Anda di halaman 1dari 76

EVALUASI PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN DI

WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN MENTENG


PERIODE 26 JUNI 28 JULI 2017

Disusun Oleh : KELOMPOK 3

Entin Kartikasari (110.2012.076)


M. Khoirul Anwar (110.2012.151)
Rannissa Puspita J. (110.2012.225)
Siti Saradita (110.2012.283)

Pembimbing :

dr. Citra Dewi, M.Kes, DipIDK

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KELUARGA BAGIAN


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

0
26 JUNI 28 JULI 2017

1
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Lingkaran Pemecahan Masalah dengan Judul EVALUASI PROGRAM


KESEHATAN LINGKUNGAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KECAMATAN MENTENG PERIODE JUNI - JULI 2017. Penerapan metode
Lingkaran Pemecahan Masalah Program Kesehatan Lingkungan telah disetujui
oleh pembimbing untuk dipresentasikan dalam rangka memenuhi salah satu tugas
kepaniteraan Ilmu Kedokteran Keluarga Fakultas kedokteran Universitas YARSI
periode 26 Juni 28 Juli 2017.

Jakarta, Juli 2017


Pembimbing,

dr. Citra Dewi, M.Kes, DipIDK

1
KATA PENGANTAR

Assalamua`alaikum wr. wb.


Alhamdulillahirabbilalamiin, puji dan syukur senantiasa penulis ucapkan
atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga dapat terselesaikannya laporan lingkaran pemecahan masalah
dengan judul EVALUASI PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN MENTENG PERIODE
JUNIM- JULI 2017 ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusunan laporan hasil lingkaran pemecahan masalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas dalam Kepaniteraan Klinik Kedokteran Keluarga
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI,
periode 26 Juni 28 Juli 2017. Penulis juga berharap agar laporan ini dapat
berguna sebagai salah satu sumber pengetahuan bagi pembaca, dan sebagai bahan
pertimbangan evaluasi salah satu pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat
mengenai kesehatan lingkungan.
Penyelesaian laporan ini tidak terlepas dari bantuan dosen pembimbing, staf
pengajar, serta orang-orang sekitar penulis yang terkait. Oleh karena itu, penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Citra Dewi, M.Kes, DipIDK, selaku dosen pembimbing Kepaniteraan
Ilmu Kedokteran Keluarga Universitas YARSI yang telah membimbing
dan memberi masukan yang bermanfaat.
2. dr. Dini Widianti, M.KK, selaku kepala bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas YARSI.
3. Dr. Erlina Wijayanti, M.PH, selaku koordinator Kepaniteraan Ilmu
Kesehatan Masyarakat Universitas YARSI.
4. DR. Rifqatussaadah, SKM, M.Kes, selaku sekretaris dan staf pengajar
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI.

2
5. DR. Kholis Ernawati, S.Si, M.Kes, selaku Bendahara dan staf pengajar
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI.
6. dr. Sugma Agung Purbowo, MARS, DipIDK, dr. Yusnita, M.Kes, dr.
Dian Mardhiyah, M.KK, dr. H. Sumedi Sudarsono, M.PH, dr. Hj.
Sophianita G.T. Aminy, MKK, PKK, selaku staf pengajar Kepaniteraan
Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
7. Drg. Alamas Hidayati selaku kepala Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih yang telah memberi masukan yang bermanfaat selama berada di
Puskesmas Kecamatan Menteng.
8. Dr. Desrina selaku pembimbing dan penanggung jawab kepaniteraan di
Puskesmas Kecamatan Menteng.
9. Seluruh staf & tenaga kesehatan Puskesmas Kecamatan Menteng,
Jakarta Pusat yang telah memberikan bimbingan dan data kepada penulis
untuk kelancaran proses penulisan laporan ini.
10. Seluruh rekan sejawat yang telah memberikan motivasi dan kerjasama
sehingga tersusun laporan ini.

Jakarta, Juli 2017

Tim Penulis

DAFTAR ISI

3
PERNYATAAN PERSETUJUAN...........................................................i
KATA PENGANTAR..........................................................................ii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR GAMBAR.........................................................................vii
DAFTAR DIAGRAM ..vii
DAFTAR TABEL..............................................................................ix
BAB I.............................................................................................1
1.1 Latar Belakang
1
1.1.1 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Menteng
....1
1.1.2 Gambaran Umum Puskesmas
..3
1.1.2.1 Definisi Puskesmas
..3
1.1.2.2 Wilayah Kerja Puskesmas
...5
1.1.2.3 Pelayanan Kesehatan
...7
1.1.2.4 Visi Puskesmas
7
1.1.2.5 Misi Puskesmas
...8
1.1.2.6 Strategi Puskesmas
..9
1.1.2.7 Fungsi Puskesmas
9
1.1.2.8 Upaya Kesehatan Puskesmas
....11
1.1.3.9 Peran Puskesmas
...12

4
1.1.3 Gambaran Umum Puskesmas Kecamatan
Menteng....13
1.1.3.1 Visi, Misi, dan Tata
Nilai....................................................13
1.1.3.2 Tujuan Umum dan
Khusus..............................................13
1.1.3.3 Fungsi Puskesmas Kecamatan
Menteng.14
1.1.3.4 Sarana dan
Prasarana...14
1.1.3.5.................................................Sumber Daya
Manusia.........................................................16
1.1.3.6 Jenis Layanan di BLUD Puskesmas Kecamatan
Menteng..19
1.1.3.8 Denah Puskesmas Kecamatan
Menteng..............................20
1.1.4 Program Kesehatan Lingkungan.......................................21
1.1.4.1 Definisi ..
22
1.1.4.2 Tujuan ...
22
1.1.4.3 Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
...23
1.1.4.4 Sasaran Kesehatan Lingkungan
23
1.1.4.5 Kegiatan Program Kesehatan Lingkungan
....24
1.1.5 Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
Kecamatan
Menteng.....24
1.1.5.1 Pembinaan Tempat Tempat Umum25
1.1.5.2 Pembinaan Tempat Pengolahan Makanan (TPM).27
1.1.5.3 Pemantauan Kualitas Air Minum...28

5
1.1.5.4 Pengendalian Vektor..30
1.1.6 Identifikasi Masalah ...
.....32
1.1.7 Rumusan Masalah ...
....33
BAB II
...35
2.1 ................................................Penetapan Prioritas Masalah
35
2.1.1 Non-Scoring
Technique..35
2.1.2 Scoring Technique .
.....36
2.2 .....................Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah
46
2.3 Menentukan Penyebab Masalah yang Paling Dominan
....48
2.3.1 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan
Menggunakan Fishbone (Diagram Tulang Ikan)
cakupan Angka Bebas Jentik di Kelurahan
Gondangdia Pada Periode Januari April 2017
yaitu 93,22 % kurang dari target >
95%................................ ....................................
................51
2.3.2 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan
Menggunakan Fishbone (Diagram Tulang Ikan)
pada Cakupan Angka Bebas Jentik di Kelurahan
Cikini Pada Periode Januari April 2017 yaitu
92,06% kurang dari target > 95% .
............................................................
...52

6
BAB
III..53
3. 1 Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah....................53
BAB IV .....56
4.1 Menyusun Rencana Kegiatan Pemecahan Masalah ......56

4.2 Rencana Pelaksanaan Pemecahan Masalah .......59

BAB V ...61
5.1 Kesimpulan .61
5.2 Saran .......61
DAFTAR PUSTAKA ...63

7
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Kecamatan Menteng.........2


Gambar 1.2 Sistem Rujukan Puskesmas .......12
Gambar 1.3 Denah Puskesmas Kecamatan Menteng ........20

8
DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1.1 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Menteng..............18


Diagram 1.2 Grafik Pencapaian Target Indikator Pemantauan Kualitas Air

Minum........................................................................................................29

Diagram 2.1 Fishbone Angka Bebas Jentik di Kelurahan Gondangdia Pada Bulan
Januari April 2017 ...............49
Diagram 2.2 Fishbone Angka Bebas Jentik di Kelurahan Cikini Pada Periode
Januari April 2017 .......50

9
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Luas Wilayah Kecamatan Menteng ........1


Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Menteng ......2
Tabel 1.3 Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur..........3
Tabel 1.4 Prasarana Gedung Puskesmas di Kecamatan Menteng ...........16
Tabel 1.5 Jumlah Pegawai Puskesmas Menteng ..........17
Tabel 1.6 Sepuluh Penyakit Terbanyak Tahun 2016.....19
Tabel 1.7 Laporan Angka Bebas Jentik (ABJ) Bersumber Jumantik Kelurahan di
Kecamatan Menteng Bulan Januari April 2017.............................32
Tabel 2.1 Skala Score Emergency pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan
pada Puskesmas Kecamatan Menteng Januari-April 2017 ..............38
Tabel 2.2. Penentuan Score Emergency Terhadap Masalah Kesehatan Lingkungan
yang Terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas se-Kecamatan Menteng
Periode Januari April 2017 ............................................................38
Tabel 2.3. Penentuan Score Greatest Member pada Evaluasi Program Kesehatan
Lingkungan pada Puskesmas Kecamatan Menteng Januari - April
2017.............................39
Tabel 2.4. Penentuan Score Greatest Member pada Evaluasi Program Kesehatan
Lingkungan pada Puskesmas Kecamatan Menteng Januari - April
2017............................39
Tabel 2.5. Skala Luas Wilayah pada Evaluasi Program Kesling pada Puskesmas
Kecamatan Menteng Januari April 2017........................................40
Tabel 2.6. Luas Wilayah pada Kecamatan Menteng Berdasarkan Kelurahan Tahun
2016 .40
Tabel 2.7. Score Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah pada Kecamatan
Menteng Periode Januari April 2017 .........................41
Tabel 2.8. Skala Score Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas Sektor
pada Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017..................41
Tabel 2.9. Score Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas Sektor pada
Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017 ..............41

10
Tabel 2.10 Total score Berdasarkan Luas Wilayah dan Keterpaduan Lintas Sektor
pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan
Menteng Periode Januari April 2017 ..........................42
Tabel 2.11. Skala Score Feasibility Berdasarkan Jumlah Tenaga Medis Puskesmas
pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Periode Januari April
2017 ...........................42
Tabel 2.12. Penentuan Score Feasibility pada Evaluasi Program Kesehatan
Lingkungan pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng
Periode Januari April 2017 . ....43
Tabel 2.13. Scoring Ketersediaan Fasilitas Terhadap Kegiatan di Wilayah
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017........43
Tabel 2.14. Scoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan Di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017.........44
Tabel 2.15. Penentuan Score Feasibility pada Evaluasi Program P2B2 Puskesmas
Kecamatan Periode Januari - Desember 2016..........................44
Tabel 2.16.Penentuan Nilai Policy Terhadap Kegiatan di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng periode Januari April 2017 .......45
Tabel 2.17 Penentuan Score Policy pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017
....................45
Tabel 2.18. Penentuan Masalah menurut Metode MCUA pada Evaluasi Program
Kesehatan Lingkungan di Kecamatan Menteng Periode Januari
April 2017 .....................46
Tabel 3.1 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan Menggunakan Fishbone
(Diagram Tulang Ikan) Angka Bebas Jentik Kelurahan Cikini pada
periode Januari April 2017 yaitu 92,06% ..............54
Tabel 3.2 MCUA Alternatif Pemecahan Masalah ABJ di Wilayah se-Kecamatan
Menteng Periode Januari April 2017 .............................................54
Tabel 4.1. Rencana Usulan Kegiatan Meningkatkan Cakupan Angka Bebas Jentik
pada Kelurahan Cikini Juli Desember 2017...............57

11
Tabel 4.2. Rencana Pelaksanaan Pemecahan Masalah Peningkatan Cakupan
Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini Juli Desember
2017.59

12
BAB I

Latar Belakang

1.1. Latar Belakang


1.1.1. Gambaran Umum Kecamatan Menteng
1.1.1.1. Keadaan Geofrafis
1. Letak Wilayah
Kecamatan menteng adalah sebuah kecamatan yang terletak di Jakarta
Pusat dan merupakan Pusat Pemerintahan dari Kota Administrasi Jakata
Pusat
2. Batas Wilayah
a. Sebelah Utara : Kecamatan Gambir
b. Sebelah Barat : Kecamatan Kebon Kacang
c. Sebelah Timur : Kecamatan Johar Baru
d. Sebelah Selatan : Kecamatan Tanah Abang
3. Luas Wilayah
Kecamatan Menteng mempunyai luas wilayah 653,46 Ha. Mempunyai lima
kelurahan, yaitu Kelurahan Kebon Sirih, Kelurahan Gondangdia, Kelurahan
Cikini, Kelurahan Menteng dan Kelurahan Pegangsaan.
Tabel 1.1 Luas Wilayah, Jumlah Kecamatan, Kelurahan, Rukun
Warga dan Rukun Tetangga Tahun 2016

Kelurahan Luas Wilayah (Ha) Jumlah RW Jumlah RT


Kebon Sirih 83,40 Ha 10 77
Gondangdia 145,82 Ha 5 40
Cikini 82,09 Ha 5 66
Menteng 243,90 Ha 10 137
Pegangsaan 98,25 Ha 8 104
Jumlah 653,46 Ha 38 424
Sumber: Profil Puskesmas Menteng 2016
Tabel 1.1 menjelaskan mengenai luas wilayah, jumlah kecamatan, kelurahan,
rukun warga dan rukun tetangga.
Kelurahan Menteng merupakan yang terluas dengan luas wilayah 245,90 Ha dengan
jumlah rukun warga dan rukun tetangga sebanyak 10 dan 137.
Gambar 1.1 Peta Wilayah Kecamatan Menteng
Keterangan Gambar:
: Puskesmas Kecamatan

: Puskesmas Kelurahan

1.1.1.2. Keadaan Demografis


Jumlah Penduduk Kecamatan Menteng pada Tahun 2016 sebanyak 85.840
orang.

2
Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Menteng Tahun 2016

NO KELURAHAN Penduduk
Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Menteng 14.463 14.589 29.052
2 Gondangdia 2.171 2.389 4.560
3 Cikini 4.823 4.868 9.691
4 Kebon Sirih 7.948 7.683 15.631
5 Pegangsaan 13.530 13.376 26.906

KEC. MENTENG 42.935 42.905 85.840

Sumber: Profil Puskesmas Kecamatan Menteng Tahun 2016


Jumlah penduduk yang terbanyak pada Kelurahan Menteng dengan jumlah 29.052
orang.

Tabel 1.3 Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

3
Jumlah Penduduk
Kelompok
Laki-Laki
No Umur Rasio Jenis
Laki-Laki Perempuan +
(Tahun) Kelamin
Perempuan
1 0-4 3.641 3.639 7280 100.5
2 5-9 3.717 3.384 7.101 109.84
3 10-14 3.941 3.256 7.197 121.04
4 15-19 3.569 3.233 6.802 110.39
5 20-24 3.519 3.281 6.800 107.25
6 25-29 3.613 3.672 7.285 98.39
7 30-34 3.591 3.375 6.966 106.40
8 35-39 3.774 3.364 7.138 112.19
9 40-44 2.902 3.160 6.602 91.84
10 45-49 2.728 3.281 6.009 83.15
11 50-54 2.721 2.555 5.276 106.50
12 55-59 2.430 2.002 4.432 121.38
13 60-64 1.077 1.757 2.834 61.30
14 65-69 668 729 1.397 91.63
15 70-74 475 713 1.188 66.62
16 75+ 442 1.485 1.927 29.76
Jumlah 42.808 42.886 85.694 99.82
Angka Beban Tanggungan 44 21.578
Sumber: Profil Puskesmas Menteng 2016

1.1.2 Gambaran Umum Puskesmas

1.1.2.1 Definisi Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah salah satu sarana


pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Puskesmas adalah
fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat
dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes No. 75 tahun 2014).
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diberikan oleh puskesmas kepada
masyarakat mencakup perencanaan, pelaksanaaan, evaluasi, pencatatan, pelaporan,
dan dituangkan dalam suatu sistem (Permenkes No.75 tahun 2014). Pelayanan
tersebut ditujukan kepada semua penduduk dengan tidak membedakan-bedakan.

4
Di Indonesia, puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan
tingkat pertama. Konsep Puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika dilangsungkan
Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) I di Jakarta, dimana dibicarakan
upaya pengorganisasian system pelayanan kesehatan di tanah air, karena pelayanan
kesehatan tingkat pertama pada waktu itu dirasakan kurang menguntungkan dan dari
kegiatan-kegiatan seperti BKIA, BP, dan P4M dan sebagiannya masih berjalan
sendiri-sendiri dan tidak berhubungan. Melalui Rekerkesnas tersebut timbul gagasan
untuk menyatukan semua pelayanan tingkat pertama kedalam suatu organisasi yang
dipercaya dan diberi nama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Dengan paradigma baru ini, mendorong terjadi perubahan konsep yang sangat
mendasar dalam pembangunan kesehatan, antara lain :
1. Pembangunan kesehatan yang semula lebih menekankan pada upaya
kuratif dan rehabilitatif menjadi lebih fokus pada upaya preventif dan
promotif tanpa mengabaikan kuratif-rehabilitatif
2. Pelaksanaan upaya kesehatan yang semula lebih bersifat terpilah-pilah
(fragmented) berubah menjadi kegiatan yang terpadu (integrated).
3. Sumber pembiayaan kesehatan yang semula lebih banyak dari pemerintah
berubah menjadi pembiayaan kesehatan lebih banyak dari masyarakat.
4. Pergeseran pola pembayaran dalam pelayanan kesehatan yang semula fee
for service menjadi pembayaran secara pra-upaya.
5. Pergeseran pemahaman tentang kesehatan dari pandangan komsutif
menjadi investasi.
6. Upaya kesehatan yang semula lebih banyak dilakukan oleh pemerintah
akan bergeser lebih banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai mitra
pemerintah (partnership).
7. Pembangunan kesehatan yang semula bersifat terpusat (centralization)
menjadi otonomi daerah (decentralization).
8. Pergeseran proses perencanaan dari top down menjadi bottom up seiring
dengan era desentralisasi.
Menurut Permenkes no 75 tahun 2014 Pembangunan kesehatan yang
diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:
1. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat
2. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu Hidup dalam
lingkungan sehat
5
3. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat

1.1.2.2 Wilayah Kerja Puskesmas


Dalam rangka pemenuhan Pelayanan Kesehatan yang didasarkan pada
kebutuhan dan kondisi masyarakat, Puskesmas dapat dikategorikan berdasarkan
karakteristik wilayah kerja dan kemampuan penyelenggaraan. Puskesmas
dikategorikan menjadi (Permenkes No.75 tahun 2014) :
A. Puskesmas Kawasan Perkotaan
Puskesmas yang wilayah kerjanya meliputi kawasan yang memenuhi paling
sedikit 3 (tiga) dari 4 (empat) kriteria kawasan perkotaan sebagai berikut:
- Aktivitas lebih dari 50% (lima puluh persen) penduduknya pada sektor non
agraris, terutama industri, perdagangan dan jasa
- Memiliki fasilitas perkotaan antara lain sekolah radius 2,5 km, pasar radius 2
km, memiliki rumah sakit radius kurang dari 5 km, bioskop, atau hotel
- Lebih dari 90% (sembilan puluh persen) rumah tangga memiliki listrik
- Terdapat akses jalan raya dan transportasi menuju fasilitas perkotaan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan oleh Puskesmas kawasan perkotaan
memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Memprioritaskan pelayanan UKM
- Pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat
- Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat
- Optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan pelayanan Puskesmas dan
jejaring fasilitas pelayanan kesehatan
- Pendekatan pelayanan yang diberikan berdasarkan kebutuhan dan
permasalahan yang sesuai dengan pola kehidupan masyarakat perkotaan.

B. Puskesmas Kawasan Pedesaan


Puskesmas yang wilayah kerjanya meliputi kawasan yang memenuhi paling
sedikit 3 (tiga) dari 4 (empat) kriteria kawasan pedesaan sebagai berikut:
- Aktivitas lebih dari 50% (lima puluh persen) penduduk pada sektor agraris
6
- Memiliki fasilitas antara lain sekolah radius lebih dari 2,5 km, pasar dan
perkotaan radius lebih dari 2 km, rumah sakit radius lebih dari 5 km, tidak
memiliki fasilitas berupa bioskop atau hotel
- Rumah tangga dengan listrik kurang dari 90% (sembilan puluh persen)
- Terdapat akses jalan dan transportasi menuju fasilitas
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas kawasan pedesaan
memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat
- Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat
- Optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan pelayanan Puskesmas dan
jejaring fasilitas pelayanan kesehatan
- Pendekatan pelayanan yang diberikan menyesuaikan dengan pola kehidupan
masyarakat perdesaan.
C. Puskesmas Kawasan Terpencil Dan Sangat Terpencil
Puskesmas yang wilayah kerjanya meliputi kawasan dengan karakteristik
sebagai berikut:
- Berada di wilayah yang sulit dijangkau atau rawan bencana, pulau kecil, gugus
pulau, atau pesisir
- Akses transportasi umum rutin 1 kali dalam 1 minggu, jarak tempuh pulang
pergi dari ibukota kabupaten memerlukan waktu lebih dari 6 jam, dan
transportasi yang ada sewaktu-waktu dapat terhalang iklim atau cuaca; dan
- Kesulitan pemenuhan bahan pokok dan kondisi keamanan yang tidak stabil.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas kawasan terpencil dan
sangat terpencil memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Memberikan pelayanan UKM dan UKP dengan penambahan kompetensi
tenaga kesehatan
- Dalam pelayanan UKP dapat dilakukan penambahan kompetensi dan
kewenangan tertentu bagi dokter, perawat, dan bidan
- Pelayanan UKM diselenggarakan dengan memperhatikan kearifan lokal
- Pendekatan pelayanan yang diberikan menyesuaikan dengan pola kehidupan
masyarakat di kawasan terpencil dan sangat terpencil
7
- Optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan pelayanan Puskesmas dan
jejaring fasilitas pelayanan kesehatan dan
- Pelayanan UKM dan UKP dapat dilaksanakan dengan pola gugus
pulau/cluster dan/atau pelayanan kesehatan bergerak untuk meningkatkan
aksesibilitas.
Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan. Dalam kondisi tertentu,
pada 1 (satu) kecamatan dapat didirikan lebih dari 1 (satu) Puskesmas. Kondisi
tertentu sebagaimana dimaksud ditetapkan berdasarkan pertimbangan kebutuhan
pelayanan, jumlah penduduk dan aksebilitas.
Puskesmas merupakan perangkat pemerintah daerah tingkat II, sehingga
pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh bupati setelah mendengar saran
tekhnis dari kantor wilayah departemen kesehatan provinsi.

1.1.2.3 Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan menyeluruh yang diberikan puskesmas meliputi :
- Promotif (peningkatan kesehatan)
- Preventif (upaya pencegahan)
- Kuratif (pengobatan)
- Rehabilitatif (pemulihan kesehatan)

1.1.2.4 Visi Puskesmas


Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah
tercapainya Kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat.
Kecamatan sehat adalah gambaran masyarakat Kecamatan di masa depan yang
ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam
lingkungan dan dengan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
Indikator Kecamatan sehat yang ingin dicapai mencakup empat indikator utama,
yaitu:
1. Lingkungan sehat
2. Perilaku sehat
3. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
4. Derajat kesehatan penduduk Kecamatan.
Rumusan visi untuk masing-masing Puskesmas harus mengacu pada visi
pembangunan kesehatan Puskesmas di atas yakni, terwujudnya Kecamatan sehat yang
8
harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah Kecamatan
setempat.

1.1.2.5 Misi Puskesmas


1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan sektor lain yang
diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan,
yaitu pembangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap
kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.
Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang kesehatan,
melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan, menuju kemandirian
hidup.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang
sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan
pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan
dana, sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.
Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan
perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan bertempat tinggal
di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan
ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai.

1.1.2.6 Strategi Puskesmas


Strategi puskesmas untuk mewujudkan pembangunan kesehatan (Mubarak,
2014) antara lain:

9
1. Pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh (comprehensive health care
service).
2. Pelayanan kesehatan yang menerapkan pendekatan yang menyeluruh (holistic
approach).
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat yang (Permenkes No.75 tahun 2014):
1. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat
2. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
3. Hidup dalam lingkungan sehat; dan
4. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat.

1.1.2.7 Fungsi Puskesmas


Menurut Permenkes No.75 tahun 2014. Puskesmas menyelenggarakan fungsi:
1. Penyelenggaraan Unit Kesehatan Masyarakat/UKM tingkat pertama di
wilayah kerjanya.
Dalam menjalankan fungsinya Puskesmas berwewenang:
a) Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan
b) Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan
c) Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan
d) Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait
e) Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan
upaya kesehatan berbasis masyarakat
f) Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia
Puskesmas
g) Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan
h) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses,
mutu, dan cakupan Pelayanan Kesehatan

10
i) Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,
termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon
penanggulangan penyakit.
2. Penyelenggaraan Unit Kesehatan Perorangan/UKP tingkat pertama di wilayah
kerjanya.
Dalam menjalankan fungsinya Puskesmas berwewenang:
a) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu
b) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif
c) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
d) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan
keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung
e) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif
dan kerja sama inter dan antar profesi
f) Melaksanakan rekam medis
g) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan
akses Pelayanan Kesehatan
h) Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan
i) Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya
j) Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan
Sistem Rujukan.

3. Wahana pendidikan tenaga kesehatan


Proses dalam melaksanakan fungsinya dilakukan dengan cara :
1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan
dalam rangka menolong dirinya sendiri.
2. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali
dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

11
3. Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan
medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan
bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.
4. Memberi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat.
5. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam
melaksanankan program puskesmas.

1.1.2.8 Upaya Kesehatan Puskesmas


Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama
dan kesehatan perseorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan dilaksanakan secara
terintegrasi dan berkesinambungan (Permenkes No. 75 tahun 2014).
Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan
masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.
1. Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:
a. Pelayanan promosi kesehatan
b. Pelayanan kesehatan lingkungan
c. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana
d. Pelayanan gizi
e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
2. Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya
kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang
sifatnya inovatif dan / atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi
pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan
wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing
Puskesmas.
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:
a. Rawat jalan
b. Pelayanan gawat darurat
c. Pelayanan satu hari (one daycare)
d. Home care
e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan
kesehatan

12
1.1.2.9 Peran Puskesmas
Konteks otonomi daerah saat ini, puskesmas mempunyai peran yang sangat
vital sebagai institusi pelaksana teknis. Puskesmas dituntut memiliki kemampuan
manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan. Peran tersebut ditunjukkan dengan ikut serta menentukan kebijakan daerah
melalui sistem perencanaan yang matang dan realistis, tatalaksana kegiatan yang
tersusun rapi, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Puskesmas juga
dituntut berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan
pelayanan kesehatan secara komperhensif dan terpadu (Permenkes No.75 tahun
2014).

Gambar 1.2 Sistem Rujukan Puskesmas

1.1.3. Gambaran Umum Puskesmas Menteng


1.1.3.1. Visi, Misi dan Tata Nilai
Visi
Menjadi pusat pelayanan kesehatan primer yang professional,
komprehensif, berstandar Internasional dan menjadi pilihan utama bagi seluruh
lapisan masyarakat tahun 2020.

Misi
Menyiapkan SDM yang professional, menyediakan sarana dan prasarana
yang berstandar nasional dan internasional. Meningkatkan akses layanan kesehatan

13
untuk seluruh lapisan masyarakat, menyelenggarakan UKP dan UKM secara
bersamaan dan berkesinambungan.
Tata Nilai
SEHAT
S : Senyum
E : Empati
H : Handal
A : Aman
T : Tertib

1.1.3.2. Tujuan Umum dan Khusus


Tujuan Umum
Meningkatkan derajat Kesehatan Masyarakat di Wilayah Kecamatan
Menteng serta peningkatan potensi masyarakat untuk melaksanakan perilaku hidup
bersih dan sehat. Tujuan Khusus

1. Memperluasa Jangkauan Pelayanan


2. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
3. Pengembangan Fungsi Puskesmas
4. Meningkatkan Promosi
5. Meningkatkan Sistem Informasi
6. Pengembangan Asuransi Kesehatan

14
1.1.3.3. Fungsi Puskesmas
1. Memberikan Pelayanan Kesehatan Klinis yang meliputi : loket, rekam
medik, klinik umum, klinik ibu dan anak, klinik 24 jam, rumah bersalin,
laboratorium, apotik, farmasi, radiologi, klinik Harm Reduction serta
klinik lainnya sesuai kebutuhan
2. Melakukan pembinaan pengawasan pengendalian terhadap pengelolaan
dan pelayanan Puskesmas Kelurahan
3. Mengkoordinasikan Pelayanan Kesehatan Masyarakat yang
dilaksanakan Puskesmas Kelurahan yang meliputi program KIA, KB,
perbaikan gizi, Puskesmas, imunisasi, pembinaan kesehatan lingkungan,
penyuluhan kesehatan masyarakat, UKS, kesehatan usia, upaya
kesehatan kerja, dll.
4. Mengkoordinasikan pemberdayaan masyarakat di Bidang Kesehatan
yang meliputi Kader kesehatan Posyandu, Karang Werda, dll.
5. Mengkoordinasikan temu lintas sektoral dalam penanggulanagan
masalah kesehatan
6. Menilai dan melaporkan kinerja puskesmas

1.1.3.4. Sarana dan Prasarana


Sarana pelayanan kesehatan pemerintah yang terdiri dari Puskesmas
pemerintah dan sarana kesehatan swasta. Puskesmas Non Rawat Inap tahun 2016
berjumlah 2 unit. Sarana kesehatan lainnya di wilayah Kecamatan Menteng
seperti klinik, dokter praktek perorangan, praktik dokter bersama, apotik dan
pengobatan tradional berjumlah 53 sarana, dari jumlah tersebut sudah memiliki
izin praktek lengkap.
Pelayanan kesehatan masyarakat di BLUD Puskesmas Kecamatan
Menteng terdiri dari 3 wilayah pelayanan:

1. Puskesmas Kecamatan Menteng


Jl. Pegangsaan Barat No.14 Menteng Jakarta Pusat

2. Puskesmas Kelurahan Pegangsaan


Jl. Tambak No. 28 Pegangsaan Jakarta Pusat

3. Puskesmas Kelurahan Gondangdia


Jl. Agus Salim No. 19A Kebon Sirih Jakarta Pusat

15
Sarana dan Prasarana yang dimiliki oleh Puskesmas Kecamatan Menteng, yaitu:

1. Transportasi
a. 1 buah Mobil Kijang Ambulans Puskesmas Keliling Inpres tahun
1989/1990
b. 8 buah Sepeda Motor, 4 buah di Puskesmas Kecamatan dan 2 buah masing
masing di Puskesmas Kelurahan
c. 1 Unit Mobil Ambulans untuk Operasional Puskesmas (Mitsubishi L 300)
d. 1 Unit Mobil Dinas Suzuku APV untuk Operasional Puskesmas diterima
tahun 2005
e. 1 unit mobil puskesmas keliling (berupa suzuki APV yang diadakan oleh
puskesmas pada tahun 2010)
2. Alat komunikasi
Telepon ada 6 buah, yaitu :

a. Puskesmas Kecamatan Menteng dengan nomor : 31935836, 3157164,


3103439, Fax 31904965
b. Puskesmas Kelurahan Pegangsaan dengan nomor : 31934355
3. Alat medis dan non medis
a. Alat Rontgen di ruangan khusus, untuk ini dipasang dengan PB dan 1
petugas Radiographer.
b. Alat pemeriksaan 1 unit EKG
c. 1 unit alat USG dan 2 unit nebilizer (bantuan APBN dan bantuan APBD)
d. 3 Dental unit di Puskesmas Kecamatan Menteng dan masing masing 1
unit di Puskesmas Kelurahan.
e. Peralatan laboratorium lengkap.
f. Alat Perlengkapan, Kartu Diagnosis, Kartu Pasien, Formulir laporan
sebagian dianggarkan dari Swadana dan yang lainnya dari Dana Subsidi
Pemda DKI Jakarta.
g. Obat obatan. Perencanaan obat obatan disesuaikan dengan kebutuhan
masing masing Puskesmas dengan melihat jumlah kunjungan pada tahun
sebelumnya.

16
Tabel 1.4 Prasarana Gedung Puskesmas di Kecamatan Menteng

Uraian Kec. Menteng Kel. Pegangsaan

2
Luas Tanah (m ) 1300 547
1500 460
2
Luas Bangunan (m )
5 lantai 3 lantai
Pembangunan Gedung 1988 1999/2000
Atap Genteng Genteng
Plafon Eternit Eternit
Dinding Tembok Tembok
Lantai Keramik Keramik
Pagar Besi Besi
WC 7 2
Listrik (watt) 53.000 28.000
Telepon Ada Ada
Nomor : 31935836 3193455
Air PAM PAM

1.1.3.5. Sumber Daya Manusia


Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan
dibidang kesehatan,untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan
praktek. Gambaran tenaga kesehatan yang mendukung penyediaan pelayanan yang
berkualitas di wilayah Kecamatan Menteng Tahun 2016.

17
Tabel 1.5 Jumlah Pegawai Puskesmas Menteng

No. Jenis Tenaga Pendidikan PNS Non PNS

1 Kepala Puskesmas S1 1
Kepala Sub Bagian Tata
2 S1 1
Usaha
3 Dokter Umum S1 9 9
4 Dokter Gigi S1 6 2
5 Apoteker S1 2 4
6 Asisten Apoteker SLTA / D3 4 2
7 Perawat S1 3
8 Perawat SLTA / D3 5 17
9 Perawat Gigi D3 1
10 Bidan D3 5 9
12 Analis Laboratorium D3 1 6
13 Radiografer D3 1
14 Kesehatan Lingkungan S1 1
15 Kesehatan Masyarakat S1 2
16 Kesehatan Lingkungan D3 1
17 Perekam medik D3 1
18 Administrasi S1 2 3
19 Administrasi D3 1 4
20 Administrasi SLTA 3 8
21 Pengemudi SLTA 6

JUMLAH 48 72

Sumber: Profil Puskesmas Kecamatan Menteng 2016

18
1.1.3.6. Struktur Organisasi
Puskesmas Kecamatan Menteng dipimpin oleh drg. Alamas Hidayati dan
membawahi 119 karyawannya.

Diagram 1.1 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Menteng

19
1.1.3.7. Jenis Layanan di BLUD Puskesmas Kecamatan Menteng

1. Layanan Medis Umum


2. Layanan Kesehatan Gigi
3. Layanan Kesehatan Ibu dan Anak
4. Layanan Kesehatan Gizi
5. Layanan Kegawatdaruratan
6. Layanan Rumah Bersa
7. Layanan Kesehatan TB Paru
8. Layanan TB Farmasi
9. Layanan Laboratorium
10. Layanan MTBS
11.Layanan Pemeriksaan Jenazah
12. Layanan Radiologi
13. Layanan Kesehatan Jiwa
14. Layanan Kesehatan Haji
15. Layanan Puskesmas Keliling
16. Layanan Tindakan
17. Layanan 24 Jam

Tabel 1.6. Sepuluh Penyakit Terbanyak Tahun 2016


3 No Nama Penyakit Jumlah
1 Infeksi Akut Lain Pernafasan Atas 11.945

2 Penyakit Darah Tinggi 5588

3 Peny. Pulpa & Jar Periapikal 5950

4 Peny. pd.Sistem Otot & Jar. Pengikat 2960

5 Diare 2333

6 Karies Gigi 1596

7 Penyakit Kulit Alergi 1339

8 Tonsilitis 1176

9 Infeksi Telinga Tengah 857

10 Penyakit Kulit Infeksi 833

Sumber: profil puskesmas 2016

20
1.1.3.8. Denah Puskesmas Kecamatan Menteng

LANTAI 1
LANTAI 2
LANTAI 3

21
LANTAI 4
LANTAI 5

Gambar 1.3. Denah Puskesmas Kecamatan Menteng

1.1.4 Program Kesehatan Lingkungan


Keadaan lingkungan baik fisik dan biologis pemukiman penduduk Indonesia
belum baik, baru sebagian kecil penduduk yang menikmati air bersih dari fasilitas
penyehatan lingkungan. Hal ini berakibat masih tingginya angka kesakitan dan
kematian karena berbagai penyakit. Peningkatan kesehatan lingkungan dimaksudkan
untuk perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan, melalui
kegiatan peningkatan sanitasi dasar serta pencegahan dan penanggulangan kondisi
fisik dan biologis yang tidak baik, termasuk berbagai akibat sampingan pembangunan.
Semua kegiatan penyehatan lingkungan dan pemukiman yang dilakukan oleh staf
puskesmas, sebaiknya dilaksanakan dengan mengikutsertakan masyarakat secara
bergotong-royong.
Upaya penyehatan lingkungan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan
kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu
lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan

22
dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan
lingkungan melalui analisis dampak lingkungan.
Secara umum, kegiatan peningkatan kesehatan lingkungan dan pemukiman
bertujuan untuk mengendalikan semua unsur fisik dan lingkungan yang terdapat di
masyarakat, yang dapat memberi pengaruh jelek terhadap kesehatan mereka. Secara
khusus, program ini bertujuan untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup yang dapat
menjamin masyarakat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal serta
mencapai terwujudnya kesadaran dan keikutsertaan masyarakat, dan sektor lain yang
berkaitan serta bertanggung jawab atas upaya peningkatan dan pelestarian lingkungan
hidup.
1.1.4.1 Definisi
Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar
dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Kesehatan lingkungan dapat diartikan
sebagai upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengelolaan,
pengawasan, dan pencegahan faktor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu
kesehatan manusia. (Sumengen Sutomo, 1991)
1.1.4.2 Tujuan
Tujuan kesehatan lingkungan secara umum, antara lain:

1. Melakukan koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman pada
kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
2. Melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur sumber-sumber lingkungan
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
3. Melakukan kerja sama dan menerapkan program terpadu di antara masyarakat dan
institusi pemerintah serta lembaga non pemerintah dalam menghadapi bencana
alam atau wabah penyakit menular.

1.1.4.3 Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Menurut World Health Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan


lingkungan, yaitu:

1. Penyediaan air minum


2. Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan sampah padat
4. Pengendalian vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
23
6. Hygiene makanan, termasuk hygiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah,
bencana alam dan perpindahan penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan

1.1.4.4 Sasaran Kesehatan Lingkungan


Sasaran dari pelaksanaan kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut:
a. Tempat Umum: hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang sejenis
b. Lingkungan pemukiman: rumah tinggal, asrama/yang sejenis
c. Lingkungan kerja: perkantoran, kawasan industri/yang sejenis
d. Angkutan umum: kendaraan darat, laut, dan udara yang digunakan untuk umum
e. Lingkungan lainnya: misalnya bersifat khusus seperti lingkungan yang berada dlm
keadaan darurat, bencana perpindahan penduduk secara besar-besaran,
reactor/tempat yang bersifat khusus.

1.1.4.5 Kegiatan program kesehatan lingkungan


Program kesehatan lingkungan di Puskesmas meliputi :
1) Pembinaan TTU
2) Pembinaan TPM
3) Pemantauan Kualitas Air Bersih
4) Pengendalian Vektor

1.1.5 Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Kecamatan Menteng

Kesehatan lingkungan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari


Sistem Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya
kasus-kasus penyakit yang berbasis lingkungan yang endemis seperti Infeksi Saluran

24
Pernafasan Akut (ISPA), TBC Paru, Penyakit Diare, Demam Berdarah Dengue
(DBD), maupun timbulnya penyakit baru seperti Severe Acute Respiratory Syndrome
(SARS) ataupun Flu Burung / Avian Influenza (A1)
Kesehatan lingkungan menentukan derajat kesehatan masyarakat, bahkan
lingkungan merupakan faktor yang sangat penting dalam penentuan derajat kesehatan
masyarakat. Dengan demikian pengendalian faktor lingkungan yang baik akan sangat
berguna dalam upaya penurunan angka kesakitan (morbidity rate) maupun
menurunkan angka kematian (mortality rate) yang berhubungan dengan penyakit-
penyakit yang berbasis lingkungan.
Tingginya kejadian penyakit-penyakit berbasis lingkungan disebabkan oleh
masih buruknya kondisi sanitasi dasar terutama air bersih, air minum, jamban,
meningkatnya pencemaran, kurang higienesnya cara pengolahan makanan, rendahnya
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat, serta buruknya penatalaksanaan
bahan kimia yang kurang memperhatikan
Blum (1974) menyampaikan bahwa faktor lingkungan dan perilaku
mempunyai pengaruh terbesar terhadap status kesehatan masyarakat disamping faktor
pelayanan kesehatan dan generik. Keempat faktor tersebut saling terkait dengan
beberapa faktor lain seperti : Sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan
mental, sistem budaya, dan populasi sebagai satu kesatuan. Faktor lingkungan itu
sendiri meliputi lingkungan fisik, lingkungan biologis, lingkungan sosio cultular.
Untuk itu cara pencegahan dan pengendalian penyakit-penyakit tersebut harus melalui
upaya perbaikan lingkungan / sanitasi dasar dan perubahan perilaku ke arah yang
lebih baik.
Puskesmas Kecamatan Menteng merupakan salah satu Puskesmas yang
memasukkan kesehatan lingkungan ke dalam program wajib Puskesmas dan
melaksanakan kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif masalah kesehatan
lingkungan yang terdapat di wilayah kerjanya.
Program kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Menteng tahun
2017 meliputi :
1) Pembinaan TTU
a. Penyehatan Air Bersih.
b. Kualitas Hidup.
c. Konstruksi/ bangunan.
d. Pengelolaan Air Limbah.
e. Pengolahan Sampah.
f. Pembuangan Kotoran.
25
g. Intensitas Kebisingan.
h. Intensitas Penghawaan.
i. Penyehatan Makanan serta Minuman.
2) Pembinaan TPM
a. Perilaku Penjamah Makanan dan Air.
b. Sarana dan Prasarana TPM.
c. Etalase Makanan Jadi.
d. Bahan Baku di Jasa Boga, Katering, Hotel, Restoran Makanan atau
Rumah Makan.
e. Pembinaan dan Pengawasan Tempat Pengolahan Makanan.
3) Pemantauan Kualitas Air Bersih
a. Pengawasan Depo Air Minum.
b. Pengawasan Air Bersih.
4) Pengendalian Vektor
a. Angka Bebas Jentik.
b. Incidence Rate DBD.
Dari empat program kegiatan tersebut, terdapat dua program kegiatan yang
tidak dapat dijalankan dengan alasan keterbatasan sumber daya manusia, waktu dan
dana. Program tersebut, yaitu Pembinaan TTU dan Pembinaan TPM. Sedangkan
program yang aktif dilaksanakan dari program kesehatan lingkungan Puskesmas
kecamatan Menteng pada periode Januari 2017 April 2017 adalah program
Pengendalian Vektor dan program Pemantauan Kualitas Air Minum.

1.1.5.1 Pembinaan Tempat Tempat Umum


Kegiatan pemantauan TTU ini dilaksanakan agar TTU yang ada memenuhi
syarat kesehatan terutama tersedianya sarana sanitasi dasar seperti air bersih, jamban
sehat, tempat pembuangan sampah serta memenuhi syarat dari segi kebersihan,
pencahayaan, kebisingan, kelembapan dan yang lebih penting agar TTU yang ada
tidak berfungsi sebagai sarana penularan penyakit tertentu terutama yang
penularannya melalui vektor seperti DBD.
Sanitasi sendiri merupakan suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor
lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia, terutama terhadap hal-hal yang
mempunyai efek merusak perkembangan fisik, kesehatan, dan kelangsungan hidup.
Sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan
mencegah kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya
dengan timbulnya/menularnya suatu penyakit.
26
Tujuan :
1. Terciptanya rumah dan perumahan/pemukiman/TTU yang memenuhi sarat
kesehatan, terutama pada aspek penyehatan air bersih, pengelolaan limbah dan
kotoran, pengelolaan sampah, konstruksi bangunan, intensitas, pencahayaan,
kapasitas kebisingan, penghawaan dan penyehatan makanan dan minuman,
serta sarana dan prasarana pemukiman.
2. Membantu masyarakat menolong dirinya sendiri agar terhindar dari penyakit
yang ditularkan ditempat-tempat umum.
3. Membantu pengusaha dan pengelola tempat-tempat umum (TTU) dengan
memberikan penyuluhan, pembinaan dan pengawasan sehingga TTU tidak
menjadi sumber penularan penyakit.
Landasan Hukum
SK Gubernur DKI Jakarta No. 502 Tahun 1996 tentang kewajiban memiliki
sertifikat laik sehat bagi restoran dan usaha rumah makan bagi usaha jasa
boga di DKI Jakarta.
Tolak Ukur
Jumlah TTU yang memenuhi syarat kesehatan.
Ruang lingkupnya
Penyehatan air bersih, kualitas hidup, konstruksi/ bangunan, pengelolaan air
limbah, pengolahan sampah, pembuangan kotoran, intensitas kebisingan,
intensitas pencahayaan, penghawaan, dan penyehatan makanan serta
minuman.
Sasaran TTU
Tempat sarana pendidikan, tempat ibadah, sarana olahraga, pasar, salon,
sarana kesehatan, sarana transportasi, terminal, sarana pariwisata, hotel,
tempat penginapan.
Parameter rumah sehat sebagai berikut :
- Tersedia air bersih, ada penampungan air bekas, ada tempat sampah, ada
jamban, ada saluran pembuangan air hijau
- Kandang ternak terpisah paling tidak 10 m jaraknya dari rumah
- Ada jalan keluar untuk asap dapur melalui lubang langit-langit
- Halaman rumah harus selalu dibersihkan, pekarangan ditanami tumbuh-
tumbuhan bermanfaat
- Ruangan rumah cukup luas dan tidak padat penduduknya
- Dinding dan lantai harus kering dan tidak lembab

27
- Kamar-kamar harus berjendela, ada lubang angin dan sinar matahari
dapat masuk ruangan rumah
- Dimana pun tidak terdapat jentik-jentik nyamuk, kecoa dan tikus
Kegiatan yang dilaksanakan dalam Pembinaan Tempat-Tempat Umum meliputi
pembinaan dan pengawasan terhadap sejumlah tempat-tempat umum, serta
pemeriksaan faktor lingkungan dan tempat-tempat umum dan faktor manusianya
sendiri yang melakukan kegiatan, namun kegiatan belum dapat dilaksanakan karena
keterbatasan sumber daya manusia, waktu, dan dana.

1.1.5.2 Pembinaan Tempat Pengolahan Makanan (TPM)


Tempat pengolahan makanan merupakan suatu sarana yang dikunjungi banyak
orang, dan berpotensi menjadi penyebaran penyakit. Contoh TPM antara lain hotel,
restoran, pasar, dan lain-lain. (Kementrian Kesehatan)
TPM sehat adalah tempat umum dan tempat pengelolaan makanan dan
minuman harus memenuhi syarat kesehatan, yaitu memiliki sarana air bersih, tempat
pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas lantai
(luas ruangan) yang sesuai dengan banyaknya pengunjung dan memiliki pencahayaan
ruang yang memadai.

Tujuan :
1.2 Membantu masyarakat agar terhindar dari penyakit bawaan makanan, yang
menyertai dan makanan sebagai tempat berkembangnya bibit penyakit.
1.3 Membantu pengusaha tempat pengolahan makanan (TPM) dalam menyiapkan
makanan sehat dengan memberikan penyuluhan, pembinaan dan pengawasan
terhadap makanan yang diperdagangkan.
Landasan Hukum
a. Permenkes RI No. 304/Menkes/Per/IV/1989 tentang Persyaratan
Rumah Makan dan Restoran.
b. SK Gubernur DKI Jakarta No. 502 Tahun 1996 tentang kewajiban
memiliki sertifikat laik sehat bagi hotel, restoran dan usaha rumah
makan bagi usaha jasa boga di DKI Jakarta.
Tolak Ukur
- Jumlah Restoran dan Rumah Makan yang memiliki sertifikat Laik
Sehat.
- Angka Keracunan Makanan dari Tempat Pengolahan Makanan.
- Jumlah TPM yang memenuhi syarat kesehatan.

28
Ruang Lingkup
Mencakup pemeriksaan terhadap perilaku penjamah makanan dan air,
sarana dan prasarana TBM, etalase makanan jadi, bahan baku di jasa boga,
catering, hotel, restoran makanan atau rumah makan. Dalam kegiatan TPM
di lingkungan Puskesmas Kecamatan Menteng meliputi Pembinaan dan
Pengawasan Tempat Pengolahan Makanan.
Kegiatan penyehatan tempat pengolahan makanan di puskesmas wilayah
kecamatan Menteng meliputi pembinaan dan pengawasan tempat pengolahan
makanan. Pada periode Januari 2017 sampai April 2017 belum dapat dilaksanakan
dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia, waktu, dan dana.

1.1.5.3 Pemantauan Kualitas Air Minum


Pengawasan adalah suatu teknik pemantauan yang bertujuan untuk melihat
adanya kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan dengan standar / prosedur dan
peraturan yang berlaku. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat
kesehatan dan langsung dapat diminum.

Sektor kesehatan dalam program pemantauan sumur pompa tangan dan sumur
pompa gali bertanggung jawab atas penyehatan air yang meliputi pengamanan dan
penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dalam kehidupan manusia, dengan
demikian maka seharusnya air minum harus mencakup kuantitas, kualitas, serta
keadaan ini tidak terlepas dari sumber air bakunya yang harus mendapat perhatian,
terutama dari pengaruh pencemaran secara alamiah dan pencemaran oleh karena
aktifitas manusia. Akibat kemajuan teknologi, pertumbuhan industri dan penggunaan
bahan kimia termasuk pestisida.
Meningkatnya penyediaan depo air minum di kalangan masyarakat, maka perlu
dilaksanakan pemantauan dan pemeriksaan laboratorium depo air minum yang
diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan. Agar air yang digunakan oleh
masyarakat dari air minum isi ulang tersebut dapat terjamin kualitasnya sesuai dengan
persyaratan kualitas air minum yang memenuhi syarat.
Langkah-langkah pengawasan air bersih dan air minum :

1. Menyiapkan data sarana air


bersih dan air minum.
2. Menentukan jadwal kegiatan pengawasan air bersih dan air minum serta nama
petugas.
3. Memberikan Surat Tugas pelaksanaan pengawasan air bersih dan air minum.
4. Mempersiapkan formulir pengawasan.

29
5. Melaksanakan pengamatan lapangan dan inspeksi sanitasi,
6. Mengisi formulir pengawasan (inspeksi sanitasi),
7. Melaksanakan pengambilan sampel air dan mengirimkan sampel ke laboratorium.
Unit terkait :
a) Promkes
b) Sanitarian Puskesmas Kelurahan
Sasaran kegiatan:
1. Depo Air Minum (DAM) di wilayah kecamatan Menteng.
Tujuan :
Umum :
Terlindunginya masyarakat dari penggunaan air minum secara fisik ,
kimia dan bakteriologi. sehingga masyarakat terhindar dari gangguan
kesehatan dan atau penyakit.
Khusus :
- Terpantaunya kualitas air minum secara fisik kimia dan bakteriologi
- Diketahuinya penyebab sumber pencemaran air.
- Tertanggulanginya masalah menurunnya kualitas air minum.
Kegiatan:
- Pengawasan Depo Air Minum (DAM)

Laporan Pencapaian Indikator Kerja Pemantauan Kualitas Air Minum Puskesmas Kecamatan Menteng
100% 100% 100% 100% 100%
100%

90%

80%

70%

60%

50%

40%

30%

20%

10%

0%

Diagram 1.2 Grafik Pencapaian Target Indikator Pemantauan Kualitas Air


Minum

30
Kegiatan pemantauan kualitas air minum ini sudah mencapai angka
cakupan 100% dari target yang diharapkan yaitu 100%.

1.1.5.4 Pengendalian Vektor


PSN DBD adalah seluruh kegiatan masyarakat bersama pemerintah untuk
mencegah dan mengendalikan penyakit DBD dengan melakukan pemberantasan
sarang nyamuk secara terus menerus dan berkesinambungan. (Departemen
Kesehatan, Ditjen PP dan PL)

Tujuan :
Kegiatan Pemeriksaan Jentik berkala (PJB) ini dilakukan bertujuan mengetahui
besarnya resiko populasi di suatu wilayah terhadap kemungkinan terkena
penyakit DBD, di samping Sebagai acuan petugas memberantas tempat-tempat
perkembang biakan nyamuk aides melalui upaya pembinaan peran serta
masyarakat sehingga penyakit DBD dapat dicegah dan dibatasi di wilayah kerja
puskesmas Kecamatan Menteng
Sasaran :
Dari kegiatan ini sasarannya antara lain pemukiman dan sekolah. Melalui
Pemeriksaan Jentik Berkala (jumantik), abatisasi selektif, dan PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk). Kegiatan program Pengendalian Vektor ini
meliputi Pemeriksaan Jentik Berkala ke rumah-rumah warga serta pemberian
abatisasi ke Puskesmas Kelurahan di wilayah kecamatan dilaksanakan setiap
hari Jumat oleh tim Jumantik Sukarela. Indikator untuk ABJ yaitu 95%.
a. Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
- Target kegiatan
Pemberantasan sarang nyamuk ke pemukiman penduduk
kecamatan Menteng setiap hari jumat pukul 09.00 WIB sampai
dengan pukul 09.30 WIB.
b. Pemeriksaan jentik berkala/abatisasi
- Target kegiatan
Pemeriksaan jentik berkala dan abatisasi, dengan pemeriksaan
jentik berkala setiap jumat dimulai pukul 09.00 WIB.
- Pembahasan hasil kegiatan
Jika terjadi peningkatan jumlah kasus, maka hal tersebut merupakan tanggung
jawab tujuh tatanan, yaitu :
Fasilitas kesehatan

31
Institusi pendidikan
Pemukiman
Industri dan perkantoran
Tempat-tempat umum (TTU)
Tempat pengelolaan makanan (TPM)
Fasilitas olahraga
Kegiatan program pengendalian jentik Aedes telah dilaksanakan
oleh puskesmas kecamatan, namun karena tidak adanya pelaporan kegiatan
kesehatan lainnya akibat dari pergantian kepengurusan puskesmas sehingga
kegiatan yang telah direncanakan banyak yang belum terlaksana. Selain itu,
adanya pelimpahan beberapa program puskesmas ke masing-masing
kelurahan mengakibatkan pelaporan data di puskesmas tidak lengkap. Oleh
karena itu, hanya data dari program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
di pemukiman pada periode Januari 2017 April 2017 yang dapat
disajikan.

32
Tabel 1.7 Laporan Angka Bebas Jentik (ABJ) Bersumber Jumantik Kelurahan di
Kecamatan Menteng Bulan Januari April 2017
Jumlah Bangunan Hasil pemantauan
Puskesmas Rumah/Banguna yang Rumah Target
ABJ (%)
n diperiksa bebas jentik
Menteng 5322 4753 4705 98,99% 95%
Cikini 3349 1331 1225 92,06% 95%
Gondangdia 880 612 571 93,22% 95%
Pegangsaan 5317 5298 5266 99,39% 95%
Kebon Sirih 2331 1799 1753 97,44% 95%
Total 17199 13793 13520 96,22%

Sumber : Laporan Bulanan Program Kesehatan Lingkungan Periode Januari - April 2017

Dari tabel 1.7 pada laporan periode Januari 2017 April 2017, diketahui nilai
rata-rata Angka Bebas Jentik (ABJ) Kelurahan Menteng adalah 98,99%, ABJ
Kelurahan Cikini adalah 92,06%, ABJ Kelurahan Gondangdia adalah 93,22%,
ABJ Kelurahan Pegangsaan adalah 99,39%, dan ABJ Kelurahan Kebon Sirih
adalah 97,44%.

Tabel 1.8 Laporan Kasus DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng Bulan
Januari April 2017
No. Puskesmas Jumlah Kasus
1. Kelurahan Menteng 1
2. Kelurahan Gondangdia 2
3. Kelurahan Cikini 7
4. Kelurahan Kebon Sirih 1
5. Kelurahan Pegangsaan 1
Jumlah 12

Sumber : Laporan Bulanan Program Kesehatan Lingkungan Periode Januari - April 2017

Dari tabel 1.8 pada laporan periode Januari 2017 April 2017, diketahui
jumlah kasus DBD yang terbanyak adalah pada Kelurahan Cikini yaitu 7 kasus.

33
1.1.6 IDENTIFIKASI MASALAH
Dari berbagai laporan program kegiatan kesehatan lingkungan yang dievaluasi di
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari 2017 April 2017, dari program
pengendalian vektor yaitu kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang
dijalankan di Puskesmas Kecamatan Menteng ternyata di kelima kelurahan yang
diperiksa, angka bebas jentiknya masih ada dua kelurahan yang belum mencapai target
yaitu 95%. Program tersebut dievaluasi karena adanya masalah pada program yaitu
belum mencapai target yang sudah ditetapkan dan data yang cukup lengkap.

Adapun identifikasi masalah yang didapatkan antara lain :


1. Cakupan Angka Bebas Jentik Nyamuk Aedes Pada Tatanan Pemukiman di
Wilayah Puskesmas Kelurahan Cikini Periode Januari 2017 April 2017
sebesar 92,06%.
2. Cakupan Angka Bebas Jentik Nyamuk Aedes Pada Tatanan Pemukiman di
Wilayah Puskesmas Kelurahan Gondangdia Periode Januari 2017 April 2017
sebesar 93,22%.

1.1.7 RUMUSAN MASALAH


Setelah identifikasi masalah dari program pemeriksaan jentik berkala (PJB) pada
tatanan pemukiman di Puskesmas kecamatan Menteng periode Januari 2017 April
2017 terdapat dua kelurahan yang belum mencapai target yaitu kelurahan Cikini dan
Gondangdia, sedangkan ketiga kelurahan lainnya melebihi target yaitu kelurahan
Menteng, Pegangsaan, dan Kebon Sirih. Kemudian dilakukan perhitungan dan
pembandingan nilai kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa
yang telah terjadi (observed), dilakukan perumusan masalah untuk membuat
perencanaan yang baik sehingga masalah yang ada dapat diselesaikan.
Rumusan masalah dari program kesehatan lingkungan di puskesmas kecamatan
Menteng adalah sebagai berikut :
1. Cakupan Angka Bebas Jentik Nyamuk Aedes pada tatanan pemukiman di wilayah
Puskesmas Kelurahan Cikini periode Januari 2017 April 2017 sebesar 92,06%
sehingga kurang dari target yaitu 95%.
2. Cakupan Angka Bebas Jentik Nyamuk Aedes pada tatanan pemukiman di wilayah
Puskesmas Kelurahan Gondangdia periode Januari 2017 April 2017 sebesar
93,22% sehingga kurang dari target yaitu 95%.

34
BAB II

PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN PENYEBAB MASALAH

2.1 Penetapan Prioritas Masalah

Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan


apa yang aktual terjadi (observed). Idealnya, semua permasalahan yang timbul harus
dicarikan jalan keluarnya, namun karena keterbatasan sumber daya, dana, dan waktu
menyebabkan tidak semua permasalahan dapat dipecahkan sekaligus. Untuk itu perlu
ditentukan masalah yang menjadi prioritas. Setelah pada tahap awal merumuskan
masalah, maka dilanjutkan dengan menetapkan prioritas masalah yang harus
dipecahkan. Prioritas masalah didapatkan dari data atau fakta yang ada secara
kualitatif, kuantitatif, subjektif, objektif serta adanya pengetahuan yang cukup.
Pada BAB I, telah dirumuskan masalah yang terdapat pada program
Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Kecamatan Menteng. Dikarenakan adanya
keterbatasan sumber daya manusia, dana dan waktu, maka dari semua masalah
yang telah dirumuskan, perlu ditetapkan masalah yang menjadi prioritas untuk
diselesaikan.
Dalam penetapan prioritas masalah, digunakan teknik skoring dan
pembobotan. Untuk dapat menetapkan kriteria, pembobotan dan skoring perlu
dibentuk sebuah kelompok diskusi. Agar pembahasan dapat dilakukan secara
menyeluruh dan mencapai sasaran, maka setiap anggota kelompok diharapkan
mempunyai informasi dan data yang tersedia. Beberapa langkah yang dilakukan
dalam penetapan prioritas masalah meliputi :
1. Menetapkan kriteria
2. Memberikan bobot masalah
3. Menentukan skoring tiap masalah

2.1.1 Non-Scoring Technique


Bila tidak tersedia data, maka cara penetapan prioritas masalah yang
lazim digunakan adalah teknik non scoring. Dengan menggunakan teknik
ini, masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu juga disebut
Nominal Group Technique (NGT). NGT terdiri dari dua, yaitu:

35
a) Metode Delbecq
Menetapkan prioritas masalah menggunakan tekhnik ini dilakukan
melalui diskusi dan kesepakatan sekelompok orang, namun yang tidak
sama keahliannya. Sehingga untuk menentukan prioritas masalah,
diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk memberikan pengertian dan
pemahaman peserta diskusi, tanpa mempengaruhi peserta diskusi. Hasil
diskusi ini adalah prioritas masalah yang disepakati bersama.
b) Metode Delphi
Yaitu masalah masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang
mempunyai keahlian yang sama melalui pertemuan khusus. Para peserta
diskusi diminta untuk mengemukakan pendapat mengenai beberapa
masalah pokok. Masalah yang terbanyak dikemukakan pada pertemuan
tersebut, menjadi prioritas masalah.

2.1.2 Scoring Technique


Berbagai teknik penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik
skoring antara lain :
a. Metode Bryant
Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu:
1. Prevalence
Besarnya masalah yang dihadapi.

2. Seriousness
Pengaruh buruk yang diakibatkan oleh suatu masalah dalam
masyarakat dan dilihat dari besarnya angka kesakitan dan angka
kematian akibat masalah kesehatan tersebut.
3. Manageability
Kemampuan untuk mengelola dan berkaitan dengan sumber
daya
4. Community concern
Sikap dan perasaan masyarakat terhadap masalah kesehatan
tersebut.

Parameter diletakkan pada baris dan masalah-masalah yang ingin


dicari prioritasnya diletakkan pada kolom. Kisaran skor yang diberikan
36
adalah satu sampai lima yang ditulis dari arah kiri ke kanan sesuai baris
untuk tiap masalah. Kemudian dengan penjumlahan dari arah atas ke bawah
sesuaikolom untuk masing-masing masalah dihitung nilai skor akhirnya.
Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas masalah.
Tetapi metode ini juga memiliki kelemahan yaitu hasil yang didapat dari
setiap masalah terlalu berdekatan sehingga sulit untuk menentukan prioritas
masalah yang akan diambil.
b. Metode Matematik PAHO
Dalam metode ini parameter diletakkan pada kolom dan masalah-
masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada baris, dan
digunakan kriteria untuk penilaian masalah yang akan dijadikan
sebagai prioritas masalah. Kriteria yang dipakai ialah:
1. Magnitude
Berapa banyak penduduk yang terkena masalah atau penyakit
yang ditunjukkan dengan angka prevalensi
2. Severity
Besarnya kerugian yang timbul yang ditunjukkan dengan
case fatality rate masing- masing penyakit.
3. Vulnerability
Sejauh mana ketersediaan teknologi atau obat yang efektif
untuk mengatasi masalah tersebut
4. Community and political concern
Menunjukkan sejauh mana masalah tersebut menjadi
concern atau kegusaran masyarakat dan para politisi
5. Affordability
Menunjukkan ada tidaknya dana yang tersedia

c. Metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment)


Pada metode ini parameter diletakkan pada baris dan harus ada
kesepakatan mengenai bobot kriteria yang akan digunakan, dan
masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada
kolom. Metode ini memakai lima kriteria untuk penilaian masalah
tetapi masing-masing kriteria diberikan bobot penilaian dan dikalikan
dengan penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih
objektif. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai
prioritas masalah. Kriteria yang dipakai terdiri dari:

37
1. Emergency
Emergency menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan
sehingga menimbulkan kematian atau kesakitan. Dalam hal ini
Angka Bebas Jentik DBD akan dijadikan sebagai dasar penetuan
masalah emergency.

Tabel 2.1. Skala Score Emergency pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan pada
Puskesmas Kecamatan Menteng Januari April 2017
Range Score

0-7% 1

8-14% 2

15-21% 3

22-28% 4

Tabel 2.2. Penentuan Score Emergency Terhadap Masalah Kesehatan Lingkungan yang
Terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas se-Kecamatan Menteng Periode Januari April
2017

Besar Masalah Proxy Proxy + Besar


No Masalah (Target (%) (IR DBD Masalah Score
Pencapaian (%)) 2017 (%)) (%)

Angka Bebas Jentik pada


Kelurahan Gondangdia pada
1 Periode Januari-April 2017 1,78 21,93 23,71 4
yaitu 93,22% kurang dari
target 95%.

Angka Bebas Jentik pada


Kelurahan Cikini pada
Periode Januari-April 2017
2 2,94 20,63 23,57 4
Yaitu 92,06% kurang dari
target 95%.

2. Greatest member
Kriteria ini digunakan untuk menilai seberapa banyak penduduk yang
terkena masalah kesehatan tersebut. Untuk masalah kesehatan yang berupa
38
penyakit, maka parameter yang digunakan adalah prevalence rate. Sedangkan
untuk masalah lain, maka greatest member ditentukan dengan cara melihat
selisih antara pencapaian suatu kegiatan pada sebuah program kesehatan
dengan target yang telah ditetapkan. Dalam hal ini Angka Bebas Jentik DBD
akan dijadikan sebagai dasar penentuan Greatest member.

Tabel 2.3. Skala Score Greatest Member Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan
se-Kecamatan Menteng Januari - April 2017

Range Score
0-1 1
1,1-2 2
2,1-3 3

Tabel 2.4. Penentuan Score Greatest Member pada Evaluasi Program Kesehatan
Lingkungan pada Puskesmas Kecamatan Menteng Januari - April 2017

Besar Masalah
No Masalah (Target (%) Score
Pencapaian (%))

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan


Gondangdia pada periode Januari-
1 1,78 2
April 2017 yaitu 93,22% kurang dari
target 95%.

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan


Cikini pada periode Januari-April
2 2,94 3
2017 yaitu 92,06% kurang dari
target 95%.

3. Expanding Scope
Menunjukan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan
terhadap sektor lain diluar sektor kesehatan. Parameter lain yang
39
digunakan adalah seberapa luas wilayah yang menjadi masalah, berapa
banyak jumlah penduduk di wilayah tersebut, serta berapa banyak
sektor di luar sektor kesehatan yang berkepentingan dengan masalah
tersebut. Untuk Jumlah penduduk dan luas wilayah diurut berdasarkan
kelurahan yang memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah terkecil
sampai yang terbesar. Sedangkan untuk sektor luar yang terlibat dapat
berupa kerjasama dengan kader JUMANTIK, petugas RT/RW serta
keterlibatan dinas kebersihan dan dinas pekerjaan umum. Semakin
banyak keterlibatan sektor di luar kesehatan, maka semakin mudah
permasalahan dapat diatasi.

Tabel 2.5. Skala Luas Wilayah pada Evaluasi Program Kesling pada
Puskesmas Kecamatan Menteng Januari April 2017

Luas Wilayah (Ha) Score


0-50 1
51-100 2
101-150 3
151-200 4
201-250 5

Tabel 2.6. Luas Wilayah pada Kecamatan Menteng Berdasarkan


Kelurahan Tahun 2016

Luas Wilayah
Kelurahan Jumlah RW Jumlah RT
(Ha)
Menteng 243,90 Ha 10 137

Kebon Sirih 83,40 Ha 10 77

Pegangsaan 98,25 Ha 8 104


Gondangdia 145,82 Ha 5 40

Cikini 82,09 Ha 5 66

Jumlah 653,46 Ha 38 424

Tabel 2.7. Score Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah pada


Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017

No Masalah Luas Wilayah Score


(Ha)

40
Angka Bebas Jentik pada Kelurahan
Gondangdia pada periode Januari-April
1 145,82 3
2017 yaitu 93,22% kurang dari target
95%.

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan


2 Cikini pada periode Januari-April 2017 82,09 2
yaitu 92,06% kurang dari target 95%.

Tabel 2.8. Skala Score Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas Sektor
pada Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017

Keterpaduan Lintas
Score
Sektor
Tidak ada 1
Ada, melibatkan 2 sektor 2
Ada, melibatkan 3 sektor 3
Ada, melibatkan >3 sektor 4

Tabel 2.9. Score Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas Sektor pada
Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017

No Masalah Score

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Gondangdia pada


1 periode Januari-April 2017 yaitu 93,22% kurang dari 3
target 95%.

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini pada


periode
2 Januari-April 2017 yaitu 92,06% kurang dari target 3
95%.

41
Tabel 2.10 Total score Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah dan Keterpaduan
Lintas Sektor pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Menteng
Periode Januari - April 2017

Luas
Keterpaduan
No Masalah Wilayah Score
lintas sector
(Ha)

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan


Gondangdia pada periode Januari-April
1 3 3 6
2017 yaitu 93,22% kurang dari target
95%.

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan


2 Cikini pada periode Januari-April 2017 2 3 5
yaitu 92,06% kurang dari target 95%.

4. Feasibility
Kriteria lain yang harus dinilai dari suatu masalah adalah seberapa mungkin
masalah tersebut diselesaikan. Parameter yang digunakan adalah ketersediaan
sumber daya manusia berbanding dengan jumlah kegiatan, fasilitas terkait dengan
kegiatan bersangkutan yang menjadi masalah, serta ada tidaknya anggaran untuk
kegiatan tersebut.

Tabel 2.11. Skala Score Feasibility Berdasarkan Jumlah Tenaga Medis Puskesmas pada
Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017

Perbandingan SDM Score


1:1 - 1:200 3
1:201 - 1:400 2
1:401 - 1:600 1

42
Tabel 2.12. Penentuan Score Feasibility pada Evaluasi Program Kesehatan
Lingkungan pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari -
April 2017
Jumlah
Jumlah Perbandinga
No Masalah Pendudu Score
SDM n
k
Angka Bebas Jentik
pada Kelurahan
Gondangdia Pada
1 periode Januari 10 4.560 1:456 1
-April 2017 yaitu
93,22% kurang dari
target 95%.
Angka Bebas Jentik
pada Kelurahan
Cikini pada
2 Periode Januari-April 71 9.691 1:136 3
2017 yaitu 92,06%
kurang dari target
95%.

Tabel 2.13. Scoring Ketersediaan Fasilitas Terhadap Kegiatan di Wilayah


Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017

Kategori Ketersediaan Score


Tidak ada 1

Alat Ada tetapi tidak lengkap 2


Ada dan cukup 3
Tidak ada 1
Ada tetapi kurang 2
Tempat
memadai
Ada dan memadai 3

43
44
Tabel 2.14. Scoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan Di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017

Dana Score
Ada dan banyak 4
Ada dan cukup 3
Ada tapi kurang 2
Tidak ada 1

Tabel 2.15. Penentuan Score Feasibility pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017

No Masalah SDM Fasilitas Dana Score


Alat Tempat
1 Angka Bebas Jentik
padaKelurahan
Gondangdia pada
periode Januari-April 1 3 3 3 10
2017 yaitu 93,22%
kurang dari Target
95%.

2 Angka Bebas Jentik


pada Kelurahan Cikini
pada periode Januari-
April 2017 yaitu 3 3 3 3 12
92,06% kurang dari
target 95%.

45
5. Policy
Berhubung orientasi masalah yang ingin diselesaikan adalah masalah
kesehatan masyarakat, maka sangat penting untuk menilai apakah masyarakat
memiliki kepedulian terhadap masalah tersebut serta apakah kebijakan
pemerintah mendukung terselesaikannya masalah tersebut. Hal tersebut dapat
dinilai dengan apakah ada seruan atau kebijakan pemerintah yang concern
terhadap masalah tersebut, apakah ada lembaga atau organisasi masyarakat
yang concern terhadap permasalahan tersebut. Dalam hal ini kebijakan
terhadap penanggulangan DBD adalah sama di setiap puskesmas karena
merujuk pada kebijakan secara nasional. Selain itu dapat dinilai apakah
masalah tersebut terpublikasi di berbagai media. Semakin banyak publikasi,
semakin mudah masalah dapat diselesaikan dengan cepat.

Tabel 2.16.Penentuan Nilai Policy Terhadap Kegiatan di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Menteng periode Januari April 2017

No. Parameter Score


1 Tidak ada 1
2 Ada, tidak ada sosialisasi 2
3 Ada, ada sosialisai 3
4 Ada, ada sosialisasi dan 4
hukuman

Tabel 2.17 Penentuan Score Policy pada Evaluasi Program Kesehatan Lingkungan
Puskesmas Kecamatan Menteng Periode Januari - April 2017

No Masalah Score

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Gondangdia pada


1 periode Januari-April 2017 yaitu 93,22% kurang dari 4
target 95%.

Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini pada periode


2 4
Januari-April 2017 yaitu 92,06% kurang dari target 95%.

46
Tabel 2.18. Penentuan Masalah menurut Metode MCUA pada Evaluasi Program
Kesehatan Lingkungan di Kecamatan Menteng Periode Januari April 2017
MS1 MS2
No Parameter Bobot
N BN N BN
1 Emergency 5 4 20 4 20
2 Greatest Member 4 2 8 3 12

3 Expanding Scope 3 6 18 5 15

4 Feasibility 2 10 20 12 24

5 Policy 1 4 4 4 4

Jumlah 70 75

Keterangan :
MS-1 Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Gondangdia pada periode
Januari-April 2017 yaitu 93,22% kurang dari target 95%.
MS-2 Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini pada periode Januari-
April 2017 yaitu 92,06% kurang dari target 95%.

Berdasarkan perhitungan tabel MCUA dari masalah di atas, didapatkan


prioritas masalah hasil diskusi, argumentasi dan justifikasi karena adanya
keterbatasan sumber daya, tenaga, waktu dan dana yaitu:
1. Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Gondangdia pada periode
Januari-April 2017 yaitu 93,22% kurang dari target 95%.
2. Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini pada periode Januari-
April 2017 yaitu 92,06% kurang dari target 95%.

2.2 Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah


Setelah dilakukan penetapan prioritas terhadap masalah yang ada,
selanjutnya ditentukan kemungkinan penyebab masalah untuk mendapatkan
penyelesaian masalah yang ada terlebih dahulu. Pada tahap ini dicari apa yang
menjadi akar permasalahan dari setiap masalah yang telah diprioritaskan. Pada
tahap ini, digunakan diagram sebab akibat yang disebut juga dengan diagram
tulang ikan (fishbone diagram/Ishikawa). Dengan memanfaatkan pengetahuan
dan dibantu dengan data Puskesmas yang tersedia dapat disusun berbagai
penyebab masalah secara teoritis.

47
Penyebab masalah dapat timbul dari bagian input maupun proses.

Input yaitu sumber daya atau masukan yang diperlukan oleh suatu sistem.
Sumber daya sistem adalah: (Azwar Azrul, 1996).
Man : Sumber daya manusia
Money : Dana
Material : Sarana
Method : Cara

Proses adalah semua kegiatan sistem untuk mengubah input menjadi output.
Pada proses, menurut George R. Terry, terdiri dari:

1. Planning (perencanaan):
Sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan
organisasi, sampai dengan menetapkan alternatif kegiatan untuk
mencapainya.
2. Organizing (pengorganisasian):
Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua
sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan
memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Actuating (penggerak pelaksanaan):
Proses bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara
optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan keterampilan
yang telah dimiliki, dan dukungan sumber daya yang tersedia.
4. Controlling (monitoring):
Proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan
sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi
jika terjadi penyimpangan.
5. Evaluating (evaluasi):
Evaluasi adalah proses penilaian. Dalam Program, evaluasi dapat
diartikan sebagai proses pengukuran akan efektivitas strategi yang
digunakan dalam upaya mencapai tujuan program. Data yang diperoleh dari
hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program
berikutnya.

48
2.3 Menentukan Penyebab Masalah yang Paling Dominan
Pada tahap ini adalah menentukan penyebab masalah yang dominan.
Dari dua prioritas masalah yang ada, dengan menggunakan metode
Ishikawa atau lebih dikenal dengan fishbone (diagram tulang ikan) dan
telah dikonfirmasi dengan data yang ada, ditemukanlah akar penyebab
masalah. Dari sekian banyak akar penyebab masalah yang telah ditemukan,
dapat dicari akar penyebab masalah yang paling dominan. Akar penyebab
masalah yang paling dominan adalah akar penyebab masalah yang apabila
diselesaikan maka secara otomatis sebagian besar masalah dapat
dipecahkan. Penentuan akar penyebab masalah yang paling dominan adalah
melalui cara diskusi, argumentasi, justifikasi dan pemahaman program yang
cukup.
Menggunakan gambar diagram tulang ikan (fishbone) dapat
diketahui akar penyebab masalah yang paling dominan di wilayah kerja
Puskesmas Kecamatan Menteng periode Januari April 2017 sebagai
berikut:

49
Cakupan angka
bebas jentik di
kelurahangonda
ngdia pada
Januariapril
2017 yaitu
93.22% kurang
daritarget95%

Diagram 2.1 Fishbone Angka Bebas Jentik di Kelurahan Gondangdia Pada Bulan Januari April 2017

50
Cakupan angka
bebas jentik di
kelurahan Cikini
padaJanuariApril
2017 yaitu 92.06%
% kurang dari
target95%

Diagram 2.2 Fishbone Angka Bebas Jentik di Kelurahan Cikini Pada Bulan Januari April 2017

51
2.3.1 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan Menggunakan Fishbone (Diagram
Tulang Ikan) cakupan Bebas Jentik di Kelurahan Gondangdia pada Januari April
2017.
Akar penyebab masalah dari input :
1. Kurangnya kesediaan warga untuk menjadi kader (Man Quantity).
2. Dilakukannya penghematan dalam menggunakan dana (Money Quality).
3. Kurangnya persiapan petugas sebelum melaksanakan PSN (Material
Quantity).
4. Kurangnya pelatihan kader dalam mengelola data (Method Quantity).

Akar penyebab masalah yang ditemukan dari proses adalah:


1. Pemahaman dan lingkungan sekitar tempat tinggal kader Jumantik yang
berbeda-beda (Planning).
2. Kurangnya SDM untuk mengkoordinir data ABJ (Organizing).
3. Kegiatan kader bukan prioritas utama (Actuating).
4. Kurangnya komitmen tiap kader dan kelurahan dalam menjalankan PSN
(Controlling).

Akar penyebab masalah yang ditemukan di environment adalah:


1. Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya PSN (Environment)

Dari sembilan akar penyebab masalah di atas dipilih tiga akar penyebab masalah yang
paling dominan, yang didapatkan berdasarkan hasil diskusi dan justifikasi:
1. Kegiatan kader bukan prioritas utama (Actuating).
2. Kurangnya komitmen tiap kader dan kelurahan dalam menjalankan PSN
(Controlling).
3. Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya PSN (Environment).

52
2.3.2 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan Menggunakan Fishbone
(Diagram Tulang Ikan) pada Angka Bebas Jentik di Kelurahan Cikini
Pada Januari April 2017 yaitu 92,06% kurang dari target >95%.
Akar penyebab masalah dari input :
1. Kurangnya kesediaan warga untuk menjadi kader (Man Quantity).
2. Dilakukannya penghematan dalam menggunakan dana (Money
Quality).
3. Kurangnya persiapan petugas sebelum melaksanakan PSN
(Material Quantity).
4. Kurangnya komitmen kader dalam melaksanakan PSN (Method
Quantity).

Akar penyebab masalah yang ditemukan dari proses adalah:


1. Kurangnya komunikasi antar kader (Planning).
2. Tidak adanya pengarahan dari petugas kelurahan (Organizing).
3. Tidak dilakukannya briefing sebelum pelaksanaan PSN (Actuating).
4. Petugas puskesmas kelurahan sibuk dengan program lainnya
(Controlling).

Akar penyebab masalah yang ditemukan di environment adalah:


1. Kurangnya penyuluhan pencegahan demam berdarah di
masyarakat (Environment).

Dari sembilan akar penyebab masalah di atas dipilih tiga akar penyebab
masalah yang paling dominan, yang didapatkan berdasarkan hasil diskusi dan
justifikasi:
1. Kurangnya kesediaan warga untuk menjadi kader (Man Quantity).
2. Tidak adanya pengarahan dari petugas kelurahan (Organizing).
3. Kurangnya penyuluhan pencegahan demam berdarah di
masyarakat (Environment).

52
BAB III

MENETAPKAN ALTERNATIF CARA PEMECAHAN MASALAH

3. 1 Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah menentukan penyebab masalah yang paling dominan, untuk
mengurangi atau bahkan menghilangkan akar penyebab masalah yang paling
dominan tersebut maka ditentukan beberapa alternative pemecahan masalah.
Penetapan alternative pemecahan masalah menggunakan metode MCUA
(Multiple Criteria Utility Assesment), yaitu dengan memberikan skoring 1-3 pada
bobot berdasarkan hasil diskusi, argumentasi dan justifikasi kelompok.
Selanjutnya kepada setiap masalah diberikan nilai dari kolom kiri ke kanan
sehingga hasil yang didapatkan merupakan perkalian antara bobot kriteria dengan
skor dari setiap alternative masalah dan dijumlahkan tiap baris menurut setiap
kriteria berdasarkan masingmasing alternative masalah tersebut.
Kriteria dalam penetapan alternatif masalah yang terbaik adalah :
1. Mudah dilaksanakan.
Diberi nilai 1-3, di mana nilai 3 merupakan masalah yang paling
mudah dilaksanakan dan nilai 1 adalah masalah yang paling sulit
dilaksanakan.
2. Murah biayanya.
Diberi nilai 1-3, di mana nilai 3 merupakan masalah yang paling
murah biaya pelaksanaannya dan nilai 1 adalah masalah yang paling
mahal biaya pelaksanaannya.
2. Waktu penerapan sampai masalah terpecahkan tidak lama.
Diberi nilai 1-3, di mana nilai 3 adalah masalah yang paling dapat
diselesaikan dengan cepat dan nilai 1 adalah masalah yang
memerlukan waktu paling lama dalam penyelesaiannya.
3. Ketersediaan sumber daya.
Diberi nilai 1-3, di mana nilai 3 merupakan ketersediaan sumber daya
yang mencukupi dan nilai 1 merupakan ketersediaan sumber daya
yang sangat kurang.

53
Tabel 3.1 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan Menggunakan Fishbone
(Diagram Tulang Ikan) Angka Bebas Jentik Kelurahan Cikini pada periode
Januari April 2017 yaitu 92,06 %
Akar Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah
Kurangnya kesediaan warga untuk Memberikan informasi dan edukasi
menjadi kader (Man Quantity). kepada para warga masyarakat
mengenai pentingnya menjadi kader
untuk melaksanakan program PSN
(Actuating)
Tidak adanya pengarahan dari petugas Melakukan advokasi kepada pihak
kelurahan (Organizing). puskesmas kelurahan agar
memberikan pengarahan kepada warga
dan kader PSN sehingga kegiatan PSN
dapat berjalan dengan baik
(Controling)
Kurangnya penyuluhan pencegahan Memberikan informasi dan edukasi
berupa penyuluhan kepada masyarakat
demam berdarah di masyarakat
mengenai pentingnya pelaksanaan
(Environment). PSN guna pencegahan penyakit
Demam Berdarah (Environtment)

Tabel 3.2 MCUA Alternatif Pemecahan Masalah ABJ di Wilayah Kelurahan


Cikini Periode Januari April 2017

AL-1 AL-2 AL-3


No Parameter Bobot
N BN N BN N BN
Dapat menyelesaikan masalah
1 secara sempurna 4 3 12 2 8 4 16
2 Mudah dilaksanakan 3 2 6 3 9 2 6
3 Murah biayanya 2 3 6 1 2 3 6
4 Waktu penerapan tidak lama 1 3 3 2 2 3 3
Jumlah 27 21 31

Keterangan :
AL 1 : Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai
pelaksanaan PSN agar banyak yang tergerak untuk peduli dan mau menjadi
kader dalam kegiatan PSN (Man Quantity)

54
AL 2 : Melakukan advokasi kepada puskesmas kelurahan agar dapat hadir pada
pelaksanaan PSN sehingga dapat memberi pengarahan mengenai pelaksanaan
PSN yang sesuai. (Organizing)
AL 3 : Membuat program penyuluhan PSN secara berkala kepada masyarakat
sekitar (Enviroment)
Dari hasil penetapan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan
metode MCUA, berdasarkan peringkat didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Membuat program penyuluhan PSN secara berkala kepada
masyarakat sekitar (Enviroment)
2. Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai
pelaksanaan PSN agar banyak yang tergerak untuk peduli dan mau
menjadi kader dalam kegiatan PSN (Man Quantity)
3. Melakukan advokasi kepada puskesmas kelurahan agar dapat hadir
pada pelaksanaan PSN sehingga dapat memberi pengarahan
mengenai pelaksanaan PSN yang sesuai. (Organizing)

55
BAB IV

RENCANA PELAKSANAAN PEMECAHAN MASALAH

1.1. Menyusun Rencana Kegiatan Pemecahan Masalah


Setelah ditemukannya alternatif pemecahan masalah maka sampailah pada
tahap penyusunan rencana pemecahan masalah. Dalam tahap ini, diharapkan
dapat mengambil keputusan-keputusan untuk memecah akar masalah yang
dianggap paling dominan. Perencanaan adalah upaya menyusun berbagai
keputusan yang bersifat pokok yang dipandang paling penting dan akan
dilakukan menurut urutannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan rencana memecahkan masalah.
1. Cakupan Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Gondangdia pada periode
Januari-April 2017 yaitu 93,22% kurang dari target 95%
2. Cakupan Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini pada periode Januari-
April 2017 yaitu 92,06% kurang dari target 95%

56
Tabel 4.1. Rencana Usulan Kegiatan Meningkatkan Cakupan Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini
Juli Desember 2017

Volume
No. Keputusan Rencana Kegiatan Target Biaya
Kegiatan
Menambah petugas untuk
melaksanakan program 1. Memberikan informasi pentingnya Tercapainya target angka bebas Saat
1 Rp. 750.000
PSN (Man Quantity) kader PSN dan merekrut masyarakat jentik secara optimal dan teliti dibutuhkan
menjadi kader PSN
Melakukan advokasi
kepada puskesmas
kelurahan agar dapat hadir Memberikan pengarahan tentang Setiap kader mengetahui tugas
pada pelaksanaan PSN pembagian wilayah dari jumlah rumah masing-masing dan lebih optimal Rp.
2 sehingga dapat memberi yang harus dikunjungi setiap kader atau 3x/tahun
juga fokus dalam bekerja 150.000,-
pengarahan mengenai petugas
pelaksanaan PSN yang
sesuai (Organizing)
Memberikan komunikasi,
informasi dan edukasi
kepada masyarakat Masyarakat sadar akan
Melakukan penyuluhan mengenai
mengenai pentingnya pentingnya pelaksanaan PSN Rp.
3 pentingnya pelaksanaan PSN dalam 6x/tahun
pelaksanaan PSN dalam dalam pencegahan penyakit 600.000,-
pencegahan penyakit DBD
pencegahan penyakit DBD.
DBD (Environment)

57
1.2 Rencana Pelaksanaan Pemecahan Masalah
Setelah menyusun rencana pemecahan masalah, maka akan dilakukan rencana pelaksanaan pemecahan masalah yang
disusun berdasarkan rencana usulan kegiatan. Perencanaan pelaksanaan pemecahan masalah disajikan dalam bentuk tabel gan
chart berikut ini:

Tabel 4.2. Rencana Pelaksanaan Pemecahan Masalah Peningkatan Cakupan Angka Bebas Jentik pada Kelurahan Cikini
Juli - Desember 2017
Bulan
N
Kegiatan Juli Agustus September Oktober November Desember
o
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Merekrut petugas X
baru
Melakukan advokasi
2 X X
3 kepada puskesmas
Melakukan X X X
penyuluhan

58
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Ada satu program kesehatan dasar di Puskesmas Kecamatan Menteng yang


dievaluasi, yaitu program Kesehatan Lingkungan. Dan didapatkan dua masalah
yang teridentifikasi sehingga didapatkan satu prioritas masalah selama periode
Januari s/d April 2017, yaitu Cakupan program Jumantik di Kelurahan Cikini
pada periode Januari-April 2017 sebesar 92,06% kurang dari target yaitu 95 %.

Setelah mencari kemungkinan penyebab masalah dengan diagram sebab akibat


dari Ishikawa atau fishbone di dapatkan akar-akar masalah dari setiap program di
atas, seperti yang telah di jelaskan pada bab sebelumnya. Setelah ditemukan akar-
akar masalah setiap program, didapatkan akar penyebab masalah yang dominan
serta alternatif cara pemecahan masalah.

Akar penyebab masalah dominan Angka Bebas Jentik pada Kelurahan


Cikini pada periode Januari April 2017:

1. Kurangnya kesediaan warga untuk menjadi kader (Man Quantity).


2. Tidak adanya pengarahan dari petugas kelurahan (Organizing).
3. Kurangnya penyuluhan pencegahan demam berdarah di masyarakat
(Environment).

5.2 Saran

Berdasarkan permasalahan program kesehatan dasar tersebut, disarankan


atau direkomendasikan beberapa hal kepada Kepala Puskesmas Kecamatan
Menteng sebagai berikut :

1. Mengadakan penambahan petugas PSN dan melakukan evaluasi rutin


setelah pelaksanaan PSN (Man Quantity)

a. Mengajukan usulan mengenai kebutuhan pengawas program PSN

59
2. Membuat jadwal mengenai pelaksanaan program puskesmas agar tidak
berjalan dalam waktu bersamaan dan menjadwalkan secara rutin rapat
evaluasi kegiatan PSN (Controlling)
a. Rapat keseluruhan anggota Puskesmas mengenai program yang
akan dilaksanakan
b. Rapat mengenai evaluasi kegiatan PSN
3. Membagi rata tugas kepada setiap petugas kesehatan untuk setiap kegiatan
(Organizing)

a. Mengajukan saran agar petugas kesehatan mendapatkan program


kerja yang merata

4. Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai


pentingnya pelaksanaan PSN guna pencegahan penyakit Demam Berdarah
(Environtment)

a. Membentuk pelaksana kegiatan penyuluhan mengenai pentingnya


pelaksanaan PSN dalam pencegahan penyakit DBD

b. Melakukan penyuluhan mengenai pentingnya pelaksanaan PSN


dalam pencegahan penyakit DBD

5. Memberikan informasi dan edukasi kepada para petugas kader mengenai


bagaimana pemeriksaan jentik yang benar (Actuating)

a. Mengadakan rapat untuk cara menyusun rencana edukasi kader


jumantik dalam melaksanakan program PSN

b. Melaksanakan pertemuan antar petugas kader

DAFTAR PUSTAKA

60
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Universitas Yarsi. 2014. Modul Materi

Kesehatan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Universitas YARSI 2014. Jakarta :


Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Universitas YARSI.

Depkes RI, 2006. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2006. Jakarta : Depkes RI
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan
Masyarakat.

Kecamatan Menteng Tahun 2016. Jakarta.Pukesmas Kecamatan


Menteng. 2016. Laporan Angka bebas Jentik

61