Anda di halaman 1dari 10

ameloblastoma (amel, yang berarti enamel dan blastos, yang berarti kuman) adalah

tumor, jarang jinak epitel odontogenik (ameloblasts, atau bagian luar, pada gigi selama
pengembangan) jauh lebih sering muncul di rahang bawah dari rahang atas. Ini diakui
pada tahun 1827 oleh Cusack. Jenis neoplasma odontogenik ditunjuk sebagai
adamantinoma pada 1885.
Tumor ini jarang ganas atau metastasis (yaitu, mereka jarang menyebar ke bagian lain
dari tubuh), dan kemajuan perlahan, lesi yang dihasilkan dapat menyebabkan kelainan
yang parah dari wajah dan rahang. Selain itu, karena pertumbuhan sel yang abnormal
mudah infiltrat dan menghancurkan jaringan sekitar tulang, bedah eksisi luas diperlukan
untuk mengobati gangguan ini
Jadi Ameloblastoma adalah suatu tumor berasal dari sel sel embrional dan terbentuk
dari sel sel berpontesial bagi pembentukan enamel. Tumor ini biasanya tumbuh dengan
lambat, secara histologis jinak tetapi secara klinis merupakan neoplasma malignan,
terjadi lebih sering pada badan atau ramus mandibula dibanding pada maksila dan dapat
berkapsul atau tidak berkapsul.(1,3,4,5)

2. Etiologi
Pada saat ini kebanyakan para ahli mempertimbangkan ameloblastoma dengan asal yang
bervariasi, walaupun stimulus yang menimbulkan proses tersebutbelum diketahui.
Selanjutnya, tumor tersebut kemungkinan terbentuk dari :
1. Sisa sel sel dari organ enamel, baik itu sisa lamina dental, sisa-sisa epitel Mallasez
atau sisa-sisa pembungkus Hertwig yang terkandung dalam ligamen periondontal gigi
yang akan erupsi.
2. Epitelium darikista odontogenik terutam kista dentigerous
3. Gangguan perkembangan organ enamel
4. Sel-sel basal dari epitelium permukaan rahang
5. Epitelium Heterotropik pada bagian-bagian lain dari tubuh, khususnya kelenjar
pituitary.
Stankey dan Diehl (1965) yang mengulas 641 kasus ameloblastoma, menemukan
bahwa108 kasus dari tumor-tumor inidihubungkan dengan gigi impaksi dan suatu kista
folikular ( dentigerous). (6,7,8,9)
3. Gambaran Klinis
Ameloblastoma merupakan tumor yang jinak tetapi merupakan lesi invasif secara lokal,
dimana pertumbuhannya lambat dan dapat dijumpai setelah beberapa tahun sebelum
gejala-gejalanya berkembang. Ameloblastoma dapat terjadi pada usia dimana paling
umum terjadi pada orang-orang yang berusia diantara 20 sampai 50 tahundan hampir dua
pertiga pasien berusia lebih muda dari 40 tahun. Hampir sebagian besar kasus-kasus yang
dilaporkan menunjukkan bahwa ameloblastoma jauh lebih sering dijumpai pada
mandibula dibanding pada maksila. Kira-kira 80% terjadi dimandibula dan kira-kira 75%
terlihat di regio molar dan ramus, Ameloblastoma maksila juga paling umum dijumpai
pada regio molar.(3,4,6,7,8,9)
Pada tahap yang sangat awal , riwayat pasien asimtomatis (tanpa gejala). Ameloblastoma
tumbuh secara perlahan selam bertahun-tahun, dan tidak ditemui sampai dilakukan
pemeriksaan radiografi oral secara rutin. Pada tahap awal , tulang keras dan mukosa
diatasnya berwarna normal. Pada tahap berikutnya, tulang menipis dan ketika teresobsi
seluruhnya tumor yang menonjol terasa lunak pada penekanan dan dapat memiliki
gambaran berlobul pada radiografi. Dengan pembesarannya, maka tumor tersebut dapat
mengekspansi tulang kortikal yang luas dan memutuskan batasan tulang serta menginvasi
jaringan lunak. Pasien jadi menyadari adanya pembengkakan yang progresif, biasanya
pada bagian bukal mandibula, juga dapat mengalami perluasan kepermukaan lingual,
suatu gambaran yang tidak umum pada kista odontogenik. Ketika menembus mukosa,
permukaan tumor dapat menjadi memar dan mengalami ulserasi akibat penguyahan. Pada
tahap lebih lanjut,kemungkinan ada rasa sakit didalam atau sekitar gigi dan gigi tetangga
dapat goyang bahkan tanggal.(3,4,6)
Pembengkakan wajah dan asimetris wajah adalah penemuan ekstra oral yang penting.
Sisi asimetris tergantung pada tulang utama atau tulang-tulang yang terlibat.
Perkembangan tumor tidak menimbulkan rasa sakit kecuali ada penekanan saraf atau
terjadi komplikasi infeksi sekunder. Terkadang pasien membiarkan ameloblastoma
bertahan selama beberapa tahun tanpa perawatan dan pada kasus-kasus tersebut ekspansi
dapat menimbulkan ulkus namun tipe ulseratif dari pertumbuhan karsinoma yang tidak
terjadi. Pada tahap lanjut, ukurannya bertambah besar dapat menyebabkan gangguan
penguyahan dan penelanan.(4,6,9)
Perlu menjadi perhatian, bahwa trauma seringkali dihubungkan dengan perkembangan
ameloblastoma. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tumor ini sering kali diawali
oleh pencabutan gigi, kistektomi atau beberapa peristiwa traumatik lainnya. Seperti
kasus-kasus tumor lainnya pencabutan gigi sering mempengaruhi tumor (tumor yang
menyebabkan hilangnya gigi) selain dari penyebabnya sendiri.(9)
Tumor ini pada saat pertama kali adalah padat tetapi kemudian menjadi kista pada
pengeluaran sel-sel stelatenya. Ameloblastoma merupakan tumor jinak tetapi karena sifat
invasinya dan sering kambuh maka tumor ini menjadi tumor yang lebih serius dan
ditakutkan akan potensial komplikasinya jika tidak disingkirkan secara lengkap. Tetapi
sudah dinyatakan bahwa sangat sedikit kasus metastasenya yang telah dilaporkan.(3,6)

4. Gambaran Histopatologis
Sejumlah pola histologis digambarkan dalam ameloblastoma. Beberapa diantaranya
memperlihatkan tipe histologis tunggal, yang lainnya dapat menunjukkan beberapa pola
histologis didalam lesi yang sama. Yang umum untuk semua tipe ini adalah polarisasi sel-
sel sekitar dibentuk seperti sarang yang berproliferasi kedalam pola yang serupa dengan
ameloblas dari organ enamel. Secara kasar, ameloblas terdiri dari jaringan kaku yang
berwarna keabu-abuan yang memperlihatkan daerah kistik yang mengandung cairan
kuning yang bening.(10)
Amelobalstoma secar dekat menyerupai organ enamel, walaupun kasus-kasus yang
berbeda dapat dibedakan dari kemiripan mereka untuk tahap-tahap odontogenesisyang
berbeda. Karena pola-pola histologis ameloblastoma sangat bervariasi, maka sejumlah
tipe yang berbeda secara umum dijelaskan(9) :

4.1 Folikular
Ameloblastoma folikular terdiri dari pulau-pulau epitel dengan dua komponen berbeda.
Bagian sentral dari pulau epitel mengandung suatu jalinan sel-sel yang rumit dan longgar
yang menyerupai stelate retikulum dari organ enamel. Disekeliling sel-sel ini adalah
lapisan sel-sel kolumnar tinggi dan tunggal dengan nukleusnya berpolarisai jauh dari
membran dasar. Degenerasi kistik umumnya terjadi dibagian sentral pulau-pulau epitel,
meninggalkan ruang yang jelas dan dibatasi oleh sel-sel stelate padat. Kelompok sel-sel
epitel dipisahkan oleh sejumlah steoma jaringan fibrosa.(7,8,9)

4.2 Pleksiform
Pada ameloblastoma pleksiform, sel-sel tumor yang menyerupai ameloblas tersusun
dalam massa yang tidak teratur atau lebih sering sebagai suatu jaringan dari untaian sel-
sel yang berhubungan. Masing-masing massa atau untaian ini dibatasi oleh lapisan sel-sel
kolumnar dan diantara lapisan ini kemungkinan dijumpai sel-sel yang menyerupai stalate
retikulum. Namun demikian, jaringan yang menyerupai stalate retikulum terlihat kurang
menonjolpada tipe ameloblastoma pleksiform dibanding pada ameloblastoma tipe
folikuler dan ketika dijumpai secara keseluruhan tersusun pada bagian perifer daerah
degenerasi kistik.(7,8,9)

4.3 Akantomatosa
Dalam ameloblastoma akantomatosa, sel-sel yang menempati posisi stalate retikulum
mengalami metaplasia squamous, terkadang dengan pembentukan keratinpada bagian
sentral dari pualu-pulau tumor. Terkadang, epitel pearls atau keratin pearls dapat
dijumpai.(9,11)

4.4 Granular
Pada ameloblastoma sel granular, ada ciri-ciri transformasi sitoplasma, biasanya sel-sel
yang menyerupai stelate retikulum sehingga mengalami bentuk eosinofil, granular yang
sangat kasar. Sel-sel ini sering meluas hingga melibatkan sel-sel kolumnar atau kuboidal
periperal. Penelitian ultrastruktural, seperti yang dilakukan Tandler dan Rossi,
menunjukkan bahwa granul-granul sitoplasmik ini menunjukkan lisosomal dengan
komponen-komponen sel yang tidak dapat dikenali. Hartman telah melaporkan
serangkaian kasus ameloblastoma sel granular dan memperkirakan bahwa tipe sel
granular ini terlihat menjadi lesi yang agresif dan cenderung untuk kambuh kecuali
dilakukan bedah yang sesuai pada operasi pertama.(7,9)

Walaupun pola histologis yang berbeda telah memunculkan berbagai nama-nama untuk
menjelaskan lesi tersebut, namun gambaran klinisnya adalah sama.(6)
Ameloblastoma terkadang perkembangnnya ditemukan didalam dinding kista
odontogenik. Tergantung pada tahap perkembangan tumor, berbagai istilah digunakan
untuk menjelaskan perubahan-perubahan seperti intarluminal, mural dan amelobalstoma
invasif.
Istilah amelobastoma intraluminal digunakan ketika ameloblastoma berkembang kedalam
lumen dan tidak menganggu dinding kista.
Istilah ameloblastoma mural digunakan ketika amelobalstoma dijumpai didinding kista
dan masih dibatasi oleh dinding-dinding kista. Pada dua situasi tumor ini secara komplit
dibatasi didalam kista, suatu pendekatan bedah yang lebih konversatif sering dilakukan.
Istilah ameloblastoma invasif digunakan ketika tumor tersebut telah meluas keluar
dinding kista dan kedalam tulang yang berbatasan atau kedalam jaringan lunak atau
ketika tumor berkembang dari epitel lain selain dari epitel kista. Suatu prosedur bedah
yang lebih radikal sering disarankan untuk keadaan ini.(7)
5. Gambaran Radiografi
Pada radiografi ameloblastoma secara klasik digambarkan sebagai suatu lesi yang
menyerupai kistamultilokular pada rahang. Tulang yang terlibat digantikan oleh berbagai
daerah radiolusen yang berbatas jelas yang member lesi suatu bentuk seperti sarang lebah
atau gelembung sabun. Kemungkinan juga ada radiolusen berbatas jelas yang
menunjukkan suatu ruang tunggal. Suatu ameloblastoma menghasilkan lebih luas
resobsiakar gigi yang berkontak dengan lesi.
Ada dua tipe ameloblastoma yang menunjukkan gambaran yang khas secara
rontgenografi yaitu:
1. Ameloblastoma monokistik
Terlihat sebagai suatu rongga kista tunggal yang menyerupai kista radikular atau folikular
yang garis luarnya tidak halus, bulat tetapi irregular dan berlobul serta bagian perifernya
seringkali bergerigi. Tipe ini jarang dijumpai.
2. Ameloblastoma multikistik
Tipe ini menghasilakn suatu gambaran yang khas secara rontgenografi. Ada pembentukan
kista multipel yang biasanya berbentuk silinder dan terpisah satu sama lain oleh trabekula
tulang. Kista yang bulat ini bervariasi ukuran serta jumlahnya.
Walaupun berbagai jenis gambaran radiografidari ameloblastoma memungkinkan, namun
kebanyakan memiliki gambaran yang khas dimana sejumlah loculation dijumpai. Jika
ameloblastoma menempati suatu rongga tunggal atau monokistik, maka diagnosa
radiografi menjadi bertambah sulit karena kemiripannya terhadap kista dentigerous
danterhadap kista residual berbatas epitel pada rahang. Pada suatu kista yang berbatas
epitel, maka jaringan tersebut lebih radiopak dibanding cairan tersebut, tetapi pada
banyak hal perbedaan tersebut begitu ringan yang menjadi tidak bernilai diagnostik.
Ameloblastoma secara radiografi menyerupai kista dentigerous telah dilaporkan oleh
Chan(1933), Bailey(1951) dan yang lainnya. Suatu rongga kista pada mandibula dimana
mahkota molar kedua yang tidak erupsi. Bentuk bulat rongga tersebut, batas yang teratur
dan posisinya yang berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi diduga sebagai suatu kista
dentigerous, tetapi pada pemeriksaan mikroskopis, kandungan rongga tersebut terbukti
sebagai ameloblastoma.
Suatu ameloblastoma yang secara radiografi menyerupai kista residualberbatas epitel.
Bentuknya bulat dan memiliki batas yang jelas dan teratur. Suatu kerusakan kecil pada
tulang didekat daerah puncak alveolus memberikan suatu gambaran radiolusen yang
dapat diinterpretasikan dengan baik sebagai kerusakan setelah operasi.
Chan (1933) menyebutkan kemungkinan bahwa suatu ameloblastoma dapat terbentuk
dari folikel-folikel yang tidak sepenuhnya disingkirkan pada saat penyingkiran gigi yang
tidak erupsi danmungkin ameloblastoma pada keadaan ini dibentuk dari sumber tersebut.
Dengan meningkatnya ukuran lesi, maka korteks dilibatkan, dirusak dan jaringan lunak
diinvasi. Dalam hal ini, ameloblastoma berbeda dari lesi fibrous dan fibroosseus yang
mengekspansi tetapi cenderung mempertahankan korteks.
Walaupun pemeriksaan rontgen bernilai penting untuk menentukan perluasan
keterlibatannya, namun ini tidak selalu bernilai diagnostic yang pasti. Lesi-lesi yang kecil
sulit untuk diinterpretasikan, dan pada beberapa kasus harus bergantung pada
pemeriksaan patologis yang seharusnya dibuat pada semua kasus yang dicurigai.
Diagnosa
a. Pemeriksaan klinis
Pada tahap yang sangat awal, riwayat pasien asimtomatis. Tumor tumbuh secara perlahan
selama bertahun-tahun dan ditemukan pada rontgen foto. Pada tahap berikutnya, tulang
menipis dan ketika teresobsi seluruhnya tumor yang menonjol terasa lunak pada
penekanan. Degan pembesarannya, maka tumior tersebut dapat mengekspansi tulang
kortikal yang luas dan memutuskan batasan tulang serta menginvasi jaringan lunak.
Pasien jadi menyadari adanya pembengkakan, biasanya pada bagian bukal mandibula dan
dapat mengalami perluasan kepermukaan lingual, suatu gambaran yang tidak umum pada
kista odontogenik. Sisi yang paling sering dikenai adalah sudut mandibula dengan
pertumbuhan yang meluas karamus dan kedalam badan mandibula. Secara ekstra oral
dapat terlihat adanya pembengkakan wajah dan asimetri wajah. Sisi asimetri
tergantungpada tulang-tulang yang terlibat. Perkembangan tumor tidak menimbulkan rasa
sakit kecuali ada penekanan pada saraf atau terjadi komplikasi infeksi sekunder. Ukuran
tumor yang bertambah besar dapat menyebabkan gangguan pengunyahan dan penelanan.
b. Pemeriksaan radiologis
Tampak radiolusen unilokular atau multilokular dengan tepi berbatas tegas. Tumor ini
juga dapat memperlihatkan tepi kortikal yang berlekuk, suatu gambaran multilokular dan
resobsi akar gigi yang berkontak dengan lesi tanpa pergeseran gigi yang parah dibanding
pada kista. Tulang yang terlibat digantikan oleh berbagai daerah radiolusen yang berbatas
jelas dan member lesi suatu bentuk seperti sarang lebah atau gelembung sabun.
Kemungkinan juga ada radiolusen berbatas jelas yang menunjukkan suatu ruang tunggal.
c. Pemeriksaan patologi anatomi
Kandungan tumor ini dapat keras atau lunak, tetapi biasanya ada suatu cairan mucoid
berwarna kopi atau kekuning-kuningan. Kolesterin jarang dijumpai. Secara makroskopis
ada dua tipe yaitu tipe solid (padat) dan tipe kistik. Tipe yang padat terdiri dari massa
lunak jaringan yang berwarna putih keabu-abuan atau abu-abu kekuning-kuningan. Tipe
kistik memiliki lapisan yang lebih tebal seperti jaringan ikat dibanding kista sederhana.
Daerah-daerah kistik biasanya dipisahkan oleh stroma jaringan fibrous tetapi terkadang
septum tulang juga dapat dijumpai. Mikroskopis terdiri atas jaringan tumor dengan sel-sel
epitel tersusun seperti pagar mengelilingi jaringan stroma yang mengandung sel-sel
stelate retikulum, sebagian menunjukkan degenerasi kistik.
Diagnosa
Dari pemeriksaan klinis, radiologis dan patologi anatomidapat didiagnosa bahwa tumor
tersebut ameloblastoma. Biasanya tidak sulit untuk mendiagnosa pertumbuhan tumor ini
dengan bantuan rontgenogram dan dari data klinis, kelenjar limfe tidak terlibat.

Penatalaksanaan
Ameloblastoma mempunyai reputasi untuk mengalami kekambuhan kembali setelah
dsingkirkan.Hal ini disebabkan sifat lesi tersebut menginvasi secara llokal pada
penyingkiran yang tidak adekuat.
1. Enukleasi
Enukleasi merupakan penyingkiran tumor dengan mengikisnya dari jaringan normal
yang ada disekelilingnya.Lesi unikistik, khususnya yang lebih kecil hanya memerlukan
enukleasi dan seharusnya tidak dirawat secara berlebihan.
2. Eksisi Blok
Kebanyakan ameloblastoma seharusnya dieksisi daripada enukleasi.eksisi dalam suatu
blok tulang didalam kontunuitas rahang dianjurkan jika ameloblastoma tersebut
kecil.Apabila perlu dikorbankan mandibula yang cukup besar yang terlibat
ameloblastoma dan bila tidak menimbulkan perforasi mukosa oral, maka suatu eksisi
blok kemungkinan dengan cangkok tulang segera.
3. Osteotomi Periperal
Osteotomi peripheral merupakan suatu prosedur yang mengeksisi tumor yang komplit
tetapi pada waktu yang sama suatu jarak tulang dipertahankan untuk memelihara
kontuinuitas rahang sehingga kelainan bentuk, kecacatan dan kebutuhan untuk
pembedahan kosmetik sekundser dan resorasi prostetik dapat dihindari. Prosedur tersebut
didasari pada observasi yang mana batas inferior kortikal dari badan horizontal, batas
posterior dari ramus asenden dan kondilus tidak secara keseluruhan di invasi oleh proses
tumor. Daerah ini tahan dan kuat karena terdiri dari tulang kortikal yang padat.
Regenerasi tulang akan dimulai dari daerah tersebut meskipun hanya suatu rim tipis dan
tulang yang tersisa.
4. Reseksi Tumor
Reseksi tumor sendiri dari reseksi total dan reseksi segmental termasuk
bemimaksilektomi dan bemimandibulektomi.Apabila ameloblastoma ditemukan pada
pemeriksaan, serta dapat dijumpai adanya perubahan kembali serta aktifitas lesi yang
baru setelah operasi maka pada kasus tersebut harus direseksi.
5. Kauterisasi
Kauterisasi merupakan pengeringan atau elektrokoagulasi lesi, termasuk sejumlah
jaringan normal disekelilingnya.Kauterisasi tidak umum digunakan sebagai bentuk terapi
primer, namun meru[pakan terapi yang lebih efektif dibandind kuretase.

Ameloblastoma adalah tumor benigna memiliki kecenderungan untuk rekuren, dan


metastase . Ameloblastoma merupakan tumor jinak secara histologi tumor lokal yang
agresif muncul dari ektoderma odontogenik atau Ameloblastoma adalah suatu tumor
jinak yang terlokalisir dengan tanda kecenderungan terjadi rekuren . Ameloblastoma
merupakan suatu tumor epitelial odontogenik yang bersifat jinak, tumbuh lambat,
penyebarannya lokal invasif dan destruktif serta mengadakan proliferasi kedalam stroma
jaringan ikat.

(ii). Etiologi
Etiologi ameloblastoma sampai saat ini belum diketahui dengan jelas, tetapi beberapa ahli
mengatakan bahwa ameloblastoma dapat terjadi setelah pencabutan gigi, pengangkatan
kista dan iritasi lokal dalam rongga mulut. Patogenesis dari tumor ini, melihat adanya
hubungan dengan jaringan pembentuk gigi atau sel-sel yang berkemampuan untuk
membentuk gigi tetapi suatu rangsangan yang memulai terjadinya proliferasi sel-sel
tumor Shafer dkk (1983) mengemukakan kemungkinan ameloblastoma berasal dari sisa
sel organ enamel (hertwig's sheat, epitel rest of mallassez). Ameloblastoma sering
dikaitkan dengan keberadaan unerupted gigi.

(iii). Jenis-Jenis
Ameloblastoma dikelompokkan dalam 4 kelompok yaitu unicystic, solid atau multicystic,
peripheral dan maligna. Ameloblastoma unicystic pada dasarnya sebuah lesi kista dengan
proliferasi lapisan kista secara intraluminal. Secara radiografi digambarkan dengan
radiolusen yang berkembang lambat. Ameloblastoma solid atau multicystic dapat
mengenai struktur didaerah intracranial dan memiliki kemampuan untuk rekuren dan
bermetastase. Terjadi pada kelompok usia yang lebih tua dibandingkan bentuk unicystic.
Dari gambaran radiografi, penampakannya bervariasi dengan pengecualian bentuk
desmoplastik tapi umumnya unilokuler dan multilokuler. Ameloblastoma multisistik
mempunya prognosis yang lebih buruk dibandingkan lesi unicystik.
Ameloblastoma peripheral adalah ameloblastoma intraosseus central yang mengenai
jaringan lunak. Jenis tumor ini jarang.
Ameloblastoma maligna juga merupakan bentuk yang jarang. Elzay dan Coito dkk
mendefinisikan lesi ini sebagai ameloblastoma yang bermetastase. Secara klinis,
mayoritas pasien (75 %) dengan keluhan utama pembengkakan dengan nyeri yang
berkembang lambat. Tanda dan gejala termasuk kerusakan wajah, pembengkakan (75 %),
nyeri (33 %), maloklusi , tanggalnya gigi, sakit pada pemasangan protesa dan GTJ,
ulserasi dan penyakit periodontal.

(iv). Manifestasi Klinis


Secara klinis, gejala awalnya tidak ada dan tumor ini jarang didiagnosa pada
perkembangan tahap awal. Gambaran klinis dari tumor ini adalah pertumbuhan yang
sangat lambat. Kasus ini terdapat kira-kira 75 % pasien.. Hal ini sering ditemukan tidak
sengaja pada penggunaan sinar-X yang rutin pada gigi. Menarik untuk dicatat bahwa
beberapa penulis telah melaporkan bahwa trauma, infeksi atau estraksi sebelumnya telah
dilaporkan pada 60-70 % pasien pada puncaknya menunjukan memiliki
ameloblastoma .Gambaran klinik, dalam tahap awal jarang menunjukkan keluhan, oleh
karena itu tumor ini jarang terdiagnosa secara dini, umumnya diketahui setelah 4 sampai
dengan 6 tahun.

Gambar 1. Perjalanan ameloblastoma

Pembengkakan dengan ukuran yang bervariasi dapat menyebabkan deformitas wajah,


dimana konsistensi bervariasi ada yang keras dan ada yang lunak. Tumor ini meluas ke
segala arah mendesak dan merusak tulang sekitarnya, terdapat tanda egg shell cracking
atau pingpong ball phenomena bila massa tumor telah mendesak korteks tulang dan
tulangnya menipis, tidak ada rasa nyeri.

Gambar 2: penderita ameloblastoma (7)


Hanya pada beberapa penderita benjolan disertai rasa nyeri, dan kadang-kadang terdapat
ulserasi oleh karena penekanan gigi apabila tumor sudah mencapai ukuran besar. (9) Gigi
geligi pada daerah tumor berubah letak dan goyang. Bila terjadi infeksi sekunder maka
ulserasi, fistula bahkan jaringan granulasi pun dapat dijumpai, demikian juga rasa nyeri,
parestesi dan tanda-tanda imflamasi. (3)
Gejala yang didapatkan saat keparahan yaitu rasa sakit, pembengkakan dan kelainan
bentuk wajah.

Gambar 3: pembengkakan pada wajah.


(v). Pengobatan
Banyak teknik operasi yang disarankan untuk penatalaksanaan ameloblastoma. Pada
dasarnya pengangkatan total masa tumor dengan mengikutsertakan jaringan tulang yang
sehat akan memberikan hasil yang optimal. Penatalaksanaan reseksi enblok sesuai
indikasi ditujukan untuk menurunkan tingkat rekurensi dan memperkecil kemungkinan
cacat muka (3). Reseksi marginal (reseksi enblok) merupakan teknik untuk mengangkat
jaringan tumor dengan mempertahankan kontinuitas korteks tulang mandibula bagian
bawah. Reseksi enblok ini dilakukan secara garis lurus dengan bor dan atau pahat atau
gergaji, 1-2 cm dari tepi batas tumor secara rontgenologis yang diperkirakan batas
minimal reseksi (3).
Tidak ada perawatan standar yang telah dibuat untuk tumor ini. Beberapa jenis perawatan
yang telah dicoba yaitu : kuretase lokal, cryoterapi, , kauterisasi, laser, eksisi
sederhana,eksisi radikal,radioterapi dan kemoterapi (2). Rinci dalam studi 345 pasien,
kemoterapi dan terapi radiasi nampaknya kontraindikasi untuk perawatan
ameloblastomas. [2] Oleh itu, adalah operasi yang paling umum perlakuan terhadap
tumor ini (6).
Pembedahan radikal dijelaskan oleh Muller dan Slootweg adalah suatu prosedur dimana
ameloblastoma diangkat dengan tepi tulang yang normal. Sebagian besar peneliti yakin
mengenai reseksi sekurang-kurangnya 1 cm dari tulang normal melebihi tepi tumor. Tepi
jaringan lunak pada saat reseksi diperkuat dengan pembekuan untuk menjamin
pengangkatan tumor yang lengkap (1).
Bagaimanapun terapi radiasi jarang digunakan untuk perawatan utama.Gardner yakin
bahwa radioterapi seharusnya hanya digunakan untuk kasus yang tidak butuh operasi.
Pinsolle dkk yakin bahwa pembedahan dan radioterapi seharusnya digunakan. : 1.
rekurensi pada mandibula jika perawatan bedah primer adekuat,2. untuk semua kasus
yang rekuren, 3. jika jaringan lunak terlibat atau pembedahan tepi setelah dilakukan
reseksi yang luas.
(vi). Gambaran Radiologis
Secara radiografi digambarkan dengan radiolusen yang berkembang lambat. Gambaran
radiografi ditemukan tidak patognomonik tetapi biasanya menampakkan perluasan lesi
unilokuler atau multilokuler dengan tulang tipis dan batas yang tegas. Gambaran
radiologis berupa lesi unilokuler atau multilokuler dengan gambaran seperti sarang tawon
(honey comb appearance) pada lesi yang kecil dan gambaran busa sabun (soap bubble
appearance) pada lesi yang besar.

gambar 3 : Hampir semua ameloblastoma menunjukan kelebihan multilokuler pada


tampilan sarang tawon atau bussabun. Batas atau defeknya adalah berlekuk-lekuk

Gambar 4: Panoramic sinar rentgen diambil dari pasien 7 September 1996 yang
menunjukkan radiolucent jejas di bawah akar kedua kanan mandibular molar dengan luas
Root resorption, A. mahkota CT scan depicting yang periapical jejas, (4)

Gambar 2: Panoramic sinar rentgen dari pasien pada tanggal 17 Januari 1998 setelah
perulangan yang mendemonstrasikan radiolucent jejas di daerah kedua kanan mandibular
molar memperluas ke kanal mandibular (4)

Gambar3. gambaran ameloblastoma pada foto periapikal

Gambar 4. ameloblastoma pada gambaran panoramik (7)

Kumpulan gambaran radiografis AMELOBLASTOMA


1. 2. 3. 4.

6.
5.

Kesimpulan dan saran

(i). Kesimpulan
1. Ameloblastoma adalah suatu tumor jinak yang terlokalisir dengan kecenderungan
terjadi rekuren.
2. Gambaran ameloblastoma sebagai unilocular atau multilocular radiolusens
(ii). Saran.
Diagnosa ameloblastoma tidak dapat dibuat dengan radiografi saja. Diperlukan
anamnesa yang tepat untuk menegakkan diagnosa. Selain itu pasien di anjurkan untuk
kontrol pasca tindakan bedah.