Anda di halaman 1dari 3

Nama: Davina Amalia

NIM: 122011101042

PR Laporan Kasus 1

1. Bagaimanan cara pemeriksaan uji plasido ?


Uji plasidountuk melihat kelengkungan kornea
Alat : papan plasido papan yang mempunyai gambaran garis melingkar
konsentris dengan lubang kecil pada bagian sentralnya.
Cara pemeriksaan Menggunakan papan plasido dengan gambaran
lingkaran konsentris putih hitam yang menghadap pada sumber cahaya atau
jendela, sedang pasien sendiri membelakangi jendela. Melalui lubang di
tengah plasidoskop dilihat gambaran bayangan plasido pada kornea.
Interpretasi :
o Normalbayangan plasido kornea berupa lingkaran konsentris. Lingkaran
konsentris berarti permukaan kornea licin dan regular.
o Astigmatise kornea lingkaran lonjong
o Astigmatisme ireguler akibat adanya infiltrat ataupun parut korneagaris
lingkaran tidak beraturan
o Edema kornea keruhkurang tegas

(Sumber: Sidarta, 2013)

2. Apa yang dimaksud dengan infiltrat ? perbedaanya dengan erosi


korena ?
a. Infiltrat, merupakan area fokal dengan inflamasi stromal akut yang
tersusun atas sel inflamatori disertai debris seluler maupun ekstraseluler
dan nekrosis. Temuan yang tampak adalah gambaran berwarna
kekuningan atau putih kelabu pada stroma anterior. Secara umum, infiltrat
yang terbentuk dapat bersifat infektif maupun steril, dengan pembeda
sesuai dengan parameter pada tabel berikut:
Tabel 1. Karakteristik Infiltrat Kornea

Parameter Infiltrat Infektif Infiltrat Steril


(Supuratif) (Non Supuratif)
Ukuran Besar Kecil
Progresi Cepat Lambat
Defek Epitel Umumnya ada dan besar Umumnya tidak ada dan kecil
Nyeri (Pain) Sedang berat Ringan
Sekret (Discharge) Purulen Mukopurulen
Jumlah Lesi Tunggal Jamak
Lokasi pada Mata Unilateral Bilateral
Reaksi COA Berat Ringan
Lokasi Sentral Perifer
Reaksi Kornea Ekstensif Terbatas
di sekitarnya
b. Erosi kornea. Merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat
diakibatkan oleh gesekkan keras pada epitel kornea. Erosi dapat terjadi
tanpa cedera pada membran basal. Dalam waktu yang pendek epitel
sekitarnya dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel
tersebut. Pada erosi pasien akan merasa sakit sekali akibat erosi merusak
kornea yang mempunyai serat sensiberl yang banyak, mata berair, dengan
blefarospasme, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan akan tergantu oleh
media kornea yang keruh. Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel
kornea yang bila diberi perwarnaan fluoresein akan berwarna hijau. Pada
erosi kornea perlu diperhatikan adalah adanya infeksi yang timbul kemudian.
(Kankski JJ, 2011)
3. Pemeriksaan untuk mengetahui defek kornea ?
Untuk mengetahui defek kornea/defek epitel kornea maka dilakukan
uji/te fluorescein.
Dasar: Zat warna fluoresin akan berubah menjadi warna hijau pada
media alkali. Zat warna fluoresin bila menempel pada epitel kornea yang
defek/luka akan menjadi hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat
lebih basa
Alat:
o Zat warna fluresin 0,5 2% (dapat berupa tetes mata atau
kertas fluoresin).
o Aqua steril atau larutan garam fisiologik
o Spuit 5 cc tanpa jarum
o Tissue
o Slit lamp (Terlihat lebih jelas dengan pembesaran dengan
menggunakan slit lamp)
o Kursi untuk duduk pasien (bila pasien duduk)

Tehnik pemeriksaan:
Zat warna fluoresin diteteskan (bila berupa tetes mata) pada mata
atau kertas fluoresin diselipkan di forniks inferior. Diamkan selama 20
detik
Bilas zat warna dengan mengirigasi permukaan mata dengan
menggunakan aqua steril atau larutan garam fisiologik sampai seluruh air
mata tidak terwarnai hijau lagi
Lihat defek akan berwarna hijau. Terlihat jelas dengan pembesaran
memakai slit lamp memakai cahaya biru,
Nilailah defek pada kornea. Defek kornea akan tercat hijau:
o Pada erosi warna hijau tampak cemerlang dan belum terlihat infiltrate.
o Pada keratitis tampak infiltrate dengan warna hijau redup/tidak cerah
dengan batas tidak tegas.
o Pada ulkus kornea tampak infiltrate disertai jaringan nekrotik.
Catatan: Zat fluoresin yang menempel pada defek akan hilang sesudah
30 menit.