Anda di halaman 1dari 3

Bimbi Naufal ILMU KALAM

B91216081 / A3 / KPI TUGAS 3

Perbedaan ilmu kalam dengan ilmu ilmu lainnya

PERBEDAAN TAUHID DENGAN ILMU AQAID, ILMU KALAM, USHULUDDIN, DAN THEOLOGI ISLAM

Tauhid, ilmu aqaid, ilmu Kalam, Ushuluddin, dan Theologi Islam merupakan ilmu yang mempunyai
pembahasan yang hampir sama. Ilmu-ilmu tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga
tidak mudah untuk membedakan antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Berikut adalah pengertian
dari masing-masing ilmu tersebut, antara lain:

1. Tauhid

Tauhid ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (mengesakan Tuhan), tidak ada sekutu bagiNya.
Mengesakan Allah pada sesuatu yang menjadi kekhususanNya, baik Rububiyah, Uluhiyah, atau Asma
serta sifat-sifatNya.

2. Ilmu Aqaid

Aqaid artinya simpulan, yakni kepercayaan yang tersimpul dalam hati, menjadikan rasa yakin pada diri
tanpa tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Ilmu Aqaid adalah ilmu yang membahas
kepercayaan-kepercayaan fundamental (mendasar) dalam Islam.

3. Ilmu Kalam

Ilmu Klam adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan dengan mendasarkan pada argument logika atau
rasio sebagai pembuktian terhadap argument naqli atau teks.

4. Ushuluddin

Ushuluddin berarti pokok (keesaan Tuhan) atau dasar-dasar agama. Ilmu Ushuluddin adalah ilmu yang
membahas tentang prinsip-prinsip kepercayaan agama dengan dalil-dalil qathI dan dalil-dalil akal
pikiran.

5. Theologi Islam

Theologi adalah ilmu yang mempelajari tentang keTuhanan, yaitu membicarakan Dzat Tuhan dari segala
segiNya dan hubunganNya dengan alam. Theology Islam yakni ilmu keTuhanan yang membahas tentang
ihwal Tuhan.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan perbedaan antara Tauhid dengan ilmu
Aqaid, ilmu Kalam, Ushuluddin, dan Theologi Islam. Adapun perbedaannya antara lain:

1. Tauhid lebih menekankan pada keyakinan untuk mengesakan Tuhan, dengan mengupas dalil-dalil
yang mungkin sesuai dengan akal dan juga mengupas dalil-dalil samiyat.
2. Ilmu Aqaid merupakan hal yang diyakini dalam hati hingga tak ada keraguan sedikitpun.

3. Ilmu Kalam dalam pembahasannya tidak lepas dari argumentasi-argumentasi dan dalil-dalil akal yang
sesuai dengan logika dalam persoalan yang dibahasnya.

4. Ushuluddin membahas prinsip-prinsip kepercayaan dengan dalil akal pikiran dan dalil qathi.

5. Theologi Islam lebih banyak membahas tentang ke Tuhanan dan hubunganNya dengan alam dan
manusia.

ADAPUN JUGA TITIK PERBEDAAN ILMU KALAM DENGAN FILSAFAT DAN TASAWUF

1. Ilmu Kalam

Perbedaan di antara ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang
menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliah berfungsi untuk mempertahankan
keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan
metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan. Sebagian ilmuwan bahkan
mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran
agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.

Meskipun ilmu kalam merupakan sebuah disiplin ilmu yang rasional dan logis, namun kalau dilihat adari
asas-asas yang dipakai dalam argumentasinya terdiri dari dua bagian, yaitu ; Aqli dan Naqli. Bagian Aqli
ini terbangun dengan dasar pemikiran yang rasional murni, itupun kalau ada relevansinya dengan Naqli.
Karena naqli tersebut adalah untuk menjelaskan dan menegaskan pertimbangan rasional supaya
memperkuat argumen-argumennya.

2. Ilmu Filsafat

Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara
menuangkan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam);
tidak merasa terikatat oleh apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika. Peranan
filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha
menjelaskan konsep-konsep (the gaining of conceptual clarity). Murthadha muthahari berkata bahwa
metode filsafat hanya bertumpu pada silogisme (qiyas), argumentasi rasional (istidal aqli) dan
demonstrasi rasional (burhan aqli).

Berkenaan dengan keragaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka dalam filsafat dikenal
apa yang disebut kebenaran korespondensi. Dalam pandangan korespodensi, kebenaran adalah
persesuaian antara kenyataan sebenarnya di alam nyata. Disamping kebenaran korespodensi, di dalam
filsafat juga dikenal kebenaran korehensi. Dalam pandangan korehensi, kebenaran adalah kesesuaian
antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum
dan permanen. Jadi, kebenaran dianggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang
dianggap benar oleh ulama umum.

Disamping dua kebenaran di atas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran pragmatis. Dalam pandangan
pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan
(workability) dengan dampak yang memuaskan. Jadi, sesuatu akan dianggap tidak benar kalau tidak
tampak manfaatnya secara nyata dan sulit untuk di kerjakan.

3. Ilmu Tasawuf

Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio. Oleh sebab itu, filsafat
dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf
bersifat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya, bahasa
tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sulit dibahasan.
Pengalaman rasa lebih muda dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenaranya dan
mudah digambarkan dengan bahasa lambang, sehingga sangat interpretable dapat diinterpretasikan
bermacam-macam). Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham,
atau inspirasi yang datang dari tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah
kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri. Itulah
sebabnya dalam sains dikenal istilah objeknya tidak objektif. Ilmu seperti ini dalam sains dikenal dengan
ilmu yang diketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu proporsional.

Didalam pertumbuhannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi rasional dan teologi
tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains
kealaman, sosial, dan humaniora; sedangkan filsafat berkembang lagi menjadi filsafat klasik,
pertengahan, dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan
tasawuf teoritis.

KESIMPULAN PERBEDAAN ILMU KALAM DENGAN FILSAFAT DAN TASAWUF

Perbedaan diantara ketiga ilmu itu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam , sebagai
ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi - argumentasi naqliyah berfungsi untuk
mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai ketuhananya. Sebagian
ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan - keyakinan kebenaran, praktek dan
pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Sementara filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode
yang digunakannya pun adalah metode rasional. filsafat menghampiri kebenaran dengan cara
menuangkan (mengembarakan atau mengelana) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral
(menyeluruh) serta universal tidak merasa terikat oleh ikatan apapun kecuali oleh ikatan tangannya
sendiri yang bernama logika.

Adapun ilmu tasawwuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio. Sebagai sebuah
ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawwuf bersifat subyektif, yakni sangat berkaitan dengan
pengalaman seseorang. Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya), teologi diantaranya berperan sebagai
ilmu yang mengajak orang yang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal Tuhan secara
rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang yang
mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian
langsung. Adapun tasawwuf lebih berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang
telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh yang ingin dicarinya. Sebagian orang
memandang bahwa ketiga ilmu itu memiliki jenjang tertentu. jenjang pertama adalah ilmu kalam,
kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu tasawwuf.