Anda di halaman 1dari 38

ISBN 979-3673-35-4

ORASI PENGUKUHAN

ABLI PENELITI UTAMA BIDANG INSTRUMENTASI ELEKTRONIK

OMBAK NUSANTARA

SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNA TIF

.I

Oleh:

Abdul Harris Yadda

ORASI PENGUKUHAN

AHLI PENELITI UTAMA BIDANG INSTRUMENT ASI ELEKTRONIK

OMBAK NUSANT ARA SEBAGAI SUMBERENERGI ALTERNATIF

Oleh:

Abdul Harris Yadda

LEMBAGAILMVPENGETAHVANINDONES~

PUS AT PENELITIAN KALIBRASI INSTRUMENT ASI DAN METROLOGI SERPONG, 28 JUNI2005

77ft!

BOGRAFI

Abdul Harris Yadda dilahirkan di MaroanginMaiwa, Enrekang, Sulawesi Selatan, tanggal 10 Desember 1946, anak -dari pasangan Ibu PawaJla (almh.) dan Bapak La Canno (alm.) Veteran pahlawan penegak kemerdekaan yang gugur dalam kekejaman tentara NI CA pimpinan Westerling pada bulan Nopember 1947.

Pada Tanggal 25 September 1983 menikah dengan Andi Rachmadian Mangopo Sini alumni "Akademi Pemerintahan Dalam Negeri" Ujung-Pandang, Putri pertama almarhum H. Andi Enreng Mangopo Sini (Veteran pejuang kemerdekaan R.I.).\"

Pasangan un dikaruniai empat putra berturut-turut:

Hardiansara Pababbari (21 tahun, Mahasiswa jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Universitas Nasional di Jakarta), Sakti Tanripada (19 tahun, Mahasiswa Departemen Teknik Perminyakan ITB di Bandung), Sulolipu Tanrisau (18 tahun, Siswa kelas IIIIPA-l SMU Negeri No. 1 Cisauk Tangerang Banten) dan Muhammad Sulthoanuddin Akbar Taorisa'na (9 tahun, Murid kelas IV-C SD Negeri PUSPIPTEK di Cisauk Tangerang Banten).

Pendidikan Formal:

• Tamat Sekolah Dasar Negeri tahun 1960;

• Sekolah Menengah Pertama (SMP- PGRI) 1964 di Maroangiri;

• SMA Negeri (Ilmu Pasti) di Parepare pada tahun 1967;

• Memperoleh gelar Sarjana Muda Teknik (So);

• Sarjana Teknik (SI); Magister Teknik (S2) dan Doktor dalam bidang Ilmu Teknik (S3) berturut-turut pada Maret 1973, Oktober 1975, September 1994 dan Januari 2005 seluruhnya dari Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung

Pendidikan Tambahan:

• Kursus Mikroprocessor (Motorolla), Singapura, 17 November 1977.

• Kursus Singkat Mikroprocessor, Bandung, 27 Februari s.d 3 Maret 1978.

1

• Memperoleh beasiswa dari UNESCO untuk "Training Computer Aided Design, TH Delft Belanda, 14 September 1979 s.d 13 Juni 1980"

• Kursus Software Engineering, AIT Bangkok - Thailand, 25 Mei s.d 5 Juni 1981". Regional Workshop on' Engineering Mathematics, ITB; 26 Juni s.d 2 Agustus 1983.

• Personel Management Course, Okinawa, JICA Jepang, 13 Januari s.d 15 Februari 1986.

• Kursus Operating System dan Bahasa C, Puslitbang KIM-LlPI, 12 April s.d 28 Juni 1988.

• Kuliah Singkat Persamaan Diferensial Parsial Numerik, Matematik ITB, 5 -17 J uli 1993.

• Symposium Applied Science, ITB, 20-23 Juli 1993.

• Workshop "Mathematical Modelling in Industrial Problems and In The Industrial Mathematics week 2000,

• Center for Research On the Application & Advancement of Mathematics, ITB, 3-14 Juli 2000

Pengalaman Pekerjaan dan Jabatan :

• Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan menunjang kelanjutan pendidikan di ITB, menjadi karyawan paruh waktu pada Lembaga Instrumentasi Nasional Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia (LIN-LIPI) dari tahun 1974 hingga Nopember 1975. Dalam kurun waktu ini pemah diperbantukan untuk menangani instrument pengukuran suhu tumpukan gabablberas didalam silo yang pada waktun itu di buat di Tambun Bekasi.

• Sebagai pegawai negeri dan peneIiti pada PusIitbang KIM-LIPI

sejak bulan Februari 1977 hingga dewasa ini.

• Calon Pegawai Negeri Sipil pada LIN-LIPI (01-03-1977),

• Pegawai Negeri Sipil (01-04-1978),

• Asisten Peneliti LIN-LIPI (1-10-1978),

• Ajun Peneliti Bidang Instrumentasi Elektronik (01-03-1982),

• Peneliti Muda (01-04-1983),

• Peneliti Madya (01-07-1988),

• Ahli Peneliti Muda (01-09-1992),

• Ahli Peneliti Madya (0 1-0 1-1996) dan

• Januari 2000 Oleh Presiden Republik Indonesia ditetapkan menjadi Ahli Peneliti Utama (APU) Bidang Instrumentasi

2

Elektronika dan bulan Oktober 2000 diangkat untuk GolonganlRuang IV/e.

Kegiatan Penelitian:

Memulai karier dari studi penelitian & pengembangan komponen dan jaringan elektronik berbantuan komputer (Computer Electronik Network Aided Design). Selanjutnya diperbantukan untuk menangani system irigasi, pengairan dan pengaturan Bendung irigasi, Telemetri data pengawasan & peringatan Banjir Bendungan irigasi. Sistem Pertahanan Artileri Anti Serangan Udara, Sistem Deteksi Bawah air pada kapal Selam, Sistem Pemantauan cuaca dan data pelabuhan LNG Arun, Sistem Operasi Gardu Jalan Tol JakartaTangerang - Merak P. T. Jasa Marga. Sistem SCADA dan pemantauan jaringan sistem distribusi daya listrik jaringan interkoneksi Jawa - Bali, Jaringan dan Gardu Induk se Jakarta - Tangerang. Peningkatan dan Pengembangan Operasi Sistem Telemetri dan Instrumentasi Jaringan Pipa Transmisi Migas UEPI Pertamina.

Kegiatan Pendidikan dan Pembinaan Kader Ilmiah:

Antara tahun 1980 dan 1981 mengajar pada Institut Tekuologi Nasional (ITENAS) Bandung. Tahun 2001 hingga sekarang menjadi tenaga pengajar tidak tetap pada Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Nasional (UNAS).

Sebagai Instruktur pada beberapa kursus dan panataran yang diselenggarakan oleh Puslitbang KIM-LIPI baik di Bandung Jabar maupun di Serpong (Cisauk) Tangerang Banten.

Kegiatan Ilmiah dan Kegiatan Lainnya:

Anggota team Teknis P2JP Puslit KIM-LIPI sejak dari Bandung tahun 1983 hingga sekarang. Sementara itu dari tahun 1987 hingga Agustus1995 menjadi anggota Team Teknis P2JP Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tahun 1984 hingga 1987 diperbantukan pada Direktorat Pengawasan Peningkatan Produksi (Elektronika) Dalam Negeri Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Keanggofaan Profesi:

• Himpunan Masyarakat Instrumentasi Indonesia (Himll), dan

• Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI).

3

Tanda Jasa dan Penghargaan:

• Piagam Pengabdian 15 tahun dari Kepala Puslitbang KIM-LIPI, Juni 1996.

• Piagam Pengabdian 20 taboo dari Kepala Puslitbang KIM-LIPI, Juni 1997

• Special Award dari Universitas Twente The Netherlands, pada whorkshop "Mathematical Modelling in Industrial and in The Industrial Mathematics Week 2000", Center for Research On the Application & Advancement of Mathematics, ITB, tahun 2000.

• Satyalancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Republik Indonesia, perolehan tahun 2001

4

ORASI PENGUKUHAN

AHLI PENELITI UTAMA BIDANG INSTRUMENT ASI ELEKTRONIK

Assalaamu 'alaikum Wr. Wb.

Sidang Dewan Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Yang Terhormat dan para hadirin yang dimuliakan oleh Allah· SWT

Segala puji dan syukur saya panjatkan kekhadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmat dan hidayah-Nya kepada kita semua yang hadir di tempat ini untuk mengikuti acara pengukuhan saya sebagai Ahli Peneliti Utama bidang Instrumentasi Elektronika pada Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Orasi ilmiah ini merupakan suatu syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi untuk pengukuhan jabatan Ahli Peneliti Utama dalam melaksanakan suatu bidang penelitian, oleh karena itu perkenankanlah saya menyampaikan orasi ini dengan judul:

OMBAK NUSANTARA

SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF

PENGANTAR

Adalah suatu kebahagiaan dan kehormatan bagi saya berada dalam ruang sidang yang terhormat ini, mendapatkan peluang dan memperoleh kesempatan untuk membacakan orasi ilmiah pengukuhan Ahli Peneliti Utama.

Orasi dengan judul di atas akan saya bacakan menurut sistematika sebagai berikut ini. Saya mulai dengan pendahuluan yang mengandung latar belakang, alasan pemilihan judul, peta kegiatan dan pakar penelitian tenaga ombak di dunia dan dilanjutkan dengan kegiatan penelitian yang dilakukan dengan pengetahuan instrumentasi elektronik.

Berikutnya adalah ulasan tentang phenomena dan metoda yang digunakan untuk menuai atau mernanen tenaga ombak melalui dasar-dasar pemodelan dan simulasi jenis penyerapan menggunakan

5

benda apung dalam medan ombak dan diakhiri dengan teknik pemusatan tekanan dan penyearahan aliran udara.

Untuk mencapai kondisi penyerapan optimal, diuraikan dengan singkat tentang penerapan sistem kontrol (kendali) dan disinggung pula bagaimana memusatkan tenaga ombak sebagaimana yang dapat dilakukan pada phenomena optika geometri dan antena penerima gelombang elektromagnetik.

Pada penghujung orasi ini saya menyampaikan beberapa kesimpulan, saran dan harapan sebagai kata penutup hingga pada akhirnya saya sudahi dengan ucapan terima kasih.

1. PENDAHULUAN

T enaga ombak dari laut adalah bentuk energi alternatip dari alam yang tersedia secaraberkelanjutan dan tidak akan pernah habis. Tanpa mendapat perlakuan dan perhatian yang seksama, tenaga ini cenderung berdampak negatip terhadap lingkungan dan bangunan di pantai (peristiwa Tsunami NAD dan NIAS Sumut), Namun dengan usaha dan perhatian yang terencana, dampak negatip tenaga ombak yang melimpah, berkelanjutan, terbarukan, bersih dan tidak mencemari lingkungan dikawasan pantai dapat diubah menjadi tenaga yang bermanfaat. Hal ini dapat diperoleh terutama dengan menerapkan teknologi instrumentasi dan rekayasa penyerapan, ekstraksi dan pengubahan tenaga ombak yang bersangkutan menjadi energi terpakai langsung.

Persoalan 'menangkap' energi ombak dipantai atau di lepas pantai untuk 'diubah' menjadi bentuk energi lain yang mudah dimanfaatkan telah menjadi perhatian sejak lama, terutama setelah urnmat manusia disadarkan pada krisis energi fosi1. Namun oleh karena kompleksitas dan biaya yang sangat mahal untuk merealisasikan berbagai konsep menangkap energi ombak yang telah diusulkan oleh banyak peneliti, maka hingga saat mi pemanfaatannya belum sangat berarti. Kompleksitas maupun biaya bukan hanya niahal untuk merealisasikannya tetapi juga pada tahap studi yang harus dilaluinya. Bahkan yang terakhir ini seringkali menjadi kendala sangat penting[18].

Indonesia sebagai negara maritim dengan posisi geografi dan Ietaknya diantara dua samudera besar (Hindia dan Pasifik), dengan pantai terpanjang dan kawasan Iaut terluas[12-13,20,22] diantara negaranegara di dunia, diyakini menimbun potensi bahari (tenaga ombak

6

benda apung dalam medan ombak dan diakhiri dengan teknik pemusatan tekanan dan penyearahan aliran udara.

Untuk mencapai kondisi penyerapan optimal, diuraikan dengan singkat tentang penerapan sistem kontrol (kendali) dan disinggung pula bagaimana memusatkan tenaga ombak sebagaimana yang dapat dilakukan pada phenomena optika geometri dan antena penerima gelornbang elektromagnetik.

Pada penghnjung orasi ini saya menyampaikan beberapa kesimpulan, saran dan harapan sebagai kata penutup hingga pada akhirnya saya sudahi dengan ucapan terima kasih,

1. PENDAHULUAN

Teuaga ombak dari laut adalah bentuk energi alternatip dari alarn yang tersedia secaraberkelanjutan dan tidak akan pemah habis. Tanpa mendapat perlakuan dan perhatian yang seksama, tenaga ini cenderung berdampak negatip terhadap lingkungan dan bangunan di pantai (peristiwa Tsunami NAD dan NIAS Sumut). Namun dengan usaha dan perhatian yang terencana, darnpak negatip tenaga ombak yang melimpah, berkelanjutan, terbarukan, bersih dan tidak mencemari lingkungan dikawasan pantai dapat diubah menjadi tenaga yang bermanfaat. Hal ini dapat diperoleh terutama dengan menerapkan teknologi instrumentasi dan rekayasa penyerapan, ekstraksi dan pengubahan tenaga ombak yang bersangkutan menjadi energi terpakai langsung,

Persoalan 'menangkap' energi ombak dipantai atau di lepas pantai untuk 'diubah' menjadi bentuk energi lain yang mudah dimanfaatkan telah menjadi perhatian sejak lama, terutama setelah ummat rnanusia disadarkan pada krisis energi fosil, Namun oleh karena kompleksitas dan biaya yang sangat mahal untuk merealisasikan berbagai konsep menangkap energi ombak yang telah diusulkan oleh banyak peneliti, maka hingga saat 1ill pemanfaatannya belumsangat berarti. Kompleksitas maupun biaya bukan hanya mahal untuk merealisasikannya tetapi juga pada tahap studi yang harus dilaluinya. Bahkan yang terakhir ini seringkali menjadi kendala sangat penting[18].

Indonesia sebagai negara maritim dengan posisi geografi dan letaknya diantara dna samudera besar (Hindi a dan Pasifik), dengan pantai terpanjang dan kawasan lant terluas[12-13. 20,22] diantara negara-

negara di dunia, diyakini menimbun potensi bahari (tenaga ombak

.6

tersedia di sepanjang seluruh pantai dan seluas perairan dapat di panen dan di olah untuk memenuhi kebutuhan energi) yang tidak tertandingi'i".

1.1. PETA KEGIATAN DAN PAKARPENELITIAN TENAGA OMBAKDUNIA

Keberadaan sumber daya tenaga ombak telah dikenal sejak lama dan sudah banyak pula sistem instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk menangkap dan mengubah tenaga ombak ini menjadi tenaga terpakai, bahkan sudah banyak perangkat sejenis yang memperoleh hak paten[7,9,16].

Ketika krisis energi (bahan bakar fosil) berada pada titik kulminasi sekitar tahun 1970-an, manusia sebagai pengguna energi terbesar untuk menopang kehidupannya mulai tertarik dan beralih kepada usaha-usaha untuk mendapatkan sumber energi alternatif yang terbarukan, berkelanjutan dan tidak berdampak pencemaran terhadap lingkungan.

Selain biomass a, angin dan petir, ombak merupakan salah satu bentuk tenaga yang sudah dikenal sejak lama, kembali menjadi perhatian pakar-pakar negara maju di Eropa, Asia dan Amerika[2,6. 7,16,20.22]

Para pakar dikawasan negara-negara Scandinavia, yang berhadapan langsung dengan laut utara yang terkenal ganas, dimotori oleh Prof Johanes Falnes dan mendiang Kjell Budal dari NTH (Norwegian Institute of Technologi) Universitas Trondheim di Norwegia, telah mempelopori us aha kegiatan dan strategi pemanfaatan tenaga ombak sejak awal tahun 1970-an. Us aha tersebut beranjak dari teori benda apung yang kemudian melahirkan beberapa konsep seperti teknik pemusatan ombak (wave focusing), penyerap titik ("point absorber"), konverter mini dan Tapchan. Laporan terakhir menginforrnasikan bahwa pengubah jenis Tapchan ini telah dikembangkau di pantai Baron bagian selatan Daerah lstimewa Yokyakarta sebagai proyek bersama Norwegia dan Indonesia (BPPT)[2,71.

Prof. Stephen Salter sebagai pakar pada Universitas Edinburgh, sejak awal telah mengembangkan penyerap linier ("linear absorber"), "Edinburgh Duck Device" yang juga dikenal sebagai "Salter Nodding Duck" untuk memanen tenaga ombak dari laut[2,9,22]. Penemu dan pengembang kapal amphibi "Hovercraft' Sir

7

Christopher Cockerell menyarankan untuk menggunakan rakit (contouring rafts) guna menuai tenaga ombak. Pada pertemuan dua buah rakit diikat bersama, dipasang sistem hidrolik yang digunakan untuk menyerap tenga ombak. Dewasa ini, sistem rakit penuai sudah lebih berkembang sejak kajian modelnya dikembangkan oleh Pier Haren pada M.LT. di Amerika Serikat''".

Sementara itu Jepang telah menjadi pelopor utama penelitian dan kajian pemanfaatan sumber daya bahari di Asia sejak tahun 1965 diikuti oleh India dan China[6). Pulau Hokkaido di utara Jepang merupakan pusat kegiatan Prof. Hideo Kondo pada M.LT. (Institut Teknologi Muroran) untuk menuai tenaga ombak menggunakan sistem bandul fisis didaerah pantai dimana beliau memperkenalkan sebagai "Pendulor".

Miyazaki, T., dkk. (1993) dan Hotta, dkk. (1993i6,21-22] melaporkan bahwa Si Ikan Paus Raksasa "Mighty Whale" merupakan sistem penyerap tenaga ombak berguna ganda jenis rongga osilasi (OWe) - terapung. Jenis ini sedang dikembangkan oleh JAMSTEC (Pusat Ilmu & Teknologi Maritim Jepang). Saat ini rongga osilasi terpasang tetap (fixed-OWC) banyak mendapat perhatian sebagaimana yang dilakukan oleh Whittacker dan Steward (1993i2) di Inggris melalui studi resonansi pelabuhan dan ditempatkan di kawasan pantai. Yu, Z .dkk. (1993i6) melaporkan pembangunan dan hasil operasi OWC-pantai di kepulauan Dawanshan kawasan laut China Selatan.

Teknik lainnya adalah bandul atau pendulum yang dikembangkan oleh kelompok Hideo Kondo dari MIT di Hokkaido. Dan konon juga telah diuji cob a di pantai Sumatera Barat oleh Samrizal seorang volunteer pensiunan karyawan PLN (Liputan Siang SCTV, Jakarta, 28-12-2003pt-22J. Sementara "katup-air" dilaporkan oleh Sawamoto, M. dkk.(1993i6) sebagai suatu sistem penuai tenaga ombak yang barn.

1.2. MELANGKAH DENGAN REKA YASA & INSTRUMENTASI ELEKTRONIK[4]

Mengenal kata "Instrumentasi" ketika bergabung menjadi karyawan paruh waktu pada Lembaga Instrumentasi Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIN-LIPI) dari tahun 1974 hingga Nopember 1975. Dalam kurun waktu ini pemah diperbantukan untuk menangani instrumen pengukur suhu tumpukan

8

karung gabah dan beras didalam silo yang pada waktu itu dibangun di Tambun Bekasi. Tenninologi yang dapat dikenal dan difahami ketika itu adalah sensor & transduser sebagai komponen terdepan suatu sistem instrumentasi.

Karir pegawai negeri dimulai dengan studi penelitian & pengembangan komponen dan jaringan elektronik berbantuan komputer (Computer Electronic Network Aided Design). Pada kesempatan ini, mulai mengenal komponen elektronik pasif (tahanan, konduktor, kapasitor) dan aktif(transistor dll.), model sistemjaringan, teknik peracangan elektronik dan programming komputer. Kegiatan ini dilakukan dalam kurun waktu tahun 1977 -1980. Selanjutnya diperbantukan untuk menangani sistem irigasi, pengairan dan pengaturan Bendung irigasi, telemetri data curah hujan untuk pengawasan & peringatan dini banjir pada bendungan irigasi untuk kurun waktu tahun 1980-1982. Sistem Pertahanan Artileri Anti Serangan Udara retrofitting meriam S-60 untuk bagian kontrol azimut, elevasi dan model target gerak di udara sejak dari Cisitu LIN-LIP I Bandung 1982 hingga di Serpong 1985. Anggota tim peneliti Sistem Deteksi Bawah air pada Dislitbang AL Pangkalan Jati Pondok Labu dalam kurun waktu yang bersamaan dengan kegiatan retrofitting meriam S-60. Sistem Pemantauan cuaca dan data pelabuhan LNG Arun, Sistem Operasi Pintu Gardu Jalan Tal Jakarta-Tangerang - Merak P.T. Jasa Marga sekitar tahun 1984-1985 untuk sistem DataBase. Sistem SCADA dan pemantauanjaringan sistem distribusi daya listrik jaringan interkoneksi Jawa - Bali, Jaringan dan Gardu Induk se Jakarta - Tangerang dalamjangka waktu 1985-1987 untuk mengenal dan memahami sistem terhubung langsung dan waktu nyata (on-line real time system). Sistem telemetri dan pemantauan sumur produksi mimyak & gas bumi Pertamina SUMBAGUT di Pangkalan Brandan Sumater Utara (Peningkatan dan Pengembangan Operasi Sistem Telemetri dan Instrumentasi Jaringan Pipa Transmisi Migas UEPI Pertamina, 1990). Sejak tahun 1991 mulai tertarik dengan penelitian dan kegiatan usaha penyerapan, menangkap dan mengubah tenaga ombak sebagai energi alternatifyang Iangsung dapat dimanfaatkan.

2. MENUAI TENAGA OMBAK DENGAN INSTRUMENTASI

Untuk mendayagunakan potensi ombak diperlukan pengetahuan dasar ilmu pengetahuan alam, matematik, rekayasa, rancangan,

modeling, simulasi dan pengolaban data elektronik (perangkat lunak & aplikasi komputer).

2.1.lKHTISAR ZONA TANGKAPAN DAN JENIS PENUAI TENAGA OMBAK

Umumnya zona dan daerah untuk menangkap tenaga ombak adalab di garis pantai (daratan), di pantai dan di lepas pantai atau dilaut lepas. Pada bagian ini akan di tinjau beberapa sistem penyerapan dan pengubaban tenaga ombak untuk berbagai situasi dan prinsip penyerapan.

Untuk menyerap, meredam dan mengubah tenaga yang dibawa oleh ombak dilepas pantai (di laut lepas), terdapat istilah seperti terminator, attenuator dan point absorber (penyerap titik). Terminator adalab penyerap tenaga ombak dengan orientasi pemasangan terhadap arab rambat muka ombak berinteraksi sedemikian sehingga dapat mengakhiri rambatan ombak. Sedangkan attenuator adalab konverter dengan orientasi pemasangannya sejajar arab rambat muka ombak sedemikian sehingga terjadi serapan sebagian yang menyebabkan pelemahan tenaga ombak. Sementara penyerap titik adalah pengubah tenaga ombak dengan bentuk geometri tertentu yang disusun sedemikian sehingga terjadi penyerapan secara sempurna tenaga ombak yang masuk dari arab manapun jugapl. Suatu metoda yang unik adalab metoda meningkatkan tenaga potensial air melalui sistem T APCHAN yang dikembangkan di Norwegia, namun sangat tergantung pada contour dan struktur pantai setempat. Selanjutnya metoda hun yang dikenal adalab pemusatan tenaga ombak (wave focusing) menggunakan prinsip optik dan optimasi penyerapan tenaga ombak yang menerapkan system kontrol (kendaIi).

2.2. PRINSIP DASAR INSTRUMENTASI PENUAI TENAGA OMBAK

Peluang dan minat untuk memanfaatkan tenaga besar yang terkandung didalam ombak ini telab diincar orang sejak dulu yang ditunjukkan dengan usulan berbagaikonsep dan metoda penyerapan yang layak teknologi, memberi harapan secara ekonomis dan bebas dari pencemaran lingkungan.

Agar supaya energi ombak lautan dapat ditangkap, haruslab terjadi interaksi ombak dengan suatu kerangka (struktur) secara fisik

10

sebagai sebuah model yang tanggap terhadap gaya terpaan ombak. Model yang dimaksudkan diatas dilukiskanpada gambar 1. Sejumlah phenomena alam tertera dalam gambar terse but yang menerangkan keadaan benda apung (posisi, kecepatan , percepatan, gaya pulih, gaya ambang, gaya redam dan gaya penggerak dari luar sistem yang disebabkan oleh ombak). Tanggapan (respon) model benda apung terhadap gangguan ombak dari Iuar berupa gerakan ini hams bisa diterjemahkan ke dalam kaidah dan bahasa matematik. Terjemahan ini berupa persamaan pengatur (bahasa matematik) yang dapat menerangkan perilaku dan karakteristik benda apung itu dalam bentuk informasi yang jelas hingga dapat dimanfaatkan sebaikbaiknya untuk kajian berikutnya, Proses transformasi dari fenomena fisika ke dalam fenomena matematik ini dikenal dengan istilah pemodelan atau modeling.

Kecepatan Percepatan Posisi Benda Apung
yet) Dalam Medan
yet) Ornbak: yet)
............ 1 .......... t . ............. .1 ...............
Benda Apung Da1am Medan Ombak
m
! Ga Tks· . l
GayaRedam yaE rtasr GayaPulih
Ombak: F(t) Sy(t)
ey(r) Gambar 1. Interaksi Benda Apung dengan Ombak

Selain model benda apung yang bam saja diperkenalkan, terdapat pula jenis penuai tenaga ombak dengan ciri khasnya yakni konsep "kanal bertingkat" yang diperkenalkan sebagai "T APCHAN" (Tappered Channel). Konsep ini memanfaatkan fenomena kekekalan energi meIaIui usaha meningkatkan tenaga potensial massa air menggunakan tenaga ombak. Air Iaut dimana ombak yang bertenaga itu menumpang, diangkat ke suatu waduk alam atau buatan yang berlokasi lebih tinggi dari permukaan Iaut melalui suatu kanal alam atau buatan berbentuk tanduk (runcing diujung).

Air waduk yang menyimpan tenaga potensial itu kemudian men en dang dan memutarkan sebuah turbin air berbeban generator

11

pembangkit listrik ketika dialirkan kembali kelaut sebagaimana layaknya pada air terjun dati suatu bendungan PLT A (Pembangkit Listrik Tenaga Air).

Berdasarkan kajian dan .uji coba yang dilaporkan dari Norwegia'i', jenis ini tampaknya berpeluang besar untuk diterapkan dan dikembangkan di Indonesia walaupun data . survai atau kepustakaan yang dapat mendukung sangat tidak memadai[2,7,16J. Saya percaya bahwa model Tapchan dan model rongga osilasi sangat menjajikan harapan untuk Indonesia mengingat geografi, kondisi laut dan "contour" pantai di Nusantara ini.

Hadirin yang saya hormati,

2.2.1. Resonansi dan Penyerap Titik

Falnes dan Budal (197519,21.221 melaporkan bahwa terdapat peningkatan minat pengembangan penyerapan tenaga ombak beberapa tahun terakhir ini khususnya pada negara-negara berpantai. Sementara ini studi-studi secara iImiah diseputar masalah tenaga ombak ini terns meningkat. Selanjutnya Falnes dan BudaI menyatakan "Agar supaya suatu benda apung yang berosilasi menjadi penyerap tenaga ombak yang baik, ia juga harus merupakan pembangkit ombak yang baik dan suatu pembangkit ombak yang baik adalah merupakan penyerap ombak yang baik pula".

Secara teoritis dapat dibuat penyerap ombak yang sempurna sehingga kawasan Iaut dibelakangnya menjadi tenang dan dengan demikian dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan industri pantai (perikanan, rekreasi, aerasi, pemanasan dan restorasi atau pemulihan lingkungan kawasan pantai). Dasar penerapan penyerap titik adalah membuat amplituda gerakan osilasi naik-turun bendaapung lebih besar dati pada amplituda ombak (gejala resonansi). Magnifikasi amplituda osilasi naik-turun (heaving) bertambah sebagai fungsi dati pada ratio panjang gelombang ombak terhadap diameter benda apung. Kajian ekonomi menunjukkanbahwa makin besar diameter benda apung, makin tidak ekononis suatu penyerap tenaga ombak ... Untuk itu disarankan lebih baik membuat dua penyerap (penuai) yang kecil dibanding membuat satu penyerap (penuai) yang besar (Fames, J.pl.

12

2.2.2. Rongga Osilasi Kolom Air (OWC) Terapung

Bellamy dan Clark(1993pl melaporkan hasil rancangan kelompok "System Energy" di Universitas Coventry Scotland UK sebagai suatu sistem yang rnurah dan efisien. Sistem itu diperkenalkan sebagai "Sea Clam" merupakan perangkat sederhana yang menggunakan perpindahan udara untuk mengekstraksi tenaga ombak. Sistem ini dirancang berdasarkan pada prinsip osilasi rongga kolom air (OWC). Sejumlah kantong udara dipasang pada bagian luar suatu kerangka melingkar berbentuk kue donat. Bagian luar yang berhubungan dengan ombak terbuat dari anyaman benang dan "sama-an karet alam" sehingga kantong udara itu bersifat membran. Diantara dna kantong bertetangga dipasang turbin udara yang dibebani dengan generator sehingga tenaga ombak disekitarnya terserap dan di ubah menjadi tenaga listrik. Sea Clam yang berdiameter 60 meter ditambatkan beberapa kilometer didepan pantai pada ke dalaman sekitar 40-60 meter, rata-rata dapat menghasilkan 25 MW dan untuk 10 buah Sea Clam dapat menghasilkan lebih dari 50 GW jam listrik pertahun. Pemakaian membran yang diilhami oleh sifat kelenturan karet bertindak sebagai pompa diantara air laut yang aktif (ombak) dengan udara didalam kantongnya merupakan kelebihan yang menyebabkan efisiensi penyerapan tenaga ombak cukup tinggi. Efisiensi penyerapan tenaga ombak Sea Clam berdiameter 60 m ini dilaporkan mencapai 100% pada perioda ombak 7 detik dan turun sampai sekitar 20% pada perioda ombak 11 detik. Selanjutnya Bellamy melaporkan beberapa kelebihan dan keunggulan Sea Clam seperti kestabilan operasi, momen-momen gerakan merata, efisiensi kekuatan konstruksi, biaya produksi dan transportasi murah karena moduler, menyerap tenaga ombak dari segala arah karen a bentuk torusnya, keamanan bersifat "fail-save", bebas pengaruh arus laut, resonansi rantai dan tambatan, kemampuan menyerap energi tidak tergantung pada alignment. Yang terakhir dan utama adalah merupakan penyerap tenaga ombak yang memenuhi klasifikasi terminator, attenuator dan penyerap-titik. Kekurangannyabahwa hams dioperasikan di lepas pantai dan karenanya memerlukan tambahan teknologi penambatan (anchor) dan rantai pengikatan (mooring) serta teknologi pengerjaan bawah air yang mahal.

2.2.3. Terminator (Breakwater) Terapung

Miyazaki, T., Washio, Y. & Kato, N. (1993i6] melaporkan kinerja converter Paus Raksasa "Mighty Whale" sebagaimana mereka menyebutnya. Raksasa ini adalah penyerap dan pengubah tenaga ombak jenis rongga osilasi terapung (floating OWC) yang dicirikan sebagai suatu terminator atau pemecah ombak terapung (floating breakwater). Jika tenaga ombak dapat diserap seluruhnya secara sempurna, maka keadaan I aut di sekitar penyerap ini (dibelakangnya) akan menjadi tenang. Dengan karakteristik tersebut, konverter paus raksasaini dapat pula di-dwifungsi-kan sebagai suatu pemecah ombak terapung untuk menentramkan kawasan Iaut dibelakangnya yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dan berbagai kegiatan pantai lainnya. Konverter "Mighty Whale" terdiri atas 3 bagian utama yakni ruang udara didepan, ruang apung dibelakang sesudabnya dan terakhir adalah penyeimbang atau stabilisator.

Tenaga ombak diubah menjadi aliran udara oleh rongga dari ruang atau kantong udara. Dengan melalui "orifice", aliran udara ini dapat menendang turbin udara "Wells".

Dengan membebani atau menghubungkan generator pada poros turbin, maka tenaga ombak yang menerjang paus raksasa berubah menjadi tenaga listrik. Jika diperlukan udara tekan untuk keperluan aquacultur, pemurnian air laut, restorasi dan pemulihan kondisi lingkungan pantai, keperluan aerasi dan kebutuhan lain-lain, maka poros turbin udara "Wells" tadi dapat dibebani dengan kompressor, Ruang apung dibelakang kantong udara memiliki stabilisator atau penyeimbang yang berguna untuk meredam gerakan angguk (pitch) sistem paus raksasa.

Konverter Mighty Whale ditambatkan dan dirantai dilepas pantai pada ke dalaman sekitar 40"60 meter. Kantong udara dihadapkan kepada arab utama rambatan muka ombak ke pantai sesuai dengan fungsi dan pemasangannya sebagai terminator dan pemecah ombak terapung (floating breakwater). Miyazaki et al (1993) melaporkan bahwa model fisis telah diuji " coba melalui eksperimen pada suatu kolamltangki ombak dengan hasil dan unjuk kerja yang sangat memuaskan.

Di antara kelebihan dan kebolehan dari penyerap pans raksasa yang dapat disimpulkan adalah bahwa ia memiliki efisiensi penyerapan sampai dengan 60%. Kelebihan dan kebolehan lainnya

14

adalah kestabilan, sebagai terminator sempurna serta dapat diperlakukan sebagai pemecah ombak terapung yang sempurna.

2.2.4. PenduJor (Bandul)

Watanabe, T.(l993i6] menulis bahwa pemanfaatan tenaga ombak adalah termasuk salah sam impian yang panjang bagi anggota kelompok MIT Muroran pimpinan Hideo Kondo di Hokkaido dalam mengembangkan sistem Pendulor selama 15 tahunan, Prinsipnya adalah menjalankan generator dari gerakan bandul atau pendulum yang dieksitasi oleh aliran air horizontal dibawah ombak tegak (gelombang berdiri). Sistem Pendulor sebagaimana mereka menyebutnya, dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembangkit listrik, desalinasi, pompa air untuk sistem OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) dan suplai air hangat untuk daerah perikanan pantai. Pendulor ini dapat membangkitkan gerakan dengan kecepatan tetap atau berubah-ubah, torsi tetap dan daya tetap dengan memanfaatkan HST (Hydro-Static Power Transmission).

Inti masalahnya adalah bagaimana membuat tenaga ombak dapat digunakan secara praktis dan menekan biaya produksi ketingkat yang dapat dijangkau secara layak (ekonomis). Agar menurunkan biaya investasi dan modal awal, sistem penduhun yang barn ini dikombinasikan dengan pompa rotasi yang memberikan beberapa kemudahan, kesederhanaan operasi dan pemeliharaan. Gerakan ayun pendulor diubah ke dalam gerakan putar pada poros dengan menggunakan sistem HST, namun luarannya sangat berfluktuasi. Dengan menambahkan akumulator, hal demikian itu dapat mempengaruhi ratio penyerapan yang juga berarti memperbaiki sistem sebelumnya. Watanabe selanjutnya memanfaatkan catatan Prof Hideo Kondo bahwa tempat didepan pemecah ombak ("break-water") adalah amat baik untuk mengekstraksi tenaga ombak yakni pada sisi titik sirnpul terjadinya ombak berdiri yang dapat menghasilkan gerakan bolak-balik sepanjang langkah tertentu aliran air. Jika suatu benda yang dapat bergerak bebas ditempatkan disana, benda itu akan dirangsang bergerak secara effektif oleh aliran tadi.

Melalui "Bulletin Siang", Stasion Televisi SCTV melaporkan bahwa Syamrizal (Pensiunan Karyawan PLN) telah berhasil menguji-coba protipe Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO) jenis bandul dengan simpangan ayunan memadai di perairan pantai Sumatera Barat[22].

15

2.2.5 Rongga Osilasi Terpasang Tetap dan Resonansi Pelabuhan

Wittaker, T. 1. T. and Stewart, T. P.(1993) melaporkan hasil percobaan & penyelidikan untuk mengetahui unjuk kerja penyerap type osilasi rongga tetap (fixed-OWC) yang dioperasikan pada ke dalaman relative dangkal « 10 m) yang umumnya pada kebanyakan pantai lnggris. Kelebihan penting dari sistem yang 'diuraikan itu terletak pada keberadaan pengaruh (resonansi) pelabuhan. Pelabuhan didepan mulut owe bertindak sebagai kolam ("basin") resonansi yang akan memperlebar pita frekuensi penyerap. Percobaan ini dapat membantu menentukan mekanisme bagaimana resonansi pelabuhan dapat mempengaruhi perilaku owe sehingga dapat digunakan untuk merancang stasiun owe berikutnya. owe terdiri atas ruang tercelup sebagian dengan mulut terbuka dibawah permukaan air dimana ombak datang memaksa rongga atau . kolom bergetar (berosilasi).

Osilasi kolom air memaksa udara keluar-masuk kolom melewati turbin-udara yang pada gilirannya mengekstraksi tenaga ombak dan mengubahnya menjadi tenaga listrik melalui generator yang terpasang pada porosnya (OWe sederhana pada Gambar L.l )1221. Daya yang terekstraksi dinyatakan sebagai fungsi frekuensi osilasi kolom air, redaman ombak pancar dan tambahan massa pada sistem owe. Daya penyerapan maksimum terjadi pada frekuensi resonansi.

Pelabuhan mempunyai sifat-sifat resonansi yang dapat memperbaiki lebar pita frekuensi owe. Wittaker dan Stewart (1993) melaporkan hasil penyelidikan terhadap percobaan pelabuhan mulut-tetap melalui dinding sejajar tetap dan pelabuhan mulutberubah melalui dinding sejajar bersudut yang ditap. Percobaan beliau menunjukkan bahwa kinerja owe terpasang tetap yang diletakkan didepan pelabuhan mulut-terbuka dapat diperbaiki untuk menangkap daya secara optimal. Dengan menggunakan pelabuhan mulut-terbuka dengan sudut tap (tappered harbour), ukuran dan bentuk fisik owe dapat diperkecil sehingga dapat difungsikan sebagai terminator pantai.

2.2.6. Pemusatan Tekanan dan Penyearahan Aliran Udara Sawamoto, M., dkk. (1993i61 dari Departemen Teknik Sipil, Universitas Tohoku, Aramaki, Aoba, Sendai 980, Jepang, mengusulkan sistem penyerap tenaga ombak dengan memanfaatkan

16

komponen katup-air ("water-valve") yang digerakkan oleh variasi tekanan sehubungan dengan perubahan tinggi muka air dalam rongga udara terjebak karena terpaan ombak (Perspektif Model fisik yang disederhanakan terlampir pada Gambar Ll. dan L.2).

Sistem ini dicirikan oleh penyearahan aliran udara dan konsentrasi atau pemusatan daya tekan dari beberapa rongga udara jebakan karena terpaan ombak dari satu arah dan sumbatan katup air dari arah yang berlawanan. Pada saat mulut rongga terbuka dan ketika phasa ombak menuju lembah, tekanan didalam rongga jebakan sama dengan tekanan atmosfer, pada saat yang lain ketika muka air mulai menutup mulut rongga, udara jebakan terdesak oIeh perubahan tekanan sesuai dengan perubahan permukaan air dalam rongga dan berusaha mengalir karena dorongan badan air yang berperilaku sebagai piston pejal. Dari arah lain katup-air menghadang gerakan udara jebakan hingga tekanan tertentu sampai dapat membuka katup air sehingga terjadi aliran satu arah untuk satu rongga udara,

Bila terdapat lebih dari satu rongga jebakan dengan komponen katup-airnya masing-masing diarahkan ke satu lorong ("duct") pembuangan, maka dapat diperoleh hasil pemusatan tekanan yang menghasilkan daya dorong besar.

Pada lubang kecil (nozel) di ujung lorong pembuangan ini dapat dipasang turbin (udara) yang dibebani dengan generator sehingga tenaga ombak dapat berubah menjadi tenaga listrik.

Kelebihan sistem ini terletak pada kekompakan dan keamanan operasi berhubung tidak adanya gesekari komponen mekanik sementara pemusatan atau konsentrasi daya tekan dan penyearahan aliran udara dapat dicapai.

3. Sistem Kendall & SimuIasi Model Penuai Tenaga Ombak

Jenis penyerap dan pengubahan tenaga ombak yang paling banyak mendapat perhatian kendali adalah penyerap jenis resonansi rongga (OWC). Untuk melihat sejauh mana aplikasi pemodelan, teknik kendali, identifikasi parameter dalam usaha menuai tenaga ombak, pada bagian ini ditinjau beberapa kasus pemode1an dan pengendalian yang masih relevan untuk melihat bagaimana masalah tenaga ombak diselesaikan dan berkembang kearah penyempurnaan.

17

3.1. MODEL DAN KENDALl TWIN owe

Berangkat dari pekerjaan Masuda yang mengembangkan pembangkit listrik tenaga ombak dari dua rongga kolom air (oWC) bertetangga, Falnes dkk. (1989) mencoba mengembangkan sistem pengubah tenaga ombak melalui dua owe yang dihubungkan oleh sebuah turbin udara dan dilengkapi oleh dua katup mekanik sebagai penyearah aliran dan pengendali phasa untuk mencapai kondisi resonansi. Sistem ini diselesaikan dengan mengembangkan model matematik berdasarkan sifat-sifat hidrodinamika, pneumatik dan mekanik yang disimulasikan pada komputer digital. Masalah utama yang disoroti adalah kopling hidrodinamika dan tangkapan daya pneumatika melalui beberapa perubahan parameter model. Bagian hidrodinamika dipandang sebagai sistem linier, namun memperhatikan sistem non-linear pada bagian perangkat penangkap daya pneumatik.

Dilaporkan juga bahwa tiap owe telah dipandang sebagai piston khayal pada mulut owe yang berosilasi naik-turun dalam kedua rongga pada langkah tertentu sebatas puncak dan lembah ombak terhadap muka air rata-rata (model benda apung pejal dalam domain waktu).

Model matematik dan perangkat lunak (simulator) untuk menjalankan simulasi dibuat dengan berbagai piIihan seperti pemilihan turbin, pemilihan parameter dan bentuk geometri owe. Setelah simulator dijalankan, temyata untuk beberapa parameter diperoleh ketidakstabilan numerik terutama bila katup dikendalikan dan pada admitansi turbin konstan tidak relatif keeil. Dengan ekstrapolasi, tampaknya konstanta (adrnitansi) turbin berada dalam daerah tidak stabil, demikian dilaporkan oIeh Falnes dkk. Akan tetapi untuk kendali phasa sangat menguntungkan dengan twin owe dibandingkan dengan owe tunggal. Falnes, J. dkk. menutup laporannya dengan anjuran bahwa bagian hidrodinamika dari simulator yang dimaksudkan masih perlu diperbaiki terutama pada bagian piston (kolom) air dengan menggunakan model distribusi tekanan (dalam domain waktu) yang Iebih baik.

3.2. PERKEMBANGAN MODEL PENUAI TENAGA OMBAK

Hingga saat ini model domain waktu dan frekuensi masih tetap didasarkan atas teori sistem linier, namun menimbulkan beberapa

18

keterbatasan dalam analisis, terutama dimana pengaruh tinggi ombak dan simulasi rugi-rugi hidrodinamis harus diperhatikan.

Konversi tenaga ombak ke dalam tenaga listrik melibatkan sejumlah tahapan antara, yakni masing-masing dari:

1) Tenaga ombak ke tenaga pneumatik (terjadi di dalam rongga udara).

2) Tenaga pneumatik ke tenaga mekanik (terjadi pada poros

turbin). .

3) Tenaga mekanik ke tenaga listrik (terjadi pada generator).

Efisiensi setiap tahapan konversi ini dipengaruhi oleh parameter (tinggi H, perioda Te, spektrum energi SCI) dan arah rambat 8) ombak.

Sarmento, AJ.N.A (1993) menulis dalam abstraksinya bahwa selama ini barn dikenal dua teknik model matematik untuk memecahkan masalah konversi tenaga ombak yakni model dalam domain waktu dan domain frekuensi khususnya pada perangkat penyerap/pengubah tenaga ombakjenis osilasi rongga owe. Selanjutnya dalam introduksinya, beliau menulis bahwa kegiatan penelitian menyangkut pemodelan matematik perangkat tenaga ombak dimulai pada pertengahan tahun 70-an.

Awalnya berangkat dari model domain frekuensi berdasarkan pada teori ombak linier (sinusoid) yang telah dikembangkan oleh Airy. Beberapa tahun kemudian, model domain waktu diperkenalkan agar melengkapi analisis dalam bidang ini. Pada kedua sistem terdapat kontribusi yang sangat berarti dari teori dinamika bendabenda apung. Perluasan teori kepada bidang baru memungkinkan ke dalaman dan laju pemahaman hidrodinamika dan penerapan instrumentasi, khususnya pada interaksi antara medan ombak dengan perangkat-perangkat penangkap daya, Pemahaman ini terutama ditujukan untuk analisis instrumen dalam medan ombak teratur (linier/sinusoidal) maupun pengendalian masalah pada laut tak teratur (ombak non-linier, acak & Stokastik). Kurang sekali usahausaha terpadu dalam pemahaman ini dan ketersediaan perangkat matematik dalam sistem rancangan menyeluruh untuk Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO), khususnya spesifikasi nominal dan perhitungan produksi energi dari pembangkit yang ada. Sebagai akibatnya terdapat kerancuan prosedur yang digunakan untuk merancang PLTO jenis owe yang ada.

19

Peralatan penangkap daya dari suatu pembangkit jenis owe uinumnya terdiri atas turbin-udara dan generator listrik. Untuk alasan pengendalian, kemudian Sarmento, 1993 menyarankan agar turbin diparalelkan dengan katup "by-pass", Sarmento lebih jauh menulis bahwa terdapat dua macam pendekatan yang telah diusulkan untuk memodelkan penuai jenis owe, baik dalam domain waktu maupun domain frekuensi yakni model benda apung pejal dan model distribusi tekanan. Uraian benda pej al yang. memadai untuk frekuensi rendah tidak seluruhnya dapat memenuhi model di atas permukaan air yang tidak bergerak (tanpa ombak). Pendekatan distribusi tekanan lebih akurat dan sederhana sehingga memungkinkan analisis variasi spasial pada perrnukaan bebas yang ditinjau.

Selanjutnya Sarmento menginformasikan bahwa diperlukan perpaduan (hybrid) ketika memodelkan perangkat jenis owe terapung. Pada kasus ini, model distribusi tekanan digunakan untuk mempelajari masalah pancaran sehubungan dengan fluktuasi tekanan udara didalam suatu rongga terpasang tetap yang tidak terganggu oleh air. Sebagai pelengkap, model benda pejal digunakan untuk mempelajari gerakan struktur di dalam medan ombak dengan anggapan tekanan atmosfer bekerja dalam rongga terisolasi (terkurung).

Model domain frekuensi digunakan untuk membentuk basis analisis, terutama analisis hidrodinamika dan parameter dari perangkat yang akan menerangkan bagaimana interaksi .sistem dengan ombak dan menghitung serapan energi sebagai fungsi frekuensi. Analisis domain frekuensi biasanya dibatasi oleh kasuskasus dimana teori sistem Iinier dapat digunakan dengan parameter yang tidak berubah dengan waktu.

Model-model domain waktu terutama digunakanuntuk menguji prosedur kendali dan unjuk kerja perangkat penangkap daya pada kondisi laut tak beraturan - ombak acak (baik pada penangkap daya linier maupun non-linier), Model ini dapat mengantarkan kepada pemahaman rinei dan penguasaan cepat untuk analisis operasi suatu perangkat penuai energi ombak.

3.3. KENDALl PEMUSATAN (FOCUSING) TENAGA OMBAK Untuk menangkap tenaga ombak secara optimal diperlukan sistem penyerap yang besar, luas dan tersebar banyak diseluruh kawasan laut atau pantai sehingga tidak ada sedikitpun energi ombak

20

yang luput dari tangkapan. Kondisi semacam ini tidak praktis dan memerlukan biaya tinggi (tidak ekonomis). Oleh karena itu pakar rekayasa sarnudra mengintip dan berusaha menemukan metoda pemusatan (focusing) tenaga ombak. Pada awalnya yang ditiru adalah analogi pemusatan gelombang cahaya menggunakan lensa

(Ilmu bahan & optika geometrip,Jl,151. .

Ombak yang merambat sepanjang kawasan laut/pantai dapat dipusatkan menuju suatu daerah sempit dimana sistem penyerap tenaga ombak terpasang. Pemusatan ini dilakukan dengan membenamkan konstruksi (bangunan) berbentuk lensa cembung dibawah permukaan air sehingga ombak yang melewatinya akan menjalar memusat (terfokus) ke sebuah titik pada suatu garis lurus maya dibelakang lensa sebagai temp at kedudukan titik-titik pemasangan instrnmen penangkap tenaga ombak[91.

DaIam hal ini struktur atau bangunan bertindak sebagai lensa pejal yang dirancang datar pada bagian depan yang berhadapan dengan muka ombak dan cembnng belakang atau kombinasi keduanya dengan jari-jari kecembungan tertentu untuk mengendalikan panjang (jarak) fokus yang diinginkan. Selanjutnya lensa pemusat dapat diorientasikan dengan mengendalikan arah muka cembungnya sesuai dengan arah datang ombak sehingga tetap terfokus ke titik pada garis lurus semu (maya) dimana instrumen penyerap tenaga ombak itu dipasang.

Metoda pemusatan ombak yang kedua adalah menggunakan pulau buatan (Dam atoll) yang dilengkapi dengan sistem penyerap tenaga ombak. Metoda ini menggunakan phenomena pembelokan arah rambat ombak yang orthogonal dengan garis batas Iuar dam pendangkalan. Suatu pulau buatan (atoll) yang bundar secara ideal dapat membelokkan arah rambat (memusatkan) semna ombak ketitik pusatnya menurut orbit spiral orthogonal secara logaritmis (kecuali yang datang berimpit dengan sumbu diameter, lurus langsung menuju titik pusat) dari manapun arah datang ombak yang menuju kepadanya yang menghasil besaranjari-jari spiral tertentu[91.

Dengan menggunakan analogi antena penerima, mendiang Kjell Budal dan Johannes FaInes menemukan metoda "antenna effect", Penemuan ini lalu diterapkan untuk mengembangkan konsep sistem penyerap titik (point absorber) yang melahirkan pengubah mungil (converter mini). Uraian dan ilustrasi phenomena pemusatan diatas sangat menarik untuk dipelajari dan diterapkan karena akan sangat banyak menggunakan metoda dan terapan teknik

21

pengendalian (linear, non-linear, optimal, adaptive control) guna menangkap tanaga ombak secara optimal.

4.PENUTUP

Dengau latar belakaug pembahasan dan studi yang telah dilakukan tersebut tadi, maka saya mengusulkan suatu altematif 'memotong' tahapan merancang sistem penangkap ombak jenis rongga osilasi (OWC).

Pertimbangan pemilihan model ini terutama oleh karena padanya tidak terdapat bagian-bagian yang bergerak, yang sangat sering menjadi kendala dalam implementasi, disamping lebih sesuai untuk ditempatkan dibanyak pantai, Yang terakhir ini adalah sangat relevan dengan kondisi di Nusantara yang mempunyai sangat panjang pantai berpotensi tinggi denganenergi ombak. Suatu metoda perancangan sistem penangkap ombak jenis rongga osilasi yang sangat populer a.1. telah diusulkan oleh Sawamoto (1993i61.

Salah satu kekurangan metoda ini adalah memerlukan beberapa tahapan pembuatan studi model fisik pada kolam ombak sebelum tahapan implementasi. Tahapan ini selain memerlukan waktu yang panjang juga memerlukan biaya yang sangat mahal. Oleh karena kompleksitas serta biaya yang hams disiapkan dalam tahapan membuat model fisik, amat sering tidak dapat melakukan studi untuk berbagai parameter sistem yang sesuai dengan model konstruksi yang dikehendaki, maupun terhadap karakteristik ombak yang ada pada suatu temp at.

4.1. KESIMPULAN

Untuk kekurangan ini saya mengusulkan pendekatan model matematik sebagai altematif dari pembangunan model fisiko Dengan model matematik, bukan hanya parameter system yang dapat dimodelkan dan dipelajari tetapi juga model ombak dengan berbagai statistik yang diperlukan dapat pula dianalisis. Model statistik ombak sangat penting hubungannya dengan lokasi dimana sistem penangkap ombak akan dibangun, meliputi arab ombak serta kandungan energi yang ada didalamnya, Segera setelah dapat dibuat struktur model matematik, yang cukup merepresentasikan berbagai parameter sistem penangkap ombak yang ditinjau, dan dengan simulasi ombak yang ditetapkan, sesuai dengan wilayah dimana potensi ombak akan dikaji, selanjutnya dilakukan identifikasi

22

terhadap parameter sistem yang dominan menentukan unjuk kerj a sistem. Untuk ini saya menerapkan metoda identifikasi parameter tipe least square. Melalui pengamatan spelctral energi output sistem terhadap spektral energi ombak yang disimulasikan, kemudian dapat dipilih parameter-parameter dominan sistem yang memberikan kinerja optimal pada sistem, meliputi keterkontrolan, keteramatan, maupun stabilitas. Dengan metoda ini berbagai struktur model fisik dapat dicoba dan dianalisis dengan sangat cepat dan cermat melalui model matematik-nya. Dengan metoda ini pula maka langkah studi sistem penangkap ombak dapat lebih dipercepat dan lebih murah. Sekurang-kurangnya peraneang mendapatkan dasar yang lebih akurat sebelum membangun model fisik, sehingga tahapanmenjadi lebih singkat sementara akurasinya menjadi lebih baik. Dengan demikian pula saya telah membuka peluang baru pada kemajuan penelitian paraneangan penangkap (penuai) ombak. Dan ini saya yakini akan sangat bermanfaat khususnya bagi Nusantara Indonesia yang mempunyai potensi energi ombak yang sangat besar dapat dipanen untuk digunakan sebaik-baiknya.

Hadirin yang saya hormati,

4.2. HARAP AN DAN SARAN

Harapan yang dapat diperoleh dari ulasan dalam orasi ini adalah kiranya di masa yang akan datang sebagian besar menara-menara mereusuar pengatur lalu-lintas perairan dan pelayaran sudah menggunakan eatu daya dengan PLTO lokal. Pulau-pulau terpencil dengan luas dan penduduk terbatas sudah dapat diterangi dengan sumber tenaga listrik dari ombak lokal. Harapan ini sangat berkaitan dengan usaha meneegah penghamburan devisa yang sesungguhnya dapat dibalikkan menjadi sumber penghasilan negara seeara tidak langsung (membuka lapangan kerja, meneiptakan obyek wisata bahari dan pantai). Untuk mencapai harapan itu kiranya Pemerintah dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pengkajian dan penelitian teknologi pemanfaatan sumber daya kelautan melalui Instansi terkait dan Perguruan Tinggi tertentu (misal Pusat Kajian Teknologi Perlindungan Pantai, Pusat Peneltian Teknologi PLTO, dll.), Mendorong agar timbul jiwa kepeloporan (pioner) dan kemauan kerja tanpa pamrih.

Pekerjaan yang saya lakukan masih kurang berarti dan belum memberikan kontribusi nyata, untuk itu kepada peneliti dan voluntir muda saya sarankan untuk melanjutkan pekerjaan ini terutama pada

23

system penuai T APCHAN dan PENDULUM yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Nusantara ini.

UCAPAN TERIMA KAsm

Segala puji dan syukur hanyaIah kepada Allah SWT karena perkenan-Nya jua pada kesempatan yang indah dan berbahagia ini, saya dengan tulus dan rendah hati dapat menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia melalui Bapak KepaIa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang telah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk jabatan Ahli Peneliti Utama ini, Kepada Ketua dan Anggota PPJP NasionaI, Instansi tingkat LIPI pada umumnya dan Instansi tingkat Puslit KIM-LIPI pada khususnya, karena pekerjaan dan tanggung jawab merekalah, maka pengangkatan itu terwujud dan terlaksana.

Kepada isteri saya Andi Rachmadian Mangopo Sini yang dengan segala keikhlasan telah memberikan pengorbanan moril dan materil untuk mendampingi seorang peneliti hingga dewasa ini dengan penuh pengertian.

Kepada ke empat putra-putra saya, Hardiansara Pababbari, Sakti Tanripada, Sulolipu Tanrisau dan Muhammad Sulthoanuddin Akbar Tanrisa'na atas dukungan dan do' a serta pengertian setulusnya untuk menerima keadaan seorang bapak yang berprofesi sebagai fungsional peneliti dan Pegawai Negeri Sipil,

Dedikasi tertinggi dan ucapan terima kasih tak berhingga saya persembahkan kepada paman saya Almarhum H. Achmad Yadda yang telah mendidik dan mendoakan hingga memperoleh kemajuan ilmu dan kesejahteraan, Semoga Beliau mendapat maghfiroh dan ridho yang berlipat-lipat ganda dad Allah SWT.

Akhimya ucapan terima kasih pula saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu pada kesempatan ini atas perhatian, simpati, dukungan dan bantuan yang telah ditujukan kepada kami hingga acara orasi ini dapat berlangsung dengan lancar dan baik.

Terima kasih

Wassalaamu 'alaikum Wr. Wb.

24

DAFTAR PUSTAKA

[1]. Arman, A. A. (2004), "Teknologi Pemrosesan Bahasa Alami Sebagai Teknologi Kunci Untuk Meningkatkan Cara Interaksi antara Manusia dengan Mesin", Pidato Ilmiah Pada Peresmian Penerimaan Mahasiswa Bam Institut Telmologi Bandung Tahun Akademik 2004/2005, 23 Agustus 2004, Bandung,

[2]. Eliod, G. and Caratti, G. (1993), "The Third European Wave

Energy Conference", Proceedings of an . International

Symposium, NEL, Edinnburgh, Scotland, U. K.

[3]. Gunadi, S.(2003), "Industri Peralatan Optik Sebagai Salah Satu Benang Perajut Kemandirian Bangsa", Orasi Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang lnstrumentasi Optik", Pusat Penellitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 17 Desember 2003, Jakarta.

[4]. Gunadi, S.(2005), "Komunikasi dan Konsultasi Pribadi", Kedeputian Bidang Jasa Ilmiah (JASIL) Lembaga Ihnu Pengetahuan Indonesia, Gedung Widya Sarwono Jln. Jend. Gatot Subroto No. 10 Jakarta, Puslit KIM-LIPI Kawasan PUSPIPTEK Cisauk Tangerang.

[5]. Hadiwiardjo, B. H.(1992), "Penelitian dan Pengembangan Instrumentasi dan Metrologi Menunjang Pembangunan Sistem Mutu di Indonesia", Pidato Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang lnstrumentasi Metrologi", Pusat Penelitian dan Pengembangan Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi, Lembaga Ihnu Pengetahuan Indonesia, 19 November 1992, Jakarta.

[6]. Hideo Kondo (1993), "Proceeding of International Symposium on Ocean Energy Development" - for Overcoming the Energy & Environmental Crises, 26-27 August 1993, Muroran, Hokkaido, Japan.

[7]. Hilal, H.(1993), "Perkembangan Telmologi Pemanfaatan Tenaga Gelombang Laut Sebagai Alternatif Energi", Proe. Seminar Nasional Kontribusi Geofisika Dalam Penearian Solusi Energi Alternatif Yang Berwawasan Lingkungan, ITB, Bandung, MeL

25

[8]. Kheir, N.A, Astrom, K.J., Auslander, J., Cheok, K'C; Franklin, G.F., Masten, M. and Rabins, M.(l996), "Control System Engineering Education", Automatica, Vo1.32, No.2, pp.147-166, Elsevier Science Ltd., Pergamon.

[9]. McComrick, M.E.(1981), Ocean Wave Energy Conversion,

John Wiley & Sons, New York, January. .

[10]. Nasution, AS.(1990), "Peranan Proses Katalitik Pada Industri Pengolahan Minyak Bumi", Pidato Ilmiah Pada Upacara Pengukuhan Jabatan Ahli Peneliti Utama Bidang Teknologi Proses dan Aplikasi", Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi "LEMlGAS", Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Departemen Pertambangan Dan Energi, 13 Agustus 1990, Jakarta.

[11]. Ruskanda, S.F.(1988), "Mengendarai Optik Mengarungi Dunia Penelitian Untuk Menjejaki Masa Depan", Pidato Ilmiah Pada Upacara Pengukuhan Jabatan Ahli Peneliti Utama Bidang Instrumentasi Optik", Pusat Penelitian dan Pengembangan Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 16 Nopember 1988, Jakarta.

[12]. Samadikun, S.(Ketua Panitia), "Konsep Benua Maritim Indonesia Untuk Mengaktualisasikan Wawasan Nusantara", Lokarya Konvensi Nasional Pengembangan Benua Maritim Indonesia Untuk Mengaktualisasikan Wawasan Nusantara, September 1996, Jakarta.

[13]. Samadikun, S.(Ketua Team Perumus), "Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Sumberdaya Manusia Untuk Pembangunan Benua Maritim Indonesia", Lokarya Konvensi Nasional Pengembangan Benua Maritim Indonesia Untuk Mengaktualisasikan Wawasan Nusantara, September 1996, Jakarta.

[14]. Samego, 1.(2003), "Negara dan Masyarakat Dalam Konteks Politik Kontemporer Indonesia", Orasi Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Politik", Pusat Penelitian Ilmu Politik dan Wilayah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 17 Desember 2003, Jakarta.

26

[15]. Siregar, M.R.T.(2003), "Ilmu Bahan Sebagai Kunei Inovasi Telmologi Canggih", Orasi Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Material, Pusat Penelitian Fisika Terapan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 17 Desember 2003,

Jakarta, .

[16]. Soepardjo, H.(2003), "Potensi dan Telmologi Samudera", Harian Umum Kompas, Rabu, 14 Mei 2003.

[17]. Tjokronegoro, H. A(1996), "Pascasarjana: Program Studi Instrumentasi Dan Kontrol Untuk Menyiapkan Tenaga Ahli di Industri", Jurusan Teknik Fisika Institut Telmologi Bandung, Seminar Nasional Instrumentasi Nuklir, 11-12 September 1996, Jakarta.

[18]. Tjokronegoro, H.A.(2005), "Komunikasi & Konsultasi Pribadi:

Pertanggungan Jawab Akademik Disertasi Abdul Harris Yadda (33395019)", Program Instrumentasi dan Kontrol (PINK), Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha No. 10 Bandung.

[19]. Wangsaatmadja, A. H. R.(1997), "Peran IPTEK Nuklir di Bidang Farmasi Sebagai Unsur Pendukung Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia", Pidato Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Farmasi, Pusat Produksi Radio Isotop, Badan Tenaga Atom Nasional, 30 Desember 1997, Serpong.

[20]. Yadda, A. H.(1994), "Estimasi Arah dan Energi Gelombang Laut", Tugas Akhir (Thesis Magister) S-2 Program Instrumentasi dan Kontrol Jurusan Teknik Fisika Pascasarjana ITB, Bandung 1994.

[21]. Yadda, A H.(2003), "Studi Awal Us aha Penelitian Dan Pengkajian PLTO (Pembangkit Listrik Tenaga Ombak)", Laporan Teknis, Puslit KIM - LIPI, Kawasan PUSPIPTEK Cis auk, 2003.

[22]. Yadda, A. H.(2005), "Pengembangan Model Sistem Penyerap Tenaga Ombak Jenis Rongga Osilasi Terpasang.Tetap Melalui Simulasi Digital", Disertasi Program Doktor (8-3) Program Pascasarjana Departemen Teknik Fisika ITB, Bandung, 2005

Nama

Tempat/Tgl. Lahir NIP/KARPEG Pangkat/Gol. ruang Jabatan Fungsional Alamat Kantor

Alamat Rumah

Status Keluarga

DAFTAR RIw AYAT HIDUP

Abdul Harris Yadda Maroangin, 10 Desember 1946 3200020591B.783203

Pembina Utama - IV IE

Ahli Peneliti Utama

PusIit KIM-LIFt, Kawasan

PUSPIPTEK Serpong, Tangerang 15314 Kompleks PUSPIPTEK Blok IV.F-5 Serpong, Tangerang 15314

Kawin

I. RIWAYAT PENDIDIKAN DALAM NEGERIlLUAR NEGERI

A. PENDIDlKAN FORMAL

- SD lulus tahun 1960 di Maroangin

- SMP PGRllulus tahun 1964 di Maroangin

- SMA Negeri Jurusan Ilmu Pasti lulus tahun 1967 di Pare-pare

- ITB Departemen Fisika Teknik (SI) Iulus tahun 1975 di Bandung

- ITB PINK J urusan Teknik Fisika (S2) lulus 1994 di Bandung

- ITB Departemen Teknik Fisika (S3) lulus 2005 di Bandung

B. PENDIDlKAN DAN PELATIHAN

- Motorolla Microprocessor, Singapura, 17 November 1977

- Kursus Singkat Mikroprocessor, Bandung, 27 Februari s.d 3

Maret 1978

- Training Computer Aided Design, TH Delft Belanda, 14 September 1979 s.d 13 Juni 1980

- Kursus Software Engineering, AIT Bangkok - Thailand, 25 Mei s.d 5 Juni 1981

Regional Workshop on Engineering Mathematics, lTB, 26 Juni s.d 2 Agustus 1983

- Personel Management Course, Okinawa, JlCA Jepang, 13 Januari s.d 15 Februari 1986

28

- Kursus Operating System dan Bahasa C, Puslitbang KIM-LIPI, 12 April s.d 28 Juni 1988

- Kuliah Singkat Persamaan Diferensial Parsial Numerik, Matematik ITB, 5-17 Juli 1993

- Symposium Applied Science, ITB, 20-23 Juli 1993

- Workshop "Mathematical Modelling in Industrial Problems and

In The Industrial Mathematics week 2000, Center for Research On the Application & Advancement of Mathematics, ITB, 3-14 Juli 2000

II. PENGALAMAN KERJA

Calon Pegawai Negeri Sipil pada LIN-LIPI Pegawai Negeri Sipil

Asisten Peneliti LIN-LIPI

Ajun Peneliti Bidang Instrumentasi

Elektronik

- TMT 01-04-1983 Peneliti Muda

- TMT 01-07-1988 Peneliti Madya

- TMT 01-09-1992 Ahli Peneliti Muda

- TMT 01-01-1996 Ahli Peneliti Madya

- TMT 01-01-2000 s.d sekarang Ahli Peneliti Utama

- TMT 01-03-1977

- TMT 01-04-1978

- TMT 01-10-1978

- TMT 01-03-1982

III. PROFESIONAL ASSOCATION

- Himpunan Masyarakat Instrumentasi Indonesia (Himll)

- Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI)

IV. PUBLIKASIrrULISAN ILMIAH (NASIOAL)

1) Simulasi Pengendalian Bendung Irigasi, Majalah Instrumentasi, April 1981

2) Simulasi Digital Bendung Irigasi, PPI-KIM 1981

3) Analisa Pengendalian Bendung dengan Matriks Desisi, PPIKIM 1981

4) Otomatisasi Analisa dan Rancangan Jaringan Elektronika (CAD), PPI-KIM 1981

29

5) Model Lampu Lalu-Lintas, PPI-KIM 1981

6) Design Sistem Pengiriman Data Jarakjauh untuk Pengendalian

Bendung Irigasi Sadang, Majalah Instnunentasi, April 1982

7) Pendekatan Bentuk Polinom Ber-orde M, PPI-KIM 1982

8) Waktu Tembak dan Posisi Sasaran Gerak, PPI-KIM 1982

9) Komputerisasi PengoIahan Data dengan Metoda K wadrat Rata-rata Terkecil, Majalah Instrumentasi, Juni 1982

10) Fault Tolerance pada Sistem Real- Time, Majalah

Instrumentasi No. 1 7-April 1993

11) Studi Pengaruh Tahanan Udara Secara Teoritis pada Gerak Peluru, PPI-KIM 1984

12) Pengelolaan Data Jalan Tol dengan Komputer Pribadi, PPIKIM 1985

13) Jaringan Listrik untuk Gardu Induk Manpang, Karet dan Senayan dengan Pusat Pengendali di Area Cawang, PPI-KIM 1985

14) Penerapan Prosessor Mikro pada Pengendalian PID, Majalah Instrumentasi, No.1-April 1989

15) Manfaat Busur Listrik, Warta KIM Oktober & November 1989

16) Nasionalisme, Nilai dan Kepekaan Kaum Muda, Bahan Mengajar di PDK (PUSJAS)

17) Penulisan Naskah Karangan Ilmiah, Bahan Mengajar di PDK (PUSJAS)

18) Analisa Model Jaringan EIektronik, MajaIah Instrumentasi, No. 13-ApriI 1992

19) Kalibrasi TREEBEL dengan Soil Test CT-725 (49/8"-RAM),

Majalah Instrumentasi, NO.14-Juli 1992 .

20) Model Matematik Sistem Pelacakan Target, Majalah Instrumentasi, No. 15-0ktober 1992

21) Simulasi Pengukuran Kecepatan & Arah Rambat Gelombang, PPI-KIM 1994

22) Estimasi Parameter Gelombang laut, PPI -KIM 1994

23) Penyerapan Tenaga Gelombang Laut Melalui BanduI Suatu Studi Kasus untuk Terapan Kendali Optimal, Majalah Instrumentasi No.26, Juli 1995

24) Quantisation Effects in Open Loop System, Majalah Teknologi Indonesia VoLXVIIl, No.2, 1995

25) Menyusun Kalender dengan Komputer, Warta KIM No.2, Juni-Juli 1995

30

26) Finite Word Length Effects in Closed Loop System,PPI-KIM 1995

27) Dinamika Ombak sebagai Gelombang Permukaan, Prosiding Seminar Fisika, Jakarta 1996

28) Pengujian & Validasi Model Penyerap Tenaga Ombak Jenis Rongga Osilasi, PPI-KIM 1997

29) Analisa Parameter & Karakteristik Model Penyerap Tenaga Ombak Jenis Rongga Osilasi, PPI-KIM 1997

30) Identifikasi Model Penyerap Tenaga Ombak Jenis Rongga Osilasi Melalui Simulasi Digital, Usualan Penelitian, Program Pascasarjana (S-3) di ITB, 1997

31) Pengembangan Model Matematik Sistem Penyerap Tenaga Ombak, PPI-KIM 1998

32) Mengenal Sistem Penangkap Tenaga Ombak, Warta KIM No.08/09 Agustus/September 1998

33) Chip Tunggal Pengendali Lampu Lalu-Lintas Simpang Empat, Warta KIM No.lO Oktober 1998

34) Pemodelan dan Analisis Sistem Kendali Variabel Ganda, Majalah Teknologi Indonesia Vol. XXI, No.I-2, 1998

35) Evaluasi & Estimasi Parameter Model Sistem Penyerap Tenaga Ombak, Publikasi Ilmiah PPI - KIM 1999

36) Pengembangan Model Matematik Sistem Penyerap Tenaga Ombak Melalui Pendekatan Analogi Listrik, PPI-KIM 2002

37) Sensor & Transducer Kabel Untuk Sistem Telemetri Parameter Ombak (Yadda, A. H, Tjokronegoro, H A., Soenarko, B., Soemintapoera, K.), Publikasi Ilmiah PPI-KIM'03, Jakarta, 2003

V. PUBLIKASI ILMIAH (INTERNASIONAL)

1) Mathematical Model of An Onshore OWC Wave Power Absorber Using Water Valve, Third European Wave Energy Conference, Patras, Greece, 29 September - 2 October 1988

2) Estimation of Pressure On An OWC Wave Power Absorber Device, Asia/Pacific International Congress on Engineering Computational Modeling and Signal Processing (ECM & SP'99). Proceedings Institut Teknologi Bandung, Vol. 31, No. 2,1999

31

VI. LAPORAN TEKNIS DAN LAPORAN PENELITIAN

1) Penelitian Pembuatan RH-Meter Dengan Menggunakan Termistor, Tugas Akhir (Skripsi) Mahasiswa Jurusan Fisika Teknik ITB Tahun 1975

2) Studi Perbandingan Kekuatan Tarik Plywood Antara Sistem Inggris dan Sistem Belanda, Laporan Teknis 1976

3) Program Computer dengan Bahasa Basic (Pengembangan Komputer). Laporan Teknis 1978

4) A SlITVey On Spice Electronic Network Simulation Program, Tulisan Selama Training di TH Delft, Laporan Akhir Training Untuk Departemen Elektroteknik TH Delft, Laporan Teknis, 1979

5) Design of Centralized Process Control System of The New Rentang Barrage, Laporan Teknis 1979

6) Sistem Radio Telemetri untuk Pengiriman data Tinggi Muka Jill, Laporan Teknis 1979

7) Paket Piranti Lunak Untuk Menggambar Teknik., Laporan Teknis 1987

8) Pembinaan Tenaga di Bidang IPTEK, Laporan Teknis 1987

9) Sistem SCADA Empat Gardu Induk Listrik di Jakarta., Laporan Teknis 1987

10) Kontak Pengendali Sistem Deteksi Kendaraan di Jalan Tol., Laporan Teknis 1987

11) Sistem Peragaan dan Laporan Prestasi Olah Raga di TVRI., Laporan Teknis 1987

12) Rancangan Unit Pengatur Beban 70 KV (UPB 70 KV) GJ.

West., Laporan Teknis 1987

13) Sistem TelemetrilTelekontrol untuk Gardu Induk Cibeureum Bandung., Laporan Teknis 1987

14) Proposal Sistem Komputer Untuk Pelabuhan Penyebrangan Merak., Laporan Teknis 1987

15) Sistem Pengendalian Lalu-Lintas Perkotaan., Laporan Teknis 1987

16) Goegraphic Information Image Processing System., Laporan Teknis 1987

17) Rancangan Pengendalian Bendung Rentang Bam Kali Cimanuk., Laporan Teknis 1987

32

IS) Peningkatan dan Pengembangan Operasi Sistem Telemetri dan lnstrumentasi Jaringan Pipa Transmisi Migas UEPI Pertamina., Laporan Teknis 1990

19) Petunjuk Operasi Paket Menggambar Teknik., Laporan Teknis 1990

20) Petunjuk Operasi Paket P2JP (Panitia Penilai Jabatan Peneliti)., Laporan Teknis 1990

21) Kerangka Dasar Fault Tolerant., Laporan Penelitian September 1991 - Januari 1992

22) Sistem Keamanan & Konsep Fault Tolerant., Laporan Penelitian Februari - Agustus 1992

23) Sistem Integritas - Persistensi., Laporan Penelitian September 1992 -Februari 1993

24) Sistem Konfigurasi I-P Mutu Tinggi., Laporan Penelitian Maret - September 1993

25) Sistem Redundansi., laporan Penelitian Oktober 1993 - F ebruari 1994

26) Evaluasi Elemen-elemen Fault Tolerant., Laporan Penelitian Maret - Oktober 1994

27) Estimasi Arah dan Energi Gelombang Laut., Tugas Akhir (Thesis Magister) S-2 Program Instrumentasi dan Kontrol P ascasarj ana - ITB 1994

2S) Studi Awal Usaha Penelitian Dan Pengkajian PL TO (Pembangkit Listrik Tenaga Ombak) (Yadda, A. H.)., Laporan Teknis, PUSPIPTEK Cisauk, 2003

29) Pengembangan Model Sistem Penyerap Tenaga Ombak Jenis Rongga Osilasi Terpasang Tetap Melalui Simulasi Digital (Yadda, A. H.), Disertasi Program Doktor Program Pascasarjana Departemen Teknik Fisika ITB, Bandung, 2005

VII. T ANDA JASAlT ANDA KEHORMATAN

Piagam Pengabdian 15 tahun dari Kepala Puslitbang KIM-LIPI, perolehan 30 Juni 1996.

Piagam Pengabdian 20 tahun dari Kepala Puslitbang KIM-LIPI, perolehan 30 Juni 1997.

Special Award dari Universitas Twente The Netherlands Pada Whorkshop "Mathematical Modelling in Industrial and in The Industrial Mathematics Week 2000", Center for Reseach On the Application & Advancement of Mathematics, ITB, tahlUl2000.

33

Satyalancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Republik Indonesia, perolehan tahun 2001.

LAMPIRAN

Gambar L.l berikut melukiskan sistem penuai tenaga ombak jenis rongga osilasi sederhana yang dikembangkan menurut fenomena benda apung yang dapat ditransformasikan menjadi model matematik.

Gambar L.1. Rongga osilasi sederhana[20.21J

34

Udara Luar

1)

Turbin & Generator

r~ 123

~ ~ -~~-~-~--- ~.,' .... - .~ .... ~~--.~ .... - ~-- ~ ~ _. ~~

32

2)

b)

Rongga Udara

Rongga Osilasi

Gambar L.2. Sistem Pemusatan Tekanan dan Penyearah Aliran Udara(21-22]

35