Anda di halaman 1dari 13

Tugas Kelompok VII

Mata Kuliah : Kebijakan & Manajemen Kesehatan

Dosen : Dr. dr. Noer Bahry Noor, M.Sc.

Review Undang-Undang No.44 Tahun 2009 Pasal 25-28

PERIZINAN RUMAH SAKIT

OLEH

A.Karlina Askarini Makassau (P1806216024)


Fhirastika Annisha Helvian (P1806216026)
Mansyur Arif (P1806216034)
Ayu Rizky Ameliyah (P1806216304)

MANAJEMEN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2016

i
RINGKASAN EKSEKUTIF
Pemberian izin bagi rumah sakit saat ini belum berjalan secara maksimal.Berbagai
kasus menunjukkan bahwa rumah sakit dengan mudah dapat didirikan, namun mengalami
kendala dalam pengelolaan akibat ketidaksiapan SDM dan kesalahan dalam perencanaan.
Kasus tentang perizinan penyelenggaraan rumah sakit mencerminkan bahwa masih banyak
terjadi pelanggaran hukum berkaitan dengan perizinan rumah sakit (Noegroho, 1999).
Adapun tujuan kebijakan perizinan rumah sakit dilakukan untuk menjamin bahwa
lembaga pelayanan atau individu tenaga kesehatan tersebut memenuhi standar kompetensi
minimal untuk melindungi keselamatan publik (Hikmatin dkk,2006)
Pendekatan yang dilakukan untuk menganalisis pasal ini adalah tipe pendekatan
empiris (fakta) karena tipe ini menyangkut fakta yang ada dengan permasalahan pokok yaitu
perizinan.
Isu utama yang menjadi substansi dari kebijakan ini adalah tentang perizinan
pendirian dan operasional rumah sakit.Terkait perizinan pendirian dan pelayanan sarana
kesehatan untuk pelaksanaan kuratif maupun rehabilitatif .
Masalah baru yang timbul akibat pezininan rumah sakit pada UU No. 44 Tahun 2009
pasal 25-28 ialah rumah sakit yang belum dapat memperbaruhi perizinan Rumah Sakitnya
merupakan sarana yang erat hubungannya dengan masalah Kesehatan dan nyawa manusia.
Ketika dikaitkan dengan kondisi khusus, seperti ketidaksiapan rumah sakit, studi
kelayakan rumah sakit seperti perencanaan rumah sakit secara fisik dan non fisik, maupun
tenaga yang kompeten, maka bisa jadi akan menimbulkan resistensi di kemudian hari dan
menjadi masalah baru dan tentunya akan berdampak negatif bagi kinerja pelayanan rumah
sakit dan keselamatan serta kepuasan pasien.
Prediksi keberhasilan diharapakan dengan adanya perizinan dan didirikannya rumah
sakit masyarakat dapat menikmati seluruh fasilitas sarana kesehatan untuk meningkatkan
status kesehatannya yang sesuai dengan UU.No.36 tahun 2009 pasal 4 bahwa setiap orang
berhak atas kesehatan, selain itu sebagai tempat menyalurkan profesi sesuai bidangnya bagi
tenaga kesehatan dan non-kesehatan.
Rekomendasi Pejabat Dinas Kesehatan baik provinsi/daerah/kota, serta badan
penanam modal harus lebih berfokus memperhatikan sebuah rumah sakit yang akan
dikeluarkan izinnya, melakukan penilaian secara bersungguh-sungguh, serta pengawasan
berkala dalam hal ini visitasi agar rumah sakit tersebut tidak melakukan moral hazard atau
pelanggaran kode etik kesehatan, karena sebuah rumah sakit mempunyai peran vital didalam
keberlangsungan hidup seorang pasien
ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL. i

RINGKASAN EKSEKUTIF ......................................................................... . ii

DAFTAR ISI................................................................................................... . iii

BAB I KAJIAN KEBIJAKAN

1.1 Masalah Dasar......................... 1

1.2 Tujuan yang Ingin Dicapai.. 2

1.3 Substansi Kebijakan. 2

1.4 Ciri Kebijakan.. 3

BAB II KONSEKUENSI DAN KEBIJAKAN

2.1 Perilaku yang Muncul. . 5

2.2 Resistensi. 5

2.3 Masalah Baru yang Timbul.. 6

BAB III PREDIKSI

3.1 Prediksi Trade Off. ... 8

3.2 Prediksi Keberhasilan. 9

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Kesimpulan 10

4.2 Rekomendasi.. 10

iii
BAB I
KAJIAN KEBIJAKAN

1.1 MASALAH DASAR


Masalah kesehatan saat ini telah menjadi salah satu masalah utama bagi
masyarakat.Kesehatan dinilai sangat penting, sehingga semua orang menginginkannya, oleh
sebab itu dalam upaya mendukung kesehatan bagi setiap orang, pemerintah harus
menyiapkan sarana kesehatan bagi masyarakat. Salah satu sarana tersebut adalah rumah sakit
(Griselda dan Tagor, 2007).
Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, yang
menyangkut berbagai fungsi pelayanan, pendidikan dan penelitian serta mencakup berbagai
tindakan maupun disiplin medis. Menurut WHO, rumah sakit adalah keseluruhan dari
organisasi dan medis, berfungsi memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada
masyarakat baik kuratif maupun rehabilitatif, dimana output layanannya menjangkau
pelayanan keluarga dan lingkungan, rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga
kesehatan, serta untuk penelitian biososial.
Dalam peraturan menteri kesehatan RI No. 56 tahun 2014 tentang klasifikasi dan
perizinan Rumah sakit baik izin mendirikan dan izin operasi penetapannya berdasarkan surat
keputusan menteri Kesehatan untuk RS kelas A, sedangkan kelas B ditetapkan oleh
pemerintah Daerah Provinsi setelah diberikan rekomendasi dari dinas kesehatan
kabupaten/kota setempat, sementara kelas C dan kelas D ditetapkan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota setelah diberikan rekomendasi dari dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
Penetapan kelas RS adalah penetapan pengelompokan RS berdasarkan fasilitas dan
kemampuan pelayanannya.
Pemberian izin bagi rumah sakit saat ini belum berjalan secara maksimal.Berbagai
kasus menunjukkan bahwa rumah sakit dengan mudah dapat didirikan, namun mengalami
kendala dalam pengelolaan akibat ketidaksiapan SDM dan kesalahan dalam perencanaan.
Kasus tentang perizinan penyelenggaraan rumah sakit mencerminkan bahwa masih banyak
terjadi pelanggaran hukum berkaitan dengan perizinan rumah sakit (Noegroho, 1999). Oleh
karena itu dianggap penting untuk mengkaji dan mengetahui proses pelaksanaan perizinan
pendirian dan operasional rumah sakit sesuai Undang-undang yang berlaku.

1
1.2 TUJUAN YANG INGIN DICAPAI
Pengkajian pasal 25, 26, 27, dan 28 menyebutkan bahwa setiap operasional rumah
sakit wajib memiliki izin pendirian dan izin operasional. Perizinan merupakan suatu bentuk
pelaksanaan fungsi peraturan dan bersifat pengendalian yang dilakukan oleh pemerintahan
terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan di masyarakat (Sutedi, 2010). Pemberian izin
pendirian maupun operasional sarana kesehatan merupakan akuntabilitas pemerintah kepada
masyarakat bahwa sarana kesehatan yang telah diberi izin tersebut telah memenuhi standar
pelayanan dan aspek keamanan pasien, jadi perizinan sangat terkait dengan standar dan mutu
pelayanan.Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa lembaga pelayanan atau individu tenaga
kesehatan tersebut memenuhi standar kompetensi minimal untuk melindungi keselamatan
public (Hikmatin dkk,2006)
Sehingga dalam pendirian dan penyelenggaraan rumah sakit yang termasuk sektor
kesehatan, tentu Menteri Kesehatan selaku pimpinan Departemen Kesehatan yang
membidangi urusan kesehatan dalam pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini
memiliki kewenangan untuk membuat dan menetapkan tata cara perizinan pendirian rumah
sakit.Prosedur perizinan pendirian rumah sakit itu dituangkan dalam berbagai keputusan.
Berdasarkan pada ketentuan yang berlaku pihak pemerintah maupun swasta yang akan
mendirikan rumah sakit harus memperoleh izin pendirian dan izin penyelenggaraan. Izin
penyelenggaraan dapat dibagi kedalam dua jenis yaitu, izin operasional dan izin tetap.

1.3 SUBSTANSI KEBIJAKAN (ISU UTAMA)


Isu utama yang menjadi substansi dari kebijakan ini adalah tentang perizinan
pendirian dan operasional rumah sakit.Terkait perizinan pendirian dan pelayanan sarana
kesehatan untuk pelaksanaan kuratif maupun rehabilitatif tersebutlah yang menjadi substansi
dan nilai dasar dari kebijakan ini.
Substansi Kebijakan dalam Undang-Undang No 44 Tahun 2009 pasal 25 , bahwa
setiap penyelenggara Rumah sakit wajib memiliki izin dan izin yang dimaksud tersebut
terdiri dari izin pendiriaan bangunan dan izin operasional dalam penyelenggaraan pelayanan
kesehatan. Izin mendirikan diberikan dalam jangka waktu 2 tahun dan dapat diperpanjang
untuk 1 tahun, sedangkan izin operasional diberikan untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat
diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
Substansi kebijakan dalam Undang Undang No 44 tahun 2009 pasal 26 , Rumah sakit
dibagi dalam berbagai kelas berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanannya. Izin rumah
sakit kelas A diberikan oleh menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
2
berwenang di bidang kesehatan pada pemda Provinsi. Sedangkan untuk izin Rumah sakit
penanaman modal asing atau penanam modal dalam negeri sebelumnya harus mendapat
rekomendasi dari instansi yang melaksanakan urusan penanaman modal asing atau dalam
negeri kemudian mendapatkan izin dari Pemerintah daerah provinsi dan kemudian izin
diberikan oleh menteri. Izin rumah sakit tipe B diberikan oleh Pemerintah daerah Provinsi
setelah mendapatkan rekomendasi dari Pemerintah daerah kabupaten/kota.Sedangkan izin
rumah sakit tipe C dan D dapat diberikan oleh Pemerintah daerah kabupaten/kota setelah
mendapatkan rekomendasi sebelumnya.
Substansi kebijakan dalam Undang Undang No 44 tahun 2009 pasal 27, Izin rumah
sakit juga dapat dicabut jika masa berlaku izin telah habis dan rumah sakit tersebut tidak lagi
memenuhi persyaratan dan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah, ataupun RS
terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan Perundan-undangan dan atau perizinan
dapat dicabut atas perintah pengadilan dalam rangka penegakan hukum.
Substansi kebijakan dalam Undang Undang No 44 tahun 2009 pasal 28 yaitu
ketentuan lebih lanjut tentang perizinan rumah sakit diatur pada peraturan menteri kesehatan
RI Nomor 56 tahun 2014 pada pasal 1 menyebutkan bahwa izin mendirikan Rumah Sakit,
diberikan oleh pejabat yang berwenang kepada instansi pemerintah, pemerintah daerah atau
badan swasta yang akan mendirikan bangunan atau mengubah fungsi bangunan yang telah
ada untuk menjadi rumah sakit, sedangkan izin operasional Rumah Sakit, adalah izin yang
diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai kelas rumah sakit kepada
penyelenggara/pengelola rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan di rumah
sakit setelah memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri ini.

1.4 CIRI KEBIJAKAN


A. Kriteria Kebijakan
Pasal-pasal ini mempunyai criteria kebijakan yang berfungsi untuk mengatur tentang
perizinan baik dalam hal pendirian bangunan maupun operasional pelayanan.
Kriteria kebijakan dalam pasal 25 bersifat memperjelas dan menegaskan bahwa setiap
penyelenggaraan rumah sakit wajib memiliki izin, baik izin pendirian bangunan maupun izin
operasional.Hal ini untuk memenuhi standar pelayanan dan aspek keamanan pasien.
Kriteria kebijakan dalam pasal 26 bersifat memperjelas dan menegaskan alur
perizinan pendirian rumah sakit kelas A, B, C dan D maupun rumah sakit penanaman modal
asing atau penanaman modal dalam negeri.

3
Kriteria kebijakan dalam pasal 27 bersifat menegaskan bahwa pencabutan izin rumah
sakit dapat dilakukan kapan saja bila rumah sakit tersebut melanggar peraturan perundang-
undangan ataupu pada saat rumah sakit tersebut telah habis masa berlaku izinnya dan sudah
tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar yang telah ditetapkan.
Kriteria kebijakan dalam pasal 28 bersifat memperjelas tentang perizinan yang diatur
oleh peraturan menteri kesehatan bahkan termaktub didalam Peraturan Menteri Kesehatan
No.56 Tahun 2014.

B. Tipe Pendekatan
Pendekatan yang dilakukan untuk menganalisis pasal ini adalah tipe pendekatan
empiris (fakta) karena tipe ini menyangkut fakta yang ada dengan permasalahan pokok yaitu
perizinan.Pendekatan ini menekankan penjelasan sebab akibat dari kebijakan tentang Rumah
sakit, khususnya tentang perizinan pendirian bangunan maupun operasional pelayanan, alur
pemberian izin menurut kelas rumah sakit dan tentang pencabutan izin rumah sakit.

C. Pasal Yang Bermasalah


Pasal 27 tentang pencabutan izin rumah sakit masih dianggap lemah, karena pada
pasal ini dijelaskan tentang pencabutan izin apabila izin habis masa berlakunya
sedangkan pada penjelasan peraturan menteri pasal 71 dikatakan bahwa apabila izin
operasional berakhir dan pemilik belum mengajukan perpanjangan maka rumah sakit
harus menghentikan kegiatan pelayanan kecuali pelayanan gawat darurat dan rawat
inap.
Sedangkan ada penjelasan lain tentang peraturan menteri pada pasal 71 ayat 2 bahwa
apabila rumah sakit tetap menyelenggarakan pelayanan tanpa izin operasional maka
akan dikenakan sanksi pidana sesuai ketentuan undang-undang.
Selanjutnya yang menjadi masalah adalah bagaimana mencantumkan sanksi pidana
pada permasalahan yang bersifat administratif dan pengaturannya yang dilimpahkan
pada peraturan pemerintah.

4
BAB II

KONSISTENSI DAN RESISTENSI

2.1 PERILAKU YANG MUNCUL (POSITIF DAN NEGATIF)

Berdasarkan UU No. 44 Tahun 2009 pasal 25-28 terdapat perilaku yang positif
dan negatif yang muncul. Perilaku positifnya ialah pemberian izin sarana kesehatan
merupakan akuntabilitas pemerintah kepada masyarakat bahwa sarana kesehatan yang
telah diberi izin tersebut telah memenuhi standar pelayanan dan aspek keamanan pasien
yang sangat terkait dengan standar dan mutu pelayanan. Dengan adanya perizinan, rumah
sakit menjadi tertib dan teratur dalam setiap penyelenggaraannya baik izin mendirikan
maupun izin operasionalnya

Perilaku negatifnya dalam hal ini ialah pemohon mempunyai


hambatan khususnya mengenai perizinan yang dibutuhkan, dimana ketika di ajukan
permohonan ijin operasional tersebut ditolak oleh Kementrian Kesehatan dan badan
hukum yang berkompeten, selain itu juga harus menanggung beban pidana penjara,
denda, sanksi administratif sebagai pemilik dan menjadi halangan bagi keberlangsungan
usaha rumah sakit.

2.2 RESISTENSI
Bentuk

Secara umum, pasal 25-28 UU No. 44 Tahun 2009 telah diatur dalam Perizinan
Rumah Sakit yang sudah memiliki jalur-jalur atau alur perizinan yang jelas agar tidak
terjadi kesalahan dalam mendirikan suatu rumah sakit agar dapat memberikan jaminan
pelayanan rumah sakit dengan standar yang telah ditetapkan. Namun, ketika dikaitkan
dengan kondisi khusus, seperti ketidaksiapan rumah sakit, studi kelayakan rumah sakit
seperti perencanaan rumah sakit secara fisik dan non fisik, kebutuhan pelayanan rumah
sakit, sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dari segi biaya maupun tenaga yang
kompeten, maka bisa jadi akan menimbulkan resistensi di kemudian hari dan menjadi
masalah baru sebagai akibat dari pelaksanaan UU RS ini dan tentunya akan berdampak
negatif bagi kinerja pelayanan rumah sakit dan keselamatan serta kepuasan pasien.

Aktor

Aktor resistensi pada pasal 25-28 UU No. 44 Tahun 2009 ialah :

5
1. Pemerintah
2. Pemerintah Daerah
3. Badan Hukum
Sumber

UU NO.44 tahun 2009 tentang rumah sakit , rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawati inap, rawat jalan dan gawat darurat
berdasarkan pasal 22-28 tentang perizinan rumah sakit sumber resistensinya meliputi
setiap rumah sakit harus memiliki izin yang terdiri atas : izin mendirikan rumah
sakit dan izin operasional rumah sakit yang saat ini dapat dilihat pada
pemenuhan persyaratan perizinan rumah sakit dan tidak tercapainya akreditasi
ulang rumah sakit untuk mengoptimalkan pelayanan yang ada di rumah sakit
baik pelayanan medik dan non medik.

Intensitas

Dengan adanya perizinan rumah sakit dimana prosedur pendirian rumah sakit
meliputi studi kelayakan rumah sakit yang mencakup sarana dan prasarana rumah
sakit diharapkan dapat memberikan pasien pelayanan kenyamanan dan perlindungan
serta keselamatan selama berada dirumah sakit.

2.3 MASALAH BARU YANG TIMBUL

Masalah baru yang timbul akibat pezininan rumah sakit pada UU No. 44 Tahun
2009 pasal 25-28 ialah rumah sakit yang belum dapat memperbaruhi perizinann Rumah
Sakitnya merupakan sarana yang erat hubungannya dengan masalah Kesehatan dan
nyawa manusia. Definisi, Tugas Dan Fungsi Rumah Sakit Menurut WHO. Menurut WHO
(World Health Organization),rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi
sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat.
Dimana Dalam menjalankan operasionalnya Rumah Sakit Diwajibkan memilki berbagai
ijin yang harus dilengkapi diantaranya :

1. Surat permohonan izin mendirikan RS dari Pemilik (Yayasan, PT atau Badan Hukum
Lainnya) ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dengan tembusan
6
disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat & Dirjen
Yanmedik.
2. Foto copy Akte Notaris Pendirian Badan Hukum : Yayasan / Perusahaan.
3. Foto copy sertifikat tanah atas nama pemohon
4. IMB
5. Izin Lokasi dari Bupati ( Izin Layak Investasi dari Bapeda & Ijin Lokasi dari Dinas
Agraria )
6. Upaya pemantauan/Pengelolaan Limbah sesuai ketentuan
7. Studi kelayakan dan Master Plan yang meliputi : Analisa kebutuhan pelayanan dan
rencana pengembangan, Analisa keuangan, Program fungsi, Kebutuhan Ruangan,
Kebutuhan peralatan, Kebutuhan tenaga dan rencana mendapatkannya, Rencana kelas
RS, Rencana kapasitas jumlah Tempat Tidur, Rencana jenis pelayanan medik.Surat
pernyataan diatas kertas bermaterei dari pemohon yang menyatakan akan tunduk serta
patuh kepada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di bidang kesehatan.
8. Daftar isian pendirian RS.Izin Gangguan / H.O

Terlepas terjadinya kesalahan prosedur tentang siapa yang berhak mengeluarkan Ijin
Rumah Sakit Tersebut Adalah sangat penting untuk kita ketahui tentang sejauh mana
mekanisme proses perijinan Rumah Sakit tersebut dijalankan apakah sudah sesuai
prosedur atau tidak ?. Hal ini sangat perlu diketahui untuk meminimalisir terjadinya
malpraktek yang terjadi di Sebuah Rumah Sakit.

7
BAB III

PREDIKSI

3.1 Posisi Trade OFF

Rumah Sakit Dalam hal masa berlaku Izin Operasional berakhir dan pemilik Rumah Sakit
belum mengajukan perpanjangan Izin Operasional, Rumah Sakit harus menghentikan
kegiatan pelayanannya kecuali pelayanan gawat darurat dan pasien yang sedang dalam
perawatan inap, sehingga rumah sakit akan mengalami kerugian secara materiil dan selain itu
citra/image rumah sakit akan menjadi rusak.

Masyarakat : Limbah Medis, (B3) Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan sarana pelayanan
kesehatan, khususnya rumah sakit, bila tidak ditangani dengan benar akan dapat mencemari
lingkungan dan akan merusak air tanah dan tercemar kerumah-rumah warga disekitar rumah
sakit

Pejabat di bidang kesehatan /dinas kesehatan provinsi atau kota, dengan melakukan
visitasi dalam rangka penilaian kesiapan dan kelayakan operasional Rumah Sakit sesuai
dengan klasifikasi Rumah Sakit , sehingga diharapkan harus teliti didalam melakukan visitasi
apabila salah dalam melakukan assessment terhadap rumah sakit yang akan diuji
kelayakannya, maka pemerintah dibidang nasional dalam hal ini Kementrian Kesehatan akan
melakukan teguran dengan alasan kelalaian pejabat provinsi atau kota sehingga menurunkan
citra pejabat kesehatan setempat.

Pasien : Apabila dokter tidak memiliki izin lisensi atau izin praktek selama mendirikan
rumah sakit sehingga memungkinkan terjadinya malpraktik kepada pasien, akibat izin
oprasional yang tidak beres sebab izin tersebut tidak memenuhi standar pelayanan dan aspek
keamanan pasien

3.2 Prediksi Keberhasilan

Menurut Ripley dan Franklin dalam bukunya yang berjudul Policy Implementation and
Bureaucracy 1986 (Birokrasi dan Implementasi Kebijakan) menyatakan bahwa keberhasilan
implementasi kebijakan atau program dapat ditujukan dari tiga faktor, yaitu kepatuhan,
kelancaran rutinitas, dan memberikan manfaat sesuai dengan yang diharapkan, untuk faktor
kepatuhan seluruh stakeholder yang terkait dalam persyaratan perizinan harus mematuhi

8
seluruh syarat yang telah berlaku termasuk pada izin oprasional , dimana stakeholder (pendiri
rumah sakit) harus memperhatikan sarana dan prasarana yang harus tersedia contoh ruangan
pelayanan kesehatan, lalu lulus dalam uji persyaratan pengolahan limbah dan Izin Mendirikan
Bangunan, untuk faktor kelancaran rutinitas stakeholder rumah sakit harus memperhatikan
dengan adanya izin oprasional berarti harus memperhatikan peralatan yang menunjang
rutinitas tersebut seperti tersedia dan berfungsinya perlatan/perlengkapan baik medis dan non
medis yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan,keselamatan, dan layak pakai, serta
tersedianya sumber daya manusia yang sesuai dengan jumlah, jenis dan standar pendidikan.
Untuk faktor memberikan manfaat sesuai yang di harapakan yaitu dengan didirikannya
rumah sakit masyarakat dapat menikmati seluruh fasilitas sarana kesehatan untuk
meningkatkan status kesehatannya yang sesuai dengan UU.No.36 tahun 2009 pasal 4 bahwa
setiap orang berhak atas kesehatan, selain itu sebagai tempat menyalurkan profesi sesuai
bidangnya bagi tenaga kesehatan dan non-kesehatan.

9
BAB IV

KESIMPULAN & REKOMENDASI

4.1 KESIMPULAN

Pemberian izin bagi rumah sakit saat ini belum berjalan secara maksimal.Berbagai
kasus menunjukkan bahwa rumah sakit dengan mudah dapat didirikan, namun
mengalami kendala dalam pengelolaan akibat ketidaksiapan SDM dan kesalahan
dalam perencanaan. Kasus tentang perizinan penyelenggaraan rumah sakit
mencerminkan bahwa masih banyak terjadi pelanggaran hukum berkaitan dengan
perizinan rumah sakit
Dalam peraturan menteri kesehatan RI No. 56 tahun 2014 tentang klasifikasi dan
perizinan Rumah sakit baik izin mendirikan dan izin operasi penetapannya
berdasarkan surat keputusan menteri Kesehatan untuk RS kelas A, sedangkan kelas B
ditetapkan oleh pemerintah Daerah Provinsi setelah diberikan rekomendasi dari dinas
kesehatan kabupaten/kota setempat, sementara kelas C dan kelas D ditetapkan oleh
pemerintah daerah kabupaten/kota setelah diberikan rekomendasi dari dinas kesehatan
kabupaten/kota setempat. Penetapan kelas RS adalah penetapan pengelompokan RS
berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanannya.
4.2 REKOMENDASI

Pejabat Dinas Kesehatan baik provinsi/daerah/kota, serta badan penanam modal


harus lebih berfokus memperhatikan sebuah rumah sakit yang akan dikeluarkan
izinnya, melakukan penilaian secara bersungguh-sungguh, serta pengawasan berkala
dalam hal ini visitasi agar rumah sakit tersebut tidak melakukan moral hazard atau
pelanggaran kode etik kesehatan, karena sebuah rumah sakit mempunyai peran vital
didalam keberlangsungan hidup seorang pasien. Oleh karena itu dianggap penting
untuk mengkaji dan mengetahui proses pelaksanaan perizinan pendirian dan
operasional rumah sakit sesuai Undang-undang yang berlaku.

Alur pelayanan perizinan rumah sakit sebaiknya dilampirkan didalam peraturan


menteri atau undang-undang yang terkait mengenai perizinan rumah sakit, untuk
mempermudah penanam modal yang akan mendirikan rumah sakit untuk melakukan
perizinan, agar tidak terjadi miss komunikasi dalam hal prosedur perizinan.

10