Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Kesehatan Ibu dan Anak merupakan salah satu prioritas Kementerian
Kesehatan dan Keberhasilan program KIA menjadi salah satu indikator utama dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 - 2025. Tingginya
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia membuat pemerintah menempatkan upaya
penurunan AKI sebagai program prioritas dalam pembangunan kesehatan1.
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator kesehatan ibu,
Penurunan AKI di Indonesia terjadi sejak tahun 1991 sampai dengan 2007, yaitu dari
390 menjadi 228. Namun demikian, SDKI tahun 2012 menunjukkan peningkatan AKI
yang signifikan yaitu menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. AKI
kembali menujukkan penurunan menjadi 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup
berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015. Jumlah AKI dan AKB
masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 yaitu AKI sebesar
102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 23 per 100.000 kelahiran hidup,
sehingga masih memerlukan kerja keras dari semua komponen untuk mencapai target
tersebut.1,2
Melanjutkan program MDGS, saat ini terdapat SDGS 2015 dengan fokus 4 goals
seputar masalah kesehatan, dimana salah satunya adalah program kesehatan ibu dan
anak. Sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari masyarakat, keluarga memiliki
peran signifikan dalam status kesehatan. Keluarga berperan terhadap optimalisasi
pertumbuhan, perkembangan dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan
kebutuhan gizi dan menjamin kesehatan anggota keluarga.1,2
WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan
mengalami komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam
jiwanya. Sebanyak 5.600.000 wanita hamil di Indonesia, sebagian besar akan
mengalami suatu komplikasi atau masalah yang bisa menjadi fakta. Agar lebih efektif
dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi baru lahir, asuhan antenatal harus lebih

1
difokuskan pada berbagai intervensi seperti pemberian edukasi dan peningkatan mutu
pelayanan antenatal yang telah terbukti bermanfaat menurunkan angka kesakitan dan
kematian ibu dan bayi baru lahir.3
Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh
pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Berbagai upaya sangat diperlukan untuk
menurunkan angka kematian ibu dan meningkatkan dukungan terhadap pelayanan dan
kesehatan ibu/maternal, baik dalam Antenatal Care (ANC) dan meningkatkan cakupan
persalinan oleh tenaga kesehatan.4
Program kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama
kehamilan, dengan pelayanan/asuhan standar minimal 7T. Pemeriksaan ini bertujuan
untuk memantau dan mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi
yang mungkin terjadi selama hamil. Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi
masalah atau komplikasi setiap saat, sehingga sangat diperlukan pemantauan selama
kehamilan.4
Indikator yang digunakan untuk menggambarkan keberhasilan program pelayanan
kesehatan ibu adalah cakupan pemeriksaan ibu hamil terhadap pelayanan kesehatan
yang diukur dengan K1 dan K4. Cakupan K1 merupakan gambaran besaran ibu hamil
yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk
mendapatkan pelayanan antenatal. K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan
yang keempat (atau lebih) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang
ditetapkan, dengan ketentuan : satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan
kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga.4
Pemanfaatan pelayanan ANC oleh seorang ibu hamil dapat dilihat dari cakupan
pelayanan ANC (K1 dan K4). Berdasarkan data profil Puskesmas Borobudur Tahun
2017 dapat diketahui bahwa cakupan kunjungan K4 yang dicapai oleh Kecamatan
Borobudur yaitu sebanyak 219 dari 997 ibu hamil (92,68 %), dimana kurang dari target
yang telah ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang yaitu sebesar 100%.
Desa Tegal Arum adalah salah satu desa dengan kondisi geografis pegunungan di
wilayah kerja Puskesmas Borobudur yang memiliki cakupan presentase kunjungan K4
yang paling rendah yaitu sebesar 12,8% yang berarti masih kurang dari target Dinas
Kesehatan Kabupaten Magelang.

2
Oleh karena itu, penulis memilih judul Rencana Peningkatan Cakupan
Kunjungan K4 Ibu Hamil di Desa Tegal Arum, Kecamatan Borobudur, Kabupaten
Magelang Periode Januari-April 2017 sebagai judul tugas mandiri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalahnya adalah
apakah yang menyebabkan rendahnya cakupan anggota keluarga tidak ada yang
merokok di Dusun Gombong Wonotigo, Desa Kembang limus, Kecamatan Borobudur
dan bagaimana pemecahan masalah dari penyebab masalah tersebut agar cakupan
anggota keluarga tidak ada yang merokok di Dusun Gombong Wonotigo, Desa
Kembang limus meningkat?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui, mengidentifikasi dan menganalisis penyebab rendahnya cakupan


anggota keluarga tidak ada yang merokok di Dusun Gombong Wonotigo, Desa
Kembang limus, kemudian menentukan dan merumuskan alternatif pemecahan
masalah serta prioritas pemecahan masalah serta kegiatan yang dapat dilakukan
untuk pemecahan masalah di Dusun Gombong Wonotigo, Desa Kembang limus

2. Tujuan Khusus

a) Mengetahui faktor faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan


anggota keluarga tidak ada yang merokok dari faktor input, proses
maupun lingkungan di Dusun Gombong Wonotigo, Desa Kembang
limus.
b) Mencari alternatif pemecahan masalah dan upaya kegiatan puskesmas
dengan metode fish bone.
c) Membuat rencana kegiatan atau Plan of Action untuk meyelesaikan
penyebab masalah kurangnya cakupan anggota keluarga tidak ada yang
merokok di Dusun Gombong Wonotigo, Desa Kembang limus

3
D. Manfaat

1. Sebagai data dasar untuk evaluasi program keluarga sehat dan sebagai
pertimbangan bagi Puskesmas Borobudur sehingga dapat meningkatkan
kualitas pelayanan dan meningkatkan cakupan anggota keluarga tidak
ada yang merokok terutama di Dusun Gombong Wonotigo, Desa
Kembang limus
2. Membantu Puskesmas Borobudur dalam mengidentifikasi penyebab dari
rendahnya cakupan anggota keluarga tidak ada yang merokok terutama di
Dusun Gombong Wonotigo, Desa Kembang limus
3. Membantu Puskesmas Borobudur dalam memberikan alternatif
penyelesaian masalah mengenai rendahya cakupan anggota keluarga
tidak ada yang merokok terutama di Dusun Gombong Wonotigo, Desa
Kembang limus
4. Menambah pengetahuan masyarakat mengenai merokok dan membantu
masyarakat memahami bahaya merokok.
5. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama masalah merokok
di wilayah kerja Puskesmas Borobudur
6. Sebagai syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat.
7. Sebagai dasar bagi penelitian lebih lanjut.

E. Metodologi

Survei dilakukan kepada ibu hamil di Desa Tegal Arum Kecamatan Borobudur
Kabupaten Magelang pada hari Rabu tanggal 14 Juni 2017. Jenis data yang diambil
adalah data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dengan cara wawancara
melalui pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan yang diberikan ibu hamil, kader-
kader, dan bidan di Desa Tegal Arum. Sedangkan data sekunder diperoleh dari buku
rekapitulasi KIA Puskesmas Borobudur, buku kohort Desa Tegal Arum, dan buku KIA
ibu hamil.

4
Data yang terkumpul diolah untuk selanjutnya dilakukan analisis masalah dengan
mencari penyebabnya melalui pendekatan sistem, dengan demikian dapat ditemukan
alternatif pemecahan masalah secara sistematis yang paling mungkin dapat
dilaksanakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Antenatal Care (ANC)

Kunjungan Antenatal Care(ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau


dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan
pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan Antenatal Care, petugas
mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis
dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta
ada tidaknya masalah atau komplikasi.5
Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari
faktor risiko kehamilan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Antenatal
Care untuk mendeteksi dini terjadinya risiko tinggi terhadap kehamilan dan
persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan
janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan kehamilannya,
bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin ada atau akan timbul
pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera dapat diatasi sebelum
berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut dengan melakukan
pemeriksaan Antenatal Care. Apabila ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan

5
kehamilan, maka tidak akan diketahui apakah kehamilannya berjalan dengan baik
atau mengalami keadaan risiko tinggi dan komplikasi obstetri yang dapat
membahayakan kehidupan ibu dan janinnya.5,6

B. Kebijakan Program Antenatal Care

Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan


Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) pada dasarnya
mengacu kepada intervensi strategis Empat Pilar Safe Motherhood yaitu
meliputi: Keluarga Berencana, Antenatal Care, Persalinan Bersih dan Aman, dan
Pelayanan Obstetri Essensial. Pendekatan pelayanan obstetrik dan neonatal
kepada setiap ibu hamil ini sesuai dengan pendekatan Making Pregnancy Safer
(MPS), yang mempunyai 3 (tiga) pesan kunci yaitu :7
1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih

2. Setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapat pelayanan yang


adekuat

3. Setiap perempuan dalam usia subur mempunyai akses pencegahan dan


penatalaksanaan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan
komplikasi keguguran.

Kebijakan program pelayanan antenatal menetapkan frekuensi kunjungan


antenatal sebaiknya minimal 4 (empat) kali selama kehamilan, dengan ketentuan
sebagai berikut :

1. Minimal satu kali pada trimester pertama (K1) hingga usia kehamilan 14
minggu. Tujuannya :

a) Penapisan dan pengobatan anemia


b) Perencanaan persalinan
c) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
2. Minimal satu kali pada trimester kedua (K2), 14 28 minggu.
Tujuannya:

6
a) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
b) Penapisan pre eklamsia, gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran
perkemihan
c) Mengulang perencanaan persalinan
3. Minimal dua kali pada trimester ketiga (K3 dan K4) 28 - 36 minggu dan
setelah 36 minggu sampai lahir. Tujuannya :
a) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
b) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
c) Memantapkan rencana persalinan
d) Mengenali tanda-tanda persalinan
Pemeriksaan pertama sebaiknya dilakukan segera setelah diketahui
terlambat haid dan pemeriksaan khusus dilakukan jika terdapat keluhan-keluhan
tertentu.7

C. Tujuan Antenatal Care


Menurut Prawirohardjo (2005), tujuan dari ANC meliputi :
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial
ibu dan bayi
3. Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
Eksklusif
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi
agar dapat tumbuh kembang secara normal.
Mengacu pada penjelasan di atas, bagi ibu hamil dan suami/keluarga dapat
mengubah pola berpikir yang hanya datang ke dokter jika ada permasalahan dengan

7
kehamilannya. Karena dengan pemeriksaan kehamilan yang teratur, diharapkan
proses persalinan dapat berjalan dengan lancar dan selamat. Dan yang tak kalah
penting adalah kondisi bayi yang dilahirkan juga sehat, begitu pula dengan ibunya.7

D. Standar Antenatal Care


Dalam melaksanakan pelayanan Antenatal Care, ada tujuh standar
pelayanan yang harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang dikenal
dengan 7T. Pelayanan atau asuhan standar minimal 7T :7
1) Timbang berat badan/Tinggi Badan
2) Ukur tekanan darah
3) Ukur tinggi fundus uteri
4) Tetanus Toxoid
5) Pemberian tablet besi
6) Test laboratorium sederhana
7) Temu wicara

E. Variabel Penelitian
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
pendidikan, pengalaman orang lain, media massa maupun
lingkungan.7Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan
dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap
hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang
mendukung tindakan seseorang.Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau
hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal,
sadar, insaf, mengerti dan pandai.1
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris
yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa
definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledgement is

8
justified true beliefed). Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.
Dengan demikian, pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia
untuk tahu.7
Dalam kamus filsafat, dijelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah
proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya
sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memilliki yang
diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang
mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam
kesatuan aktif.7
Sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut
menjadi proses berurutan :7
1) Awareness, dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih
dahulu terhadap stimulus (objek).
2) Interest, dimana orang mulai tertarik pada stimulus.
3) Evaluation, merupakan suatu keadaan mempertimbangkan terhadap baik
buruknya stimulus tersebut bagi dirinya.
4) Trial, dimana orang telah mulai mecoba perilaku baru.
5) Adaptation, dimana orang telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan kesadaran dan sikap.

a. Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan domain kognitif pengetahuan mempunyai enam
tingkatan sebagai berikut :7
1) Tahu (Know)
Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari, dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Cara
kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain: menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan dan
mengatakan.
2) Memahami (Comprehension)

9
Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.
3) Aplikasi (Application)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip-
prinsip dan sebagainya.
4) Analisis (Analysis)
Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam suatu
komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja seperti kata kerja mengelompokkan,
menggambarkan, memisahkan.
5) Sintesis (Synthesis)
Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk
keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
6) Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau
objek tersebut berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan sendiri
atau menggunakan kriteria yang sudah ada .7

b. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
kuesioner yang berisi tentang materi yang akan diukur dari subjek penelitian
atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita
ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas .7
1) Tingkat pengetahuan baik bila skor 81%-100%
2) Tingkat pengetahuan cukup bila skor 65%-80%
3) Tingkat pengetahuan kurang bila skor <65%.

10
2. Perilaku
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Sedangkan Robert Kwick mengungkapkan bahwa perilaku adalah tindakan
atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati bahkan dapat dipelajari. 1
Pengukuran perilaku dapat dilakukan dengan wawancara atau kuesioner
tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden.
a. Perilaku baik bila skor 81%-100%
b. Perilaku cukup bila skor 65%-80%
c. Perilaku kurang bila skor < 60%
Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon organisme
atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek. Respon ini
dibedakan menjadi dua:
a) Perilaku tertutup (covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas
pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran dan sikap yang terjadi
pada orang yang memerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati
secara jelas oleh orang lain.
b) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam tindakan
atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang
lain. Oleh sebab itu disebut overt behavior, tindakan nyata atau praktek
(practice) misal, seorang ibu memeriksa kehamilannya atau membawa
anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi.
Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner tersebut, maka perilaku
kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan, minuman, serta lingkungan.

11
Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3
kelompok, yaitu:
1) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau
menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan
bilamana sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini
terdiri dari 3 aspek, yaitu:
i. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila
sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari
penyakit.
ii. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam
keadaan sehat. Perlu dijelaskan disini, bahwa kesehatan itu sangat
dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehat pun perlu
diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal
mungkin.
iii. Perilaku gizi (makan dan minuman). Makanan dan minuman
dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi
sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab
menurunnya kesehatan seseorang bahkan dapat mendatangkan
penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku orang terhadap
makanan dan minuman tersebut.
2) Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan
kesehatan atau disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking
behavior).
3) Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan
fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan
tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Misalnya: bagaimana
mengelola pembuangan tinja, air minum, tempat sampah,
pembuangan limbah, dan sebagainya.

12
F. Analisis Masalah

Berdasarkan hasil survey dari kuesioner dan wawancara yang telah dilakuakan
di desa Tegal Arum serta data kohort KIA desa Tegal Arum, didapatkan masalah berupa
rendahnya cakupan kunjungan K4 bumil sebesar 12,8%.
Untuk menganalisis penyebab masalah manajemen puskesmas, digunakan pola
pendekatan sistem dan pendekatan mutu. Akan tetapi, dalam laporan ini yang digunakan
hanya pola pendekatan sistem saja.
Pendekatan sistem meliputi input (man, method, money, machine, material),
proses (P1 Perencanaan, P2 Penggerakkan dan Pelaksanaan, P3 Pengawasan,
Pengendalian, dan Penilaian) dan lingkungan, yang kemudian dituangkan dalam
diagram fishbone. Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan atau
cakupan kegiatan tidak sesuai dengan target pencapaian.

INPUT PROSES
Man P1 OUTCOME
OUTPUT
Money P2
Method P3 IMPACT
Material

Machine

13
LINGKUNGAN

Fisik, Kependudukan, Sosia Budaya, Sosial Ekonomi, Kebijakan

Bagan 1. Analisis Penyebab Masalah Dengan Pendekatan Sistem

Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan tidak sesuai standar
minimal. Hal yang penting pada upaya pemecahan masalah adalah kegiatan dalam
rangka pemecahan masalah harus sesuai dengan penyebab masalah tersebut,
berdasarkan pendekatan sistem masalah dapat terjadi pada input, lingkungan, maupun
proses.

1. Kerangka pikir pemecahan masalah

a. Identifikasi masalah merupakan menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan, yang


ingin dicapai, menetapkan indikaor tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja.
Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau mengukur hasil
pencapaian. Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi, dengan
keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan.

b. Menentukan penyebab masalah yang diperoleh dari data atau konfirmasi dan
pengamatan.

c. Menentukan alternatif pemecahan masalah.

d. Penetapan pemecahan masalah terpilih dlakukan setelah alternatif pemecahan


masalah ditentukan. Apabila ditemukan beberapa alternatif maka digunakan kriteria
matriks untuk menentukan/memilih pemecahan terbaik.

e. Penyusunan rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (plan
of action atau rencana kegiatan).

14
f. Monitoring dan evaluasi. Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan
pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan
menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahn sudah dapat dipecahkan.

Bagan 2 Siklus Pemecahan Masalah

1. Identifikasi Masalah

2. Monitoring dan evaluasi 3. Menentukan penyebab


masalah

4. Penentuan rencana penerapan

6. Menentukan alternatif
5. Penetapan pemecahan pemecahan masalah
masalah terpilih
2.Analisis penyebab masalah

Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan dengan curah
pendapat dengan petugas kesehatan. Hasil konfirmasi merupakan penyebab paling
mungkin yang akan dituangkan dalam diagram Fish bone sebagai kerangka pendekatan
sistem, seperti yang tampak pada gambar dibawah ini:

15
INPUT

MAN
MONEY
METHODE

MACHINE MATERIAL

MASALAH

P1
P3
P2

LINGKUNGAN

PROSES

Bagan 3.Diagram Fish Bone

3. Pemantauan alternatif pemecahan masalah

Setelah melakukan analisi penyebab maka langkah selanjutnya yaitu menyusun


alternatif pemecahan masalah.

4. Penentuan Pemecahan Masalah Dengan Kriteria Matriks Menggunakan Rumus


M X I X V/C

Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan


penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif
pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan metode kriteria matriks M x

16
1 x V/C. Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan
menggunakan metode kriteria matriks.

a. Magnitude (M) adalah besarnya penyebab masalah dari pemecahan masalah


yang dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat
diselesaikan dengan pemecahan masalah, maka semakin efektif.
a. Importancy (I) adalah pentingnya cara pemecahan masala. Makin penting cara
penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah, maka semakin efektif.
b. Vulnerability (V) adalah sensitifitas cara penyelesaian masalah. Makin sensitif
bentuk penyelesaian masalah, maka semakin efektif.
c. Cost (C) adalah perkiraan besarnya biaya yang diperlukan untuk melakukan
pemecahan masalah. Masing-masing cara pemecahan masalah diberi nilai 1-5

5. Pembuatan Plan Of Action Dan Gann Chart

Setelah melakukan penentuan pemecahan masalah maka selanjutnya dilakukan


pembuatan plan of action Gann chart, Halaman ini bertujuan untuk menentukan
perencanaan kegiatan

BAB III
ANALISA MASALAH

A. Analisa Masalah
Dalam pelaksanaan kegiatan program Puskesmas Borobudur ada
beberapacakupan kegiatan yang belum mencapai target. Salah satu kegiatan

17
yang menjadi masalah yang akan dibahas adalah cakupan kunjungan K4 ibu
hamil yang masih kurang mencapai target yaitu sebesar 92,68 %, sementara
berdasarkan SPM Puskesmas di Kabupaten Magelang target K4 adalah 100%.

Tabel 1. Data Cakupan Kunjungan K4 Ibu Hamil SPM Puskesmas Borobudur Periode
Januari-April 2017
Target Cakupan
Dinkes Sasaran
Indikator Kab. Mgl Sasaran Bulan
Kerja 2016 (%) (1 thn) Berjalan Kegiatan (%) Pencapaian

Cakupan 100% 997 332 219 92,68% 92,68%


kunjungan
bumil K4

Sumber : Data Standar Pelayanan Minimum (SPM PuskesmasBorobudur Periode Januari-April 2017)

Selain itu juga didapatkan data berasal dari laporan bagian KIA, berdasarkan
data dari 20 desa di Borobudur, Desa Tegal Arum menjadi salah satu desa dengan
cakupan K4 terendah yang memberi andil terhadap kurangnya pencapaian target
kunjungan K4 ibu hamil. Data pelayanan dari bulan Januari-April menunjukan angka
cakupan di Desa Tegal Arum sebesar 12,8%.

Tabel 2. Data Cakupan Kunjungan K4 Ibu Hamil Tiap Desa Kecamatan Borobudur Pada
Januari-April 2017

No. Desa Target Sasaran Jumlah


Kunjungan
Bumil K4
(%)

18
1. Bigaran 100% 19 47,9%

2. Ngargogondo 100% 19 47,2%

3. Tanjungsari 100% 21 42,9%

4. Tuksongo 100% 62 41,9%

5. Kebonsari 100% 36 41,7%

6. Sambeng 100% 28 35,7%

7. Wanurejo 100% 99 35,4%

8. Wringin Putih 100% 98 34,7%

9. Kembang Limus 100% 26 34,6%

10. Majaksingi 100% 36 34,3%

11. Karangrejo 100% 41 34,1%

12. Karanganyar 100% 34 32,4%

13. Giri Purno 100% 32 31,3%

14. Candirejo 100% 54 29,6%

15. Giri Tengah 100% 58 29,3%

16. Borobudur 100% 161 25,5%

17. Bumiharjo 100% 46 23,5%

18. Ngadiharjo 100% 69 17,4%

19. Kenalan 100% 12 16,7%

20. Tegal Arum 100% 47 12,8%

Tabel 3. Data Bumil Desa Tegal Arum Periode Januari April 2017
Sasaran Partus Pemberian Jumlah
bumil K1 K1 K4 Abortus Prematur Fe 90 Bumil
(1tahun) murni akses belum
waktunya

19
K4

47 10 1 6 0 1 6 18

Cakupan K4(%) = Jumlah ibu hamil K4 x 100%


Jumlah sasaran ibu hamil
= 6/47 x 100%
= 12,8 %

Dari hasil didapatkan besar cakupan ibu hamil yang melakukan K4di
Desa Tegal Arum 2017 hanya sebesar 12,8 %. Jumlah pencapaian ibu hamil
yang melakukan K4 di Desa Tegal Arum adalah:

:
Pencapaian = Cakupan
Target Dinkes 2017
= 12,8/100 x 100%
= 12,8 %

Dari hasil perhitungan di dapatkan skor pencapaian ibu hamil yang


melakukan K4 di Desa Tegal Arum sebesar 12,8%. Dengan hasil pencapaian
sesuai dengan perhitungan diatas, dapat dikatakan bahwa jumlah kunjungan
ibu hamil K4 masih rendah. Sehingga hal ini merupakan masalah kesehatan
terutama yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Berdasarkan data
sekunder terdapat 3 ibu hamil di desa Tegal Arum tidak melakukan K4 di
wilayah puskesmas Borobudur, maka dari itu diambil 3responden dalam
penelitian ini.
BAB IV

KERANGKA PENELITIAN

20
A. Kerangka Teori

INPUT
Man : Petugas kesehatan
lingkungan dan petugas
Puskesmas lainnya.
PROSES
Money : Bantuan Operasional 1. Jadwal K4
Kesehatan
2. Pelaksanaan penjadwalan K4
Method : Wawancara ibu hamil
dengan kunjungan
Langsung 3. Pencatatan dan pelaporan
kunjungan K4
Material: Pita lila, Tensi Meter,
Timbangan

Machine: Blanko kuesioner

LINGKUNGAN OUTPUT
1. Rumah Ibu Hamil
2. Kondisi geografis Cakupankunjunganbumil
desa Tegal Arum K4
3. Kondisi akses
4. Kurangnya
pengetahuan, dan
perilaku ibu hamil
mengenai K4

Bagan 4. Kerangka Teori


B. Kerangka Konsep

21
Faktortenagakesehatan:
tenagakesehatandan optimal
perankader.

FaktorPerencanaandanpelaks Cakupan K4 bumil di


anaan:penyuluhandankunjun DesaTegal Arum
ganlangsung..

FaktorLingkungan :
kondisiakses,
kondisikeluarga,
pengetahuandanperilakuibuh
amilmengenai K4.

Bagan 5. KerangkaKonsep

22