan masyarakat sekitar rumah sakit.

Angka kejadian infeksi nosokomial terkait dengan angka kuman di Rumah Sakit

Umum Daerah Kabupaten Karanganyar pada tahun 2002 adalahO,98o .2\

Instalasi Sanitasi Rumah Sakit khususnya dalam kegiatan sterilisasi dan

desinfeksi mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain melaksanakan

pengawasan serta tindakan sterilisasi dan desinfeksi ruang pemeriksaan, ruang

operasi, ruang perawatan dan ruang isolasi dalam upaya mencegah infeksi

nosokomial. Hal itu mengingat angka kuman di Rumah Sakit Umum Daerah

29
Kabupaten Karanganyar lebih dari l0 kuman/cm2. Padahal standar angka kuman

untuk ruang perawatan adalah 5-10 kuman/cm2.

Salah satu ruang perawatan yang menjadi tanggung jawab Instalasi Sanitasi

dalam kegiatan desinfeksi adalah ruang perawatan penyakit dalam. Desinfeksi ini

dilakukan dengan cara mengepel lantai menggunakan desinfektan Refisol. Namun

sampai saat ini belum diketahui dosis yang paling berpengaruh dalam menurunkan

angka kuman lantai. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu diteliti tentang dosis

desinfektan yang paling efektif dalam menurunkan angka kuman lantai di bangsal

perawatan penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis desinfektan Refisol

yang paling efektif dalam menurunkan angka kuman lantai di bangsal perawatan

penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar. Manfaat yang

diharapkan adalah agar masyarakat mengetahui dosis desinfektan Refisol yang efektif

dalam menurunkan angka kuman lantai dan memberikan masukan kepada pihak

RSUD Kabupaten Karanganyar dalam upaya menciptakan Sanitasi Rumah Sakit.

METODE PENELITIAN

Berdasarkan tujuannya, penelitian ini termasuk eksperimental murni.

Rancangan percobaan yan digunakan adalah pre-test post-test control group design,

dengan bagan sebagai berikut:

Pre-test Treatment Post-test

30
O1 Xn O2

O1 XO O2

Keterangan:

n adalah jumlah perlakukan perlakuan diberi refisol pada dosis 30 mUL, 40 mVL

dan 50 ml/L. Instrumen yang dipergunakan dalam pengukuran pretes dan postest

adalah O, dan Or.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua lantai di kamar perawatan

penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar dan sebagai

sampel adalatr empat lantai pada kamar perawatan penyakit dalam.

Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas yaitu berbagai dosis

desinfektan, variabel terikat yaitu penurunan angka kuman dan variabel terkendali

yaitu luas kamar, jenis desinfektan, pengenceran desinfektan, proses pengepelan,

temperatur dan kelembaban. Metode pengolahan data dan analisa data dilakukan

secara analitik untuk membuktikan hipotesis digunakan uji t+es independen dan

analisa varians satu jalan dengan bantuan program komputer.

Tahapan penelitian adalah sebagai berikut : (l) Tahap persiapan dilakukan

dengan mempersiapkan semua peralatan yang dipergunakan dan lokasi yang akan

diteliti; (2) Tahap pelaksanaan meliputi (a) Mengadakan pretest dengan mengelap

lantai sebelum dipel dan melakukan perhitungan angka kumannya; (b) Memberikan

treatment berupa pemberian berbagai dosis desinfektan Refisol; (c) Mengadakan

posttest dengan mengelap lantai yang telah dipel dan melakukan perhitungan angka

31
kumannya; (d) Menganalisis data tentang efektivitas berbagai dosis desinfektan

dalam menurunkan angka kuman lantai dengan uji paired t-test dan Anova.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 17 April 2003 sampai dengan tanggal

1 Mei 2003 padal pukul 09.30 sampai dengan pukul 11.30 WIB di ruang perawatan

penyakit dalam RSUD Kabupaten Karanganyar. Pemeriksaan ini meliputi sebelum

perlakuan dan pemeriksaan setelah perlakuan dengan data hasil pemeriksaan angka

kuman dalam tabel 1.

Tabel L Angka Kuman Lantai di Ruang Perawatan Penyakit Dalam RSUD

Kabupaten Karanganyar tahun 2003

Kode Pengulangan Pemeriksaan pada kamar


Sebelum Sesudah Penurunan %penurunan
6
A 1 2,40 x 10 1,67 x 106 7,30 x l05 30,42%
6
2 3,33 x 10 2,67 x 106 6,60 x 105 19,82%
6
3 3,70 x 10 2,67 x 106 1,03 x 106 27,84%
4 2,23 x 106 1,33 x 106 9,00 x 105 40,36%

B 1 2,40 x 106 1,67 x 106 7,30 x 105 30,42%


2 3,33 x 106 2,00 x 106 1,33 x 106 39,94%
3 3,70 x 106 2,00 x 106 1,70x 106 45,95%
4 2,23 x 106 1,33 x 106 9,00 x 105 40,36%
C 1 2,40 x l06 1,33 x 106 1,07 x 106 44,58%
2 3,33 x 106 1,67 x 106 1,66 x 106 49,85%
3 3,70 x 106 1,33 x 106 2,37 x 106 64,05%
4 2,23 x l06 1,00 x 106 1,23 x 106 55,16%

32
1 2,40 x 106 2,05 x 106 3,40 x l05 l4,l6%
2 3,33 x 106 2,57 x106 6,60 x 105 19,82%
O 3 3,70 x 106 3,23 x 106 4,70 x 105 12,71%
4 2,23 x 106 1,93 x 106 3,00 x 105 13,45%

Diketahui bahwa prosentase pellurunan angka kuman dalam setiap perlakuan

maupun pengulangan percobaan menunjukkan angka yang bervariasi. Data dalam

tabel menunjukkan prosentase penurunan angka kuman terendah terjadi pada

kelompok kontrol dan pada dosis 30 ml/L untuk kelompok perlakuan. Rerata

prosentase penumnan dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Rerata Angka Kuman Luntuidi Ruang Perawatan Penyakit Dalam

RSUD Kabupaten Karanganyar Tahun 2003

NO Kode Sebelum Sesudah Penurunan %penurunan

1 A 2,90 x 106 2,085 x106 8,225 x105 28,28


2 B 2,90 x 106 1,750 x106 1,157 x106 39,81
3 C 2,90 x 106 1,333 x106 1,583 x106 54,17
4 D 2,90 x 106 2,473 x106 4,425 x105 15,18

Table 2 menunjukkan bahwa prosentase penurunan angka kuman te{adi pada

perlakuan C (dosis 50 ml/L) sebesar 54,170 dan terendah para perlakuan A (dosis 30

ml/L) dengan penurunan 28,280/0.

Selanjutnya data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa dengan

menggunakan uji statistik Paired Sample Test. Uji tersebut dimaksudkan untuk

mengetahui ada tidaknya perbedaan antara hasil pemeriksaan angka kuman sebelum

33
perlakuan dengan setelah perlakuan. Pada perlakuan kontrol harga t yang diperoleh

sebesar 5,458. Pada perlakuan A pengepelan dengan desinfektan dosis 30mL,

diperoleh t:10,102. Pada perlakuan dengan dosis 40 ml/L diperoleh harga t sebesar

5,384 sedangkan para perlakuan dengan dosis 50ml/L diperoleh harga t sebesar

5,451. Harga t yang diperoleh dengan derajat kebebasan (df) = 3 dan pada tingkat

signifikansi 95o/o adalah 2,350. Angka ini ternyata jauh lebih kecil bila dibandingkan

dengan harga t hasil pengujian data baik pada perlakuan kontrol (O), A, B maupun C,

yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan sebelum

perlakuan dengan hasil pemeriksaan setelah perlakuan.

Perbedaan tersebut ternyata menunjukkan adanya penurunan jumlah kuman,

karena hasil pemeriksaan angka kuman sesudah perlakuan jauh lebih kecil

dibandingkan hasil pemeriksaan sebelum perlakuan. Penurunan jurnlah kuman

setelah perlakuan disebabkan desinfektan Refisol mengandung NaOH dan

Banzalkonium Chloride yang mempunyai kemampuan membunuh kuman. Ion OH

dari NaOH yang terionisasi di dalam air bersifat sebagai desinfektan (pembunuh

kuman), sehingga kuman terbunuh apabila kontak dengan ion tersebut.

Pengujian secara statistik dilanjutkan dengan uji LSD pada taraf signifikansi

yang sama 95%. Uii statistik metode ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya

perbedaan pengaruh dari dosis

99

Vol I No. 2 Th. 2004 Efektivilas Dosis Refisol terhaap Penurunan Angka Kuman

34
desinfektan Refisol yang bervariasi terhadap penurunan angka kuman lantai. Hasil

perhitungan secara statistik menunjukkan F hitung sebesar 0,716 sedangkan F tabel

pada tingkat signifikasi 95% diperoleh angka 4,256. Bila diperhatikan ternyata hasil F

hitung lebih kecil daripada F tabel yang berarti Ho diterima yaitu bahwa tidak ada

perbedaan pengaruh berbagai dosis desinfektan Refisol terhadap penurunan angka

kuman lantai pada signifikansi 95%.

Penurunan angka kuman yang kecil C ll% - 53%) kemungkinan disebabkan

oleh angka phenol coefisien yang dimiliki desinfektan ini terlalu kecil yaitu 0,141.

Kecilnya angka phenol coefisien suatu desinfektan menunjukkan bahwa desinfektan

tersebut kurang mampu membunuh kuman. Karenanya hasil penurunan yang tidak

terlalu besar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

(l) Ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan angka kuman sebelum

perlakuan dengan setelah perlakuan di lantai Ruang Perawatan Penyakit Dalam

RSUD Kabupaten Karanganyar ; (2) Hasil uji t pada perlakuan kontrol diperoleh

harga t sebesar 5,458 dengan p : 0,012, pada dosis 30 mL 10,102 dengan p : 0,002,

pada dosis 40 mllL 5,384 dengan p : 0,013 sedangkan para dosis 50 mL sebesar 5,451

dengan p: 0,012. Mengingat nilai t lebih besar dari 2,350 serta nilai p < 0,05 berarti

ada perbedaan jumlah angka kuman sebelum dan sesudah perlakuan; (3) terdapat

35
kecenderungan penurunan angka kuman yang ditunjukkan dengan persentase

penurunan yaitu turun 28,28o/o pada dosis 30 mL, 39,8loh pada dosis 40 mL dan

turun 54,17o/o pada dosis 50 mL; (4) tidak ada perbedaan di antara berbagai dosis

desinfektan Refisol terhadap penurunan angka kuman lantai Ruang Perawatan

Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Karanganyar dimana p:0,716 ( > 0,05).

SARAN

Hasil penelitian ini menjadi dasar bagi penulis untuk mengajukan saran

sebagai berikut : petugas kebersihan rumah sakit dalam melakukan pengepelan

harus memperhatikan dosis desinfektan yang digunakan yaitu dosis yang mampu

menurunkan jumlah kuman'

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih diucapkan kepada Kepala Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Karanganyar, Kepala Labortoritum Sanitasi RSU Dr. Moewardi Surakarta

beserta staf, Personil Bangsal Perawatan Penyakit Dalam dan Staf yang telah

memberikan ijin dan menyediakan waktu memberikan data untuk penelitian serta dr.

H Margo Utomo, MS yang telah membimbing dan memberikan pengarahan hingga

selesainya penulisan KTI.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Djasio Sanropie. 1989. Komponen Sanitasi Rumah Sakit Untuk Institusi

Pendidikan Tenaga Sanitasi. Jakarta: Dep.Kes R[.

2. Depkes RI. 1991. Petunjuk Penyusunan Pedoman Pengendalian Infel<si

Nosokomial Rumah Sakit. Jakarta: Dirjen Pelayanan Medik.

3. Depkes RI. 1988. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia Cetakan IL

Jakarta: Dirjen PPM & PLP.

4. Frank Gohr. 1980. Hospital Sanitation. Journal of Sanitary Science

Volume 23, Nopember 2nd, 1980.

5. Ben Freedman. 1987. Sanitation's Handbook 4th editions, New Orleans:

Pearl's Publishing Company.

6. Depkes RI. 2002. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia Edisi Baru.

Jakarta: Dirlen PPM & PLP.

7. Depkes RI. 1993. Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit

Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Nomor : HK.00.06 .6.44 Tarrggal

18 Pebruari 1993 tentang Persyaratan dan Petunjuk Telcnis Tatacara Penyehatan

Lingkungan Rumah Sakit. Jakana: Dirjen PPM & PLP.

8. Izobel M Maurer. 1973. Hospital Hygiene. London: Edward Arnold.

9. Marthinus Sutena. Desinfeksi Ruang di Rumah Sakit. Makalah

disampaikan pada Pelatihan Ketrampilan Tenaga Sanitasi Rumah Sakit se Indonesia

Wilayah Barat dan Tengah di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, 6-8 Januari 2003.

37
10. Anonim. 1992. Pedoman Gerakan Rumah Sakit Bersih dan Sehat.

Yogyakarta: RSUP Dr. Sardjito.

11. Wenzel, R.P. 1987. Prevention and Control of Nosocomial Infection.

Baltimore: William & Wilkinns.

12. Susilo Surachan. L988. Isolasi dan Pengelolaan Penderita Penyakit

Tertentu. Jakarta: Dirjen PPM & PLP Dep. Kes RI.

13. Ahmad Watik Pratiknya. 1986. Dasar-dasar Metodologi Penelitian

Kedoheran dan Kesehatan. Jakarta: CV. Rajawali

14. Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: PT. Rineka Cipta.

15. Sutrisno Hadi. 1993. Statistik j.Yogyakarta: Andi Offset.

38
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sterilisasi yaitu proses membunuh semua mikroorganisme termasuk spora bakteri


pada benda yang telah didekontaminasi dengan tepat

Desinfeksi adalah menghancurkan atau membunuh kebanyakan organisme

patogen pada benda atau instrumen dengan menggunakan campuran zat kimia

cair tanpa membunuh spora

Asepsis adalah prinsip mempertahankan keadaan bebas kuman pada pembedahan


sesangkan Aseptik berarti tidak adanya patogen pada suatu daerah tertentu.

Teknik aseptik adalah usaha mempertahankan objek agar bebas dari

mikroorganisme. Antisepsis adalah cara dan tindakan yang diperlukan untuk

mencapi kedaan bebas kuman pathogen sedangkan Anti Septik yaitu suatu zat

atau bahan yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara selektif

B. Saran

Sebaiknya kita sebagai perawat yang professional harus memahani dan mengerti

tentang melakukan pencegahan-pencegahan infeksi yang dapat terjadi terhadap

pasien, sebisa mungkin melindungi pasien dari ancaman mikroorganisme

berbahaya.

39
DAFTAR PUSTAKA

Aian P Ramadhan, (2011). Sterilisasi Desinfeksi Aseptik. Di akses dari :

http://aianpramadhan.blogspot.co.id/2011/06/sterilisasi-desinfeksi-aseptik-dan.html

Nur Chamidah, (2010). Sterilisasi Desinfeksi Aseptik. Di akses dari :

http://blognyachami.blogspot.co.id/2010/10/sterilisasi-desinfeksi-aseptik-dan.html

Suryani Ningsih, (2015). Makalah Sterilisasi. Di akses dari :

http://dokumen.tips/documents/makalah-sterilisasi-561edeb752413.html

Dewi, (2012). Cairan Untuk Disinfeksi. Di akses dari :

http://dewifullcolour.blogspot.co.id/2012/09/cairan-untuk-desinfeksi.html

Andri Dariel, (2015). Disinfeksi : https://id.wikipedia.org/wiki/Disinfektan

Jurnal :

1. Djasio Sanropie. 1989. Komponen Sanitasi Rumah Sakit Untuk Institusi Pendidikan

Tenaga Sanitasi. Jakarta: Dep.Kes R[.

2. Depkes RI. 1991. Petunjuk Penyusunan Pedoman Pengendalian Infel<si Nosokomial

RumahSakit. Jakarta: Dirjen Pelayanan Medik.

3. Depkes RI. 1988. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia Cetakan IL Jakarta:

Dirjen PPM & PLP.

4. Frank Gohr. 1980. Hospital Sanitation. Journal of Sanitary Science Volume 23,

Nopember 2nd, 1980.

5. Ben Freedman. 1987. Sanitation's Handbook 4th editions, New Orleans: Pearl's

Publishing Company.

40
6. Depkes RI. 2002. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia Edisi Baru. Jakarta:

Dirlen PPM & PLP.

7. Depkes RI. 1993. Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular

dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Nomor : HK.00.06 .6.44 Tarrggal 18

Pebruari 1993 tentang Persyaratan dan Petunjuk Telcnis Tatacara Penyehatan

Lingkungan Rumah Sakit. Jakana: Dirjen PPM & PLP.

8. Izobel M Maurer. 1973. Hospital Hygiene. London: Edward Arnold.

9. Marthinus Sutena. Desinfeksi Ruang di Rumah Sakit. Makalah disampaikan pada

Pelatihan Ketrampilan Tenaga Sanitasi Rumah Sakit se Indonesia Wilayah Barat dan

Tengah di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, 6-8 Januari 2003.

10. Anonim. 1992. Pedoman Gerakan Rumah Sakit Bersih dan Sehat. Yogyakarta:

RSUP Dr. Sardjito.

11. Wenzel, R.P. 1987. Prevention and Control of Nosocomial Infection. Baltimore:

William & Wilkinns.

12. Susilo Surachan. L988. Isolasi dan Pengelolaan Penderita Penyakit Tertentu. Jakarta:

Dirjen PPM & PLP Dep. Kes RI.

13. Ahmad Watik Pratiknya. 1986. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedoheran dan

Kesehatan. Jakarta: CV. Rajawali

14. Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

PT. Rineka Cipta.

15. Sutrisno Hadi. 1993. Statistik j.Yogyakarta: Andi Offset.

41