Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KERJA PRAKTIK

PT BUKIT ASAM, TANJUNG ENIM

JUDUL :

Material Selection Untuk Aplikasi Tahan Impak dan Tahan Aus


Pada Peralatan Tambang PT Bukit Asam

Disusun oleh:
RATNO WIJAYA
2712100036
FABIAN DANANDJAYA P
2712100132

JURUSAN TEKNIK MATERIAL DAN METALURGI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTIK

DI
PT BUKIT ASAM
TANJUNG ENIM SUMATERA SELATAN
PERIODE 3 Juni s.d. 3 Juli 2015

Oleh:

Ratno Wijaya
2712100036
Fabian Danandjaya P
2712100132
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Mengetahui:

Manager Perencanaan Perawatan Pembimbing Utama

Yusmar Iman Malik Anas


NP: 7093130451 NP: 8009130843

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat, serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kerja
praktik di PT Bukit Asam dengan judul Material Selection Untuk Aplikasi Tahan Impak dan
Tahan Aus Pada Peralatan Tambang PT Bukit Asam Laporan kerja praktik ini merupakan
hasil kerja praktik yang penulis laksanakan pada tanggal 3 Juni 3 Juli 2015 dan dibuat
untuk melengkapi Mata Kuliah Kerja Praktik yang menjadi salah satu syarat kelulusan
mahasiswa di Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, laporan
kerja praktik ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan, dan
bimbingan kepada penulis hingga laporan kerja praktik ini dapat diselesaikan.
1. Orang tua penulis yang selalu mendukung dan menasehati penulis dengan kasih sayang
mereka.
2. Bapak Sungging Pintowantoro, S.T, M.T, Ph.D selaku Ketua Jurusan Teknik Material
dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya.
3. Bapak Wikan Jatimurti, ST., M.Sc. selaku Koordinator Kerja Praktik Jurusan Teknik
Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya.
4. Ibu Haryati Purwaningsih ST., M.Sc. selaku Pembimbing Kerja Praktek penulis di
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya.
5. Bapak Iman Malik Anas selaku Engineer Mesin tempat dimana penulis melaksanakan
kerja praktik. Terima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan kepada penulis untuk
kerja praktik di Perencanaan Perawatan Mesin
6. Teman-teman dari Jurusan Teknik Metalurgi dan Material 2012. Terima kasih sudah
banyak membantu dan saling menguatkan selama kita menjalankan kerja praktik di PT
Bukit Asam
7. Keluarga Besar Mas Ryan, yang telah meminjamkan transportasi selama penulis
mengerjakan laporan serta menerima dan menyambut penulis di Tanjung Enim dengan
baik.

ii
8. Pihak lain yang belum penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu kelancaran
kerja praktik penulis selama di PT Bukit Asam. Terima kasih banyak atas bantuan dan
dukungannya.
Penulis berharap laporan kerja praktik ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak yang
membaca. Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam laporan kerja
praktik ini, sehingga penulis mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak mengenakan hati.
Penulis sangat menerima kritik dan saran dari para pembaca yang dapat membangun demi
penulisan laporan selanjutnya.
Tanjung Enim, Juli 2015

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................................ i


KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2 Tujuan.......................................................................................................................... 2
1.3 Ruang Lingkup ............................................................................................................ 2
1.4 Metode Penelitian ........................................................................................................ 3
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ................................................................................. 3
1.6 Sistematika Laporan .................................................................................................... 3
BAB II GAMBARAN UMUM PT BUKIT ASAM .................................................................. 5
2.1 Sejarah PT Bukit Asam ............................................................................................... 5
2.2 Lokasi Perusahaan ....................................................................................................... 6
2.3 Profil PT Bukit Asam .................................................................................................. 6
2.4 Struktur Organisasi Bukit Asam ................................................................................. 8
2.5 Anak Perusahaan ......................................................................................................... 9
BAB III PROSES PENAMBANGAN BATUBARA ............................................................. 10
3.1 Proses Penambangan ................................................................................................. 10
3.2 BWE System ............................................................................................................. 13
3.3 CHF (Coal Handling Facilities) ................................................................................ 15
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 18
4.1 Baja dan Unsur Paduan ............................................................................................. 18
4.2 Perlakuan Panas......................................................................................................... 22
4.3 Kekuatan Impak ........................................................................................................ 22
4.4 Ketahanan Aus .......................................................................................................... 24
BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ..................................................... 26
5.1 Hasil Pengamatan ...................................................................................................... 26
5.2 Pembahasan ............................................................................................................... 26
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................. 39
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ v
LAMPIRAN .............................................................................................................................. vi

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan dunia teknologi dan ilmu pengetahuan menuntut dunia industri untuk
terus bersaing. Industri yang bergerak di bidang tambang menjadi salah satu bidang dengan
persaingan yang sangat ketat. PT. Bukit Asam (PERSERO) Tbk. merupakan salah satu
perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bidang tambang. Sumber Daya
Manusia menjadi prioritas utama bagi perusahaan untuk terus bersaing dengan perusahaan
lain dan juga negara berkembang lainnya. Oleh karena itu, perguruan tinggi yang merupakan
tempat dimana sumber daya manusia dilatih kemampuan intelektual yang dimilikinya harus
bisa memiliki lulusan yang dapat memenuhi kompetensi. Untuk mencapai hal tersebut, perlu
adanya kerjasama yang baik antara perguruan tinggi dengan industri itu sendiri.
Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dirasa masih minim untuk
bisa terjun langsung di dunia industri. Sehingga perlu diadakan suatu kegiatan yang dapat
menunjang hal tersebut, yaitu Kerja Praktek. Melalui program Kerja Praktek ini diharapkan
mahasiswa bisa mendapatkan kesempatan untuk memahami proses secara langsung mengenai
bidang ilmu Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS khususnya di PT. Bukit Asam
(PERSERO) Tbk. Selain itu mahasiswa diharapkan bisa mendapatkan kesempatan untuk
menganalisa, membandingkan, dan mengaplikasikan teori yang selama ini diperoleh di
perguruan tinggi dengan kondisi yang sesungguhnya. Hal lain yang bisa didapat dari Program
Kerja Praktek ini adalah sebagai sarana pencarian sumber daya manusia yang baru dengan
cara mengevaluasi kualitas kerja dari mahasiswa tersebut.
Proses penambangan yang dilakukan di PT. Bukit Asam (PERSERO) Tbk. (yang
untuk selanjutnya disebut PTBA) mengandung banyak disiplin ilmu yang dipelajari di
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS Surabaya. Salah satu dari disiplin ilmu tersebut
adalah pemilihan material. Pemilihan material yang tepat sesuai dengan kondisi dan beban
kerja yang diterima oleh material merupakan hal yang penting.
Pemilihan meterial juga harus mempertimbangkan desain atau rancangannya. Tentu,
sebelum mempertimbangan faktor desain dan beban, yang pertama perlu diketahui adalah
fungsi dari alat atau produk tersebut. Lalu untuk mengetahui bagaimana desain dan kondisi
kerjanya diperlukan analisa lain seperti, apa yang dilakakukan alat itu, dimana alat itu

1
digunakan, bagaimana cara kerjanya, siapa yang menggunakan, dan berapa biaya yang
dibutuhkan. Dengan hasil analisa tersebut dapat diketahui desain yang tepat dan sifat meterial
apa yang harus dimiliki oleh alat tersebut untuk kondisi kerja demikian.
Dalam pertambangan, permasalahan tentang ilmu material yang sering dihadapi
adalah masalah keausan, ketahanan impak dan korosi. Keausan sering kali terjadi pada
komponen yang memegang peran utama pertambangan seperti pada gear, hopper, dan
crusher. Material dengan ketahanan impak yang tinggi juga memiliki peran penting dan
sering ditemukan di alat alat vital seperti Bucket pada BWE. Dengan laju aus yang tinggi
ditambah lingkungan pertambangan batubara yang memiliki PH sekitar 5, material yang ada
di tambang batubara sering rusak.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan umum dan tujuan khusus dalam kerja praktik ini adalah:
a. Tujuan Umum
1. Mengetahui sejarah dan profil PT Bukit Asam.
2. Mengetahui struktur organisasi dan anak perusahaan PT Bukit Asam.
3. Mengetahui proses penambangan batubara di PT Bukit Asam.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui bagian apa saja yang memerlukan sifat tahan aus dan tahan impak pada
peralatan tambang PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
2. Mengetahui jenis material apa saja yang digunakan pada peralatan tambang yang
memerlukan sifat tahan aus dan tahan impak

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup kerja praktek di PT Bukit Asam Tanjung Enim, meliputi kegiatan:
1. Orientasi secara umum mengenai PT BUKIT ASAM Tanjung Enim.
2. Pengenalan struktur organisasi, tinjauan di lapangan dan kegiatan rutin dari masing-
masing bagian tiap satuan kerja.
3. Mempelajari proses penambangan batubara.
4. Mempelajari material yang digunakan pada peratan tambang yang memerlukan sifat
tahan aus dan tahan impak.

2
1.4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan Kerja Praktek ini antara lain:
a) Studi Literatur
Merupakan metode penulisan berdasarkan informasi dan literatur yang bersangkutan
dengan objek yang dibahas. Metode ini digunakan terutama untuk memperoleh teori-
teori yang menunjang laporan ini.
b) Studi Lapangan / Observasi
Merupakan metode penulisan yang dilakukan dengan cara melihat langsung objek
pengamatan atau proses yang terjadi di lapangan. Dalam metode ini penulis juga
melakukan proses wawancara dengan pekerja lapangan yang berada pada cakupan
observasi penulis.
c) Diskusi
Merupakan metode yang dilakukan dengan cara berkonsultasi kepada pembimbing
Kerja Praktek dan dosen pembimbing. Yang mana dapat menambah sumber data
berdasarkan pengalaman di lapangan ataupun informasi yang tidak didapatkan
melalui sumber yang tertulis.

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Pengambilan data ini berlangsung selama 1 bulan dimulai pada tanggal 3 Juni 2015
dan berakhir pada tanggal 3 Juli 2015 bertempat di PT BUKIT ASAM Tanjung Enim,
Sumatera Selatan

1.6 Sistematika Laporan


Sistematika Laporan Tugas Umum Kerja Praktek ini adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, tujuan, ruang lingkup, waktu dan tempat
pelaksanaan, dan sistematika laporan Kerja Praktik.
BAB II : GAMBARAN UMUM PT BUKIT ASAM
Berisi tentang sejarah, lokasi, profil perusahaan, stuktur
organisasi, serta anak perusahaan.

3
BAB III : PROSES PENAMBANGAN BATUBARA
Berisi proses penambangan batubara dari BWE hingga proses
coal handling system di PT Bukit Asam.
BAB IV : TINJAUAN PUSTAKA
Berisi literatur literatur yang berkaitan dengan masalah yang di
bahas pada laporan ini.
BAB V : HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Berisi pengamatan dan pembahasan pada peralatan peralatan
tambang PT Bukit Asam yang menggunakan material tahan aus
dan tahan impak.
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan hasil pembahasan mengenai material tahan aus
dan tahan impak yang digunakan dan saran untuk laporan ini.

4
BAB II
GAMBARAN UMUM PT BUKIT ASAM

2.1 Sejarah PT Bukit Asam


Perusahaan ini didirikan sejak penjajahan Belanda tahun 1919 dengan metode
penambangan terbuka (Open Pit Mining) dengan daerah pertambangan pertama di daerah Air
Laya. Lalu pada tahun 1923 metode penambangan diubah menjadi penambangan bawah
tanah (Underground Mining). Tetapi metode ini hanya bertahan hingga 1940.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai melakukan pembebasan perusahaan
yang dinamakan nasionalisasi. Lalu setelah Belanda mengakui bahwa Indonesia sudah
merdeka, pada tahun 1950 pemerintah Indonesia mengesahkan berdirinya Perusahaan Negara
Tambang Arang Bukit Asam (PN. TABA). Lalu pada tahun 1981, PN. TABA resmi berubah
nama menjadi Perusahaan Terbuka Tambang Batubara Bukit Asam (persero) Tbk. , yang
selanjutnya disebut perseroan.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan atau di sebut juga dengan
PTBA merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang distribusi
batubara yang berpusat di Tanjung enim, Sumatera Selatan. PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
adalah perusahaan milik negara yang bertujuan mengembangkan usaha pertambangan
nasional khususnya batubara. PTBA yang berdiri sejak 1981 termasuk dalam daftar lima
besar produsen batubara di Indonesia. Bahkan penjualan PTBA di dalam negeri termasuk
terbesar kedua.
Di era awal 1970-an saat melambungnya harga minyak, mata dunia terbuka bahwa
batubara merupakan sumber energi alternatif yang murah dan memiliki cadangan besar. Di
awal tahun 1976, Unit Produksi TABA yang merupakan bagian dari Perum Batubara
mendapatkan kunjungan dari pihak Bank Dunia. Unit yang memiliki kapasitas produksi
tahunan 122,000 ton saat itu telah memiliki studi kelayakan sederhana dan memiliki angka
produksi yang tidak melebihi 1 juta ton per tahun. Kemudian diputuskan untuk mengubah
coal mining projectmenjadi coal mining transportation atau pertambangan terpadu.
Pertambangan Terpadu ini dalam perencanaannya transportasi batubara akan
menempuh perjalanan darat sejauh 420 kilometer dan perjalanan laut 100 kilometer dari
lokasi awal (hulu) di area penambangan batubara Tanjung Enim, dan berujung (hilir) di
PLTU Suralaya. Untuk studi kelayakan terpadu program pengembangan ini sendiri, Bank
Dunia dan pemerintah RI masing-masing mengeluarkan anggaran 10 juta dolar AS.

5
2.2 Lokasi Perusahaan
PT Bukit Asam berlokasi di sekitar Pulau Sumatera dan kantor di Jakarta, serta 3
dermaga di Teluk Buyur, Kertapati, dan Tarahan. Lokasi PT Bukit Asam dapat dilihat di
bawah ini dengan luas daerah operasi tambang seluas 90.823 ha :

Gambar 2. 1 Lokasi PT Bukit Asam

Tambang batubara Tanjung Enim seluas 66.414 ha yang meliputi Kabupaten Muara
Enim dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, yang terdiri dari Air Laya (7.621 ha),
Muara Tiga Besar (3.300ha), Banko Barat (4.500 ha), Banko-Tengah Blok Barat
(2.423 ha), Banko-Tengah Blok Timur (22.937 ha), Banjarsari, Kungkilan, Bunian,
Arahan Utara, Arahan Selatan (24.751 ha).
Anak Perusahaan PT Bukit Kendi (882 ha).
Tambang batubara Ombilin seluas 2.950 ha, yang meliputi Lembah Segar dan Talawi.
Lokasi Peranap, Indragiri Hulu Riau (18.230 ha).
Lokasi Kecamatan Palaran, Kotamadya Samarinda melalui anak perusahaan PT
Internasional Prima Coal (3.238 ha).

2.3 Profil PT Bukit Asam


PT Bukit Asam (Persero) Tbk. merupakan perusahaan tambang batubara di Indonesia
yang sebagaian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia sebesar 65,02% dan
publik sebesar 34,98%. Perusahaan tambang yang berdiri pada tanggal 2 Maret 1981
berdasarkan dasar hukum Peraturan Pemerintah No 42 tahun 1980 ini memiliki besar modal
6
dasar senilai Rp 4.000.000.000.000 ( Rp 4 triliun). PT Bukit Asam (Persero) Tbk. ini
beralamat pusat di Jl. Parigi No. 1 Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Berdasarkan laporan
keuangan perusahaan tahun 2014, PT Bukit Asam (persero) Tbk. mendapatkan laba bersih
senilai Rp 2,02 trilliun dengan volume penjualan sebesar 17,96 juta ton. Perusaahan yang
baru saja bertransformasi bisnis untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli
lingkungan ini, memiliki visi dan misi sebagai berikut :

Visi
Perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan
Misi
Mengelola sumber energi dengan mengembangkan kompetensi korporasi dan keunggulan
insani untuk memberikan nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan lingkungan

Untuk mewujudkan visi, misi dari PTBA dan untuk mendirikan budaya perusahaan sebagai
dasar dari keberhasilan jangka panjang,
PTBA memiliki nilai nilai yaitu sebagai berikut :
1. Visioner : Mampu melihat jauh kedepan dan membuat proyeksi jangka panjang
dalam pengembangan bisnis.
2. Integritas : Mengedepankan perilaku percaya, terbuka, positif, jujur, berkomitmen
dan bertanggung jawab.
3. Inovatif : Selalu bekerja dengan kesungguhan untuk memperoleh terobosan baru
untuk menghasilkan produk dan layanan terbaik dari sebelumnya.
4. Profesional : Melaksanakan semua tugas sesuai kompetensi dengan kreativitas,
penuh keberanian, komitmen penuh, dalam kerjasama untuk keahlian yang terus
menerus meningkat.
5. Sadar biaya dan lingkungan : Memiliki kesadaran tinggi dalam setiap pengelolaan
aktivitas dengan menjalankan usaha atas asas manfaat yang maksimal dan
kepedulian lingkungan.

7
2.4 Struktur Organisasi Bukit Asam

Gambar 2. 2 Struktur Organisasi PT Bukit Asam


8
2.5 Anak Perusahaan

Gambar 2. 3 Data Anak Perusahaan PT. Bukit Asam (PERSERO) Tbk.

9
BAB III
PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

3.1 Proses Penambangan


PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Tanjung Enim memiliki 3 sumber tambang yaitu
tambang utama yang berada di Airlaya, lalu di Muara Tiga Besar yang biasa disebut MTB,
dan di Banko Barat. PT Bukit Asam ini merupakan pertambangan open pit atau tambang
terbuka, dimana kegiatan penambangan dilakukan di permukaan bukan di bawah tanah.
Tentunya proses penambangan yang pertama dilakukan adalah proses eksplorasi untuk
mengetahui potensi batubara yang dapat ditambang. Setalah itu, proses penggalian pun
dilakukan. Hasil galian lalu akan diangkut ke tempat penyimpanan batu bara sementara atau
yang biasa disebut dengan stock pile . Lalu, batu bara akan diangkut dengan kereta dan
selanjutnya dengan kapal untuk dikirim ke konsumen. PT Bukit Asam sendiri memiliki
beberapa grade batubara yang digali dan secara garis besar aktifitas penambangan di PT
Bukit Asam dapat dilihat di gambar 3.1 Grade batubara yang diproduksi oleh PTBA dapat
dilihat di tabel 3.1

Tabel 3.1 Grade batubara yang diproduksi oleh PT. Bukit Asam (PERSERO) Tbk.

Pada dasarnya proses penambangan yang terdapat di PT Bukit Asam memiliki 2 tipe
penambangan. yang pertama pertambangan kontinyu (continuous mining) dan penambangan
manual. Dimana metode Penambangan kontinyu ( BWE System ) dioperasikan oleh
perusahaan PTBA sendiri sedangkan untuk metode penambangan manual ( Shovel/Truck )
sebagian besar dilakukan oleh pihak ketiga/Kontraktor. Pada penambangan manual, proses
penanmbangan hanya dilakukan secara sederhana menggunakan alat bantu Shovel dan truk
pengangkut/Dump Truck. Sedangkan penambangan kontinyu dilakukan secara terus menerus
dengan menggunakan alat BWE dan didukung sistem CHF.

10
11
Gambar 3.1 Aktifitas Tambang PT Bukit Asam

Gambar 3.2 Continuous Mining


Proses penambangan dimulai dari sumber tambang yang berada di kawasan Airlaya,
Muara Tiga Besar dan Banko Barat. Ketiga kawasan tersebut menjadi sumber utama tambang
batubara di PTBA. Proses penambangan utama menggunakan alat Bucket Wheel Excavator
(BWE) sebagai alat pengeruk. Alat ini berfungsi untuk mengeruk batubara dari tanah
penutup. BWE menggunakan listrik sebagai sumber tenaga. Setelah batubara dikeruk, lalu
batubara akan jatuh pada conveyor yang sudah terpasang pada BWE sehingga batubara akan
jatuh di ujung BWE yang lainnya. Dalam pengerjaanya, BWE dibantu oleh Belt Wagon
(BW). BW adalah alat yang digunakan sebagai perpanjangan tangan BWE. BW membantu
mengalirkan batubara menuju conveyor excavating (CE).
Setelah batubara sampai di conveyor, batubara akan di antarkan ke distribution point.
Distribution Point adalah tempat dimana batubara dan tanah dipisahkan. Tanah yang berhasil
dipisahkan akan diarahkan menuju outside dump menggunakan Conveyor Dumping (CD),
sedangkan batubara akan dialirkan menuju ke stock pile menggunakan Coal Conveyor (CC).
Stock pile adalah kawasan untuk menimbun batubara. Stock pile terdiri dari gundukan
gundukan batubara yang disusun berdasarkan grade. Stock pile berguna untuk menyimpan
pasokan batubara, karena pada saat hujan tidak ada kegiatan penambangan sehingga
permintaan batubara dipasok dari stock pile ini. Stock pile dilengkapi dengan alat
Stacker/Reclaimer. Sistem operasi Stacker/Reclaimer dapat dibedakan menjdi dua system
yaitu:
Stacking yaitu sistem operasi untuk menumpukkan batubara di stockpile jika TLS
tidak membutuhkan batubara.

12
Reclaiming yaitu system operasi untuk mengambil batubara dari stock pile jika TLS
membutuhkan batubara untuk dimuat ke gerbong.
S/R merupakan suatu mesin sejenis BWE tetapi lebih kecil, kelebihan dari mesin ini bisa
mengambil batubara dan menimbun batubara. Sesuai dengan namanya Stacker/Reclaimer
yang berarti mengambil kembali dan menimbun batubara ke lokasinya.
Setelah ditumpuk di stock pile, batubara sesuai permintaan akan diangkut
menggunakan S/R ke Coal Conveyor (CC) menuju Train Loading Station (TLS). TLS
berfungsi untuk penyimpanan batubara sementara sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam
kereta. TLS dilengkapi oleh hopper pembantu, sehingga batubara dari CC akan masuk ke
dalam hopper. Lalu ketika kereta datang, hopper akan terbuka dan batubara akan jatuh pada
gerbong yang kosong. Kereta lalu di distribusikan ke berbagai macam tujuan salah satunya ke
PLTU, pelabuhan untuk kebutuhan pengiriman dosmetik maupun ekspor.

3.2 BWE System


BWE adalah sebuah alat berat tambang yang digunakan untuk surface mining. Fungsi
utama BWE adalah pengeruk utama dalam penambangan skala besar dan kontinyu. Faktanya
BWE adalah alat penambangan terbesar yang pernah dibuat, dan kendaraan terbesar di darat.
BWE hanya digunakan untuk penambangan batubara.
Secara umum, BWE memiliki 4 bagian yaitu bucket wheel, lengan, conveyor, dan
penggerak. Sebelum pengerukan dilakukan, ahli geologi memastikan ada tidaknya batubara
dibawah tanah tersebut, grade apa yang ada dan batas areal pengerukan. Jika sudah
ditetapkan arealnya, lalu dilakukan analisa ada tidaknya penghalang seperti pohon atau batu.
Penghalang harus disingkirkan sebelum dilakukan pengerukan. Jika ada pohon, harus
ditebang terlebih dahulu dan jalur penambangan harus mampu menahan beban BWE.
Sedangkan jika penghalang berupa batu, maka dilakukan metode bombing jika dibutuhkan.
Setelah semua persiapan selesai, lalu BWE akan mulai menggali. Biasanya, batubara
akan tertutupi oleh tanah, sehingga BWE harus menggali tanah terlebih dahulu. Ketika
menggali tanah, conveyor diarahkan menuju outside dump. Setelah selesai, BWE akan mulai
mengeruk batubara. Bucket wheel bertugas sebagai bagian pertama yang menyentuh bahan
tambang. Maka dari itu, tingkat keausan bucket wheel sangat tinggi.
Karena sulitnya medan yang harus ditempuh BWE, BWE menggunakan chain link
untuk memudahkan gerak maju mundur BWE. Selain itu dengan adanya gear rim pada poros
BWE, maka memungkinkan BWE untuk berputar ke kanan dan ke kiri (slewing). Material

13
tahan impak dan tahan aus yang dibutuhkan pada alat ini adalah : gear rim segment, crawler
chain link, cam for drive thumbler, wheel boogie, dan gigi bucket.

Gambar 3.3 Spefikasi BWE

14
3.3 CHF (Coal Handling Facilities)
CHF atau Coal Handling Facilities adalah sebuah fasilitas atau sistem yang bertujuan
untuk memindahkan batubara dari satu tempat ke tempat lain, pada pertambangan batubara di
PT Bukit Asam ini CHF digunakan untuk memindahkan batubara dari area tambang sampai
ke tempat penampungan atau stockpile yang selanjutnya akan dikirim ke konsumen. Di PT
Bukit Asam selain menangani batubara, fasilitas ini juga untuk menangani tanah hasil
penggalian. Diagram CHF yang terdapat pada PT Bukit Asam dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :

Gambar 3.4 Coal Handling Facilities

Secara garis besar CHF PT Bukit Asam terdiri dari, conveyor system, dump hopper,
crusher, stacking/reclaiming, spreader, stockpile dan TLS (Train Loading Station). Stockpile
merupakan tempat penampungan sementara batubara dimana di PT Bukit Asam, salah satu
stockpile-nya dapat menampung 250.000 ton batubara. Batubara yang berada di stockpile ini
nantinya akan dikirim menggunakan kereta api setelah melalui proses pemuatan batubara di
TLS. Salah satu TLS PT Bukit Asam dapat memuat batubara ke dalam gerbong kereta api
dengan kapasitas curah sebesar 2.800 ton/jam. Stacking/reclaiming merupakan alat untuk
membantu proses penumpukan atau pengambilan batubara yang biasanya ditempatkan di
stockpile. Stacking berarti batubara ditumpuk menggunung pada stockpile, sedangkan
reclaiming berarti mengambil batubara dari stockpile. Stacking/reclaiming bisa dilihat pada
15
gambar 3.5 Spreader merupakan alat untuk menyebarkan tanah sisa penggalian pada tambang
yang dibawa conveyor dumping seperti pada gambar diagram CHF. Spreader ini memiliki
kapasitas 5600 bcm (bucket per minute) dengan berat total 960 ton.

Gambar 3.5 Spreader

Gambar 3.6 Stacker/Reclaimer di Stockpile


Pada penambangan manual menggunakan excavator, tidak terdapat conveyor system yang
dapat langsung memindahkan batubara secara cepat seperti pada penambangan kontinyu
dimana terdapat BWE yang terhubung dengan conveyor distribution point seperti pada
gambar 3.4 di penambangan manual ini batubara yang telah ditambang dikumpulkan pada
satu tempat terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan conveyor system. Tempat penampungan
tersebut disebut dump hopper. Secara sederhana hopper dapat dijelaskan seperti wadah atau
corong untuk menampung batubara dan menuangkannya kembali ke conveyor.
Apabila dilihat dari fungsi dump hopper ini, dapat diketahui bahwa dump hopper ini
akan menerima gaya impak dan gaya gesek yang cukup besar dari batubara. Gaya impak
timbul saat batubara di jatuhkan dari atas dan berbenturan dengan dinding hopper, sedangkan
gaya gesek timbul saat batubara meluncur turun ke arah conveyor. Tentu agar hopper dapat
bertahan dari beban demikian, dinding hopper haruslah dilindungi dengan material yang

16
tepat. Pada dinding hopper ini untuk dapat bertahan dari gaya impak maka dibutuhkan
material yang memiliki ketangguhan yang tinggi. Akan tetapi, dinding yang tangguh tidaklah
cukup, karena dinding hopper juga harus menahan beban gaya gesek dari batubara agar tidak
aus. Untuk mendapat ketahanan terhadap gaya gesek, material dinding hopper juga harus
memiliki kekerasan yang tinggi.
Pada dump hopper juga ditemukan crusher, karena batubara yang masuk ke dump
hopper relatif masih berukuran besar. Crusher ini digunakan untuk mengecilkan ukuran
batubara hingga 200 mm. Pada crusher ini dibutuhkan material dengan kekerasan yang tinggi
untuk menghancurkan batubara. Conveyor merupakan alat untuk memindahkan batubara
yang bentuknya seperti rel panjang. Seperti yang terlihat pada gambar 3.4 diagram CHF,
terdapat beberapa conveyor seperti coal conveyor dan conveyor dumping. Saat batubara
ditambang oleh BWE, batubara tersebut akan didistribusikan ke conveyor distribution point
untuk memisahkan antara material batubara dan tanah. Conveyor ini memiliki panjang rel
berbeda tergantung kebutuhan. Di PT Bukit Asam sendiri memiliki conveyor dengan panjang
jalur yang berbeda diantaranya 500 m hingga lebih. Conveyor ini bergerak dengan kecepatan
5,5 m/detik. Dari satu conveyor ke conveyor lain biasanya dihubungkan dengan transfer
chute. Di transfer chute ini juga biasa ditemukan hopper tanpa ada crusher.

17
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Baja dan Unsur Paduan


4.1.1 Baja
Baja karbon merupakan salah satu jenis baja paduan yang terdiri atas unsur besi
(Fe) dan karbon (C). Dimana besi merupakan unsur dasar dan karbon sebagai unsur
paduan utamanya. Dalam proses pembuatan baja akan ditemukan pula penambahan
kandungan unsur kimia lain seperti sulfur (S), fosfor (P), slikon (Si), mangan (Mn)
dan unsur kimia lainnya sesuai dengan sifat baja yang diinginkan. Baja karbon
memiliki kandungan unsur karbon dalam besi sebesar 0,2% hingga 2,14%, dimana
kandungan karbon tersebut berfungsi sebagai unsur pengeras dalam struktur baja.
Dalam pengaplikasiannya baja karbon sering digunakan sebagai bahan baku
untuk pembuatan alat-alat perkakas, komponen mesin, struktur bangunan, dan lain
sebagainya. Menurut pendefenisian ASM handbook vol.1:148 (1993), baja karbon
dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah persentase komposisi kimia karbon dalam
baja yakni sebagai berikut:
1. Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel)
Baja karbon rendah merupakan baja dengan kandungan unsur karbon dalam
sturktur baja kurang dari 0,3% C. Baja karbon rendah ini memiliki
ketangguhan dan keuletan tinggi akan tetapi memiliki sifat kekerasan dan
ketahanan aus yang rendah. Pada umumnya baja jenis ini digunakan sebagai
bahan baku untuk pembuatan komponen struktur bangunan, pipa gedung,
jembatan, bodi mobil, dan lain-lainya.
2. Baja Karbon Sedang (Medium Carbon Steel)
Baja karbon sedang merupakan baja karbon dengan persentase kandungan
karbon pada besi sebesar 0,3% C 0,59% C. Baja karbon ini memiliki
kelebihan bila dibandingkan dengan baja karbon rendah, baja karbon sedang
memiliki sifat mekanis yang lebih kuat dengan tingkat kekerasan yang lebih
tinggi dari pada baja karbon rendah. Besarnya kandungan karbon yang
terdapat dalam besi memungkinkan baja untuk dapat dikeraskan dengan
memberikan perlakuan panas (heat treatment) yang sesuai. Baja karbon

18
sedang biasanya digunakan untuk pembuatan poros, rel kereta api, roda gigi,
baut, pegas, dan komponen mesin lainnya.
3. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel)
Baja karbon tinggi adalah baja karbon yang memiliki kandungan karbon
sebesar 0,6% C 1,4% C. Baja karbon tinggi memiliki sifat tahan panas,
kekerasan serta kekuatan tarik yang sangat tinggi akan tetapi memiliki
keuletan yang lebih rendah sehingga baja karbon ini menjadi lebih getas. Baja
karbon tinggi ini sulit diberi perlakuan panas untuk meningkatkan sifat
kekerasannya, hal ini dikarenakan baja karbon tinggi memiliki jumlah
martensit yang cukup tinggi sehingga tidak akan memberikan hasil yang
optimal pada saat dilakukan proses pengerasan permukaan. Dalam
pengaplikasiannya baja karbon tinggi banyak digunakan dalam pembuatan
alat-alat perkakas seperti palu, gergaji, pembuatan kikir, pisau cukur, dan
sebagainya.

Gambar 4.1 Diagram kesetimbangan Fe-Fe3C

19
4.1.2 Unsur Paduan
Besi murni sangat lunak untuk digunakan dalam keperluan yang membutuhkan
material dengan sifat yang kuat. Sehingga dalam aplikasinya, penambahan unsur
paduan lain dalam jumlah kecil dapat meningkatkan kekuatan baja tersebut. Ini terjadi
karena adanya perbedaan ukuran atom yang mendesak masuk ke dalam struktur baja
sehingga menyebabkan baja sulit untuk terdeformasi secara atomik. Maka dari itu
seberapa kecil pun penambahan unsur lain dalam baja akan merubah sifat
mekaniknya. Berikut adalah pengaruh unsur paduan terhadap sifat mekanik dalam
baja.
a. Karbon (C)
Karbon adalah salah satu unsur yang terpenting dan paling berpengarh dalam
paduan baja. Dengan ditambahkannya karbon pada baja menyebabkan
meningkatnya kekuatan dan kekerasan tetapi menurunkan sifat elastis, sifat
mampu tempa dan sifat machining baja tersebut. Penambahan carbon pada
baja tidak mempengaruhi sifat anti korosi pada gas, asam dan air.
b. Aluminium (Al)
Aluminium adalah salah satu de-oksidator yang paling bagus jika ditambahkan
nitrogen. Selain sebagai de-oksidator, efek lainnya adalah baja akan lebih
tahan terhadap strain aging. Penambahan sedikit aluminium akan
menyebabkan struktur semakin halus.
c. Krom (Cr)
Penambahan krom akan menaikkan tensile strength dan yield strength baja.
Tensile strength bertambah 0.8-10 MPa untuk setiap penambahan 1% krom.
Semakin tinggi kadar krom, baja akan semakin tahan karat. Ini disebabkan
karena krom menutupi baja dengan lapisan oksida.
d. Mangan (Mn)
Penambahan unsur mangan akan meningkatkan kekuatan, sifat mampu tempa,
sifat mampu las dan yang paling penting adalah meningkatkan kedalaman
kekerasan. Hal inilah yang menyebabkan baja manganese steel memiliki sifat
semakin tangguh jika terus dipakai.
e. Molybdenum (Mo)

20
Penambahan unsur molybdenum akan meningkatkan tensile strength, sifat
mampu las, dan sifat tahan terhadap panas tetapi mengurangi sifat mampu
tempa baja tersebut. Jika dikombinasikan dengan unsur krom dan nikel,
molybdenum akan menambahkan kekuatan baja secara drastis.
f. Nikel (Ni)
Penambahan nikel secara signifikan akan menambahkan ketangguhan, dan
sifat mampu laku panas. Jika dikombinasikan dengan krom, maka kekerasan
baja akan naik dan tahan terhadap korosi. Jika aplikasi yang diinginkan adalah
proses las, maka penambahan nikel tidak di rekomendasikan.
g. Fosfor (P)
Unsur fosfor sangat dihindari dalam baja sehingga dalam aplikasinya dibatasi
untuk unsur ini. Menghilangkan unsur ini dalam baja hampir tidak mungkin,
maka dari itu hanya dibatasi maksimal 0.05%.
h. Timah (Pb)
Penambahan timah pada baja akan meningkatkan sifat machinability baja
tanpa menurunkan tensile strength. Meski begitu, penambahan timah dibatasi
dengan kadar diantara 0.2-0.5%. Ini disebabkan karena timah cenderung
terserbar secara merata pada baja.
i. Sulfur (S)
Penambahan sulfur sangat bagus untuk material tool steel. Dengan
bertambahnya sulfur, maka umur tool steel akan bertambah karena sulfur
mengurangi friksi tool steel dengan benda kerja (hot hardness). Selain itu,
penambahan sulfur mengurangi adanya crack saat proses pengelasan.
j. Silikon (Si)
Bertambahnya kadar silikon pada karbon akan mengakibatkan adanya
peningkatan kekuatan, tahan aus, dan sifat elastis. Inilah kelebihan
penambahan unsur silikon, kekuatan dan sifat elastis material akan bertambah
padahal kedua sifat tersebut saling berbanding terbalik. Ini dikarenakan silikon
membantu terbentuknya presipitasi grafit. Maka dari itu silikon sangat bagus
untuk aplikasi baja per. Di sisi lain, sifat kondutifitas material sangat menurun
drastis, akibatnya unsur silikon harus di minimalisir dalam aplikasi material
elektrik.
k. Vanadium

21
Vanadium adalah unsur paduan utama untuk memperhalus butir. Selain itu,
vanadium adalah salah satu unsur pembentuk karbida dan mengakibatkan sifat
tahan aus, kekuatan saat temperature tinggi, sifat mudah dibentuk, dan sifat
tahan creep pada baja meningkat.

4.2 Perlakuan Panas


Heat Treatment merupakan proses pengubahan sifat logam, terutama baja, melalui
pengubahan struktur mikro dengan cara pemanasan dan pengaturan laju pendinginan. Heat
treatment merupakan mekanisme penguatan logam dimana logam yang akan kita ubah
sifatnya sudah berada dalam kondisi solid. Dalam heat treatment kita memanaskan specimen
sampai dengan temperature austenisasinya.
Tujuan dari heat treatment adalah :
Mempersiapkan material untuk pengolahan berikutnya.
Mempermudah proses machining.
Mengurangi kebutuhan daya pembentukan dan kebutuhan energi.
Memperbaiki keuletan dan kekuatan material
Mengeraskan logam sehingga tahan aus dan kemampuan memotong meningkat.
Menghilangkan tegangan dalam.
Memperbesar atau memperkecil ukuran butiran agar seragam.
Menghasilkan pemukaan yang keras disekeliling inti yang ulet.
Perlakuan panas terdiri dari 2 pendekatan, yakni near equilibrium (mendekati
kesetimbangan) dan non equilibrium (tidak setimbang). Near equilibrium dilakukan
mendekati kondisi equilibrium, sehingga menghasilkan struktur mikro yg mendekati diagram
fasenya. Bertujuan untuk melunakkan struktur kristal, menghaluskan butir, menghilangkan
tegangan dalam, dan memperbaiki machineability. Perlakuan panas near equilibrium dapat
berupa annealing, spheroidizing, normalizing, dan homogenizing.
Sedangkan non quilibrium bertujuan untuk mendapatkan kekerasan dan kekuatan
yang lebih tinggi. Perlakuan Panas non-equilibrium dapat berupa pengerasan (Hardening),
Tempering, Austempering, Martempering ,dan surface hardening Carburizing, Nitriding,
Cyaniding, Flame hardening, Induction hardening).

4.3 Kekuatan Impak

22
Kekuatan impak adalah kemampuan material untuk menyerap energi dari
pembebanan tiba - tiba tanpa mengalami patahan. Biasanya untuk mengukur kekuatan impak
digunakan pengujian izod ataupun charpy test.
Metode Charpy merupakan pengujian tumbuk dengan meletakkan posisi spesimen uji
pada tumpuan dengan posisi horizontal/ mendatar, dan arah pembebanan berlawanan
dengan arah takikan.
Metode Izod merupakan pengujian tumbuk dengan meletakkan posisi spesimen uji
pada tumpuan dengan posisi , dan arah pembebanan searah dengan arah takikan.

Metode Charpy banyak digunakan di Amerika sedangkan Izzod digunakan di Eropa.


Kekuatan impak ini sangat mempengaruhi umur pemakaian material pada desain untuk
aplikasi tertentu. Kekuatan impak dipengaruhi beberapa faktor, yaitu volume, modulus
elastisitas, distribusi pembebanan, dan yield strength. Untuk mendapatkan kekuatan impak
yang tinggi beban yang diterima harus terdistribusi keseluruh material secara merata. Serta
harus memiliki volume yang besar dengan modulus elastisitas rendah dan yield strength yang
tinggi.
Kekuatan impak sangat berkaitan dengan sifak mekanik material yang dimilikinya
terutama sifat ketangguhan. Ketangguhan (toughness) merupakan kemampuan material untuk
menyerap sejumlah energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Energi yang diserap
digunakan untuk berdeformasi, mengikuti arah pembebanan yang dialami. Dengan adanya
ketangguhan material akan terdeformasi platis sebelum terjadi patahan, akan tetapi material
yang ductile bukanlah material yang memiliki ketangguhan yang paling baik.
Kunci ketangguhan yang baik merupakan kombinasi dari kekuatan dan ductility.
Material yang memiliki kekuatan yang tinggi dan duktilitas yang tinggi akan menghasilkan
ketangguhan yang tinggi pula. Ketangguhan dapat diukur dengan menghitung luas area
dibawah kurva tegangan regangan dengan satuan berupa energi per volume. Perbandingan
beberapa material dapat dilihat pada kurva di bawah :

23
Gambar 4.2 Perbandingan Kurva Strain Stress
Beberapa hal yang mempengaruhi ketangguhan material adalah sebagai berikut :
Strain rate ( rate of loading)
Temperature
Notch effect
Sebuah material dapat memiliki ketangguhan yang baik dibawah beban static tetapi
juga dapat mengalami kegagalan dibawah beban dinamik. Ketangguhan menurun seiring
peningkatan pembebenan. Sedangkan saat temperatur rendah, duktilitas dan ketangguhan
menurun. Material mungkin menunjukan ketangguhan yang baik ketika tegangan yang
dikenainya berupa uniaxial, tetapi ketika multiaxial diberikan karena adanya notch, material
tersebut akan tidak dapat bertahan terhadap deformasi plastis dan elastis yang simultan pada
arah yang bervariasi.

4.4 Ketahanan Aus


Setiap benda yang bergerak dan bersentuhan antara satu dengan yang lainnya pasti
mengalami gesekan. Gesekan atau biasa disebut dengan friksi adalah gaya yang menahan
gerakan sliding atau rolling suatu benda terhadap benda lainnya. Penyebab utama gesekan
antara dua benda kelihatannya adalah gaya tarik (adhesi) daerah kontak dari permukaan yang
secara mikroskopik tidak beraturan, jika diperbesar permukaannya menyerupai bukit dan

24
lembah. Gesekan yang teradi secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya keausan
atau hilangnya partikel suatu benda.
Keausan terjadi apabila dua buah benda yang saling menekan dan saling bergesekan.
Keausan yang lebih besar terjadi pada bahan yang lebih lunak. Faktor faktor yang
mempengaruhi keausan adalah kecepatan, tekanan, kekasaran permukaan dan kekerasan
bahan. Semakin besar kecepatan relatif benda yang bergesekan, maka material semakin
mudah aus. Demikian pula sebaliknya, semakin besar tekanan pada permukaan benda yang
berkontak, material akan cepat aus, begitu pula sebaliknya. Keausan yang mengakibatkan
berkurangnya partikel pada benda akan menyebabkan kerusakan pada benda tersebut. Berikut
adalah sifat sifat yang dibutuhkan material tahan aus
Kekerasan (Hardness) dan kekerasan panas (Hot Hardness)
Material tahan aus diharuskan memiliki kekerasan yang tinggi untuk mencegah
terjadinya kerusakan pada material tersebut saat terjadi kontak dengan material lain.
Secara logika juga dapat dipahami bahwa material yang keras akan lebih tahan
terhadap gesekan jika dibandingkan dengan material yang lunak.
Selain kekerasan secara umum, material tahan aus juga harus memiliki sifat hot
hardness yang tinggi. Sifat ini artinya material tahan aus tetap dapat mempertahankan
kekerasannya walaupun pada suhu tinggi sekalipun. Hal ini dikarenakan ketika kontak
antara material terjadi, akan timbul friksi atau gesekan yang disertai dengan pelepasan
panas sehingga suhu permukaan kontak pun dapat meningkat drastis.
Ketangguhan (Toughness)
Material tahan aus harus memiliki ketangguhan yang baik agar material tersebut tidak
mengalami premature failure (pecah / fracture) saat digunakan. Ketangguhan
merupakan kombinasi antara sifat kekuatan dan keuletan dari suatu material. Material
yang tangguh tentunya tidak akan cepat mengalami failure ketika mengalami
pembebanan atau kontak dengan material lain.
Stabilitas Kimia (Chemical Stability)
Material tahan aus harus harus memiliki stabilitas kimia yang baik karena ketika
kontak terjadi dan ada kenaikan suhu, maka ada kemungkinan terjadinya difusi atom-
atom antara material yang mengalami kontak. Hal ini tentunya tidak diinginkan
karena proses difusi atom tersebut dapat menimbulkan segregasi komposisi dan
mengubah sifat mekanis material tahan aus.

25
BAB V
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Pengamatan


Material tahan impak adalah material yang memiliki ketangguhan yang cukup untuk
menerima beban kejut. Material tahan impak biasanya diberikan perlakuan berupa tempering.
Tempering bertujuan untuk memperbaiki sifat material. Material tahan impak harus memiliki
ketangguhan yang bagus, sehingga harus dilakukan proses tempering. Sedangkan material
tahan aus adalah tahan terhadap abrasi dari gaya gesek sehingga biasanya material ini
memiliki kekerasan yang tinggi. Setelah diamati di lapangan, diketahui penerapan komponen
tambang yang membutuhkan material tahan impak dan tahan aus berada pada :
1. Gear Rim Segment Main Slewing pada BWE
2. Crawler Chain Link pada BWE
3. Cam for Drive Thumbler
4. Wheel Bogie (Travel Wheel)
5. Gigi Bucket pada BWE
6. Transfer Chute pada Hopper
7. Breaker Assy
8. Chain Feeder Breaker

5.2 Pembahasan
Gear Rim Segment Main Slewing pada BWE
Gear rim segment adalah gear utama penggerak utama BWE. Gear ini berfungsi untuk
memutar BWE ke kanan dan ke kiri. Gear ini terbuat dari material GS30CrMoV64II.
Komposisi kimia material ini dapat dilihat di tabel 5.1.

Tabel 5.1 Komposisi Kimia GS30CrMoV64II

Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo %V

Min 0.27 0.6 1.3 0.3 0.05


Kadar
Max 0.34 0.6 1 0.02 0.015 1.7 0.5 0.15

Material ini termasuk baja karbon medium. Pada kasus ini, material membutuhkan
sifat tahan aus yang cukup tinggi. Penambahan unsur Cr, Mn, dan Si secara signifikan
menaikkan sifat tahan aus. Penggunaan baja karbon medium pada spare part gear bertujuan
untuk menghindari adanya sifat getas. Sifat getas pada gear harus dihilangkan agar gear tidak
26
failure saat dikenakan beban kejut. Maka dari itu diperlukan perlakuan panas berupa surface
hardening.
Jenis aus yang biasa terjadi di bagian ini adalah fatigue wear dan melt wear. Fatigue
wear terjadi karena beban yang terus menerus diberikan sehingga material mengalami
fatigue. Selain itu, saat gear ini bekerja, memungkinkan terjadinya panas akibat dari gesekan.
Hal ini juga mempercepat keausan gear.

(a) (b)

Gambar 5.1 (a) posisi gear pada BWE (b) gear rim segment dari bawah

Selain itu, masalah yang seringkali terjadi di lapangan adalah gear rim segment
mengalami microcrack. Microcrack terjadi karena material tidak homogen. Dalam hal ini,
komposisi gear memang tidak homogen karena sebuah gear pasti diberikan perlakuan panas
berupa carburizing ataupun surface hardening. Pada skala mikroskopis, material ulet adalah
tidak homogen. Ketika ada beban yang berisolasi (beban dinamik) di daerah yang tidak
homogen tersebut akan menyebabkan local yielding pada daerah tersebut. Yielding plastis
yang terlokalisasi tersebut menyebabkan distorsi dan membentuk slip band sepanjang batas
kristal material. Slip band adalah daerah yang sangat intens mengalami deformasi akibat
shear motion. Dengan semakin banyaknya tegangan yang berosilasi maka slip band terus
bertambah dan akan bergabung membentuk mikroskopis crack. Walaupun tidak ada notch
mekanisme ini tetap terjadi sepanjang beban dinamik melampaui yield strength di suatu
daerah mikroskopik pada material. Keberadaan void atau inclusion membantu terjadinya
crack.
Mekanisme lain penyebab crack propagation adalah korosi. Apabila ada suatu
komponen mesin yang terdapat crack di dalamnya berada di lingkunagan korosif maka crack
dapat tumbuh ketika menerima beban statik. Kombinasi tegangan dan korosi memiliki efek
yang saling bersinergi satu sama lain yang mana material akan cepat terkorosi ketika
menerima tegangan dibandingkan material yang tidak menerima tegangan. Kondisi akibat
27
kombinasi tersebut dapat berbentuk stress-corrosion (tegangan yang mempercepat korosi)
atau environmentally assisted cracking (lingkungan korosif yang membantu crack
propagation). Jika komponen mesin tersebut menerima beban dinamik di lingkungan korosif,
maka akan lebih cepat pertumbuhan crack-nya dibandingkan jika tidak berada di lingkungan
korosif.
Dengan kondisi lingkungan asam batubara, ditambah beban kerja berlebih untuk
mengejar target produksi akan mempercepat proses microcrack ini. Selama ini, PTBA hanya
melakukan proses polishing untuk menanggulangi microcrack ini. Umur gear ini tidak bisa
diprediksi, tetapi rata rata penggantian gear ini 3 tahun sekali.

Crawler Chain Link


Crawler chain link adalah bagian pada BWE yang berfungsi sebagai penggerak utama
untuk maju dan mundur. Crawler chain link terbuat dari material Austenitic Manganese Steel
seperti ASTM A 128 (A) dengan komposisi kimia pada tabel 5.2.

Tabel 5.2 Chemical composition for crawler chain link

Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr

Min 0.9 11 1.5


Kadar
Max 1.3 0.8 14 0.07 0.04 2.5

Austenitic manganese steel sangat bagus digunakan untuk keperluan alat berat karena
material ini memiliki toughness yang paling bagus dari material lainnya. Ciri khas Austenitic
manganese steel apabila menerima tumbukan dengan besaran tumbukan tertentu yang
berulang ulang semakin meningkatkan nilai kekerasan tanpa terjadi retak atau cracking.
Austenitic manganese steel atau lebih dikenal dengan Baja mangan Hadfield berbeda dari
baja lain yang mendapatkan pengerasan permukaan dengan kedalaman kekerasan tetapi
seperti nitriding atau carburizing. Kekerasan yang dimiliki baja mangan terdapat keuletan
tinggi di dalamnya sehingga dapat dikatakan baja mangan Hadfield memiliki ketangguhan
yang tinggi.
Tabel 5.4 Sifat Mekanik Crawler Chain Link

Mechanical Properties

Tensile Strength Yield Strength Shear Streangth

600 N/mm2 300 N/mm2 580 N/mm2

28
Gambar 5.2 Crawler Chain Link

Permasalahan yang sering terjadi pada chain link adalah patah. Ini terjadi karena
beban geser yang diterima crawler chain link sangat besar. Ini dapat dijelaskan karena adanya
konsenterasi panas di salah satu bagian crawler chain link. Distribusi beban dapat dilihat pada
gambar 5.4.

Gambar 5.3 Posisi crawler chain link dan sayap (sheet wings)

Gambar 5.4 Distribusi beban crawler chain link.


29
Karena adanya beban geser yang melebihi kapasitas maka seringkali crawler chain
link mengalami patah. Maka dari itu, proses manufaktur dari crawler chain link sangat
menentukan umur dari crawler chain link.

Cam for Drive Thumbler


Cam adalah salah satu unit pembentuk gerigi. Material utama pembentuk cam
biasanya adalah ASTM 4135 atau JIS SCM3H atau DIN 1.7225 (GS42CrMo4). Komposisi
material dan spesifikasi dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.5 Komposisi Kimia EN 10083

Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo

Min 0.38 0.6 0.8 0.2


Kadar
Max 0.45 0.6 1 0.05 0.15 1.2 0.3

Sementara itu dibutuhkan mechanical properties seperti pada tabel 5.4

Tabel 5.6 Mechanical Properties for Cam Drive Tumbler

Mechanical Properties

Tensile Strength Hardness Limit of Elasticity

90 MPa 270-330 HB 800 MPa

Dengan permintaan mechanical properties seperti itu, dibutuhkan perlakuan pada


material tersebut. Dengan kadar karbon medium, baja ini dapat di quench untuk mendapatkan
kekerasan yang diinginkan. Setelah itu, baja ini di temper untuk memperbaiki sifat
mekaniknya. Setelah itu, baja diberikan perlakuan surface hardening hingga mendapatkan
hardness sebesar 330 HB.

30
Gambar 5.5 Cam untuk Drive Thumbler
Wheel Boogie
Wheel Boogie adalah pasangan dari cam drive. Saat cam berputar, maka wheel boogie
akan berputar juga. BWE membutuhkan roda berbentuk wheel boogie karena desainnya yang
fleksibel dan seimbang untuk jalur yang bergelombang (tidak rata). Untuk mencegah adanya
kegagalan akibat berbedanya mechanical properties cam dengan wheel boogie, maka dari itu
material dan mechanical properties wheel boogie sama dengan cam drive.

Gambar 5.6 Wheel Bogie BWE

Material yang digunakan untuk wheel bogie berupa ASTM 4135. Dimana material tersebut
telah melalui proses oil quench dan kemudian melalui proses tempering. Material ini harus
mampu dalam menahan beban bobot hingga 554 ton dengan jumlah 16 wheel bogie dalam
satu BWE. Material wheel bogie ini, bukannya hanya keras tetapi juga memiliki nilai elastis.

Tabel 5.7 Komposisi Kimia Wheel Bogie


Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo

Min 0.38 0.6 0.8 0.2


Kadar
Max 0.45 0.6 1 0.05 0.15 1.2 0.3

Tabel 5.8 Sifat mekanik Wheel Bogie

Mechanical Properties

Tensile Strength Limit of Elasticity Hardness


900 1100 N/mm2 800 N/mm2 270-330 HB

31
Gigi Bucket BWE
Tugas utama BWE adalah mengeruk batubara. BWE sendiri memiliki Bucket sebagai
pengeruk utama. Bucket inilah yang pertama kali menyentuh tanah ketika proses
penambangan berlangsung. Bucket sendiri terdiri dari beberapa bagian, tetapi bagian yang
bertugas sebagai penghancur adalah gigi bucket. Gigi bucket terbuat dari baja karbon
menengah dengan komposisi seperti pada tabel 5.5.

Tabel 5.9 Komposisi kimia gigi bucket

Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo

Min 0.38 0.6 0.8 0.2


Kadar
Max 0.45 0.6 1 0.05 0.15 1.2 0.3

Sementara itu, gigi bucket membutuhkan tensile strength yang sangat tinggi. Mechanical
properties yang dibutuhkan seperti pada tabel 5.6.

Tabel 5.10 Sifat mekanik yang dibutuhkan gigi bucket

Mechanical Properties

Tensile Strength Yield Strength Hardness

163.1-165.6 MPa 140.1-143.9 MPa 472 HB

Fungsi utama gigi bucket adalah untuk menghancurkan. Hanya dibutuhkan untuk
menghancurkan batubara. Untuk mengoptimalkan kerja mesin dan untuk memangkas
pengeluaran digunakan baja karbon rendah. Selain murah, mudah ditemukan di pasaran, baja
karbon rendah juga memiliki toughness yang tinggi. Artinya, ketahanan impak yang cukup
tinggi untuk menerima beban kejut dari batubara, selain itu baja ini juga memiliki kekerasan
yang cukup. Karena memiliki kekerasan yang cukup, ketahanan aus juga cukup tinggi.
Diperlukan penggantian gigi secara berkala jika gigi sudah aus.
Dalam satu wheel, terdapat 14 bucket yang masing masingnya memiliki 6 gigi.
Tingkat keausan minimal 70 mm per 300 jam. Kerusakan utama yang sering terjadi pada gigi
bucket adalah aus, patah dan bengkok. Patah dan bengkok gigi bucket terjadi karena adanya
tumbukan gigi bucket dengan batu pack yang menyerupai batubara. Batu ini memiliki warna
yang hampir mirip dengan batubara tetapi memiliki kekerasan yang lebih dibanding batubara.
Seringkali gigi bucket patah karena tertumbuk batu ini. Aus juga menjadi masalah utama.
32
Keausan pada gigi bucket tidak merata. Perawatan dilakukan secara visual. Jika ada gigi yang
sudah aus, akan ditangani sebelum BWE beroperasi.

Gambar 5.7 Gigi Bucket

Transfer Chute
Transfer Chute merupakan bagian dari CHF ( Coal Handling Facilities ). Pada bagian
CHF ini material yang memerlukan sifat tahan aus dan tahan impak adalah pada bagian
hopper yang di tunjukkan pada gambar 5.8. untuk melapisi dinding hopper tersebut
digunakan material yang mampu menahan impak akibat dari hantaman batubara saat jatuh
dan tahun aus karena batubara akan mnegalami sliding. Kekuatan impak yang diterima
dinding hopper ini harus mampu menahan batubara yang jatuh dari ketinggian hingga enam
meter lebih dengan kecepatan dari conveyor hingga 4 m/detik. Material batubara yang masuk
ke hopper dalam sehari dapat mencapai 750 ton/jam. Selain itu, dinding hopper juga harus
mampu tahan terhadap korosi karena batubara memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi.
Untuk dapat bekerja pada kondisi demikian, pelapis untuk dinding hopper
menggunakan wearplate. Wearplate merupakan material yang memiliki sifat tahan terhadap
abrasi sangat baik tetapi juga memiliki ketahanan terhadap temperatur dan impak yang baik
pula. Ketahanan terhadap abrasi dan impak ini didapatkan dari sifat materialnya yang
memiliki kekerasan dan ketangguhan yang baik sekaligus. Wearplate biasa dikembangkan
dalam berbagai produk. Salah satu produk tersebut yang digunakan di PT Bukit Asam adalah
produk duaplate D60.

33
a. b.

Gambar 5.8 a. Transfer Chute b. Plate pada Hopper

Duaplate D60 adalah dua plat, yaitu wearplate dan base plate, yang digabungkan
dengan proses welding. Duaplate D60 merupakan material austenitic chromium carbide yang
digunakan untuk wearplatenya dan sebagai base material menggunakan mildsteel ASTM
A36. Material austenitic chromium carbide iron ini secara mikrostruktur terdiri dari karbida
chromium yang keras yang telah melalui proses quenching dan tempering. Kemudian untuk
menggabungkan material wearplate dengan base metalnya, biasanya digunakan cara
pengelasan baik secara vertikal maupun horizontal ditambah dengan adanya pemasangan
baut. Baut ini dipasangkan ke wearplate dan base metal memiliki jumlah yang berbeda
tergantung besar dimensi dari plate tersebut dan dimensi hoppernya. Dimensi plate yang
dipakai PT Bukit Asam dapat ditemukan dengan ukuran 13x650x800, 10x630x470, dsb,
sehingga diantara dimensi plate tersebut ada yang membutuhkan 4 hole baut atau 12 hole
baut. Baut tersebut juga akan dilas untuk melindungi dari keausan. Komposisi material dan
sifat mekanik austenitic chromium carbide iron dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.11 Komposisi kimia

Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo

Min 4 28
Kadar
Max 5 0.8 2.2 36

34
Tabel 5.12 Sifat mekanik

Mechanical Properties

Vickers Hardness
VFC Primary Carbide
Macro
20 - 40 % 620 - 690

Dengan komposisi kimia dan sifat mekanik demikian didapatkan bahwa material D60
ini dapat digunakan dengan laju keausan 0,5 mm dengan lama jam operasi 2.186 jam ( 6
bulan). Akan tetapi tidak tentu pada waktu 6 bulan tersebut terjadi penggantian terhadap plate
yang rusak. Kerusakan dilapangan dapat berupa material aus, pecah, retak, dan korosi. Selain
itu, tidak secara keseluruhan dinding hopper terjadi kerusakan. Kerusakan lebih sering terjadi
pada daerah yang sering menerima beban impak, yaitu pada bagian bawah yang memiliki
sudur kemiringan. Pada daerah ini, dengan pengecekan visual, sering terjadi pecah dan retak
dibanding keausan, sehingga membutuhkan perbaikan dengan cara penggantian yang baru.

Gambar 5.9 Wearplate yang mengalami kerusakan

Breaker Assy
Breaker assy merupakan komponen dalam alat crusher. Sesuai dengan namanya,
crusher berfungsi untuk menghancurkan dalam hal ini batubara yang berukuran besar
menjadi ukuran kecil sesuai yang diinginkan. Breaker assy merupakan komponen penting
dalam crusher karena breaker assy bertujuan untuk menghancurkan batubara tersebut. Pada
breaker assy ini haruslah memiliki sifat material yang cukup keras untuk menghancurkan dan
tahan aus. Namun sifat tersebut juga harus didukung dengan sifat tahan terhadap korosi
karena batubara bersifat asam. Dalam satu breaker assy, terdapat sekitar 30 gigi pemecah atau
35
pick breaker. Pick breaker inilah yang sifatnya konsumtif karena cepat mengalami keausan.
Pick breaker ini ditempat pada holder dan ring untuk menyambungkan pada main body
breaker assy sehingga dapat diganti. Breaker Assy ini biasa terpasang pada dump hopper.
Breaker assy bekerja dengan motor penggerak sebesar 1500 rpm yang tereduksi hingga 39
rpm, 39 rpm inilah kecepatan yang diterapkan pada breaker assy. Output batubara yang telah
dihancurkan, ukurannya akan berkurang hingga 200 mm.

Gambar 5.10 Breaker Assy

Material utama yang digunakan adalah HB500 dan AISI 4145. Baik HB500 dan AISI
4145 memiliki kekerasan yang cukup dengan kandungan karbon dan molydebnumnya.
Material ini juga memiliki ketahanan terhadap korosi yang cukup baik dengan adanya unsur
chromium. Kondisi aktual dilapangan, breaker assy ini mampu bekerja hingga 8 bulan.
Dalam waktu 8 bulan ini dapat terjadi keausan, patah, korosi dan crack. Keausan tentu terjadi
karena crusher bergesekan terus menerus dengan batubara sehingga terjadi abrasi pada
permukaan pick breaker. Biasanya bagian yang paling aus terjadi pada pinggir breaker assy.
Breaker assy ini juga dapat mengalami patahan dikarenakan beberapa kali ada batuan lain
yang masuk kedalam crusher yang kekerasan diatas batubara. Breaker assy juga mengalami
korosi namun karena bagian yang terkorosi mengalami gaya gesek terus menerus dan
mengerus bagian yang terkorosi, daerah yang terkorosi tidak terlihat. Breaker assy ini apabila
tingkat keausan masih rendah, dapat di las atau hard facing pada pick breakernya. Sedangkan
bila sudah parah pick breaker ini akan langsung diganti.

36
Tabel 5.13 Komposisi Kimia

Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo

HB 500 0.26 1.3 1.9 0.03


AISI 4145 0.45 0.9 1 0.2

Tabel 5.14 Sifat Mekanik

Mechanical Properties

Tensile Strength Yield Strength Ellongation


HB 500 1350 1700 Mpa 1350 MPa 10 %
AISI 4145 140 ksi 120 ksi 13 %

Gambar 5.11 Breaker Assy yang mengalami kerusakan

Chain Feeder Breaker

Gambar 5.12 Chain Feeder Breaker

Sama halnya dengan breaker assy, chain feeder breaker merupakan bagian komponen
pada alat crusher. Rantai ini berfungsi untuk menggerakan belt pada crusher, sehingga
37
material batu bara dapat di hancurkan. Sama halnya breaker assy, rantai ini bekerja pada
hopper yang tiap jamnya mampu menampung batubara hingga 750 ton. Rantai ini bergerak
dengan pompa hidrolik. Pada rantai ini dapat digunakan SAE 1045. SAE 1045 merupakan
baja karbon medium.
Baja 1045 memiliki sifat weldabilty dan machinibilty yang baik. Dengan perlakuan
panas berupa hardening, baja ini akan memiliki kekerasan yang cukup tinggi. Oleh karena itu,
menggunakan bahan material tersebut sudah cukup memiliki kekerasan dan kekuatan untuk
menahan keausan akibat gaya gesek dan cukup kuat untuk menghantarkan belt. Pada kondisi
normal, rantai ini hingga mencapai titik keausan yang tidak layak pakai lagi dapat bertahan
hingga pemakain selama 9 bulan. Namun pada praktiknya, rantai ini dapat mengalami
patahan seperti pada gambar 5.13. hal ini terjadi karena adanya batu pack atau batu asing
selain batubara yang memiliki nilai kekerasan cukup tinggi dan masuk kesela sela rantai
sehingga menyebabkan patahan, sehingga perbaikan yang dilakukan adalah berupa
penggantian.
Tabel 5.15 Komposisi Kimia
Unsur %C %Si %Mn %P %S %Cr %Mo

Min 0.38 0.75 0.8 0.15


Kadar
Max 0.43 10. 0.0035 0.0035 1.1 0.25

Tabel 5.16 Sifat Mekanik

Mechanical Properties

Tensile Strength Yield Strength Hardness


565 MPa 310 MPa 163 HB

Gambar 5.13 Chain Feeder Breaker yang mengalami kerusakan

38
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pengamatan didapatkan kesimpulan bahwa pada peralatan tambang banyak
ditemukan komponen yang memerlukan material bersifat tahan aus dan tahan impak sebagai
berikut :
1. Gear Rim Segment Main Slewing pada BWE (Cast Steel)
Memerlukan sifat tahan aus yang tinggi, ketangguhan yang cukup dan kekerasan yang
tinggi. PTBA menggunakan material GS30CrMoV64II. Penambahan unsur Cr dan Si
secara signifikan menaikkan sifat tahan aus.
2. Crawler Chain Link pada BWE (Austenitic Manganese Steel)
Ciri khas Austenitic manganese steel apabila menerima tumbukan dengan besaran
tumbukan tertentu yang berulang ulang semakin meningkatkan nilai kekerasan tanpa
terjadi retak atau cracking. Cocok untuk aplikasi tahan aus. PTBA menggunakan
material ASTM A-128 (A).
3. Cam for Drive Thumbler (Cast Steel)
Dengan kadar karbon medium, baja ini dapat di quench untuk mendapatkan kekerasan
yang diinginkan. Setelah itu, baja ini di temper untuk memperbaiki sifat mekaniknya
untuk bekerja dalam aplikasi tahan aus d an impak. PTBA menggunakan material
ASTM 4135.
4. Wheel Bogie (Travel Wheel) (Cast Steel)
Merupakan material yang melalui oil quenching dan tempering, memiliki kekerasan
yang cukup tinggi dengan elastisitas yang memadai. Cocok untuk menahan beban
besar dan aplikasi tahan aus. PTBA menggunakan material ASTM 4135.
5. Gigi Bucket pada BWE (Cast Steel)
Untuk mengoptimalkan kerja mesin dan untuk memangkas pengeluaran digunakan
baja karbon rendah. Selain murah, mudah ditemukan di pasaran, baja karbon rendah
juga memiliki toughness yang tinggi dan memiliki kekerasan yang cukup.
6. Transfer Chute pada Hopper (Austenitic Chromium Carbide Iron)
Memiliki kekerasan yang tinggi untuk menahan keausan dan ketangguhan yang tinggi
pula untuk menahan beban impak. PTBA menggunakan material Duaplate D60.
7. Breaker Assy (Chromium Molybdenum Alloy Steel)
PTBA menggunakan material ASTM 4145. Material tersebut memiliki kekerasan dan
ketangguhan yang cukup untuk aplikasi tahan aus dan tahan impak.
39
8. Chain Feeder Breaker (Medium Carbon Steel)
Merupakan baja dengan kekerasan yang cukup tinggi, sehingga tahan terhadap
keuasan akibat gaya gesek dan adanya unsur Cr untuk mencegah korosi. PTBA
menggunakan material SAE 1045.

40
DAFTAR PUSTAKA

A Macsteel Group Company. 2005. MACSTEEL : SPECIAL STEELS CATALOGUE. Lea


Road Dunswart, South Africa.
Albar, M. Ekaditya. 2012. Material Selection. Jakarta, Indonesia.
ASM Internationals. 1991. ASM Handbook Volume 4 Heat Treating. America.
Bonjak, Sran M. dkk. 2011. Failure Analysis of the Stacker Crawler Chain Link. Berlin :
Germany. Procedia Engineering 2010.
Callister, William D. 2007. Materials Science and Engineering : an Introduction. America.
John Wiley & Sons, Inc.
Erinofiardi, dkk. 2013. Perancangan Roda Gigi Lurus, Roda Gigi Miring dan Roda Gigi
Kerucut Lurus Berbasis Program Komputasi. Bengkulu, Indonesia.
Kaelani, Yusuf dan Dwi Tarina W. 2012. Studi Eksperimental Laju Keausan (Specific Wear
Rate) Resin Akrilik dengan Penambahan Serat Penguat pada Dental Prosthesis.
Surabaya, Indonesia.
Marinkovi, Zoran dan Goran Petrovi. 2004. Processing the Lifetime of Bucket Wheel
Excavator Parts in Strip Mine Technologies. Facta Universitatis : Serbia and
Montenegro. Mechanical Engineering vol.2.
Mukti. 2011. Kriteria Kegagalan Lelah. Solo : Indonesia. Universitas Negeri Solo.
Nurdiansyah, Yanto Ahmad. 2011. Perhitungan Keausan berbasis FEM pada Sistem Rolling
Sliding Contact. Semarang, Indonesia.
Ramachandran, V., dkk. 2005. Failure Analysis of Engineering Structures : Metodolgy and
Case Histories. Bangalore : America. ASM International.
Setiyorini, Yuli dan Mohammad Ismanhadi S. 2013. Pengaruh Media Pendingin pada Proses
Hardening terhadap Struktur Mikro Baja Mangan Hadfield AISI 3401 PT Semen
Gresik. Surabaya, Indonesia.
Suherman, Wahid. 2001. Diktat Perlakuan Panas. Surabaya, Indonesia.

v
LAMPIRAN

Gambar dimensi Crawler Chain Link

vi
Gambar Dimensi Hopper

vii
Gambar Dimensi Duaplate D60

viii
Gambar Dimensi Gigi Bucket

ix
Gambar Dimensi Liner

x
Gambar Dimensi Breaker Assy

xi
Gambar Dimensi Breaker Assy dan Posisi Pick

xii
Gambar Dimensi Chain Feeder Breaker

xiii