Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

MEMBUAT SEDIAAN SAYATAN BIJI JAGUNG


DENGAN METODE PARAFIN

Disusun Oleh :

Nama : Ratna Kurniati


Npm : F1D015027
Kelompok : IV (Empat)
Dosen Pengampu : 1.Dedi Satriawan S.Si., M.Si.
Hari / Tanggal : Senin / 24 April 2017
Asisten Praktikum : 1. Imelda Cahya Putri (F1D013002)
2. Arie Yaningsih (F1D013020)
3. Feby Lilia Rosa (F1D013030)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di dalam pembuatan preparat penampang (section) dengan mengunakan
bahan-bahan yang lunak seperti daun, akar, bunga, buah, maupun bagian
tumbuhan lainnya perlu dilakukan suatu teknik khusus, yaitu dengan embedding
parafin. Metode ini sangat populer dilakukan karena mudah dikerjakan (Johansen,
2001).
Parafin yang digunakan dalam metode ini harus sesuai dengan karakter
bahan yang digunakan sesuai dengan ketebalan preparat yang diinginkan dan
sesuai dengan temperatur ruangan dimana pemotongan bahan dilakukan. Parafin
tersebut harus mempunyai tekstur yag rata dan bebas dari gelembung udara (Sass,
2003).
Pemotongan bahan yang sudah diselubungi parafin dilakukan dengan
memakai rotary microtome. Hasil pemotongan akan berupa pita-pita sesuai
dengan preparat yang diinginkan (penampang melintang atau membujur). Dalam
mengerjakan proses pemotongan ini perlu dikerjakan dengan cepat sehiongga
didapatkan potongan-potongan bahan yang baik (Sass, 2003).
Tumbuhan terdiri atas kumpulan sel-sel, yang mempunyai asal, fungsi
serta struktur yang sama dan disebut jaringan. Berdasarkan sifatnya, ada dua
macam jaringan yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu jaringan muda dan
jaringan dewasa. Jaringan muda mempunyai sifat membelah, sehingga
mempunyai fungsi menambah panjang akar maupun batang, karena biasanya
terdapat pada bagian ujung. Pertumbuhan yang diawali oleh jaringan-jaringan
yang letaknya di bagian ujung dikenal sebagai pertumbuhan primer, dan semua
jaringan yang terbentuk jaringan primer. Tumbuhan monokotil melengkapi daur
hidupnya hanya dengan pertumbuhan pimer saja, tetapi tumbuhan dikotil batang
dan akar dapat mempertebal diri melalui proses yang disebut pertumbuhan
sekunder (Sumardi, 2004).
Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi.
Struktur sel rumit, namun demikian semua sel mempunyai persamaan dalam
beberapa segi dasar. Jaringan yang menyusun tumbuh-tumbuhan terdiri dari
jaringan muda dan dewasa. Jaringan-jaringan ini dapat ditemukan pada bagian
akar, batang dan daun tumbuhan. Jaringan ini dapat dilihat dengan membuat suatu
preparat penampang dari bagian-bagian tumbuhan (Sugiharto, 2006).
Mikroteknik secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari
metode pembuatan preparat mikroskopis, baik preparat hewan maupun tumbuhan,
menganalisis preparat mikroskopis dan melakukan mikrometri, serta membahas
manfaat preparat bagi perkembangan keilmuan dan dukungan terhadap kehidupan
manusia. Sedangkan mikroteknik tumbuhan merupakan teknik dalam pembuatan
preparat mikroskopis tumbuhan. Berdasarkan hal ini, maka dilakukanlah
percobaan pembuatan preparat dengan menggunakan metode parafin (Arimurti,
2001).

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk membuat sediaan sayatan biji Zea mays
dengan metode parafin agar didapatkan gambaran yang jelas mengenai bentuk-
bentuk jaringan dan bagian-bagian pada biji Zea mays.
BAB II
DASAR TEORI

Tubuh tumbuhan secara morfologi terdiri atas unit sel yang dilindungi oleh
dinding, dan masing-masing sel dengan mengadakan kesatuan dengan
adanya substansi antar sel. Sel-sel dalam tubuh tumbuhan terdapat dalam
kelompok yang secara struktural dan fungsional berbeda dengan kelompok sel
yang lain. Kelompok-kelompok sel-sel tersebut dikenal dengan jaringan
(Sugiharto, 2006).
Preparat berdasarkan sifat ketahanannya dapat dibedakan menjadi preparat
sementara (preparat basah), preparat semi permanen (1/2 awetan) dan preparat
permanen (awetan). Preparat sementara bersifat tidak tahan lama dan biasanya
hanya untuk sekali pengamatan. Preparat ini menggunakan medium air atau bahan
kimia yang mudah menguap. Preparat semi permanen menggunakan media
gliserin dan mampu bertahan untuk sekitar seminggu penyimpanan. Preparat
permanen atau preparat awetan merupakan preparat yang diawetkan
menggunakan balsam, gliserin jelly, lactophenol atau senyawa lain sebagai agen
mountingnya. Sehingga preparat permanen dapat bertahan beberapa
lama (Arimurti, 2001).
Mikroteknik atau teknik histologi ini akan dipelajari ilmu atau seni untuk
mempersiapkan organ, jaringan atau bagian yang lainnya untuk dapat diamati dan
dipelajari dengan lebih teliti. Pada umumnya untuk melihat jaringan atau organ ini
dilakukan dengan bantuan mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci
pada dasarnya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Suatu
spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian ataupun keseluruhan dari
struktur yang ditetapkan. Selain diletakkan pada kaca preparat, spesimen tadi
umumnya dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat tipis
ataupun plastik yang tembus pandangan yang direkatkan di atas
specimen (Sugiharto, 2006).
Metode parafin saat ini banyak digunakan, karena hampir semua macam
jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metoda ini. Kebaikan-
kebaikan metoda ini adalah irisan yang dihasilkan jauh lebih tipis dari pada
menggunakan metoda beku atau metoda seloidin. Dengan metoda beku, tebal
irisan rata-rata diatas 10 mikron, tapi dengan metode parafin tebal irisan dapat
mencapai rata-rata 6 mikron. Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan
dengan mudah bila menggunakan metode ini. Prosedurnya jauh lebih cepat
dibandingkan dengan metode seloidin. Namun metode parafin juga memiliki
kelemahan yaitu jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah. Jaringan-
jaringan yang besar tidak dapat dikerjakaan, bila menggunakan metode ini.
Sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan metode ini (Imron, 2008).
Irisan utuh suatu spesimen sangat bermanfaat bagi studi pembelajaran.
Dengan adanya preparat utuh maka dapat diamati bagian-bagian jaringan dan
jenis sel yang ada dalam satu preparat. Dalam pembuatan preparat utuh
diupayakan permanen atau awet agar sewaktu-waktu dapat diamati kembali.
Keberhasilan pembuatan preparat permanen ini tergantung pada lima tahap yang
utama yaitu fiksasi, dehidrasi, penjernihan, perembesan dan pengeblokan parafin
serta pewarnaan. Larutan fiksatif yang dipilih, perembesan parafin yang bagus dan
zat warna yang akan digunakan menentukan keberhasilan preparat irisan (Imron,
2008).
Metode parafin merupakan cara pembuatan sediaan dengan menggunakan
parafin sebagai media penanaman (embedding). Langkah-langkah dalam
pembuatan sediaan tersebut adalah pertama pematian dan fiksasi. Banyak larutan
yang dapat digunakan untuk fiksasi, diantaranya adalah larutan FAA
(Formaldehyde Acetic-acid Alcohol), dengan komposisi sebagai berikut: 50%
atau 70% etilalkohol 90 cc, Asam asetat glacial 5 cc Formalin 40 % 5 cc. Setelah
bahan dipotong kira-kira 0,5 cm segera dimasukkan ke dalam larutan FAA dengan
perbandingan 1: 20 (bahan 1/20 volume FAA), tidak boleh lebih delapan potong
didalam vial. Lama fiksasi dalam FAA bagi bahan yang kecil atau tipis minimum
12 jam sedangkan untuk bahan yang besar atau tebal 24 jam (Imron, 2008).
Kedua pencucian. Pencucian dilakukan 2 kali dalam waktu 3 jam dengan
akohol 50%. Jumlah larutan dipakai hannya tepat menutupi bahan. Ketiga
penanaman (Embedding). Buat kotak keras yang agak tebal dengan ukuran kira-
kira 5 X 2,5 X 2 cm (panjang X lebar X tinggi), lalu isi dengan paraffin keras
yang cair dalam vial tadi, kemudian sebelum parafin membeku masukkan bahan.
Atur bahan tersebut dalam kotak kertas dengan menggunakan jarum yang
dipanaskan dengan lampu alcohol atau spritus dan beri label. Setelah parafin
membeku dan bahan tidak bergoyang, letakkan kotak kertas dalam air dingin.
Biarkan permukaan parafin membeku, kemudian tekanlah seluruh kotak kedalam
air sampai parafin membeku, atau dapat juga dimasukkan kedalam freezer sampai
seluruh parafin sama sekali membeku. Baru setelah itu parafin dapat dikeluarkan
dari kotaknya. Keempat penyayatan. Potong balok parafin menjadi balok-balok
kecil yang masing-masing mengandung sebuah bahan. Balok-balok parafin itu
ditempelkan pada balok kayu menurut arah sayatan yang dikehendaki.
Penempelan dilakukan dengan mencairkan sebagian balok parafin dengan jarum
yang telah dipanasi, kemudian meletakkan balok parafin pada kayu. Lakukan hal
itu beberapa kali sehingga balok parafin menempel dengan kuat pada balok kayu.
Permukaan dari balok parafin yang telah ditempelkan sebaiknya empat persegi atu
bujur sangkar. Perhatikan bahwa sisi horizontal harus benar-benar sejajar. Bahan
yang ada dalam balok parafin disayat dengan mikrotom putar (rotary microtome).
Sebelum dipotong balok yang telah ditempeli bahan dan pisau didinginkan dahulu
dengan air dingin (kulkas), sehingga suhu parafin sama dengan suhu pisau. Balok
kayu yang telah ditempel dengan balok parafin dipasang pada pemegang yang
terdapat pada mikrotom. Aturlah tebal sayatan (biasanya antara 6-15 mikron)
dengan memutar skrup pada sisi kanan mikrotom. Pasang pisau pada mikrotom.
Pada waktu pemutar mikrotom dijalankan, bahan dalam parafin yang telah
diletakkan pada pemegang bergerak naik turun dan maju kedepan. Peganglah
sayatan-sayatan parafin yang berbentuk pita itu dengan kuas halus. Pita parafin
hasil sayatan disimpan pada kotak karton atau baki preparat. Sebaiknya
pemotongan dilakukan di ruangan ber-AC (Imron, 2008).
Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam pembuatan preparat dengan
menggunakan metode parafin diantaranya, yaitu kelebihannya metode
parafin sekarang banyak digunakan, karena hampir semua macam jaringan dapat
dipotong dengan baik bila menggunakan metoda ini, kelebihan dari metode ini
adalah irisan yang dihasilkan jauh lebih tipis dari pada menggunakan metoda beku
atau metoda seloidin. Dengan metoda beku, tebal irisan rata-rata diatas 10 mikron.
Tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron. Irisan-irisan yang bersifat
seri dapat dikerjakan dengan mudah bila menggunakan metode ini. Prosedurnya
jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan metode lainnya.
Metode paraffin juga kelemahan yaitu jaringan tumbuhan menjadi keras
mengerut dan mudah patah. Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakaan,
bila menggunakan metode ini. Sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan
metode ini (Imron, 2008).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 24 April 2017 pukul
14.0016.00 WIB, dan bertempat di Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu kaca benda, kaca penutup,
pisau atau silet, pipet tetes, tabung reaksi, gelas kimia, jarum ose, balok parafin,
kotak parafin, botol vial, pinset, hot plate, tisu, kuas kecil, lampu spiritus, staining
jar, mikrotom, oven, dan mikroskop.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu larutan fiksatif FAA 50/70
atau Craf II/III, akuades, alkohol 35%, alkohol 50 %, alkohol 70%, alkohol 95 %,
alkohol absolut, minyak parafin, parafin lunak, parafin keras, TBA murni I-III,
safranin 1 %, fastgreen 1 %, Johansen I-V, xilol, entelan, formula Haupt (1 gr
gelatin, 2 g fenol, dan 15 ml gliserin), dan etiket label.

3.3 Cara Kerja


1. Semua bahan disiapkan.
2. Bahan dimasukkan kedalam botol vial yang telah diisi larutan fiksatif
selama 24 jam.
3. Hari berikutnya, dilakukan tahap pencucian dan dehidrasi. Bahan dicuci
dengan air mengalir, kemudian bahan dipindahkan kedalam larutan
alkohol, dari alkohol 35%, alkohol 50%, dan alkohol 95% secara
bertingkat selama 30 menit masing-masing. Lalu dipindahkan kelarutan
Johansen I selama 2 jam, kemudian dipindahkan kelarutan Johansen II
+ safranin 1 % selama 24 jam.
4. Hari selanjutnya, larutan diganti dengan larutan Johansen III, Johansen
IV, Johansen V, TBA murni I, masing-masing selama 1 jam.. Lalu
bahan dipindahkan ke larutan TBA murni II, dimalamkan.
5. Selanjutnya diganti larutan TBA III selama 1 jam.
6. Kemudian ketahap infiltrasi dan embedding. Seluruh bahan dituangkan
kedalam TBA + minyak parafin, didalam tabung reaksi yang telah
berisi parafin lunak. Segera dimasukkan kedalam oven pada suhu 48OC.
7. Penggantian parafin lunak 2-3 x atau sampai tidak berbau TBA. Bahan
dipindahkan kelarutan parafin lunak I selama 1 jam setelah semua
bahan tenggelam. Kemudian dipindahkan ke parafin lunak II selama 2
jam atau dimalamkan. Lalu dipindahkan keparafin lunak III selama 2
jam, dipindahkan keparafin keras I,II,III, selama 2 jam.
8. Dituang sedikit parafin keras kedalam kotak karton lalu dilanjutkan
dengan bahan, dan diakhiri dengan dituangkan parafin keras lagi. Jika
ada gelembung, pecahkan dengan jarum ose yang dipanaskan dengan
lampu spiritus. Lalu dimasukkan kedalam lemari pendingin.
9. Selanjutnya dilakukan penempelan parafin ke balok parafin, digunakan
parafin keras yang dilelehkan dengan lampu spiritus.
10. Kemudian dilakukan tahap Penyayatan dipotong dengan mikrotom
sesuai ketebalan 8-10 . Sayatan berupa pita parafin ditampung
dengan baki yang terbuat dari karton keras. Jangan sampai ada yang
bersentuhan.
11. Kemudian tahap perekatan. Disiapkan kaca benda bebas lemak, diusap
setetes bahan perekat formula Haupt (1 gr gelatin, 2 g fenol, dan 15 ml
gliserin). Lalu diletakkan setetes entelan dan diletakkan pita parafin
diatasnya. Lalu ditutup dengan kaca penutup. Kemudian dipanaskan
diatas hot plate.
12. Selanjutnya tahap pewarnaan, kaca benda dimasukkan ke dalam
staining jar yang telah berisi berbagai larutan dan dengan waktu yang
berbeda-beda.
13. Lalu tahap penutupan, diberi sedikit xilol dan canada balsem pada kaca
objek dan ditutup dengan penutup. Kemudian pemberian nama atau
labelling , diberi etiket label dan diberi keterangan : nama jenis
tanaman, nama kelompok, tanggal dibuat preparat, dan jenis pewarnaan
disebelah kiri kaca penutup.
14. Setelah itu diamati dibawah mikroskop.

3.3.1 Tahap Pewarnaan Pita Parafin

NO KEGIATAN WAKTU
Dilakukan dalam staining jar yang
telah diisi dengan :
1 Xilol I 50 ml 10 menit
2 Xilol II 50 ml 10 menit
3 Xilol : Alkohol Absolut (1:1) 50 ml 10 menit
4 Alkohol Absolut 50 ml 10 menit
5 Alkohol 95 % 50 ml 10 menit
6 Alkohol 70 % + safranin 50 ml 1 jam
7 Alkohol 50 % + safranin 50 ml 1 jam
8 Alkohol 50 % 100 ml 5 menit
9 Alkohol 70 % 100 ml 5 menit
10 Alkohol 95 % 50 ml 5 menit
11 Alkohol 95 % + Fastgreen 50 ml 1 detik
12 Alkohol 95 % 50 ml 2 menit
13 Alkohol Absolut 50 ml 2 menit
14 Alkohol Absolut 50 ml 2 menit
15 Xilol : Alkohol Absolut (1:3) 100 ml 15 menit
16 Xilol : Alkohol Absolut (1:1) 50 ml 15 menit
17 Xilol : Alkohol Absolut (3:1) 50 ml 15 menit
18 Xilol Murni 10 menit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan dan Pembahasan


Dari pengamatan dan pembuatan sediaan sayatan biji Zea mays dengan
metode parafin TBA, dapat ditampilkan pada tabel 1.
Tabel 1. Pengamatan pada akar Zea mays pada ujung biji Zea mays dengan
metode Parafin TBA.

Nama preparat Gambar Keterangan


Metode Parafin
TBA 1. Meristem apikal
Pewarna Fastgreen tajuk
24 April 2017 2. Meristem apikal
Perbesaran 4x10 akar

Metode Parafin 1. Meristem apikal


TBA tajuk
Pewarna Fastgreen 2. Meristem apikal
24 April 2017 akar
Perbesaran 10 x10
Metode Parafin 1. Dinding buah
TBA 2. Seed coat
Pewarna Fastgreen 3. Embryo shoot
24 April 2017 apex
Perbesaran 40 x10 4. Scutellum

Tabel 2. Referensi Gambar pengamatan pada akar Zea mays pada ujung biji
Zea mays dengan metode Parafin TBA.

Gambar

Pada praktikum kali ini yaitu tentang membuat sediaan sayatan biji jagung
dengan metode parafin dengan tujuan agar dapat membuat sediaan sayatan biji
Zea mays dengan metode parafin sehingga diperoleh gambaran yang jelas
mengenai bentuk-bentuk jaringan dan bagian-bagian pada biji Zea mays.
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop menggunakan
mikroskop cahaya dengan perbesaran 4x10, 10x10, dan 40x10, maka diperoleh
gambar seperti tabel 1. Gambar tersebut menunjukkan bahwa bagian-bagian dari
biji Zea mays terlihat jelas yaitu dinding buah, seed coat, embryo shoot apex,
scutellum, ini terlihat pada perbesaran 40x10. Sedangkan bagian-bagian jaringan
yang dihasilkan tidak begitu jelas pada perbesaran 4x10 dan 10x10, hal ini
dikarenakan pada saat proses pemotongan ujung biji jagung sebelum praktikum
dilaksanakan, tidak dilakukan dengan rapi, sehingga ada bagian dari jagung yang
tertutup dan akhirnya tidak bisa teramati akibat pemotongan yang tidak sempurna.
Bagian jagung yang diambil ketika pemotongan yaitu bagian yang berwarna putih
secara utuh yang berada diujung. Selain itu ada juga faktor lain yang
menyebabkan jaringan tidak terlihat dengan sempurna, yaitu sewaktu pemberian
parafin tidak begitu lama sehingga parafin tidak terlalu masuk kedalam objek
yang diamati.
Menurut literatur dari hasil penelitian anatomi tanaman monokotil
diperoleh bahwa biji tanaman dikotil dan monokotil mempunyai bagian-bagian
biji yaitu kotiledon, cadangan makanan embrio, plumula, berdeferensiasi menjadi
bakal daun, radikula, bakal calon akar, epikotil, bakal batang yang berada di atas
kotiledon, hipokoti, bakal batang yang berada di bawah kotledon, skutelum,
permukaan keras, dan testa pelindung biji. Akar lembaga atau radikulus akan
tumbuh dan berfungsi sebagai akar. Ujung akar lembaga menghadap ke arah
liang biji, pada saat biji berkecambah, akar tumbuh menembus kulit biji dan
keluar melalui liang tersebut. Jaringan penyusun akar adalah epidermis korteks
endodermis - perisikel stele. (jaringan pengangkut) Anatomi akar dapat diamati
dengan melakukan pemotongan akar secara melintang. Struktur anatomi akar dari
urutan terluar ke dalam, yakni epidermis, korteks, endodermis dan silinder pusat
(stele) (Sumardi, 2004).
Bagian luar endosperm memisahkan embrio dengan lapisan yang
mengandung protein, yang disebut lapisan leurone. Embrio kecil, terletak dialur
pada salah satu ujung endosperm, terdiri dari satu kotiledon besar dan berbentuk
perisai yang dikenal sebagai scutellum dan sumbu pendek dengan bakal pucuk
(plumule) dan bakal akar (radicle). Bakal pucuk (plumule) dan bakal akar
(radicle) diapit oleh selubung yang masing-masing disebut coleopptile dan
coleorhiza.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dan diperoleh hasil
pengamatan dapat disimpulkan bahwa adapun langkah-langkah pembuatan
preparat dengan metode parafin yaitu fiksasi, dehidrasi, clearing, infiltrasi,
embedding, sectioning, affixing, staining, mounting, labeling, dan pengamatan
pada mikroskop.
Hasil pengamatan pada preparat sayatan ujung biji Zea mays dengan
metode parafin didapatkan bagian-bagian jagung seperti dinding buah, seed coat,
embryo shoot apex, scutellum dan jaringan meristem apikal tajuk, meristem apikal
akar.

5.2 Saran
Dalam melakukan langkah-langkah pembuatan preparat seperti fiksasi,
pencucian, dehidrasi, dan lain-lain harus teliti, mengikuti prosedur yang sesuai,
sehingga akan memperkecil kesalahan praktikan.
Organ tanaman yang dibuat preparat harus spesifik, bagian-bagiannya
masih utuh dan memperhatikan tingkat kematangan organ.
DAFTAR PUSTAKA

Arimurti. 2001. Mikroteknik. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.

Imron, Tamyis, A. 2008. Pembuatan Preparat Jaringan Tumbuhan dengan


Metode Parafin. Universitas Brawijaya. Malang.

Johansen, D.A. 2001, Plant Microtechnique. First edition . McGraw-Hill Book


Company Inc. New York and London . pp . 154 -156.

Sass, J.E. 2003. Botanical Microtechnique . Third edition . The Iowa State
University Press, Ames, Iowa . pp. 5-54.

Sugiharto. 2006. Mikroteknik Tumbuhan. Universitas Ilmu Hayat Institut


Pertanian Bogor. Bogor.

Sumardi, I. dan Pudjoarinto, A. 2004. Struktur Perkembangan Tumbuhan.


Universitas Hasanuddin. Makassar.
LAMPIRAN

Larutan Fiksatif Alkohol 35 % Alkohol 50 %


24 Jam

Alkohol Larutan Johansen Larutan Johansen


95 % I II

Larutan Johansen Larutan Johansen Larutan Johansen


III IV V
Larutan TBA Larutan TBA Larutan TBA
I II III

Pergantian Penggantian Penuangan Parafin


Larutan Parafin ke tabung reaksi

Xilol I 50 ml Xilol II 50 ml Xilol : Alkohol Absolut


10 menit 10 menit (1:1) 50 ml 10 menit

Alkohol Absolut 50 ml Alkohol 95% 50 ml Alkohol 70 % +


10 menit 10 menit safranin 50 ml 1 jam
Alkohol 50 % + Alkohol 50 % 100 Alkohol 70 % 100
safranin 50 ml 1 jam ml 5 menit ml 5 menit

Alkohol 95 % +
Alkohol 95 % 50 ml Fastgreen 50 ml Alkohol 95 % 50 ml
5 menit 1 detik 2 menit

Alkohol Absolut 50 Alkohol Absolut 50 Xilol : Alkohol Absolut


ml 2 menit ml 2 menit (1:3) 100 ml 15 menit

Xilol : Alkohol
Xilol : Alkohol Absolut Absolut (3:1) 50 ml Xilol Murni
(1:1) 50 ml 15 menit 15 menit 10 menit

Anda mungkin juga menyukai