Anda di halaman 1dari 7

Nama : Qurin Nikmaturrohana

NIM : 150342606771
Offering : GHI-K
RQA I Soil Transmitter Helminth Nemathelminthes parasit (askariasis, oxiuriasis,
trikhuriasis, ankilostomiasis)

Nemathelminthes Nematoda meliputi banyak spesies yang hidup bebas tersebar


dalam air maupun tanah. Mayoritas bersifat parasit yang hidup dalam tanaman, molusca,
annelida, arthropoda dan vertebrata. Penyebab penyakit pada manusia dan vertevbrata pada
umumnya bersifat paogen.
Secara morfologi berbentuk panjang silindris, bilateral simetri, mikroskopis, tidak
bersegmen, dan cacing jantan lebih kecil daripada betina dengan ujung posterior yang
melengkung.
Ascaris lumbricoides
a) Penyakit: Ascariasis, infeksi ascaris dan infeksi cacing gelang.
Manusia satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides.
b) Morfologi dan persebaran: Telur berukuran 4570 x 3550 u. Terkadang (tidak
selalu ada) bagian luar terdapat lapisan albuminoid (benjolan kasar) berfungsi
penambah rintangan dalam hal permeabilitas. Lapisan telur terdiri atas kulit hialin,
vitelin dan lipoidal. Bahan telur terdiri atas protoplasma.
c) Siklus hidup: Telur dikeluarkan bersama dengan tinja, stadium bersel satu. Apabila
lingkungan sesuai menjadi telur infektif Telur yang diinfeksi termakan oleh
manusia, di dalam usus halus larva menetas yang selanjutnya dapat menembus
pembuluh limfe atau kapiler. Melalui sirkulasi portal larva masuk ke hepar ke
jantung paru-paru menembus keluar dan masuk alveolus. Selanjutnya larva
dibawa bronchiolus menuju bronchus tenggorok esofagus tertelan
melalui esophagus turun ke usus muda.
d) Epidemiologi: Parasit yang ditemukan kosmopolit (dapat ditemukan disegala
penjuru) terutama tempat dengan sanitasi buruk. Ascariasis dapat ditemukan disemua
umur, namun kebanyakan diumur 59 tahun. Telur yang infektif terutama
diindahkan dari tangan ke mulut oleh anak-anak yang berhubungan dengan tanah
yang terkontaminasi secara langsung maupun mainan atau makanan yang kotor.
Telur dapat rusak oleh sinar matahari dalam waktu paparan tertentu, namun telur
tahan terhadap desinfektan kimiawi dan rendaman bahan kimiawi.
e) Patologi dan Simtomatologi (gejala klinis): Penderita biasnya memiliki keluhan
sakit perut yang tidak jelas. Gangguan karena larva terjadi di paru, bagi yang rentan
akan mengalami pendarahan kecil pada dinding alveolus, disertai batuk, demam dan
eosinofilia. Mengalami sindrom Loeffler (pada toraks infiltrat menghilang dalam 3
minggu). Gangguan oleh cacing dewasa memiliki gejala mual, nafsu makan
berkurang, diare atau konstipasi. Infeksi berat terutama pada anak menyebabkan
malnutrisi, hingga obstruksi usus (ileus). Keadaan yang sudah darurat cacing dewasa
telah menyebar ke saluran empedu, apendiks atau ke bronkus sehingga perlu tindakan
operatif.
f) Diagnosis: Memastikan askariasis dapat dilakukan pemeriksaan tinja secara
langsung, yang bila positif akan ditemui telur dalam tinja. Diagnosis lainnya cacing
dewasa keluar sendiri melalui mulut atau hidung maupun melalui tinja.
g) Pengobatan perorangan: Menggunakan obat-obatan seperti garam piperazin dosis
tunggal serta heksilresorsinol, stilbazium (dalam persetujuan Food and Drug
Administration) untuk infeksi campuran A.lumbricoides dan T.trichiura
menggunakan Oksantel-pirantel pamoat. Pengobatan masal: obat mudah diterima
masyarakat, aturan pemakaian sederhana, efek samping minimum, bersifat poliivalen
dan harganya terjangkau.
h) Pencegahan: Pembuangan tinja yang sesuai peraturan kesehatan. Pemberian
informasi yang menyeluruh terhadap lapisan masyarakat mengenai tindakan
pencegahan dan tidak memakai tinja sebagai pupuk kecuali bila telah ditambahkan
bahan kimiawi (pupuk campuran).
Enterobius vermicularis
a) Penyakit: Oxyuriasis, enterobiasis, pinworm, infeksi cacing kremi.
Manusia satu-satunya hospes Enterobius vermicularis.
b) Morfologi dan persebaran: Cacing betina kecil memiliki pelebaran kutikulum
(alae) pada ujung anterior, bulbus oesophagus yang nyata, ekor panjang, runcing dan
badan kaku. Jantang lebih besar dari betina yaitu sekitar 25 mm dengan ekor
melingkar dan spikulum jarang ditemukan. Cacing parasit kosmopolit lebih banyak
ditemukan pada daerah dingin.
c) Siklus hidup: Cacing dewasa dalam sekum dan kolon bereproduksi cacing betina
bertelur di perianal telur menjadi infektif dalam waktu 46 jam telur ada
yang menetas retrofeksi dan ada yang melekat di sekitar perianal telur tersebar
disekitar bisa terdapat pada kamar tidur, kamar mandi maupun tempat-tempat
lainnya (autoinfeksi) telur infektif termakan oleh manusia larva menetas
dari telur dalam usus halus.
d) Epidemiologi: Penyebaran cacing kremi lebih luas daripada jenis lain. Penularan
terjadi pada lingkungan keluarga atau kelompok lain terdekat. Telur tesebar bersama
debu, di lantai, meja, kursi maupun perkakas atau tempa lainnya yang digunakan
bersama. Penularan dapat terjadi dari tangan ke mulut maupun ke orang lain setelah
manggaruk daerah perianal dan memegang benda terkontaminasi. Tertelannya telur
melalui debu dan retrofeksi melalui anus. Anjing dan kucing dapat menjadi sumber
infeksi karena telur dapat menempel pada rambutnya.
e) Patologi dan Simtomatologi (gejala klinis): Cenderung tidak berbahaya dan jarang
menimbulkan lesi besar. Nafsu makan berkurang, berat badan turun, cepat marah,
menggertak gigi, sakit perut. Cacig sering ditemukan dalam appendix, namun jarang
menyebabkan appendicitis. Parasit ini tidak menempel pada dinding usus sehingga
tidak ada perubahan dalam darah.
f) Diagnosis: Gejala yang dialami anak-anak rasa gatal di sekitar anus di malam hari.
Diagnosis ditemukannya telur dan cacing dewasa. Pengambilan telur cacing dapat
menggunakan anal swab yang ditempelkan di sekitar anus di pagi hari sebelum
buang air besar yang dilakukan tiga hari berturut-turut.
g) Pengobatan: Pemberian obat piperazin dosis tunggal 34 mg (dewasa) dan 25
mg/kg berat badan anak-anak di pagi hari, pengobatan secara periodik akan
memberikan prognosis yang baik. Efek samping yang mungkin terjadi adalah mual
dan muntah. Selain itu obat pirantel pamoat dosis 10 mg/kg berat badan atau
mebendazol dosis tunggal 100 mg dan albendazol dosis tunggal 400 mg.
h) Pencegahan: Kebersihan perorangan sangat penting, menghindari makanan atau
debu dan tangan yang mengandung parasit. Pakaian dan alas kasur di cuci bersih dan
diganti secara teratur.
Trichuris trichiura
a) Penyakit: Trichuariasis, trichocephaliasis, infeksi cacing cambuk.
Hospes cacing ini adalah manusia.
b) Morfologi dan persebaran: Cacing betina lebih besar dibandingkan jantan. Hidup di
kolon asendens dan sekum dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk masuk ke
dalam mukosa usus. Bersifat kosmopolit, terutama daerah panas dan lembab.
c) Siklus hidup: telur yang telah dibuahi dikeluarkan bersama tinja dalam
lingkungan yang sesuai dan kurun waktu tertentu (3 minggu) telur menjadi infektif
infeksi langsung telur tertelan larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke
dalam usus halus. Cacing dewasa hidup dalam sekum dan kolon.
d) Epidemiologi: Infeksi oleh cacing ini tergolong tinggi, frekuensi tertinggi berada
pada wilayah dengan hujan lebat, iklim subtropik dan tanah dengan banyaknya
kontaminasi tinja. Sering menyerang anak-anak melalui perantara tangan, makanan
maupun minuman yang terkontaminasi.
e) Patologi dan Simtomatologi (gejala klinis): Infeksi berat pada anak-anak, cacing
tersebar di seluruh kolon dan rektum. Cacing ini menimbulkan iritasi dan peradangan
mukosa usus, hingga perdarahan pada tempat melekatnya. Cacing ini juga meghisap
darah hospesnya sehingga menyebabkan anemia. Gejala yang nampak seperti diare,
sindrom disentri, anemia berat badan turun disertai prolapsus rektum. Infeksi
beratnya disertai dengan cacing lainnya atau protozoa.
f) Diagnosis: Ditemukannya telur dalam tinja.
g) Pengobatan: Obat mebendazol memberikan hasil cukup baik dengan dosis tunggal
500 mg, albendazol dosis tunggal 400 mg dan oksantel pirantel parnoat dosis tunggal
10-15 mg/kg BB.
h) Pencegahan: Pembuatan jamban yang baik, pembekalan pengetahuan mengenai
sanitasi dan kebersihan perorangan terutama anak, maupun kebersihan bahan
konsumsi.
Cacing tambang pada manusia
a) Penyakit: Anclyostomiasis
Hospes cacing ini adalah manusia. Spesies yang yang termasuk sering sebgai parasit
manusia, yaitu Necator americanus dan Ancylostoma duodenale.
b) Morfologi dan persebaran: Cacing dewasa berukuran kecil silinder, berbentuk
kumparan (fusiform) berwarna putih keabuan. Alat kelamin jantan tungal, sedangkan
betina berpasangan. Pembeda utama antara berbagai spesies adalah rongga mulut dan
bursa pada jantan. Ditemkan pada tempat yang cenderung lembab dan hangat.
c) Siklus hidup: Telur dikeluarkan bersama tinja telur di tanah yang sesuai menetas
dalam waktu2448 jam larva rhaditiform di tanah tidak infektif larva
filariform bersarung tidak mengambil makanan infektif larva menembus kulit
manusia menuju jantung bersama aliran darah masuk ke dalam paru
menembus keluar kemudian masuk ke dalam alveolus menuju bronchiol ke
trachea ke tenggorok dan kemudian tertelan menuju esofagus melekat pada
usus halus manusia.
d) Epidemiologi: Penyebaran parasit karena adanya migrasi penduduk yang meluas ke
daerah tropik dan subtropik. Tanah pasir atau campuran tanah liat dan pasir
merupakan tempat pembiakan yang baik untuk larva. Iklimnya juga menguntungkan
perkembangan telur dan defekasi disembarang tempat. Gizi yang diperoleh
perorangan di setiap tempat bisa juga mempengaruhi.
e) Patologi dan Simtomatologi (gejala klinis): Larva yang menembus kulit
menyebabkan maculoapula dan eritem, sering terasa gatal. Ground itch yaitu
kelembaban pagi hari yang memungkinkan larva tinggal dalm tanah. Bila dalam
jumlah besar dan bermigrasi ke paru dapat menyebabkan bronchitis atau pneumonitis.
Penyakit cacing tambang merupakan penyakit menahun. Gejala yang disebabkan
penyakit ini tidak nampak hingga terjadi anemia progresif. Infeksi ringan tidak
menampakkan gejala, namun setelah diberi obat cacing akan meningkatkan vitalitas
anak. Nafsu makan akan terganggu hingga gangguan pada sistem pencernaan seperti
mual muntah bahkan konstipasi.
f) Diagnosis: Ditemukannya telur dalam tinja.
g) Pengobatan: Obat tetrakloretilen merupakan obat terbaik pengobatan Necator. Selain
itu ada befenium hidroksinaftoat yang terkadang terdapat efek samping, sehingga
untuk memberikan pengobatan perlu memperhatikan keadaan atau kondisi penderita.
Heksilresorsinol cukup efektif terhadap cacing tambang.
h) Pencegahan: Sanitasi pembuangan tinja, melindungi orang-orang yang mungkin
terinfeksi dan segera mengobati orang-orang yang terinfeksi. Apabila diperlukan
dilakukan pengobatan masal.
Brown, H.W. 1979. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta: Gramedia.
Staf Pengajar Bagian Parasitologi. 2004. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta:
FKUI.
Question and Answer
1) Telur Ascaris lumbricoides yang telah dibuahi, kemudian baru dikeluarkan telur
tersebut tidak infektif dan berisi satu sel tunggal. Apabila telur tersebut keluarpada
lingkungan yang tidak sesuai telur tersebut dapat bertahan hingga kurun waktu
tertentu (lama) bahkan hingga satu tahun. Bagaimana struktur sel telur tesebut
sehingga dapat bertahan pada suatu lingkungan yang kurang mendukung?
Jawab: sel telur Ascaris lumbricoides dapat bertahan di lingkungan setelah
dikeluarkan hingga mencapai satu tahun. Sel ini dapat bertahan sebab sel ini
dikelilingi suatu membran vitelin tpis untuk meningkatkan daya tahan telur cacing
tersebut terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dapat bertahan hidp hingga satu
tahun. Selain itu di selkitar membran ini ada kulit bening dan tebal yang dikelilingi
lagi oleh lapisan albuminoid yang permukaannya tidak rata dan berdungkul
(mamilation).
Vizqar, Z., Loh A.K. 1999. Buku Penuntun Parasitologi Kedokteran. Jakarta:
Penebarcipta.
2) Bagaimana hubungan gejala yang dialami penderita dengan infeksi cacing yang
terjadi, mengapa dapat mempengaruhi emosi, rasa lesu atau kurang semangat?
Jawab: cacing yang menjadikan manusia sebagai ospesnya mecuri zat gizi, termasuk
protein yang berperan untuk membangun otak. Setiap satu cacing gelang memakan
0,14 g karbohidrat dan 0,035 protein per hari. Cacing tersebut menghabiskan 0,005
milimeter darah per hari dan minum 0,2 milimeter darah per hari. Nutrisi ataupun zat
yang berperan dalam perkembangan terlebih bagi anak-anak akan terganggu sehingga
dapat mempengaruhi kinerja otak anak tersebut.
Onggowaluyo, Samidjo Jangkung. 2001. Parastologi Medik 1 Helmintologi. Jakarta:
EGC.
3) Bagaimana teknis diagnosis penyakit askariasis? Jelaskan prosedur diagnosa penyakitt
askariasis!
Jawab: terdapat cara pemeriksaan tidak langsung menggunakan ZnSO4. Teknik
pemeriksaannya membuat suspensi feses ditambah 10 bagian air panas. Kemudian
menyaring suspensi tersebut menggunakan kain kasa dan filtrat ditampung dalam
tabung centrifuge. Kemudian diputar dengan kecepatan 2.500 pm selama 1 menit,
supernatan dibuang, sedimennya ditambah 2-3 ml air dan diaduk hingga homogen.
Kemudian diputar lagi, supernatan jernih dituang. Sedimen ditambah 3-4 ml zink
sulfatejenuh (33% larutan ZnSO4), diaduk menggunakan batang pengaduk, hingga
homogen dan ditambahkan ZnSO4 sampai batas 1,5 cm dari ermukaan tabung.
Kemudian diputar lagi denga kecepatan tinggi selama 1 menit. Kemudian
dipindahkan lapisan atas dari supernatan dengan ohse dan ditaruh di aats obyek glass
ang bersih kemudian ditambah satu tetes lugol dan dicampur. Ditutup menggunakan
cover glass dan diamati menggunakan mikroskop okuler.
Vizqar, Z., Loh A.K. 1999. Buku Penuntun Parasitologi Kedokteran. Jakarta:
Penebarcipta.