Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH MERELASASIKAN AGAMA

DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM

Disusun Oleh :
WINDA DAHNIARI R.
I A D3 KEPERAWATAN

STIKES HARAPAN BANGSA PURWOKERTO


TAHUN AJARAN 2014/2015

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah biologi tentang limbah dan pemanfaatannya
dengan baik.
Adapun makalah ilmiah biologi tentang limbah dan pemanfaatannya ini
telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak
lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah biologi ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ilmiah biologi
tentang limbah dan pemanfaatannya ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya
sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

ii
DAFTAR ISI

Halaman Awal ................................................................................................. i


Kata pengantar ................................................................................................ ii
Daftar isi ......................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 2
A. Merelasasikan islam dalam kehidupan seorang muslim................... 2
B. Islam tidak ditentukan oleh nama atau keturunan ............................ 2
C. Wadah (Jamaah) Bagi Seorang Muslim ........................................... 5
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 8
A. Kesimpulan ...................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 9

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam semesta ini, atas segala nikmat
dan karunia-Mu, khususnya segala hikmah dan hidayah-Mu, agar kami hamba-Mu
bisa terus-menerus mengingat dan memuji-Mu. Shalawat bagi utusan-Mu, Nabi
Muhammad saw, beserta seluruh keluarganya, para sahabatnya, para pembantu
setianya pada jamannya, dan para khalifah sepeninggalnya.
Semoga Engkau selalu menganugerahkan bagi hamba-hamba-Mu segala
pengetahuan yang baik-baik, yang semakin mendalam dan sempurna, agar
semakin meningkatkan pemahaman atas ajaran-ajaran agama-Mu yang lurus
(keimanan batiniahnya), agar bisa dipakai untuk mendukung dan memperkuat
pengamalannya (keimanan lahiriahnya).

1
BAB II
PENDAHULUAN

A. MERELASASIKAN ISLAM DALAM KEHIDUPAN SEORANG


MUSLIM
Pada Tulisan ringkas berikut akan dijelaskan tentang bagaimana
seharusnya sikap seorang Muslim terhadap agamanya. Hal ini menjadi penting
sekali sebab banyak diantara ummat islam sudah merasa cukup hanya karena
dilahirkan sebagai seorang muslim tanpa mau lagi untuk mendalami
Islam. kondisi demikian akhirnya banyak ummat yang tidak mengetahui
ajaran agamanya bahkan seringkali berperilaku diluar tuntunan agamanya
dengan mengambil produk-produk luar Islam yang sesat dan menyesatkan.
Semoga dengan tulisan ringkas ini, kita tergugah untuk mendalami
Islam dan memasukkannya ke dalam sanubari terdalam, sehingga
tindaktanduk kita akan terbimbing dan sesuai dengan ajaran Islam yang
sempurna. semoga

B. DEFINISI MUSLIM
1. Siapakah Muslim Itu?
Dewasa ini ummat islam di Indonesia merupakan mayoritas
dibandingkan dengan jumlah penganut/ummat lainnya. Hal ini terlihat
dalam sensus penduduk tahun 1990 dimana populasi/jumlah penduduk
yang beragama islam sekitar 88% dari total penduduk Indonesia. Dengan
jumlah yang cukup besar itu semestinya nilai-nilai keislaman mampu
mewarnai kehidupan/aktivitas kehidupan masyarakat Indonesia pada
umumnya dan ummat Islam pada khususnya. Namun hal ini tidak dapat
terlaksana, sebab meskipun ummat islam mayoritas dalam kuantitas tapi
ummat Islam juga merupakan minoritas dalam kualitas. Maksud dari
minoritas dalam kualitas adalah banyaknya ummat islam yang tidak
mengerti (tidak mau tahu) tentang islam itu sendiri. Kondisi ini diperburuk

2
dengan sikap sebagian besar ummat islam yang merasa bahwa mereka
adalah seorang islam dikarenakan nama dan keturunan yang disandangnya.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini maka wajarlah bila -nilai-nilai
ilahiyah tidak terwujud dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia
pada umumnya, dan masyarakat islam pada khususnya.
Melihat situasi diatas timbul satu pertanyaan tentang definisi
seorang muslim. Apakah seseorang dianggap sebagai muslim hanya
dengan menyandang nama dan keturunan islam?

2. Islam Tidak Ditentukan Oleh Nama dan Keturunan


Apakah benar ungkapan di atas bahwa untuk menjadi muslim
cukup dengan hanya menyandang nama atau keturunan islam saja?
Tentunya tidak. Untuk menjadi seorang muslim tidaklah ditentukan oleh
nama yang disandangnya atau karena ia keturunan dari seorang tokoh
islam, tapi untuk menjadi seorang islam ia harus menyerahkan seluruh
kehidupannya hanya pada Alloh semata. Boleh-boleh saja seseorang yang
karena namanya menyandang nama islam atau keturunannya merupakan
tokoh islam lalu mengklaim bahwa dirinya sebagai seorang islam. Contoh
kasus diatas telah ada pada pentas sejarah Islam itu sendiri. Sebagai contoh
anak seorang Nabi Nuh dinyatakan oleh Alloh bukanlah sebagai orang
islam karena ia tidak mau tunduk pada ketentuan yang telah ditetapkan-
Nya. Dan betapa banyaknya orang yang memakai nama islam ternyata
dalam kesehariannya "alergi" terhadap islam. Kalau anak seorang Nabi
saja tidak diakui keberadaannya dalam islam, bagaimana dengan kita yang
pada kenyataannya hanyalah seorang manusia biasa?
Untuk menjadi seorang muslim, maka "seseorang" harus
membuktikannya dalam tindakan kesehariannya. Bila seseorang dalam
aktifitas kesehariannya tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh
Alloh, maka padahakekatnya orang tersebut belum dapat dikatakan
sebagai muslim.

3
3. Komitmen Muslim Terhadap Islam
Pada bahasan diatas, tampak bahwa predikat seorang muslim
tidaklah ditentukan oleh nama dan keturunannya melainkan ditentukan
oleh aktivitas kesehariannya selaku seorang muslim. Aktivitas-aktivitas itu
merupakan komitmen dirinya sebagai seorang muslim bagi agamanya.
a. Mengimani Islam
Setiap diri muslim wajib mengimani (meyakini) kesempurnaan
dan kemutlakan kebenaran Islam sebagai suatu sistem hidup, sebagai
satu kebulatan ajaran yang universil dan eternal, kemudian mereka
istiqomah dalam iman dan keyakinannya itu serta senantiasa berusaha
memelihara dan meningkatkan mutu iman - keyakinannya itu.(Qs
4:136)
b. Memahami Islam
Setiap diri muslim wajib memperluas dan memperdalam ilmu
pengetahuan (pengertian, pemahaman, penghayatan, dan penguasaan)
tentang Islam dalam segala jenisnya sesuai dengan kemampuannya,
pada setiap kesempatan, dan terus menerus.
Hadits Nabi : "Barangsiapa yang dikehendaki Alloh kebaikan
maka dia difahamkan tentang Agama" (QS.6:125; 38:22;9:122)
c. Mengamalkan Islam
Setiap diri muslim wajib memanfaatkan iman keyakinannya
dan ilmu pengetahuan tentang islam dalam amal perbuatannya sehari-
hari, dalam pelbagai segi kehidupan dan penghidupan sehari-hari
sesuai dengan kemampuannya masing-masing dengan jalan
merealisasikan islam dalam dirinya, lingkungannya.
d. Menyebarkan Islam
Setiap diri muslim wajib menyebarkan islam sesuai dengan
kemampuan dan kesanggupannya masing-masing kepada orang lain,
baik islam maupun orang-orang yang tidak atau belum beragama
islam.

4
Hadits Nabi : "Sampaikanlah apa-apa dariku walaupun satu
ayat" Perhatikan QS(5:67; 3:110)
e. S h a b a r
Setiap diri muslim wajib bershabar menerima segala resiko
sebagai konsekwensi pernyataan sikapnya tersebut. Sebab dalam
kesehariannya seorang Muslim wajib menjalankan dakwah seperti
yang telah diuraikan dalam bahasan diatas. dan dalam dakwah itu
banyak tantangan dan ancaman baik fisik maupun psikis dari orang-
orang yang tidak menerima dakwah.maka keshabaran adalah harta
yang amat berharga bagi seorang muslim.

C. WADAH (JAMAAH) BAGI SEORANG MUSLIM


Dari uraian di atas terlihat bahwa untuk merealisasikan nilai-nilai
Islam ketengah-tengah masyarakat dibutuhkan kesiapan pribadi sebagai
seorang muslim. Yang dengan kesiapan itulah maka ia akan mampu sedikit-
demi sedikit menebarkan rahmat Allah dimuka bumi ini.
Namun demikian perjuangan untuk menebarkan rahmat Allah yang
dilakukan hanya dengan perseorangan terasa sulit dilaksanakan, karena pada
akhirnya nanti objek dakwah haruslah mempunyai wadah untuk tempat saling
"tegur dan sapa".
Disamping itu ada hal yang lebih penting lagi disamping kesiapan
pribadi tersebut yaitu kordinasi antara individu-individu muslim dalam
merealisaikan nilai-nilai ketengah-tengah masyarakat. Koordinasi antar
individu inilah yang dalam islam dikenal dengan istilah
"JAMAAH/UMMAH"
1. Definisi Jamaah/Ummah
Untuk mengetahui lebih jauh tentang jamaah, berikut akan
diuraikan tentang makna jamaah/ummah ditinjau menurut Al-Qur'an dan
menurut istilah.
Definisi Jamaah/Ummah menurut Al-Qur'a

5
Dalam Al-Qur'an QS.3:103 Allah berfirman : "Dan berpegang
teguhlah kamu pada tali Allah (Al-Islam) secara berjamaah dan janganlah
kamu bercerai berai".
Pada ayat ini Allah dengan gamblang memerintahkan pada setiap
diri muslim agar dalam merealisasikan kehendak-kehendaknya haruslah
saling berkoordinasi satu sama lain dalam wadah atau Jamaah/Ummah,
dan Allah melarang setiap diri yang mengaku muslim berada diluar jalur
koordinasi sesama muslim (Jamaah/Ummah).
Definisi Jamaah/Ummah Menurut Istilah
Ali Syariati dalam bukunya "Ummah dan Imamah"
mendefinisikan ummah/ jamaah sebagai suatu kumpulan manusia yang
para anggotanya memiliki tujuan yang sama yang satu sama lain saling
bahu membahu agar bisa bergerak menuju tujuan yang mereka cita-citakan
berdasarkan suatu kepemimpinan kolektif. Sementara itu dalam buku
"Tauhid", Ismail Raji' Al-Faruqi mendefinisikan "Ummah/Jamaah"
sebagai suatu masyarakat universal yang keanggotaannya mencakup
ragam etnisitas/komunitas yang paling luas, tetapi yangg komitmennya
terhadap islam mengikat mereka dalam tata sosial yang specifik.
Dari 2 (dua) definisi di atas dapat disimpulkan bahwa jamaah
adalah kumpulan orang-orang beriman yang terikat pada tujuan dan cita-
cita memperjuangkan dan membumikan Al-Qur'an di mayapada ini.
2. Urgensi Jamaah/Ummah Bagi Muslim
Ditinjau dari dua definisi di atas, terlihat betapa pentingnya
"kehadiran" sebuah wadah koordinasi bagi seorang muslim dalam rangka
menyamakan gerak dan langkah untuk menebarkan rahmat-rahmat Allah
bagi segenap alam semesta. Lalu apakah urgensinya sebuah jamaah bagi
seorang muslim?
Tidak Ada Islam Tanpa Ummah/Jamaah
Allah berfirman "Hendaklah terwujud dari kalian, suatu ummat
yang menyeru pada kebajikan, yang menyuruh berbuat kebaikan dan

6
melarang kejahatan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung"
(QS.3:104). Lihat QS 9:71; 5:3,79
Dari ayat di atas jelaslah bahwa ummat islam diperintah untuk
membentuk diri mereka menjadi ummah, yaitu suatu pertubuhan sosial
yang diorganisir secara khusus.
Nabi SAW menggariskan, "Tidak boleh bagi tiga orang Muslim
untuk berada di suatu tempat tanpa mengangkat salah seorang diantara
mereka untuk menjadi pimpinan".
Hal ini dikarenakan bahwa tujuan orang-orang Muslim adalah
melaksanakan ibadah, menjalankan ketentuan-ketentuan Ilahi,
merealisasikan keadilan, melaksanakan hudud, dan mencapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti, maka tidak ada jalan lain kecuali
membentuk diri mereka menjadi ummah, suatu masyarakat organis yang
memiliki imarah, atau pemerintahan.
Dengan demikian tanpa adanya sebuah pertubuhan sosial
(Ummah/Jamaah) maka nilai-nilai Ilahiyah tidak akan dapat dibumikan
ketengah-tengah masyarakat. Ini dapat berarti bahwa Islam tidak pernah
akan ada tanpa adanya manusia-manusia yang mau menjalankan Islam itu
sendiri.

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Muslim adalah melaksanakan ibadah, menjalankan ketentuan-
ketentuan Ilahi, merealisasikan keadilan, melaksanakan hudud, dan
mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti, maka tidak ada jalan lain
kecuali membentuk diri mereka menjadi ummah, suatu masyarakat organis
yang memiliki imarah, atau pemerintahan.
Dengan demikian tanpa adanya sebuah pertubuhan sosial
(Ummah/Jamaah) maka nilai-nilai Ilahiyah tidak akan dapat dibumikan
ketengah-tengah masyarakat. Ini dapat berarti bahwa Islam tidak pernah akan
ada tanpa adanya manusia-manusia yang mau menjalankan Islam itu sendiri.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang
menjadi bahasan dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan
kelemahan kerena terbatasnya pengetahuan kurangnya rujukan atau referensi
yang kami peroleh hubungannya dengan makalah ini Penulis banyak berharap
kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik saran yang
membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis. Aamiin

8
DFTAR PUSTAKA

Diposkan 12th March 2013 oleh Muhamad Suharto