Anda di halaman 1dari 7

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tauhid

Makalah disusun oleh Kharis Fahrudi, M. Nur, Rifqy Hidayatullah


Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang

A. PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam datang dengan seperangkat ajaran yang berisikan tata
norma dan tata aturan yang penuh dengan hikmah-hikmah terpendam. Islam dibawa oleh
Rasulullah SAW mempunyai tiga pondasi yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjadi
seorang mukmin yang kaffah.

Tauhid atau iman, yang kemudian oleh para ulama dijadikan munculnya Ilmu Tauhid atau
yang akhirnya dikenal dengan Rukun Iman Islam terangkum dalam Lima Rukun Islam yang
akhirnya berkembang menjadi ilmu fiqih. Dan Ihsan adalah sebuah kajian yang menjadi
awal mula munculnya ilmu tasawuf.

Tauhid (akidah) adalah ajaran dasar agama Islam dan hukum mempelajarinya
adalah fardhu ain bagi setiap muslim. Tauhid dalam sejarah pemikiran Islam secara
teologis merupakan bagian dari ilmu yang berdiri sendiri yang selama ini kurang
mendalam, kurang rasional dan filosofis. Dalam perkembangannya, tauhid
melakukan pembahasan sepihak karena tidak mengemukakan pandangan aliran-
aliran teologi Islam.

Mempelajari ilmu tauhid menurut satu aliran saja menimbulkan wawasan yang
sempit dalam beragama atau berteologi Islam. Wawasan yang sempit tersebut
membuat orang bersifat fanatik, lemah iman, kesulitan dalam mempertahankan
serta membela kepercayaan Islam.

Untuk mendapatkan wawasan yang luas, dari sebuah kajian ilmu tersebut diperlukan
sikap toleran yang tinggi dengan memiliki akidah yang kuat dalam beragama dan
perlu mengetahui berbagai ajaran tauhid dalam berbagai macam aliran teologi Islam
dan sejarahnya. Mempelajari ilmu kalam atau tauhid bertujuan meningkatkan
wawasan, keyakinan dan dasar yang kuat sehingga dalam menjalankan apa yang
menjadi ketentuan islam tidak terombang - ambing oleh isu-isu yang muncul di
setiap zaman dari pemikiran dan gagasan manusia.

Tauhid sebagai pondasi juga harus dimiliki oleh seseorang sebagai pondasi awal untuk
menuju pada pondasi selanjutnya yaitu Islam dan Ihsan. Iman merupakan bagian terpenting
dalam kehidupan manusia sebagai bentuk percaya dan yakin akan adanya wujud Allah Tuhan
Sang Maha Kuasa dan bentuk keyakinan bahwa tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang
menyekutukanNya.
Tauhid menjadi suatu cabang keilmuan yang memiliki pembahasan khusus yaitu tentang
sifat ketuhanan, kekuasaanNya, surga, neraka, kufur, murtad, mukmin dan taqdir Allah SWT.
Tauhid menjadi ilmu yang cemerlang dan sempat menghebohkan peradaban Islam pada abad
4-5 Hijriyah, dimana tauhid menjadi ilmu yang favorit dan banyak diminati oleh para santri
waktu itu.

Dengan mengetahui ilmu tauhid dan latar belakang sejarahnya seseorang akan bertambah
keyakinanya terhadap ke Esaan Allah yang dapat menjadi sebuah barometer keimanan
seseorang. Sebuah ideologi dan kepercayaan perlu ditanamkan kepada setiap orang muslim
yang bertujuan agar membentuk kepribadian dan sikap yang bertaqwa.

B. RUMUSAN MASALAH
Dengan tema yang berkaitan di atas yaitu mengenai Ilmu Tauhid dalam bab Sejarah
Pertumbuhan Ilmu Tauhid, maka kami membuat rumusan masalah bertujuan supaya dalam
pembahasan makalah yang akan kami sajikan sesuai dengan konteks yang ditentukan dan
menjadi pokok bahasan. sehingga terjadinya hasil yang positif dari makalah tersebut. Maka
rumusan masalah yang kami sajikan adalah sebagai berikut:

A. Munculnya sebuah Keyakinan Beragama


B. Sejarah Ilmu Tauhid zaman Nabi Adam dan Nabi Nuh
C. Sejarah Ilmu Tauhid zaman Rasulullah
D. Perkembangan Ilmu Tauhid setelah Rasulullah wafat

C. PEMBAHASAN
1. Munculnya Sebuah Keyakinan Beragama
Ilmu tauhid adalah sebuah ilmu untuk mengenal Allah SWT dalam arti untuk mengetahui
menyakini bahwa Allah adalah maha pencipta alam semesta dan tidak ada yang
menyekutukanya. Secara historis menyatakan bahwa tauhid telah ada sejak lama dengan
adanya sejarah Nabi Adam dan penerusnya. Dari hal tersebut terbukti dengan adanya
manusia yang mendiami bumi telah percaya, yakin bahwa Allah SWT itu Esa .

Semua Nabi yang berjumlah 25 itu semuanya mengajarkan kepada umatnya tentang arti
penting beragama serta melakukan kebaikan dan ketauhidtan terhadap sang pencipta jagat
alam raya dengan mengajarkan kaidah-kaidah keyakinan yang bersifat tunggal yaitu Allah
SWT.

Demensi lain dari agama adalah dengan cara hidup seseorang di muka bumi dann untuk
mengenal demensi keyakinan dalam beragama diperlukan metode dan sejarah. Maka
mengetahui pertumbuhan dan perkembangan keyakinan dalam beragama. Maka diperlukan
tinjauan dari beberapa aspek yang membawa nilai positif, yang diantaranya telah di naskan
oleh Allah SWT yang ditunjukan dengan ayat al Qur'an. Dalam surat Al Baqarah ayat 213 :

Artinya : "Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah
mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka
Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan
kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,
karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang
beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya.
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepadajalan yang lurus".

Sejarah telah membuktikan bahwa nabi-nabi telah menyatukan manusia dan hanya di utus
untuk melakukan kebaikan dan untuk memurnikan akal pikiranya. Dari kekuatan akal dan
pola pikir yang diajarkan oleh para nabi akan dapat menimbang baik dan buruk karena
mereka diberi petunjuk oleh Allah .

2. Sejarah Ilmu Tauhid zaman Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim
Nabi Adam adalah nenek moyang manusia yang pertama. Setelah ia beranak cucu banyak, ia
ditugaskan Allah menjadi Nabi kepada anak cucunya. Adam mengajarkan tauhid kepada anak
cucunya secara murni sehingga merekapun taat dan tunduk kepada ajaran Adam yang meng-
Esakan Allah SWT.

Karena fitrah manusia yang suka dipimpin dan diatur, jika pemimpinya sudah tidak ada lagi
atau wafat. Maka kehilangan pemimpin itu mengakibatkan penyimpangan-penyimpangan
dari ajaran yang lurus menjadi keadaan yang tidak teratur dan tidak terkendali. Sehingga
Allah membangkitkan atau mengutus kembali Nabi-nabi setelah Nabi Adam wafat untuk
menuntun dan memimpin umat manusia.

Seperti halnya umat Nabi Adam, setelah wafat olehnya maka umatnya kocar kacir tidak
berketentuan, porak-poranda sepeninggal beliau. Maka Allah mengutus Nabi Nuh sebagai
pengatur dan pemimpin umat manusia setelah nabi Adam. Sehingga Nabi Nuh disebut
sebagai bapak atau nenek moyang kedua.

Kemudian sepeninggal Nabi Nuh, umat kehilangan pemimpin lagi dan kacaulah kembali. Hingga
Allah mengutus Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim selain mengajarkan tauhid juga mengajarkan
syariah, yang diantaranya disyariatkan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad
sebagai bukti adanya hubungan yang erat antara syariah Ibrahim dan syariah Muhammad.
Diantara Nabi Ibrahim dan Muhammad. Allah juga mengutus banyak Nabi yang dinataranya
adalah Nabi Musa dan Isa AS.

3. Sejarah Ilmu Tauhid zaman Rasulullah


Kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah ditugaskan untuk mengembalikan dan memimpin umat
kepada tauhid, mengakui ke-Esaan Allah SWT dengan ikhlas dan semurni-murninya, seperti apa
yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Ibrahim dahulu. Agama yang sebenarnya tidak asing lagi
bagi bangsa Arab. Tauhid yang diajarkan oleh Nabi Muhammad itu seperti apa yang telah
digariskan dalam al Qur'an dan Hadits.

Segala sifat-sifat Allah sudah terkandung dalam al Qur'an sehingga di masa Rasul tidak ada
orang yang menanyakannya. Karena mereka sudah jelas dalam hal tersebut. Mereka hanya
menanyakan masalah-masalah yang berhubungan dengan ibadah seperti shalat, puasa, zakat,
amal shaleh, dan lain-lain. Mereka semua sepakat menetapkan bahwa sifat-sifat Allah itu Azali,
yaitu : Qudrat, Iradah, Ilmu, Hayyat, Sama', Bashar, Kalam, dan lain-lain.

Dalam masa nabi belum terjadi berbedaan yang mendalam karena masyarakat pada waktu itu
masih di persatukan dan semua di kemblikan kepada nabi sebagai utusan Allah. Mengenai
tauhid yang berkembang pada saat itu masih bersifat murni dan belum terobang-abang oleh
masalah kekuasaan dan politik yang memicu perpecaah umat islam.

4. Perkembangan Ilmu Tauhid setelah Rasulullah wafat

Di masa sahabat, ketauhidan tidak ada bedanya dengan zaman rasul. Sampai akhir abad
pertama hijriah, barulah ada kegoncangan-kegoncangan setelah munculnya seseorang bernama
Jaham Ibnu Shafwan di negeri Persi yang tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah yang Azali itu,
banyak di antara kaum muslimin yang terpengaruh oleh ajaran itu, bahkan ada yang
menguatkan keyakinannya.

Adapun kaum muslimin yang tetap murni ketauhidannya menentang pendapat Jaham dengan
menyatakan bahwa pendapat itu "sesat". Akan tetapi, di kala ulama-ulama sibuk membicarakan
dalil untuk menolak pendapat Jaham itu, tiba-tiba timbul pula suatu aliran yang bernama
Mu'tazilah yang dietuskan oleh Washil ibnu Atha'. Ia membenarkan pendapat Jaham : yang
menafikan sifat-sifat Allah.

Kemudian muncul pula seorang yang bernama Muhammad bin Koram Abu Abdullah As
Sijistany, pemimpin golongan Karamiyah yang menentang golongan Mu'tazilah dengan
menetapkan sifat-sifat Allah. Tetapi cara mereka menentang terlalu berlebihan sehingga
menyerupai Allah sebagai yang berjisim. Semenjak itu dikenal dengan paham Karamiah atau
Mujassimah.

Perseteruan paham ini berlangsung hingga Khalifah Makmun (Daulah Abbassiyah), hingga
tampil seorang yang terkenal dengan nama Abu Hasan Ali Al As'ary yang melahirkan jalan
tengah antara kedua pendapat yang bertentangan tersebut. Beliau mengemukakan alasannya
dengan dalil aqli dan naqli, sehingga banyaklah para ulama yang tertarik serta ikut
menyebarkannya.

Maka tersebar ajaran ini keseluruh Iraq yang kemudian ke Syam. Dan setelah Shalahudin al
Ayyubi menguasai Mesir, selain madzhab Syafi'I i menyiarkan madzhab ini, sehingga
akhirnya rakyat Mesir menganut madzhab Asy'ariyah dalam tauhid dan madzhab Syafi'iyyah
dalam fiqh. Madzhab As'ariyah juga berkembang pula di negeri mahrabi yaitu sebelah utara
Afrika, yang dipelopori oleh salah satu murid Imam Ghazali yang akhirnya mereka namakan
juga madzhab ini dengan madzhab Muwahhidin, yang kemudian negaranya pun bernama
kerajaan Muwahhidin.

Selanjutnya pada abad kedelapan hijriyah, seoarang yang bernama Taqiuddin Abul Abbas bin
Taimiyah Al Harry dari Syam, muncul menyokong dan ingin mempertahankan madzhab salaf
yang tadi. Dia memusatkan dan menumpahkan kegiatannya untuk mempertahankan salaf dan
menentang As'ariyah. Pendirian Ibnu Taimiyyah ini masih agak asing dan tidak mendapat
tanah yang subur karena telah mendalamnya faham-faham yang diajarikan oleh madzhab
As'ariyah. Dan keadaan seperti hal tersebut juga di negara-negara islam lainnya.

Semenjak Rasulullah wafat, pemerintahan dipegang oleh khulafaurrasyidin yang kemudian


dipimpin oleh khalifah Umawiyah dan setelah itu oleh daulah Abbasyiah. Sejak akhir
pemerintahan Umawiyah, dunia islam mulai kemasukan kebudayaan-kebudayaan asing yang
datang dari persi, Yunani, India, dan sebagainya. Di kala pemerintahan Abbassiyah, yaitu
ketika khalifah Makmun, umat islam telah sampai pada puncak kemajuan ilmu pengetahuan
dan kebudayaan yang tinggi.

Dari sejak masuknya kebudayaan asing (falsafah dari agama lain) itu, maka lahirlah
perbedaan pandangan dalam ilmu Tauhid. Di masa itu timbul golongan-golongan seperti
Jahamiah, Mu'tazilah, Khawarij, dan sebagainya yang saling berdebat satu sama lain, saling
kafir-mengkafirkan. Terutama ahli Sunnah yang sangat banyak musuhnya, semua ribak
(musuh) menjadi lawannya.

Akan tetapi di zaman khalifah Makmun semua aliran itu dapat dikatakan lenyap atau tidak
berpengaruh lagi, kecuali Mu'tazilah yang masih subur karena mendapat lindungan dan
sokongan dari khalifah Makmun. Sehingga setelah wafatnya khalifah, Mu'tazilah tidak
mendapat perlindungan lagi bahkan mereka mendapat serangan dan mengalami kemunduran
akibat dari semua aliran-aliran yang dahulu tumbuh kembali.

Golongan Mu'tazilah terus menerus mengalami kemunduran sehingga muncul seorang


pemimpin golongan ahli sunnah yang bernama imam as'ary. Di zaman ini, semua madzhab
dikatakan lumpuh tak berdaya apalagi setelah tumbuh musuh baru yang lebih kuat, yaitu
golongan ahli falsafah. Yang kemudian ahli falsafa h ini dihancurkan oleh seorang pendekar
islam yang bernama Imam Ghazali. Beliau tidak melarang orang berfalsafah, tetapi
janganlah orang mencampurkan falsafah dengan agama, terutama ketauhidan. Dan supaya
falsafah itu jangan dipengaruhi agama, apalagi falsafah yang mungkin bertentangan dengan
agama.

Yang menentang pencampuradukan falsafah dengan agama itu bukan Imam Ghazali saja,
melainkan banyak tokoh-tokoh di belakangnya yang hendak membendung gelombang
falsafah terhadap agama. Seperti Fakhrudin Ar Razi dan Ibnu Taimiyah dan lain-lain. Agar
keyakinan terhadap Allah SWT selalu terjaga dan tanpa harus menjatuhkan atau bersifat
fanatik terhadap golongan yang lain karena berbeda penafsiran.

D. KESIMPULAN
Dalam mempelajari tauhid yang berarti kepercayaan, maka sangat penting untuk mengetahui
sisi historis atau sejarah. Dalam ruang lingkup sejarah telah tercatat bahwa dilingkungan
umat islam dari abad-abad permulaan islam ada samapai sekarang terdapat perbedaan
pendapat tentang tauhid terhadap tuhan atau Allah SWT. Dalam perjalanan sejarah islam
terdapat firqoh-firqoh dalam Iitiqod yang pahamnya yang mempunyai paham yang berbeda-
beda atau bertentangan secara keras ataupun tajam terhadap satu dengan yang lainya.

Hal tersebut telah terjadi dan Allah menjadikan hal tersebut dengan segala hikmah yang
diketahuinya. Firqoh yang ada diantaranya adalah : Syiah, Khawarij, Mutazilah, Qodariah,
Jabaraiah, Najariah, Musyabiah, Baiyah, Ahmadiyah, Ibnu Taimiyah, Wahabiah,Suny. Firqoh
tersebut merupakan dari pemahaman tauhid yang terjadi karena perbedaan pendapat dan
paham yang menjadi perpecahan golongan di kalangan islam.

Dengan mengetahui latarbelakang dari hal masalah tauhid. Maka kita selalu yakin bahwa
Allah adalah tuhan yang maha kuasa dan maha mengetahui apa yang terjadi, baik sekarang
maupun yang akan datang. Dengan mengetau ilmu tahid kita akan mengetaui bahwa islam
mempunyai berabagai macam kajian dan sumber ilmu yang sangat luas dan sangat menarik
apabila di kaji dengan baik dan teratur.

E. PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kekurangan
dan keliruan kami minta maaf atas kesalahan tersebut. Dan kami mengharap semoga ilmu
yang membahas masalah tauhid ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita mengenai
ilmu-ilmu yang terdapat dalam agama islam. Maka kami selaku penulis meminta kritik serta
saran dari pembaca demi sempurnanya makalah ini .

DAFTAR PUSTAKA
- Jaya, Yahya. Prof. Dr. M.A, Teologi Agama Islam, Padang: Angkasa Raya, 2000.

- Nata, Habudin, Metodologi Stadi Islam, Teori Penelitian Agama, Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2007.

- Abdul Muin, Taib Thohir, Ilmu Kalam, Jakarta : Widjaya, 1973.

- Abbas, Sirojuddin, Iitiqod Ahlussunah Wal-jamaah, Jakarta : Pustaka Tarbiyah, 2003.

- Hasbi Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad, Sejarah dan Pengatar Ilmu Kalam, Semarang :
Pustaka Riski Putra, 1999.